Posted by: ramlyharahap | May 7, 2010

SEJARAH DEKLARASI BERSAMA TENTANG AJARAN PEMBENARAN IMAN ANTARA PROTESTAN DAN KATOLIK

PENDAHULUAN

Sejak munculnya gerakan Reformasi pada tahun 1500-an, khususnya Reformasi Martin Luther (1517), Gereja Katolik Roma (GKR) menganggap Gereja Reformasi atau Protestan sebagai musuh dan bahkan bidat. Kecaman demi kecaman disampaikan GKR kepada para Reformator seperti Martin Luther yang dianggap sebagai penyesat.[1] Kutukan ini tidak hanya dikenakan kepada para Reformator itu saja bahkan kepada para pengikut Reformator itu sendiri pun pihak GKR terus bermusuhan. Memang harus diakui bahwa sejak munculnya gerakan Reformasi perbedaan ajaran di antara GKR dan Protestan semakin jauh. Banyak hal yang diprotes oleh Reformator kepada GKR baik dalam ajaran maupun dalam ritus-ritus keagamaan itu sendiri.

Dengan adanya gerakan Reformasi ini maka kedua belah pihak baik GKR dan Protestan semakin menggali dan mengembangkan doktrin-doktrinnya. Di satu sisi GKR membaharui diri dari dalam dan melawan doktrin-doktrin Protestan melalui Konsili-konsili dan hasil Konsili-konsili ini mau melawan doktrin yang dikeluarkan oleh pihak Protestan. Sementara itu, pihak Protestan pun semakin gencar melawan praktik-praktik GKR yang dianggap tidak sesuai dengan iman Protestan. Secara umum doktrin yang berseberangan di antara GKR dan Protestan adalah Sakramen, Mariologi, pemahaman tentang Kitab Suci sebagai sumber kebenaran, penafsiran Kitab Suci, simbol-simbol atau ikon-ikon, devosi-devosi kepada orang kudus,  dan doktrin yang selalu diperdebatkan adalah doktrin tentang keselamatan (soteriologi) khususnya tentang pembenaran oleh iman.

Pertikaian doktrin antara GKR dan Protestan ini sudah berlangsung selama lebih kurang lima abad sejak tahun 1500-an hingga tahun 1990-an. Jurang pemisah di antara GKR dan Protestan ini bagi kalangan Protestan khususnya Lutheran sudah perlu diperbaiki kembali. Kerinduan untuk menjembatani pertemuan di antara GKR dan Protestan ini pun dimulai dengan membahas salah satu di antara perbedaan itu yakni doktrin pembenaran oleh iman.

Makalah ini akan membahas dan menguraikan sejarah pertemuan GKR dan Protestan dalam sebuah dokumen yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tanggal 31 Oktober 1999 di Augsburg yakni “Dokumen Deklarasi Bersama tentang Pembenaran oleh Iman“ (Joint Declaration on the Doctrine of Justification by Faith).

  1. 1. PEMAHAMAN TENTANG AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

1.1    DEFINISI PEMBENARAN

Menurut KUBI, kata “membenarkan” adalah membuat supaya benar; meluruskan; membetulkan, memperbaiki, mengatakan benar, menganggap benar. Pembenaran itu sendiri berarti proses, perbuatan, cara membenarkan.[2] Menurut Kamus Teologi, justification adalah anugerah penyelamatan berupa pembenaran membuat manusia berkenan dan diterima oleh Allah. Pembenaran datang karena iman akan Yesus Kristus (Rm. 1:17; 9:30-31), bukan dari pekerjaan hukum (Rm. 3:28; Gal. 2:16).[3] Sementara dalam Kamus Alkitab, kata kerja ‘membenarkan’ lebih berkenaan dengan pemulihan hubungan, daripada menjadikan, atau seolah-olah menjadikan sifat yang baru.[4]

Istilah “pembenaran” dan kata kerja “membenarkan” mempunyai arti “masuk ke dalam suatu hubungan yang benar dengan Allah”, atau mungkin juga “dijadikan benar di hadapan pandangan Allah”. Ajaran pembenaran dilihat sebagai berhubungan dengan pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang individu supaya diselamatkan. Pertanyaan ini di sepanjang sejarah gereja masih terus diperdebatkan bahkan mengalami kekacauan. Mengapa? Menurut McGrath ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Pertama, tidak adanya pengumuman resmi dari gereja mengenai masalah ini selama lebih dari seribu tahun. Kedua, ajaran mengenai pembenaran tampaknya telah menjadi topik perdebatan yang disukai di antara teolog-teolog periode akhir Abad Pertengahan dengan hasil bahwa sejumlah pendapat yang tidak proporsional atas persoalan itu masuk ke dalam peredaran.[5]

Menurut Thiessen, dari pembawaannya, setiap orang bukan saja merupakan anak si jahat, tetapi juga seorang yang melakukan pelanggaran dan kejahatan (Rm. 3:23; 5:6-10; Ef. 2:1-3; Kol. 1:21; Tit. 3:3). Ketika dilahirkan kembali maka seseorang menerima hidup dan perangai yang baru; ketika mengalami pembenaran, ia menerima kedudukan yang baru. Pembenaran dapat dijelaskan sebagai tindakan Allah yang menyatakan sebagai benar orang yang percaya kepada Kristus.[6] Menurut Ladd, “Pokok gagasan pembenaran ialah penyataan Allah, hakim yang adil, bahwa orang yang percaya kepada Kristus, sekalipun penuh dengan dosa, dinyatakan benar – dipandang sebagai benar, karena di dalam Kristus orang tersebut telah memasuki suatu hubungan yang benar dengan Allah”.[7]

Pembenaran merupakan suatu tindakan deklaratif, bukanlah sesuatu yang dikerjakan di dalam manusia, tetapi sesuatu yang dinyatakan tentang manusia. Pembenaran tidak menjadikan seseorang benar, tetapi hanya menyatakan dia benar. Menurut Thiessen, ada beberapa hal yang tecakup dalam pembenaran:[8] (1) pembenaran adalah penghapusan hukuman. Artinya, hukuman yang seyogianya dikenakan kepada manusia telah ditiadakan oleh dan di dalam kematian Kristus, yang menanggung hukuman dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib (Yes. 53:5-6; 1 Pet. 2:24).[9] (2) Pembenaran adalah pemulihan hubungan baik.  Artinya orang yang telah dibenarkan kini menjadi sahabat Allah (2 Taw. 20:7; Yak. 2:23). (3) Pembenaran adalah penghitungan kebenaran. Dihitung artinya dianggap sebagai atau dimasukkan dalam bilangan. Yang dimasukkan bukanlah kebenaran sebagai sifat Allah, tetapi yang diperhitungkan ialah kebenaran yang disediakan Allah bagi mereka yang percaya kepada Kristus. Oleh karena itu, orang yang telah dibenarkan itu telah diampuni dosanya dan telah dihapus hukumannya; ia juga telah memperoleh kembali hubungan baik dengan Allah melalui penghitungan kebenaran Kristus.

1.2    DASAR ALKITABIAH AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

Pembenaran bukan hanya merupakan salah satu manfaat yang besar dari kematian Kristus, tetapi juga merupakan ajaran yang pokok dalam kekristenan, karena hal itu membedakan kekristenan sebagai agama anugerah dan iman. Dan anugerah dan iman merupakan dasar dalam ajaran tentang pembenaran.

Kata yang dipergunakan untuk “membenarkan” di dalam Perjanjian Lama (PL) adalah hitsdik (Ibrani), yang dalam sebagian besar pemakaiannya berarti “secara yuridis mengumumkan bahwa keadaan seseorang selaras dengan tuntutan hukum” (Kel. 23:7; Ul. 25:1; Ams. 17:15; Yes. 5:23).[10] Artinya, kata pembenaran itu lebih bersifat hukum. Kata kerja lainnya adalah qdx (tsadaq). Istilah ini lebih bersifat religius daripada etis. Kata kerja ini artinya “sesuai dengan tolok-ukur yang diberikan”; dalam bentuk hiphil kata kerja ini artinya “menyatakan sebagai benar atau membenarkan”.[11]

Kata yang digunakan dalam Perjanjian Baru (PB) lebih variatif seperti: (1) ‘dikaio-o’ yang berarti “menyatakan bahwa seseorang benar” dan kadang-kadang juga dipakai untuk menunjuk suatu pernyataan pribadi sesuai menurut hukum (Mat. 12:37; Luk. 7:29; Rm.3:4). (2) ‘Dikaios’ . Kata ini dipakai dalam kaitan dengan manusia jika manusia dalam penilaian Tuhan mempunyai hubungan yang sesuai dengan hukum. (3) ‘Dikaiosis’ , pembenaran yang dijumpai di dua tempat, yaitu Rm. 4:25, 5:18 yang menunjukkan tindakan Tuhan yang menyatakan bahwa manusia bebas dari kesalahan dan dapat diterima oleh-Nya.[12] Berdasarkan data tersebut, maka pembenaran dalam PB merupakan tindakan Allah yang bersifat hukum atau menyatakan kita benar seperti halnya keputusan hakim yang membebaskan seorang terdakwa.[13]

Membenarkan berarti menyatakan benar. Baik kata Ibrani (tsadaq) maupun kata Yunani (dikaio-o) berarti mengumumkan putusan yang menyenangkan, menyatakan benar. Konsep ini tidak berarti menjadikan benar, tetapi menyatakan kebenaran. Hal itu merupakan konsep dalam persidangan, sehingga membenarkan berarti memberikan putusan benar. Perhatikan perbedaan antara membenarkan dan menyatakan salah dalam Ul. 25:1; 1Raj. 8:32; dan Ams. 17:15. Sama halnya seperti menyatakan salah tidak membuat seseorang jahat, demikian pula menyatakan benar tidak menjadikan seseorang benar. Namun demikian, mempersalahkan atau membenarkan itu berarti mengumumkan keadaan yang benar dan sesungguhnya dari orang itu. Akan tetapi, orang yang jahat memang sudah jahat pada waktu putusan hukuman diumumkan. Demikian juga, orang yang benar memang sudah benar pada waktu putusan pembenaran diumumkan.[14]

Dalam Perjanjian Baru (PB), pembenaran oleh iman ini kita temukan dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14). Orang Farisi dan pemungut cukai pergi ke Bait Allah  untuk berdoa. Orang Farisi  bangga dan sombong terhadap apa yang telah diperolehnya, mengucap syukur kepada Allah atas kekudusan dan moralitasnya yang baik. Hal yang kontras, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Yesus menyimpulkan bahwa tindakan pemungut cukai ini disebut sebagai dedikaiomenos (perfek pasif dari dikaio-o). Kata Yunani dedikaiomenos dalam Lukas 18:14 diterjemahkan bervariasi: “justified” (KJV/AV; RV; RSV), “justified before God” (NIV), “acquitted of sins” (NEB), “at rights with God” (JB), “in the right with God” (TEV) dan “orang yang dibenarkan Allah” (LAI).[15]

Dalam Perjanjian Lama (PL), kata yang digunakan untuk menerjemahan sdq (bahasa Ibrani) adalah kata Yunani dikaioo. Para ahli menyetujui kata ini dikaitkan dengan keadilan di dalam perjanjian yang Allah buat dalam pemilihan umat Israel. Dikaioo merujuk pada hukum tanah dan tradisi dalam penafsiran mereka. Dalam kenyataan, tidak ada kata di dalam PL Ibrani yang secara harfiah berarti “sebuah pengadilan” (a court). Kata yang biasa digunakan adalah “pintu kota” (the gate of the city). Kata Ibrani sdq berarti “menjadi benar” atau “menyatakan menjadi benar”.[16]

Dalam tulisan-tulisan Paulus, pembenaran oleh iman ditemukan dalam surat Galatia dan Roma, namun masih ditemukan juga dalam tulisan-tulisan lainnya seperti dalam Filipi 3:9-11 dan Titus 3:3-7. Ajaran pembenaran oleh iman bukanlah berita yang aktual yang harus dikhotbahkan kepada orang kafir oleh Paulus. Namun, pembenaran oleh iman ini merupakan penjelasan bagaimana Injil didasarkan pada tema-tema PL mengenai kebenaran Allah dan iman manusia. Ajaran pembenaran oleh iman ini ditujukan Paulus kepada orang kafir di Galatia.[17] Menurut Paulus, pembenaran manusia di dalam Allah tidak tergantung pada banyaknya atau sedikitnya ia mematuhi hukum Taurat; manusia dibenarkan oleh anugerah semata-mata. Manusia tidak dapat mengusahakan sendiri anugerah itu, tetapi harus menerimanya dari kasih Allah di dalam Yesus Kristus.[18] Bagi Paulus, iman bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebaliknya penerimaan anugerah Allah dalam Yesus Kristus (bnd. Rm. 1:6-7) dan dengan demikian justru iman itulah merupakan inti dan sumber dari kehidupan rohani, termasuk perbuatan-perbuatan (bnd. Rm. 9:31-10:3).[19] Maksud Allah membenarkan manusia oleh karena iman (Rm. 3:30; Gal. 3:8) adalah bahwa Ia menerima manusia, bukan karena manusia itu beriman (karena manusia itu benar), melainkan karena kebaikan-Nya sendiri. Kebenaran manusia bukanlah dasar bagi kebenaran Allah. Sebaliknya kebenaran Allah adalah kesempatan bagi manusia untuk menerima (= percaya kepada) kebenaran Allah itu. Dengan membenarkan manusia yang berdosa, Allah tidak berarti membenarkan dosa manusia itu sendiri. Kebenaran oleh iman bukanlah asuransi hidup kekal, melainkan kesempatan baru yang diberikan Allah kepada manusia yang dilumpuhkan dosa, untuk hidup sebagai anak-anak-Nya.[20]

Dalam surat Roma, secara ringkas dapat dikatakan, ajaran Paulus tentang pembenaran didasarkan pada kenyataan bahwa semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (3:23), entah dia adalah orang Yahudi atau bukan, dan oleh anugerah-Nya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Yesus Kristus (3:24). Karena itulah dalam ayat 21 dikatakan bahwa tanpa hukum Taurat pembenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab Para Nabi. Dasar untuk memperolehnya bukanlah perbuatan tetapi berdasarkan iman (3:27), karena manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat (3:28). Mengenai iman, Paulus tidak memberikan rumusan pengertian yang eksplisit. Van den End[21] mengatakan bahwa makna dari kata “iman” dalam pengajaran Paulus ini baru dapat dilihat sepenuhnya jika dipertentangkan dengan “perbuatan hukum Taurat”. Keselamatan melalui hukum Taurat akan berpasangan dengan sikap manusia yang berusaha memenuhi tuntutan Taurat itu. Sedangkan keselamatan tanpa hukum Taurat berpasangan dengan sikap yang sama sekali lain, yaitu sikap manusia yang mengharapkan keselamatan sepenuhnya dari rahmat Allah saja. Itulah iman. Mengenai perbuatan, Rasul Paulus sangat pesimis terhadap setiap upaya manusia untuk melakukan setiap tuntutan Hukum Taurat. Dalam ayat 20, dengan tegas Rasul Paulus menyatakan bahwa tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat. Justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Ajaran Rasul Paulus ini sebenarnya merupakan refleksi dari perjalanan kehidupannya, sekaligus menjadi keyakinannya. Bagaimanapun juga, dalam keadaan yang sangat jauh dari iman kepada Kristus bahkan menjadi penganiaya jemaat, dia diterima oleh Allah untuk perkerjaan Pemberitaan Injil. Perbuatan-perbuatan yang dulu dianggapnya baik karena didasarkannya pada ketaatan kepada Taurat, justru menjadi suatu hal yang dianggapnya sebagai suatu hal yang tidak berguna.[22] Manusia dibenarkan oleh iman, artinya kita boleh memiliki damai dengan Allah karena kita percaya dengan segenap hati, bahwa apa yang Yesus katakan kepada kita tentang Allah adalah benar.[23] Roma 1:16-17 berbunyi: “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis, orang benar akan hidup oleh iman”. Kebenaran Allah adalah tindakan Allah yang mendirikan dan memelihara hubungan yang ‘benar’ antara diri-Nya dengan manusia dan antara manusia dengan sesama. Maka, kalau manusia mau memiliki kebenaran, datangnya harus dari Allah.[24]

Di bagian lain, Yakobus memberikan kontribusi pengajaran teologis yang cukup kontroversial mengenai hubungan iman (faith), perbuatan-perbuatan baik (works) dan pembenaran (justification). Yakobus menekankan kepercayaan yang benar harus diikuti dengan perbuatan yang benar (Yak. 2:17, 20, 26). Dia mengkhawatirkan tentang orang-orang yang membatasi iman hanya dengan pengakuan verbal saja (2:19) atau berpura-pura, tidak bersungguh-sungguh mengharapkan yang baik (15-16). Iman seperti ini adalah iman yang mati (17, 26) dan bebal (20) serta tidak akan bermanfaat pada hari penghakiman (14). Iman seperti ini, diakui oleh banyak orang yang tidak sama dengan iman yang diajarkan oleh Yakobus. Yakobus melihat iman sebagai sebuah keyakinan, ketetapan hati yang tidak terselubung bagi Allah dan Kristus (2:1) yang diuji dan disaring dengan pencobaan-pencobaan (1:2,4) dan yang mengandung berkat Allah dalam doa (1:5-8; 5:14-18).[25]

Adalah salah jika menganggap konsep iman milik Yakobus sebagai bagian lain atau berbeda dengan ajaran Paulus atau Kristen. Sebaliknya, ajaran Paulus dan Yakobus sepakat dan saling melengkapi. Sebagaimana Paulus sendiri mengatakan di Galatia 5:6, “hanya iman yang bekerja oleh kasih” yang berkenan kepada Allah, dan Yakobus mencatat, “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Di sisi lain, Yakobus dan Paulus dianggap tidak sepakat: mengajarkan iman sebagai syarat pembenaran. Paulus menekankan bahwa, iman saja cukup untuk membenarkan: “karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rom.3:28). Sedangkan, Yakobus mengklaim bahwa, “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yak. 2:24). Beberapa orang telah melihat dua perspektif ini sebagai kontradiksi, dan menganggapnya sebagai dua reprensentasi permasalahan doktrin keselamatan dalam gereja perdana. Padahal dalam pengertian yang sebenarnya tidaklah seradikal itu. Berdasarkan konteks masing-masing, dan dengan berhati-hati memperhatikan penggunaan istilah-istilah kunci yang mereka gunakan, maka kita dapat dengan mudah mengharmoniskan kedua pandangan ini.[26]

Pertama, Paulus dan Yakobus mengkombinasikan dua permasalahan yang berbeda. Paulus mempertentangkan suatu kecenderungan orang Yahudi yang mengandalkan Hukum Taurat untuk keselamatan. Sedangkan, Yakobus berjuang melawan sikap yang membelokkan doktrin ortodoks; oleh iman saja. Secara wajar, apa yang mereka katakan dalam kasus ini merupakan dua perspektif yang berbeda.

Kedua, Paulus mengklaim bahwa seseorang tidak dapat dibenarkan atas dasar perbuatan hukum yang menyebutkan bahwa pekerjaan baik yang mendahulu pertobatan. Sedangkan Yakobus berbicara tentang pekerjaan baik yang berasal dan dihasilkan oleh iman: pekerjaan baik didahului oleh pertobatan. Pekerjaan baik yang dilakukan sebagai akibat dari iman di dalam Kristus.

Ketiga, yang paling penting di sini adalah masalah pembenaran (justification). Dalam membicarakan tentang pembenaran ini, Paulus dan Yakobus sedang berbicara tentang dua hal yang berbeda. Paulus menggunakan kata kerja bahasa Yunani, dikaioo, justify, untuk menggambarkan dinamika aktivitas rahmat Allah yang memberikan kepada orang berdosa sebuah status baru. Status baru bagi orang berdosa ini didasarkan pada kesatuan orang berdosa dengan Kristus melalui iman. Oleh sebab itu, menurut Paulus, dikaioo adalah sebuah tema yang merujuk kepada pemindahan seseorang dari kuasa dosa dan kematian ke dalam kuasa kekudusan dan kehidupan. Sedangkan Yakobus menggunakan istilah dikaioo, dengan arti yang didukung dalam Perjanjian Lama, dalam sumber-sumber Yahudi, dan di dalam Injil Matius (misalnya, di 12:37). Yakobus merujuk kepada sebuah keputusan yang didasarkan pada fakta-fakta dan kasus-kasus aktual: Allah membenarkan seseorang berdasarkan perbuatan yang berdasarkan iman. Paulus melihat pada permulaan kehidupan Kristen. Sedangkan, Yakobus melihat akhir kehidupan Kristen. Paulus membuat menjelaskan bahwa oleh iman saja kita masuk ke dalam sebuah persekutuan dengan Allah. Sedangkan Yakobus mengajarkan bahwa persekutuan atau hubungan dengan Allah itu diteguhkan dan ditunjukkan dengan perbuatan yang keluar dari iman inilah yang akan digunakan oleh Allah pada saat penghakiman terakhir sebagai bukti dari kemurnian kesatuan kita dengan Kristus.

1.3    PANDANGAN AUGUSTINUS DAN THOMAS AQUINAS TENTANG AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

Ajaran Protestan khususnya Luther tentang pembenaran oleh iman pada dasarnya tidak terlepas dari pengaruh ajaran Augustinus dari Hippo atau para teolog-teolog lain pada Abad  Pertengahan. Hal ini dibuktikan oleh G.S.Faber dalam karyanya The Primitive Doctrine of Justification (1837) yang mengklaim bahwa pengajaran Protestanisme memiliki substansi yang sama dengan pengajaran Yunani mula-mula dan Bapa-bapa Gereja Latin.[27]

Misalnya saja Augustinus, dia mengerti bahwa kata ‘membenarkan’ (‘to justify’) berarti ‘memegang’ (‘to hold just’) atau  ‘menghitung’ (‘to account just’).[28] Dalam bukunya Confessiones, Augustinus membahas banyak hal tentang keterbatasan kebebasan manusia dan perlunya rahmat ilahi.[29] Pandangan Augustinus tentang keselamatan (rahmat) hanya dapat dipahami kalau mengingat pandangannya mengenai dosa, yakni sebagai suatu kuasa yang mengurung, membelenggu dan memperbudak manusia. Kuasa dosalah yang disebut “dosa asal”. Karena dosa Adam, manusia sudah masuk ke dalam lingkaran setan yang mengurungnya. Artinya, apa saja yang secara konkret diperbuat oleh manusia, hanya mengukuhkan saja perbudakannya terhadap dosa, biarpun perbuatan konkret itu dilakukannya secara bebas dan atas tanggung jawab sendiri. Dari dirinya sendiri manusia tidak dapat keluar dari lingkaran ini. Secara harfiah manusia berada dalam kuasa setan. Yang dapat menyelamatkan manusia dari kuasa dosa itu hanyalah Allah. Dan, Allah memang membebaskan manusia dari “lingkaran setan” itu. Tindakan Allah itulah yang oleh Augustinus disebut “rahmat”. Istilah rahmat dipakainya karena tindakan Allah itu bukan karena jasa atau hak manusia, melainkan semata-mata karena anugerah bebas dari Allah yang diberikan-Nya dengan cuma-cuma. Dari dalam kebebasan cinta kasih-Nya Allah masuk ke dalam hati manusia dan mengubahnya secara radikal.[30]

Secara ringkas pengajaran Agustinus tentang pembenaran dapat diringkas sebagai berikut:[31] (1) Kebenaran Allah di dalam pengajaran Paulus bukan sebuah atribut Allah, tetapi dengan demikian Allah membenarkan dan memberikan keselamatan pada orang berdosa. Augustinus menggunakan surat Roma sebagai dasar pembenarannya (Rm.1:17; 3:21). (2) Membenarkan artinya membuat benar. Augustinus memutuskan bahwa justificare berarti “membuat benar”. Augustinus menyakini orang berdosa dijadikan benar di dalam pembenaran. (3) Pembenaran terlihat dalam keseluruhan hidup orang Kristen. Pembenaran terlihat melalui baptisan, di mana saat itu Allah mengampuni dosa. Sejak baptisan itu maka orang berdosa telah dibenarkan sepanjang perjalanan kehidupannya. (4) Pembenaran oleh iman dan kasih. Bagi Augustinus, untuk menerima Injil dan otoritas Gereja perlu iman, dan iman membutuhkan kasih. (5) Anugerah Allah mempersiapkan kehendak bebas manusia bagi pembenaran dan menguatkan kehendak bebas dalam pembenaran. Augustinus membuat pembedaan anugerah operatif dan anugerah kooperatif di dalam pembenaran orang percaya. Augustinus beranggapan setiap manusia memiliki kehendak bebas tetapi kebebasan yang sepantasnya. Manusia berdosa membutuhkan bantuan anugerah ilahi di dalam hidupnya.

Berbeda dengan Thomas Aquinas. Thomas[32] mengajarkan Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah “ada yang tertinggi”, yang mempunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya. Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas Aquinas.

Mengenai manusia, Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia memunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat Allah (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan kepada manusia lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.

Mengenai pembenaran, Thomas menguraikannya dalam tiga hal dalam tulisannya.[33] Pertama, Thomas mendiskusikannya dalam hubungannya dengan sakramen tobat dalam karyanya Commentary on the Sentences of Peter Lombard (1252 dan 1256). Permulaan pembenaran sebagai proses membuat benar dapat dilihat dalam baptisan. Restorasi pembenaran dilihat sebagai efek anugerah Allah melalui sakramen tobat. Kedua, dalam tulisannya Quaestiones Disputate de Veritate (1256-1259). Baptisan adalah sakramen yang melaluinya pembenaran dimulai, dengan sakramen tobat dan perjamuan kudus memberikan proses pembenaran. Dan ketiga, diskusi yang matang tentang topik ini diulasnya dalam Summa Theologiae (Blackfriars edition, vol. 30). Dalam buku ini, Thomas secara ringkas menjelaskan: (1) anugerah diberikan kepada manusia dari luar manusia sebagai hasil pekerjaan Roh Kudus yang bekerja di dalam nama Yesus Kristus. (2) Anugerah dimasukkan ke dalam esensi jiwa dan tinggal di dalamnya. (3) Anugerah tidak perlu bagi manusia untuk memenuhi tujuannya di dalam kodratnya sebagai manusia, tetapi penting bagi manusia untuk memperoleh hidup yang kekal. Mengenai pembenaran, Thomas berkeyakinan bahwa Anugerah sekaligus membenarkan dan menguduskan orang berdosa. Pembenaran orang yang tidak benar adalah akibat operatif anugerah. Allah sendiri yang membuat proses pembenaran itu. Allah adalah Pemindah supernatural, dan orang yang tidak benar dipindahkan-Nya menjadi baik. Dikatakan pembenaran sebab pembenaran adalah proses orang berdosa menjadi memliki kebenaran supernatural. Dengan memperhatikan pembenaran sebagai proses atau perpindahan, pembenaran boleh dikatakan memiliki empat unsur logika yang membedakan yakni: “pembangkitan anugerah” (the infusion of grace), perpindahan pemilihan bebas langsung kepada Allah oleh iman, perpindahan pilihan bebas langsung kepada dosa, dan pengampunan dosa. Lebih dalam Thomas beranggapan, di dalam proses pembenaran baptisan Kristen memperoleh keuntungan akibat operatif anugerah (gratia cooperans).

1.4    PANDANGAN PROTESTAN TENTANG AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

Pandangan Protestan tentang pembenaran oleh iman ini lahir dari hasil pergumulan dari para reformator atas doktrin yang dipahami GKR dan para Bapa-bapa Gereja. Tema besar pertama dari pemikiran Reformasi adalah ajaran tentang pembenaran oleh iman.[34] Rumusan doktrin pembenaran ini banyak ditemukan dalam dokumen-dokumen Reformasi seperti dalam Buku Konkord, Luther’s Work, Rumus Konkord, Konfesi Augusburg, Institutio, Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Reformasi (1561), dan lain sebagainya.

Dokumen-dokumen tersebut membahas doktrin pembenaran oleh iman. Misalnya, dalam Konfesi Augsburg disebutkan, kita tidak dapat memperoleh pengampunan dosa dan kebenaran di hadapan Allah dengan kebaikan, perbuatan baik atau kekudusan kita, melainkan kita menerima pengampunan dosa dan menjadi benar di hadapan Allah hanya oleh anugerah, demi Kristus melalui iman, ketika kita percaya bahwa Kristus menderita bagi kita dan demi dosa kita agar kita memperoleh kehidupan yang kekal.[35] Buku Konkord (The Book of Concord) mengatakan, manusia yang berdosa dibenarkan di hadapan Allah dan diselamatkan semata-mata hanya oleh iman dalam Yesus Kristus sendiri sehingga hanya Kristus sajalah kebenaran kita. Ia adalah Allah dan manusia yang sesungguhnya karena di dalam Dia hakikat ilahi dan manusia dipadukan yang satu dengan yang lain (Yer. 23:6; 1 Kor. 1:30; 2 Kor. 5:21).[36] Lebih lanjut dikatakan, kebenaran manusia semata-mata hanya oleh anugerah Allah, tanpa pekerjaan, jasa, atau kebajikan kita yang mendahuluinya sehingga kita diterima oleh Allah ke dalam anugerah-Nya dan kita dianggap benar. Iman adalah satu-satunya alat dan jalan untuk menerima Kristus dan di dalam Yesus Kristus kita mendapatkan “kebenaran yang menolong di hadapan Allah” dan bahwa demi Yesus Kristus iman seperti itu diperhitungkan menjadi kebenaran (Rm. 4:5).[37]

Pada awal kehidupan Luther sebagai seorang biarawan, ia dikungkungi oleh perasaan bersalah yang muncul dari dirinya sendiri dan ketidakmampuannya untuk menemukan perdamaian dengan Allah. Selama periode kehidupannya ini, ia merasa sangat terganggu dengan persoalan tentang  dirinya sendiri dan tentang arti dari kalimat dalam Surat Paulus, “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rm. 1:17).[38] Tidak mengherankan jika Luther menyimpulkan bagian surat yang di dalamnya ia mencatat pencerahannya yang luar biasa itu dengan ungkapan:[39]

Kalau kamu mempunyai iman yang benar bahwa Kristus adalah Juruselamatmu, maka saat itu juga kamu menggapai Allah yang rahmani karena iman menuntun kamu masuk dan membukakan hati dan kehendak Allah sehingga kamu akan melihat anugerah yang murni dan kasih yang meluap. Hal ini adalah untuk melihat Allah dalam iman sehingga kamu akan memandang hati-Nya yang ramah, kebapaan, yang di dalamnya tidak ada kemurkaan maupun ketidakramahan. Ia yang melihat Allah sebagai yang murka tidak melihat Dia secara benar, tetapi melihat hanya melalui tirai, seolah-olah awan gelap telah turun melintasi wajah-Nya.

Pandangan Luther tentang pembenaran ini dimulai dalam kuliah-kuliah yang disampaikannya kepada mahasiswanya. Pada mulanya Luther adalah seorang pengikut yang setia dari pandangan via moderna. Allah telah mendirikan suatu perjanjian (pactum) dengan manusia. Melalui perjanjian itu Allah wajib membenarkan siapa saja yang mencapai persyaratan minimum tertentu (quod in se est). Akibatnya, Luther mengajarkan bahwa Allah memberikan anugerah-Nya kepada orang yang rendah hati sehingga semua orang yang merendahkan hatinya di hadapan Allah dapat mengharapkan untuk dibenarkan seperti yang sudah selayaknya. Oleh karena orang-orang berdosa melihat kebutuhan mereka akan anugerah dan datang kepada Allah agar Ia mengaruniakannya, maka ini berarti menempatkan Allah di bawah kewajiban untuk melakukan hal itu, dengan demikian membenarkan orang berdosa. Dengan kata lain, orang-orang berdosa memegang inisiatif, dengan datang kepada Allah: orang berdosa dapat melakukan sesuatu yang memberikan keyakinan bahwa Allah menjawab dengan membenarkan dia.[40]

Menurut Luther, iman yang benar membenarkan kita tanpa hukum Taurat dan perbuatan baik melalui anugerah Allah yang nyata di dalam diri Yesus Kristus (LW.25). Perbuatan baik sama seperti buah pohon. Buah pohon yang baik tidak membuat pohon yang baik, maka perbuatan baik tidak bisa membenarkan seseorang. Tetapi perbuatan baik datang dari orang yang telah dibenarkan oleh iman sama seperti buah pohon yang baik berasal dari pohon yang telah tumbuh dengan baik (LW. 35-36).[41] Luther mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak berbagian dalam keselamatan. Perbuatan baik merupakan hasil atau buah dari keselamatan, tetapi tidak pernah bagian keselamatan.[42] Bagi Lutheran, Hukum Taurat tidak dapat membebaskan kita dari dosa atau kebenaran kita, tetapi janji pengampunan dosa dan pembenaran telah diberikan oleh sebab Kristus. Dia telah diberikan kepada kita untuk mengadakan penebusan dosa duni ini dan telah dipilih sebagai perantara dan juru damai. Janji ini tidak bersyaratkan jasa kita, melainkan pengampunan dosa dan pembenaran diberikan dengan cuma-cuma. Seperti Paulus berkata, “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (Rm.11:6). Pendamaian tidak terletak pada jasa kita karena jika hal itu terletak pada jasa kita, maka hal itu menjadi tak berguna (Apol. IV.40-42).[43] Pembenaran itu bukan persetujuan terhadap satu lakon (perbuatan) yang tertentu melainkan terhadap pribadi itu keseleluruhan… Kita dibenarkan bila kita berpegang kepada Kristus, Juru-damai, dan percaya bahwa demi Dia, Allah bermurah hati kepada kita. Jangan diharapkan pembenaran tanpa Kristus, Juru-damai itu (Apol. IV. 222).[44]

Lebih dalam Luther mengatakan bahwa dalam pembenaran, Allah adalah aktif, dan manusia adalah pasif. Ungkapan “pembenaran oleh anugerah melalui iman” (sola fide) memberikan arti dari ajaran itu dengan lebih jelas; pembenaran orang berdosa didasarkan atas anugerah dan diterima melalui iman. Luther berkata, “Anugerah Allah yang membenarkan kita demi Kristus hanya melalui iman, tanpa perbuatan-perbuatan baik, sedangkan iman dalam pada itu berlimpah dalam perbuatan-perbuatan baik”. Artinya ajaran tentang pembenaran hanya oleh iman merupakan suatu penegasan bahwa Allah melakukan segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan. Bahkan iman itu sendiri adalah pemberian Allah, bukan perbuatan manusia.[45] Keyakinan Luther bahwa keselamatan hanya diperoleh berdasar kasih karunia melalui iman (sola gratia dan sola fide), diungkapkan dengan jelas di dalam penafsiran dan pengandalan gereja-gereja Lutheran atas Alkitab, dan dalam cara mereka merayakan Perjamuan Kudus. Di dalam pemberitaan Firman dan pelayanan Perjamuan Kudus selalu ditekankan pengakuan dosa dan pengampunan yang disediakan Allah lewat pengorbanan Kristus.[46]

Menurut Luther, hakikat pembenaran mengubah status sebelah luar dari orang berdosa dalam pandangan Allah (coram Deo), sedangkan kelahiran kembali mengubah sifat dasar bagian dalam dari orang berdosa itu.[47] Bagi Luther, orang-orang berdosa mempunyai kebenaran di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak mempunyai apa pun di dalam diri mereka yang dapat dianggap sebagai dasar bagi keputusan yang mahamurah dari Allah untuk membenarkan mereka. “Kebenaran yang asing dari Kristus” (iustitia Christi aliena) membuat jelas bahwa kebenaran yang membenarkan orang-orang berdosa adalah di luar mereka.[48] Bagi Luther, iman yang membenarkan tidak lain dari keyakinan akan kemurahan Allah yang mengampuni dosa demi Kristus. Trente sendiri sepenuhnya mengakui bahwa kehidupan Kristen dimulai melalui iman, jadi sebenarnya sangat dekat dengan pandangan Luther.[49] Bagi Luther, seseorang dapat benar-benar yakin akan keselamatannya. Keselamatan didasarkan pada kesetiaan Allah pada janji-janji kemurahan-Nya.[50]

Menurut Ernst Ziegler, istilah “pembenaran oleh iman” secara mencolok tidak terdapat di dalam tulisan-tulisan para reformator Swiss. Zwingli melihat Reformasi sebagai sesuatu yang mempengaruhi gereja dan masyarakat yang bersifat moral dan spiritual. Tekanan pembenaran iman tidak ditemukan dalam ajaran Zwingli. Namun bagi Zwingli, pembenaran iman itu cenderung untuk memperlakukan Kristus sebagai suatu teladan moral yang dari luar daripada suatu kehadiran yang pribadi sifatnya di dalam diri orang percaya. Tidak benar mengatakan bahwa Zwingli mengajarkan pembenaran oleh perbuatan dalam periode awal dari pembaruannya. Ide-ide Zwingli mengenai pembenaran iman ini lebih dekat dengan Luther. Bagi Luther, Kitab Suci menyatakan janji-janji Allah, yang memulihkan kembali dan menghiburkan orang percaya. Bagi Zwingli, Kitab Suci menyatakan tuntutan-tuntutan moral yang dibuat Allah untuk orang-orang percaya.[51]

Bagi Bucer,[52] pembenaran itu ada dua tahap yang dikenal dengan “pembenaran ganda” . Tahap pertama, “pembenaran orang yang tidak beriman” (iustificatio impii) yang terdiri atas pengampunan yang penuh kemurahan dari Allah atas dosa manusia (bagi Protestan: = “pembenaran”). Tahap kedua, “pembenaran orang salah” (iustificatio pii) yang terdiri atas suatu tanggapan ketaatan manusia akan tuntutan-tuntutan moral dari Injil (bagi Protestan: = kelahiran kembali). Dengan demikian, suatu hubungan kausal didirikan antara pembenaran dan kelahiran kembali. Orang berdosa tidak dapat disebut telah dibenarkan kecuali jika keduanya terjadi. Sedangkan menurut Calvin, iman mempersatukan orang pecaya dengan Kristus di dalam suatu “kesatuan mistis”. Persatuan dengan Kristus ini mempunyai dampak rangkap dua yang disebut sebagai anugerah ganda yakni: pertama, persatuan antara orang percaya dengan Kristus membawa secara langsung para pembenaran dirinya. Melalui Kristus orang percaya dinyatakan menjadi benar dalam pandangan Allah. Kedua, oleh karena persatuan orang percaya dengan Kristus, orang percaya itu mulai melakukan proses menjadi seperti Kristus melalui kelahiran kembali.

Pada umumnya Calvin sepakat dengan Luther dalam hal pembenaran oleh iman. Calvin juga menekankan pembenaran sebagai tindakan forensik (legal), di mana Allah mendeklarasikan orang berdosa yang percaya sebagai orang benar, suatu tindakan yang dimungkinkan berdasarkan anugerah Allah. Kontras dengan Luther, Calvin memulai doktrin keselamatan dengan pemilihan Allah atas orang berdosa. Calvin memahami pemilihan untuk keselamatan sebagai tanpa syarat, karena “apabila pemilihan bergantung pada iman dan perbuatan baik manusia, maka anugerah itu tidak cuma-cuma, dan pada faktanya akan berhenti menjadi anugerah“.[53] Menurut Calvin, manusia dikatakan dibenarkan di hadapan Allah, bila ia menurut penilaian Allah dianggap benar, dan karena kebenarannya itu berkenan pada Allah. Dan dibenarkanlah barangsiapa yang tidak dianggap sebagai orang yang berdosa, tetapi sebagai orang yang benar, dan karena itu dapat bertahan di hadapan peradilan Allah, tempat semua orang yang berdosa tersungkur. Jadi, barangsiapa dalam kehidupannya menunjukkan kemurnian dan kesucian yang begitu besar di hadapan Allah, dialah yang dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya.[54] Bagi Calvin,  hanya dengan perantaraaan kebenaran Kristuslah kita dapat dibenarkan di hadirat Allah. Sama artinya bila dikatakan bahwa manusia tidak benar dalam dirinya sendiri, tetapi karena kebenaran Kristus diperhitungkan kepadanya sehingga ia mendapat bagian di dalamnya.[55]

Doktrin keselamatan Calvin menghasilkan tonggak peringatan, di mana ia menghubungkan pembenaran dengan pengudusan. Kristus tidak membenarkan seseorang yang Ia tidak juga kuduskan. Pembenaran, menurut Calvin, menjadi motivasi seseorang untuk pengudusan. Meskipun pembenaran cuma-cuma, pengudusan menjadi respons ucapan syukur dari orang percaya.[56]

Pembenaran dapat dijabarkan sebagai tindakan di mana orang berdosa yang tidak benar dibenarkan di hadapan Allah yang kudus dan adil. Kebutuhan utama dari orang yang tidak benar adalah kebenaran. Kebenaran yang tidak dimiliki inilah yang disediakan oleh Kristus kepada orang berdosa yang percaya. Pembenaran berdasarkan iman saja berarti pembenaran yang terjadi oleh karena usaha Kristus semata-mata, bukan karena kebaikan kita atau perbuatan-perbuatan baik kita.

Fokus dari perihal pembenaran terletak pada pertanyaan usaha dan anugerah atau kasih karunia. Pembenaran berdasarkan iman berarti usaha yang kita lakukan tidak cukup baik untuk menghasilkan pembenaran. Paulus menyatakan sebagai berikut: “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Rm. 3:20). Pembenaran adalah forensik, yaitu kita dinyatakan, diperhitungkan atau dianggap benar pada waktu Allah mengaruniakan kebenaran Kristus pada diri kita. Kondisi yang dibutuhkan untuk ini adalah iman.

Teologi Protestan mengakui bahwa iman merupakan alat yang menyebabkan pembenaran, dengan demikian iman merupakan alat di mana karya Kristus teraplikasi di dalam diri kita. Teologi Katolik Roma mengajarkan bahwa baptisan merupakan penyebab utama untuk pembenaran dan bahwa sakramen pengakuan dosa merupakan penyebab kedua, dalam kaitan dengan pemulihan. (Teologi Katolik Roma melihat pengakuan dosa sebagai tingkat kedua dari pembenaran bagi mereka yang telah menghancurkan jiwa mereka, yaitu mereka yang telah kehilangan anugerah pembenaran karena melakukan dosa yang fatal, seperti membunuh). Sakramen pengakuan dosa menuntut usaha pemuasan di mana umat manusia mencapai usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan pembenaran. Pandangan Katolik Roma menerima bahwa pembenaran berdasarkan iman, tetapi menyangkali bahwa pembenaran itu hanya berdasarkan iman. Dengan kata lain, perbuatan-perbuatan baik perlu ditambahkan untuk dapat dibenarkan.

Iman yang membenarkan adalah iman yang hidup, bukan iman pengakuan yang kosong. Iman merupakan kepercayaan yang bersifat pribadi yang bergantung kepada Kristus saja untuk keselamatan. Iman yang menyelamatkan juga merupakan iman pertobatan yang menerima Kristus sebagai Juruselamat dari Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa kita tidak dibenarkan oleh karena perbuatan- perbuatan baik kita, tetapi dengan apa yang diberikan kepada kita berdasarkan iman, yaitu kebenaran Kristus. Sebagai sintesis, sesuatu yang baru ditambahkan pada sesuatu yang dasar. Pembenaran kita merupakan sintesis, oleh karena kita memiliki kebenaran Kristus yang ditambahkan kepada kita. Pembenaran kita adalah berdasarkan imputasi (pelimpahan), yang artinya Allah memindahkan kebenaran Kristus kepada kita berdasarkan iman. Ini bukan merupakan “legal yang bersifat fiksi.” Allah telah melimpahkan kepada kita karya Kristus yang nyata, dan sekarang kita telah menerima karya-Nya. Ini merupakan pelimpahan yang nyata.

1.5    PANDANGAN KATOLIK TENTANG AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

Ajaran pembenaran oleh iman di kalangan Katolik baru mulai dibicarakan setelah keluarnya ajaran Luther tentang pembenaran hanya oleh iman (sola fide). Mengapa Katolik menaruh perhatian atas ajaran pembenaran ini? Menurut Schmidt,[57] setidaknya ada tiga alasan yakni: pertama, pembenaran membutuhkan sebuah internalisasi kehidupan keagamaan, yang secara tajam berbeda dari bentuk eksistensi orang Kristen. Kedua, pembenaran memperbaiki aturan ilahi di dalam pembenaran, melawan kecenderungan pemusatan pada aturan manusia. Dan ketiga, pembenaran diperhitungkan sebagai sebuah deklarasi yang tersembunyi atas perang kepausan Roma. Sangat sedikit dokumen yang dipublikasikan Katolik yang membicarakan ajaran ini periode 1520-1545, misalnya karya Tommaso de Vio Cajetan, De fide et operibus (1532).

Menurut pemahaman GKR, rahmat Roh Kudus mempunyai kekuatan untuk membenarkan manusia, artinya Roh Kudus membersihkan dan memberikan kepada manusia “kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus“ (Rm. 3:22) melalui Pembaptisan.[58] Karya pertama rahmat Roh Kudus adalah pertobatan yang menghasilkan pembenaran. Manusia digerakkan oleh rahmat supaya mengarahkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari dosa. Dengan demikian manusia menerima pengampunan dan pembenaran dari atas. Inilah unsur-unsur dari “pembenaran itu sendiri, yang bukan hanya pengampunan dosa, melainkan juga pengudusan dan pembaharuan manusia batin” (Konsili Trente: DS 1528). Pembenaran melepaskan manusia dari dosa, yang berlawanan dengan kasih kepada Allah dan memurnikan hatinya. Pembenaran terjadi karena prakarsa-prakarsa kerahiman Allah yang menawarkan pengampunan. Pembenaran mendamaikan manusia dengan Allah, membebaskannya dari kuasa dosa dan menyembuhkannya.[59]

Pembenaran serentak berarti bahwa orang menerima kebenaran Allah melalui iman akan Yesus Kristus. “Kebenaran” menyatakan keluhuran kasih ilahi. Pembenaran diperoleh bagi kita melalui sengsara Kristus, yang menyerahkan Diri di salib sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah dan yang darah-Nya telah menjadi alat pemulih bagi dosa semua manusia. Pembenaran itu diberikan kepada manusia melalui Pembaptisan dan Sakramen iman. Tujuan pembenaran itu sendiri adalah untuk kemuliaan Allah dan Kristus demikian juga kehidupan abadi (Konsili Trente: DS 1529).[60]

Lebih jauh menurut pemahaman Katolik, pembenaran mendasari satu kerja sama antara rahmat Allah dan kebebasan manusia. Ia terungkap dalam kenyataan bahwa manusia dengan percaya menerima Sabda Allah, yang mengajaknya untuk bertobat dan bahwa ia bekerja sama dalam kasih dengan dorongan Roh Kudus, yang mendahului persetujuan kita dan menopangnya.[61] Katolik mengakui, pembenaran adalah karya kasih Allah yang paling agung. Ia diwahyukan dalam Yesus Kristus dan diberikan oleh Roh Kudus. Santo Augustinus beranggapan bahwa “pembenaran seorang yang hidup tanpa Allah adalah karya yang jauh lebih besar daripada penciptaan langit dan bumi”, karena “langit dan bumi akan lenyap, sementara keselamatan dan pembenaran orang terpilih akan tetap tinggal”. Malahan Augustinus berpendapat, pembenaran orang berdosa melampaui penciptaan para malaikat dalam kebenaran, karena ia memberi kesaksian mengenai kerahiman yang lebih besar lagi.[62]

Bagi Katolik, pembenaran “bukanlah hanya suatu pengampunan dosa tetapi juga penyucian dan pembaruan kembali dari batin seseorang melalui penerimaan yang sukarela dari anugerah dan pemberian yang menyebabkan seseorang yang tidak benar menjadi seorang yang benar”. Pembenaran sangat erat dihubungkan dengan sakramen baptisan dan penebusan dosa. Orang berdosa mula-mula dibenarkan melalui baptisan: namun, oleh karena dosa, pembenaran itu dapat hilang. Walaupun demikian, pembenaran itu dapat dibarui kembali dengan sakramen penebusan dosa.[63]

2.      SEJARAH DEKLARASI BERSAMA TENTANG AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

Pertikaian doktrin di antara GKR dan Protestan ini tidak perlu lagi diperpanjang. Perobahan dunia yang semakin cepat menuntut manusia mencari titik-titik temu yang bisa mempersatukan perbedaan yang ada baik di dalam sesama agama maupun jika memungkinkan di antara berbagai agama. Misalnya saja, salah satu usaha untuk mempertemukan GKR dan Protestan yang ‘bertikai’ selama ± 450 tahun ialah dengan dibukanya pintu dialog Katolik-Lutheran dalam bidang doktrin pembenaran oleh iman.

Salah satu hasil gerakan ekumenis yang paling menonjol adalah adanya konsensus yang dicapai atas masalah-masalah yang telah memisahkan gereja-gereja sejak abad ke 16, yaitu ajaran mengenai pembenaran, hakikat ekaristi, teologi dan struktur pelayan tertahbis, pelaksanaan kewenangan pejabat gereja, soal uskup, bahkan masalah kedudukan Paus sebagai pemimpin umat Kristiani universal. Sejumlah besar kemajuan telah dicapai selama bertahun-tahun dalam kesepakatan-kesepakaan yang dikerjakan antara para wakil dan teolog Gereja, tetapi belum ada juga yang belum bisa diterima resmi oleh Gereja-Gereja yang mensponsori dialog.

2.1    CIKAL-BAKAL LAHIRNYA DEKLARASI BERSAMA

Sebelum Deklarasi Bersama (DB) ini tercapai, kedua belah pihak Protestan dan Katolik telah memulai pembicaraan tentang DB ini. Di satu sisi, sejumlah teolog GKR telah berusaha membahas topik pembenaran ini sejak tahun 1960-an yang dipublikasikan melalui disertasi. Dua orang di antara mereka adalah: pertama, disertasi Otto H.Pesch,[64] yang menulis disertasinya setebal 1000 halaman tahun 1967 yang membahas ‘memperbaiki perbedaan’ di antara Luther dan Thomas Aquinas tentang dokrin pembenaran. Dalam karyanya ini, Pesch membicarakan sejumlah unsur doktrin pembenaran yang tersembunyi dalam DB, misalnya: hukum Taurat dan Injil / hukum Taurat dan anugerah; kuasa dosa; Propter Christum/Kristus sebagai penebus; pembenaran oleh iman/pembenaran oleh anugerah; pribadi yang berobah/pribadi yang dioperasikan anugerah. Kedua, disertasi Prof. Joseph Ratzinger (paus sekarang) di Bonn yang menginvestigasi Konfesi Augsburg (25 Juni 1530) dan respons apologetik Katolik terhadap Konfesi Augsburg tersebut. Di sisi lain, teolog Lutheran juga melakukan pembahasan DB sejak tahun 1960-an, misalnya studi atas pemikiran Thomas Aquinas oleh Hans Vorster dan Ulrich Kuhn.[65]

Usaha dialog Protestan-Katolik ini besar kaitannya dengan ulasan Hans Küng[66] dalam tesis doktoralnya yang berjudul The Doctrine of Karl Barth and a Catholic Reflection (“Pembenaran Doktrin Karl Barth dan sebuah refleksi Katolik“).[67] Dalam tesisnya ini, Küng mencoba membuka peluang dialog antara Protestan-Katolik mengenai doktrin pembenaran oleh iman itu. Küng memaparkan hal-hal yang bisa membuka peluang untuk dialog itu dengan mengatakan bahwa apa yang diputuskan di dalam Konsili Trente tentang ajaran pembenaran iman Reformasi merupakan keputusan yang salah, karena keputusan itu didasarkan atas kesalahpahaman dan kekurang-mengertian tentang ajaran pembenaran iman itu sendiri. Padahal, di dalam deklarasi Lutheran–GKR Malta Report disebutkan:  “Lutheran dan GKR setuju bahwa Injil adalah dasar atas kebebasan Kristen. Kebebasan ini digambarkan di dalam Perjanjian Baru (PB) seperti bebas dari dosa, bebas dari kuasa Hukum Taurat, bebas dari kematian, dan kebebasan melayani Allah dan sesama manusia….”[68]

Harus diakui, pemrakarsa dialog Lutheran-Katolik ini adalah dari kalangan Lutheran itu sendiri. Pada tahun 1972 sebuah pernyataan dipublikasikan oleh Komite Studi Bersama yang diundang oleh Federasi Gereja-gereja Lutheran Se-Dunia (The Lutheran World Federation [LWF]) dan Sekretariate Promosi Kesatuan Gereja Kristen (The Secretariat for Promoting Christian Unity [SPCU]). Inilah yang dikenal dengan Laporan Malta (Malta Report), yang draft akhir dokumen ini selesai dikerjakan di San Anton, Malta, tahun 1971 dan dipublikasikan atas nama ‘The Gospel and the Church’. Ulasan tentang pembenaran sangat singkat sekali, dan mengatakan, “today … a far-reaching consensus is developing in the interpretation of justification”.[69]

Setelah Laporan Malta tahun 1971, dialog internasional Lutheran-Katolik mulai produktif dilakukan dalam fase kedua. Peringatan 450 tahun Konfesi Augsburg tahun 1980 di bawah tema ‘Seluruhnya di bawah Satu Kristus’ menghasilkan sebuah deklarasi:[70]

A broad consensus emerges in the doctrine of justification, which was decisively important for Reformation (CA IV): it is solely by grace and by faith in Christ’s saving work and not because of any merit in us… Together we testify that the salvation accomplished by Christ in his death and resurrection is bestowed on and effectively appropriated by humanity in the proclaim of the gospel in the holy sacrament through the Holy Spirit.

2.2    DIALOG-DIALOG

Sejak Konsili Vatikan II, perubahan iklim dialog pun mulai berubah. Salah satu dialog yang terbaik terjadi di Amerika antara GKR dan Lutheran World Ministries, cabang Lutheran World Federation.  Seri ketujuh pertemuan ini disempurnakan tahun 1983 yang diberi judul Pembenaran Iman (Justification by Faith). Pernyataan umum pertemuan ini diterbitkan pada tahun itu dan dua tahun berikutnya dalam sebuah volume dokumen. Evangelical Lutheran Church of America (ELCA) sangat merespons dialog ini dengan positif. Menurut mereka, Injil seharusnya berfungsi sebagai kritik norma bagi seluruh orang percaya Kristen dan mempraktikkannya. Setahun berikutnya, respons lainnya bermunculan seperti dari Komisi Teologi dan Hubungan Gereja dari Gereja Lutheran Sinode Missouri (LCMS). Menurut mereka, Katolik dan Lutheran semakin dekat hubungannya sejak perjanjian Regensburg.[71] Dalam dialog ini, tercapailah sebuah Pernyataan Umum (Common Statement) yang terdiri dari tiga bab yakni: bab pertama membahas “Sejarah Perdebatan dari Augustinus hingga kini”. Bab kedua, membahas enam isu kunci: (1) Kesalahan atau kebenaran hukum; (2) orang berdosa yang dibenarkan; (3) Iman sendiri; (4) Perbuatan baik; (5) Kepuasan; (6) Pembenaran sebagai kriteria Injil yang otentik. Kesimpulan bab dua ini adalah: Lutheran dan Katolik dapat berbagi di dalam setiap perhatian masing-masing pada pembenaran dan dapat saling mengakui legitimasi perbedaan perspektif teologi dan struktur pemikiran masing-masing. Bab ketiga membahas “Perspektif bagi Rekonstruksi”.[72]

Perkembangan selanjutnya, pada awal tahun 1980-an, ketika diskusi Katolik–Protestan berlangsung di Amerika, di Jerman telah diadakan sebuah pertemuan Komisi Bersama Ekumenis (Joint Ecumenical Commission) pada tahun 1986 yang membahas Pengujian pengutukan-pengutukan pada abad keenambelas.[73] Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Paus ke Jerman tahun 1980. Tugas kelompok ini adalah melihat secara khusus isu pengutukan pada abad keenambelas oleh kedua belah pihak, baik dari Katolik maupun Protestan. Konsili Trente misalnya, mengutuk setiap pernyataan orang Protestan. Apakah seluruh pengutukan itu masih berlaku hingga sekarang? Kelompok ini meneliti pengutukan ini dari tiga subjek yakni: pembenaran, sakramen dan pelayanan. Tahun 1985, Komisi ini menghasilkan Laporan Singkat Akhir yang diterbitkan di Jerman tahun 1986 yang terdiri dari lima belas esei tentang pembenaran. Laporan Akhir dari komisi ini melahirkan kontroversi, khususnya di kalangan Protestan Jerman. Respons terhadap laporan ini datang dari Sinode Am Persekutuan Gereja Evangelikal Lutheran di Jerman tahun 1994. Mereka mengidentifikasikan empat perbedaan di antara Protestan (Lutheran dan Reformed) dan Katolik tentang anugerah dan iman yaitu:[74]

  1. Pengertian anugerah sebagai pemberian Allah kepada manusia (extra nos), atau sebagai ‘realitas di dalam jiwa manusia’ (qualitas in nobis).
  2. Pengertian iman sebagai percaya pada firman Allah yang dijanjikan dalam Injil, atau ‘menyetujui pengertian pengungkapan firman Allah’ yang ditemukan di dalam pengharapan dan kasih.
  3. Pengertian tentang hubungan manusia pada Allah.
  4. Pengertian tentang hubungan dan perbedaan hukum dan Injil.

Dua tahun kemudian, Konferensi Bishop Katolik Jerman membicarakan respons positif tentang masalah ini dengan berdialog. Paus mendorong dialog tentang topik pembenaran ini dengan pihak Protestan Jerman tahun 1996. Akhirnya, respons Katolik terhadap dialog inilah yang melahirkan Deklarasi Bersama (Joint Declaration) itu.

Selain itu, pada tahun 1986 Anglican-Roman Catholic International Commission (ARCIC II) kedua menghasilkan sebuah Pernyataan Persetujuan yang berjudul Keselamatan dan Gereja yang diterbitkan pada tahun 1987.[75] Gereja dan keselamatan menelusuri aturan gereja dalam keselamatan. Kesimpulannya adalah visi gereja sebagai sakramen keselamatan dan khususnya dimensi sakramen pembenaran manusia dan pengudusan adalah samar-samar dan lemah untuk mengizinkan kita untuk menegaskan bahwa ARCIC-II telah tiba pada persetujuan substansial.

Proses lahirnya DK ini juga erat kaitannya dengan dialog Komite Gereja Katolik Roma Inggris–Methodis (1988/1992) yang mendiskusikan tema pembenaran pada sejumlah pertemuan mereka dari musim gugur 1983.[76] Diskusi tentang topik ini sangat sulit dan pada tahun 1988 mereka menghasilkan ‘pernyataan sementara’ tentang pembenaran ini. Empat tahun kemudian, Komite ini menyetujui revisi dan perkembangan pernyataan ini dan mempublikasikan ulang dalam bentuk yang baru. Dokumen ini mencatat bahwa pembenaran adalah kategori yang penting bagi Protestan, tetapi tidak pernah menjadi sebuah kategori kunci bagi Katolik. John Wesley pada awalnya menyetujui pemikiran Luther, namun kemudian dia mengkritik Luther dan mengembangkan sebuah doktrin yang baru yaitu pengudusan yang sangat berkaitan dengan ajaran Katolik.

Dari tahun 1986 hingga 1993, Komisi Bersama Lutheran-Katolik Roma telah bertemu membahas hubungan di antara pembenaran dan eklesiologi yang menghasilkan laporan yang sangat panjang yang dipublikasikan di Jerman tahun 1994 dan di dalam bahasa Inggris pada tahun yang sama. Sebuah konsensus dalam doktrin pembenaran harus membuktikan dirinya sendiri secara eklesiologis. Doktrin gereja dan pembenaran harus dimengerti dalam terang keduanya. Dalam dokumen ini ada dua pertanyaan dari kedua belah pihak: Katolik bertanya apakah pemahaman Lutheran  tentang pembenaran tidak mengurangi realitas gereja; Lutheran bertanya apakah pengertian Katolik tentang gereja tidak mengaburkan Injil sebagai doktrin pembenaran menjelaskan gereja.[77]

Sementara dialog Lutheran–Katolik berlangsung, Gereja Evangelikal dan Katolik Roma di Amerika juga melakukan diskusi informal. Orang-orang yang terlibat di dalamnya merupakan yang sangat berpengaruh seperti J.J.Packer dan Avery Dulles, tetapi diskusi mereka ini masih bersifat pribadi bukan bersifat lembaga. Pernyataan pertama adalah Katolik dan Evangelikal Bersama (Evangelicals and Catholics Together [ECT]), yang berlangsung pada tanggal 29 Maret 1994. Pernyataan ini diproklamirkan delapan pimpinan gereja Evangelikal dan tujuh pimpinan gereja Katolik Roma yang dipimpin oleh Charles Colson dan Richard John Neuhaus. Dokumen ini berisikan ringkasan pernyataan tentang pembenaran: “Kami menyatakan bersama bahwa kami dibenarkan oleh anugerah melalui iman sebab Kristus. Iman yang hidup adalah aktif di dalam kasih…“ Namun dokumen ini dikritik oleh beberapa pemimpin gereja Evangelikal dengan membuat tujuh pernyataan Resolusi atas Dialog Katolik Roma dan Evangelikal yang ditandatangani tahun 1994 oleh 33 pemimpin gereja Evangelikal.[78] Dialog Gereja Lutheran-Katolik Roma di Amerika Serikat tahun 1978 tentang pembenaran dan pada tahun Luther tahun 1983, telah menerbitkan pernyataan-pernyataan yang disetujui mengenai pokok-pokok iman, Ekaristi sebagai kurban, pelayanan tahbisan, pelayanan oleh Paus, ajaran ketidaksesatan Paus, pembenaran, maupun mengenai Maria dan para santo. Dialog Lutheran-Katolik Roma di Amerika Serikat telah mengungkap minat akan kepemimpinan paus yang diperbarui dalam terang injil bagi Gereja masa depan. Pernyataan Amerika ini dimulai dengan sejarah permasalahan pada abad keduapuluh, yang menempatkan para Reformer dan Trente dalam konteks perkembangan yang luas. Hal-hal yang dibahas dalam pernyataan ini adalah:[79] (1) Forensik Pembenaran, (2) pembenaran orang berdosa, (3) kecukupan iman, (4) jasa baik, (5) kepuasan, dan (6) pembenaran oleh iman sebagai kriteria otentisitas orang Kristen.

2.3    LAHIRNYA DEKLARASI BERSAMA (DB)

Lahirnya DB ini sangat dipengaruhi oleh kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Jerman pada tanggal 17 November 1980 dengan mengadakan pertemuan dengan Gereja Lutheran dan Reformed (Calvinis) di Mainz. Pada saat itu, Landesbischof Eduard Lohse – ketua Dewan Gereja Evangelikal Jerman [The Council of the Evangelical Church in Germany (EKD)] – menyampaikan kebutuhan kerja sama yang lebih baik dengan GKR pada Ibadah Minggu, Perjamuan Kudus dan perkawinan campur.

Maka dibentuklah sebuah Komisi Ekumenis Bersama (A Joint Ecumenical Commission). Komisi ini mengadakan pertemuan pertama pada tanggal 6-7 Mei 1981. Ketua pertemuan ini adalah Bishop Lohse dari Hannover dan bishop GKR Munich, Cardinal Joseph Ratzinger. Pada pertemuan ini dirasakan sangat perlu membahas penghapusan pengutukan-pengutukan mengenai doktrin, hal-hal praktis dalam pengakuan Lutheran abad keenambelas dan GKR.

Sejak tahun 1990-an telah dimulai gerakan dialog tentang Deklarasi Bersama, yang dibangun dalam dokumen-dokumen sebelumnya, khususnya laporan Pembenaran Iman Amerika dan laporan pengutukan-pengutukan Jerman. Tahun 1993 Lutheran-Katolik membentuk Komite Koordinasi Bersama (Joint Coordinating Committee). Komite Nasional Amerika mengirim surat segera setelah Sekjen LWF meminta penasihat LWF atas proposal ekumenikal ELCA (Evangelical Lutheran Church of Amerika) mengenai kemungkinan deklarasi ketidaklayakan pengutukan Lutheran pada GKR saat ini.

Tahun 1995 sebuah draft telah dibagikan pada gereja-gereja untuk dibahas dan dikomentari.  Dan pada tahun 1997, Deklarasi Bersama ini dipublikasikan yang diikuti dengan berbagai diskusi. LWF telah meminta anggota-anggota gereja LWF untuk memberi masukan dan jawaban bulan Mei 1998 apakah anggota-anggota gereja LWF menerima kesimpulan deklarasi bersama tersebut. Sebuah diskusi yang hangat terjadi di Jerman seperti pertemuan yang diprakarsai Frankfurter Allgemeine Zeitung. Pada bulan Januari 1998 sebuah kelompok lebih dari 150 teolog yang dipimpin Gerhard Ebeling dan Eberhard Jungel, menandatangani pernyataan oposisi pada Deklarasi Bersama ini. Tetapi akhirnya, pada saat sinode Gereja-gereja Lutheran Jerman ternyata akhirnya mereka menerima Deklarasi Bersama ini melalui pemungutan suara. Para teolog tidak merasa puas, sehingga tahun 1999 lebih dari 250 teolog menandatangani sebuah dokumen memprotes dan melawan Deklarasi Bersama itu. Dari seluruh respons yang diterima LWF dari seluruh anggota-anggota LWF, maka pada bulan Juni 1998  LWF mengeluarkan respons resmi dari LWF terhadap deklarasi ini. Sementara di pihak Katolik, penerimaan deklarasi ini tidak begitu dramatik. Gereja Katolik juga mengeluarkan sikap resmi mereka terhadap deklarasi ini pada bulan Juni 1998. Tetapi respons Katolik ini tidak sepositif respons dari gereja Lutheran.[80]

Deklarasi Bersama ini juga merupakan hasil dari kerjasama dengan Pontifical Council for Promoting Christian Unity.  Kedua lembaga ini sangat berperan aktif untuk mensosialisasikan dokumen ini di dalam berbagai kegiatan, seperti konsultasi di Columbus, Ohio, USA pada tanggal 27-30 November 2001.

Dari kiri: Bishop Dr. Christian Krause dan Edward Idris Cardinal Cassidy menandatangani Deklarasi Bersama [The Joint Declaration on the Doctrine of Justification (JDDJ)]

Deklarasi Bersama ini bersama dengan Pernyataan Resmi Lembaga dan Annex, ditandatangani di Augsburg pada Hari Reformasi, 31 Oktober 1999. Beberapa minggu kemudian, Paus Johanes Paulus II mengatakan kepada Presiden LWF bahwa dokumen ini tanpa diragukan lagi menjadi dasar yang kokoh dalam langkah dialog ekumenis selanjutnya.

Deklarasi Bersama ini berisikan Pembukaan yang berisikan konteks deklarasi bersama dalam dialog pendahuluan. Bagian pertama membahas “Pesan Alkitab tentang Pembenaran“ dan diikuti bagian kedua ringkasan “Doktrin Pembenaran sebagai masalah Ekumenis”. Bagian ketiga berisikan “Pengertian Pembenaran Iman masa kini“:[81]

Bersama kami mengaku: hanya dengan anugerah, di dalam iman dalam karya penyelamatan Kristus dan bukan sebab kebaikan dalam kehidupan, kami diterima Allah dan menerima Roh Kudus, yang membarui hati kami yang memperlengkapi dan memanggil kami melakukan perbuatan baik.

Dari kiri: Pdt. Dr. Ishmael Noko dan Bishop Dr. Walter Kasper menandatangani  Deklarasi Bersama

Bagian keempat berisikan “Perkembangan Pengertian Pembenaran”. Bagian ini memfokuskan pembahasan pada tujuh isu yakni: (1) Kekuatan manusia dan dosa dalam hubungannya dengan pembenaran, (2) Pembenaran sebagai penghapusan dosa dan membuat benar, (3) Pembenaran oleh iman dan anugerah, (4) Dibenarkan sebagai pendosa, (5) Hukum Taurat dan Injil, (6) Jaminan keselamatan dan (7) Pekerjaan baik yang dibenarkan. Bagian kelima berisikan “Pengaruh dan cakupan Jangkauan Konsensus”. Deklarasi bersama ini juga berisikan “Sumber-sumber bagi Deklarasi Bersama tentang pembenaran” dan dalam dokumen ini juga dilampirkan “Pernyataan Resmi Lembaga” seperti dari LWF.[82]

3.      RESPONS TERHADAP DEKLARASI BERSAMA TENTANG AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

Ada banyak yang memberikan respons terhadap DB ini, baik yang sifatnya positif maupun negatif.  Dari sisi positif, Bishop Paul-Werner Scheele, seorang Katolik mengatakan, “I am convinced that October 31, 1999 was a kairos not only for Catholic and Lutheran Christians but for the whole of Christianity”.[83] Demikian juga pendapat seorang Reformed, Anna Case-Winters yang mengatakan, “Joint Declaration is a truly remarkable step was taken in advancing the unity of the church”.[84] Menurut Case, DB ini memberikan peluang bagi World Alliance of Reformed  Churches (WARC) untuk merespons DB, sebab dokumen DB ini merupakan dokumen terbuka untuk mengundang setiap orang untuk menyatu di dalamnya.[85] Reaksi positif juga diberikan oleh berbagai gereja di dunia ini seperti yang di Inggris, Brazil, Argentina, Chile, El Salvador, Venezuela, Australia, New Zealand dan Bangladesh.

LWF sendiri sangat menyambut baik hasil dokumen DB ini. Bahkan LWF memiliki tujuan: (1) untuk menyediakan bimbingan studi dan media lainnya dan menjadikan DB menjadi bagian katekisasi dan program pendidikan bagi orang dewasa. (2) Menciptakan petunjuk pelaksanaan liturgi dan sumber-sumber yang dihubungkan dengan DB yang adaptatif pada gereja-gereja lokal. (3) Mendesain pengertian bagi representasi dari anggota Gereja-gereja untuk membagikan bagaimana mereka menerima DB.[86]

Dari sisi negatif, di Jerman, sekitar 243 akademisi dari teolog Protestan dari berbagai fakultas teologi Protestan mengkritik dokumen DB ini.[87] Dari kalangan Katolik Jerman, reaksi kritikan hanya datang dari “Vereinigung der Initiativkreise der Katholischen Laien und Priester“. Penilaian lainnya diberikan oleh Lane[88] yang mengatakan bahwa: pertama, teologi GKR secara signifikan bergerak semakin dekat kepada doktrin Protestan. Kedua, GKR pada level tertinggi telah membuat perobahan yang signifikan dalam arahan ini, dalam DB, yang menyatakan bahwa doktrin Protestan bukan lagi untuk dikutuk.

4. PENGARUH DEKLARASI BERSAMA TENTANG AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN

Setelah memperhatikan sejarah DB di atas, maka akan timbul pertanyaan bagi kita sekarang, apakah pengaruh DB ini bagi umat Protestan-Katolik? Pengaruh yang sangat besar bagi kedua belah pihak adalah terciptanya sebuah “kesatuan di dalam iman” (unity in faith). Kesatuan iman bukan berarti kesatuan organisasi Gereja. Kesatuan iman adalah pusat dari DB, sebuah elemen kesatuan Gereja yang dapat dilihat (visible), misalnya persekutuan di dalam sakramen-sakramen, kesatuan di dalam pelayanan.

Sejak dideklarasikannya DB ini, maka banyak negara yang merasakan pengaruh ajaran ini di dalam kehidupan bermasyarakat dan  beriman mereka. Misalnya, di Amerika Latin, dalam kenyataannya, mereka tidak menjamin bahwa setiap orang diperlakukan menurut apa yang mereka peroleh. Seorang ibu tidak dihargai di dalam berbicara. Oleh sebab itu, doktrin pembenaran ini sangat dibutuhkan dalam politik dan bidang lainnya di Amerika Latin.[89] Pengaruh DB ini juga terlihat di beberapa negara lainnya seperti di Amerika Utara, Kanada, Namibia, Nigeria, dan Jerman.

Jika kita melihat di Indonesia, apakah pengaruh DB ini bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa? Konsep DB ini di Indonesia tidak begitu kelihatan pengaruhnya secara langsung bagi masyarakat itu sendiri. Pengaruh dokumen ini kelihatan dalam lingkungan orang Kristen saja. Kita ambil contoh, dokumen-dokumen yang ada dalam lembaga-lembaga ekumenis sudah menunjukkan adanya kerinduan untuk mencapai kesatuan iman. PGI dalam Keputusan Sidang Raya XIV PGI di Wisma Kinasih, 29 November – 5 Desember 2004 telah memutuskan sebuah Dokumen Keesaan Gereja.[90] Dalam dokumen ini sudah terlihat adanya harapan untuk mencapai suatu kesatuan iman di seluruh anggota PGI. Dokumen Keesaan Gereja tersebut memuat beberapa keinginan untuk menyatu di bidang: (1) Pokok-Pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB), (2) pemahaman bersama iman Kristen, (3) Oikumene Gerejawi, dan (4) Tata Dasar PGI.

Pengaruh lain hubungan Protestan dengan Katolik juga tampak semakin baik. Misalnya, dahulu jika seorang pemuda Protestan menikah dengan gadis Katolik, maka oleh gereja si pemuda tadi akan mengenakan sanksi siasat gereja kepada yang bersangkutan dengan mengeluarkannya dari keanggotaan jemaat. Demikian juga sebaliknya, Katolik akan mengenakan hukuman siasat gereja kepada salah seorang warganya yang menikah dengan orang Protestan. Artinya, kedua belah pihak tidak saling mengakui keabsahan perkawinan dua orang jemaat yang tidak seiman dengan mereka. Namun sekarang, hal itu telah mengalami perobahan. Baik Protestan maupun Katolik telah mengakui keabsahan perkawinan warga jemaat yang menikah dengan agama Katolik dan atau Protestan tanpa mengenakan hukum siasat Gereja kepada yang bersangkutan.[91]

Tidak hanya dalam hal perkawinan hal ini berlaku, ke hal-hal lainnya seperti: baptisan, sidi, Perjamuan Kudus, pelayan Gereja pun sudah saling mengakui dan saling menerima.[92]


[1] Lih. Kurt Aland, A History Of Christianity, (Philadelphia: Fortress Press, Vol.II, 1986), hlm.43-75.

[2] Team Penyusun Kamus, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Ed. Ke-2, Cet.4, 1995), hlm. 114.

[3] Gerald O’Collins & Edward G.Farrugia, Kamus Teologi, (terj. I.Suharyo) (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 237.

[4] W.R.F.Browing, Kamus Alkitab, (terj. Lim Khiem Yang & Bambang Subandrijo) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), hlm.315.

[5] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (terj.Liem Sien Kie) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hlm.115-117.

[6] Henry C.Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2008), hlm. 421.

[7] George Eldon Ladd, A Theology of  the New Testament, (Grand Rapids: Wm.B.Eerdmans Publishing Co., 1974), hlm.437.

[8] Henry C.Thiessen, Teologi Sistematika, hlm. 422-424.

[9] bnd. Pendapat Ladd, “Doktrin pembenaran berarti bahwa sekarang ini Allah telah menyatakan pembebasan orang beriman dari penghukuman pada akhir zaman, bahkan sebelum penghukuman akhir itu terjadi.“ (George Eldon Ladd, A Theology of  the New Testament, hlm.437).

[10] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 4: Doktrin Keselamatan, (Surabaya: Momentum, cet.ke-6,2006), hlm. 217.

[11] Millard J.Erickson, Teologi Kristen, (terj. Nugroho) (Malang: Penerbit Gandum Mas, Vol.3, 2004), hlm. 173. Millard mengutip pendapatnya ini dari Francis Brown, S.R.Driver, & Charles A.Briggs, Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, (New York: Oxford University, 1955), hlm. 842-843; J.A.Ziesler, The Meaning of Righteousness in Paul, (Cambridege: Cambridge University, 1972), hlm. 18.

[12] Louis Berkhof, Op.Cit., hlm. 218-219.

[13] Millard J.Erickson, Op.Cit., hlm. 176-177.

[14] Bnd. R.Sudarmo, IkhtisarDogmatika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 210-212. Menurut Sudarmo, di dalam pembenaran kita dapat membedakan 3 unsur: (1) Allah Bapa yang membenarkan, yaitu: Ia yang menganggap hak Tuhan Yesus Kristus sebagai hak orang percaya. (2) Kristus yang membenarkan, artinya: Ia juga  mencapai segala sesuatu hingga tidak dapat  diberikan kepada manusia. (3) Roh Suci membenarkan, yaitu: Ia yang melanjutkan, mengenakan pembenaran kepada orang percaya, hingga orang yang  dibenarkan merasakan kegirangan.

[15] Peter Toon, Justification and Sanctification, (London: Marshall Morgan & Scott, 1983), hlm.13.

[16] Ibid., hlm. 14.

[17] Ibid., hlm.21.

[18] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Galatia dan Efesus, (terj. S.Wismoady Wahono) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm. 34.

[19] J.J.Gunning, Tafsiran Alkitab: Surat Galatia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), hlm. 36.

[20] Ibid., 38-39.

[21] Th.van den End, Tafsiran Alkitab: Surat Roma, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), hlm. 142-148.

[22] Christian Tanduk, “Iman, Perbuatan dan Pembenaran”  dalam http: // forumteologi.com / blog / 2007/04/24/ iman-perbuatan-dan-pembenaran.

[23] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Roma, (terj. Nanik Hardjono & Jakub Susabda) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm. 92.

[24] Th.van den End, Tafsiran Alkitab: Surat Roma, hlm. 151.

[25] Bnd. H.P.Hamann & W.J.Hassold, ChiRho Commentary Series: James-Jude, (Adelaide: Lutheran Pubishing House, 1986), hlm. 38-42.

[26] Walter A. Elwell, EDBT: “James” (G.R. Michigan: BakerBook, 1996), 386-387; bnd. J.J.Guning, Tafsiran Alkitab: Surat Yakobus, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), hlm. 33. Paulus dan Yakobus setuju dalam hal berikut: perbuatan-perbuatan harus ada. Tetapi mereka berbeda dalam menghadapi ketidak-adaan perbuatan itu.  Yakobus memberikan kesan bahwa kita harus menyempurnakan iman dengan perbuatan, barulah kita akan dibenarkan. Paulus akan tetap mempertahankan: bila perbuatan-perbuatan sudah mulai mempunyai peran dalam hal keselamatan, maka iman itu sendiri akan dirugikan.

[27] Peter Toon, Justification and Santification, hlm.45.

[28] Anthony N.S.Lane, Justification by Faith in Catholic–Protestant Dialogue, An Evangelical Assesment, (London: T & T Clark, 2002), hlm.45.

[29] Lih. Augustinus, Pengakuan-Pengakuan, (terj.Ny.Winarsih Arifin & Th.van den End) (Jakarta & Yogyakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius, 1997), hlm.243-244.

[30] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika: Ekonomi Keselamatan, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), jilid 2, hlm.155-156; bnd. L.Berkhof, The History of Christian Doctrines, (Grand Rapids Michigan: Wm.B.Eerdmans Publishing Company, 1953), hlm.135.

[31] Peter Toon, Justification and Santification, hlm.48-50.

[32] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 19.

[33] Peter Toon, Justification and Santification, hlm.50-54.

[34] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, hlm.111.

[35] The Augsburg Confession, (Adelaide: Lutheran Publishing House, 1980), hlm. 11; The Book of Concord, (terj.Theodore G.Tappert) (Philadelphia: Fortress Press, 1976), hlm. 31.

[36] The Book of Concord, hlm. 472-473.

[37] Ibid.,, hlm. 473-474.

[38] Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, (terj. Liem Sien Kie), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hlm. 155. Luther menulis kerisauannya sendiri sebagai berikut: Aku sangat rindu untuk memahami Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dan tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya kecuali pernyataan tersebut, “kebenaran Allah”, karena aku mengambilnya dengan arti bahwa kebenaran di mana Allah itu benar dan bertindak adil dalam menghukum orang yang tidak benar.

[39] Linwood mengutip tulisan Roland Bainton, Here I Stand: A Life of Martin Luther, (New York: Abingdon Press, 1950), hlm.66 (Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, hlm. 157).

[40] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.117-119.

[41] Luther’s Works, (ed. Lewis W.Spitz) (Philadelphia: Muhlenberg Press, vol.34, 1960), hlm.111.

[42] Paul Enns, The Moody Handbook of Theology 2, (terj. Rahmiati Tanudjaja) (Malang: Literatur SAAT, cet.ke-4, 2007), hlm.79.

[43] G.D.Dahlenburg, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 38-39.

[44] Ibid., 40.

[45] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.129.

[46] Jan S.Aritonang, Berbagai Aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,  1995), hlm. 44.

[47] Alister E.McGrath, Op.Cit., hlm.147-148.

[48] Ibid., hlm.149-150.

[49] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.150-151.

[50] Ibid., hlm.151-152.

[51] Ibid.,, hlm.142-144.

[52] Bnd. J.L.Ch.Abineno, Bucer & Calvin, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 71-72.

[53] Paul Enns, The Moody Handbook of Theology 2, hlm.80.

[54] Yohanes Calvin, Institutio: Pengajaran Agama Kristen, (terj.Ny.Winarsih dan J.S.Aritonang dkk.) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet.ke-6, 2008), hlm.164.

[55] Yohanes Calvin, Institutio, hlm.166-167.

[56] Paul Enns, Op.Cit., hlm.80.

[57] Alister E.McGrath, Iustitia Dei: A History of the Christian Doctrine of Justification From 1500 to the Present Day, (Cambridge: Cambridge University Press, 1994), hlm.54.

[58] Lih. Katekismus Gereja Katolik, (Ende: Percetakan Arnoldus Ende, 1998), hlm.486.

[59] Ibid.

[60] Ibid., hlm.487.

[61] Ibid. Kalau Allah menjamah hati manusia melalui terang Roh Kudus, maka manusia di satu pihak bukan tidak aktif sama sekali, karena ia menerima ilham yang dapat ia tolak juga, di lain pihak ia tidak dapat mengangkat diri dengan kehendak bebasnya tanpa rahmat Allah ke dalam keadilan di hadapan Allah (Konsili Trente: DS 1525).

[62] Ibid., hlm. 488.

[63] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.149.

[64] Diacu dalam Jared Wicks, “Joint Declaration on the Doctrine of Justification: The Remote and Immediate Background”, dalam Milan Opocensky & Paraic Reamonn (Ed.), Justification and Sanctification: In the Traditions of the Reformation, (Geneva: World Alliance of Reformed Churches, 1999), hlm. 131.

[65] Jared Wicks, “Joint Declaration on the Doctrine of Justification”, hlm. 132.

[66] Pastor Hans Küng (lahir 19 Maret 1928 di Sursee, Canton Lucerne), adalah seorang teolog Swiss terkemuka, dan penulis yang produktif. Sejak 1995 ia menjadi Presiden dari Yayasan untuk Etika Global (Stiftung Weltethos). Küng adalah seorang pastor Katolik Roma, tetapi Vatikan telah mencabut haknya untuk mengajar teologi Katolik.

[67] Hans Kung, Justification : The Doctrine of Karl Barth and a Catholic Reflection, (Philadelphia: The Westminster Press, 1981).

[68] Hans Kung, Justification : The Doctrine of Karl Barth …, hlm.xviii.

[69] Klaas Runia, “Justification and Roman Catholicism”, dalam D.A.Carson (Ed.), Right With God: Justification in the Bible and the World, (London: The Paternoster Press & Baker Book House, 1992), hlm. 202.

[70] Jared Wicks, “Joint Declaration …”,  hlm. 133.

[71] Anthony N.S.Lane, Justification by Faith , hlm.96.

[72] Ibid., hlm.98

[73] Anthony N.S.Lane, Justification by Faith, hlm.100.

[74] Ibid., hlm.102.

[75] Ibid., hlm.107.

[76] Anthony N.S.Lane, Justification by Faith, hlm.111.

[77] Ibid., hlm.112-113.

[78] Anthony N.S.Lane, Justification by Faith …, hlm.113-119.

[79] Jared Wicks, “Joint Declaration …”,  hlm. 134; bnd. Martien E.Brinkman, Justification in Ecumenical Dialog-Central Aspects of Christian Soteriology in Debate, (Utrecht: Interuniversity Institute for Missiology and Ecumenical Research, 1996), hlm.135-139.

[80] Anthony N.S.Lane, Justification by Faith, hlm.119-122.

[81] Ibid., hlm.123.

[82] Selengkapnya Lih. Joint Declaration On the Doctrine of Justification: The Lutheran World Federation and The Roman Catholic Church, (Grand Rapids, Michigan / Cambridge, U.K.: William B.Eerdmas Publishing Company, 2000); juga dalam Jaroslav Pelikan & Valerie Hotchkiss (Ed.), Creeds and Confessions of Faith in the Christian Tradition, (London: Yale University Press, vol.III, 2003), hlm. 877-888.

[83] Paul-Werner Scheele, “Introductory Address”, dalam Unity in Faith: The Joint Declaration on the Doctrine of Justification in a Wider Ecumenical Context, (Geneva: LWF Office for Ecumenical Affairs, 2002), hlm. 1.

[84] Anna Case-Winters, “The Joint Declaration on Justification: A Reformed Commentary Colloquium on Justification”, dalam Unity in Faith: The Joint Declaration on the Doctrine of Justification in a Wider Ecumenical Context, (Geneva: LWF Office for Ecumenical Affairs, 2002), hlm. 1.

[85] Case-Winters, “The Joint Declaration on Justification”, hlm. 2.

[86] Darlis J.Swann, “The Reception of the Joint Declaration on the Doctrine of Justification: A Report from the Lutheran World Federation”, dalam Unity in Faith: The Joint Declaration on the Doctrine of Justification in a Wider Ecumenical Context, (Geneva: LWF Office for Ecumenical Affairs, 2002), hlm. 1-5.

[87] Mattias Turk, “Report on Reaction from Different Countries to the Signing of the Joint Declaration on the Doctrine of Justification on October 31, 1999, in Augsburg”, dalam Unity in Faith: The Joint Declaration on the Doctrine of Justification in a Wider Ecumenical Context, (Geneva: LWF Office for Ecumenical Affairs, 2002), hlm. 1.

[88] Anthony N.S.Lane, Justification by Faith, hlm.228-231.

[89] Ekkehard Heise, “The Implication of the doctrine of justification in the Latin American Context” dalam Wolfgang Greive, LWF Dokumentation 45: Justification in the World’s Context, (Geneva: LWF Departement for Theology and Studies Office for Theology and Church, 2000), 203-206.

[90] Dokumen Keesaan Gereja PGI, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006); bnd. Weinata Sairin, Gereja Agama-Agama & Pembangunan Nasional, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000)

[91] Lih. Ruhut Parmahanion/Pamincangon ni GKPA, (Padangsidimpuan, Kantor Pusat GKPA) ; bnd. Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon di HKBP, (Pearaja: Kantor Pusat HKBP).

[92] Dokumen Keesaan Gereja PGI, hlm. 89-95.

KEPUSTAKAAN

Aland, Kurt.  A History Of Christianity. Philadelphia: Fortress Press, Vol.II, 1986.

Abineno, Jl.Ch. Bucer & Calvin. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Aritonang, Jan S. Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, Cet.1, 1995, hlm. 44.

The Augsburg Confession, Adelaide: Lutheran Publishing House, 1980

Augustinus. Pengakuan-Pengakuan. Jakarta & Yogyakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius, 1997.

Berkhof, L. The History of Christian Doctrines. Grand Rapids Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1953.

Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Roma (terj. Nanik Hardjono & Jakub Susabda). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Galatia dan Efesus (terj. S.Wismoady Wahono). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Brinkman, Martien E. Justification in Ecumenical Dialog Central Aspects of Christian Soteriology in Debate. Utrecht: Interuniversity Institute for Missiology and Ecumneical Research, 1996.

Browing, W.R.F. Kamus Alkitab (terj. Lim Khiem Yang & Bambang Subandrijo). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

Berkhof, Louis. Teologi Sistematika 4: Doktrin Keselamatan. Surabaya: Momentum, 2006.

Calvin, Yohanes. Institutio: Pengajaran Agama Kristen (terj.Ny.Winarsih dan J.S.Aritonang dkk.). Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet.ke-6, 2008.

Carson, D.A. (Ed.), Right With God: Justigication in the Bible and the World. London: The Paternoster Press & Baker Book House, 1992.

Dahlenburg, G.D. Konfesi-konfesi Gereja Lutheran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Dister, Nico Syukur.  Teologi Sistematika: Ekonomi Keselamatan. Yogyakarta: Kanisius, jilid 2, 2004).

Dokumen Keesaan Gereja PGI. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Erickson, Millard J.  Teologi Kristen (terj. Nugroho). Malang: Gandum Mas, Vol.3, 2004.

Enns, Paul.  The Moody Handbook of Theology 2 (terj. Rahmiati Tanudjaja). Malang: Literatur SAAT, cet.ke-4, 2007.

End,  Th.van den. Tafsiran Alkitab: Surat Roma. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Greive, Wolfgang.  LWF Dokumentation 45: Justification in the World’s Context. Geneva: LWF Departement for Theology and Studies Office for Theology and Church, 2000.

Gunning, J.J. Tafsiran Alkitab: Surat Galatia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Guning, J.J. Tafsiran Alkitab: Surat Yakobus. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Hamann, H.P. & Hassold,  W.J. ChiRho Commentary Series: James-Jude. Adelaide: Lutheran Pubishing House, 1986.

http: // forumteologi.com / blog / 2007/04/24/ iman-perbuatan-dan-pembenaran.

Joint Declaration On the Doctrine of Justification: The Lutheran World Federation and The Roman Catholic Church, Grand Rapids, Michigan / Cambridge, U.K.: William B.Eerdmans Publishing Company, 2000.

Katekismus Gereja Katolik. Ende: Nusa Indah, 1998.

Kung, Hans.  Justification : The Doctrine of Karl Barth and a Catholic Reflection. Philadelphia: The Westminster Press, 1981.

Ladd, George Eldon. A Theology of  the New Testament. Grand Rapids: Wm.B.Eerdmans Publishing Co., 1974.

Lane, Anthony N.S. Justification by Faith in Catholic–Protestant Dialogue, An Evangelical Assesment. London: T & T Clark, 2002.

Luther’s Works. (ed. Lewis W.Spitz) Philadelphia: Muhlenberg Press, vol.34, 1960.

McGrath, Alister E. Sejarah Pemikiran Reformas, (terj.Liem Sien Kie). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

____________ Iustitia Dei: A History of the Christian doctrine of Justification From 1500 to the Present Day. Cambridge: Cambridge University Press, 1994.

O’Collins, Gerald & Farrugia, Edward G. Kamus Teologi (terj. I.Suharyo). Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Opocensky, Milan & Reamonn, Paraic (ed.). Justification and Sanctification: In the Traditions of the Reformation. Geneva: World Alliance of Reformed Churches, 1999.

Pelikan, Jaroslav & Hotchkiss, Valerie (ed.), Creeds and Confessions of Faith in the Christian Tradition. London: Yale University Press, vol.III, 2003.

Ruhut Parmahanion/Pamincangon ni GKPA. Padangsidimpuan, Kantor Pusat GKPA.

Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon di HKBP. Pearaja: Kantor Pusat HKBP.

Sairin, Weinata. Gereja Agama-Agama & Pembangunan Nasional. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Sudarmo, R. IkhtisarDogmatika. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Team Penyusun Kamus. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, Ed. Ke-2, Cet.4, 1995.

Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Penerbit Gandum Mas, 2008.

Toon, Peter. Justification and Santification. London: Marshall Morgan & Scott, 1983.

Unity in Faith: The Joint Declaration on the Doctrine of Justification in a Wider Ecumenical Context. Geneva: LWF Office for Ecumenical Affairs, 2002.

Urban, Linwood. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen (terj. Liem Sien Kie). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Wellem, F.D.  Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

Walter A. Elwell, EDBT: “James” G.R. Michigan: Baker Book, 1996.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: