Posted by: ramlyharahap | April 15, 2009

LAPORAN BUKU A HISTORY OF CHRISTIANITY by KURT ALAND Philadelpia: Fortress Press, 1986, Vol.II

PENDAHULUAN

A. PENERJEMAH

Buku Kurt Aland volume II ini aslinya ditulis dalam bahasa Jerman yakni Geschichte der Christenheit yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh James L.Schaaf pada tahun 1986. Tebal buku volume II terjemahan ke dalam bahasa Inggris ini adalah 618 halaman. Volume II membahas tentang Reformasi Kekristenan hingga ke Kekristenan Setelah Reformasi. Menurut James J.L.Schaaf, buku Aland ini mencoba membahas sejarah Kekristenan selama 500-an tahun, dan studi tentang sejarah Reformasi dan Pietisme. Juga Aland sangat memberi perhatian pada kegiatan penerjemahan Alkitab secara khusus dalam studi-studi teks-teks Perjanjian Baru. Schaaf sendiri menyebutkan bahwa naskah asli volume ini selesai bulan Maret 1981. Dan dalam terjemahan bahasa Inggrisnya telah mengalami perubahan pada bab terakhir dan di dalam tabel kronologinya. Dan Aland sendiri telah membaca naskah bahasa Inggrisnya serta memberi masukan dalam edisi bahasa Inggris ini. Schaaf memberikan penjelasan tentang pemakaian istilah dalam terbitan bahasa Inggris ini misalnya istilah evangelisch sebagai sebuah istilah umum yang menunjukkan kepada gereja yang timbul akibat Reformasi di Jerman dan lebih dikenal dengan istilah “evangelis”. Sementara terjemahan “Protestant” merupakan istilah yang menunjuk terjemahan dari istilah protestantisch.

B. PENULIS

Buku ini merupakan lanjutan yang ditulis segera setelah buku volume I. Aland menyadari bahwa buku volume yang pertama sangat sulit diselesaikan karena kekurangan sumber-sumber yang ditemukan, demikian juga untuk volume yang kedua ini, walau ratusan laporan-laporan individu yang berusaha membuat sejarah Kekristenan, namun sangat sulit untuk menyusun sejarah penyebaran Kekristenan itu dalam bermacam-macam manifestasinya. Dalam volume II ini, Aland membahas topik-topik yang dimulai dari Reformasi yang dilanjutkan dengan gerakan Pietisme, masa Pencerahan, sejarah Katolikisme hingga Konsili Vatikan Pertama, gerakan Oikumenis, pernyataan Leuenberg, Konsili Vatikan Kedua dan peristiwa sekitar 1933 – 1945.

Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang pemikiran Aland, di bawah ini akan dibahas bagian demi bagian dari bukunya A History of Christianity volume II.

2. KEKRISTENAN PADA MASA REFORMASI

Untuk membahas bagian yang pertama dalam buku ini, Aland mencoba membahasnya mulai dari pertimbangan-pertimbangan dasar Reformasi , kemudian timbulnya Reformasi Martin Luther , dan timbulnya Reformasi Huldreich Zwingli , serta timbulnya Reformasi John Calvin .

I. PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN MENDASAR

Secara umum ada pertimbangan-pertimbangan dasar dalam memahami terjadinya Reformasi. Menurut Aland, setidaknya ada 7 hal yakni:

1. RUNTUHNYA KESATUAN GEREJA?

Pernyataan bahwa hingga awal abad keenam belas gereja adalah satu, dan kesatuan itu diruntuhkan oleh gerakan Reformasi, menurut Aland adalah keliru dalam setiap aspek. Alasannya pertama, klaim yang menyatakan bahwa kesatuan gereja sudah ada sebelum 1517 tidaklah benar, sebab 500 tahun sebelum Reformasi, Gereja Kristen telah terbagi dua yakni: Gereja Timur dan Gereja Barat pada tanggal 16 Juli 1054. Kedua, jauh sebelum tahun 1054, kesatuan gereja telah hancur pada abad kelima dan keenam dengan adanya perdebatan Kristologis sehingga terjadilah pemisahan gereja nasional. Dengan demikian, pernyataan kesatuan gereja dihancurkan oleh Reformasi pada permulaan abad keenam belas adalah keliru jika kita melihat gereja secara universal. Kehancuran kesatuan gereja itu sudah banyak terjadi di berbagai daerah misalnya di Perancis yang mencoba memisahkan diri dari Roma dengan membentuk kepausan di Avignon, di Inggris terjadi pemisahan gereja akibat situasi politik dan di Bohemia akibat gerakan Hussit. Dan memang kehancuran kesatuan gereja ini dilanjutkan oleh Dalil Martin Luther pada tanggal 31 Oktober 1517.

2. MOTIF-MOTIF PERLUASAN (EKSPANSI) REFORMASI

Menurut Aland, jika kita berbicara tentang apa sebenarnya motif-motif perluasan Reformasi maka tidak bisa dipisahkan dari masalah yang dihadapi gereja di Jerman. Pada permulaan tahun 1524 telah ada sebuah gerakan di Jerman yaitu evangelis atau sebuah gerakan yang dipengaruhi oleh iman baru. Luther sebelumnya sudah membaca situasi ini sehingga dia melaporkan bahwa dalam tempo 14 hari Dalilnya telah tersebar di seluruh wilayah Jerman. Apakah motif-motif yang menyebabkan pengembangan Reformasi itu? Menurut Aland, kemungkinan pertama adalah karena kritik terhadap Gereja Katolik. Dalam Sembilan puluh lima Dalil Luther 1517 dan bahkan dalam tulisannya Pada Kaum Bangsawan Bangsa Jerman (“To the Christian Nobility of the German Nation”) tahun 1520, Luther telah memanfaatkan pemikiran yang hidup begitu lama. Demikian juga dengan perkembangan Calvin sebagai reformator mungkin dipengaruhi pengalaman masa mudanya. Kemudian akhirnya Zwingli dipengaruhi kritikan terhadap Gereja Katolik yang dilancarkan humanisme. Seluruh kritikan selama Abad Pertengahan secara langsung memotivasi para reformator melakukan gerakan Reformasinya. Kedua, usaha untuk membangun kesadaran nasionalisme. Sejak Bonifatius VIII kesadaran nasional telah membawa kepausan kepada humanisme yang begitu dalam. Kesadaran nasionalisme ini kemudian berkembang di Inggris, Perancis, dan Italia. Ketiga, faktor politik. Faktor politik dalam penyebaran Reformasi ini tak dapat disangkal, namun sering para sejarawan gereja melupakan faktor politik ini. Memang faktor politik ini tidak memiliki akibat yang positif bagi Reformasi itu sendiri. Keempat, penurunan moralitas. Gereja Katolik pada masa lampau telah berusaha untuk membaharui diri dari dalam, namun usaha ini tidak diakui walaupun di kubu Katolik.

3. MOTIF-MOTIF REFORMASI DAN AJARANNYA

Secara sederhana, jika kita berusaha untuk menyebutkan motif-motif Reformasi dan ajarannya, maka dapat dikatakan sebagai berikut: Martin Luther mengajarkan hanya oleh anugerah, John Calvin mengajarkan keagungan Allah, Ulrich Zwingli mengajarkan Kerajaan Allah. Menurut Aland, kata-kata itu hanyalah merupakan semboyan atau slogan dari setiap para reformator saja. Aland dalam bagian ini hanya memberikan gambaran umum tentang motif-motif terjadinya Reformasi itu dari para reformator dan akan dijelaskannya lebih dalam lagi dalam bab berikutnya. Misalnya Luther yang berjuang untuk melawan penurunan moral di dalam gereja Katolik degan 95 Dalilnya. Perjuangan ini didasarkan pada sebuah pengalaman rohaninya tentang Roma 1:17. Zwingli dengan cara yang berbeda pula. Dia tidak memiliki pengalaman rohani sedramatis Luther namun pengalaman humanismenya sangat banyak mempengaruhi pemikirannya. Demikian juga dengan Calvin yang mengalami pertobatan yang tiba-tiba. Calvin juga sangat banyak dipengaruhi oleh humanisme Erasmus. Lebih jauh Aland berpendapat bahwa jika kita berusaha menyimpulkan ciri-ciri ketiga reformator ini maka kita akan menemukan perbedaannya yaitu: Luther adalah seorang nabi dan penafsir Kitab Suci, Zwingli seorang humanis dan ahli negarawan Kristen, dan Calvin adalah seorang sarjana dan pemimpin gereja. Bahkan secara tempat mereka dapat dibedakan bahwa Luther berada di Jerman, Zwingli di Swiss, dan Calvin di Perancis. Luther dikenal dengan “German profundity”, Calvin dikenal dengan “French clarity” dan Zwingli dikenal dengan “practical sense” Swiss.

4. REFORMATOR-REFORMATOR “LEBIH KECIL”

Menurut Aland, di samping ketiga reformator yang terkenal seperti Luther, Zwingli dan Calvin, masih ada lagi banyak orang yang tak terbilang yang menyebarkan dan mempromosikan refomasi itu akibat dimenangkan oleh tulisan-tulisan Luther atau dengan studi Alkitab. Mereka ini disebut dengan Reformator-reformator “lebih kecil” (“lesser”). Misalnya: Johann Lang, seorang reformator di Erfurt dan penasihat asing di daerah Schwarzburg, Wenceslas Link, reformator di Altenburg dan Nuremberg, George Spalatin pengkhotbah penjara Frederick Yang Bijaksana, Justus Jonas dan Nicholas von Amsdorf yang membantu mendirikan Reformasi Wittenberg, Johannes Bugenhagen yang mendukung Reformasi di tempat-tempat lainnya mulai dari Brunswick, Hamburg hingga Hildesheim, Nicholas Hausmann reformator di Zwickau dan Dessau. Dan masih banyak lagi yang menjadi reformator kecil dari murid-murid Wittenberg seperti: Johann Hess, reformator Breslau dan Silesia, Johannes Briesmann, reformator di Riga. Dan masih banyak lagi yang menjadi reformator-reformator kecil yang menyebarkan Reformasi itu.

5. REFORMASI SEBAGAI SEBUAH FENOMENA YANG MENCAKUP SELURUH EROPA

Reformasi yang terjadi di Jerman oleh Martin Luther tidak hanya menggejala di German saja, melainkan gerakan Reformasi ini telah menggejala ke seluruh Eropa. Gerakan Reformasi ini terus mempengaruhi daerah-daerah lain di Eropa misalnya Reformasi di Belanda disebarkan oleh para pengungsi dari Perancis dan juga dari Swiss. Di negara Scandinavia, Reformasi mengambil tempat di Denmark. Begitu juga Reformasi di Inggris terjadi pada masa Henry VIII dan penggantinya Edward VI. Reformasi ini terjadi di Scotlandia dan Timur Eropa yang diprakarsai oleh kaum awam. Perkembangan selanjutnya hingga ke selatan Eropa seperti di Hungaria, Transylvania dan Polandia. Setelah kematian Luther, gerakan Reformasi dimulai dari Wittenberg. Melanchthon diserang sebagai kepala sekolah, dan Lutheran Jerman saling bermusuhan di antara mereka. Dalam situasi itulah Calvin menguasai Geneva dan menjadikannya sebagai pusat Reformasinya.

6. REFORMASI “SAYAP KIRI”

Kendati Reformasi bertumbuh berkembang, namun masih ada yang bertumbuh dan berkembang di samping Reformasi itu sendiri yang disebut dengan Reformasi “sayap kiri” yakni: Anabaptis dan Spritualist. Sejak permulaan Reformasi Anabaptis dan Spritualist ini telah hidup dan aktif baik di Jerman dan di Switzerland. Akar dari gerakan ini adalah jauh di belakang Abad Pertengahan yaitu gerakan spritual, apokaliptis, dan revolusi sosial. Reformasi Luther sudah sejak semula berlawanan dengan gerakan Nabi Zwickau tahun1521 yang berusaha mempengaruhi ajaran di Wittenberg selama Luther absen. Tahun 1525 Luther kembali datang dengan menghadapi konflik yang lebih keras dengan Karlstadt dan juga terhadap Thomas Munzer.

7. “REVOLUSI COPERNICUS”

Dalam bagian ini Aland mencoba membahas posisi dan kedudukan Reformasi Luther, apakah milik Abad Pertengahan atau dunia modern. Para filsuf (seperti Nietzsche) dan sejarawan (seperti Troeltsch) melihat Luther sebagai bagian dari Abad Pertengahan. Berbeda dengan Conrad Ferdinand Meyer yang mengatakan bahwa Luther berada dalam dua masa. Terkadang jika kita melihat pemikiran Luther, maka dapat dikatakan bahwa masa Luther adalah bagian dari masa Abad Pertengahan, namun jika kita lihat pekerjaan dan Reformasinya dapat dikatakan bahwa dia sudah termasuk bagian dari permulaan masa modern. Ada yang mengatakan bahwa “Revolusi Copernicus” sangat dekat dengan Luther. Teori Copernicus mengatakan bahwa bumi berputar mengitari matahari. “Revolusi Copernicus” ini telah lebih dulu dari Dalil 31 Oktober 1517.

II. REFORMASI MARTIN LUTHER Dalam membahas Reformasi Martin Luther ini, Aland mengemukakan delapan hal yakni: permulaan Martin Luther , permulaan Reformasi Martin Luther , dari perdebatan Leipzig 1519 hingga Worms 1521 , permulaan reorganisasi Gereja , Tahun 1525 dan akibatnya , perkembangan Augsburg 1530 , dari Augsburg 1530 hingga perang Smalkald 1546 , Lutheranisme dari kematian Luther hingga perdamaian keagamaan Augsburg 1555 .

1. PERMULAAN MARTIN LUTHER

Dalam bagian ini Aland membicarakan kelahiran dan keluarga Luther, pendidikan Luther, pengalaman rohani Luther, penahbisannya sebagai imam, penobatannya sebagai doktor teologi, dan pengajaran kitab sucinya. Martin Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, anak buruh tambang Hans Luther dan ibunya Margaretha Lindemann dari Mohra bagian barat-daya pinggiran hutan Thuringia. Mereka adalah keluarga petani yang beremigrasi dari “Ruhr” ke Mansfeld untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kendati bekerja sebagai buruh tambang, Hans mampu berbisnis kecil-kecilan sehingga mengangkat perekonomian mereka. Martin Luther memasuki sekolah pada tahun 1488 di sekolah lokal Latin di Mansfeld, kemudian dia dikirim ke “sekolah terkenal” di Magdeburg (1497-1498) dan akhirnya ke Eisnach. Tahun 1501, dia memasuki universitas di Erfurt. Di universitas ini Luther sangat terkenal reputasinya secara khusus di bidang hukum. Sebab ayahnya sangat menginginkan Luther kelak menjadi seorang hakim yang akhirnya menjadi seorang penasihat pangeran. Namun dua minggu kemudian Luther memasuki ordo Eremit Augustinus yang aturannya paling keras, sehingga menggagalkan seluruh rencana dan keinginan ayahnya dan seluruh keluarganya. Pengalaman rohani Luther 2 Juli 1505 di Stotternheim ketika dia kembali dari rumah neneknya menuju Erfurt, tiba-tiba hujan angin ribut disertai petir hampir menyambarnya sehingga dia kehilangan kontrol dan dia berteriak,”Santa Ana, tolong saya. Aku ingin menjadi rahib.” Luther sadar bahwa hujan angin ribut disertai petir merupakan kejadian alam, namun di Stotternheim dia merasa bahwa kepribadiannya telah diubahkan kepada Allah. Janji itu ditepatinya juga, sesudah ia sampai ke Erfurt dengan selamat. Setelah peralihan profesinya ini, Luther dipersiapkan untuk menjadi imam. Setelah ditahbis tahun 1507, dia mulai belajar teologi dan sekaligus mengajar di Wittenberg (1508) hingga kembali ke Erfurt (1509). Lebih jauh Aland dalam bagian ini membahas tentang pernyataan-pernyataan Luther tentang kebiarawanannya dan penjelasan tentang 95 Dalilnya (Explanations of the Ninety-five Theses), perdebatan Luhter tentang “Allah yang beranugerah” (“gracious God”) dan “Allah yang adil” (“righteous God”) tahun 1545 dan perjalanannya ke Roma dan seterusnya kembali ke Wittenberg.

2. PERMULAAN REFORMASI MARTIN LUTHER

Menurut Aland, hanya sedikit laporan tentang gambaran hidup Luther hingga tahun permulaan Reformasi. Luther hanya sedikit menulis pembukaan volume pertama tulisan Latinnya yang disebut dengan edisi Wittenberg dari pekerjaannya, sebelum ia meninggal tahun 1545. Permulaan Reformasi Luther ini diungkapkan oleh Aland dari pengalaman rohani Luther yang disebut dengan “pengalaman di menara – pengalaman puncak” (‘tower experience’). Namun ada juga perdebatan tentang kapan Luther mengalami pertobatannya. Ada yang mengatakan pertobatan Luther itu tahun 1508, yang lain mengatakan antara tahun 1512 atau 1516 dan ada yang berpendapat tahun 1518. Tetapi jika kita menelusuri kronologi penulisan tulisan Luther 1518, dapat dikatakan bahwa masa tahun 1512-1516 adalah waktu yang tepat dari “pengalaman puncak” itu terjadi. Sebab Luther menulis tulisannya adalah antara tahun 1512-1516 dan pada tahun 1517 merupakan “Tahun Diam” (‘Years of Silence’). Permulaan Reformasi Luther ini menurut Aland dimulainya atas dasar kata pembukaan Martin Luther. Dalam kata pembukaannya tahun 1545, Luther memulai dengan mendiskusikan perlawanannya untuk merencanakan mengumpulkan edisi tulisannya. Menurut Aland, jika kita lebih jauh membaca tulisan Luther, akan timbul kesulitan membedakan apakah pernyataan suara Reformasi ini dari diri Luther sendiri atau ada pengaruh dari Augustinus tentang perseteruan dengan Pelagius. Luther juga banyak dipengaruhi tulisan-tulisan Augustinus seperti De spiritu et littera. Dengan demikian, Aland mengatakan bahwa untuk menentukan permulaan Reformasi Luther, pertama harus kita kenal tulisannya. Dalam arti nyata, Reformasi itu dimulai pada musim semi 1518 hingga 1520-an di mana langkah pertama teologi Reformasi dibangun. Aland menjelaskan Reformasi Luther dimulai dari perlawanan terhadap indulgensia (surat penghapusan siksa). Dalam bahasannya ini Aland mengupas sejarah indulgensia ini dan pemikiran-pemikiran Luther yang menolak keras indulgensia ini. Pemikiran Luther dalam “Melawan Hanswurst” yang ditujukan kepada Albrecht Mainz, mengundang banyak kecaman terhadap dirinya. Persoalan indulgensia sudah lama disampaikannya yakni pada tanggal 31 Oktober 1516. Bahkan dalam tulisannya Sepuluh Perintah, Luther dengan tegas melawan praktek indulgensia ini. Pada bagian lain, Aland juga membahas tentang “95 Dalil” Luther. 95 Dalil ini masih banyak diperbincangkan tentang keasliannya. Ada yang berpendapat bahwa 95 Dalil ini adalah: (1) bukan ditempelkan pada tanggal 31 Oktober 1517, tetapi tanggal 1 November 1517. (2) dikirim sebagai petisi kepada Uskup Albrecht Mainz dan (3) bukan bentuk pemikiran Luther pada saat itu namun kemudian. Pendapat lain mengatakan bahwa pada kenyataannya, Luther menulis surat kepada Albercht Mainz pada tanggal 31 Oktober 1517. Surat aslinya disimpan di Stockholm. Walaupun banyak yang harus dipertanyakan tentang keaslian tanggal 95 dalil Luther tersebut, akhirnya Aland tetap mengganggap bahwa 95 Dalil itu ditempelkan pada tanggal 31 Oktober 1517. Pada bagian permulaan Reformasi Luther ini, Aland juga membahas tentang isi 95 Dalil Martin Luther. Setelah membaca 95 Dalil tersebut, menurut Aland, kita melihat kata “iman” atau frase “pembenaran iman”. Jika dibandingkan dengan Pro Veritate inquirenda, “Bagi Ujian Kebenaran dan Penghiburan bagi Suara Hati yang Bermasalah” dari musim semi 1518, terlihat ada gambaran yang berbeda. Dengan melihat perbedaan pemahaman ini, maka Luther menulis Penjelasan 95 Dalil. Draft pertama selesai pada bulan Pebruari 1518 dan penjelasan ini ditunda diterbitkan setelah mendapat nasihat dari uskup. Dengan 95 Dalil ini, Luther dituduh di hadapan paus sebagai penyesat. Paus meminta agar Luther bertobat dari pandangan-pandangannya yang sesat itu, tetapi Luther tidak mau. Tuan tanah Luther, Frederik yang Bijaksana, melindungi Luther. Paus memerintahkan Luther untuk menghadap hakim-hakim di Roma dalam tempo 60 hari. Tetapi Frederik tidak mau menyerahkan Luther dan paus tak berani melawan Frederik. Jadinya Luther diadili di Jerman, yaitu di kota Augsburg. Luther kemudian menggambarkan bagaimana ia datang ke Augsburg tahun 1518 dan hasil yang didapatkan pada pertemuannya dengan Cajetanus (Kardinal Thomas de Vio). Cajetanus telah mempersiapkan diri bertemu dengan Luther dengan membaca tulisan-tulisan Luther. Pada pertemuan ini, Cajetanus meminta Luther untuk menarik kembali ajaran-ajarannya dengan berkata: “Bertobatlah dari tindakanmu yang sesat dan tarik kembali ajaranmu itu. Berjanjilah bahwa engkau tidak akan mengajar mereka lagi, dan hentikan segala kegiatan yang dapat mengganggu kedamaian gereja”. Akan tetapi Luther tidak dapat ditakut-takuti dengan perlawanan dan ancaman tuan besar itu. Ia tetap pada pendiriannya, lalu minta supaya diadili oleh paus sendiri, asal saja paus sudi menerima keterangan yang lebih tepat tentang maksud dan cita-cita Luther; tetapi jikalau paus tidak mau mendengarkan dia, baiklah suatu konsili yang am menimbang dan memutuskan perkaranya.

3. DARI PERDEBATAN LEIPZIG 1519 HINGGA WORMS 1521

Perdebatan ini merupakan perdebatan antara Luther dengan Johan Eck walaupun aslinya merupakan perdebatan antara Karlstadt dengan Eck. Eck mengeluarkan dua belas tesis untuk mendebat langsung melawan Luther dan bukan melawan Karlstadt. Pada bulan Pebruari 1519, Luther mengeluarkan tiga belas tesis melawan tesis Eck. Pada tanggal 4 Juli 1519, perdebatan Luther dengan Eck dimulai. Dengan adanya perdebatan ini, maka Luther menemukan pandangan-pandangan baru bahwa bukan indulgensia sendiri yang menjadi pokok perhatian, melainkan kuasa paus. Dalam perdebatannya dengan Eck, Luther memperbincangkan pangkat dan hak paus dengan panjang lebar. Mula-mula Luther membantah kurialisme dan memihak kepada orang konsiliaris dari abad ke-XV. Akan tetapi segeja juga ia sadar dan mengaku bahwa konsili pun tidak sempurna, bahkan mudah tersesat; sehingga Luther mengatakan bahwa konsili di Constanz yang menyalahkan dalil Johanes Hus telah salah. Pada debat kedua tanggal 7 Juli 1519, Eck berusaha memprovokasi Luther dengan mengatakan bahwa konsili itu tidak salah dan tidak akan pernah salah. Eck merasa menang dalam debat ini, sebab Luther menyatakan dirinya sebagai seorang penyesat di hadapan umum. Tetapi sebenarnya Lutherlah yang beruntung dengan debat itu, karena sekarang ia sadar bahwa hanya Alkitab saja yang harus menjadi ukuran dan patokan. Bukan paus atau konsili, melainkan Firman Tuhan saja yang berkuasa atas orang beriman. Menurut Aland ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam tulisan-tulisan Luther selama tahun 1520 yaitu: Pertama: Kepada Para Pemimpin Kristen Jerman – Mengenai Perbaikan Masyarakat Kristen (To the Christian Nobility of the German Nation Concerning the Reform of the Christian Estate). Di sini Luther mau merobohkan tiga tembok yang memungkinkan Gereja Roma bertahan. Tembok pertama: perbedaan antara imam (kekuasaan spiritual) dan awam (kekuasaan duniawi. Tembok kedua: hak istimewa hierarki untuk menafsirkan Kitab Suci. Tembok ketiga: previlese paus untuk memanggil konsili. Kedua: Malapetaka Pembuangan Babel untuk Gereja. (De captivitate Babylonica ecclesiae – The Babylonian Captivity of the Church). Tulisan ini dimaksudkan Luther untuk menghancurkan doktrin tradisional Gereja Roma tentang sakramen-sakramen. Luther mengaskan bahwa hanya dua sakramen yang ditetapkan Kristus sendiri dan yang ditemukan dasarnya dalam Alkitab, yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus. Makna sakramen serta hubungannya dengan firman Tuhan juga dirumuskan secara baru: sakramen bukanlah saluran anugerah sebagai penjamin keselamatan atas diri kita, melainkan tanda dari apa yang dinyatakan firman itu. Dengan kata lain: sakramen adalah firman dalam rupa tanda, dan sambutan kita dalam menerima sakramen itu hanyalah iman. Ketiga: Kebebasan Seorang Kristen (De libretate christiana –The Freedom of a Christian). Dalam tulisan ini, Luther menyanjung kebebasan (batin) manusia, yang dibenarkan oleh karena iman dan kesatuan dengan Kristus. Baginya perbuatan-perbuatan yang baik tidak bermanfaat samasekali untuk pembenaran. Manusia tentu saja tetap wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik; akan tetapi hal itu tidak lebih daripada konsekuensi logis dari pembenaran. Dengan kata lain, justru karena manusia dibenarkan karena imannya, maka ia wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan-perbuatan baik. Dengan pemikiran Luther yang dianggap merugikan kepausan itu, maka pada tahun 1520, paus mengeluarkan surat bulla yang berisi peringatan terakhir agar Luther ‘bertobat’. Luther menolak dan membalas bulla itu dengan tulisan, Melawan Bulla yang terkutuk dari si-Antikristus (Adversus execrabilem Antichristi bullam – Against the Execrable Bull of the Antichrist), sambil membakar bulla itu di depan para guru besar dan mahasiswa Universitas Wittenberg pada tanggal 10 Desember 1520. Dan pada tanggal 2 Januari 1521, keluarlah bulla kutuk paus, dan ajaran Luther dicap sebagai ajaran sesat. Sungguhpun rakyat Jerman menghormati Luther selaku pahlawannya, tetapi kaisar Karel tak ragu-ragu lagi. Pada 25 Mei 1520 ia mengeluarkan Edik Worms, di mana Luther dengan para pengikutnya dikucilkan dari masyarakat dengan kutuk negara. Segala karangan Luther pun harus dibakar.

4. PERMULAAN REORGANISASI GEREJA

Segera setelah Worms, dalam perjalanannya kembali ke Wittenberg, Luther diculik oleh satuan laskar berkuda yang bertindak atas suruhan Frederik yang Bijaksana dan mengamankannya ke Watsburg sekitar 10 bulan dengan memakai nama samaran “Junker Georg”. Ketidakhadiran Luther di Wittenberg membuat ‘nabi’ Zwickau mengambil peranan, namun seorang yang kemudian menjadi pemimpin gerakan Reformasi, Melanchthon melawan Zwickau. Dalam perlawanannya, Melanchthon menulis buku dogmatika protestan yang berjudul Loci Communes (“Pokok-Pokok Teologi”) tahun 1521. Buku inilah buku sistematika yang pertama yang berisikan ajaran iman yang baru. Pengaruh Luther di berbagai tempat sudah mulai berkembang. Di Wittenberg sendiri ada tiga masalah yang timbul yakni: pertanyaan tentang orang-orang biara, pembaharuan ibadah, dan regulasi keuangan gereja. Kehidupan selibat bagi orang biarawan menjadi persoalan ketika Bartolomeus Bernhardi menikah di Kemberg. Pernikahan ini dilakukannya setelah membaca rekomendasi Luther yang sering melawan selibat. Dalam menanggapi persoalan selibat ini, Luther menulis buku De votis monasticis (On Monastic Vows). Pekerjaan Luther membuat huru-hara di Wittenberg dan mendorong sebuah gerakan. Gabriel Zwilling, jurubicara biara Augustinus Wittenberg mengatakan agar biara harus ditutup. Dalam tulisan Malapetaka Pembuangan Babel untuk Gereja, Luther telah menekankan pembaharuan gereja. Ajaran-ajaran Luther ini dikembangkan oleh Karlstadt. Karlstadt membubarkan segala biara, karena tidak sesuai dengan Injil. Luther menyokong kegiatan ini dari tempat perlindungannya. Akhirnya banyak para klerus kemudian menikah. Akibatnya, pada tanggal 6 Pebruari 1522, rakyat tak dapat ditahan lagi. Mereka menyerbu gedung-gedung gereja, lalu memusnahkan mezbah-mezbah, salib-salib dan patung-patung. Raja Frederik tidak dapat memadamkan huru-hara itu. Oleh karena itu Luther memutuskan untuk meninggalkan Watburg dan kembali ke Wittenberg pada tanggal 6 Maret 1522. Hal itu membuktikan keberanian Luther dengan keyakinan bahwa Allah sendiri yang melindunginya bukan pedang dan raja. Dengan keberaniannya ini, Luther menyampaikan Khotbah Invokavit untuk membaharui dengan tenang di Wittenberg. Dengan khotbahnya tersebut masyarakat mulai mengerti bahwa mereka telah gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukan seperti kasih dan memperhatikan yang lemah. Pembaharuan gereja tidak dari atas ke bawah (top down), tetapi selalu dari bawah ke atas (bottom up). Karlstadt dilarang untuk mengajar, dan Zwilling menjadi salah seorang pengikut Luther yang setia dan nabi Zwickau meninggalkan Wittenberg. Gerakan pembaharuan ini juga akan diteruskan oleh penerus-penerus Luther kendatipun para pengikutnya menyalahgunakan ajaran Luther itu sendiri seperti Thomas Munzer yang memimpin gerakan pemberontakan petani.

5. TAHUN 1525 DAN AKIBATNYA

Menurut Aland ada beberapa hal yang terjadi pada tahun 1525 dan akibat-akibatnya. Pertama, terjadi pemisahan yang dikenal dengan gerakan pembaharuan sosial. Gerakan ini didasarkan pada Perang Petani (Peasants’ War). Para petani di Black Forest (Hutan Hitam) mengadaan revolusi di musim panas 1524. Pada permulaan 1525, revolusi ini disebut Perang Petani menyebar ke selatan Swabia. Mereka salah mengerti khotbah Luther tentang kebebasan tiap-tiap orang Kristen, sehingga menyangka Luther akan membantu mereka. Luther menulis pernyataannya tentang perang ini dengan tulisan Admonition to Peace, A Reply to the Twelve Articles of the Peasants in Swabia (Teguran untuk Damai, Sebuah Jawaban pada Dua belas Artikel Petani di Swabia). Dan Luther juga menulis tulisan kedua untuk melawan Perang Petani ini dengan tulisan Admonition to Peace, A Reply to the Twelve Articles of the Peasants in Swabia: [Also] Against the Robbing and Murdering Hordes of [the other] Peasants (Teguran untuk Damai, Sebuah Jawaban pada Dua belas Artikel Petani di Swabia: [Juga] Melawan Perampok dan Kelompok Petani Pembunuh [yang lain]). Walaupun Perang Petani ini bukan milik sejarah Gereja melainkan merupakan sejarah konflik sosial, namun kita harus mengatakan sesuatu tentangnya sebab banyak konsep yang salah yang dihubungkan dengan Gereja. Kedua, Luther berlawan dengan humanisme. Perlawanan ini diakibatkan oleh tulisan Erasmus The Freedom of the Will ( Kehendak Bebas) pada tahun 1524 yang menekankan bahwa rahmat saja tak sanggup menyelamatkan manusia. Putusan akhir bergantung pada kehendak bebas, yang dapat menerima dan menolak rahmat Tuhan. Luther dengan penuh semangat menyerang Erasmus dengan tulisan The Bondage of the Will (Kehendak yang diperbudak/terikat). Luther menekankan bahwa manusia yang sungguh beriman mengetahui dan mengaku bahwa hanya rahmat Allah yang hidup saja yang menyelamatkannya. Konflik Luther dan Erasmus menjadikan humanis terbagi dua. Yang mengikuti Luhter menjadi Injili, tetapi yang mempertahankan pokok humanisme tetap menganut agama Katolik Roma seperti Erasmus sendiri. Akibat yang paling dalam adalah orang-orang humanis yang di pemerintahan merasa posisi mereka sebagai “kekuatan ketiga“ dan berusaha untuk menghubungkan gereja tua dan muda (old and new church). Ketiga, Luther berpisah dengan Karlstadt. Konflik di antara mereka berdua dibayangi oleh Perang Petani dan perdebatan sakramen. Namun sebenarnya perpisahan mereka erat kaitannya dengan konflik pribadi mereka. Keempat, Melawan Nabi-nabi Sorgawi di dalam Bahan dari Gambar-gambar dan Sakrament (Against the Heavenly Prophets in the Matter of Images and Sacraments). Luther berhadapan dengan Karlstadt yang mengajarkan mistisisme dan yang diteruskan kemudian oleh Thomas Munzer. Luther menolak pandangan-pandangan dan cita-cita Munzer. Kelima, Zwingli dengan Karlstadt. Zwingli melawan Anabaptis di Wittenberg. Zwingli menulis keputusanya dalam tulisan: On Baptism, Rebaptism, and Infant Baptism; On the Ministry (Baptisan, Baptis Ulang dan Baptisan Anak; Atas Pelayanan) yang ditulis pada Juni 1525. Dalam perdebatan sakramen, Zwingli menolak transubstansiasi di dalam Perjamuan Kudus. Namun Zwingli menolak kehadiran nyata tubuh dan darah Kristus dalam Perjamuan Kudus. Sehingga Luther akhirnya berpisah dengan Zwingli. Perdebatan Luther dan Zwingli ini sangat panjang yang membahas sekitar keselamatan, predestinasi, dan lain-lain. Sebagai tambahan, pada tahun ini juga kematian Frederik yang Bijaksana dan digantikan oleh John Steadfast yang memulai generasi kedua Reformasi. Dan terakhir pada tahun ini juga Luther menikah yakni pada 13 Juni 1525 dengan Katherina von Bora. Dengan pernikahannnya ini Luther menegaskan protesnya dengan hidup selibat.

6. PERKEMBANGAN HINGGA KONFESSI AUGSBURG 1530

Dalam bagian ini Aland membahas Konferensi Marburg pada tanggal 1-4 Oktober 1529 yang membahas perdebatan sakramental. Konferensi Marburg ini berisikan motif-motif non-teologis. Luther tidak menyukai hal ini dan juga Zwingli, namun Philip dari Hesse memintanya sebab dia mempertimbangkan esensinya bagi rencana politiknya. Konferensi ini pada mulanya sejuk dan ramah; tetapi ketika berbicara mengenai pokok bahasan Perjamuan Kudus (Lord’s Supper), dan mendiskusikan kata institusi, konferensi ini tidak mencapai persetujuan. Semua usaha gagal dan akhirnya pada akhir acara Luther mengatakan,”Anda memiliki roh yang berbeda dengan kami”. Di Konferensi Marburg Luther dan Zwingli mencoba meminimalkan perbedaan mereka berdua. Namun konferensi ini gagal dan tujuan politik di balik konferensi ini juga tidak dapat diraih sehingga mengakibatkan konflik-konflik yang sengit di antara gereja Protestan (evangelical) dengan Katolik Roma. Pertikaian antara Katolik dan Protestan semakin memperjelas daerah kekuasaan masing-masing. Pada tahun 1525 Protestan menang dalam perang Habsburg-Valois dan membuahkan kedamaian di Madrid. Inilah yang disebut dengan pertemuan negara di Speyer 1526. Ada hal yang unik bentuk teritorial gereja injili yang berkembang setelah pertemuan negara di Speyer. Pada bulan Januari 1526, sebuah percobaan memimpin kunjungan di daerah Elektor Saxony dan secara sistematik setelah pertemuan negara di Speyer dan diperpanjang hingga tahun 1530, seluruh jemaat telah dikunjungi. Kunjungan ini membawa arti yang sangat mendasar. Lahirlah buku Katekismus Luther untuk menolong para penilik (visitator) dalam pelayanannya. Katekismus Kecil untuk membantu pemahaman iman baru bagi jemaat dengan plakat-plakat (placard) dan Katekismus Besar yang merupakan komentar yang lebih dalam yang biasanya untuk para pendeta. Perkembangan selanjutnya datang dari Elektor Saxony. Di Hesse mereka mengikuti kursus-kursus. Mereka melaksanakan sebuah sinode di Homber pada bulan Oktober 1526 yang dipimpin oleh Francis Lambert. Perkembangan berikutnya adalah pada tahun 1527, Universitas Marburg telah didirikan sebagai lembaga pendidikan bagi teolog-teolog injili. Gereja injili ini semakin meluas hingga ke Prusia tahun 1525 yang dipimpin oleh Albrecht Brandenburg. Pada pertemuan negara kedua di Speyer 20 April 1529, Katolik Roma memutuskan untuk melarang pengembangan dan pelaksanaan Reformasi di seluruh kekaisaran, namun pengikut-pengikut Luther terus memprotes keputusan itu. Sehingga Katolik menamakan mereka “Protestan”.

7. DARI AUGSBURG 1530 HINGGA PERANG SMALKALD 1546

Dalam bagian ini Aland membahas tentang Confessio Augustana (Augsburg Confession). Konfesi ini berasal dari dua dokumen berbeda yaitu: Artikel Schwabach dan Torgau. Konfesi ini dibagi dalam dua bagian yaitu: Artikel 1-21 berbicara tentang “iman” yang berasal dari Artikel Schwabach yang teks aslinya telah direvisi oleh Melanchthon. Artikel 22-28 berbicara tentang “siksaan yang diperbaiki” di dasarkan pada Artikel Torgau yang telah ditulis Melanchthon. Secara singkat dapat dikatakan bahwa konsep Konfesi Augsburg ini ditulis oleh Melanchthon dan beberapa ahli teologi lainnya, sebab Luther masih terkena kutuk kaisar. Luther sangat menyetujui konfesi ini dan bahkan ia menuliskan, “Segala sesuatunya sangat baik”. Konfesi Augburg ini diasumsikan merupakan tulisan konfesi Lutheran yang pertama, padahal dalam formulasi konfesi itu sendiri belum memuat kebenaran injili. Namun Luther mengatakan bahwa konfesi itu sudah lebih dari cukup memberikan kebenaran injili di dalamnya. Namun jika kita bandingkan nantinya dengan Artikel Smalkalden, kita akan menemukan banyak hal-hal yang diformulasikan sehingga lebih jelas, terang dan benar. Pada tanggal 3 Oktober 1530, Katolik Roma menyangkal Konfesi Augsburg ini dan menyarankan agar kembali mematuhi Katolik. Untuk menghadapi hal ini maka Melancthon menulis Apologi (Pembelaan) atas Konfessi Augsburg tersebut. Kendatipun Melanchthon begitu teoritis sekali dalam menjawab perlawanan dari Katolik, namun dalam konflik praktis ia kurang berani karena lawan-lawannya yang begitu kuat. Politik Melanchthon yang lemah ini makin memperkuat maksud golongan Katolik Roma untuk meniadakan Reformasi sesegera mungkin. Golongan Injili harus undur dari rapat negara. Edik Worms harus dibaharui dan diambil keputusan untuk mengadakan konsili am dalam waktu satu tahun. Melihat situasi tersebut, gereja Injili membuat pertemuan di Smalkalden pada tanggal 22 Desember 1530 untuk membentuk Perserikatan Smalkalden (perserikatan ini diorganisasikan resmi pada 27 Pebruari 1531). Dalam tulisan Luther Temporal Authorithy (Kekuasaan Temporal), Luther menggunakan terminologi “orang terkuat” dan “orang terendah”. Orang terendah melawan orang terkuat yaitu masyarakat melawan kaisar tidak masuk akal. Dengan kritikan yang keras dari Luther akhirnya kaisar tak berani meneruskan tindakan-tindakannya yang keras Di samping itu juga tekanan dari Turki yang dipimpin Archduke Ferdinand sangat kuat menyerang kaisar. Sehingga pada bulan Juli 1532 diadakanlah Perjanjian Neurenberg antara Karel V (Charles V) dengan golongan Protestan. Protestanisme dibiarkan menyebar pada tahun 1532. Dengan perjanjian ini, maka pada tahun 1534, Ulrich dari Wǜrttemberg memimpin Reformasi di Wǜrttember dan di tempat-tempat lain seperti di Pommeran, Nassau, Mecklenburg, Hannover, Sakson selatan, Magdeburg, Cologna, dan lain-lain. Kalangan Katolik Roma mengharapkan konsili segera akan diadakan, tetapi tak jadi. Atas permintaan raja Saksen, Luther menyusun lagi satu karangan yang disebut dengan “Pasal-pasal Smalkalden” (1537) yang lebih radikal dari Pengakuan Augsburg karangan Melanchthon. Pada bagian pertama berisikan apa yang telah dimuat dalam Pengakuan Augsburg sebagai doktrin tentang Allah. Pada bagian kedua, dialamatkan pada pertanyaan yang belum bersesuaian dengan Katolik Roma. Artikel Satu berbicara tentang rumusan sola fide, yaitu pembenaran oleh iman yang menjadi dasar Reformasi. Artikel Dua mediskusikan penghapusan Katolik atas hal-hal yang tidak bersesuaian dengan ajaran Katolik. Artikel Ketiga membicarakan pembaharuan praktis dan Artikel Keempat adalah penolakan Protestan atas kekuasaan paus. Pada akhir ulasannya, Aland menerangkan bahwa pihak Katolik Roma memerangi Reformasi sekuat-kuatnya. Pada tahun 1545 konsili besar yang dinanti-nantikan sekian lama, dibuka oleh paus di Trente. Akan tetapi pihak Protestan tidak mau menghadiri konsili, karena dianggap seperti menyerahkan diri kepada musuh. Akhirnya pecahlah perang yang disebut perang Smalkalden.

8. LUTHERANISME DARI KEMATIAN LUTHER HINGGA PERDAMAIAN KEAGAMAAN AUGSBURG 1555

Setelah perang Smalkalden pecah, tidak lama setelah itu, Luther meninggal dunia pada 18 Pebruari 1546 di kampung halamannya Eisleben, disebabkan penyakit, kelelahan dan kekecewaan karena sikap rakyat yang kurang Injili dan rohani. Berkali-kali Luther dalam tulisannya mengatakan bahwa dia sudah tua, sudah usang dan mengarah ke liang kubur. Secara ringkas Aland menjelaskan bahwa sejak kematian Luther, maka terjadilah perang melawan Protestanisme yang dipelopori oleh Kaisar Karel V dengan mengenakan kutuk negara kepada Philip dari Hessen dan Johan Frederik dari Saksen kecuali kepada Maurits dari Saksen yang membelot kepada kaisar karena mengejar kehormatan dan uang. Akibatnya Protestanisme mengalami kekalahan. Namun perlawan Protestan terus dilancarkan kepada kaisar. Sehingga dilakasanakanlah Perjanjian Passau pada tanggal 2 Agustus 1552. Oleh perjanjian ini kaisar terpaksa membebaskan kedua raja yang ditahannya dan membiarkan golongan Injili sampai kepada rapat negara yang berikut. Pertikaian Katolik Roma dan Protestan akhirnya diselesaikan pada tanggal 25 September 1555 yang disebut dengan “Perdamaian agama di Augsburg”. Agama Reformasi bukan saja dibiarkan untuk sementara, tetapi diakui sebagai agama resmi yang setara dan sama haknya dengan Gereja Katolik Roma. Akan tetapi perdamaian Augsburg tidak memberi kebebasan agama yang sebenarnya, karena hanya Gereja Lutheran saja yang diakui. Golongan Zwingli dan sekte-sekte kaum fanatik dengan tegas dikucilkan dari perjanjian itu. Maka timbullah rumusan Cuius regio eius religio (siapa punya daerah, dia punya agama). Namun dengan peraturan ini, banyak timbul lagi permasalahan-permasalahan baru baik antara Katolik dengan Luther dan golongan lain. Dan bahkan pihak Lutheran sendiri merasa dirugikan dengan peraturan ini.

III. REFORMASI HULDREICH ZWINGLI

Dalam bab ini, Aland membahas 6 pokok penting dalam perjalanan Reformasi Huldreich Zwingli yaitu:

1. PERMULAAN

Huldreich (=Ulrich) Zwingli lahir 1 Januari 1484 di Wildenhaus di Kabupaten Toggenburg. Ayahnya seorang pemuka dalam desa dan ibunya adalah saudara perempuan dari seorang imam. Zwingli sejak sekolah dasar sudah dipengaruhi oleh humanisme dan bahkan diperkuat lagi ketika dia memasuki Universitas Wina dan Basel. Zwingli juga dipengaruhi oleh skolastisisme dengan ajaran via antiqua, yang berlawanan dengan Luther yang mempelajari via moderna: dengan kata lain, Luther seorang Occamist; sedangkan Zwingli seorang Scotist. Pada tahun 1506, Zwingli meraih gelar MA, kemudian ia ditahbis menjadi imam di Glarus pada usia 22 tahun. Ia bekerja di Glarus selama 10 tahun dan sementara itu ia belajar bahasa Yunani tanpa guru, sehingga Perjanjian Baru (PB) dapat diselidikinya dalam bahasa aslinya. Pada waktu di Glarus, Zwingli berhubungan dengan Erasmus, seorang tokoh humanis Belanda yang tinggal di Basel. Tahun 1515 ia mengunjungi Erasmus. Dan dia menyebut Erasmus sebagai pemimpin intelektual dan dari Erasmus, Zwingli memperoleh pembaharuan dalam hidup gereja. Di samping itu, Zwingli juga dipengaruhi humanis Italia, Pico della Mirandola. Tahun 1516, Zwingli pindah dan menjadi imam di Einsiedeln (sebuah kota yang menjadi tempat pemujaan Anak Dara Maria hingga sekarang). Zwingli menyerang “ibadah Yudaisme“ yang berhubungan dengan Kristus sebagai hanya mediator dan menekankan peranan Alkitab dalam hidup sehari-hari.

2. KEGIATAN DI ZURICH

Hingga akhir tahun 1518 Zwingli dikenal sebagai seorang pengkhotbah umum pada Katedral Besar (Grosmǜnster) di Zǜrich. Secara ringkas Aland menjelaskan kegiatan Zwingli dalam membawa Reformasi di Zǜrich adalah melalui khotbah-khotbah yang melawan pengkultusan orang-orang kudus, melawan api penyucian, dan melawan penurunan moral hidup gereja. Kemudian Zwingli membuat metode penafsiran Kitab Suci yang baru dengan menjelaskan Kitab Suci bab demi bab. Misalnya kitab Matius, Kisah Para Rasul, Mazmur dan lain-lain. Di samping itu Zwingli juga menyerang rupa-rupa ada dan syariat Gereja Roma, misalnya undang-undang puasa, selibat kaum imam dan sebagainya.

3. ZWINGLI DAN LUTHER

Zwingli juga menampakkan pengaruh Luther dalam gerakan Reformasinya. Hal itu tampak jelas ketika Zwingli mengikuti konflik Luther dengan Eck. Zwingli memihak kepada Luther dengan pembaharuannya semenjak debat Leipzig (1519). Dia sadar bahwa pembenaran oleh iman saja yang harus menjadi pusat injili untuk pembaruan Gereja. Bahkan Zwingli menyebut Luther sebagai nabi Elia yang memproklamasikan kedatangan Allah. Pengaruh Luther dalam gerakan Reformasi Zwingli sangat banyak di samping pengaruh humanis yang dipelajarinya. Misalnya Zwingli banyak mengadopsi teologinya dari pemikiran Luther.

4. PEMBARUAN ZWINGLI

Menurut Aland untuk meringkaskan pandangan teologi fundamental Zwingli dalam sebuah kalimat pendek adalah suatu pekerjaan yang sulit, sebab banyak hal yang bisa membahayakan. Namun paling sedikit ada 5 catatan penting atas pembaharuan yang dilakukan Zwingli yaitu: Pertama, ajaran Kitab Suci Zwingli. Menurutnya Allah memberikan dokumen tentang Kristus tanpa kesalahan, jelas dan hukum yang menyatu dengan Allah sendiri. Kedua, ajarannya tentang Allah. Ada perbedaan yang tajam di antara kemuliaan Allah dengan apa yang diciptakan Allah. Ketiga, ide predestinasi yang dikembangkan Zwingli semakin tajam untuk melawan Anabaptis. Keempat, penolakan yang radikal terhadap sistim skolastik dan lembaga/ibadah Gereja Katolik. Kelima, berhubungan dengan perkembangan dari dalam dan dari luar. Zwingli sangat berbeda tajam dengan Luther tentang pengudusan orang Kristen. Menurut Zwingli, pemerintahan Kristen memiliki tugas membantu untuk mewujudnyatakan kehendak Allah yang tertulis dalam Kitab Suci.

5. PELAKSANAAN REFORMASI DI ZURICH

Pembaharuan yang dilakukan Zwingli di Zǜrich dimulai pada tahun 1520 setelah terjadi perpecahan dengan Katolik Roma. Permulaan Reformasi Swiss juga diakibatkan persoalan politik. Menurut Aland, hal pertama yang menjadi penyebabnya adalah perlawanan Zwingli terhadap sistim tentara sewaan bagi paus di Perancis. Kedua, karena perlawanannya secara langsung kepada praktek eksternal gereja Katolik. Dalam Supllicatio pada bulan Juli 1522 Zwingli bersama 10 imam lainnya mengirim petisi kepada uskup agar supaya diberi kebebasan untuk mengabarkan Injil dan menikah bagi imam. Petisi ini tidak digubris, karena menurut uskup soal itu adalah hak Paus atau konsili. Beberapa imam menyatakan perlawanannya secara terbuka, yaitu dengan menikah. Zwingli sendiri menikah sejak tahun 1522 dan diumumkan tahun 1524. Ia menikah dengan Anna Reinhart, seorang janda dari Hans von Knonau. Zwingli mengundurkan diri dari imam pada 10 November 1522 dan dia bekerja di bawah dewan kota sebagai pengkhotbah Injili. Zwingli berkeinginan agar dilaksanakan sebuat debat untuk menenangkan situasi. Oleh sebab itu dewan kota mengadakan debat umum pada 29 Januari 1523 di Zǜrich. Dalam pertemuan itu Zwingli membentangkan acara pembaharuannya dengan membela dan menguraikan 67 dalil. Dari dalil yang fundamental ini Zwingli menyimpulkan: Hanya satu yang tinggal di dalam Kristus yaitu anggota jemaat Allah. Barangsiapa bekerja tanpa Kristus tidak akan dapat melakukan segala sesuatu. Jika seseorang mendengar Kristus, dia akan belajar kehendak Allah. Akibatnya ialah dewan kota berpesan kepada segala pengkhotbah, supaya mulai hanya Injil yang sejati diberitakan sejak saat itu. Situasi ini tidak bertahan lama, karena kembali anasir-anasir radikal merebut kuasa, sehingga timbullah huru-hara besar, sama sepeti di Wittenberg setahun sebelumnya. Sehingga debat kedua pun diadakan kembali pada 26-28 Oktober 1523. Dewan kota menyuruh mengeluarkan segala salib, mezbah, patung dan orgel dari gedung-gedung gereja. Misa sama sekali dihentikan dan diganti dengan kebaktian sederhana. Mezbah diganti dengan meja Perjamuan. Dewan kota juga menggunakan undang-undang baru tentang pernikahan dan pengawasan kesopanan umum dan menjatuhkan disiplin kepada siapa yang melanggar hukum dan arturan-aturan.

6. KESINAMBUNGAN REFORMASI DI SWITZERLAND; KEMATIAN ZWINGLI

Kendatipun kemenangan Gereja Katolik sudah nyata dalam debat Baden Mei 1526, namun pengaruh Reformasi Zwingli sudah diperkenalkan di Bern oleh Haller, Bucer dan Capito dan pada bulan Januari 1529, hal yang sama juga terjadi di Basel. Pada tahun 1529 Zwingli berikhtiar untuk menggabungkan kuasa semua raja, daerah dan kota yang beragama Protestan untuk bersama-sama melawan keluarga Habsburg, yang merupakan lawan besar bagi kebebasan iman. Luther sendiri tidak setuju dengan rencana Zwingli ini, sehingga pada pertemuan di Marburg, segala rencana Zwingli itu dibatalkan. Di Swiss pergerakan Reformasi makin meluas dan tak lama kemudian kedua golongan yakni Protestan dan Katolik Roma mengangkat senjata untuk menyelesaikan pertikaian ini. Pada 11 Oktober 1531, Zwingli tewas bersama 20 imam lainnya dekat Kappel, dan mayatnya dibagi empat dan dibakar habis oleh para tentara Roma. Golongan Protestan terpaksa menerima syarat-syarat perdamaian (Second Peace of Kappel) yang merugikan Protestan, sehingga gerakannya tak sempat meluas lagi.

IV. REFORMASI JOHANES CALVIN

Dalam bab ini, Aland membahas 8 pokok penting dalam perjalanan Reformasi Johanes Calvin yaitu:

1. PERMULAAN

Johanes Calvin atau Jean Cauvin, lahir 10 Juli 1509 di Noyon Picardy, anak seorang pegawai uskup. Pada awalnya Calvin mau belajar teologi, namum ayahnya berbalik pikiran karena pengalaman pribadinya, maka Calvin disuruh belajar hukum. Pertama-tama Calvin pergi ke Paris untuk belajar Bahasa Latin tahun 1523. Kemudian ia pindah ke Orlean untuk belajar hukum dan memperoleh gelar Doktor Hukum tahun 1533. Di samping itu Calvin juga belajar Bourges. Namun bagi Calvin, belajar hukum tidak membuat dia merasa puas, sebab perhatian humanisnya telah bertumbuh. Bahkan tulisan pertamanya tahun 1532 tentang sebuah Komentar Kitab De Clementia, dipengaruhi pikiran humanismenya dan di dalamnya belum ada pemikiran Reformasinya.

2. PERTOBATAN

Menurut Aland, pertobatan Calvin yang didasarkan atas pengalamannya bukanlah sesuatu yang bisa diterima begitu saja. Sebab bagi Calvin, sangat segan untuk membuat pernyataan pribadi. Beberapa ahli mengatakan pertobatan Calvin ini terjadi antara tahun 1528 atau 1533. Aland tidak setuju bahwa tahun petobatan Calvin terjadi pada tahun 1528. Sebab jika Calvin telah bertobat tahun 1528, seharusnya Calvin tidak ikut berpartisipasi dalam pelayanan ibadah Katolik dan tidak boleh menerima gaji jika dia sudah lama menemukan posisi barunya. Bagi Aland, pertobatan Calvin terjadi pada tahun 1533, sebab setelah Calvin menemukan iman barunya, dia begitu bersemangat memberitahunan ajaran barunya. Sehingga tahun-tahun sebelum tahun 1533 adalah masa persiapan Reformasinya. Misalnya pada tahun 1529 di Bourges, Calvin dipengaruhi pemikiran Melkior Wolmar yang telah membaca tulisan Luther saat itu. Kemudian sekitar tahun 1531, Calvin mulai dipengaruhi humanisme dengan menerbitkan tulisan Komentar Kitab De Cementianya. Dan pada tahun 1533, ketika di Oleans, dia menerima khotbah-khotbah yang bersifat Injili, sebagaimana dia lakukan di Bourges. Pada 1 November 1533, pada saat perayaan Hari Orang-Orang Kudus di Universitas di Paris oleh rektor Cop, dimengerti sebagai saat penerimaan ajaran Reformasi bagi Calvin. Akhirnya, tahun 1534 Calvin mengumumkan ulang ajaran eklesia-nya. Dan inilah pertobatan Calvin kepada Reformasi pada tahun 1533 bukan pada tahun 1528.

3. INSTITUTIO

Calvin menulis bukunya Christianae Religionis Institutio (Pengajaran Agama Kristen) ketika tinggal di Basel akibat penganiayaan orang Kristen di Perancis. Calvin sendiri melarikan diri dari Perancis ke Swiss, dan ke Strausburg kemudia bertahan lama di Basel. Berdasarkan pernyataan Calvin, Institutio ditulis sebagai pembelaan atas penekanan terhadap orang-orang percaya di Perancis oleh raja Perancis yaitu Francis I. Dalam tulisannya ini Calvin mencoba menjelaskan kepada raja tentang keadaan orang percaya itu agar raja tidak menganiaya mereka. Di samping tulisan ini, Calvin juga menulis tulisan lainnya seperti: Pengetahuan tentang Allah Pencipta, Pengetahuan tentang Allah Penebus di dalam Kristus, Jalan di Mana kita Menerima Anugerah Kristus, Apakah Manfaat Yang Datang Kepada Kita dari itu, Apakah Akibat Pengikut dan Arti Kekekalan atau Pertolongan oleh Undangan Allah pada kita ke dalam Kemasyarakatan Kristus dan Merangkul Kita Di sana.

4. KEGIATAN AWAL DI GENEVA

Secara geografis Geneva adalah bagian dari Switzerland, dan kota ini menjadi posisi yang baik sebagai mata rantai stasiun transit di antara Switzerland dengan Italia, Perancis dan Jerman. Aslinya Geneva adalah bagian kota Jerman tetapi kemudia menjadi di bawah kekuasaan adipati Savoy. Farel telah berusaha membawa Reformasi di Geneva sejak tahun 1532, namun dia merasa bahwa dia tidak mampu sendirian untuk melakukan tugas ini. Ketika Farel mendengar bahwa Calvin berada di Geneva, maka Farel meminta Calvin untuk tinggal di Geneva bersama-sama dengannya menata kota Geneva menjadi kota reformasi. Permintaan Farel ditolak Calvin. Calvin mau hidup tenang dan terus menulis karya-karya teologia. Ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan praktis dalam jemaat. Namun Farel mendesaknya dengan berkata: “Allah akan mengutuki engkau jika engkau menolak untuk membantu pekerjaan Tuhan dan engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri daripada kemuliaan Kristus”. Calvin melihat panggilan Allah kepadanya lewat Farel sehingga ia tinggal di Geneva. Calvin menjadi Reformator di Geneva. Di sana ia menjadi pengajar Kitab Suci dan memimpin pemahaman Alkitab. Pada bulan Januari 1537 Calvin sudah menulis Tata Gereja yang baru (cikal-bakal Ordonnances Ecclesiastiques). Menurut Calvin, salah satu cara agar penduduk Geneva mau mengikuti Reformasi adalah dengan adanya sumpah iman. Untuk tujuan ini, maka dia menulis Katekismus Geneva sebagai ringkasan dari Institutio. Bersama Farel, Calvin merumuskan pengakuan iman sehingga tahun 1537 mereka menerbitkan Instruction et confession de foi (Instruksi dan Pengakuan Iman). Dengan ini maka setiap orang bisa menentukan apakah dia penganut Katolik atau tidak. Menurut Aland, Calvin telah berusaha meletakkan dasar Gereja Geneva sejak permulaan. Namun gagasan menyangkut sumpah yang dimulai bulan Juli 1537 ini ditolak keras oleh dewan kota, sehingga Calvin dan Farel dilarang berkhotbah di mimbar-mimbar gereja di Geneva dan pada akhirnya diusir dari Geneva.

5. TINGGAL DI STRASBOURG

Setelah gagal mendirikan kerajaan Allah di Geneva, Calvin dan Farel akhirnya kembali ke daerahnya masing-masing. Calvin pulang ke Strasbourg dan Farel ke Neuchatel. Calvin diterima Bucer dan Capito di Strasbourg dengan baik. Menurut Aland ada beberapa hal penting atas kehadiran Calvin di Strasbourg ini yaitu: Pertama, di Strausbourg Calvin menjadi lebih dekat hubungannya dengan teolog Reformasi Jerman seperti Melanchthon. Kedua, di Strasbourg Calvin menemukan pengertian yang dalam tentang damai untuk melanjutkan kesarjanaannya yang sudah lama diidamkannya. Ketiga, pengalaman persekutuannya di Strasbourg sungguh serasi yang selama ini dia cari-cari. Di sana dia menemukan iman yang Injili dan merasakan kehidupan bergereja yang sangat indah.

6. KEMBALI KE GENEVA DAN PEMBANGUNAN ORGANISASI GEREJA BARU

Pada tahun 13 September 1541, Calvin menerima panggilan untuk kembali lagi ke Geneva. Dan Calvin tinggal dan bekerja di Geneva hingga meninggalnya. Segera setelah ia di Geneva, Calvin menyusun suatu tatagereja yang baru yang bernama: Ordonnances ecclesiastiques (Undang-undang Gerejani). Gereja harus bertanggung jawab untuk mengatur dirinya sendiri (Self-government). Kota dibagi menjadi dua belas distrik yang dipimpin oleh seorang penatua. Calvin memisahkan penghukuman: setelah penghukuman spiritual dijatuhkan, barulah hukuman dari pemerintah dilaksanakan. Pokoknya bagi Calvin, seluruh kehidupan gereja dan negara baik hidup secara pribadi dan masyarakat harus memuliakan Allah. Calvin secara sistematik mengatur jabatan gereja untuk memurnikan jabatan para pendeta. Dia sangat perhatian untuk meningkatkan pendidikan bagi para pendeta dan kaum awam. Bagi Calvin, hubungan gereja dan negara sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Dia bercita-cita suatu negara teokrasi. Seluruh kehidupan masyarakat harus diatur sesuai dengan kehendak Allah.

7. PERJUANGAN MELAWAN OPOSISI

Aland dalam bagian ini lebih menekankan perseteruan Calvin dengan Mikael Servetus yang menganut paham Anti-trinitarian dan Bolsec yang menentang ajaran predestinasi Calvin. Bagi Calvin ajaran predestinasi adalah ajaran yang sangat mendasar dalam teologinya. Bolsec akhirnya dibuang ke luar Geneva. Sedangkan Servetus telah menuliskan keraguan dan ketidakpercayaannya kepada ajaran trinitarian tahun 1531 dalam bukunya De trinitatis erroribus (Kesalahan Trinitas). Servetus menuliskan pemikirannya dalam sebuah buku Christianismi Restitutio (Pemulihan Agama Kristen). Calvin sendiri telah menasihatkan Servetus agar tidak menerbitkan bukunya itu. Tetapi Servetus tetap bersikeras menerbitkannya tanpa menyebut nama pengarangnya. Servetus menerbitkan dengan rahasia di daerah Lyons pada permulaan 1533. Akhirnya Calvin menyebut Servetus sebagai Setan. Inkuisisi Gereja Katolik Roma terus menyelidiki perkara itu dan tidak lama kemudian mendapat cukup bukti bahwa Servetuslah pengarangnya. Ia ditangkap dan dipenjarakan di kota Vienne (=Wina) dan dijatuhi hukuman mati dibakar pada tanggal 27 Oktober 1553.

8. PEMBENTUKAN GEREJA YANG BERCIRI PENGAKUAN IMAN (KONFESIONAL)

Dalam bagian ini Aland menjelaskan perhatian Calvin kepada orang Perancis yang mengungsi ke Geneva karena diusir dari Perancis. Dengan perhatian Calvin ini, mereka akhirnya mendukung Calvin dalam mewujudkan cita-cita Calvin untuk menjadikan Geneva menjadi kota Kerajaan Allah. Calvinisme ini dengan cepat berkembang dari Geneva: ke Perancis, Belanda, Skotlandia, Eropa Timur, dan Italia. Calvin juga mencoba mendamaikan pihak Lutheran dengan Gereja Zwingli supaya Jerman dan Swiss bersatu dalam hal Reformasi. Calvin berhasil dengan mengadakan Consensus Tigurinus (Persetujuan Zurich) tahun 1549 yang berisikan persetujuan antara pengikut Zwingli dengan pengikut Calvin tentang ajaran Perjamuan Kudus yang menggabungkan ajaran Zwingli dan Calvin. Calvin berharap persetujuan ini menggambarakan kedekatan dengan Lutheranisme Jerman. Usaha Calvin ini ditolak oleh orang Lutheran sebab ajaran Zwingli dianggap telah menganut ajaran Anabaptis. Amatlah berbahaya jika Calvinis berusaha mempersatukan ajaran Zwingli dan Luther. Itulah makanya Joyakim Westphal di Hamburg menyerang ajaran Calvinis ini dengan keras. Walaupun demikian, Calvin mau memelihara perdamaian dan persatuan; tetapi lawan-lawannya berpendapat lain. Semenjak itu pembaharuan Lutheran dan Calvin masing-masing menurut jalannya sendiri-sendiri. Meski pun bercerai, kedua bagian Reformasi itu tidak lain dari dua saudara dari satu keluarga yang saling membutuhkan. Untuk menghadapi persoalan ini, maka Lutheranisme menerbitkan buku Formula of Concord (Rumusan Konkord) tahun 1577 dan The Book of Concord (Buku Konkord) tahun 1580. Konsep Confessio helvetica posterior,1556 baru dapat diterima sebagai dokumen konfessioanal setelah beberapa tahun kematian Calvin. Calvin meninggal pada tanggal 27 Mei 1564. Konsep ini dapat diterima oleh pihak Calvinis dan Lutheran sebagai gereja yang konfesional.

3. KEKRISTENAN SETELAH REFORMASI

Dalam bagian kedua buku ini, Aland membahas Kekristenan setelah Reformasi. Untuk melihat secara jelas, dia membagi bahasan ini dalam empat bagian besar yaitu: Pertama, Pertarungan antar Konfesi hingga perang tiga puluh tahun (1618-1648) ; kedua, Kekristenan sejak Abad Keenam belas ; ketiga, Kekristenan Abad Kesembilan belas ; dan keempat, Kekristenan Abad Kedua puluh .

I. PERTARUNGAN ANTAR KONFESI HINGGA PERANG TIGA PULUH TAHUN (1618-1648)

Bab ini berisikan enam pokok bahasan yaitu:

1. KEBANGKITAN KATOLIKISME; IGNATIUS LOYOLA DAN YESUIT

Sejak tahun 1545 Protestanisme selalu bersikap menyerang Katolikisme sementara Katolik sendiri bersikap bertahan, tetapi setelah tahun 1545 Katolikisme berbalik haluan dengan bersikap menyerang. Inilah yang disebut dengan masa kebangkitan Katolik. Atau masa ini lebih dikenal dengan masa Kontra-Reformasi. Tujuan utamanya adalah pembaruan gereja. Ordo Yesuit adalah ordo yang mendukung Kontra-Reformasi ini. Salah satu tokoh yang terkenal dan sekaligus pendiri ordo Yesuit ini adalah Ignatius dari Loyola. Dia adalah salah seorang tokoh penting dalam sejarah Katolik modern. Pada tahun 1526, ia memulai belajar teologi selama sembilan tahun. Setelah tamat, bersama dengan teman-temannya, ia pergi ziarah ke Tanah Suci. Setelah pengalaman ziarah ke Tanah Suci, mereka mengorganisasikan masyarakat (ordo) yang berspiritual berdasarkan tulisan Ignatius Exercitia spiritualia (Latihan rohani). Dan pada tanggal 27 September 1540, organisasi ini diresmikan menjadi sebuah ordo yang disebut dengan Societas Jesu (Ordo Yesus).

2. PERJUANGAN REFORMASI DI EROPA Dalam bagian Aland ini membahas perjuangan Reformasi di beberapa daerah seperti: pertama, Perancis. Protestan berkembang tidak hanya sebagai kekuatan Gerejawi saja melainkan sebagai kekuatan politik. Di bawah pimpinan Admiral Coligny, mereka memperoleh pengaruh dan bersaing dengan pemerintahan Perancis dan Katolik Perancis di dalam tiga perang. Pada tahun 1570 akhirnya pemerintah Perancis terpaksa mengakui Protestanisme. Tetapi hanya dua tahun kemudian, pada tanggal 24 Agustus 1572, pada Hari St.Bartolomeus, banyak pemimpin Hugenot dibunuh termasuk Admiral Coligny di dalamnya. Peristiwa ini dikenal dengan “Paris Berdarah” karena menelan korban sekitar dua atau tiga ribu orang dan bahkan sampai dua puluh ribu orang. Akhirnya pada 13 April 1598, pada Edik Nantes, Protestan diizinkan hidup dan bergerak dengan bebas dan penganiayaan dihentikan. Kendatipun kemudian, Louis XIII berusaha untuk mengusir orang Protestan. Kedua, Belanda. Perjuangan di Belanda ini dikenal dengan perjuangan berdarah, sebab banyak menelan korban. Secara ringkas Aland memberikan alasan mengapa hal itu terjadi. Hal itu diakibatkan percampuran masalah politik dan agama. Perjuangan kebebasan beragama adalah perjuangan yang sama untuk terbebas dari Perancis dan perjuangan terbebas dari kekuasaan Perancis bersamaan dengan perjuangan kebebasan keberagamaan. Ketiga, Switzerland. Gerakan Reformasi di Polandia diakibatkan ketidakpuasan mereka terhadap gereja Katolik yang tidak memperhatikan pendidikan. Sehingga mereka berpindah dari humanisme ke Reformasi dan mendukung pendidikan bagi para pendeta. Keempat, Inggris. Sejak pemerintahan Ratu Elisabet, Inggris menjadi pemimpin kekuatan Protestan di Eropa. Kelima, Swedia. Kontra-Reformasi berusaha untuk memenangkan kota agar kembali ke Katolikisme. Tetapi Protestanisme dimenangkan oleh Charles IX.

3. KEMAJUAN KONTRA-REFORMASI DI JERMAN

Kemajuan Kontra-Reformasi di Jerman kemungkinannya kecil sebab telah tercapai Perdamaian Agama di Augsburg (1555) yang memperdamaikan kedua belah pihak. Namun Ferdinan I (1556-1564) dan Maximilian II (1564-1576) berusaha melawan Protestanisme. Hal ini diteruskan oleh Rudolf II (1576-1612) yang telah dididik oleh ordo Yesuit menjadi adipati Bavaria. Akhirnya pada pemerintahan Albrecht V di Bavaria (1550-1579), ordo Yesuit memperoleh pengaruh yang besar baik di dalam Gereja dan pemerintahan. Akhirnya terjadilah konflik Kontra-Reformasi pertama yang diakibatkan prinsip-prinsip spiritual. Setelah Perdamaian Agama di Augsburg kedua belah pihak selalu berusaha untuk mengembangkan diri. Misalnya, Protestanisme sejak awal 1560 telah mengembangkan sayap mulai dari Trier hingga ke Salzburg. Demikian juga Katolikisme, mengembangkan diri di Constance, Bamberg, Paderborn, dan Breslau. Di Mainz sendiri pada saat pemilihan archbishop (uskup besar) yang baru, kemenangan Katolik begitu nyata mengalahkan Protestan. Namun tahun 1577, elektor Cologna menjadi penganut Protestan. Perkembangan Protestanisme ini akhirnya mengalami kemajuan hingga tercapainya Kesatuan (Union) Gereja Protestan pada 4 Mei 1608. Dan pihak Katolik pun membangun kesatuan mereka di Bavaria.

4. KONFLIK DI BOHEMIA DAN MELETUSNYA PERANG TIGA PULUH TAHUN

Setelah Rudolf II menandatangani Surat Mulia (Letter of Majesty) 1609 maka kebebasan beragama pun semakin nyata. Penduduk Bohemia mendukung Surat Mulia ini. Namun ketika Rudolf II turun tahta 1611, dia digantikan oleh Matthias 1612 dan Ferdinand menjadi raja muda di Bohemia, satu persatu dari konsensus ini ditarik kembali. Dan inilah yang menjadi cikal-bakal Perang 30 tahun sebagai perselisihan lokal. Bagi orang Bohemia, revolusi ini adalah perang internal Austria bukan sebuah revolusi di salah satu provinsi di kekaisaran Habsburg. Kematian Matthias bulan Maret 1619 menimbulkan pertanyaan siapakah yang akan menjadi penggantinya. Dua elektor Jerman menjadi calon terkuat yakni John George I dari suku Sakson dan Frederick V dari Palatinat. John George ditolak oleh orang Bohemia dan akhinya Frederick yang menjadi pengganti Matthias. Dengan kemenangan ini membuat pihak Protestanisme berdiri sama dengan Katolikisme di Bohemia. Pihak Protestan dari Sakson kembali mengangkat Perang Smalkalden misalnya pada masa Napoleon.

5. PERANG TIGA PULUH TAHUN

Menurut Aland perang tiga puluh tahun ini terdiri dari dua bagian yaitu: bagian pertama, terjadinya Perang Bohemia (1618-1620), Perang Palatinate (1621-1623), dan Perang Sakson Rendah (1625-1629). Dan bagian ini berakhir dengan Edik Pemulihan (Restitution) 6 Maret 1629. Bagian kedua, dari tahun 1630 hingga 1632. Pada bulan Juli 1630, Gustaf Adolfus menyeberang dan memasuki Jerman dengan tentaranya. Lambat laun ia mendapat sokongan dari negeri-negeri Lutheran. Pada tahun 1631 ia mengalahkan Tilly. Sekarang jalan ke Jerman-Selatan terbuka baginya. Kontra-Reformasi mundur dengan cepat, tetapi orang Katolik Roma tidak ditindasnya, karena ia mengetahui bahwa cara yang demikian tidak pernah mendatangkan damai. Menurut Aland ada beberapa motif Gustaf melakukan perlawanan ini yaitu: motif politik yang dilakukannya dalam invasi ke Jerman dan motif politik dan ekonomi. Gustaf Adolfus tewas dalam pertempuran dekat Lutzen (1632); kematiannya menghentikan perjuangannya yang indah dan sangat berharga itu bagi kebebasan Injil. Tetapi ia telah mencapai maksdunya, sebab penganiayaan dan pemusnahan terhadap kaum Protestan sudah dibatalkan. Reformasi di Eropa-tengah tidak dapat ditahan lagi. Gustaf Adolflah yang meluputlan Lutheranisme dari kebinasaan pada saat bahaya itu memuncak.

6. PERDAMAIAN WESTPHALIA DAN PERTANYAAN KONFESIONAL

Sesudah tahun 1632, perang 30 tahun itu hanya merupakan suatu perang politik saja antara Perancis dan Swedia melawan keluarga Habsburg dan Spanyol. Ketika segala partai sudah terlampau lemah dan lelah, barulah mereka mulai mencari kesepakatan sehingga negosiasi ditentukan pada tahun 1641 di Osnabruck dan Munster. Negosisasi dengan Swedia berakhir pada 8 Agustus 1648, dan dengan Perancis pada 17 September 1648. Negosiasi ini akhirnya, tercapai dan ditandatangani pada 24 Oktober 1648 di Munster yang sering disebut dengan Perdamaian Munster (Perdamaian Westphalia). Secara ringkas perdamaian ini menetapkan bahwa asas-asas Augsburg (1555) tetap berlaku, kebebasan beragama dijamin kecuali sekte-sekte baru, nasib golongan kecil diperbaiki. Perdamaian ini juga membawa sejumlah besar perubahan di dalam batas-batas kepemilikan. Swedia mendapatkan Hither Pomerania dan Rugen, sepanjang daerah Wismar, Bremen, Verden – seluruh kekuasaan gereja – dan bagian Farther Pomeriania. Perancis memperoleh kekuasaan atas kota Metz, Toul dan Verdum. Hasil lain yang diperoleh perdamaian ini ialah Belanda dan Swiss memperoleh kedaulatannya.

II. KEKRISTENAN SEJAK ABAD KEENAM BELAS

1. KEKRISTENAN ABAD KEENAM BELAS DAN KETUJUH BELAS

Uraian tentang kemajuan kontra-Reformasi dan Perang 30 Tahun, yang telah membawa kita pada pertengahan abad ketujuh belas, bisa dengan mudah mengaburkan kejadian-kejadian dan faktor-faktor lain dalam sejarah Kristendom di abad keenam belas dan ketujuh belas kemudian. Sebagai contoh, Raja Perancis Louis XIV (1634-1715) dicirikan bukan hanya oleh perjuangannya melawan Huguenot, yakni perjuangan melawan Protestanisme, tetapi juga dengan perselisihan di dalam Katolikisme itu sendiri. Pada saat yang sama Jansenisme dan Quietisme kedua-duanya diserang oleh Yesuit. Kedua-duanya menyerah pada kekuasaan penentang mereka, dan tak diragukan lagi menimbulkan kerugian pada gereja Perancis maupun pada Katolikisme secara umum. Jansenisme berusaha untuk bangkit dan menjaga kekudusan yang dalam dengan kembali kepada Augustinus. Quietisme adalah bentuk mistisisme, salah satu dari gerakan yang menarik di dalam Katolikisme selama abad ketujuh belas. Ketika kita melihat pada sejarah Protestanisme kepada Katolikisme, kita menemukan bahwa di abad ketujuh belas mereka, bukan hanya banyak tetapi juga spektakuler: bersama pangeran Jerman ada Ratu Kristina dari Swedia, dan banyak para maha guru dan teolog seperti penyair Angelus Silesius. Hal ini disebabkan pentingnya mistisisme quietistik yang berbalik ke Katolikisme pada saat itu. Tetapi mistisisime itu pun dihancurkan. Sebagai tambahan, semuanya itu dekat hubungannya dengan kerajaan yakni Katolikisme menjadi bagian integral dari sebuah regim yang absolutis dengan seluruh konsekuensinya. Aliansi ini membawa pengaruh yang besar. Revolus Perancis menuntut banyak korban. Bukan hanya merusak harta milik Gereja Katolik tetapi juga kehidupan para imam dan biarawan. Ketika kita kembali memperhatikan Protestanisme pada waktu itu, gambarannya adalah rasa ketidakenakan. Protestanisme dirundung oleh berbagai perdebatan yang ditandai dengan masa Orthodoksi. Perdebatan ini dimulai setelah kematian Luther dengan perdebatan tentang adiafora di dalam Perang Schmalkaden, yang diikuti perdebatan sinergistik, Majoristik, antinomian dan Osiandrian. Sebagai tambahan ada juga perdebatan Philippistik yaitu perdebatan tentang teologi Melanchthon. Generasi setelah kematian Luther memikirkan satu perdebatan tentang substansi dari Formula Konkord yang selesai pada 28 Mei 1577. Pada tgl 25 Juni 1580, Buku Konkord dipublikasikan termasuk pengakuan kuno Gereja dan seluruh pengakuan Reformasi (Konfesi Augsburg, Apologi, Risalat Melanchthon atas Kuasa dan Keuatan Paus, Artikel-Artikel Smalcald, Katekismus Kecil dan Besar Martin Luther), versi pendek dan panjang Formula Konkord. Hal kedua menurut Aland yang harus disebutkan, jika kita melihat abad ketujuh belas dan delapan belas hanya dengan dasar pertikaian pada masa itu, kita akan melakukan hal yang merugikan pada kedua abad tersebut. Perdebatan memang dilakukan teolog-teolog di setiap masa. Tetapi jika kita melihat hanya dari perspektif ini, kita tidak hanya melakukan sebuah ketidakadilan pada para peserta, tetapi juga memotong diri kita sendiri dari akses untuk mengerti peristiwa-peristiwa itu. Doktrin yang murni menjamin eksistensi gereja, ajaran murni diperlukan bagi keselamatan – hanya dari dasar pemikiran ini kita dapat mengerti perdebatan doktrinal abad ketujuh belas dan kedelapan belas kemudian. Ajaran murni ini telah diperoleh dan diakui hanya setelah melalui perjuangan yang sengit. Perdebatan doktrinal makin hebat ketika Pietisme muncul pada akhir abad ketujuh belas. Kita hanya butuh melihat tulisan-tulisan yang melawan Spener dan Pietisme dan bagaimana Spener menjawab seluruh perdebatan yang tidak menyenangkan itu. Satu hal penting lain menurut Aland adalah tentang penafsiran yang tepat pada abad ketujuh belas: pusat hati iman Protestan (Injili) bukan pada perdebatan ini. Kita melihat kekudusan pada waktu itu diekspresikan di dalam lagu-lagu pujian (hymne). Sebab pada waktu itu setelah kematian Luther dan pada abad ketujuh belas tulisan-tulisan lagu-lagu pujian tumbuh subur, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Aland memberikan banyak gambaran tentang nyanyian ini dalam karya-karya Pietisme seperti Erdmann Neumeister dan Valentin Ernst Loscher. Aland juga menjelaskan bahwa abad ketujuh belas tidak dapat dikritisi dan dihukum dengan cara yang sering kita lakukan. Misalnya, ketika kita bertanya bagaimana pengaruh Perang Tiga Puluh Tahun bagi kehidupan gereja dan keagamaan, kita sering menemukan orang – dipengaruhi oleh pengalaman generasi kita dalam Perang Dunia II dan tahun-tahun setelahnya – yang memberikan sebuah evaluasi negatif ekstrem di dalam jawaban mereka.

2. PIETISME

Pietisme merupakan gerakan yang paling signifikan yang terjadi di dalam Protestanisme sejak Reformasi. Di dalam gereja, Pietisme menjadi tempat pertama bagi akibat dari Reformasi itu sendiri. Akarnya adalah pada abad keenam belas. Puncak Pietisme diraih pada tahun 1720 dan kemudian setelah itu mulai memudar. Pietisme ini mempengaruhi gereja hanya dalam waktu singkat. Nama Pietis dan Pietisme lahir pertama kali pada perdebatan Leipzig. Pada abad ketujuh belas Pietisme tumbuh secara simultan di beberapa daerah dan di dalam dua aliran yaitu: Lutheran dan Calvinis (Reformed). Kita pertama menemukannya pada lahan Calvinis: di Belanda dan Inggris dan kemudian di Jerman dan akhirnya Lutheranisme Jerman. Aland menyimpulkan bahwa ada hubungan ketergantungan antara Pietisme Reformed dengan Pietisme Lutheran. Melalui tulisan-tulisan teolog Reformed Belanda dapat dikatakan bahwa istilah-istilah mereka dicirikan Pietisme Lutheran Jerman. Kita juga mencatat bahwa Spener membaca tulisan-tulisan penulis devosional bahasa Inggris pada masa mudanya. Walaupun demikian, kita tidak dapat memperlihatkan hubungan yang segera antara Lutheran Jerman dan Pietisme Reformed Jerman. Reformed dan Lutheran saling mempengaruhi satu sama lain, tetapi mereka tidak dapat dijelaskan yang satu berasal dari yang lain, sebab “Pietisme” adalah sesuatu kesatuan yang abstrak yang tidak pernah nyata. “Pietisme” bukan sesuatu yang nyata, yang nyata hanyalah bermacam-macam manifestasinya yang harus diuji dan dievaluasi secara terpisah. Dan bahkan Lutheran dan Pietisme bukanlah suatu kesatuan tunggal, tetapi dibagi ke dalam banyak kelompok: Pietisme yang berasal dari Spener dan Francke, Moravian, Pietisme Wurttemberg, dan akhirnya Pietisme radikal. Pietisme radikal dipengaruhi oleh Pietisme Lutheran dan Reformed. Dari luar, Pietisme Jerman dilindungi dari pengaruh yang datang dari Pietisme Reformed dengan konfesi yang dibawa waktu itu. Kita tidak memiliki konsepsi bagaimana kuat keberadaan pembawa konfesi pada abad ketujuh belas secara umum. Misalnya, Spener menemukan dorongan untuk menulis Pia Desideria dari Labaidie. Spener telah mengetahui tulisan-tulisan Luther. Spener dibina oleh fakultas teologi Strasbourg yang didirikan Lutheranisme yaitu Lutheranisme Reformed (Reformluthertum). Ketika kita membaca seluruh penulis Lutheran dari abad keenambelas, kita mendapat pesan bahwa di sini kita sudah bertemu dengan Pietisme, paling sedikit di dalam langkah dasar. Menurut Aland, kita dapat menentukan secara pasti kapan Pietisme mulai sebagai sebuah gerakan di dalam Lutheranisme Jerman yaitu dalam musim gugur tahun 1675 ketika Pia Desideria atau Heartfelt Desire for a God-pleasing Reform of the true Evangelical Church Spener muncul. Kemudian Pia Desideria (Hasrat Kesalehan) menjadi sangat berarti dan sangat dalam mempengaruhi buku-buku yang pernah muncul dalam gereja Injili. Kita tidak dapat menghindari diskusi isi Pia Desideria, sebab hal ini adalah inti dari segala sesuatu yang kemudian Pietisme pikirkan. Pia Desideria aslinya muncul sebagai sebuah pengantar pada edisi baru tulisan Johann Arndt (1555-1621), superintendent di Luneburg pada akhir hidupnya, salah seorang representatif “Lutheranisme Reformed”. Spener memulai dengan imbauan umum bagi reformasi. Dia memulai dengan kondisi korup yang merembes ke seluruh negeri. Pertama dia menghitung satu persatu dosa-dosa lembaga-lembaga temporal yaitu mereka yang berkuasa/memerintah di dalamnya. Mereka melupakan bahwa mereka berhutang kepada Allah dan Allah memberikan mereka kekuasaan untuk mengembangkan kerajaan Allah. Kemudian Spener melawan para imam (“second” estate) dan masyarakat (“third” estate). Spener tidak akan berbicara tentang dosa yang sudah kita kenal sebagai dosa, tetapi tentang dosa-dosa yang tidak dipikirkan. Spener juga membuat enam usulan bagi Reformasi yaitu: Pertama, “Lebih luas menggunakan Firman Allah di antara kita”. Kedua, yang dikutip dari perhatian sentral Luther yang hilang dalam periode setelah dia, bahwa imamat am orang percaya dihidupkan kembali, sebab jemaat bukan direpresentasikan oleh imam melainkan para orang percaya. Ketiga, dapat ditemukan dalam Luther yaitu dalam pengantarnya atas Kitab Roma dalam terjemahannya atas PB. Umat harus belajar bahwa belumlah cukup mengetahui iman Kristen dan mengikuti ajaran gereja, tetapi segala sesuatu tergantung pada satu hidup, menggunakan satu iman secara praktik. Keempat, menekankan perdebatan keagamaan dan satu tindakan kepada orang-orang yang berbeda iman. Kelima, pendidikan bagi para imam. Kehidupan pada murid lebih baik diawasi. Menurut Spener, para calon imam tidak hanya dibekali secara teoritis saja, tetapi mereka juga harus berkesempatan selama pendidikan mereka mempraktekkan hal-hal yang akan mereka lakukan kemudian dalam pelayanan mereka: menghibur orang yang sakit, berkhotbah, dan lain-lain. Keenam, Sermon harus dikhotbahkan ”maka mereka lebih menyempurnakan tujuan mereka, menumbuhkan iman dan berbuah bagi orang yang mendengarnya“. Pengkhotbah tidah harus menunjukkan kemampuan belajarnya, tetapi harus mampu mengakomodasi dirinya sendiri untuk memampukan pendengarnya mengerti apa yang dikhotbahkan. Philipp Jakob Spener lahir tahun 1635 di Rappoltsweiler Alsace putra pegawai kantor daerah (bupati). Dia belajar di universitas Strasbourg. Dia adalah murid terbaik dari murid seusianya. Dosennya menginginkannya untuk tetap tinggal di universitas. Tetapi ketika masih dalam tingkat permulaan dari kegiatan akademiknya, panggilan tahu 1666 menjadi imam senior di Frankfurt membuat dia keluar dari karir di universitas pada usia tiga puluh satu tahun. Pengalaman rohani Spener terjadi ketika ia dalam perjalanan studi tour ke Switzerland dan Wurttenberg bertemu dengan Pietisme Wurttenberg. Ketika Spener meninggal 5 Pebruari 1705, Pietisme telah memiliki sebuah bentuk baru. Pietisme yang berasal dari Spener dilanjutkan keberadaannya. Tetapi secara meluas, Pietisme Spener dibayang-bayangi oleh Pietisme Halle yang lebih agresif daripada Spener. August Hermann Francke adalah pendiri sekaligus figur Pietisme Halle ini, lahir di Lubbeck tahun 1663. Ayahnya seorang pengacara yang melayani Duke Ernest the Pious (Ernest yang saleh) di Gotha. Masa muda Francke telah dipengaruhi praktik kesalehan di pengadilan Ernest the Pious. Tahun 1685, dia menyelesaikan magisternya dalam usia 22 tahun dan saat itu ia mengorganisasikan Collegium philobiblicum di Leipzig. Collegium philobiblicum ini bukanlah kelompok Pietistik, melainkan persekutuan para cendikiawan, sebuah persekutuan magister penafsiran Alkitab. Francke pergi ke Ernfurt untuk menjadi pendeta di sana tetapi dia hanya tahan satu setengah tahun atas penganiayaan yang dilakukan oleh rekannya imam. Tahun 1692 dia mendapat kedudukan baru di Halle bagian pinggiran kota Glaucha. Pekerjaan Francke berjalan langkah demi langkah dari tuntutan Glaucha menekannya. Dia menggambarkan mereka dalam buku pertamanya Blessed Footsteps of the Still Living and Reigning Lovely and Faithful God. Di sini Francke mengatakan bagaimana dia menemukan apa yang disebutnya “kotor dan kecurangan kebodohan” di antara penduduk miskin di Glaucha bahwa dia tidak tahu bagaimana memberikan mereka pertumbuhan Keristenan. Dengan melihat situasi itu maka Francke berusaha memperbaikinya dengan memberikan uang kepada anak-anak yang orang tuanya miskin dan tidak dapat membayar uang sekolah. Tetapi tindakan ini tidak efektif. Anak-anak bergembira menerima uang, tetapi mereka tidak pergi ke sekolah, dan jika pun mereka pergi ke sekolah tatapi tidak ada hasil yang diperoleh. Aland lebih jauh menjelaskan perjuangan Francke dengan mendirikan Panti Asuhan tahun 1698 dan selesai dibangun tahun 1699. Pada tahun 1714 Panti Asuhan ini telah menampung lebih dari 200 anak-anak dan diajar oleh 100 orang guru. Di Panti Asuhan ini mereka. Pekerjaan Francke ini semakin berkembang. Hal ini terbukti dengan pengiriman Justus Samuel Scharschmidt ke Rusia (1696), Anton Wilhelm Bohme ke Inggris (1704), Bartholomaus Ziegenbalg dan Johann Heinrich Plutschau mendirikan Penginjilan di India Timur di antara penduduk Tamil (1706), dan Henry Melchior Muhlenberg dikirim ke Pennsylvania. Dalam bagian ini Aland juga menjelaskan peranan Nikolaus Ludwig von Zinzendorf bagi perkembangan Pietisme. Nikolas lahir di Dresden tahun 1700 dan memperoleh pendidikan di Halle. Zinzendorf tunduk kepada keinginan keluarganya dan tahun 1722 dia menjadi pengacara di pemerintahan Sakson. Di Dresden dia membuka persekutuan yang disebut dengan “Persekutuan Empat Saudara”. Pada saat yang sama, dia juga memberikan tanahnya di Berthelsdorf bagi sisa imigrasi Persatuan Saudara-saudara Bohemia (Bruderunitat). Pada 17 Juni 1722, Zinzendorf membangun Herrnhut sebagai tempat bagi Saudara-saudara Bohemia ini. Tetapi segera setelah itu tempat ini menjadi pusat Pietisme radikal. Di samping keempat macam Pietisme Lutheran Jerman – Spener, Francke, Zinzendorf, Wurttenberg – ada juga Pietisme radikal yang merupakan gelombang berikut dari kelompok Pietisme Lutheran Jerman. Pietisme radikal ini timbul akibat gerakan separatis seperti yang terjadi di Frankfurt. Salah satu tokohnya yaitu Johann Wilhelm Petersen. Pietisme radikal ini di luar aturan keagamaan saat itu. Mereka menemukan pengungsi di Wetterau di sana mereka mengatur jemaat-jemaat. Kota Sayn-Wittgenstein dan Isenburg-Budingen menjadi pusat Ispirasi Kemasyarakatan (Inspirationsgemeinden). Mereka menerjemahkan Alkitab yang disebut Berleburg Bible sebagai sumber pendidikan mistik bagi mereka. Dari tempat ini mereka berkembang ke Switzerland dan Alsace. Apakah akibat Pietisme ini bagi para ahli teologi? Menurut Aland, Pietisme ini hanya berbicara mengenai teologi sistematik. Karena secara doktrin Pietisme ini masih tergantung pada doktrin Lutheran. Bagi “Pietis“ segala sesuatu dimulai dengan Alkitab. Tujuan mereka hanya untuk memperbaiki umat. Arti Pietisme bagi para ahli teologi jauh lebih kecil dibanding bagi umat. Sebab sejak permulaannya Pietisme bukan hanya memperhatikan pendidikan teologi tetapi juga lebih memperhatikan praxis pietatis, pembaharuan dan rekonstruksi kehidupan gereja. Pengaruh Pietisme ini sangat nyata dalam teologi praktika. Penganut Pietisme juga berusaha menceta Alkitab untuk segala umur dengan mendirikan Canstein Bible Society (1710). Pada tahun 1712 – 1719 telah mendistribusikan 80.000 Alkitab dan ratusan ribu PB. Pietisme melakukan seluruh usaha untuk mempromosikan kehidupan jemaat dan membuatnya hidup. Perkembangan kelompok studi Alkitab (Bibelstunden) dan sidi semakin maju. Buku-buku nyanyian rohani makin banyak dicetak.

3. PENCERAHAN

Menurut Aland, Pietisme bukanlah sebuah jalan mempersiapkan Pencerahan, sebab Pietisme itu sendiri hanya sebuah gerakan dalam gereja. Artinya Pietisme berbeda dengan Pencerahan tetapi ada persamaan mendasar (yang mungkin tidak dikatakan Aland secara eksplisit): sama-sama antroposentris (berpusat pada manusia: manusia yang saleh, manusia yang berpikir/rasional). Pencerahan adalah sebuah fenomena kehidupan intelektual umum dan mempengaruhi gereja hanya dalam satu pengaruh saja. Pencerahan ini terjadi di luar Kekristenan sebagai sebuah gerakan filsuf yang dimulai di Inggris, Belanda dan selanjutnya datang ke Jerman melalui Perancis. Akhirnya berkembang di Jerman dan mempengaruhi gereja. Pietisme dan Pencerahan saling berlawanan satu sama lainnya. Pencerahan di Jerman relatif begitu sejuk dibandingkan dengan apa yang terjadi dengan Pietisme. Pencerahan radikal – rasionalisme – yang ditunjukkan Frederick II dari Prusia atau Carl Friedrich Bahrdt, bukanlah terjadi di Jerman. Jika kita lihat Perancis, walaupun di sana tidak ada kaum Pietis, namun kita temukan di sana Pencerahan yang lebih radikal dari apa yang terjadi di Jerman. Pencerahan radikal di Perancis berhubungan erat dengan perkembangan hubungan erat di antara kerajaan dan ordo Yesuit. Faktor-faktor pendorong kebangkitan Pencerahan adalah Humanisme buah dari Renaissance. Humanisme telah ada dan memainkan peran yang ditandai dengan pemisahan dua bagian yang kita temukan dalam Pencerahan. Di Italia misalnya, semuanya terlihat murni berbentuk sekularisasi. Sekilas tunduk kepada norma-norma gereja, namun dalam kenyataan, anti-gereja, lebih dalam anti-orang Kristen. Begitu juga Renaissance sangat mempengaruhi timbulnya Pencerahan. Tetapi menurut Aland, hal itu belum cukup untuk mengerti Pencerahan. Lebih jauh Aland mengatakan bahwa untuk mengerti Pencerahan itu, kita harus kembali lagi ke Abad-abad Pertengahan. Ada banyak hal dalam filsafat Abad-abad Pertengahan yang nampak dalam bingkai teologi – tinggal dalam hubungan simbiotik dengan teologi – yang dipersiapkan bagi Pencerahan. Misalnya Francis Bacon, Viscount St. Albans (1561-1626) orang yang pertama memisahkan filosofi dari teologi. Teologi bertanggung jawab bagi pewahyuan dan iman dan segala sesuatu yang supernatural, sementara filosofi seluruh manifestasi alam adalah merupakan wilayah filosofi. Perkembangan selanjutnya dilakukan oleh Rene Descartes (1596-1650). Bagi Descartes, walau ragu dia berkata “Cogito ergo sum” (Aku berpikir, sehingga aku ada). Tindakan Descartes terhadap kekristenan ditanggapi secara positif. Bersama Spinoza, benda-benda telah dipandang secara berbeda. Descartes meyakini bahwa substansi sama dengan alam sama dengan Allah (substantia sive natura sive Deus). Allah sebagai natura naturans menjadikan segala sesuatu. Demikian juga dengan Edward Herbert, Lord Cherbury (1583-1648) mengatur sistem dari perbandingan keagamaan ini. Dia melihat lima ciri yang menentukan dalam keagamaan: Pertama: mereka mulai dengan keberadaan yang mahaada. Kedua: ada keharusan untuk beribadah kepada yang mahaada ini. Ketiga: Kebaikan adalah unsur utama dalam penyembahan kepada yang mahaada ini. Keempat: dari kebaikan ini kita harus berusaha keras menghindari dosa dan bertobat. Kelima: ada hadiah dan ada ganjaran atau penghukuman. Perkembangan selanjutnya terlihat dari Pierre Bayle (1647-1706) lahir sebagai orang Perancis, namun bekerja di Belanda – penulis Dictionnaire historique et critique. John Locke (1632-1704) dalam tulisannya Essay Concerning Human Understanding menerima dengan baik agama sebagai pewahyuan yang mengaktualisasian “super-rasional”. John Toland (1670-1722) menulis Christianity Not Mysterious (Kekristenan Bukanlah Misteri). Pencerahan di Inggris lebih besar berpengaruh di Perancis. Hal ini dibawa ke Perancis tahun 1721 melalui sindiran Montesquieu (1689-1755) dalam suratnya Letters persanes, ‘Surat-surat orang Persia’. Pencerahan ini kemudian berkembang dari Perancis dengan menggunakan sindiran ini. Misalnya Francois Maric Arouet de Voltaire (1694-1778) yang mengedarkan ide-ide filsafat Inggris di dalam formulasi-formulasi yang brilian. Dengan Pencerahan Perancis ini maka muncullah para Ensiklopedist seperti Denis Diderot (1713-1784) dan Jean Le Rond d’Alembert (1717-1783). Mereka adalah editor utama Enscyclopedie ou Dictionnaire raisonne des sciences, des arts et des metiers, yang diterbitkan dalam 28 jilid tahun 1772. Pada tahun 1748, Julien Offroy de La Mettie (1709-1751) memberikan pandangannya tentang mekanisme alam yang murni dari binatang dan tumbuhan pada kehidupan dalam L’Homme-machine (Manusia sebagai mesin). Dan pendapat ini bertolak belakang dengan pendapat Baron Paul-Henri-Dietrich d’Holbach (1723-1789) yang memformulasikannya tahun 1770 dengan Sistem dari alam, atau hukum-hukum fisikal dan dunia moralnya. Perdebatan inilah yang terjadi hingga Revolusi Perancis yang membicarakan ‘Ateisme materialistik Alkitab’. Jean Jacques Rousseau (1712-1778) termasuk dalam hal ini. Karyanya Du contrat social (Kontrak sosial) tahun 1762 merupakan salah satu prakondisi dasar Revolusi Perancis. Ada tiga pemikiran Rousseau yang terkenal yaitu : pertama, Rousseau percaya bahwa sebuah keinginan bergerak ke alam semesta dan menganimasi alam. Kedua, seseorang yang melihat alam semesta dengan mata terbuka, akan terlihat berdiri di sebelahnya inteligensia yang tinggi. Ketiga, Rousseau percaya bahwa Allah hadir di mana saja di dalam karya-Nya. Jika kita melihat Pencerahan di Jerman, maka kita akan membicarakan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716). Bagi filsuf Jerman, Leibniz adalah permulaan era baru di Jerman. Leibniz dikenal sebagai ”crypto-Catholic” oleh teolog-teolog pada zamannya sebab perjuangannya untuk menyatukan gereja-gereja. Systema theologicum-nya dihargai sebagai pengakuan iman pribadinya. Sehingga Leibniz dikenal juga sebagai leluhur Pencerahan. Karya ilmu teologi-filosofi terbesarnya dipublikasikan sejak hidupnya adalah Essais de theodicee sur la bonte de Dieu, la liberte de I’homme et l’origine du mal tahun 1710. Pemikiran Leibniz ini kemudian dikembangkan oleh Christian Wolff (1679-1724) dengan menerbitkan karyanya Reasonable Thoughts. Di Jerman ada juga kita kenal propagandist seperti Christoph Friedrich Nicolai (1733-1811) dengan karyanya Allgemeine Deutschen Bibliothek (Perpustakaan Umum Jerman) yang memiliki bentuk popularitas yang cukup berarti dalam Pencerahan jika kita bandingkan dengan Pencerahan di Perancis dan Inggris. Walaupun mereka menggunakan kamus yang sama, namun pengertian mereka sangat berbeda. Perlawanan terhadap Pencerahan yang normal ini dilakukan oleh Carl Friedrich Bahrdt (1741-1792) dengan kasus celebre (Skandaludel) pada waktu itu. Bahrdt merupakan teolog Ortodoks melalui tulisan-tulisannya Der Christ in der Einsamkeit (Orang Kristen dalam kesunyian). Dari seluruh paparannya, Aland menyimpulkan, kita jangan lupa bahwa Pencerahan tidak pernah sempurna dalam kontrol gereja. Imajinasi kita pada waktu itu ditentutukan oleh apa yang ditulis dan dicetak saat itu. Di dalam jemaat sendiri, kendati mereka bisa memperoleh tulisan-tulisan itu, namun mereka kurang memahami apa yang dimaksudkan tulisan tersebut.

4. GEREJA KATOLIK HINGGA KONSILI VATIKAN PERTAMA

Untuk membahas topik ini Aland membicarakan hubungan Katolikisme dengan abad ketujuh belas. Melalui dukungan Louis XIV (1643-1715), kepausan memiliki posisi yan kuat. Namun hingga akhir hidupnya posisi kepausan ini mengalami kemunduran. Hal ini diakibatkan kesadaran nasional yang begitu kuat mendominasi para imam Katolik. Jemaat mengambil peranan penting dalam pemilihan kepausan. Clement XI (1700-1721) memprotes Frederick I tentang kedudukan raja Prussia tahun 1701 kendati tidak ada yang mendukungnya. Tahun 1728 Benedictus XIII (1724-1730) mengumumkan bahwa ulang tahun kematian Gregorius VII menjadi hari besar dalam tahun gereja sehingga diyakini mereka bahwa kepausan pada abad kedelapan belas sama dengan kepausan pada Abad Pertengahan. Sebab nama Gregorius VII adalah programatik. Namun penetapan hari ulang tahun kematian Gregorius ini pun ditentang oleh negara termasuk Katolik sendiri. Sehingga sejak itu negara tidak begitu menaruh hormat lagi kepada paus misalnya Spanyol dan Austria. Di Spanyol, hampir seluruh kegiatan gereja dikonfirmasikan kepada raja. Sehinga lama-kelamaan kuasa paus menjadi hilang. Di bawah paus Clement XIII (1758-1769), seorang paus yang berusaha memakai tuntutan gereja dengan paksaan khusus, akhirnya kemunduran kepausan semakin nyata. Perlawanan negara kepada tuntutan kepausan gereja dimanifestasikan dalam perjuangan melawan Yesuit. Perlawanan melawan Yesuit ini dimulai di negeri-negeri rumpun Romawi (Portugis, Spanyol, Italia dan Prancis). Di Portugis motifnya agak berbeda sedikit dengan perlawanan kepada Yesuit. Hal yang sama juga terjadi di Perancis dan di Spanyol. Tahun 1767 seluruh serikat Yesuit ditangkap. Paus Clement XIV (1769-1774) menghapuskan serikat Yesuit dengan mengeluarkan Dominus ac redemptor noser (Tuhan kita dan Penebus) pada 21 Juli 1773. Dengan keluarnya surat ini maka banyaklah penguasa Roma yang ditangkap dan 22 ribu pegawai dipindahkan sehingga mereka bergabung dengan kelompok Penebus (Redemptorist) atau Perhimpunan Hati Kudus Yesus (Society of the Sacred Heart of Jesus). Kemunduran di seluruh aspek kehidupan tidak bisa disangkal lagi. Katolikisme yang kuat secara politik di Eropa, sudah mulai kehilangan dasar dan berpindah ke Protestanisme. Setelah kematian Louis XIV, kekuatan Katolik Perancis surut secara drastis dan berlawanan dengan kebangkitan Protestan Inggris dan Prussia menjadi kekuatan baru di Eropa. Di Jerman sendiri gereja Katolik berkeinginan berdiri sendiri seperti yang dipelopori oleh Karl Theodor von Dalberg, kendati usaha ini tidak berhasil. Menurut Aland, sangatlah sulit menentukan tuntutan kepausan, sebab negara bukan hanya memperhatikan posisi yang mereka peroleh pada abad kedelapan belas, namun mendukung kepausan itu sendiri. Negara Eropa berusaha membawa ide-ide Pencerahan pada gereja dan negara kepada sebuah masa yang baru. Tetapi diplomasi kepausan begitu jauh berkuasa kepada seluruh tingkatan negara. Sehingga Katolikisme mengulangi apa yang pernah terjadi sebelumnya. Akhirnya, bukan hanya terjadi pembaharuan kembali Pemerintahan Gereja dan kedudukan paus, tetapi juga kebangunan kekudusan. Sejak itu, timbullah Ultramontanisme yang berorientasi pada “sisi lain dari pegunungan”, yang menjadi bukan hanya kekuatan politik tetapi menjadi kekuatan keagamaan yang dibawa kehidupan spiritual Katolik. Maka mulailah berkembang beberapa dogma (ajaran) kekudusan di dalam gereja Katolik. Misalnya Bishop Klemens August Freiherr von Droste-Vischering (1773-1845) melawan “perkawinan campur” (Mischehen). Perjuangan kebudayaan (Kulturkampf) pun terjadi di pemerintahan Prussia yang berusaha untuk mengendalikan gereja Katolik, namun usaha ini gagal. Prussia menang perang melawan Perancis ketika Konsili Vatikan I mengadopsi ketidakbersalahan paus, walaupun pada saat yang bersamaan hal ini diprotes sangat keras secara khusus di Jerman yang akhirnya terjadilah skisma Gereja Katolik Lama. Dari pembahasan yang begitu panjang lebar tentang Konsili Vatikan I, Aland berkesimpulan, percaya atau tidak, Keputusan Konsili Vatikan I (1864-1865) merupakan surat perintah untuk menjadi konsili yang bersatu yang hanya menjelaskan visi yang terbatas.

5. PERMULAAN KEKRISTENAN DI LUAR EROPA: PERKEMBANGAN HINGGA 1800, JEPANG, CHINA, AMERIKA

Secara umum sejarah kekristenan berpusat di Eropa, namun dalam perkembangan berikutnya perkembangan kekristenan itu sendiri mulai bergeser dari Eropa ke luar Eropa. Menurut Aland, ada bukti bahwa kekristenan telah ada dan berada di luar Eropa sejak permulaannya; padahal dalam kenyataannya, kekristenan aslinya di luar Eropa. Sebab tak seorang pun dapat mengklaim hari ini bahwa Palestina atau provinsi Roma Syria dengan Antiokhia, pusat pertama gereja bukan Yahudi, adalah bagian dari Eropa. Sudah ada jemaat Kristen di Mesir pada permulaan abad kedua dan tidak lama kemudian pada akhir abad kedua sudah ada sebuah jemaat di Afrika Utara yaitu jemaat Syria yang berpusat di Edessa. Dari abad keempat kekristenan sudah ada posisi yang dominan di Georgia dan Armenia dan dari sana tersebar jauh ke Timur. Secara umum orang mengganggap bahwa seluruh daerah dan gereja-gereja adalah milik “Eropa” pada waktu itu yaitu Kekaisaran Roma. Tetapi pada abad kelima terjadilah perubahan atau bahkan lebih tepat setelah Konsili Khalsedon. Sebab pada saat itu Mesir sama seperti Palestina dan Timur memisah dari gereja besar di Timur dan berkembang menjadi gereja Byzantin dan sekarang secara keseluruhan struktur gereja telah memisah dari Barat. Misalnya gereja yang masih ada sekarang adalah: di Mesir, Gereja Koptik; di Afrika, Gereja Etiopia; di Syria, Libanon, Turki, Mesopotamia, dan gereja Syria Ortodoks; Gereja Armenia, Gereja Ortodoks India. Kekristenan di luar Eropa telah ada dan kemudian dinamai dengan Gereja “non-Chalsedon”. Gereja ”Nestorian“ berpusat di Persia. Dari sinilah usaha penginjilan mereka berkembang hingga ke daerah Cina. Bahkan gereja ini telah memiliki 30 provinsi mulai dari Tarsus di Asia Kecil dan Yerusalem dan Beijing dan juga Jawa (mestinya Sumatera). Lebih jauh Aland mengatakan bahwa perkembangan kekristenan di luar Eropa adalah akibat perjalanan para petualang (voyages of discovery). Paus Aleksander VI tahun 1493 memutuskan pembagian dunia baru di antara Spanyol dan Portugis. Perjanjian ini dikenal dengan Perjanjian Teoesillas. Perhatian mereka bukan hanya untuk mengembangkan daerah kekuasaannya, namun mereka juga mengembangkan kekristenan itu sendiri. Yang kedua adalah penemuan Columbus yang diikuti oleh para imam (pastor) yaitu ordo Franciscan, Dominican dan disusul Serikat Yesuit di Amerika. Setelah perkembangan kekristenan yang spektakuler ke Amerika Utara dan Selatan, perlu juga memberikan catatan kecil bagi perkembangan kekristenan di luar Eropa. Pekerjaan Missionary sudah ada dilaksanakan di Afrika Barat pada akhir abad kelima belas, walaupun tidak memperoleh banyak keberhasilan. Pada tahun 1482 telah menjangkau Kongo dan tahun 1520 di Angola. Tahun 1506 GKR tiba di India dan dilayani oleh komisi kerasulan (apostolic commissioner). Dan tahun 1545 Francis Xavierus memulai usaha missi secara sistematik di India atas suruhan Ignatius Loyola. Tahun 1519 pekerjaan missi dimulai di Maluku, dan segera setelah itu Misi Yesuit memasuki Nusantara. Hal yang terpenting lagi adalah pengembangan ke Jepang yang dilakukan oleh Portugis (1542-1543). Di Jepang sama seperti di Cina, misi Yesuit mengasumsikan hal yang khusus – walaupun pada akhirnya gagal. Kedatangan Xavierus sukses sebab dia tidak mengkhotbahkan kekristenan “Eropa”, tetapi telah mengadaptasinya kepada mentalitas orang Jepang. Sehingga pada tahun 1570 telah ada 20 atau 30 ribu orang Kristen di Jepang dan tahun 1614 menjadi 300.000 orang. Berbeda dengan Cina, tahun 1583 Yesuit mendapat ijin bekerja di Cina sehingga tahun 1601 diutuslah Matteo Ricci ke sana yang tinggal di Beijing. Dalam penginjilannya, Ricci mengakomodasikan dirinya kepada mentalitas dari penduduk yaitu setiap orang yang berbalik menjadi Kristen dapat melanjutkan penyembahan kepada arwah leluhur mereka, dan agama Konghucu mereka.

III. KEKRISTENAN ABAD KESEMBILAN BELAS

Menurut Aland, Gereja abad kesembilan belas mendapatkan kritik yang sangat besar secara khusus pada parohan kedua abad tersebut. Sebab parohan pertama abad kesembilan belas berbicara mengenai salah satu bencana yang paling menghancurkan dalam sejarah dengan Revolusi Perancis dan era Napoleonik. Kemudian bukan hanya gereja Katolik yang menginginkan pembaharuan hidup gereja tetapi gerakan Protestan juga melakukan hal yang sama. Dalam bagian ini Aland membahas kekristenan abad kesembilan belas dalam 9 hal yaitu: kesatuan gereja-gereja dan perkembangan konstitusi gereja di Jerman, hilangnya substansi Kristen dan kekuatan-kekuatan penentang Kebangunan (Rohani) dan Konfesionalisme, asal-usul dan kegiatan-kegiatan Lembaga Alkitab, Misi ke dalam dan masalah sosial, Misi ke luar, Pembagian secara konfesional dan permulaan penyatuan gereja Protestan di Jerman, kekristenan di Eropa: Inggris, Skotlandia, Italia, Spanyol, Austria, Perancis, Belanda, Belgia, Polandia, Swedia, Denmark, Norwegia., kekristenan di luar Eropa: Amerika Serikat, Kanada, Amerika Pusat dan Selatan, India, Australia, kesarjanaan teologi.

1. KESATUAN GEREJA-GEREJA DAN PERKEMBANGAN KONSTITUSI GEREJA DI JERMAN

Terhadap latar belakang ini, kata Aland, kita melihat tidak sedikit daerah di mana kesatuan di antara Lutheran dan Reformed (Calvinis) dikembangkan tahun 1817. Sisa Pencerahan yang membuat perbedaan di antara Reformed dan Lutheran secara relatif tidak berarti, dikombinasikan dengan sisa-sisa Pietisme yang dihidupkan kembali dalam wujud Kebangunan. Kedua unsur ini kemudian disatukan dengan sisa-sisa abad kedelapan belas tentang hak kuasa mutlak para penguasa dalam abad kesembilan belas. Sebab beraneka ragam peta kegerejaan, kesatuan dari bermacam-macam perbedaan terjadi. Nassau memperkenalkan kesatuan pada sinode Idstein pada bulan Agustus 1817 di mana terjadi penyatuan pengakuan seperti yang dilakukan Hesse-Kassel (Kurhessen), dengan mendirikan “Evangelical Christian Church Communion“ (Evangelisch-christliche Kirchengemeinschaft) tahun 1818 dan Baden mendirikan “United Evangelical Protestant Church“ (Vereingigte evangelisch-protestantische Kirche) tahun 1821. Kesatuan gereja di Prussia dipelopori oleh Frederick William III (1770-1840) yang menikah dengan seorang Lutheran. Sejak semula perlawanan Kesatuan Gereja di Prussia ini sangat mendasar. Apakah kesatuan itu merupakan kesatuan konsensus atau kesatuan administratif. Perdebatan yang cukup hangat adalah tentang alasan konfesional pada ulang tahun Reformasi tahun 1817 yang tidak hanya menghasilkan kesatuan di berbagai tempat namun menghasilkan 95 Dalil Claus Harms (1778-1885) yang terdiri dari Dalil Luther dan diikuti dengan 95 dalil lainnya sebagai transisi dari tahun 1517 ke tahun 1817. Kebangkitan konfesionalisme ini merupakan salah satu ciri yang berarti pada permulaan abad kesembilan belas. Konfesionalisme merasa diri adalah benar. Lutheranisme begitu kuat dibandingkan dengan Reformed dan bahkan membaharui diri pada abad kesembilan belas yang dipelopori oleh Adolf von Harless (1806-1879) dan August Friedrich Christian Vilmar (1800-1869), serta Wilhelm Lohe (1808-1872). Pemahaman Lutheranisme lain dikemukakan oleh Johannes Konrad von Hofmann (1810-1877) dan Ernst Wilhelm Hengstenberg (1802-1869) yang sangat konservatif. Akibatnya, keaslian Gereja Lutheran Tua ditafsirkan secara berbeda-beda. Legitimasi konfesionalisme Lutheran yang benar menjadikan sebuah sumbangan, tetapi juga perusak mesin administratif Prussia. Sehingga negara tidak cocok dan melawan Kesatuan di Prussia. Bentuk Kesatuan Prussia adalah salah satu bentuk pembaharuan kehidupan gereja yang diobservasi Aland pada abad kesembilan belas.

2. HILANGNYA SUBSTANSI KRISTEN DAN KEKUATAN-KEKUATAN PENENTANG : KEBANGUNAN (ROHANI) DAN KONFESIONALISME

Menurut Aland, ketika abad kesembilan belas dimulai Pietisme bergabung dengan kekuatan Kebangunan yang membawa perkembangan baru bagi Pietisme. Pada tahun1780 berdirilah The Deutsche Christentumsgesellschaft (Kekristenan Sosial Jerman) berdasarkan karya pelayanan Johann August Urlsperger (1728-1806). Melalui Kebangunan ini kehidupan baru kekristenan dan gereja baru bermunculan bukan hanya di daerah Prussia melainkan di mana-mana di Jerman. Pada saat itu gerakan aestetik-idealistik (Fruhidealismus) mencirikan kekristenan yang dipelopori bukan hanya Johann Gottfried Herder (1744-1803) dan Johann Kaspar Lavater (1741-1801) tetapi juga Matthias Claudius (1740-1815) dan Friedrich Gottlieb Klopstock (1724-1803). Idealisme mereka mencoba membuat kekristenan sebuah kekuatan utama di dalam segala sesuatunya. Maka didirikanlah The Deutsche Burschenschaft (Persatuan Pelajar Jerman) tahun 1815 sebagai “pekerjaan Tuhan”. Dalam gerakan ini ada banyak elemen yang masih belum dewasa dalam kebangkitan ”angin topan dan tekanan stress“ (Sturm und Drang) yang mencirikan hal yang tidak jarang dikategorikan sebagai entusiasme (Schwarmerei). Di sini ada pekerjaan yang dipaksakan kepada kekristenan. Ini bukanlah kebetulan bahwa Neolutheranisme dicobai oleh Katolikisme. Kombinasi konfesionalisme dan Orthodoksi membawa kepada masa lampau secara khusus aliansi dengan kekuatan konservatif politik. Misalnya dengan penolakan pandangan Copernicus sebagai perkembangan ilmu pengetahuan. Ada beberapa pandangan tajam kritik yang menunjukkan situasi nyata: Sǿren Kierkegaard membangun pandangannya pada akhir parohan pertama abad kesembilan belas. Dia mengenal kepalsuan masa itu, pada waktu itu dia sudah mengumumkan dengan suara melengking bahwa budaya Eropa sedang bangkrut dan dia berjuang dengan keinginan besar melawan kekuatan kekristenan yang hilang, tetapi dia tetap tak didengar.

3. ASAL MULA DAN KEGIATAN-KEGIATAN LEMBAGA-LEMBAGA ALKITAB

Lembaga-lembaga Alkitab adalah produk dari abad kesembilan belas. Kehadiran Lembaga-lembaga Alkitab ini sangat memberi arti pada abad kesembilan belas. Lembaga-lembaga Alkitab pada abad kesembilan belas asalnya dihubungkan dengan lembaga-lembaga traktak antara lain lembaga-lembaga pendukung penginjilan, dengan menerbitkan traktak-traktak (buku-buku kecil berisi kutipan-kutipan Alkitab dengan, penjelasan seperlunya), pertama secara simultan didirikan di London dan Elberfeld tahun 1799, dan segera membuka cabang di mana-mana. Lembaga-lembaga Alkitab berusaha ke mana-mana menyebarkan berita Kekristenan sebisa mungkin dalam berbagai bahasa pada saat itu. Mereka menyadari kegiatan ini belumlah cukup, sehingga tahun 1804 didirikanlah British dan Foreign Bible Society. Mereka mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Welsh. Bahkan motto mereka terkenal dengan, “Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Wales, mengapa juga tidak bagi Kingdom (Inggris), mengapa juga tidak bagi seluruh dunia?”. Inilah permulaan British Bible Society terjun ke dalam pelayanan internasional. Pada tahun 1817, mereka telah mencetak dan mendistribusikan 1,5 juta Alkitab ke dalam 13 bahasa Eropa dan 5 bahasa non-Eropa. Dan pada tahun 1955 telah mendistribusikan keseluruhannya sekitar 600 juta Alkitab, Perjanjian Baru dan porsion Kitab Suci lebih dari 800 bahasa yang berbeda-beda. Prakarsa menerjemahkan lebih 800 bahasa berasal dari British Bible Society kendati sejak tahun 1955 kegiatan ini diambil alih oleh American Bible Society yang akhirnya bersatu dalam United Bible Society (Persekutuan Lembaga Alkitab Se-Dunia). Bahkan kegiatan-kegitan lainnya yang dilakukan pada abad kesembilan belas adalah pelayanan pemuda dengan mengimport Alkitab ke Jerman dari luar negeri. Di Jerman Lembaga-lembaga Alkitab saling bersaing satu dengan yang lainnya. Yang terkenal di antaranya adalah Wurttenberg Bible Society (Wurttenbergische Bibelanstalt) yang didirikan tahun 1812; Central Prussian Bible Society (Preussische Hauptbibelgesellchaft) yang didirikan tahun 1814; dan Central Saxon Bible Society (Sachsische Hauptbibelgesellschaft) yang didirikan tahun 1814. Hingga sekarang mereka masih ada walaupun keberadaan mereka hanya sebatas teori saja. Pada tahun 1965 didirikanlah Evangelische Bibelwerk (Evangelical Bible Work) sebagai federasi Lembaga Alkitab di Republik Federasi Jerman, dan tahun 1981 menyatu dengan Deutsche Bibelstiftung (Lembaga Alkitab Jerman). Perkembangan selanjutnya kegiatan ini mengarah kepada lembaga Alkitab perseorangan yang dicirikan dengan pembagi-bagian Alkitab dan “Misi Alkitab” (Bible Mission).

4. MISI KE DALAM DAN MASALAH SOSIAL

Bukan hanya Lembaga Alkitab yang berasal dari abad kesembilan belas, juga dilakukan Misi ke dalam. Misi ke dalam ini dimulai dengan apa yang disebut “rumah pertolongan” (Rettungshauser) yang bertumbuh di mana-mana sejak permulaan abad kesembilan belas. Institusi ini disebut “rumah pertolongan” sebab mereka direncakan bagi anak-anak yang korban perang, yang tersesat. Rumah pertolongan ini didirikan pertama kali oleh Johannes Falk di Weimar tahun 1813, dan segera diikuti oleh banyak rumah pertolongan lainnya. Dengan pekerjaan Misi ke dalam ini maka mulailah didirikan pelayanan-pelayanan kepada seluruh yang membutuhkan seperti: Stadtmission (Misi Kota) tahun 1848; pelayanan ke rumah-rumah sakit; pelayanan diakonia; misi umat (Volksmission); pekerjaan evangelis dan kegiatan-kegiatan lainnya seperti kegiatan penerbitan (Pressearbeit). Dari sinilah muncul pelayanan kepada pemuda. Tahun 1823 didirikanlah Lembaga Missionari Pemuda (Missionsjunglingsverein) di Bremen-Gemarke. Tahun 1844 juga muncullah Young Men’s Christian Association (YMCA) di London. Melihat hal-hal tersebut di atas maka dapatlah dikatakan bahwa Misi ke dalam ini muncul akibat menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial yang muncul pada sekitar abad kesembilan belas.

5. MISI KE LUAR

Bukan hanya Misi ke dalam yang dilahirkan abad kesembilan belas, tetapi juga melahirkan Misi ke luar. Lebih jelasnya, misi ke luar sebagai sebuah fenomena sudah cukup lama, di mana Pietisme telah mengirimkan misionaris yang pergi dari Halle ke India atau Misionaris Moravian yang pergi ke Greenland. Pada abad kedelapan belas misi Halle telah lenyap, sementara misi Moravian terus berlanjut, kendatipun misi lembaga Alkitab sudah mulai melakukan kegiatannya. Lembaga misi pertama muncul dalam wilayah bahasa Jerman adalah Basel Mission Society tahun 1815 . Lembaga ini pada dasarnya bergerak dalam bidang pendidikan, dan kemudian bekerja di Caucasus, Gold Coast, India, China, dan Kamerun. Kemudian diikuti oleh Berlin Mission Society tahun 1824 yang bekerja di Afrika Selatan dan China. Tahun 1828 muncul lagi Rhenish Mission Society yang mula-mula bekerja di Afrika Selatan dan Afrika Barat. Tahun 1836 dua lembaga misi didirikan yaitu North Jerman (Jerman Utara) dan Gossner yang bekerja di India. Gossner menandakan hubungannya dengan Kebangkitanunan dan Rhenish Society dihubungkan dengan Pietisme. Lembaga misi Jerman Utara memilih Afrika Barat sebagai lapangan misinya. Sejak itu, misi ke luar Jerman telah bekerja menyebarkan kekristenan. Penginjilan di diaspora juga dimulai pada parohan pertama abad kesembilan belas. Misalnya Evangelischer Verein der Gustav-Adolf-Stiftung (Yayasan Asosiasi Protestan Gustavus Adolphus) telah didirikan pada tahun 1832. Umat melihat misi ke dalam orang Kristen membawa seorang tetangga, dan misi ke luar membawa Injil ke daerah yang jauh dan pekerjaan diaspora membawa pertanggunjawaban bagi iman yang tinggal di wilayah yang didominasi gereja lain.

6. PEMBAGIAN SECARA KONFESIONAL DAN PERMULAAN PENYATUAN GEREJA PROTESTAN DI JERMAN

Secara umum memang harus dikatakan bahwa Lutheran Jerman membatasi seluruh kegiatan penginjilan hanya pada Gereja Lutheran Amerika Utara dan barulah mulai pertengahan abad ke-19 kemudian Lutheran menyebar ke seluruh dunia. Pada dasarnya abad kesembilan belas memimpikan sebuah gereja kerajaan/gereja negara (Reichskirche). Pada permulaan abad kesembilan belas konsep kekuasaan gereja ini bertumbuh melalui antusiasme nasionalis yang memotivasi pendirian kekaisaran tahun 1848. Tetapi usaha ini tidak menghasilkan hasil. Menurut Aland jika kita bertanya bagaimana kerjasama dan persatuan (Neben-und Beieinander) Gereja Protestan Jerman pada abad kesembilan belas, maka jawabannya adalah tidak memuaskan. Karena motif pekerjaan mereka tidak membangkitkan kebutuhan persaudaraan atau persatuan melebihi batas-batas teritorial gereja-gereja, tetapi agaknya hanya menekankan pertumbuhan kekuatan Katolikisme, dan ketakutan Ultramontanisme. Melihat kenyataan ini, maka mulailah timbul keinginan untuk penyatuan gereja Protestan di Jerman. Misalnya dengan diadakannya Konferensi Protestan (Berlin Evangelische Konferenz) tahun 1846 walaupun pertemuan ini belum membawa hasil apa-apa. Sinode Wittenberg (Kirchentag) tahun 1848 bukanlah sebuah pertemuan organisasi gereja tetapi merupakan pertemuan sinode yang tanpa memiliki otoritas. Akhirnya Sinode ini dilanjutkan tahun 1851 di mana para gereja-gereja setuju untuk mengadakan sinode secara berkesinambungan dengan gereja-gereja lainnya. Dan tahun 1852 terbentuklah kesatuan tubuh (Einheitsorgan) dari Gereja Protestan di Jerman dengan nama Konferensi Eisenach Administrasi Gereja Protestan Jerman (Eisenacher Konferenz deuthcheer evangelischer Kirchenregierungen).

7. KEKRISTENAN DI EROPA: INGGRIS, SKOTLANDIA, ITALIA, SPANYOL, AUSTRIA, PERANCIS, BELANDA, BELGIA, POLANDIA, SWEDIA, DENMARK, NORWEGIA

Berbicara mengenai Kekristenan di Eropa tidak akan terpisahkan dari peranan orang Kristen Inggris. Inggris bukan hanya memimpin kekuatan politik di Eropa pada abad kesembilan belas, tetapi juga memimpin kekuatan perkembangan industri dengan semua faktor-faktor positif dan negatif yang ada. Reformasi di Inggris dimulai di bawah Henry VIII (1509-1547). Ia disebut Defensor Fidei (Pembela Iman) sebab dia menulis melawan tulisan Luther Pembuangan Babel untuk Gereja Luther (The Babylonian Captivity of the Church). Sejarah kekristenan di Inggris setelah kematian Henry VIII diambil alih oleh anaknya dari tiga istrinya. Di bawah kekuasaan Edward VI (1547-1553) pernikahan imam dan perjamuan kudus dalam dua jenis diijinkan. Kejadian yang cukup berarti dalam Reformasi Inggris adalah dengan diterbitkannya Book of Common Prayer tahun 1549 dan kemudian direvisi tahun 1552 dan pengakuan iman dalam 42 Artikel tahun 1553. Namun terhadap yang menentang Reformasi ini tampillah Maria “berdarah” (“Bloody” Mary) tahun 1553-1558 sebagai reaksi keras dari pihak Katolik. Pada masa Elizabeth I (1558-1603) putri Henry VIII dari istri keduanya, membuat pre-program bagi Protestanisme dengan membaharui gereja Negara Anglikan. Dia mengeluarkan formulasi baru 39 Artikel isi 42 artikel tahun 1553. Pada tahun 1559 di dalam dokumen yang disebut Tindakan Penyeragaman (Act of Uniformity), gereja negara Inggris ditata-ulang lagi. Di Skotlandia, setelah ibunya turun takhta tahun 1567, James VI anaknya yang berumur satu tahun menjadi raja dan setelah kematian Elizabeth, dia juga menjadi raja Inggris sebagai James I (1603-1625). Di Skotlandia paham Reformed telah ditetapkan sebagai “satu-satunya kebenaran dan gereja kudus Yesus Kristus di dalam kerajaan” dan Buku Disiplin (Book of Dicipline) tahun 1561 dan Buku Disiplin kedua 1578 ajaran Calvin dan praktek kegerajaan dibuat sebagai model. Tetapi segera setelah James mengambil kekuasaan pemerintahan, dia memperkenalkan sistem episkopal gereja. Di bawah kepemimpinan penggantinya, Charles I (1625-1649) peraturan-peraturan masih dilanjutkan. Tahun 1635 Buku Kanon (The Book of Canons) telah diterbitkan, diikuti tahun 1637 dengan membaharui liturgi. Dalam masa Charles I ini terjadilah pemberontakan dari Katolik di Irlandia bahkan dengan larinya Charles I dari London Revolusi Besar pun mulai (1642-1649). Dalam perjalanan sejarahnya, gereja di Inggris adalah gereja rakyat (Volkskirche) yang bersama-sama gereja Eropa lain juga menderita oleh pengaruh Pencerahan. Yang membedakan gereja Inggris dari gereja di Eropa daratan adalah jenis lembaga misinya, apakah memajukan Misi ke dalam atau Misi ke luar. Didirikanlah Lembaga Memajukan Ilmu Pengetahuan Kristen tahun 1698, Lembaga Propaganda Injil di Luar Negeri tahun 1701 dan bahkan di London sudah ada sekitar 42 lembaga-lembaga kekristenan semacam itu. Kemudian yang sangat penting di dalam kekristenan Inggris ini adalah kelahiran Gereja Methodis tahun 1739 atas pelayanan Wesley bersaudara, John (1703-1791) dan Charles Wesley (1707-1788) bersama George Whitefield (1714-1770). Gereja Methodis ini pun akhirnya memisah dari Gereja Anglikan menjadi sebuah gereja yang independen (berdiri sendiri). Kekristenan di Inggris sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan kekristenan secara umum. Misalnya dengan beridirinya Lembaga Alkitab Inggris tahun 1804. Akhirnya, di Skotlandia tahun 1843 berdirilah organisasi Gereja Bebas yang memisah bukan karena doktrin melainkan karena bentuk organisasi gereja yang berbeda. Di Italia, kebebasan beragama belum diproklamasikan hingga 1848 atau hingga tahun 1859. Tetapi secara teori, kebebasan beragama sudah ada di Italia, walaupun orang-orang Kristen Protestan di daerah Naples masih dibunuh dalam sebuah pemberontakan tahun 1866. Barulah pada abad kesembilan belas keberadaan orang Kristen Protestan mulai diterima kendati masih banyak penderitaan dan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Pada tahun 1911 jumlah keseluruhan orang Protestan adalah 123.000 jiwa. Di Spanyol, kebebasan beragama itu tidak ada hingga konstitusi tahun 1855 di mana penganiayaan langsung Protestan dilarang, walaupun hal ini hanya teori, dan kebebasan beragama belumlah diumumkan hingga tahun 1876. Menurut Aland, pada saat yang sama seluruh lembaga kemasyarakatan kecuali agama negara Katolik, dilarang sehingga kita dapat melihat secara mudah bagaimana sulitnya kebebasan beragama ini dipraktekkan. Di Portugal juga, Katolikisme menjadi agama negara yang kuat, walaupun kekuatan liberal muncul tahun 1834 setelah penggulingan raja dari takhtanya dan gencar melawan gereja Katolik. Jemaat Protestan masih ditutupi pada saat itu tetapi hingga tahun 1911 gereja Katolik dan negara secara sah dipisahkan. Di Austria, dari abad keenambelas ke depan, seluruh persekutuan Protestan dihapuskan. Kalaupun ada kegiatan Protestan mereka menyingkir ke daerah Transylvania hingga memasuki abad kedelapan belas. Setelah Edik Toleransi yang dikeluarkan Joseph II tahun 1781, maka Protestan diberikan kebebasan (walaupun masih terbatas) untuk menyaksikan iman percaya mereka. Di Perancis, walaupun mengalami penghambatan berdarah yang dimulai Francis I, kalangan Protestan bukan hanya merupakan kekuatan agama saja, tetapi dalam kaitan dengan pemahaman ”dua kerajaan“ Calvin dan Luther menjelma menjadi kekuatan politik. Mereka berhasil melawan negara dalam tiga kali perang sampai terjadinya malam St.Bartholomew tahun 1572 yang menentukan seluruh kekuatan mereka. Dengan segera orang Huguenot ditata ulang dan setelah dua perang lagi, tanggal 13 April 1598 di bawah pimpinan Henry IV dikeluarkan Edik Nantes yang digambarkan sebagai “berkesinambungan dan tidak dapat dibatalkan”. Isinya 93 artikel yang menjamin kebebasan beragama dan kebebasan seluas-luasnya untuk beribadah, aman dengan jaminan politik. Tetapi Henry IV dibunuh tahun 1610 dan politik Perancis pun berubah. Khususnya setelah Richelieu memerintah tahun 1642, hak para Huguenot dibatasi. Setelah kejatuhan Napoleon, Katolikisme kembali menjadi agama negara dan tahun 1815-1816 mulailah perlawanan kepada Protestan. Namun pada tahun 1854-1855 status gereja bebas diakui. Gereja bebas pertama didirikan tahun 1818 yang diikuti berbagai macam organisasi gereja. Di bawah pengaruh Kebangunan, maka gereja bebas ini berkembang sama seperti di Inggris dan Jerman, akibat ketidakpuasan mereka atas Rasionalisme dan Deisme yang mempengaruhi gereja. Kebangunan juga mempengaruhi pertumbuhan berbagai lembaga sukarela seperti: Lembaga Alkitab (1818), lembaga traktak (1821-1822), lembaga misi (1822-1823), dan institusi dan fasilitas Inner Mission, seperti halnya sekolah-sekolah Protestan. Tentang gereja di Belanda, Aland mengupasnya mendetail. Namun pendapat dua orang mahaguru dari Leiden: Jacobus Arminius (1560-1609) dan Francis Gomar (1563-1641) dicatat oleh Aland secara khusus. Sebab kedua mahaguru ini mengajarkan Kekristenan ”liberal” di mana humanisme mempengaruhi kekristenan, yang ditolak dalam tulisan-tulisan pengakuan iman gereja Belanda (khususnya Konfesi Belgica tahun 1561 dan Katekismus Heidelberg tahun 1563). Aland juga mencatat tentang Sinode Dordrecht 1618-1619 dan keputusan-keputusannya (antara lain menolak Arminianisme/Arminus), munculnya sejumlah gereja konfesional, terutama gereja-gereja Calvinis (Gereformed, Hervormed), dan gerakan penyatuan gereja. Semua ini punya kaitan erat dengan perkembangan gereja-gereja di Indonesia. Kekristenan di Polandia menurut Aland adalah sangat unik sebab kekristenan di sana sangat erat kaitannya dengan sejarah politik. Iman Kristen menjadi ikatan tunggal dalam memelihara kesatuan identitas nasional. Katolikisme dan nasionalisme adalah anyaman yang unik. Kekeristenan di Swedia, pada mulanya Serikat Yesuit kembali menguasai Swedia di bawah pemerintahan John III (1568-1592) yang diteruskan anakanya Sigismud. Namun Sigismund dikalahkan tahun 1598 dan digantikan oleh raja Charles IX (1603-1611) yang memerintah Swedia. Sejak itu maka Lutheranisme dijamin aman di Swedia dan tahun 1686 Buku Konkord diadopsi sebagai sumber pengakuan iman. Pencerahan di Denmark yang menggantikan Pietisme di Skandinavia sebagai mana yang terjadi di mana-mana sangat besar didorong oleh pengaruh dokter Struensee dan Perdana Menteri Bernstorff. Akibat Kebangunan datang ke Swedia pada permulaan abad kesembilan belas dan dilanjutkan pada abad keduapuluh dengan Gerakan Pemuda Gereja. Gereja Lutheran di Swedia menjadi gereja negara. Di Denmark dan Norwegia, gereja adalah juga gereja negara. Di Norwegia, belum ada karakter berdiri sendiri sebelum berpisah dari Denmark tahun 1814. Keinginan untuk berdiri sendiri bertumbuh pada abad kesembilan belas ketika teologi modern memasuki gereja sehingga tahun 1908 Fakultas Independen Oslo didirikan untuk menetralisir keadaan. Di Denmark, Kebangunan abad kesembilan belas jelas terlihat dari Nikolai Fredrik Severin Grundtvig (1783-1872) dan Sǿren Kierkegaard (1813-1855). Grundtvig memasukkan Kebangunan itu ke dalam gereja, meskipun komponen nasional tidak memandangnya. Kierkegaard membawa suara tersendiri di padang gurun. Pengaruhnya ditemukan pertama sekali pada abad keduapuluh, yang berjuang menentang sekularisasi dan budaya deifikasi. Switzerland, hampir sama dengan Belanda, merupakan wilayah Protestan bagi Zwingli dan Calvin. Menurut Aland, saat ini diperkirakan bahwa 50% penduduk Switzerland adalah Katolik. Fakta mengatakan bahwa Zwingli gagal di Switzerland sebab superioritas wilayah Katolik. Gereja Reformed yang didirikan Calvin sangat mempengaruhi dunia, tetapi ada tujuh wilayah yang masih ditinggali oleh gereja Katolik. Pada abad ke delapan belas sudah ada kita temukan pembagian ke dalam liberal dan konservatif yang masih mencirikan gereja Swis saat ini.

8. KEKRISTENAN DI LUAR EROPA: AMERIKA SERIKAT, KANADA, AMERIKA TENGAH DAN SELATAN, INDIA, AUSTRALIA

Sejarah kekristenan di Amerika Serikat (AS) dimulai dengan Katolikisme dalam dua bagian: di selatan di bawah Spanyol dan di utara di bawah Perancis. Misionaris Spanyol telah bekerja di Texas sejak 1519, di Florida sejak 1565, di New Mexico sejak 1598, di Arizona sejak 1687 dan di California sejak 1769. Di bagian utara Amerika, misi Katolik datang ke Amerika dengan pekerjaan Perancis di Canada. Wali negara yang pertama sebenarnya adalah seorang Protestan dan dia membawa pendeta Protestan bersamanya, ketika dia mendirikan pemukiman pertama di Annapolis (Nova Scotia) tahun 1604. Tapi kemudian Raja Perancis menetapkan bahwa hanya misi Katolik yang boleh bekerja di sana. Tahun 1611 misionaris Yesuit tiba pertama kali dan 1615 orang-orang Perancis memulai pekerjaan misinya. Yesuit menyebarkan Katolikisme jauh hingga ke selatan (Louisiana). Kompetisi dengan penaklukan Inggris atas kota pun terjadi. Inggris telah mendirikan tempat berpijak di Newfoundland tahun 1578 dan negara jajahan Inggris pertama ditemukan di Virginia tahun 1607. Jemaat pertama di Amerika didirikan oleh para Peziarah (Pilgrims) Puritan tahun 1620 di daerah jajahan Plymouth di pantai Cape Cod. Lebih jauh Aland mengatakan, mengapa sejarah kekristenan Amerika begitu sulit untuk dipahami adalah sebab AS didirikan oleh orang-orang imigran dari Eropa. Para imigran Eropa ini membawa tradisi-tradisi gerejanya masing-masing dan pengakuan iman yang berbeda-beda yang sulit disatukan. Bisa saja mereka dari Eropa berasal dari pengakuan iman yang sama misalnya Lutheran, namun setelah mereka berada di Amerika belum tentu mereka akan memiliki pengakuan yang sama. Hal ini disebabkan oleh situasi dan kondisi di mana mereka tinggal dan hidup. Walaupun demikian, kita bisa menelusuri sejarah Kekristenan di Amerika Utara sebagai titik balik. Pertama, adalah Perang Tujuh Tahun (Perang Perancis dan Indian) yang secara esensial berawal dari perang Eropa antara Prussia dan Austria. Tetapi Austria bersekutu dengan Perancis dan Inggris bersekutu dengan Prussia. Sehingga perang ini tiba ke Amerika Utara dan dalam Perdamaian Paris tahun 1763 Perancis memberikan Kanada dan Lousiana kepada Inggris, sementara pada saat yang sama Florida pindah dari Spanyol ke tangan Inggris. Perubahan daerah kekuasaan yang cukup besar terjadi pada hak kepemilikan, sebab hingga tahun 1754 Perancis telah menguasai sekitar 80% Amerika Utara, Spanyol hanya 16% dan Inggris hanya 4%. Pengambilalihan ini membuat perubahan penting di dalam komposisi pengakuan iman masyarakat, sebab Kanada didominasi oleh Katolik. Kekristenan Amerika Utara ini mengalami kebangkitan dimulai pada tahun 1734 yang dikenal dengan Kebangunan Besar (Great Awakening) yang dipimpin oleh Jonathan Edwards. Kemudian kebangkitan kedua dimulai tahun 1790 yang menyebar di seluruh Amerika Serikat. Hingga tahun 1875 hampir seluruh gereja-gereja Protestan dicirikan dengan kebangunan ini. Kebangunan ini adalah kekuatan gereja bagi kegiatannya dan mempengaruhi masyarakat umum dan kehidupan budaya. Kebangunan ini juga mempengaruhi tumbuhnya Fundamentalisme tahun 1920. Gerakan Fundamentalisme yang siknifikan ini seharusnya tidak diremehkan. Fundamentalisme ini memainkan peranan penting termasuk di dalam politik di dalam Kekristenan Amerika saat ini. Tidak hanya pada abad ke delapan belas, tetapi juga pada abad kesembilan belas perang menjadi penentu keputusan bagi sejarah Kekristenan Amerika. Sebab tahun 1861 Perang Saudara dimulai yang ditimbulkan oleh perbudakan, membawa perselisihan di antara negara bagian selatan dan negara bagian utara kepada ledakan kekerasan. Kekristenan di AS pada abad kesembilan belas ditandai oleh pertumbuhan gereja Katolik sebagai kelompok Kristen yang terbesar. Di antara gereja Protestan, Gereja Baptis dan Methodis yang paling banyak dari pada yang lain. Perubahan terjadi secara perlahan-lahan sejak tahun 1850. Pada waktu itu AS sudah menjadi kekuatan dunia. Slogan, “Amerika bagi orang Amerika“, berasal dari permulaan abad kesembilan belas. Tahun 1823 Presiden Monroe mengumumkan ajaran yang menolak semua campur tangan negara Eropa dalam urusan Amerika dan mengumumkan bahwa AS akan menjadi pelindung bangsa-bangsa Amerika. Ekonomi bertumbuh besar sekali dan Amerika dikenal sebagai „tanah dengan kemungkinan tak terbatas” dan “negeri milik Allah sendiri” dan pada abad kesembilan belas “gaya hidup Amerika“ sebagai yang ideal. Negara dan warga negara – termasuk orang Kristen – dipenuhi dengan optimisme yang tak terbatas dan yang saling mendukung. Aland lebih jauh mengatakan bahwa begitu banyak variasi sejarah Kekristenan di AS hingga akhir abad kesembilan belas. Uraian tentang Kekristenan Protestan pada abad kesembilan belas di luar Eropa, kecuali AS, secara murni merupakan sejarah misi. Sama dengan di India, di mana jumlah orang Kristen India bertumbuh dari ratusan ribu hingga jutaan orang akibat pekerjaan para misionaris seperti William Carey (1761-1834). Pengecualian ialah gereja di Australia. Pada akhir abad kedelapan belas dan permulaan abad kesembilan belas negara Australia masih jajahan kerajaan Inggris. Ketika kehidupan gereja mulai bertubumbuh di sana, hal ini menjadi contoh hingga berdirinya gereja Anglican. Gereja-gereja Australia tidak hanya mendominasi peraturan di dalam sistem pendidikan Australia dari permulaan, melainkan sejak pertengahan abad kesembilan belas gereja telah melakukan pekerjaan misi.

9. KESARJANAAN TEOLOGIA

Menurut Aland, jika kita membuat kesimpulan tentang prestasi para ahli teologi pada abad kesembilan belas, merekalah yang memiliki kredit point tentang hal ini. Misalnya Friederich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) dan Albrecht Ritschl (1822-1889) yang dikenal sebagai “bapa gereja abad kesembilan belas”, walaupun dikritisi oleh orang yang menggantikan mereka. Kritikan terhadap Schleiermacher adalah, Schleiermacher tidak pernah mendapatkan konfrontasi nyata dengan pesan Reformasi khususnya dengan teologi Martin Luther. Disamping mereka masih banyak lagi para ahli teologi seperti Julius Kaftan, Ferdinand Kattenbusch, Theodor Haring, Wilhelm Herrmann, Fiedrich Loofs, Adolf Harnack, Karl Muller, Albert Hauck, Gustav Kruger dan Reinhold Seeberg. Ada ahli Sejarah Gereja seperti Ferdinand Christian Baur (1792-1860) dan Franz Overbeck (1837-1905), ada ahli teologi Sitematik seperti Agustus Tholuck (1799-1877) yang mengajarkan „Teologi Kebangunan“ (Erweckungstheologie), dan Martin Kahler (1835-1912), ahli Perjanjian Lama (PL) seperti Julius Wellhausen (1844-1918) dan tidak ada ahli Perjanjian Baru (PB). Aland juga membahas para sarjana Jerman dan sarjana Protestan Jerman. Hampir seluruh pengajar teologi merasa puas dengan pengaruh dan reputasinya di universitas mereka. Harus diakui bahwa dalam kenyataan terlihat dominasi sarjana Protestan Jerman pada waktu itu. Protestanisme di luar Jerman pada abad kesembilan belas juga hanya terbatas pengaruhnya pada kesarjanaan teologi. Di Amerika misalnya, sekolah teologi pertama bagi pelatihan akademis bagi teolog (Andover di Massachusetts) didirikan pada tahun 1850 yang menekankan pada persiapan praktis kegiatan gerejawi. Gerakan kesarjanaan ini dilakukan lebih besar di Inggris dengan ahli Perjanjian Baru yang terkenal yaitu Brooks Foss Westcott dan Fenton John Anthony Hort yang menerbitkan Perjanjian Baru Yunani tahun 1881. Namun perkembangan selanjutnya para ahli teologi Jerman mengalami penurunan. Tidak ada lagi para ahli Jerman yang mau meneliti sehingga studi ini dikerjakan oleh orang-orang non-Jerman seperti Swedia.

IV. KEKRISTENAN ABAD KEDUA PULUH

1. TANDA-TANDA ZAMAN: 1914-1918 DAN 1939-1945 PERANG DUNIA, 1917 REVOLUSI RUSIA, AKHIR ERA KOLONIAL, KEBANGKITAN “DUNIA KETIGA”

Menurut Aland paling tidak ada tiga faktor untuk melihat kekristenan pada abad keduapuluh yaitu: 1. Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) 2. Revolusi Rusia bulan Oktober 1917 3. Berakhirnya masa penjajahan dan kebangkitan „Dunia Ketiga“ Ketiga faktor ini merupakan sejarah politik umum bukan sejarah Kekristenan itu sendiri. Sehingga kita butuh memberikan alasan yang lebih mendalam bagi faktor-faktor tersebut. Perang Dunia I adalah perang oleh bangsa-bangsa di mana mereka menjadi Kristen yang pura-pura. Walaupun gereja dan negara tidak begitu berhubungan dekat, seperti di Czarist Rusia, Kekristenan masih semi atau agama negara. Di Jerman juga selama Perang Dunia I terlihat bahwa khotbah-khotbah kehilangan substansinya. Kekristenan tidak dapat mampu mencegah meletusnya perang sehingga Kekristenan terlihat hancur pada saat itu. Pada tahun 1917 banyak pidato ditujukan untuk memperingati 400 tahun ke-95 dalil Luther, seperti yang dilakukan oleh Hans Lietzmann. Pada tahun 1917 lagu-lagu militan mendominasi para ingatan Reformator. Hymne “Allahmu Benteng yang Teguh” (Ein feste Burg ist unser Gott) menjadi lagu Mars Jerman. Perang Dunia II tidak dapat disebut sebagai perang atas nama Kekristenan. Hingga tahun 1939 Nazi Jerman telah bertahun-tahun terlibat dalam pertikaian melawan gereja Kristen. Revolusi Rusia penting bagi kita bukan karena kekejaman yang menyerang gereja Othodoks. Di sini apa yang penting adalah fenomena negara ateistik. Sebab lebih dari 100 juta orang ateisme pada waktu itu. Berakhirnya masa penjajahan dan bangkitnya „Duna Ketiga“ menandakan akhir Kekristenan „putih“. Gereja-gereja pada “Dunia Ketiga” akhirnya membebaskan diri mereka sendiri dari penguasaan Eropa dan Amerika. Misi luar negeri tak bisa lagi eksis seperti yang sebelumnya.

2. KEKUATAN PEMIKIRAN EKUMENIS DAN PENURUNAN KEKUATAN DI ANTARA GEREJA-GEREJA

Abad kesembilan belas telah mengalami penderitaan pemisahan gereja yang diakibatkan faktor sejarah atau faktor kebetulan. Tetapi misalnya di Jerman sendiri pemisahan kekuasaan gereja dan negara belum tuntas hingga tahun 1918. Dalam bagian ini Aland akan mengupas secara mendalam peranan gerakan ekumenis dan persetujuan Leunberg sebagai tolok ukur bahwa gerakan ekumenis semakin menguat sementara kekuatan di masing-masing gereja semakin menurun.

GERAKAN EKUMENIS

Gerakan ini muncul akibat penginjilan para misionaris utusan gereja-gereja yang menyebar dan bertumbuh dengan subur. Oleh karenanya di sinilah kerjasama pertama kali dilakukan. Konferensi para missionaris pertama dilakukan pada tahun 1879 dan dilanjutkan bertemu secara regular yang biasanya di Amerika atau di daerah yang berbahasa Inggris. Di antaranya adalah Konferensi Misi Se-Dunia di Edinburgh tahun 1910 yang memutuskan menciptakan sebuah organisasi gerakan ekumenis. Demikian juga gereja-gereja Lutheran mendirikan Sinode Umum tahun 1820 dan Perserikatan Sinode Selatan dan Dewan Umum tahun 1867 dan tahun 1918 mendirikan Dewan Nasional Lutheran. Di tempat lain, Lutheranisme bersatu seperti pertama di Skandinavia tahun 1857 dan kemudian di Jerman tahun 1868 dengan mendirikan Allgemein Evangelische Konferenz (Konferensi Umum Gereja Protestan Lutheran) yang bergabung dengan Skandinavia tahun 1898. Lebih jauh lagi berdirilah Federasi Lutheran Se-Dunia (Lutheran World Federation) pada tahun 1947. Gerakan ekumenis lainnya yang sudah berdiri adalah Aliansi Gereja-gereja Reformed Se-Dunia (World Alliance of the Reformed Churches) di London tahun 1875. Dan pertemuan pertama mereka adalah pada tahun 1925 di Geneva. Gerakan ekumenis di luar Lutheran dan Reformed juga terjadi misalnya tahun 1881 Konferensi Ekumenis Methodis pertama dilaksanakan dan tahun 1898 Gereja Katolik Lama bersatu dalam Deklarasi Utrecht, sementara tahun 1867 gereja Anglikan telah melaksanakan Konferensi Lambeth pertama. Menurut Aland konsolidasi pada abad kesembilan belas memperlihatkan kemajuan penting untuk mengatasi keterpecahan pada abad mula-mula tetapi pertama, perkumpulan ini hanya memiliki karakter yang longgar; kedua, mereka sangat jauh dari semua gereja-gereja; ketiga, pembatasan konfesi perkumpulan-perkumpulan ini hanya memuaskan pengakuan yang sudah berurat-akar sehingga tidak memenuhi keinginan menjadi orang “Kristen yang serius”. Kekristenan Protestan semakin terbagi-bagi, hanya gereja Katolik yang bersatu pada waktu itu. Abad kedua puluh telah membawa keputusan pertama yang menguatkan pemikiran ekumenis ini dan mengurangi hambatan di antara gereja-gereja. Tahun 1846 Allianz-Gebetbund (Aliansi Doa) telah mampu melampaui batasan koonfesional. Dalam dunia internasional hal ini sama dengan YMCA (Young Men’s Christian Association) dan khususnya World Student Christian Federation (Federasi Mahasiswa Kristen Se-Dunia) yang didirikan tahun 1895 yang mendorong pemikiran ekumenis. Kemudian atas prakarsa Bishop Amerika Charles H.Brent muncullah komisi “Faith and Order” yang merupakan salah satu cabang dari gerakan ekumenis. Konferensi pertama Faith and Order ini dilaksanakan tahun 1927 di Lausanne yang diikuti 394 delegasi dari 108 gereja-gereja. Konferensi kedua dilaksanaan di Edinburgh tahun 1937, konferensi ketiga bertemu di Lund tahun 1952 dan konferensi keempat di Montreal tahun 1963. Konferensi “Faith and Order” ini menjadi akar dari World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja Se-Dunia). Organisasi ini memiliki dua sayap/pendamping yaitu pertama, Aliansi Dunia untuk Promosi Persaudaraan Dunia melalui gereja-gereja, dan kedua, gerakan “Hidup dan Bekerja”. Organisasi ini eksis hingga tahun 1938 namun akibat Perang Dunia II maka organisasi ini terhenti hingga tahun 1946. Kemudian setelah itu dibuatlah pertemuan pertama kembali di Amsterdam tahun 1948 yang diikuti 148 delegasi Gereja-gereja dan 44 negara untuk mendiskusikan tema, “Man’s Disorder and God’s Design” (Kekacauan Manusia dan Rancangan Allah). Sidang Raya kedua bertemu di Evanston tahun 1954 dengan tema, “Kristus – Pengharapan Dunia”, ketiga di New Delhi dengan tema, “Yesus Kristus – Terang Dunia”tahun 1961, keempat di Uppsala dengan tema, “Lihatlah, Aku membuat segalanya baru”tahun 1968, kelima di Nairobi dengan tema, “Yesus Kristus Pembebas dan Pemersatu”tahun 1975, keenam di Vancouver dengan tema, “Yesus Kristus – Kehidupan Dunia”tahun 1983, ketujuh di Canberra (1991), kedelapan di Harrare (1998), dan kesembilan di Porto Allegre (2006).

PERSETUJUAN LEUENBERG

Pada saat yang sama transendensi doktrin (upaya mengatasi perbedaan doktrin) yang berbeda di antara teologi Lutheran dan Reformed dan konsekuensinya – paling tidak dalam prinsip – di antara gereja Lutheran dan Reformed telah berlangsung lama sejak abad kesembilan belas bahkan hingga parohan pertama abad kedua puluh. Ini terjadi pada Persetujuan Leuenberg pada 16 Maret 1973 yang dihadiri oleh gereja-gereja Lutheran, Reformed, dan Gabungan Gereja-gereja dari 16 negara-negara Eropa. Bagian ketiga dokumen tersebut mengatakan: “Di dalam Persetujuan ini gereja-gereja yang berpartisipasi mengakui bahwa hubungan mereka kepada yang lainnya telah berubah sejak zaman Reformasi. Pengertian umum tentang Injil digambarkan pada bagian II dokumen yang mengatakan: 1) Pesan Pembenaran sebagai Pesan Kebebasan Anugerah Allah; dan 2) “Khotbah, Baptisan, dan Perjamuan Kudus”. Kemudian dokumen ini memuat tentang pembahasan perbedaan pendapat pada abad keenambelas yaitu perdebatan Kristologi pada pasal 22-23. Dengan Persetujuan Leuenberg ini terbukalah persekutuan di antara gereja-gereja. “Persekutuan Gereja” artinya mereka memiliki pemahaman bersama tentang Injil kendati pun mereka memiliki pengakuan yang berbeda-beda namun mereka sama-sama bekerjasama untuk bersaksi dan melayani dunia (pasal 30-34).

3. KONSILI VATIKAN KEDUA

Pengakhiran saling mengucilkan di antara gereja terjadi tanggal 7 Desember 1965 sehubungan dengan Konsili Vatikan Kedua. Hal ini diikuti oleh banyak kejadian spektakuler seperti perjalanan Paus VI ke Konstantinopel bulan Juli 1967 dan mengunjungi pertemuan ekumenis, Athenagoras, ke Roma pada bulan Oktober 1967. Hubungannya dengan gereja Orthodoks Rusia juga dikuatkan oleh konsili ini pada waktu itu. Organisasi Sekretariat Promosi Kesatuan Orang Kristen di Jerman, Kardinal Augustinus Bea memainkan peranan penting sebagaimana Dekrit Ekumenisme Vatikan II yang menggambarkan secara empati bagaimana gereja Katolik kembali ke pemikiran ekumenis dengan semboyan Ut unum sint (Supaya mereka menjadi satu). Tetapi entusiasme ekumenisme ini menurun sejak saat itu, karena sikap restriktif dari Katolik sehingga mengakibatkan kekecewaan. Lebih dalam lagi Aland menguraikan perdebatan yang terjadi dalam Konsili Vatikan II ini. Tentunya teks Dekrit Ekumenis banyak mengalami perubahan yang mengakibatkan perasaan tidak senang di antara peserta sidang dan bahwa Konstitusi Dogmatik atas Hubungan Ilahi tidak diadopsi hingga revisi keempat.

4. PERKEMBANGAN KEKRISTENAN PROTESTAN DI JERMAN SETELAH PERANG DUNIA I

Untuk membicarakan kekristenan abad keduapuluh di Jerman harus dimulai dari tahun 1918 sebab dalam tahun itu bukan hanya Kekaisaran Jerman dan sistem teritorial Jerman yang runtuh, tetapi juga dasar konstitusional gereja pemerintahan teritorial dari seluruh gereja Protestan sebab pada waktu itu mereka dihubungkan dengan daerah kerajaan. Misalnya Oberkirchenrat kantor pusat Gereja Prussia tidak memiliki dasar kepemilikan secara hukum sebab Oberkirchenrat tidak eksis oleh kegiatan gereja bahkan oleh perundang-undangan pemerintah, melainkan oleh keputusan penguasa. Contoh yang lebih jelas lagi adalah gereja di Thuringia. Pada tahun 1918 wilayah Thuringia dibagi menjadi 8 (sebenarnya 9) wilayah negara bagian harus dihitung satu per satu supaya anakronisme semakin jelas. Seluruh negara bagian ini memiliki departemen gereja dan urusan pendidikan di dalam kementrian negara bagian masing-masing. Namun ketika wilayah pemerintahan gereja ini jatuh pada November 1918, setidaknya eksistensi eksternal gereja Thuringia ikut dihancurkan. Tetapi gereja Thuringia menunjukkan bahwa menciptakan sebuah organisasi eksternal bukanlah segalanya. Pada saat yang sama melalui Jerman, bukan hanya di Thuringia, namun masib ada lagi seperti konfesionalis, konservatif, liberal, pietis dan yang lainnya saling hidup berdampingan. Di Thuringia orang Kristen Jerman bukan hanya membentuk sebuah organisasi militan yang disebut “Kristen Jerman Thuringia”, tetapi mereka juga secara praktis mendominasi gereja provinsi. Fenomena ini memiliki prasupposisi di dalam teologi dan sejarah gereja, sebab Gereja yang Mengaku, juga mengambil bentuk yang berbeda dari yang lainnya. Perkembangan selanjutnya gereja-gereja di Jerman mengalami banyak perkembangan. Pada permulaan September 1919, Konvensi Gereja Protestan Jerman pertama bertemu di Dresden. Mulailah bermunculan beberapa organisasi gereja yang baru seperti Deutscher Evangelischer Kirchentag (Asosiasi Gereja Protestan Jerman) yang beranggotakan 210 gereja; Deutscher Evangelischer Kirchenbundesrat (Dewan Federasi Gereja Protestan Jerman); Deutscher Evangelischer Kirchenausschuss (Komite Gereja Protestan Jerman). Di dalam kehidupan internal gereja ada banyak pergumulan dengan gereja lain seperti: konservatif, liberal, dan centris, sementara tantangan dari luar datang dari perubahan Gereja Jerman ke arah Sosialis Religius sehingga pada tahun 1926 berdirilah Asosiasi Sosialis Religius Jerman dari berbagai kalangan. Bahkan masa ini dikenal dengan masa kebebasan masyarakat. Perkembangan selanjutnya adalah dengan timbulnya kebangkitan Luther kembali yang dipelopori oleh teolog-teolog seperti Karl Barth yang memunculkan teologi sistematik. Juga Rudolf Bultmann yang merupakan pakar dalam Perjanjian Baru memberikan pemahaman baru tentang „demitologisasi“. Demikian juga dengan Jurgen Moltmann yang mengajarkan “teologi pengharapan”.

5. TAHUN 1933-1945

Dalam bagian ini Aland membahas zaman di antara tahun 1933 dan 1945, namun bukan sungguh-sungguh untuk mendalami bagaimana zaman ini bagi bangsaJerman tetapi akan membahas Nasionalisme Sosialis yang Nazisme rayakan sebagai hari Machtergreifung (mengambil alih) pada 30 Januari 1933. Kelompok Nazi memiliki kekuatan penuh di tangan mereka dan menggunakan setiap propaganda untuk Orang Kristen Jerman untuk mencapai kemenangan. Hitler mengklaim bahwa dia murni sebagai Fuhrer politik tetapi tidak terlibat dalam soal iman, dogma dan atau doktrin. Aland begitu panjang lebar membahas bagian ini, namun ada beberapa catatan yang penting diperhatikan dalam hal ini yaitu tentang “Deklarasi Barmen” yang diselenggarakan pada tanggal 29-31 Mei 1934 yang diikuti 139 dari 19 wilayah gereja yang diikuti teolog yang terkenal Karl Barth, Hans Asmussen, Joachim Beckmann, Eduard Putz, dan Hermannus Obendiek. Deklarasi Barmen ini jika kita lihat secara teliti kita akan melihat penggunaan “kode bahasa”. Misalnya dalam kata pembukaan ditunjukkan bahwa Deklarasi Barmen menunjuk pada Gereja Protestan Jerman yaitu konstitusi yang diadopsi bagi gereja Protestan oleh sinode nasional di Wittenberg dan dikonfirmasi oleh pemerintah nasional pada 14 Juli 1933. Sementara itu, ketidakadilan dan menggunakan paksaan oleh pejabat gereja yang didominasi oleh Deutsche Christen Jerman dilanjutkan. Jager yang disebut “pelindung sah” (Rechtswalter), memerintahkan gereja-gereja di Wurttemberg dan Bavaria dengan paksa bergabung dengan Gereja Protestan Jerman. Segera setelah itu para bishop ditangkap. Oleh karena itu maka dilaksanakanlah sinode kedua Gereja yang Mengaku di Berlin-Dahlem pada 19-20 Oktober 1934 yang mendeklarasikan negara dalam keadaan darurat. Diminta agar pada jemaat dan imam untuk mematuhi hanya perintah yang datang dari Gereja yang Mengaku dan badan-badan lain yang bersaudara dan dari dewan Gereja Protestan Jerman. Sehingga pada 22 November 1934 berdirilah Pimpinan Sementara Gereja dari Gereja Protestan Jerman (Vorlaufige Kirchenleitung, VKL). Segera setelah itu Jager digantikan oleh Muller dan Karl Barth, Martin Niemoller dan yang lain berhenti dari Dewan Nasional Persaudaraan. Pada sinode ketiga Gereja yang Mengaku di Augsburg pada bulan Juni 1935, perbedaan telah dipecahkan, tetapi hal ini nyata ketika negara mendirikan kementrian khusus urusan gereja (Kirchenministerium) di bawah Hanns Kerl pada Juli 1935. Kemudian dibuatlah rapat Komite Nasional Gereja yang dipimpin Wilhelm Zoellner. Pada sinode keempat Gereja Mengaku di Bad Oeynhausen bulan Pebruari 1936, Petunjuk Sementara Gereja berhenti dan digantikan oleh Dahlem yang disebut dengan “Dahlemites“. Perkembangan berikut termasuk pengaturan dan rekonsiliasi di antara dua tubuh yakni Petunjuk Sementara Gereja kedua dan Dewan Gereja Protestan Lutheran di Jerman yang telah didirikan oleh “gereja-gereja yang utuh” hingga pemahaman baru diciptakan oleh Pekerjaan Kesatuan Gereja (Kirchliches Einigungswerk) atas inisiatif Bishop Wurm pada permulaan tahun 1740-an. Catatan lain yang dibuat Aland, Kekristenan Protestan di Jerman berjuang melawan pemerintahan Nazi dan membayar upeti atas tempat gereja berada berbeda dengan Gereja Katolik. Hingga tahun 1933 telah dicoba membentuk partai politik the Center (Pusat) sebagai perwakilan Protestan dan mereka mencoba melakukan perjuangan namun selalu gagal.

6. KEKRISTENAN SETELAH PERANG DUNIA II

Dari paparan Aland terdahulu sudah jelas diketahui bahwa pembahasan tentang Protestanisme dan Katolikisme sudah melampaui tahun 1945. Protestanisme berkembang dengan gerakan ekumenisme dan Persetujuan Leuenberg sementara itu Katolikisme berkembang dengan adanya Konsili Vatikan II dengan berbagai akibat-akibatnya. Oleh karenanya, menurut Aland jika kita membahas seluruh sejarah Kekristenan, hal itu tidak mungkin; yang bisa kita perbuat hanya mengerti Kekristenan itu sendiri sebagai fenomena pandangan dunia yang tidak hanya dibatasi di Eropa dan atau dibatasi hanya di Jerman saja. Ketika masa modern dimulai, Kekristenan masih diwarnai fenomena Eropa. Namun setelah perkembangan selanjutnya, Kekristenan telah menyebar ke seluruh dunia, dan hari ini tidak ada sebuah negara di mana Kekristenan tidak ada dan biasanya Kekristenan itu terdiri dari berbagai bentuk. Dalam bab ini Aland membahas dunia Kekristenan dan manifestasinya seperti: Katolik Roma, Orthodoks, Anglikan, Lutheran, Methodis, Reformed (Presbiterian) dan Kongregasionalis, Baptis, Gereja-Gereja Bersatu, Gereja-Gereja dan Lembaga-lembaga Lain.

KATOLIK ROMA

Gereja Katolik adalah gereja terbesar di dunia. Secara rinci Aland memaparkan jumlah data statik tahun 1978 orang Katolik di seluruh dunia mulai dari Afrika: 54.8 juta dari 442.8 juta penduduknya; Amerika Utara: 58.5 juta dari 241.7 juta penduduk; Amerika Tengah: 17.4 juta; Amerika Selatan: 207.8 juta; Asia: 58.2 juta; Oceania: 5.6 juta; dan Eropa: 266.4 juta. Di setiap gereja Katolik, yang “tradisionalis” dan yang “progresif” saling berlawanan satu dengan yang lainnya. Sama seperti yang tradisionalis, Katolik yang progresif dikontrol oleh berbagai macam motivasi dan harus dievaluasi. Teologi baru di Perancis dari para pelopornya Teilhard de Chardin, Henri de Lubac dan Maurice Blondel, turun ke Yves Congar, Jean Danielou dan rekan-rekannya. Bagi Katolik tradisionalis, mereka hanya menjaga status quo tetapi mereka gagal melihat bahwa tradisionalisme ini telah mengeras dan membatu dan akhirnya merusak Katolikisme itu sendiri. Khotbah yang disampaikan gereja pada umumnya sama, tetapi khusus tentang bentuk khotbah dan doa dibutuhkan kemampuan adaptasi agar khotbah itu dapat dimengerti oleh jemaat setempat. Inilah yang disebut dengan aggiornamento (pencocokan pada kebutuhan situasi) yang telah dikerjakan oleh Yohanes XXIII.

ORTHODOKS

Sebelum Turki menaklukkan Konstantinopel tahun 1453, patriarkh ekumenis di Konstantinopel dipegang kalangan Orthodoksi. Pada Konsili Konstantinopel tahun 381 gereja melihat bahwa Konstantinopel adalah tempat kedua di dalam gereja Katolik di samping Roma. Menurut Aland saat ini ada sekitar dua belas ribu Kristen Orthodoks di Turki. Lebih jauh Aland mengatakan bahwa seluruh gereja-gereja Orthodoks (kecuali bagi gereja-gereja Orthodoks non-Kalsedonian) telah terbagi dalam empat belas gereja-gereja „autocephalous“ (murni independen), tujuh gereja-gereja „autonomous“ (independen tetapi masih patriarkh) tambah beberapa gereja-gereja „independen“ (seperti di Amerika). Dalam bahasannya ini Aland juga melaporkan data statistik anggota gereja Orthodoks baik yang autocephalous (yang punya kepalanya sendiri tidak berkiblat ke Konstantinopel) maupun Gereja Ortodoks Oriental (non-Kalsedon – Gereja Ortodoks Syria). Mengenai sejarah dari gereja Orthodoks ini juga dibahas secara mendetail mulai dari permulaan sejarah Orthodoks tahun 989 oleh Grand Duke Vladimir I dari Kiev yang memerintahkan umatnya dibaptiskan di jalan (en masse). Akhirnya mulailah penginjilan di negara itu dengan didasari gerakan spiritual Monastry (biara) Cave di Kiev. Selanjutnya adalah gereja Orthodoks ini berkembang di negara-negara blok Timur. Tidak ada laporan khusus tentang Gereja Orthodoks Georgia walaupun gereja ini telah menjadi gereja autocephalous sejak tahun 634, sama seperti Gereja Orthodoks Rusia. Gereja terbesar setelah Gereja Orthodoks Rusia adalah Gereja Orthodoks Rumania. Rumania menjadi sebuah negara pada abad keempat belas. Sejak permulaan, para biarawan di Athos memainkan pemerintahan yang dominan di dalam formasi gereja Orthodoks di daerah ini. Namun setelah pertengahan abad kesembilan belas terjadilah perubahan. Penggunaan bahasa Yunani di dalam ibadah telah dilarang tahun 1863 namun tahun 1864 gereja autocephalous secara resmi memakai ibadah bahasa Yunani ini walaupun pemimpin tertinggi Orthodoks belum menyetujuinya hingga tahun 1885. Lebih jauh lagi Aland membahas perkembangan gereja Orthodoks ini di Serbia, gereja Orthodoks Internasional di Jepang, gereja Orthodoks Yunani yang populer dengan nama gereja Byzantium. Kemudian perkembangan selanjutnya dilaporkan Aland adalah Gereja Orthodoks Siprus dan Gereja Orthodoks Syria.

ANGLIKAN

Gereja Inggris adalah ibu gereja-gereja Anglikan di dunia yang menjadi Kekristenan terbesar ketiga secara jumlah. Namun harus dicatat bahwa walaupun Uskup Agung Kantebury merupakan tempat utama gereja Anglikan di seluruh dunia, tetapi fungsinya hanya sebagai fungsi spiritual saja bukan sebagai hakim. Persekutuan Anglikan bertemu secara reguler berjarak yang disebut dengan Konferensi Lambeth yang membicarakan seluruh permasalahan doktrin dan kehidupan gereja. Dari waktu ke waktu ada juga kongres pan-Anglikan yang membicarakan persoalan yang kontroversial dan mempromosikan kesatuan gereja-gereja Anglikan. Secara statistik jumlah Anglikan di seluruh dunia adalah 55.2 juta dengan rincian sebagai berikut: Afrika: 16.4 juta, Asia: 4.7 juta, Pasifik: 82.800, Eropa: 28.9 juta, Timur Tengah: 29.300, Amerika Latin: 30.000, Karibia: 976.800, Amerika Utara: 4.1 juta.

LUTHERAN

Lutheran disatukan dalam sebuah organisasi yang disebut dengan Federasi Gereja-Gereja Lutheran Se-Dunia (LWF) di dalam berbagai macam kesatuan di benua yang berbeda-beda. Gereja Lutheran aslinya berpusat di Eropa. Gereja Lutheran tersebar ke seluruh dunia adalah akibat dari emigrasi dari Eropa dan pekerjaan misionaris Lutheran di seluruh dunia. Secara keseluruhan jumlah Lutheran di seluruh dunia adalah 51.3 juta. Mengapa hal ini lebih sedikit? Karena ada beberapa anggota Lutheran yang tidak terdaftar ke Dewan Gereja Se-Dunia yang jumlahnya 3 juta misalnya Gereja Lutheran – Synode Missouri. Gereja Lutheran berada posisi keempat di dunia setelah gereja Anglikan. Menurut data DGD, statistik gereja Lutheran adalah sebagai berikut: Afrika: 2.2 juta, Asia: 2.8 juta, Eropa: 40 juta, Amerika Latin: 752.000, Amerika Utara: 5.5 juta. Gereja Lutheran – Synode Missouri berasal dari imigrasi Lutheran Sakson ke Amerika Serikat pada permulaan abad kesembilan belas. Pada tahun 1847 synode ini hanya memiliki 12 jemaat, tetapi tahun 1957 telah mencapai 5.306 jemaat. Gereja ini tidak hanya berada di AS dan Kanada, tetapi juga ada di Brazil dan Argentina, Nigeria, dan Asia Timur. Di Jerman tiga gereja Lutheran bebas (Freikirchen) telah menyatu sejak tahun 1946-1947 dan 1972 dalam Gereja Evangelis Lutheran Independen (Selbstandige Evangelisch-Lutherische Kirche, SELK). Menurut Aland, sebenarnya Lutheran jauh lebih banyak dari yang dilaporkan sebab di Gereja-gereja Bersatu (United churches) banyak jemaat yang memahami mereka sebagai gereja Lutheran di dalam Gereja Evangelis Bersatu di Jerman.

METHODIS

Gereja ini berasal dari kebangkitan yang terjadi di Inggris dan akibat gerakan misi dengan unsur komponen sosial. Gereja ini datang dari Inggris ke Amerika Utara di mana Gereja Methodis Episkopal didirikan tahun 1784. Sehingga terjadilah pemisahan dari gereja Anglikan walapun Methodis menerima 39 Artikel sebagai konstitusi gereja yang kemudian diperpendek oleh Wesley menjadi 25 Artikel. Nama „Methodis“ semula adalah istilah yang merendahkan sama seperti Lutheran, Pietis, dan lain sebagainya, sebab mereka sangat kuat mekankan metode hidup sehari-hari sebagai bentuk kebangkitan. Methodisme dibawa dari AS ke Jerman oleh para imigran yang datang bersama para misionaris. Di antara mereka misalnya, Christoph Gottlieb Muller (1785-1858), Ludwig Sigismund Jacoby (1813-1874) dan Wunderlich bersaudara, Erhard dan Friedrich. Pusat pertama Methodis adalah di Wurttenberg dan Sakson dan kemudian dibawa dari Jerman ke negara-negara tetangga. Jumlah keseluruhan Methodis adalah 37.4 juta yang terdiri dari: Afrika: 2.1 juta, Asia: 1,1 juta, Pasifik: 205.500, Eropa: 1,5 juta, Amerika Latin: 222.000, Karibia: 298.500, Amerika Utara: 31.9 juta.

REFORMED (PRESBITERIAN) DAN KONGREGASIONALIS

Jumlah keseluruhan Orang Kristen Reformed adalah 30.1 juta di mana 741.500 masih dianggap Kongregasionalis. Alasan utama untuk hal ini adalah alasan eksternal yakni: DGD menyebut keduanya „Reformed“, dibedakan hanya di antara Reformed Presbiterian dan Reformed Kongregasionalis. Tetapi ada juga alasan internal yakni: dasar doktrin dari Kongregasionalis adalah Calvinistik. Kongregasionalisme berasal dari Inggris dan lahir di dalam konteks Reformasi Inggris. Setelah tahun 1579 Robert Brown (kira-kira 1550-1635), yang dikenal sebagai “ayah” Kongregasionalisme, mulai melawan apa yang dia anggap sebagai kemerosotan gereja negara di Inggris, dan menyatakan bahwa hanya jika paus dipisahkan dari negara dan bergabung bersama akan membangun gereja yang murni. Secara statistik Gereja Reformed Presbiterian sebagai berikut: Afrika : 1.9 juta, Asia : 6.6 juta, Pasifik : 84.300, Eropa : 14 juta, Timur Dekat : 225.300, Amerika Latin : 18.500, Karibia : 40.000, Amerika Utara : 7.2 juta. Sementara Gereja Reformed Kongregasional adalah : Afrika : 289.200, Asia : tidak ada laporan, Pasifik : 82.500, Eropa : 369.800, Amerika Utara : tidak ada laporan.

BAPTIS

Nama baptis (Yunani: baptismos) mengindikasikan tanda identifikasi utama mereka adalah: baptisan dewasa (Mundigkeitstaufe) sebagai ganti baptisan anak (Sauglingstaufe) dipraktekkan. Tetapi tidak benar untuk berbicara baptisan „dewasa“, sebab baptisan dilakukan dari umur 10 tahun ke atas atas dasar ikrar iman pribadi. Tetapi ciri ini dapat juga menyesatkan kita, sebab di dalam kenyataan Baptis adalah sebuah gereja di mana seseorang masuk secara sukarela (Freiwilligkeitsgemeinde) dan satu prasyarat mutlak untuk masuk adalah pengakuan seseorang bahwa ia telah diselamatkan dan keinginan seseorang untuk mengikut Yesus. Asal berdirinya Baptis dihubungkan dengan Reformasi Inggris. John Smyth (1554-1612) memulai pertama jemaat Baptis di Lincolnshire. Tahun 1608, akibat penekanan dari negara, mereka melarikan diri ke Amsterdam, di mana mereka mengorganisasikan Baptis Umum. Tahun 1616 di Southwark dekat London mereka disebut Baptis Partikular. Setelah tahun 1641, atas anjuran Richard Blunt, baptisan di dalam gereja ini bukan dengan cara dipercik atau dituangkan tetapi dengan mencelupkan tubuh seseorang ke dalam air. Praktek seperti ini dengan cepat menyebar. Perkembangan selanjutnya adalah di Amerika Utara oleh Roger Williams (1604-1683), kemudian di Inggris oleh Charles Haddon Spurgeon (1834-1892) dan di benua Eropa oleh Johann Gerhard Oncken (1800-1884). Statistik gereja ini adalah sebagai berikut: Afika: 677.000, Asia: 1.2 juta, Eropa: 1.7 juta, Amerika Utara: 23.8 juta.

GEREJA-GEREJA BERSATU

Menurut Aland ada sekitar 29.5 juta anggota Gereja-Gereja Bersatu (United Churches) yang didaftarkan oleh DGD. Ini jumlah yang cukup besar, tetapi hal ini sangat mudah membahwa kita tersesat. Sebab Gereja Bersatu ini terdiri dari karakter yang berbeda-beda dan apakah mereka cermin kesatuan di antara Lutheran dan Reformed yang berlaku di Eropa; ada juga bermacam-macam kesatuan lainnya. Gereja Bersatu di Kanada misalnya, Methodis, Presbiterian dan Kongreagasionalis bersatu tahun 1925 dan tahun 1968 Konferensi Kanada dari Persatuan Persekutuan Persaudaraan, sebuah orientasi persekutuan secara evangelis. Di antara tahun 1925 dan 1970 kurang lebih persatuan dari dua puluh persekutuan terjadi dengan alasan yang eksternal. Di Jepang misalnya gereja Presbiterian, Methodis, Kongregasional, Baptis, Lutheran dan denominasi lainnya yang jumlahnya empat puluh dua, bersekutu bersama tahun 1941 dalam Gereja Kristus. Statistik Persekutuan Gereja ini adalah sebagai berikut: Afrika: 1.8 juta, Asia: 3.5 juta, Australia: 2.5 juta, Pasifik: 380.000, Eropa: 17.3 juta, Amerika Latin: 65.000, Caribbean: 25.0000, Amerika Utara: 3.9 juta.

GEREJA KATOLIK LAMA

Gereja Katolik Lama berasal dari Belanda ketika uskup Cornelius Steenhoven dikukuhkan sebagai uskup kepala Utrecht tahun 1724 tanpa restu paus – dia dikucilkan tahun 1725 – karena mendukung doktrin Jansenist tentang anugerah dan penggulingan Peter Codde dari tahta Uskup kepala tahun 1704. Tahun 1871 di bawah pemimpin spiritual Ignaz von Dollinger (1799-1890) kongres yang dipimpin Johann Friedrich Schulte (1827-1914), mempersiapkan pendirian Gereja Katolik Lama yang akhirnya terjadi tahun 1873 pada kongres di Cologne ketika Joseph Hubert Reinkens (1821-1896) dosen teologi di Breslau dipilih sebagai uskup.

GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA LAIN

Di sini hanya sedikit dan tidak semua ekspresi Kekristenan yang DGD klasifikasikan sebagai Gereja Independen atau Gereja yang Lain. Sebenarnya banyak juga di negeri-negeri lain (misalnya Filipina) tetapi umumnya tidak bergabung di dalam DGD ataupun wadah-wadah ekumenis lainnya. Hanya di benua Afrika ada gereja yang disebut gereja „Independen“ yang terdiri dari empat denominasi dengan jumlah keseluruhannya 5.9 juta anggota. Di antara Gereja yang Lain adalah Gereja Moravian yang dibentuk oleh Zinzendorf dengan ciri internasionalnya. Data statistik gereja ini adalah 54.000 di Afrika Utara, 10.000 di Federal Republik Jerman, 2.900 di Demokrasi Republik Jerman, 5.000 di Inggris Raya dan Irlandia, 52.000 di Suriname, 82.000 di Jamaika, 28.800 di Hindia Barat dan 54.000 di AS. Gereja Pentakostal ditemukan di Amerika Latin (1.2 juta), di Amerika Utara (200.000), dan di Australia (96.000), New Zealand (3.000), dan Inggris Raya dan Irlandia (12.000).

7. KEKRISTENAN MASA KINI – DAN MASA DEPAN

Dalam bab sebelumnya Aland telah menunjukkan secara langsung Kekristenan saat ini, walaupun mengungkapkannya secara eksplisit. Yang dimaksud Aland “saat ini” harus diletakkan dalam perspektif dan melakukan sebuah usaha yang memerlukan perhatian yang luar biasa untuk berbicara tentang “masa depan”. Menurut Aland perubahan begitu cepat terjadi dan begitu sering. Misalnya bangsa-bangsa Afrika mengubah pemerintahan mereka sejak kemerdekaan mereka, dari rejim penjajah. Aland juga melaporkan pengaruh perang yang terjadi di berbagai penjuru dunia ini seperti di Timur Dekat, Indocina, Afrika, Amerika Utara bagi situasi saat ini. Banyak orang mengalami penderitaan, kelaparan, kehilangan kebebasan, mengalami tekanan dan lain-lain. Dari situasi tersebut Aland bertanya bagaimanakah Kristendom saat ini. Untuk menjawab pertanyaan ini, Aland mendasarkannya pada data statistik dari penduduk dunia. Menurut data tahun 1960 dan tahun 1977 penduduk dunia secara khusus di Eropa dan di Amerika Utara mengalami penurunan sekitar 2,5% dan 7%. Aland berpendapat bahwa lebih dari setengah dari seluruh orang Kristen tinggal di Eropa dan sepertiga tinggal di Amerika. Jika figur penduduk di Eropa di dalam periode ini mengalami penurunan 2,5% dan 7% di Amerika Utara, maka ukuran Kekristenan masa depan akan mengarah ke daerah Afrika dan Asia. Berdasarkan laporan John S.Mbiti pada Konferensi Seluruh Gereja-gereja Se-Afrika, Kekristenan di Afrika sekitar 203 juta dan Gereja-gereja Kristen serta Yayasan Kristen bertumbuh sangat cepat dibandingkan dengan Islam. Pertanyaan Aland yang berikut adalah: bagaimanakah data statistik keagamaan saat ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, Aland kembali menjelaskannya dari tabel data yang dipelajarinya periode tahun 1960/61 hingga 1977/78. Pertama, hasilnya mengejutkan. Kekristenan berkembang pesat selama dua dekade terakhir dibanding agama lainnya. Kalkulasi ini sangat atraktif sekali sehingga bisa menyesatkan. Sebab data ini mengabaikan „bentuk ketiga iman“ yaitu ateisme ataupun agama alamiah. Karena data statistik keagamaan ini kurang akurat menurut Aland, maka data ketiga yang dia pakai adalah data tahun 1984 dari Laporan Tahunan Dunia Lembaga Alkitab Dunia. Menurut Aland dari data penyebaran Alkitab dan porsion ke seluruh dunia, kekristenan itu lebih akurat. Jika Lembaga Alkitab Internasional memberikan keseluruhan $16.7 juta bagi pendistribusian Alkitab tahun 1979 (1984: $23.2 juta) ditambah $2.5 juta (1984: $3.5 juta) bagi persiapan terjemahan baru sehingga total keseluruhannya $20 juta (1984: 26.7 juta), inilah gambaran kekuatan Kristendom saat ini. Menurut Aland lebih jauh jika memang seorang Kristen di Dunia Ketiga memiliki Alkitab atau porsion, maka kita menduga bahwa orang itu melek huruf dan mempelajari teks Alkitab secara mendalam.

4.TANGGAPAN HISTORIS

a. Tanggapan

Umum Buku Aland volume kedua ini merupakan lanjutan dari volume pertama. Tekanan utamanya hanya pada dua bagian besar yaitu: KEKRISTENAN PADA MASA REFORMASI dan KEKRISTENAN SETELAH REFORMASI.

b. Tanggapan Isi buku

Jika kita mengikuti alur pemikiran Aland dalam buku ini maka kita akan bisa secara jelas memahami proses perjalanan Kekristenan itu sejak Reformasi hingga perkembangan Kekristenan modern saat ini. Ulasannya yang begitu panjang dalam tiap topik akan semakin memudahkan kita memahami situasi yang terjadi pada tahun-tahun peristiwa itu terjadi. Dalam bagian pertama ulasannya, Aland memberikan pertimbangan-pertimbangan yang mendasar tentang munculnya Reformasi itu sendiri. Secara umum pertimbangan yang disodorkannya dapat diterima, karena pertimbangannya itu dikaitkannya dengan perkembangan yang terjadi di dalam negara dan situasi sosial ekonomi masyarakat waktu itu. Artinya munculnya Reformasi itu tidak hanya melulu karena akibat pergolakan teologi yang terjadi di Gereja saja, namun ada juga kaitan timbulnya Reformasi ini dengan kehidupan masyarakat itu sendiri dan kemajuan ilmu pengetahuan saat itu. Hal ini juga akan menjadi pemikiran yang terus berkembang nantinya dalam ulasan berikut yang dipaparkan Aland. Aland juga membahas secara mendalam beberapa tokoh terkenal yang menggerakkan Reformasi itu di berbagai tempat dan pengaruhnya bagi perkembangan Kekristenan di dunia hingga saat ini. Gaung Reformasi yang mereka kumandangkan bukan timbul begitu saja namun gerakan itu sendiri sudah dikerjakan oleh para pendahulu mereka. Artinya pemikiran Reformasi itu sendiri sebenarnya sudah ada jauh di belakang para tokoh Reformator itu. Mereka hanya pencetus Reformasi itu saja, namun isi gagasannya sebenarnya bukanlah murni dari pemikiran mereka sendiri. Dalam bagian kedua bukunya ini, Aland memfokuskan pembahasannya pada perkembangan Kekristenan setelah Reformasi. Dari ulasannya dapat terlihat bahwa perkembangan gerakan Reformasi itu tenyata tidak berjalan mulus di berbagai daerah. Reformasi itu terus berjalan kendati harus mengalami beberapa perjuangan dan tantangan baik dari negara, gereja, politik dan bahkan dari kalangan gerakan Reformasi itu sendiri. Jika kita cermati, Kekristentan setelah Reformasi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena semangat penginjilan ke dalam dan ke luar semakin gencar dilakukan setiap gerakan Reformasi yang ada. Persaingan di antara kalangan Gereja Reformasi semakin terasa. Jika kita telusuri perkembangan Kekristenan sejak agama Kristen perdana hingga saat ini maka dapat digambarkan pembagian Kekristenan secara umum dalam Gereja-gereja Timur dan Barat. Setelah kedua kelompok besar ini muncullah cabang-cabang yang beraneka ragam dari agama Kristen. Setelah cabang-cabang ini muncullah kelompok-kelompok denominasional. Dalam sejumlah tradisi, kelompok-kelompok ini didefinisikan secara tegas (seperti misalnya gereja-gereja otosefalus dalam kedua cabang Gereja Ortodoks). Dalam tradisi-tradisi yang lainnya, mereka mungkin merupakan kelompok-kelompok ideologis yang longgar dan dapat bertumpang tindih. Hal ini khususnya terjadi dalam hal Protestanisme, yang mencakup Adventis, Anabaptis, Anglikan, Baptis, Kongregasionalis, Lutheran, Methodis, Pentakostal, Presbiterian, Gereja-gereja Reformaed, dan barangkali juga lain-lainnya, tergantung pada siapa yang menyusun skemanya. Dari situ muncullah denominasi, yang di Barat, memiliki kemandirian mutlak untuk menetapkan doktrin (misalnya, gereja-gereja nasional di lingkungan Persekutuan Anglikan atau di lingkungan Lutheranisme). Di sini, skemanya menjadi semakin sulit untuk diberlakukan kepada gereja-gereja Timur dan Katolik, karena struktur-struktur hierarkhis mereka yang dari atas ke bawah. Satuan-satuan yang lebih terinci setelah denominasi adalah dewan-dewan regional dan jemaat dan organisasi-organisasi gereja individual. Sebuah skisma besar secara tidak sengaja dimulai melalui penempatan 95 dalil Martin Luther di Sachsen pada 31 Oktober 1517. Mulanya ke-95 dalil tersebut ditulis sebagai serangkaian keluhannya untuk mendorong Gereja Katolik agar memperbarui dirinya, dan bukan untuk memulai sebuah sekte baru, tulisan-tulisan Luther, ditambah dengan karya teolog Swiss Ulrich Zwingli dan teolog dan politikus Perancis Yohanes Calvin memulai perpecahan dalam kekristenan di Eropa yang kini menciptakan cabang agama Kristen kedua terbesar setelah Gereja Katolik sendiri, Protestanisme. Di Inggris, Henry VIII dari Inggris menyatakan dirinya sebagai kepala tertinggi Gereja Inggris melalui Akta Supremasi pada 1531, mendirikan Reformasi Inggris, meskipun dengan tujuan-tujuan yang jauh lebih terbatas daripada Reformasi Calvin atau Ulrich Zwingli. Berbeda dengan cabang-cabang lainnya (Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental, Gereja Asiria, dan Anglikan), Protestanisme adalah sebuah gerakan umum yang tidak mempunyai struktur pemerintahanan internal. Oleh karena itu kelompok-kelompok yang sangat berbeda-beda seperti misalnya Adventis, Anabaptis, Anglikan, Baptis, Kongregasionalis, Lutheran, Methodis, Presbyterian, Reformasi, Pentakostal, dan bahkan mungkin pula Restorationis (tergantung pada skema klasifikasi yang digunakan) semuanya adalah bagian dari keluarga yang sama, dan dengan variasi doktriner yang lebih jauh di dalam masing-masing kelompoknya. Dibandingkan dengan masa satu setengah milenium pertama di seluruh Dunia Kristen, Protestanisme menghasilkan gereja-gereja dan denominasi baru dalam jumlah yang paling banyak. Misalnya saja Gereja-Gereja Lutheran di Indonesia memiliki organisasi yang cukup banyak, padahal sama-sama mengaku diri beraliran Lutheran. Selain HKBP, gereja-gereja Lutheran di Indonesia umumnya menyebar di Sumatera Utara, yakni wilayah pelayanan misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dulu. Gereja-gereja tersebut adalah GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia), GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun), GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola), GKPPD (Gereja Kristen Protestan Pakpak-Dairi), HKI (Huria Kristen Indonesia), GPKB (Gereja Punguan Kristen Batak), GKLI (Gereja Kristen Luther Indonesia), GPP (Gereja Protestan Persekutuan). Gereja-gereja di Nias dan Kepulauan Mentawai juga tergolong gereja-gereja Lutheran, yaitu BNKP (Banua Niha Keriso Protestan), AMIN (Angowulua Masehi Indonesia Nias), ONKP (Ora Niha Keriso Protestan), BKPN (Banua Keriso Protestan Nias), dan GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai). Demikian juga dengan perkembangan gerakan Pentakosta. Gereja Pentakosta (di Indonesia sering disebut juga Pantekosta) adalah sebuah gerakan di kalangan Protestanisme yang sangat menekankan peranan karunia-karunia Roh Kudus. Aliran ini sangat mirip dengan gerakan Karismatik, namun gerakannya muncul lebih awal dan terpisah dari gereja arus utama. Orang Kristen Karismatik, setidak-tidaknya pada awal gerakannya, cenderung untuk tetap tinggal di dalam denominasi mereka masing-masing. Orang Pentakosta memiliki pandangan dunia yang trans-rasional. Meskipun mereka sangat memperhatikan ortodoksi (keyakinan yang benar), mereka juga menekankan ortopati (perasaan yang benar) dan ortopraksis (refleksi atau tindakan yang benar). Penalaran dihargai sebagai bukti kebenaran yang sahih, tetapi orang-orang Pentakosta tidak membatasi kebenaran hanya pada ranah nalar. Christianity Today melaporkan dalam sebuah artikel yang berjudul “World Growth at 19 Million a Year” (Bertumbuh 19 juta angota di seluruh dunia) bahwa menurut sejarahwan Vinson Synon, dekan Regent University School of Divinity (Sekolah Teologi Universitas Regent) di Virginia Beach bahwa 25% dari seluruh umat Kristen di dunia adalah Pentakostal atau karismatik. Denominasi-denominasi Pentakostal terbesar di AS adalah Assemblies of God (Sidang Jemaat Allah), Church of God in Christ, Church of God (Cleveland), dan United Pentecostal Church. Menurut sebuah artikel Musim Semi 1980 dari Christian History, ada sekitar 11.000 denominasi pentakostal atau karismatik di seluruh dunia. Di AS gereja-gereja Pentakostal diperkirakan mempunyai lebih dari 20 juta anggota, termasuk sekitar 918.000 (4%) penduduk Hispanik. Jumlah ini mencakup jemaat-jemaat yang tidak berafiliasi, meskipun jumlahnya tidak pasti. Hal ini sebagian disebabkan karena sebagian ajaran Pentakostalisme juga dianut oleh denominasi non-Pentakostal yang dikenal sebagai gerakan karismatik. Perhitungan konservatif atas penganut Pentakostalisme di seluruh dunia pada tahun 2000 diperkirakan sekitar 115 juta. Perkiraan lain menyebutkan jumlah hampir 400 juta. Sebagian terbesar dari pemeluknya terdapat di negara-negara Dunia Ketiga, meskipun kebanyakan pemimpin mereka masih orang Amerika Utara. Pentakostalisme kadang-kadang disebut sebagai “gerakan ketiga Kekristenan”. Di Indonesia, gereja-gereja Pentakostal/Karismatik yang utama adalah • Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), • Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), • Gereja Pentakosta Indonesia (GPI), • Gereja Isa Almasih (GIA), • Gereja Bethel Indonesia (GBI), • Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD), • Charismatic Worship Service (CWS), • Gereja Pantekosta Isa Almasih (GPIA), • Gereja Tiberias Indonesia (GTI), • Abbalove Ministries, • Gereja Bethany Indonesia, • Gereja Duta Injil, • Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB), • Gereja Bethel Tabernakel (GBT), • Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah, • Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) dan lain-lain. Dan jika diamati secara jujur perkembangan Kekristenan ini hingga sekarang, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Kekristenan itu tidak ‘statis’ namun ‘dinamis’. Artinya Kekristenan akan terus bergerak maju untuk mencari jati dirinya sesuai dengan tantangan zaman. Dengan demikian, gereja harus terus-menerus membaharui dirinya agar tidak tergilas oleh tantangan zaman. Gereja yang mampu bertahan dalam segala zaman adalah gereja yang terus merevitalisasi diri sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: