TINJAUAN BUKU

Carl E.Braaten, Justification: The Article by Which the Church Stands or Falls (Minneapolis: Fortress Press, 1990; vii + 191 hlm.)

Penulis buku ini, Carl E.Braaten, adalah seorang dosen teologi di Lutheran School of Theology, Chicago, dan ia adalah juga editor dari Dialog: A Journal of Theology. Di samping buku ini, Braaten juga sudah menulis sejumlah buku lain, a.l. The Future of God, Eschatology and Ethics, History and Hermeneutics, dan The Apostolic Imperative. Di dalam buku Justification ini dimuat sejumlah artikel Braaten yang membahas topik Pembenaran, terutama mengacu pada ajaran Martin Luther, yang menurutnya sangat menentukan berdiri atau jatuhnya gereja. Braaten menguraikan pengajaran pembenaran dalam berbagai sudut pandang para ahli baik dari kalangan Reformasi (Protestan) dan Katolik. Dan pada bagian akhir buku ini diuraikan bagaimana pembahasan dan praktik langsung dari ajaran pembenaran itu di dalam gerakan ekumene Protestan dan Katolik.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca, sebab di sini kita melihat perjalanan pemikiran teologi Braaten sebagai seorang teolog yang dipengaruhi pemikiran Martin Kähler tentang articulus stantis et cadentis ecclesiae, yaitu ajaran pembenaran oleh iman sebagai yang menentukan berdiri atau jatuhnya gereja (hlm.vii). Ulasan Braaten tentang ajaran pembenaran ini sudah dimulainya sejak 1960-an dan telah dipublikasikan dalam buku The New Community in Christ (1963) dengan judul “The Correlation of Justification and Faith in Evangelical Dogmatics” (hlm.vii), yang revisinya menjadi bab 1 buku ini. Pemikiran Braaten tentang topik pada bab 1 ini juga dipengaruhi oleh pemikiran Paul Tillich tentang “Prinsip Protestan dan Substansi Katolik”, buku Jeroslav Pelikan, The Riddle of Roman Catholicism dan artikel George Lindbeck, “The Ecclesiology of the Roman Catholic Church” (hlm.3).

Setelah Bab 1 yang merupakan Introduksi, menyusullah dua bagian besar. Bagian I (terdiri atas empat bab) diberi judul “Dasar-dasar Teologis” (Theological Foundations) [dari Pembenaran]. Ada beberapa hal penting yang dibahas dalam bagian I ini. Setelah berbicara tentang masalah hubungan di antara pembenaran dan iman di dalam tradisi ajaran Lutheran (Bab 2), di mana antara lain disebut soal pembenaran dan iman di dalam Luther dan Reformasi (hlm.22), tempat pembenaran pada periode Orthodoksi (hlm.28), dan pergeseran dari pembenaran kepada pemilihan (hlm.37), maka menyusullah Bab 3 yang berbicara tentang makna kontemporer dari Pembenaran di dalam teologi Paul Tillich. Ada enam hal yang disebut di dalam bab ini, yakni: keradikalan ajaran tentang Pembenaran (hlm.43), makna eksistensial dari Pembenaran (hlm.45), tempat soteriologi di dalam Pembenaran (hlm.48), Pembenaran dan transforamasi sosial (hlm.51), Pembenaran dan metode korelasi (hlm.56), dan Pembenaran dalam Teologi Sistematik Paul Tillich (hlm.60).

Bagian I ini juga diisi dengan uraian tentang konflik antara teologi Karl Barth dan teologi Lutheran mengenai Pembenaran oleh iman (Bab 4). Bab 4 ini menjelaskan pemahaman Barth tentang Pembenaran (hlm.66) dan pergeseran kerangka-kerja dari keselamatan kepada pewahyuan (hlm.69). Sehubungan dengan ini Barth menyatakan bahwa Martin Kähler adalah satu-satunya teolog Lutheran yang pernah berani merencanakan dan menata dogmatika kaum Injili (baca: Protestan) tentang yang menjadikan ajaran pembenaran sebagai pusatnya (hlm.74). Bab 4 ini juga membahas fungsi kritis dari Pembenaran (hlm.76). Bagi Barth, soteriologi adalah bagian kedua dari pewahyuan. Bahkan Barth mengatakan bahwa bukan Pembenaran yang merupakan articulus stantis et cadentis ecclesiae, melainkan pengakuan akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat (hlm.77).

Bagian I ini ditutup dengan sebuah pembahasan mengenai Injil sebagai anugerah yang membenarkan dan iman yang membenarkan (Bab 5). Bagi Luther Injil Allah di dalam Yesus Kristus merupakan jantung dari Alkitab (hlm.81). Ada tiga hal yang diuraikan dalam bab ini, yakni: bentuk kontemporer dari permasalahan tentang Pembenaran (hlm.82), konsep alkitabiah dari anugerah (hlm.86), dan konsekuensi dari iman yang membenarkan (hlm.93).

Ringkasnya, dalam bagian I ini Braaten mencoba memberikan penafsiran dan penilaian atas pandangan Luther tentang Pembenaran, dengan juga mengacu pada pemikiran Orthodoksi, Calvin, Ritschl, Adolf von Harnack, Paul Tillich dan Karl Barth.

Bagian II (terdiri atas lima bab) diberi judul “Aplikasi-aplikasi Praktis” (Practical Applications). Bagian II ini dimulai dengan sebuah telaah atas dialog-dialog yang dibangun gereja dan gerakan ekumenis Lutheran di Amerika Serikat tentang Pembenaran oleh iman sejak 1965 (Bab 6).. Ada enam dialog yang dilaporkan Braaten dalam bab ini, yakni: pertama, dialog Lutheran dan Reformed (hlm.107); kedua, dialog Lutheran dan United Methodist (hlm.111); ketiga, dialog Lutheran dan Evangelikal Konservatif (hlm.112); keempat, dialog Lutheran dan Episkopal (hlm.113); kelima, percakapan Lutheran dan Baptist (hlm.117); dan keenam, dialog Lutheran dan Katolik (hlm.118).

Kemudian dilanjutkan dengan bahasan tentang pengertian evangelisasi (penginjilan) di dalam konteks anugerah Allah yang universal (Bab 7). Di sini diuraikan: dasar-dasar alkitabiah dari evangelisasi (hlm.127), tugas penginjilan yang menetap (hlm.132), harapan akhir dari universalisme alkitabiah (hlm.135), dan kemudian mengapa kita harus menginjili (hlm.139). Bab 8 membahas pembedaan yang tepat di antara Hukum Taurat dan Injil di dalam berkhotbah. Pendirian Luther atas pembedaan Hukum Taurat dan Injil didasarkan pada teologi Paulus. Hukum Taurat dan Injil saling berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan walaupun di antara keduanya ada hal yang membingungkan (hlm.143). Bagi Luther, mengkhotbahkan hukum Taurat semata tanpa Kritus akan menghasilkan manusia pongah, yang percaya bahwa mereka dapat memenuhi hukum Taurat dengan perbuatan-perbuatan lahiriah, atau menghalau orang ke dalam keputusasaan yang luar biasa (bnd. Rumus Konkord V,10, dalam Buku Konkord, hlm.788). Pemberitaan hukum Taurat tidak cukup untuk pertobatan yang murni dan bermanfaat; Injil harus ditambahkan kepadanya. Jadi ajaran yang dua ini selalu berdampingan, dan keduanya harus dipergunakan bersama-sama namun dalam urutan yang pantas dan perbedaan yang tepat (Ibid., hlm. 789; bnd. Apologi IV,257).

Menurut Luther, Firman Allah dinyatakan kepada manusia dalam dua bentuk yaitu: Taurat dan Injil, dan Taurat itu sendiri dalam dua bentuk atau ‘penggunaan’. Firman adalah satu sebagaimana Allah adalah satu, artinya ada kesatuan ilahi antara Taurat dan Injil. Hanya satu Taurat yang efektif di dalam semua zaman dan dikenal seluruh manusia, sebab Taurat itu ditulis di dalam setiap hati orang. Ketika Luther menggunakan pengertian pertama Taurat itu di dalam ‘masyarakat’ atau di dalam ‘politik’, maka hal itu harus dibedakan dari ‘Hukum Alam’ skolastik sebagai kategori metafisika. Pembedaan oleh Luther antara ketaatan ‘moral’ dan ‘spiritual’ pada Taurat menjadi tajam dan relevan di dalam – in loco justificationis – ketika keselamatan kita dipancangkan. Luther menggunakan ayat dari Yesaya 28:21, “Sebab TUHAN akan bangkit seperti di gunung Perasim, Ia akan mengamuk seperti di lembah dekat Gibeon, untuk melakukan perbuatan-Nya — ganjil perbuatan-Nya itu; dan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya — ajaib pekerjaan-Nya itu!”. Menurut Luther, Taurat itu digunakan dalam dua bagian yaitu: jika digunakan dalam kedagingan, maka ia ada di bawah Taurat, tetapi jika digunakan sebagai roh, maka ia ada di bawah Injil. Taurat dan Injil bukan untuk dua kelas manusia, melainkan bagi seluruh orang Kristen di sepanjang masa (bnd. Benjamin Drewery, “Martin Luther” dalam Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian Doctrine, hlm. 311-350).

Bab 9 menyajikan kritik teologis atas pelayanan dan konseling pastoral terhadap warga jemaat. Bab ini sebenarnya menguraikan pemeliharaan jiwa-jiwa (seelsorge) yang menjadi bagian dari teologi Luther (hlm.155). Kemudian seelsorge ini berkembang menjadi sebuah gerakan Clinical Pastoral Education (C.P.E) yang dipelopori oleh Larry E.Holst (hlm.155). Dalam Bab 9 ini kita lihat uraian tentang C.P.E.: sebuah warisan liberalisme Protestan Amerika (hlm.156), kecenderungan utama teologi (hlm.159), pembedaan permasalahan dan perhatian Lutheran (hlm.162), dan kemungkinan kembali ke asal (hlm.166).

Bagian II ini ditutup dengan pengujian-kembali atas ajaran Dua Kerajaan dari Luther (Bab 10). Menurut Braaten, ajaran Dua Kerajaan ini, sama seperti ajaran Trinitatis dan Kristologi, lahir dan berkembang di dalam perdebatan dan masih belum ada konsensus di kalangan Lutheranisme tentang penafsiran atasnya, atau bagaimana mengaplikasikan ajaran ini ke dalam situasi dan konteksnya (hlm.171).

Secara ringkas, dalam bagian II ini Braaten mencoba menguraikan dialog-dialog ekumenis tentang pembenaran dan hubungan ajaran Pembenaran dengan evangelisasi, pembedaan di antara Hukum Taurat dan Injil, pelayanan pastoral, dan keterlibatan gereja di dalam isu-isu sosial.

Sebagai catatan akhir: Pertama, salah satu keunggulan buku ini adalah upaya Braaten menjelaskan ajaran Pembenaran itu sebagai dasar berdiri dan jatuhnya gereja. Kedua, dengan mudah para pembaca akan mengerti perkembangan alur pemikiran teologi dan permasalahan yang timbul di seputar ajaran Pembenaran ini. Ketiga, kita juga akan dengan mudah melihat proses yang panjang yang dibangun untuk mengaplikasikan ajaran Pembenaran ini kepada berbagai aharan gereja agar tercapai sebuah pemahaman bersama tentang ajaran Pembenaran itu sendiri.

Ramli Harahap & Jan S. Aritonang

Catatan:

Ramli Harahap baru saja (akhir Maret 2009) menyelesaikan penulisan tesis S2/MTh di bidang Sejarah Gereja dengan judul “Pengaruh Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran oleh Iman terhadap Gereja-gereja Potestan dan Katolik di Indonesia” (258 hlm).

PENDAHULUAN

Buku ini merupakan hasil terjemahan Stephen Suleeman (Tim Pelaksana) Panitia Penerjemahan Buku-buku Teologi STT Jakarta dari buku hasil penyuntingan John Rogerson dengan judul aslinya Beginning of the Old Testament Study yang diterbitkan BPK Gunung Mulia tahun 1997 setebal 175 halaman. Karena merupakan buku suntingan, maka penulis yang memberikan masukan dalam buku ini bervariasai yakni dari kalangan akademisi, religus, pengajar dan kaum awan dari berbagai denominasi. Para penulisnya adalah: John Rogerson (4 essay), John Barton (2 essay), David J.A.Clines (1 essay), Paul Joyce (2 essay).

Dari 9 topik-topik yang disampaikan adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan satu sama lainnya sehingga topik-topik ini dirangkai menjadi sebuah buku yang berguna bagi para peminat studi Perjanjian Lama (PL). Dari beberapa tulisan mereka ini banyak hal yang memudahkan kita untuk memasuki studi PL. Untuk memudahkan kita mengetahui isi ringkas buku ini, di bawah ini disajikan sebuah Laporan Buku: “STUDI PERJANJIAN LAMA BAGI PEMULA”.

PENGANTAR[1]

Dari kata pengantarnya saja, buku ini sudah menantang para pembacanya karena ungkapannya yang mengatakan bahwa PL adalah sebuah kumpulan kitab yang luar biasa, yang dihasilkan oleh sekolompok orang yang luar biasa pula. Dalam benak penyunting buku ini, bangsa Israel bukanlah kekuatan militer atau politik yang harus diperhitungkan kendati pun bangsa Israel pernah berkuasa atas bangsa-bangsa di sekitarnya, itu pun dalam waktu yang sangat singkat.

Salah satu cara yang penyunting tuturkan untuk melukiskan PL adalah dengan menyebutnya sebagai kisah perjuangan antara Allah Israel dan Allah PL. Allah Israel adalah allah yang dikehendaki masyarakat demi kesejahteraan mereka sendiri – allah yang memberikan mereka kemenangan dalam peperangan, menyembuhkan penyakit dan menjaga kemakmuran mereka. Di samping itu juga, kisah bangsa Israel disampaikan secara kritis oleh mereka yang memberitakan maksud-maksud Allah yang lebih luas bagi umat manusia. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa dalam banyak hal, PL adalah kitab yang luar biasa kontemporer karena para penulisnya akrab dengan gelombang peperangan yang melintasi sebuah benua.

Menurut Rogerson, kendati pun PL mengandung kisah menakjubkan, jujur dalam mengungkapkan keraguan dan penderitaaan, merupakan kitab pengharapan, namun minat para mahasiswa/i untuk menggeluti mata kuliah PL di sekolah tinggi dan universitas sangatlah rendah. Salah satu penyebabnya katanya adalah ketidaktahuan akan isi PL.

Rogerson juga mengatakan bahwa tulisan-tulisan dalam buku ini bukan dimaksudkan sebagai pengantar kepada isi PL, melainkan lebih merupakan pembimbing tentang bagaimana menghampiri studi PL seara ilmiah. Buku ini dapat disamakan dengan sebuh petunjuk wisata artinya buku ini menerangi arti studi PL secara ilmiah, sehingga baik studi maupun PL itu sendiri akan lebih dihargai.

BAB 1

GARIS-GARIS BESAR SEJARAH STUDI PERJANJIAN LAMA

John Rogerson[2]

Bahasan ini memberikan suatu catatan singkat tentang sejarah studi PL, hingga menolong pemula agar lebih siap menyadari sifat pendekatan-pendekatan ilmiah dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan lainnya.

Menurut Rogerson, bahwa kita tidak berkuasa atas situasi-situasi budaya dan sejarah di mana kita berada sebelum kita mencapai usia dewasa, namun kita belajar hidup dengan situasi itu dan menyesuaikan diri kita. Namun ada perbedaan antara bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi-situasi umum pada saat kita dibesarkan, dan bagaimana kita menghadapi situasi disiplin ilmiah ketika kita memasukinya. Kita tidak dapat dengan mudah melarikan diri dari situasi-situasi umum kehidupan kita.

Memang harus diakui bahwa dalam studi PL banyak kesulitan yang harus dihadapi. Hal ini dirasakan Rogerson di mana menurutnya sering pengetahuan PL kemungkinan bear diperoleh dari gereja atau sekolah. Itupun diajarkan hanya untuk menerima segala sesuatu yang dikatakan PL begitu saja. Atau bahkan PL dianggap sebagai catatan usaha manusia mencari Allah sebelum datangnya Yesus Kristus.

Maksud judul ini ditulis Rogerson adalah: Pertama, memperlihatkan bahwa dalam pengertian kata kritis, keilmuan PL telah selamanya kritis. Kedua, mencoba memperlihatkan faktor manakah yang benar-benar baru yang muncul bersama kritik sejarah pada akhir abad ke-18. Dan ketiga, mencoba menempatkan fundamentalisme modern dalam konteks sketsa sejarah singkat, dan mencoba menjelaskan mengapa di antara fundamentalisme dan keilmuan kritis masih terjadi pertikaian.

Dalam garis-garis besar studi PL ini, Rogerson membahas: (a) keilmuan kritis sebelum reformasi, (b) dari reformasi sampai 1750, (c) unsur baru dalam studi kritis sejak 1750, (d) dari 1750 sampai sekarang, (e) konservatisme modern dan kritik biblika.

Pertama, keilmuan kritis sebelum reformasi[3]. Menurut Rogerson bahwa keilmuan kritis pada abad pertama sudah menampilkan perananannya yang berusaha menolong menetapkan teks PL yang lebih tepat. Sebab jika teks PL yang dikutip di dalam PB tidak bersesuaian, maka hal ini akan merisaukan para ilmuwan Kristen purba.[4] Dengan melihat kenyataan seperti itu, maka Origenes (185-243M) menyusun Hexapla dalam usaha memberikan informasi yang kelak menjadi dasar guna menetapkan teks PL yang benar. Disamping Origenes, ada lagi ilmuwan kritis pada abad ke-4 yaitu: pertama, Eusebius yang menyusun sebuah Onomasticon (=daftar nama), yang merupakan usaha untuk mengidentifikasikan tempat-tempat yang disebutkan dalam Alkitab. Kedua, Hieronimus, yang menerjemahkan PL dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Latin dan menulis tafsiran dan risalat-risalat tentang PL.

Keilmuan kritis yang sejauh ini dibicarakan hanya menunjukkan keinginan untuk menetapkan sejauh mungkin teks PL yang paling benar dan niat untuk menguasai bahasa utama yang digunakan untuk menulisnya. Keilmuan kritis mula-mula juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menurut dugaan kita tidak diperbincangkan sebelum zaman ilmiah modern. Misalnya dalam Kota Allah (City of God, 426M), Augustinus memberikan jawaban tentang beberapa pertanyaan yang timbul pada saat itu terutama mengenai apa yang tertulis dalam Kejadian 1. Demikian juga pada abad ke-12, Maimondes (1138-1204), memberikan jawaban tentang pertanyaan mengenai fungsi alam yang kelihatan dan dia juga mengajarkan bahwa Allah tidak bertubuh.[5]

Kedua, dari reformasi sampai 1750[6]. Menurut Rogerson, Reformasi di Eropa pada bagian pertama abad ke-16 berkaitan erat dengan kebangkitan kembali dari studi-studi alkitabiah pada abad ke-15. Terjadi pula kebangkitan kembali studi-studi Ibrani di kalangan para sarjana Kristen. Misalnya Luther (1483-1546) yang selalu mencari bagian manakah dalam PL yang sentral dan mana yang tidak. Dalam diri Luther, kita sudah menemukan antisipasi posisi-posisi kritis modern mengenai kepengarangan kitab-kitab di dalam Alkitab. Luther berpendapat bahwa meskipun Pentateukh bersifat Musa, tidak dengan sendirinya seluruh bagiannya pasti ditulis oleh Musa. Calvin menerima posisi-posisi yang lebih kritis ketimbang sejumlah posisi konservatif yang diterima pada abad ke-19 atau pun ke-20.

Pada masa setelah Reformasi, muncullah skolatisisme Protestan. Pandangan-pandangan mengenai pengilhaman alkitabiah dikukuhkan para penulis Alkitab hingga sedikit lebih tinggi daripada sekadar alat yang Allah gunakan untuk mendiktekan firmanNya. Berlawanan dengan Gereja Purba, mereka tidak mempunyai atau menaruh sedikit sekali perhatian terhadap kritik teks. Sebelum Reformasi, orang pun sepakat bahwa aturan iman Gereja adalah dasar bagi penafsiran Alkitab. Sementara dalam ortodoksi Protestan paca-Reformasi, orang juga percaya bahwa posisi doktriner ini sepenuhnya konsisten dengan Alkitab dan pada akhirnya Alkitab saja sudah cukup. Lebih dalam Rogerson berpendapat bahwa cukup adil apabila kita mengatakan bahwa dalam periode ini, sikap kritis terhadap PL lebih dibatasi ketimbang pada masa-masa sebelumnya dalam sejarah Gereja.

Menjelang akhir abad ke-17, langkah-langkah pertama yang kelak menghasilkan pendekatan kritis modern terhadap PL diambil dari kalangan Gereja Katolik Roma (GKR) seperti Richard Simon yang berusaha memperlihatkan kekeliruan orang Protestan dengan menyerang dasar iman Protestan yakni, kepercayan bahwa Alkitab saja sudah cukup. Ada dua serangannya kepada golongan Prostestan yaitu: pertama, ia menegaskan bahwa pada kenyataannya kita tidak dapat yakin dengan mutlak akan apa yang dikandung oleh teks Alkitab yang asli. Kedua, ia menuduh bahwa kaum Protestan telah mengacaukan kewibaan dengan keaslian.

Gerakan penting lainnya pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 adalah Deisme yang menerima nalar sebagai prinsip pembimbing yang cukup. Tokoh yang terkenal dari golongan ini adalah J.S.Semler yang menekankan pengalaman pribadi, khususnya pengalaman pertobatan.

Ketiga, unsur baru dalam studi kritis sejak 1750[7]. Menurut Rogerson, unsur yang baru setelah 1750 adalah bahwa penelitian kritis mempunyai keterbukaan. Perbedaan antara situasi sebelum 1750 dan sesudahnya adalah; sebelum 1750 keilmuan kritis pada akhirnya adalah pembelaan terhadap tipe ortodoksi apapun yang diterima oleh seorang ahli. Sedangkan setelah 1750, keilmuan kritis lebih siap membiarkan kelimuan alkitabiah mereka menentang ortodoksi mereka sendiri. Keilmuan mereka lebih merupakan usaha pencarian yang terbuka terhadap kebenaran, ketimbang pencarian kebenaran yang dibatasi oleh penerimaan akan suatu ortodoksi.

Keempat, dari 1750 sampai sekarang[8]. Perkembangan selanjutnya dipaparkan Rogerson adalah bahwa studi PL itu semakin bergerak maju di berbagai negara. Di Jerman perhatian khusus diberikan terhadap ketiga bidang studi yang bertumpang tindih yakni sumber-sumber Pentateukh, sejarah Israel dan perkembangan agama Israel. Di Inggris, metode kritis diimport dari Jerman pada awal abad ke-19, namum kemajuannya agak lambat. Dan terakhir di Amerika Serikat sendiri pada awal abad ke-19 metode kritis telah mapan dan didukung oleh berbagai terjemahan karya-karya kritis dari Jerman.

Kelima, konservatisme modern dan kritik biblika[9]. Perkembangan terakhir yang disampaikan Rogerson ialah bahwa konservatisme modern dan kritik Biblika tidak hanya dilakukan di universitas saja melainkan bisa saja dilakukan di sekolah-sekolah tinggi teologi atau seminari serta sekolah-sekolah Alkitab dan pendidikan misionaris. Pada sekolah-sekolah ini PL dipelajari secara kritis yang walaupun pada umumnya dalam batas-batas tujuan khusus sekolahnya.

BAB 2

METODE-METODE DALAM STUDI PERJANJIAN LAMA

David J.A.Clines[10]

Pada bab 2 ini, Clines berupaya menjelaskan metode-metode dalam studi PL. Selama lebih dari dua ratus tahun, para ahli telah menyelidiki berbagai sumber yang mungkin dipergunakan oleh para penulis Alkitab dan cara bagaimana sumber-sumber ini digabungkan. Namun demikian pada akhirnya dasar penafsiran kita haruslah dialaskan pada teks seperti yang kita punyai sekarang.

Clines secara gamblang memberikan petunjuk-petunjuk baik untuk menafsirkan sastra PL maupun untuk menghubungkan berbagai metode sastra demi maksud di atas. Secara garis besar ada dua metode yang ditawarkan Clines untuk memahami PL yakni pertama, metode-metode tingkat pertama yang tujuan utamanya adalah mendapatkan pemahaman dan kedua, metode-metode tingkat kedua, yang tidak terutama dimaksudkan untuk menafsirkan teks Alkitab, namun sering mempunyai sumbangan yang berharga bagi penafsiran.

A. METODE-METODE TINGKAT PERTAMA[11]

Metode-metode tingkat pertama ini akan mengulas: pertama, metode-metode tradisional dalam keilmuan biblika. Metode ini terdiri dari: (a) Eksegese grammatika-historis, (b) kritik teks, (c) dan kritik redaksi. Eksegese grammatika-historis, adalah usaha untuk menafsirkan bagian manapun sesuai dengan makna kata-katanya yang alamiah (“gramatika”) dan sesuai dengan kemungkinan maksud si pengarang pada zamannya (“historis”). Kritik teks adalah disiplin yang berusaha mencari di balik naskah-naskah Abad Pertengahan mengungkapan kata yang tepat dari kitab-kitab dalam Alkitab. Dan kritik redaksi adalah pengumpulan dan penyuntingan sumber-sumber Alkitab. Dalam pengertian yang paling sempit, studi ini adalah studi tentang bagaimana si pengarang menggunakan sumber-sumbernya.

Kedua, Metode kritik sastra. Metode ini terdiri dari: (a) membaca dengan cermat, (b) gagasan tentang “karya seni sastra”, dan (c) keterlibatan. Membaca dengan cermat (close reading) adalah penelitian yang sangat hati-hati dan terinci terhadap semua aspek dari teks: bahasa, gaya, metafora, image, dan hubungannya satu sama lain. Gagasan tentang “karya seni sastra”. Frasa ini memiliki dua penekanan yang berbeda: (i) bahwa karya sastra haruslah pertama-tama dipandang sebagai suatu keseluruhan; (ii) bahwa karya sastra harus dipelajari sesuai dengan apa yang dikandungnya. Dan keterlibatan artinya si penafsir mempunyai keprihatinan dengan masalah kebenaran dari teks dan rela serta bergigih untuk mencapai suatu penilaian pribadi.

B. METODE-METODE TINGKAT KEDUA[12]

Metode ini pada prinsipnya adalah menggunakan teks Alkitab untuk maksud-maksud lain, ketimbang untuk memahami teks. Dalam bagian ini Clines mengupas studi PL dengan: (a) kritik sejarah, (b) kritik sumber, dan (c) kritik bentuk. Kritik sejarah adalah suatu usaha merekonstruksi peristiwa-peristiwa yang ada di balik kisah-kisah Alkitab. Kritik sumber adalah yang berusaha merekonstruksikan sumber-sumber yang ada di balik isinya. Secara umum tujuan kritik sumber adalah sumber itu sendiri, isinya, konteks sejarahnya, maksud-maksud dan kesalingterkaitannya. Dan kritik bentuk merupakan usaha untuk menemukan pemberitaan Kristen awal di mana kisah-kisah tentang ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Yesus diceritakan dan mengambil bentuknya yang tetap.

Secara keseluruhan bab ini tidaklah sepenuhnya bersifat deskriptif (sekedar melukiskan) tentang metode-metode yang dipergunakan dalam studi-studi PL, melainkan juga telah berusaha untuk pada tingkat tertentu bersifat preskriptif (memberikan anjuran).

BAB 3

SEJARAH PERJANJIAN LAMA DAN SEJARAH ISRAEL

John Rogerson[13]

Pada bab 3 ini, kita akan melihat mengenai tradisi-tradisi sejarah dalam PL. Apakah maksud tradisi-tradisi ini, bagaimanakah apabila kita membandingkannya dengan rekonsturuksi ilmiah para ahli terhadap sejarah Israel kuno, dan apa yang terjadi apabila sang ahli modern itu merasa perlu “memperbaiki” laporan yang disajikan dalam PL? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang utama di sini.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Regerson memaparkan bahwa ada reaksi negatif dari pihak-pihak lain yang agaknya didasarkan pada pertimbangan: Pertama, kita barangkali merasa ingin membela PL, bukan karena alasan doktriner tertentu apapun, melainkan karena kesetiaan kepada sebuah lembaga yang tua hingga kita tidak ingin melihatnya diperkosa. Kedua, keberatan kita barangkali mempunyai dasar-dasar moral atau teologis. Namun masih ada keberatan yang mencolok bahwa keilmuan kritis pada kenyataannya menuduh Allah atau para pengarang Alkitab yang manusiawi itu melakukan kesalahan atau tidak jujur.

Rogerson mengatakan bahwa usaha singkat ini untuk mempertimbangkan sumber-sumber sejarah apakah yang tersedia bagi para penulis Alkitab dan bagaimana agakya mereka memanfaatkannya, dapat menolong kita dalam dua hal. Pertama, usaha ini dapat menolong kita menghargai bahwa sejarah-sejarah dalam PL ditulis dalam cara yang amat serupa seperti semua sejarah lainnya. Kedua, usaha ini menolong kita menjembatani jurang kebudayaan yang ada di antara kita sendiri dan periode PL.

Adalah keliru apabila kita mengira bahwa semua tulisan sejarah dalam PL berkaitan erat dengan kesaksian kenabian sebagaimana kaitan antara kejatuhan Yerusalem dengan Yeremia. Dengan kata lain, studi historis modern PL bukanlah sebuah serangan terhadap intergritas para penulis Alkitab. PL tidak hanya mengandung sejarah Israel purba. Ia juga mengandung tradisi-tradisi historis dan bentuk-bentuk seperti cerita yang maksud utamanya adalah mengungkapkan iman para pengarang PL bahwa Allah terlibat dalam peristiwa-peristiwa sejarah bangsa Israel.

BAB 4

PANDANGAN DUNIA PERJANJIAN LAMA

John Rogerson[14]

Pada bab 4 ini, Rogerson melukiskan secara singkat perbedaan-perbedaan budaya antara dunia PL dan dunia sekarang ini. Perbedaan-perbedaan itu tidaklah begitu besar hingga akibatnya kita hanya dapat memahami PL apabila kita membacanya dengan sebuah kaca mata budaya yang khusus. Di pihak lain, pada beberapa kesempatan kita akan dapat lebih menghargainya apabila kita melakukan sejumlah penyesuaian budaya terhadap pendekatan kita.

Dalam bab ini, Rogerson membahas alam, magi, mujizat, kurban dan organisasi sosial. Pertama alam. Pengalaman Israel tentang alam sangat dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan tanah dan iklim yang ditemukan di dunia Israel kuno. Barangkali ketika Israel merenungkan alam, mereka menjadi sadar akan hal yang luhur: tentang apa yang begitu dimuliakan atau mengesankan sehingga timbullah dalam diri mereka rasa takjub dan heran. Beberapa bagian dalam PL, misalnya Mazmur 104, tampaknya memberikan kesan bahwa bangsa Israel melihat Allah terlibat dalam semua proses alam.

Kedua magi. Magi sering dianggap sebagai indikasi sebuah pandangan dunia yang primitif dan tidak ilmiah. Magi datang ke dalam situasinya sendiri ketika batas-batas dilanggar atau menjadi kabur. Rogerson memandang baik posisi dan kedudukan magi ini. Dia mengatakan bahwa mereka yang ikut serta dalam upacara-upacara magis-religius tak boleh dianggap sekedar berusaha memanipulasi kenyataan dalam sebuah cara yang pseudo-ilmiah. Karena pada gilirannya hal ini membebaskan mereka dari rasa cemas, dan menolong mereka lebih efektif dalam menjalankan usaha. Alasan lain dikatakan Rogerson ialah bahwa magi tidak menunjukkan pandangan tentang dunia yang kacau. Sebaliknya, ia berfungsi dalam tatanan yang tercipta oleh banyak perbatasan dan hanya dapat disingkirkan oleh kehancuran total batas-batas tersebut serta pembentukan batas-batas alternatif.

Ketiga mujizat. Menurut Rogerson, ada dua hal yang harus dipertimbangakan dalam bagian ini. Pertama, ialah apakah bangsa Israel kuno begitu bodoh tentang sebab-sebab ilmiah sehingga mereka menyebut Allah sebagai penyebab dari apa yang dijelaskan dalam pengertian-pengertian “alamiah”. Kedua, ialah apakah memang lebih mudah bagi mereka daripada bagi kita untuk percaya bahwa peristiwa-peristiwa luar biasa memang terjadi. Bila kontras antara kita dan bangsa Israel kuno dilukiskan dengan tepat, kita dapat menarik dua kesimpulan. Pertama, ialah bahwa laporan-laporan PL mengenai peristiwa-peristiwa luar biasa sebagai tindakan-tindakan khusus Allah tidak boleh kita percayai, karena mereka berasal dari suatu bangsa yang pemahamannya tentang realitas adalah pra-ilmiah. Kedua, ialah bahwa bangsa Israel mempunyai kelebihan dari kita bahwa mereka dapat dengan lebih mudah ketimbang kita melihat Allah bekerja dalam berbagai peristiwa.

Keempat kurban. Rogerson berpendapat bahwa barangkali kita menganggap bahan-bahan yang berkaitan dengan kurban ini tidaklah penting paling tidak karena dua alasan. Pertama, kita percaya bahwa kematian Yesus telah menghapuskan kebutuhan akan sistim kurban seperti dalam PL. Kedua, bahwa kurban paling tidak bukanlah bagian utama agama PL. Kenyataannya tak ada gerakan pembaharuan dari dalam agama PL yang berhasil menghapuskan sistim kurban dan ini disebabkan oleh alasan sederhana bahwa kurban adalah bagian dari suatu sistim yang jauh lebih kompleks yang menarik garis batas dan mempertahankannya di kalangan Israel kuno. Kurban itu sendiri diakhiri oleh pergolakan-pergolakan besar dari luar. Pertama, ketika Bait Suci dihancurkan oleh bangsa Babel pada tahun 587 sM, kurban sementara berhenti (namun setelah Bait Suci dibangun kembali, maka kurban dilanjutkan kembali pada tahun 516 sM). Kedua, ketika bangsa Romawi menghancurkan Biat Suci pada tahun 70M, mengakhiri untuk selamanya sistim kurban. Kurban dalam PL adalah bentuk perilaku simbolis yang memungkinkan seseorang melintasi perbatasan, dan yang memungkinkan perbatasan dipulihkan setelah dilanggar. Degan demikian kurban adalah bagian dari cara Israel menjawab dalam syukur kepada Allah atas penebusanNya yang penuh anugerah dan pemeliharaanNya yang berkelanjutan atas bangsa itu.

Dan kelima organisasi sosial. Menurut Rogerson ada empat periode untuk melihat organisasi sosial ini yakni: periode para Leluhur, periode para Hakim, periode kerajaan dan periode komunitas pasca-pembuangan. Para Leluhur dilukiskan sebagai keluarga-keluarga besar, yang beternak kambing, domba, dan kemungkinan juga unta, dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain (yang disebut semi-namad). Pada periode Hakim, Israel kuno digambarkan sebagai sebuah konfederasi suku. Kata “suku” untuk melukiskan begitu banyak jenis organisasi kemasyarakatan sehingga ia tidak lagi berarti atau bahkan menyesatkan. Pada periode pembuangan, yang menyebabkan kelas orang-orang kaya dan berkuasa disingkirkan ke Babel, tentunya mempunyai dampak yang mendalam terhadap organisasi kemasyarakatan Israel kuno. Pada periode Pasca-Pembuangan, dari informasi dalam kitab Ezra dan Nehemia, para anggota komunitas pasca-pembuangan menyebut diri mereka sebagai anggota keluarga atau desa-desa tertentu.

BAB 5

INDIVIDUAL DAN KOMUNITAS

Paul Joyce[15]

Dalam bagian ini, Joyce memperingatkan agar kita tidak membuat kesimpulan-kesimpulan umum, mengenai bangsa Israel kuno, khususnya tentang cara berpikir mereka. Dengan tepat ia menunjuk pada kepelbagaian yang dijumpai dalam PL. Di kalangan Israel kuno kelompok sosial atau komunitas mendapat tempat yang penting. Di samping keluarga dekat atau anggota rumahtangganya, orang Israel kuno biasanya menganggap dirinya sebagai bagian dari sebuah keluarga besar yaitu salah satu suku Israel dan akhirnya salah satu dari “Anak-anak Israel”, umat Yahweh. Yahweh pertama-tama dan terutama sekali adalah Allah bangsa Israel; orang dapat mengatakan bahwa Dialah satu-satunya Allah bagi seorang individu Israel sejauh individu itu ikut serta dalam bangsa Israel.

Komunitas Israel sangat mengandalkan ibadah kepada satu Allah, Yahweh, sebagai prinsip pemersatu utama kehidupannya. Setelah pembuangan nampaklah bahwa ibadahlah yang menjadi ikatan hakiki yang mempersatukan bangsa Israel. Lebih jauh Joyce mengatakan bahwa di kalangan Israel kuno komunitas, entah itu keluarga dekat, keluarga besar, suku atau bangsa itu sendiri, amatlah penting dan ada suatu kaitan yang erat antara kehidupan peribabadahan Israel dan rasa komunitas yang kuat ini. Namun pendapat lain seperti H.Wheeler Robinson[16], mengatakan bahwa di kalangan Israel kuno batas-batas kepribadian seorang individu tidak ditentukan dengan jelas dan kebanyakan bagian PL harus dipahami dalam terang kenyataan yang dikemukakan oleh pendapat itu bahwa individu bahkan tidak dibedakan dari kelompoknya. Kelompok, kata Robinson, dapat dianggap seolah-olah mempunyai “Kepribadian Kelompok” misalnya kasus Akhan dalam Yosua 7 yang akhirnya kelompok Akhan dibunuh setelah terbukti kesalahannya. Namun menurut Joyce, pendapat Robinson tentang “Kepribadian Kelompok” ini kadang-kadang kabur dan membingungkan, bahkan dalam tulisan Robinson sendiri.

Pemahaman lain yang amat luas dianut mengenai PL ialah pandangan yang mengatakan bahwa ada suatu perkembangan yang teratur dan dapat ditelusuri dalam cara berpikir Israel dari penekanan yang kuat terhadap komunitas menuju kepada penekanan yang semakin kuat terhadap individu. Namun demikian dasar pemahaman ini sama sekali tidaklah sekuat apa yang biasanya diduga.

Jika kita meneliti hubungan individu dengan komunitas Israel yang berkembang itu di dalam PL[17], maka kita dapat menyimpulkan bahwa teori perkembangan yang berkaitan dengan gagasan-gagasan mengenai tanggung jawab di Israel haruslah ditanggapi dengan penuh hati-hati.

Pada akhirnya, Joyce menyimpulkan bahwa kita tidak mungkin berbicaran mengenai “Pemikiran Israel” sebagai sesuatu yang dapat ditunjukkan atau dilukiskan secara persis, karena Israel adalah suatu keberadaan yang demikian beranekaragam, yang membentang melalui beratus-ratus tahun dan semakin menyebar di banyak negeri, serta menghasilkan literatur keagmaan yang begitu bervariasi.

BAB 6

TEOLOGI PERJANJIAN LAMA

John Barton[18]

Dalam bab ini, Barton membagi bahasannya dalam 8 bagian. Setiap bagian menekankan beberapa hal yang berkaitan dengan teologi PL. Ulasannya cukup padat dan jelimat tentang topik yang digumulinya.

Bagian pertama, ini merupakan pendahuluan. Dalam pendahulua ini, Barton menjelaskan pemahaman orang tentang Allah Israel dan bagaimana orang memulai studi-studi mengenai PL, karena PL adalah sumber informasi langsung mengenai Allah yang harus dipercayai oleh orang Kristen. Secara sederhana dikatakan bahwa “Teologi PL” adalah suatu usaha menggali kebenaran-kebenaran ada di dalam PL.

Bagian kedua, ini Barton menerangkan bahwa apabila dikaji secara kritis ada satu kemungkinan untuk kemungkinan mempersatukan kembali PL dengan teologi Kristen. Hal ini terlihat dari penyusunan sylabus studi-studi Alkitab dengan sebuah pendekatan “pencarian yang berliku”. Selanjutnya yang sering terjadi juga adalah “pencarian religius” terhadap Israel kuno disajikan sebagai suatu perkembangan bertahap menuju kebenaran. Menurut Barton, ada sejumlah keberatan yang dapat diajukan pada pendekatan ini, bahkan pula pada tingkat historis semata-mata. Bahkan pada pandangan “pencarian yang berliku” ini ada banyak jalan pintas dalam iman dan praktek PL sehingga kita sulit memperdebatkannya sebagai prakondisi-prakondisi yang perlu bagi Yudaisme dan Kekristenan yang muncul kemudian.

Bagian ketiga, Barton mengupas secara tajam “Teologi Perjanjian Lama” itu dengan mengatakan bahwa teologi PL harus dibedakan secara tajam dari bentuk “sejarah pemikiran keagamaan Israel” karena: pertama-tama, jangan mengabaikan kesamaan keluarga yang membentuk PL. Kesamaan itu tidak harus memiliki koherensi (keutuhan) dari satu koleksi tulisan oleh seorang pengarang. Kedua, harus ada asumsi bersama, yang barangkali lebih mudah ditemukan oleh para pembaca yang asing dengan agama Israel ketimbang mereka yang tenggelam di dalam penelitiannya.

Bagian keempat, Barton memaparkan pendapat dua teolog PL yang terkenal yakni: Walter Eichrodt (Theology of the Old Testament) dan Gerhard von Rad (Old Testament Theology). Kedua teolog ini memiliki kemiripan dalam konsentrasi pada kesamaan keluarga dari teks-teks PL. Mereka sama-sama berusaha menyajikan iman Israel, kumpulan keyakinan yang dipegang teguh oleh semua yang mengaku sebagai umat Allah dalam masa PL. Bahkan lebih jauh Barton mengatakan, bahwa studi mengenai pernyataan-pernyataan sesungguhnya yang dibuat PL tentang Allah, dan mengenai kesamaan keluarga antara semuanya, tampaknya telah mencapai batas kemungkinan-kemungkinannya dalam karya besar kedua ahli ini.

Bagian kelima ini, Barton menjelaskan perkembangan studi teologi PL itu dengan munculnya babakan baru bagi “Gerakan Teologi Bibilika”. Gerakan ini mencoba memahami PL dan kemustahakannya bagi pembaca Kristen yang melihat apa yang ada di belakang teks dan berusaha menangkap gagasan-gagasan dasar dan kategori-kategori yang dipergunakan bangsa Israel. Artinya orang Kristen diajak belajar bagaimana “berpikir secara Ibrani”. Gerakan ini sendiri pada umumnya sudah mati, tetapi pengaruhnya hidup terus dalam segala cara yang tersembunyi.

Bagian keenam, Barton mencoba mengembangkan “teologi biblika”. Menurutnya salah satu ciri yang memberikan sastra PL adalah kesan bahwa ia merupakan bagian dari sebuah tradisi tunggal. Dengan demikian “teologi biblika” cenderung menunjukkan bahwa asumsi-asumsi itu terletak pada tingkat yang amat dalam, dan lebih kurang tidak disadari. Hanya dalam pengertian yang amat luas dapat dikatakan bahwa kita “belajar tentang” keberadaan Allah dengan jalan membuka PL. Tak ada bagian dalam PL yang menegaskan, sebagai sepotong informasi baru, bahwa Allah itu ada.

Bahkan lebih tajam dikatakan bahwa amatlah sulit apabila kita ingin menemukan bagian-bagian dalam PL yang dimaksudkan untuk menyampaikan informasi bahwa Allah itu adalah Pencipta dunia. Dengan demikian menurut Barton, adalah merupakan tugas teologi PL untuk menemukan suatu cara untuk menjembatani jurang antara keinginan para ahli akan informasi mengenai apa yang dipercayai Israel, dan keinginan orang percaya modern akan informasi seperti apakah Allah itu sebenarnya.

Bagian ketujuh, Barton memasuki tahapan yang lebih menjelaskan tujuan teologi PL itu sendiri. Tujuan teologi PL adalah usaha untuk memberikan penjelasan-penjelasan yang akan menolong kita dalam membaca dan menggunakan PL dengan pemahaman yang lebih mendalam. Peranan teologi PL adalah menolong kita mengerti kumpulan karya sastra yang khusus dengan menjelaskan berbagai konsep yang digunakannya.

Bagian kedelapan ini, Barton menjelaskan lebih mendalam lagi tujuan yang dapat dilayani sebuah buku “Teologi Perjanjian Lama”. Pertama, adalah memberikan kita segala jenis informasi latar belakang yang akan menolong kita memahami tradisi religius yang termasuk di dalamnya tulisan-tulisan PL. Kedua, dapat kita gunakan untuk menghampiri masalah dan berusaha menganalisis pernyataan-pernyataan teologis yang sesungguhnya yang dibuat dalam berbagai kitab PL dan mencari cara-cara untuk menggambarkan suasanan teologisnya atau implikasinya dan bahkan menyampaikan “pengajaran”.

BAB 7

BERBAGAI PENDEKATAN ETIKA DALAM PERJANJIAN LAMA

John Barton[19]

Ternyata PL juga memiliki nilai-nilai etika yang luar biasa. Itulah yang akan dicoba dikupas Barton dalam bab ini dalam empat bagian bahasannya. Terasa sulit memang jika berbicara mengenai etika ini karena selalu berkata antara ‘ya’ dan ‘tidak’. Namun bagaimanakah konsep etika dalam PL? Mari kita melihat dari berbagai pendekatan yang berikut ini.

Bagian pertama, Barton mencoba mengutip 1Samuel 15:32-33 sebagai salah satu contoh kasus dalam PL yang merepresentasikan pendekatan etika dalam PL. Salah satu maksud bab ini memang memberikan kesan bahwa PL menyimpan titik pandang etika yang begitu beraneka dan bahwa ada banyak ‘etika Perjanjian Lama’.

Bagian kedua ini, Barton mengemukakan bahwa “Etika Perjanjian Lama” dapat mengacu pada dua hal. Pertama, kadang-kadang “etika PL” berarti studi mengenai perkembangan historis ide-ide tentang moralitas, atau tentang perilaku moral yang sesungguhnya, di kalangan Israel kuno. Studi semacam ini tidak harus historis ‘melulu’, namum demikian harus bersifat historis, karena harus merekonstruksikan bukti-bukti yang diberikan oleh teks PL. Kedua, adalah dengan menganggap PL secara hakiki sebagai kitab yang merupakan bagian dari Kitab Suci orang Kristen.

Bagian ketiga, Barton membicarakan etika di Israel kuno. Etika di Israel kuno ini akan diuji dalam tiga hal yang memuat indikasi-indikasi bahwa ada banyak pandangan dan tradisi yang berbeda di Israel. Pertama, norma-norma moral. Norma-norma perilaku yang diterima di kalangan Israel kuno sangat bervariasi. Hal ini disebabkan dua faktor variabel yaitu: (a) waktu; dan (b) kelompok sosial. Kedua, dasar etika. Menurut Barton, orang Israel tidak memiliki dasar etika yang pasti dan baku. Israel kuno tak memiliki sesuatu yang dapat digambarkan sebagai “filsafat moral”, tak ada usaha untuk menyusun secara sistematis dasar etika, dan memperjelas mengapa kewajiban-kewajiban atau norma-norma mempunyai sifat mengikat. Dengan demikan dapat dikatakan bahwa semua dasar etika Israel tidak sama, karena moralitas dapat bersifat religius dalam lebih dari satu cara. Ketiga, motif dan dorongan bagi perilaku moral. Secara kasar dapat digolongkan dorongan bagi perilaku moral dalam PL adalah: (a) sebagian memandang ke masa depan, (b) sebagian memandang ke masa lampau, dan (c) sebagian memandang ke masa kini.

Bagian terakhir, dalam ulasan Barton ini adalah mengenai etika PL. Etika PL ini mencoba melihat keberadaan norma-norma moral dan dasar moralitas dari sudut PL. Oleh karena itu kita akan melihat etika PL dari dua pandangan yaitu: pertama, norma-norma moral. Dari berbagai kasus-kasus yang ditemukan di dalam PL, maka dapat dikatakan bahwa prinsip-prinsip moral yang disepakati kitab-kitab PL mempunyai tingkat generalitas yang cukup tinggi. Dalam banyak hal prinsip-prinsip itu juga ditemukan di antara sistem-sistem keagamaan Semit di masa dahulu maupun modern. Kedua, dasar etika. Kategori dasar etika dalam PL adalah “hukum”.[20] Cara terbaik untuk menghampiri sistem etika PL sebagai “Torah” adalah mengingat bahwa maksud PL yang terutama ialah untuk memberikan bahan-bahan yang akan memberikan kesan tentang pola atau bentuk cara kehidupan yang dijalankan di hadapan Allah. Jadi, untuk bentuk akhir PL, perilaku moral praktis berkaitan erat dengan “spiritualitas”: masalah gaya hidup.

BAB 8

PERJANJIAN LAMA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERJANJIAN BARU

Paul Joyce[21]

Menurut Joyce, hubungan PL dan PB memiliki hubungan yang sangat erat, namum di dalamnya ada banyak masalah yang timbul yang harus disikapi oleh orang Kristen. Baik PL maupun PB sama-sama berakar dalam sejarah – inilah bagian dari kekuatan mereka. Masing-masing dihasilkan dalam seluruh rentangan latar belakang budaya, membahas masalah-masalah dari latar belakang itu, dipengaruhi oleh atau bereaksi terhadap ide-ide dari masa itu. Akan ada bagian-bagian PL maupun PB yang kita rasakan tidak membangun atau relevan. Misalnya bagian penutup Mazmur 137 yang penuh dendam, atau barangkali, sebagian pernyataan Paulus tentang perempuan atau budak. Harus kita aku bahwa kedua perjanjian itu memiliki kebhinekaan, tak bisa lagi ada dikotomi hitam dan putih antara PL dan PB. PL, seperti halnya PB, dihargai dan dihormati karena kekayaan yang dikandungnya. Kemudian Joyce mengatakan pemahaman bahwa peristiwa-peristiwa dalam PB menggenapi kata-kata PL lebih tersirat ketimbang tersurat.

Dalam ulasannya ini, Joyce mengungkapkan hubungan antara PL dan PB dalam cara yang positif. Yang terbaik hubungannya dapat dibayangkan pada dasarnya terdapat dalam kesinambungan besar tradisi keagamaan. Dengan demikian, umumnya PL yang memberikan kosakata teologis yang dipakai oleh para penulis PB untuk mengungkapkan pemahaman mereka tentang kegiatan Allah di dalam Yesus.

BAB 9

EPILOG: MENGGUNAKAN PERJANJIAN LAMA

John Rogerson[22]

Menurut Rogerson, bahwa banyak orang yang mempelajari PL tidak mau merasa puas dengan mengetahuinya dari sudut pandangan sastra dan kritik sejarah saja namun mereka ingin sekali menggunakannya dalam hidup mereka sehari-hari. Namun bagaimanakah penggunaan PL dalam kehidupan sehari-hari? Rogerson memberikan beberapa cara menggunakannya misalnya: pertama, penggunaan PL di Gereja. Dalam kebaktian-kebaktian Gereja PL biasanya diberikan peranan sekunder setelah PB. Akhirnya PL tidak begitu dikenal di kalangan jemaat. Karena kebhinekaan ada dalam PL, maka inilah yang menjadi titik tolak bagi penggunaan PL di Gereja. Namun kenyataannya, PL pemakaian PL di Gereja harus menjalani proses yang panjang sekali. Secara ringkas Rogerson menjelaskan penggunaan PL dalam Gereja menuntut hal-hal berikut: (a) pengetahuan mengenai keseluruhan isinya; (b) pengakuan akan kebhinekaannya; (c) kesiapan untuk menghindari rumusan-rumusan yang terlalu sederhana seperti rumusan murka Allah; (d) kerelaan untuk melihatnya sebagai kesaksian bagi iman suatu bangsa yang hidup; (e) kesiapan untuk mempelajari segala sesuatu yang mungkin dari pendekatan keilmuan akademis dan kritis.

Kedua, menggunakan PL dalam persoalan-persoalan sosial dan moral. Setelah memaparkan beberapa kasus-kasus sosial dan moral di dalam PL, maka Rogerson menarik sebuah kesimpulan bahwa kita dapat mengatakan bahwa penggunaan PL dalam soal-soal sosial dan moral bukanlah sekedar persoalan mengutip teks dan menerapkannya terhadap situasi-situasi modern. PL tidaklah dimaksudkan untuk menjadi buku tentang aturan-aturan yang diterapkan dalam situasi manapun juga. PL adalah catatan tentang kepekaan yang semakin meningkat terhadap tuntutan-tuntutan sosial dan moral yang tersirat dalam penebusan Allah yang penuh belas kasih.

TANGGAPAN BUKU

Memang benarlah apa yang dikatakan Rogerson dalam kata pengantarnya, bahwa tulisan-tulisan dalam buku ini bukan dimaksudkan sebagai pengantar kepada isi PL, melainkan lebih merupakan pembimbing tentang bagaimana menghampiri studi PL seara ilmiah. Dan harus diakui agak jarang buku-buku yang diterbitkan yang bersifat seperti ini dalam bahasa Indonesia. Bukan berarti tidak ada. Berkaitan dengan ini, buku lain yang bisa membantu para pemula dalam studi PL ini misalnya: Perjanjian Lama dan Indonesia yang Sedang Membangun[23], Teologi Perjanjian Lama[24], Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama[25], Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama[26], Memahami Perjanjian Lama: Tiga Pertanyaan Penting[27], Satu Alkitab Dua Perjanjian[28], dan lain-lain.

Metode penafsiran dalam studi PL yang dipaparkan David J.A.Clines secara umum untuk bagi pemula studi PL memang sudah cukup lumayan. Namun untuk studi lanjutan tentang topik ini, John H.Hayes dan Carl R.Holladay[29] lebih mendalam menjelajahi dunia PL. Disamping yang disampaikan Clines masih ada lagi pendekatan yang lebih tajam diuraikan mereka misalnya mengenai: penyatuan semua langkah studi PL itu, mulai dari kritik sejarah hingga kepada kritik bentuk dan pemanfaatan hasil-hasil penafsiran Alkitab. Artinya studi PL itu tidak hanya sebatas studi saja melainkan harus membawa hasil tertentu baik bagi pribadi maupun orang lain.

Hubungan PL dan PB yang diuraikan oleh Joyce, memang benar masih banyak kesulitan-kesulitannya sama seperti pemahaman Hasel.[30] Menurut Hasel, Rudolf Bultmanlah yang berjasa mencari kaitan antara kedua Perjanjian itu dalam kurun sejarah faktual Israel. Bultman mengatakan PL merupakan prakiraan tentang PB tidak lebih tidak kurang. Dia menyokong pendapat tentang tidak adanya hubungan teologis samasekali antara PL dan PB. Hubungan antara kedua Perjanjian “samasekali tidak relevan secara teologis”. Sementara Klaus Schwarzwaller berpendapat bahwa PL berkaitan dengan PB dipandang dari segi rumusan tentang “rangkaian bukti dan hasil”. PL hanya dapat dipahami dari Kristus karena PL menunjukkan ke depan kepada Dia. “Peristiwa Kristus mencakup sejarah perjanjian lama dan menunjuk kembali kepada kesaksian-kesaksiannya”[31]

Kupasan Rogerson mengenai bagaimana menggunakan PL, masih bersifat umum. Namun yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana menggunakan PL ini secara dalam kehidupan dan budaya kita masing-masing. Misalnya, Peranan PL dalam perjuangan untuk menegakkan keadilan sosial[32], peranan PL dalam proses interaksi antara teologi Kristen dan teologi Islam[33], pentingnya PL dalam dialog Kristen-Muslim[34]. Demikian juga Longman III, dia mencoba mengupas bagaimana orang Kristen mengaplikasikan PL dalam kehidupan ini.[35]

KEPUSTAKAAN

Baker, David L. 1993. Satu Alkitab Dua Perjanjian: Suatu Studi tentang Hubungan Teologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM.

Cairns, I.J. 1985. Perjanjian Lama dan Indonesia yang Sedang Membangun, Jakarta: BPK-GM.

Dyrness, William.1992. Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas.

Hasel, Gerhard F. 1992. Teologi Perjanjian Lama: Masalah-Masalah Pokok dalam Perdebatan Saat Ini, Malang: Gandum Mas.

Hayes, John H. & Holladay, Carl R. 1996. Pedoman Penafsiran Alkitab, Jakarta: BPK-GM.

Karman, Yonky. 2005. Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, Jakarta: BPK GM.

Rogerson, John (ed.), 1997. Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula, Terj.Stephen Suleeman, Jakarta: BPK-GM.

Sitompul, AA. 1985. Metode Penafsiran Alkitab, Jakarta: BPK-GM. Tremper Longman III, Memahami Perjanjian Lama: Tiga Pertanyaan Penting, (Alih bahasa Cornelius Kuswanto, Malang: SAAT, 2002


[1] John Rogerson (ed.), Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula, Terj.Stephen Suleeman, Jakarta: BPK-GM, 1997, hlm. ix-xiv

[2] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 1-23

[3] Ibid., hlm. 3-9

[4] Misalnya kutipan Amos 9:11-12 yang kutipannya tidak bersesuaian dengan apa yang ditulis dalam Kis.15:16-18.

[5] Ulasannya ini telah ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Pembimbing B agi Mereka yang Bingung (The Guide of the Perplexed, lk tahu 1190)

[6] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 9-13

[7] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 13-15

[8] Ibid., hlm. 15-20

[9] Ibid., hlm. 20-23

[10] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama…, hlm. 24-43

[11] Ibid., hlm. 26-38

[12] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm.38-43

[13] Ibid., hlm. 44-56

[14] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 57-77

[15] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 78-95

[16] Uraian pemikiran H.Wheeler Robinson lebih dalam ditulisnya dalam buku The Christian Doctrine of Man, Edinburgh: T & T Clark, 1926, dan buku Corporate Personality in Ancient Israel, Philadelphia: Fortress, 1980.

[17] Misalnya dalam Yosua 7, Dan.6:24, Yeh.18:5-18, Kitab Ayub.

[18] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 96-121

[19] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 122-142

[20] “Hukum” sebagai terjemahan bahasa Ibrani tora adalah sebuah istillah yang mempunyai aplikasi jauh lebih luas daripada “hukum” dalam pengertiannya sehari-hari.

[21] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama …, hlm. 143-158

[22] Ibid., hlm. 159-167

[23] I.J.Cairns, Perjanjian Lama dan Indonesia yang Sedang Membangun, Jakarta: BPK-GM, 1985.

[24] Gerhard F.Hasel, Teologi Perjanjian Lama: Masalah-Masalah Pokok dalam Perdebatan Saat Ini, Malang: Gandum Mas, 1992

[25] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1992

[26] Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, Jakarta: BPK GM, 2005

[27] Tremper Longman III, Memahami Perjanjian Lama: Tiga Pertanyaan Penting, (Alih bahasa Cornelius Kuswanto, Malang: SAAT, 2002

[28] David L.Baker, Satu Alkitab Dua Perjanjian: Suatu Studi tentang Hubungan Teologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM, 1993

[29] John H.Hayes & Carl R.Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 1996, bnd. AA.Sitompul, Metode Penafsiran Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 1985

[30] Gerhard F.Hasel, Teologi Perjanjian Lama…, 147-169

[31] Ibid., hlm.152

[32] I.J.Cairns, Perjanjian Lama…, hlm.95-107

[33] Ibid., hlm.123-150

[34]Ibid., hlm.151-177

[35] Tremper Longman III, Memahami Perjanjian Lama…, hlm. 121-161

Posted by: ramlyharahap | April 13, 2009

MEMAHAMI ANTROPOLOGI ISRAEL DAN RELASINYA DENGAN ALLAH

MEMAHAMI ANTROPOLOGI ISRAEL DAN

RELASINYA DENGAN ALLAH

Apa yang telah YHWH lakukan bagi umatNya menurut kesaksian Perjanjian Lama (PL) harus dan memiliki konsekuensi. Pemilihan bukan hanya tindakan di sebelah luar tetapi juga peristiwa internal. Pemberian pemilihan di dalam sejarah diikat dengan tugas tanggung jawab. Israel mengenal tugas ini, bahkan mengambil dan menghidupi secara konkrit dalam hidupnya. YHWH membuka diriNya untuk berkomunikasi dengan umatNya dan bekerja di dalam bangsa Israel dengan bertanggung jawab.

11. ANTROPOLOGI ISRAEL DAN RELASINYA DENGAN ALLAH[1]

11.1 MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK / CIPTAAN (Secara ilmu Biologi dan Biografi)[2]

Menurut Horst Dietrich Preuss, dunia Perjanjian Lama memperkenalkan bagaimana hubungan pribadi sebagai grup sosial di sekitar mereka. Ada beberapa macam pandangan antropologi di berbagai tingkatan PL dan bermacam-macam ekspresi sosial yang ada pada saat situasi PL. Dalam ulasannya ini, Horst menyoroti manusia dari sudut hasil dan kensekuensi pengalaman pemilihan dalam sejarah. Untuk memahami antropologi Israel dan relasinya dengan Allah, Horst memulai bahasannya dari manusia sebagai makhluk, istilah antropologi, manusia sebagai mitra Allah, manusia menurut kesaksian teks PL, bahasa manusia, penderitaan dan untung, hidup-mati-kebangkitan, manusia di hadapan Allah, dosa dan salah, pertobatan dan dosa. Namun dalam bahasan kita kali ini akan kita batasi mulai dari manusia sebagai makhluk hingga manusia menurut kesaksian teks PL.

a. Dari Kelahiran hingga kepada Keluarga[3]

Berdasarkan teologi yang tidak begitu terkenal bon mot mengatakan bahwa manusia harus lahir sebelum dia dilahirkan kembali artinya dia harus berada lebih dulu sebelum dia dapat dicirikan secara ilmu teologi. Kebenaran yang tak dapat disangkal ini diperkenalkan oleh kehidupan “biologi” manusia dalam PL dan kemudian diikuti oleh pertanyaan teologi antropologi.

Bangsa Israel adalah golongan umat yang dikenal sebagai orang Mediteranian, memiliki rambut yang hitam atau coklat gelap, dan ditemukan indikasi kerangka tinggi badan antara 1,65 m – 1,70 m (laki-laki) dan 1,60 m (perempuan). Bangsa Israel sering digambarkan lebih pendek dari pada penduduk setempat (Bil.13:32dyb; Ul.1:28 dan Am. 2:9) dan bangsa Israel dibandingkan dengan corak kulit orang Edom yang bermuka merah (Kej.25:30), bangsa Israel mengklasifikasi diri mereka sebagai yang lebih muda. Kecantikan ideal perempuan juga bagi laki-laki diekspresikan di dalam gambaran dan metapora seperti: mata bagaikan buah anggur, gigi bagaikan domba, leher bagaikan menara Daud, hidung bagaikan menara Libanon, buah dada bagaikan menara-menara (Cant.8:10), sementara laki-laki memiliki kaki bagaikan marmar (Cant.5:15).

Ciri luar seperti “ras Semitik” menunjukkan bahwa bangsa Israel telah mengalami percampuran ras. Efraim dan Manasye adalah keturunan seorang ibu Mesir (Kej.41:50dyb), sementara Musa sendiri menikah dengan orang asing (Kel.2:21dyb; Bil.12:1). Eksistensi “perkawinan campur” menjadi sebuah masalah yang berarti pada waktu itu setelah periode pembuangan (Ezr.9:1-10:44 dan Neh.13).

Rata-rata pengharapan hidup bangsa Israel pada waktu itu lebih tinggi dibandingkan pada manusia saat ini (bnd.Yunus), yang hanya kira-kira 50 sampai 60 tahun. Jika seseorang hidup lebih dari atau mencapai 80 tahun, hal ini merupakan anugerah yang diberikan Tuhan (Mzm.90:10). Masa hidup yang panjang yang disebutkan dalam Kej.5 seperti daftar “raja-raja mula-mula” Babilonia dan orang-orang yang berumur panjang seperti Musa, Harun, dan Josua membuktikan bahwa kekuatan hidup panjang adalah diakibatkan hubungan mereka dengan Allah yang sangat dekat.

Mazmur 139:13, 15 dan Ayub 10:8-12 menggambarkan bagaimana seorang anak dibentuk di dalam kandungan ibunya (bnd.Yes.44:2; Yer.1:5). Setelah lahir, diikuti dengan pemberian nama yang menurut PL nama itu lebih menekankan pemberian nama dari kebapaan dari pada keibuan. Dan setiap nama mengekspresikan sebuah keinginan, ucapan syukur, atau perlindungan. Bayi itu bertumbuh dibawah pengasuhan seorang ibu. PL tidak mengidikasikan bahwa masa kanak-kanak adalah sebuah masa yang berbahagia. Permainan anak-anak disebutkan hanya di dalam janji tentang keselamatan yang akan datang (Zak.8:5). Kendatipun ada anak-anak yang bertingkah laku kurang ajar seperti dalam 2Raja 2:23dyb.

Penyunatan adalah sebuah ritual pubersitas yaitu memotong kulit khatan anak dengan sebuah pisau batu (Kel.4:25; dan Yos.5:2). Kata חתן = hatan (pengantin laki-laki) diambil dari חתן = hatan yang salah satu artinya “untuk menyunat”. Berdasarkan Kej.17:25, Ismail berumur 13 tahun ketika disunat, inilah masa pubertasnya. Penyunatan menurut kesaksian dokumen P, menjadi sebuah ritual bagi anak-anak yang ditafsirkan sebagai “tanda” (אות = ot) dari seseorang menjadi milik hukum perjanjian (Kej.17:1-4).

Dari “anak” (ילד = yeled) menjadi “pemuda” (נער = na’ar atau בחור = bahur) dan kemudian menjadi “manusia – dewasa (laki-laki)” (א׳ש = ‘is) sehingga dapat berpartisipasi dalam kebudayaan, dapat menikah, bertanggung jawab, dan mengangkat senjata. Dia membentuk sebuah keluarga dan memasuki sebuah lingkaran (סוד = sod) pertanggungjawaban manusia. Karakter dalam kekeluargaan adalah patrilineal yang konsekuensinya laki-laki yang memilih istri dari hubungan kekerabatan (bnd.Kej.11:27,29; 22:23; 24:47). Menikah kepada perempuan yang tidak ada hubungan kekerabatan akan membawa pengalaman yang tidak bahagia (Kej.26:34dyb). Keturunan dihitung melalui garis ayah. Ayah adalah tuhan dan tuan dalam keluarga. Laki-laki mengambil istri untuk menjadi milik rumahnya (Ul.20:7). Keluarga disebut sebagai “rumah ayah” (ביתַـאב = bet-ab).

b. Perkawinan[4]

PL tidak memiliki kata bagi “perkawinan”. Laki-laki “mengambil” seorang istri (Kej.4:19; 11:29) dan “berkuasa” atas perempuan (Kej.3:16). Jarang bagi seseorang untuk tidak menikah, seperti Yeremia yang memutuskan untuk menjadi lajang karena kehendak YHWH (Yer.16:2). Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN (Ams.18:22), dan YHWH sendiri yang membawa perempuan kepada manusia (Kej.2:21-24). Laki-laki dan perempuan keduanya diciptakan di dalam gambar Allah dan diberkati olehNya (Kej.1:27dyb).

Pernikahan ditandai dengan pertunangan (bnd. Hos.2:21) kendati pun belum sempurna. Tidak ada upacara keagamaan yang telah dibentuk termasuk perkawinan, walaupun mungkin diadakan sebuah pesta (Kej.29:27; Hak.14:10). Sebuah pertunangan dianggap sah untuk menikahi seorang perempuan (Ul.22:23dyb). Mahar dibayar kepada ayah anak perawan karena sang ayah kehilangan pekerjanya – anak perawannya (“dowry”: מהר = mohar; Kej.34:12; Kel.22:16 dan 1Sam.18:25). Mahar dapat juga digantikan dengan bentuk buruh (Kej.29:15dyb). Konsep poligami diijinkan dalam PL. Monogami adalah hal yang normal, dan secara praktek tidak setiap orang dapat atau ingin banyak istri. Tipe monogami ini lazim kemudian pada zaman Hosea dan Yeremia (Mal.2:15).

Dyrness[5] agak lebih tegas mengatakan bahwa dalam Kejadian 2:22-25, perkawinan telah diperkenalkan sebagai lembaga manusia yang utama. Yang dinyatakan sebagai ideal adalah perkawinan monogami; keduanya menjadi satu daging. Memang benar bahwa sepanjang sejarah PL diperbolehkan pula ketetapan-ketetapan lain. Akan tetapi, semua itu harus dipandang sebagai hal-hal yang kurang baik yang diperbolehkan Allah bagi penyelesaian masalah-masalah yang timbul karena dosa. Akan tetapi, sebagai gambar kasih Allah kepada umatNya, perkawinan sudah pasti bersifat monogami. Perkawinan disebut sebagai suatu perjanjian dalam Maleakhi 2:14 dan Amsal 2:17 dan disamakan sebagai hubungan Allah dengan umatNya terutama dalam kitab Hosea.

c. Pekerjaan[6]

Preuss berpendapat bahwa, manusia sebagai pekerja menurut PL mengambil tempat bagi kehidupan kemanusiaan, bukan hanya bagi ilah-ilah dan hal ini adalah takdir manusia untuk bekerja dari sejak permulaan (Kej.1:26, 28; 2:5, 18). Pekerjaan sering sia-sia dan sulit (Pengk.3:9dyb dan Mzm.127:1) adalah akibat kutukan Allah yang dirundung manusia karena pelanggaran manusia atas perintah Allah (Kej.3:17dyb). Dengan demikian pekerjaan adalah nilai khusus yang positif walaupun laki-laki dan perempuan harus bekerja (Mzm.104:23; dan Ams.31:15,18). Dan pengertian lain pekerjaan adalah pemberian Allah (Kej.2:1-3) dan perintah Allah (Kel.20:8-11). Sabat menekankan istirahat (termasuk budak), untuk menciptakan evaluasi penting atas pekerjaan.

Lebih dalam Dyrness[7] mengatakan, manusia diciptakan bukan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk bekerja serta merasa senang dengan pekerjaan itu, sama seperti Allah merasa senang dengan pekerjaanNya. Meskipun kejatuhan manusia ke dalam dosa memperkenalkan unsur pekerjaan yang membosankan tetapi hal itu tidak berarti pekerjaan yang tidak berkesudahan, karena Sabat memberikan waktu untuk beristirahat dan menikmati hasil pekerjaan mereka.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa gambar Allah menunjuk kepada keberadaan manusia yang berkepribadian dan bertanggung jawab di hadapan Allah, yang pantas untuk mencerminkan Pencipta mereka dalam pekerjaan yang mereka lakukan, serta mengenal dan mengasihi Dia dalam segala perbuatan mereka.

d. Umur dan Kematian[8]

Semua bangsa di dunia ini paham benar bahwa kematian adalah akhir kehidupan yang wajar di bumi ini. Akan tetapi, dalam PL, kematian dikaitkan dengan dosa sehingga mencerminkan sesuatu yang tidak wajar mengenai dunia sebagaimana adanya, sesuatu yang dapat dikalahkan oleh Allah saja. Preuss mengatakan bahwa mati muda dilihat sebagai penghukuman (Mzm.109:8, 13; bnd.Yes.38:10dyb) dengan demikian Kitab Tawarikh harus menemukan alasan tambahan mengapa Raja Yosia yang baik meninggal pada masa muda sedangkan Raja Manase yang jahat memerintah lama (2Taw.35:22 dan 33:12-20). Pada waktunya seseorang akan menjadi tua . Wanita tidak dapat lagi melahirkan anak (Kej.18:3), sementara rambut laki-laki menjadi beruban (Yes.46:4), penglihatan mereka mengurang (Kej.27:1 dan 48:10) dan kekuatan mereka memudar (Hos.7:9). Seseorang yang mencapai umur 80 tahun tidak mampu membedakan hal-hal baik dari yang lain dan tidak dapat menikmati hidup (2Sam.19:36-38). Orang yang sudah tua tidak dapat menghangatkan dirinya sendiri di tempat tidur.

Salah satu bentuk upacara kematian dan ratapan (2Sam.1:11dyb) dilaksanakan di atas tujuh hari (Kej.50:10 – bagi Musa dan Harun 30 hari: Ul.34:8). Ada kebiasaan tangisan dan pakaian (Kej.37:34), ada juga yang menaburi debu atas kepalanya (1Sam.4:12), memakai “kain sarung” (2Sam.3:31). Tindakan ritual ini dihubungkan dengan dunia keagamaan Israel, kendatipun di Israel mereka sering mengkritik dan bahkan melarang. Mereka juga melakukan perkabungan yang berorientasi pada bentuk objektif walaupun perasaan subjektif secara alami tidak termasuk. Kremasi dilakukan hanya di dalam kasus yang khusus (1Sam.31:12dyb dihapus dalam 1Taw.10:12) dan menjadi kebiasaan ketika kejahatan semakin merajalela (Jos.7:25). Penguburan yang baik diinginkan dan dihormati sebagai sebuah penghargaan atas hidup yang baik (1Raj.14:13).

Dari satu segi pandangan, orang Ibrani sendiri paham bahwa kematian adalah wajar. Tubuh seperti yang kita miliki suatu hari harus mati “seperti berkas gandum dibawa masuk pada waktunya” (Ayb.5:26). Kadangkala kematian disebut sebagai hanya suatu akhir (2Sam.14:14). Meski merupakan hal yang wajar, kematian itu sendiri menakutkan dan ingin dihindari orang (Mzm.55:5). Menurut Jacob[9], bahwa di mana-mana dalam PL tidak disebutkan bahwa kematian adalah pintu menuju firdaus.

e. Perempuan[10]

Apakah “kedudukan perempuan” di dalam keluarga dan masyarakat Israel kuno? Kedudukan wanita sebagai wanita Ibrani adalah dia berada di bawah pengawasan dan penjagaan laki-laki, pertama ayahnya dan kemudian suaminya. Ketika dia sudah menjadi janda, kedudukannya di bawah kekuasaan laki-laki yang terdekat dengan keluarganya. Adat, hukum dan kebudayaan menggambarkan kedudukan perempuan sebagai subjek laki-laki dan tergantung sepenuhnya kepada laki-laki. Istri adalah kepunyaan suaminya; suami adalah “tuan”nya dan “berkuasa” atasnya.

Ada juga nuansa yang tidak begitu mendasar bahwa perempuan diberikan kepada suaminya yang cocok, partner pendukung termasuk membantu dalam bekerja (Kej.2:18). Dia diciptakan dari bagian laki-laki (Kej.2:2) dan tulang dari tulang dan daging dari daging laki-laki (2:23). Tugas yang terpenting dari perempuan adalah melahirkan anak (Kej.24:60). Berdasarkan Kej.1:26db, laki-laki dan perempuan keduanya diciptakan di dalam gambar Allah.

Tidak ada inidikasi dalam PL memperbaiki kedudukan perempuan. Seorang ibu misalnya; jika melahirkan seorang bayi perempuan, ia menjadi najis untuk waktu yang lama jika dibandingkan dengan melahirkan seorang bayi laki-laki bahkan persembahan penyucian atas kelahiran anak itu hanya bisa dilaksanakan oleh imam bukan dirinya sendiri (Im.12). Dan masih banyak tek-teks lain yang menampilkan kedudukan perempuan di dalam masyarakat dan keagamaan yang tidak sama dengan laki-laki. Dengan demikian PL tidak begitu menolong untuk legitimasi emansipasi perempuan.

11.2 ISTILAH ANTROPOLOGIS[11]

Bagaimanakah orang PL berbicara tentang dirinya sendiri? Ide-ide yang manakah yang digunakan untuk menggambarkan keberadaan manusia, hidup, perilaku, dan pengalamannya?

Walaupun jelas tidak terdapat keseragaman sistematis dalam rujukan itu, penelitian secara mendalam terhadap kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dipakai untuk manusia dapat memeberikan kepada kita suatu gambaran kehidupan yang konkret.

Preuss mengemukakan pemahamannya tentang antropologi ini dari hubungan manusia dengan tanah. Dalam cerita Yahwist tentang penciptaan mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari debu tanah (Kej.2:4b-3:24 – יהיה אלהים יצר אדם = yahweh elohim yasar adam – “YHWH Elohim membentuk manusia). Manusia itu (אדם = adam) sama seperti “tanah” (Kej.2:7 – אדמה = adama). Dengan gambaran ini, hubungan di antara manusia dan tanah ditekankan, bagi Yahwist manusia yang mendiami tanah itu memiliki arti yang sangat penting.

Kemudian antropologi itu dilihat dari kata בשר = basar (“daging”). Ketika kegagalan, kurang kekuatan, dan kelemahan kemanusiaan ditekankan, makan istilah basar digunakan, yaitu suatu istilah yang tidak merupakan salah satu dari pernyataan Allah. Selain itu, “daging” dalam PL bukan seluruhnya digunakan di dalam pikiran Paulus σάρξ = sarx (“daging” bnd. Gal.5:16db) bahwa hal ini tidak mencirikan “daging” sebagai tempat khusus dosa. TUHAN membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan “nafas hidup” (נשמת חיים = nismat hayyim) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi “makhluk yang hidup” (לנפש חייה = lenepes hayya – Kej.2:7). Siapa pun yang menterjemahkan pernyataan seperti “Manusia menjadi jiwa yang hidup” akan salah mengerti apa artinya, sebab dalam antropologi PL dikenal juga dikotomi: tubuh dan jiwa bahkan trikotomi: tubuh, jiwa dan roh. Apa yang menandakan “nafas hidup” dalam Kej.2:7 adalah nafas (1Raj.17:17; Yes.2:22; Ams.20:27; dan Dan.10:17), bahkan binatang juga memiliki nafas (Kej.7:22). Allah adalah satu-satunya pemberi nafas hidup, artinya bahwa hidup tergantung atasNya dan merupakan pemberiannya (bnd. Yes.42:5). Dalam PL, nafas hidup ini sering disebut רוח = ruah (“angin, roh”).

Disamping istilah ruah masih ada lagi istilah yang dipakai seperti נפש = nepes (jiwa) yang ditejemahkan ψυχή = psyhe dalam LXX. Jiwa diartikan satu bagian dalam tubuh manusia misalnya perasaan, aspirasi. Juga ada kata לב/לבב = leb/lebab yang mejelaskan bahwa di dalam tubuh manusia ada keinginan untuk berpikir (Hak.16:17db) dan pengertian (Ul.29:3).

Ruah, nepes, dan leb semua dapat digunakan untuk menyatakan emosi termasuk misalnya marah, balas dendam, kekesalan, kegeraman (Kel.15:9; Ul.19:6; Hak.8:3, dll), perkabungan dan penderitaan (Yes.57:15), kasih (Kej.34:3,8), gembira (Ams.2:10; Yes.55:2), dorongan (Bil.14:24), sabar (Pengk.7:8) atau tidak sabar (Kel.6:9), nafsu (Ul.24:15), keinginan (Ul.12:15), dan malu (Bil.5:14,30).

Pendapat lain dikemukakan Wolff[12] dengan memberikan dua tuntunan yang berguna yang dipakai PL tentang antropologi. Pertama, sering kali terdapat pemakaian kata stereometrik, maksudnya, menunjuk kepada kata-kata yang paralel dan saling tumpang tindih. Kata-kata yang mempunyai arti hampir sama dipakai berganti-ganti untuk menunjuk kepada manusia seutuhnya dari berbagai segi pandangan yang sedikit berbeda, sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap. Misalnya Mzm.84:3, “Hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup” (bd. Ams.2:10). Kedua, pemakaian kata-kata yang sintetis, di mana satu bagian tertentu dari tubuh mewakili seluruh tubuh itu. Bagian tubuh tertentu bersama kegiatan bagian tubuh tersebut dipadukan seperti dalam Yesaya 52:7, TL, “Bagaimana elok di atas gunung-gunung kaki orang yang memberitahu barang yang baik.” Jadi, “dengan kosa kata yang relatif terbatas orang Ibrani dapat menyebutkan berbagai hal dan khususnya bagian-bagian tubuh manusia untuk mengungkapkan keserbaragaman nuansa yang sangat halus dengan cara memisahkan dari konteks kalimat, segala kemungkinan, aktivitas, kemampuan, dan pengalaman dari apa yang disebutkan.” Bagian-bagian tubuh itu misalnya jiwa (nepes), roh (ruah), daging (basar), jantung atau hati (leb), darah (dam).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia: diciptakan dalam kelemahan daging dari debu tetapi dengan kapasitas dan keinginan kepada Allah. Manusia lemah dan berkekurangan, meskipun kekurangan dan keterbatasan fisik bukan halangan untuk hidup bergaul dengan Allah. Manusia bukan makhluk hidup individu melainkan makhluk sosial sebagai anggota masyarakat.

11.3 Kejadian 1:26dyb: Manusia sebagai Mitra Allah[13]

Banyak teks PL berisikan pernyataan teologi tentang kemanusiaan yang sudah dikembangkan. Misalnya Kej.1:26dyb, di mana Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Pernyataan ini juga terjadi di tempat lain dalam PL seperti Kej.5:1,3 dan 9:6 yang kedua teks P ini diletakkan setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa dan air bah. Alkitab tidak berbicara secara tegas tentang bagian manakah yang hilang dari manusia (keseluruhankah atau sebagian) sebab dalam kejatuhan, tidak ada indikasi bagaimana manusia itu setelah air bah termasuk para leluhur.

Kemitraan Allah dengan manusia dihubungkan dengan berkat Allah. Pertanggungjawabannya adalah manusia hidup sampai terlihat kualitas gambar dan rupa Allah pada kehidupan kita sampai akhir hidup kita. Manusia diciptakan agar menjadi “mitra” Allah. Manusia diciptakan sebagai alat Allah menyampaikan kehendakNya pada seluruh ciptaanNya. Berdasarkan Kej.1:26-2:3, manusia bukan hanya mitra dalam kekuasaan Allah melainkan juga mitra bicara yang mendengar panggilan YHWH dan mengenal kemahakuasaanNya dan hidup secara bertanggung jawab di hadapanNya. YHWH dan Israel keduanya saling tergantung dan saling memberi arti satu sama lainnya.

11.4 MANUSIA MENURUT KESAKSIAN BERBAGAI TEKS PL[14]

Kita tidak dapat menafsirkan Kej.1:26dyb tanpa melihat posisi dan pernyataan teologi dari dasar sumber P. Penyelidikan ini harus diperkuat dan dikembangkan dengan menguji teks-teks dalam PL.

a. Sumber Priestly (P) – Imam[15]

Marilah kita melihat gambaran kemanusiaan dalam sumber P. Kita telah melihat manusia dari sisi positif yang dikaitkan dengan berkat dan derajatnya dalam Kej.1:26dyb yang mengindikasikan bahwa kedudukan manusia adalah “inkarnasi dari kuasa” di dunia dan penilaian yang “sangat baik” bagi manusia itu sendiri. Pandangan positif ini digarisbawahi oleh Kej.9:1-17 di mana Allah membangun sebuah perjanjian umum dengan manusia ketika kapal Nuh mendarat melalui sebuah tanda yakni pelangi. Pelangi ini mengingatkan Allah atas perjanjian kekal dengan seluruh yang hidup. Dengan demikian tindakan kekerasan menurut sumber P seperti air bah (Kej.6:12dyb) diakhiri. Kekerasan tidak akan ada dan tidak akan ditekankan lagi. Juga menurut sumber P, hidup manusia akan “semakin baik”. Allah memberikan hidup dan keingininanNya untuk mendukung manusia itu (Kej.9:1-17).

b. Sumber Yahwist (Y)[16]

Sumber Y yang lebih tua agak lebih berbeda yakni tidak melihat manusia secara positif. Menurut Y, YHWH telah memperlengkapi manusia (Kej.2:7), memberinya tugas (Kej.2:15), dan menyediakan dia seorang penolong yang sesuai dengannya (Kej.2:18db). Allah berkeinginan menjadikan manusia itu sebagai mitra dan mengijinkannya untuk berpartisipasi di dalam kegiatan yang kreatif (Kej.2:19db). Betapa pun, pasangan pertama ini melampaui larangan perintah pertama YHWH (Kej.2:16db), berkeinginan agar mereka mampu “sama seperti Allah” (Kej.3:5) dan tidak berdiri di bawah Allah dan bertanggung jawab pada YHWH yang telah memberi hidup mereka. Bagi Y, hal ini hak anugerah YHWH bahwa mereka tidak dihukum secara langsung dengan kematian dan ancaman (Kej.2:17). Dengan demikian Y tidak hanya berbicara manusia sebagai ciptaan Allah (Kej.2), tetapi Y juga harus berbicara ketidaktaatan manusia (Kej.3). Y menempatkan manusia dalam kemungkinan baru dari keberadaan berkat dan penekanan naratif pada saat yang sama bahwa setiap pencapaian positif manusia di dalam periode hidupnya dihasilkan dari pemberian berkat YHWH, bukan dari kesempurnaan pribadi mereka.

c. Hukum dan Nabi-nabi[17]

Menurut Kode Perjanjian setiap pribadi bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Dia tidak dapat memindahkan kesalahannya kepada siapa pun juga. Para nabi berbicara mengenai manusia ketika manusia itu menjadi terhukum dan berdosa, mengindikasikan bahwa manusia tidak memiliki nilai etika dan pertanggungjawaban kepada orang lain bahwa mereka adalah umat pilihan yang harus menjauhkan diri dari segala dosa dan kejahatan. Lebih jauh manusia adalah secara mendasar dikritik dan dievaluasi negatif oleh para nabi sebagai konsekuensi penghukuman yang mereka tulis. Hanya YHWH sendiri yang dapat mengubah manusia dengan Roh KudusNya (Yehz.36:26dyb dan Yer.31:33db).

d. Kitab Mazmur[18]

Di dalam kitab mazmur dan doa-doa, manusia dapat dibicarakan dalam bentuk yang berbeda tergantung genre (aliran) tujuan dari teks. Lebih jauh orang-orang dalam PL, mereka sendiri membawa ekspresi pengertian mereka sendiri mengenai manusia dalam sebuah cara yang mengesankan.

Dalam mazmur dan doa orang Israel manusia dipuji sebagai mahkluk yang berdiri di bawah berkat khusus Allah. Manusia yang adalah objek perhatian khusus Allah (Mzm.8:5) dapat ditempatkan di dalam ciptaan. Di Israel seseorang tidak dapat berbicara mengenai manusia sebagai makhluk bersama dengan keberdosaannya dan menghapuskan konsiderasi keselamatan. Manusia yang mengalami kasih sayang dan dukungan YHWH, akan memberikanNya ucapan syukur dan membantu yang lain untuk merasakan pengalaman yang sama (Mzm.9; 34). Dalam kitab Mazmur, manusia digambarkan sebagai orang yang sangat membutuhkan Allah telihat dari berbagai-bagai permohonan yang disampaikan kepada Allah.

e. Kitab Amsal[19]

Kebijaksanaan berbicara lebih kontras mengenai manusia secara umum dari pada yang mereka lakukan tentang manusia sebagai orang Israel umat Allah dan juga masyarakat sosial. Komunitas sosial di dalam kebijaksanaan dipandang (Ams.5:14; 26:26). Komunitas sosial itu termasuk keluarga, suku, dan anggota status yang sama. Identifikasi “tetangga” diingatkan secara umum. Sehingga pengertian bahwa pribadi manusia adalah seorang pendosa jarang didiskusikan dalam arti luas. Akibatnya, dugaan bahwa pribadi-pribadi membutuhkan ciptaan baru misalnya kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan kita mengetahui pertanggungjawaban kita kepada Allah (Ams.14:2). Kebijaksanaan melihat dirinya sendiri tidak sebagai pribadi yang hebat melainkan seseorang yang telah diberkati oleh Allah. Juga kebijaksanaan mengetahui bahwa banyak hal yang disembunyikan dari dirinya di dalam dunia ini, sebab hanya analisi YHWH yang memimpin kita secara langsung untuk segala hal. Kebijaksanaan memiliki tenggang batas oleh karena itu manusia harus bijak (Ams.21:30; 26:12 dan 28:26).

f. Kitab Ayub[20]

Dalam kitab Ayub akan kita lihat manusia pribadi secara positif, hidup istri/suami, keberuntungan, pemikiran, perencanaan, dan tempat di hadapan Allah. Berbeda dengan kesalehan dan kesabaran Ayub dalam kerangka naratif, dialog Ayub (Ayb.3-27) memberontak melawan Allah. Ayub mengutuk hari kelahirannya (Ayb.3:1-10). Akibatnya, Ayub merindukan hari kematiannya. Lebih dalam, pernyataan yang meninggikan manusia di dalam Mzm.8:5 berbeda arti di dalam mulut Ayub. Menurut Ayub Allah mengurus manusia dalam keberuntungan dan tidak memperhatikan penderitaan dan keluhan manusia, sehingga Ayub pun tidak akan menahan mulutnya berbicara dalam kesesakan jiwanya, mengeluh dalam kepedihan hatinya kepada Allah (Ayb.7:11). Ayub berpikir bahwa Allah tidak membutuhkannya lagi (Ayb.7:20). Akibatnya, Ayub hanya berbicara secara negatif mengenai manusia (Ayb.7:14). Manusia tidak bisa benar di mata Allah dan Allah tidak menjawab dari seluruh pertanyaannya (Ayb.9:2). Jarak antara manusia dengan Sang Pencipta yang begitu jauh membuat Ayub tertekan (Ayb.12:7dyb). Dalam argumentasinya melawan sahabat-sahabatnya termasuk kepada Allah, Ayub tahu bahwa dia adalah sebagai manusia dan sebagai orang bijak dan bukan orang bodoh tanpa pengertian (Ayb.12:2; 13:1dyb). Dia juga sadar bahwa seseorang dapat ditipu oleh manusia lainnya, tetapi bukan Allah (Ayb.13:9). Tubuh manusia Ayub merasa menderita (14:22; 21:6) dan “jiwa”nya berduka cita (14:22; 12:10), sementara Allah seperti seorang serdadu melawan dia (16:19dyb). Sehingga Ayub menggambarkan dirinya sebagai manusia yang tidak baik.

Kehidupan Ayub ini merupakan gambaran ide antropologi tentang penderitaan. Dalam Ayub 25:1-6; ada indikasi jarak antara manusia dengan Pencipta, di mana manusia digambarkan sebagai tempayak dan ulat. Ketika YHWH kembali ke Ayub dan menjawab dengan firmanNya (38:1-42:6), Allah sungguh berbicara secara komprehensif tentang kemahakuasaan dan kuasaNya sebagai pencipta. Kendati pun dalam jawabanNya ini, Allah tidak menjawab dengan firman mengenai manusia. Akhirnya Ayub menerima jawaban ini yang walaupun tidak menjawab langsung pertanyaan yang disampaikannya. Allah juga memberkati Ayub seperti yang dijanjikanNya (42:10dyb).

g. Kitab Pengkhotbah[21]

Sangat keras jika dikatakan bahwa dari 12 pasal kitab Pengkhotbah, Kitab Pengkotbah lebih banyak berbicara tentang topik “manusia”, jika dibandingkan dengan Kitab Amsal yang 31 pasal. Dalam kritik terhadap Pengkhotbah yang mengejar tradisi kebijaksanaan, pemikiran yang bodoh, dan kehidupan yang ideal, dia bertanya apa yang menguntungkan bagi umat manusia dalam analisi akhir dari seluruh pekerjaan mereka (3:1; 3:10db). Pengkhotbah banyak mengutarakan hal-hal yang diinginkan manusia misalnya minum anggur, memikirkan kebaikan bagi dirinya dan bagi anak-anaknya (1:16dyb). Pengkhotbah sering juga berkata kepada dirinya sendiri sesuatu “di dalam hatiku”, kapasitasnya untuk berpikir dan mencari alasan. Artinya dia berpikir tentang manusia dan dunia ini (1:16; 2:15; 3:17), dan bahkan tidak pernah istirahat pada waktu malam (2:23). Sisi lain dari kemanusiaan yang dibahas Pengkhotbah adalah perasaan gembira (5:19), kemampuan manusia tebatas (2:24), kelahiran dan kematian (3:2), perilaku manusia (3:1-9), perilaku keagamaan manusia (4:17dyb), dan lain-lainnya.

Pengkhotbah membuat jelas bahwa pribadi manusia tidak diijinkan untuk menjamin keberadaannya. Suara Pengkhotbah tentang manusia memiliki bagian penting di dalam kesaksian PL walaupun hal ini bukan menjadi sentimen hidup bersama secara keseluruhan dalam PL.

h. Stuktur Dasar yang Dipegang secara Umum[22]

Banyak pertanyaan yang timbul di sekitar Timur Dekat tentang apakah kesaksian PL mengenai gambaran manusia yang dipegang secara umum dan apakah struktur dasar tentang manusia itu? Secara keseluruhan, PL menjawab bahwa dasarnya adalah ketergantungan (עבד = ebed; “budak atau pelayan”) manusia atas Penciptanya. Teks yang menyebar dalam PL menginginkan untuk mengetahui manusia seluruhnya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Tuntutan dan restu Allah adalah merupakan arti yang dasar bagi manusia. Di mana hal ini nampak (Ayub dan Pengkhotbah), manusia masuk dalam krisis keberadaan yang menjadi krisis iman. “Mendengar” (Ul.6:4) apa yang dikatakan Allah (Mik.6:8) adalah bagi orang PL, hal yang penting dari tingkah laku untuk memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia. Bahwa raja bertindak sebagai manusia yang lebih tinggi dari manusia biasa tidak ditemukan dalam PL (Mzm.89:48db; 144:4).


[1] Horst Dietrich Preuss, Old Testament Theology, Edinburgh: T & T Clark, 1996, vol.II, hlm. 99-184

[2] Ibid., hlm. 99-109

[3] Ibid., hlm. 99-103

[4] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 103-105

[5] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1992, hlm. 65

[6] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 105

[7] William Dyrness, Tema-Tema…, hlm. 67-68

[8] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 105-107

[9] Edmond Jacob, Theology of the Old Testament, New York: Harper and Row, 1958, hlm.299

[10] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 107-109

[11] Ibid., hlm. 109-114

[12] H.W.Wolff, Antropology of the Old Testament, Philadelphia: Fortress, 1974, hlm.7-9

[13] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 114-117

[14] Ibid., hlm. 117-135

[15] Ibid., hlm. 117-119

[16] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 119-121

[17] Ibid., hlm. 121-123

[18] Ibid., hlm. 123-126

[19] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 126-129

[20] Ibid., hlm. 129-131

[21] Horst Dietrich Preuss, Old Testament…, hlm. 131-133

[22] Ibid., hlm. 133-135

KESULITAN MENERAPKAN HUKUM TAURAT

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ORANG KRISTEN

I. PENDAHULUAN

Orang-orang Kristen sering menghadapi beberapa rintangan dan kesulitan untuk mengerti Hukum Taurat dan menerapkan serta melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan mereka merasa bahwa ada sebuah jarak antara mereka dengan hukum-hukum Taurat yang tertulis dalam Perjanjian Lama (PL) yang sudah kuno.

Peranan, fungsi dan makna Hukum Taurat dalam perjalanan kehidupan ke-Kristen-an saat ini sudah mulai ‘kabur’. Hukum Taurat tidak lagi dipahami dan dimengerti sebagai hukum yang bersumber dari Allah sendiri yang harus dipatuhi dan dilakukan. Orang Kristen saat ini sudah lebih mematuhi produk hukum yang dibuat oleh manusia dari pada mematuhi hukum yang dibuat oleh Allah sendiri. Manusia lebih takut melanggar hukum manusia dari pada melanggar hukum Tuhan.

Ada banyak tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh Gereja untuk menerapkan Hukum Taurat dalam perjalanan kehidupan orang percaya. Dalam bahasan ini kita akan mencoba melihat beberapa kesulitan yang dihadapi Gereja dan bagaimana solusi yang akan ditempuh baik secara teologis maupun secara praktis.

II. PENGERTIAN HUKUM TAURAT

a. Pengertian

Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan tora – תורה (bhs.Ibrani) dan nomos – ηομος (bhs.Yunani), yang masing-masing muncul kira-kira 200 kali, dengan ‘hukum Taurat’, ‘hukum’ saja. Sejak permulaan istilah tora digunakan untuk menggambarkan ajaran mengenai satu hal, keputusan-keputusan yang diambil untuk memecahkan soal yang musykil. Contoh yang baik ditemukan dalam Hag.2:11-13, di mana ditanyakan keputusan para imam mengenai soal ketahiran. Keputusan para imam, petunjuk mereka bagi tingkah laku umat disebut tora, ‘ajaran’.[1]

b. Sifat dari Hukum Perjanjian Lama[2]

Hukum PL ialah koleksi hukum-hukum yang Allah berikan kepada bangsa Israel selama zaman Musa. Lebih dari enam ratus hukum mengatur ketaatan bangsa Israel kepada Allah. Kita mendapatkan kumpulan hukum-hukum ini di tiga bagian utama dalam Pentateukh (lima kitab pertama dari PL). Koleksi tertua dikenal dengan sebutan kitab perjanjian (Kel.20:1-23:33, sebutan ini dipakai di 24:7). Yang paling akhir terdapat di hukum-hukum dari kitab Ulangan (4:33-29:1). Hukum ini diberikan oleh Musa di lembah Moab sebelum ia meninggal dan sebelum bangsa Israel masuk ke Negeri Perjanjian. Tujuan Musa ialah untuk memperingati bangsa Israel agar tidak berbuat dosa sebagaimana mereka pernah berdosa di belantara. Sebab itu ia mengulangi (seringkali dengan variasi) bagian-bagian yang pernah diberikan di hukum yang pertama. Yang menarik ialah baik kitab perjanjian dan hukum dari Kitab Ulangan mulai dengan Sepuluh Hukum (Kel.20:1-17 dan Ul. 5:6-21).

Kitab Imamat dan Bilangan terdapat di antara kedua hukum tersebut. Seperti Kitab Keluaran dan Ulangan, kedua kitab itu merupakan kitab-kitab yang menggabungkan naratif dan hukum. Uraian tentang peraturan-peraturan yang terdapat dalam Kitab Imamat dan Bilangan kebanyakan berfokus kepada ibadah formal bangsa Israel, yaitu tentang peraturan-peraturan yang berhubungan dengan imam, korban-korban, dan ritual pengudusan.

Beberapa peraturan-peraturan di Kitab Imamat yang menetapkan seseorang bersih atau najis, sukar kita terima pada masa kini. Bagi kita sekarang, persoalan bersih atau najis berkaitan dengan kesehatan fisik. Bagi para imam di zaman PL, hal ini berhubungan dengan kesucian agama. Seseorang yang bersih berarti ia berada dalam keadaan yang benar untuk menghampiri Allah yang berkuasa dan kudus. Orang yang menghampiri Allah dalam keadaan najis berarti ia akan mengalami malapetaka.

Pikiran serupa berlaku untuk makanan-makanan yang kosher (tidak haram, boleh dimakan). Beberapa macam daging tidak boleh dimakan, tetapi bukan karena mereka dianggap tidak sehat. Rupanya mereka dianggap tidak mewakili bagian ciptaan yang kudus. Hewan-hewan yang tidak haram mempunyai beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh hewan-hewan yang haram. Umpamanya, hewan-hewan darat yang boleh dimakan harus memamah biak dan berkuku belah (Im.11:1-8). Unta, kelinci, dan babi tidak termasuk golongan hewan ini. Pemisahan hewan-hewan haram dan tidak haram mempunyai persamaan di antara manusia yang juga terbagi menjadi tidak haram (Israel) dan haram (bangsa kafir).

c. Hukum Moral, Sipil dan Ritual[3]

Ketika kita mengamati hukum-hukum Musa, kita mendapati bahwa hukum-hukum ini berhubungan dengan isu-isu penting yang beraneka ragam, dan mencakup hubungan antara Allah dengan manusia dan antara sesama manusia. Umpamanya, kita sudah melihat bahwa sebagian besar hukum-hukum dalam Kitab Imamat dan Bilangan berhubungan dengan ibadah formal bangsa Israel, tetapi ada juga hukum-hukum yang berhubungan dengan bangsa Israel sebagai seorang anggota masyarakat dan dalam menjalankan peraturan-peraturan moral yang khusus. Kitab Keluaran dan Ulangan juga berisi hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk bermoral, anggota masyarakat dan orang yang beribadah.

Sebab itu sekarang sudah menjadi praktik umum untuk membedakan tiga macam hukum Perjanjian Lama. Disamping ada hukum moral, ada juga hukum sipil dan ritual. Pertama, hukum moral menyatakan prinsip-prinsip Allah untuk berhubungan yang benar dengan Dia dan dengan sesama. Sepuluh Hukum merupakan ekspresi kehendak Allah yang paling jelas dan kuat untuk umatNya. Kedua, hukum-hukum sipil. Hukum-hukum ini mengatur bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah yang menjadi umat pilihanNya. Ketiga, hukum ritual yang menggambarkan bagaimana bangsa Israel harus menyembah Tuhan.

d. Peranan Hukum Taurat bagi bangsa Israel

Menurut A van Selms, pengaruh tora dalam hidup bangsa Israel banyak sekali, kendati penulis-penulis pada waktu itu mengeluh bahwa tora diabaikan. Telah disinggung bahwa nubuat di Israel mengandaikan adanya tora dalam bentuk lisan atau tertulis (bd. Mi.6:8; Hos.4:2; Yer.7:9). Kitab-kitab seperti Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-Raja menyajikan sejarah Israel dari sudut pandang tora, sambil menunjukkan bahwa waktu-waktu ketaatan kepada Allah adalah waktu-waktu kelimpahan kebendaan maupun kerohanian, sementara bila tora diabaikan maka tibalah bencana menimpa Israel. Mazmur 1, 19, dan 119 memuliakan tora sebagai anugerah Allah yang terbesar. Bahkan dalam Amsal, seperti telah kita lihat tora sering diberi arti pengajaran manusia, hukum ilahi dipuji sebagai permulaan segala hikmat dan kebahagiaan (lih. Amsal 28:4,7,9,18). Penetapan Pentateukh pada akhirnya sebagai buku pegangan dasar dari semua tora, bertepatan dengan hilangnya semangat kenabian, menyebabkan bangkitnya kelompok pimpinan kerohanian baru, yaitu ‘ahli-ahli Taurat’, dan Ezra merupakan teladan pertama (Ezr.7:6; Neh.8:1-8).[4] Lebih dalam Selms mengatakan bahwa bagi bangsa yang terserak-serak di kemudian hari, tora terbukti lebih penting dari ibadah korban di Yerusalem.[5]

III. KESULITAN MENERAPKAN HUKUM TAURAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Bagi warga jemaat Kristen saat ini, hukum Taurat bukanlah sesuatu yang harus diwajibkan untuk dikerjakan. Mereka melihat hukum ini bukan hukum yang harus dipatuhi untuk zaman ini. Hukum Taurat hanya merupakan pengetahuan sejarah Alkitab saja. Pengajaran Hukum Taurat ini pun kurang begitu ditekankan oleh pihak gereja lagi. Gereja mungkin menganggap bahwa pengajaran utama ialah pengajaran tentang kasih Yesus Kristus. Dampak langsung bagi warga jemaat bila tidak melakukan hukum Taurat dirasakan tidak ada sehingga hukum Taurat itu sendiri tidak dihargai sebagai sesuatu hukum yang mutlak harus dipatuhi.

Kesulitan yang sering membuat Hukum Taurat itu dilaksanakan, menurut Eka Darmaputra dalam bukunya, “Sepuluh Perintah Allah – Museumkan saja?” mengatakan, bahwa setidaknya ada tiga alasan mengapa kita perlu memuseumkan Sepuluh Perintah Allah:[6]

1. Pertama, adalah karena menurut mereka, roh yang sedang bertiup kencang di zaman kita sekarang adalah “roh kemerdekaan”. Semangat kebebasan. Kemerdekaan dan kebebasan yang dicapai melalui perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Karenanya, manusia tak mau kehilangan itu lagi – walau sedikit.

2. Kedua,Dasa Titah dihormati sebagai salah satu warisan sejarah yang tak ternilai. Namun ya begitulah, rasa hormat tersebut hanyalah penghargaan seperti yang diberikan orang terhadap, misalnya, sebuah jambangan antik dari dinasti Ming, atau manuskrip kuno macam Serat Centini.

3. Ketiga, Dasa Titah dianggap tidak fungsional lagi karena kita adalah “umat Perjanjian Baru” (PB). Sepuluh Perintah Allah adalah produk Perjanjian Lama. Hukum kasih dalam Perjanjian Baru lebih akurat untuk kita ikuti!

Di dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai beberapa kesulitan untuk menjalankan Sepuluh Perintah Tuhan ini. Pada hal, menurut Al.Budyapranata Pr., Sepuluh Titah Tuhan ini singkat sekali, karena ditujukan untuk semua orang, sehingga isinya jelas, juga untuk orang yang bodoh sekali pun.[7]

Di bawah ini akan kita bahas sebagian dari Sepuluh Titah Tuhan tentang beberapa kesulitan dan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari:

1. Perintah Pertama: “Akulah Tuhan Allahmu, seru Tuhan kita, tidak boleh ada Allah lain, kecuali Aku”. Menurut Eka Darmaputra, tantangan kita dalam menghayati perintah ini adalah dengan adanya Politeisme dan Henoteisme.[8] Politeisme adalah orang yang menganggap bahwa Tuhan itu tidak cuma satu, tapi banyak. Orang beribadah kepada bermacam-macam Tuhan. Sedangkan para penganut Henoteisme – berbeda dengan penganut politeisme – siap untuk menerima, percaya, dan menyembah satu “allah” saja. Mereka tidak beribadah kepada banyak “allah”, tidak pula menyembah “allah” yang lain, kecuali kepada yang “satu” itu. Bagi para “henoteis”, “allah” orang lain itu adalah “Allah” juga. Bukan “allah” palsu atau apa. Cuma saja, “allah” tersebut adalah “allah” orang lain. “Allah”-nya, bukan “Allah”-ku. “Allah” mereka, bukani “Allah” kita!

2. Perintah Kedua: “Janganlah perbuat bagimu patung yang menyerupai apa pun, yang ada di langit, atau yang ada di bumi, atau yang ada di dalam air untuk disembah atau bertaqwa kepadanya.” Secara positif perintah ini menganjurkan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk.10:27) Namun dalam menjalankan perintah ini pada zaman sekarang, kita menghadapi tantangan dari beberapa aliran seperti: Materialisme dan Humanisme. Materialisme, mengajarkan, bahwa nilai yang tertinggi di dunia ini adalah materi (benda) saja. Tidak ada jiwa, tidak ada roh, tidak ada kebahagiaan kekal, dan tidak ada Tuhan. Bahkan sering kali yang menjadi berhalanya adalah: “Aku”nya, atau kesenangannya sendiri. Sedangkan Humanisme, adalah bentuk pemujuaan yang berpusat pada manusia. Dasar pandangan humanisme adalah bahwa manusia itu adalah otonom, sudah bisa berdiri sendiri tanpa membutuhkan Tuhan alam hidupnya. Manusia adalah penguasa dan pengatur alam semesta. Tuhan itu tidak ada. Sebab Tuhan itu menurut mereka hanyalah semacam fantasi atau ilusi manusia saja.

3. Perintah Ketiga: “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan seenaknya karena Allah akan menghukum orang yang menyalahgunakan nama-Nya.” Perintah ini mengingatkan kita akan keluhuran Nama Tuhan. Maka dalam perintah ini terkandung tujuan: Sebutlah Nama Tuhan hanya demi keluhuranNya. Tantangan untuk menjalankan perintah ini adalah melalui Sumpah Palsu dan Menyalah-gunakan Agama. Sumpah palsu berarti menghina Tuhan.

4. Perintah Keempat: “Ingat dan sucikanlah hari yang dikuduskan itu…” Maka dalam perintah ini sebenarnya terkandung maksud: (1) Waktu (hari) khusus yang harus kita istimewakan bagi Tuhan. (2) Supaya kita berani merefleksikan tujuan hidup dan kerja kita di hadapan Tuhan untuk dapat menemukan rencana Tuhan di dalamnya. Tantangan yang sering kita hadapi untuk melaksanakan perintah ini adalah kebijakan pemerintah/instansi/perusahaan negara/perusahaan swasta yang mewajibkan bekerja pada hari Minggu. Kemudian seringnya para jemaat melaksanakan adat-istiadat, arisan, berlibur pada hari Minggu.

5. Perintah Keenam: “Jangan membunuh.” Perintah ini menganjurkan agar kita menghargai kehidupan manusia; menghargai hak hidup, dan mempertahankan nilai kehidupan. Namun yang sering kita hadapi dalam melakukan perintah ini adalah: Bunuh diri, mematikan orang lain, abortus, euthanasia, membahayakan orang lain karena kelalaian, hukuman mati, perang.

6. Perintah Ketujuh: “Jangan engakau berjinah” Tantangan dalam melakukan hukum ini adalah: selingkuh, perceraian, polygami, dll.

IV. SOLUSI SECARA TEOLOGIS DAN PRAKTIS

a. Secara Teologis

Kasih tanpa hukum, kacau-balau, tetapi hukum tanpa kasih, kaku. Pepatah ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jika Gereja terlalu menekankan kasih atau anugerah, dan melalaikan hukum Tuhan (Taurat), maka bisa saja Gereja itu akan mengalami kekacau-balauan. Sebaliknya, jika Gereja hanya menekankan hukum, dan melalaikan kasih dan anugerah Allah, maka akan terjadi kekakuan. Kita harus memelihara Hukum Tuhan (Taurat) supaya orang menahan diri berbuat dosa. Namun perlu ditekankan seperti yang dikatakan Martin Luther, bahwa fungsi dan kuasa terpenting dari hukum itu adalah untuk menampakkan dengan jelas dan terang dosa asali itu.[9]

Bagi bangsa Israel di zaman perbudakan di Mesir dan bagi umat percaya sekarang, keselamatan berasal hanya karena oleh anugerah Tuhan. Sebagaimana Paulus menekankan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Rm.3:20). Peran hukum pada zaman ini sama seperti pada zaman lalu: hukum merupakan petunjuk bagi kehidupan kita yang berasal dari Tuhan yang murah hati agar kita boleh menyenangkan Dia dan menjadi kebaikan untuk kita.

Sebagaimana orang Kristen, kita mengetahui dengan jelas akan ketidakmampuan kita melakukan hukum Taurat. Kita tahu bahwa kita adalah pelanggar-pelanggar hukum. Paulus menekankan keberdosaan manusia yang bersifat universal dengan mengutip Perjanjian Lama: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” (Roma 3:10-12 // Mzm.14:1-3 // Mzm.53:1-3)

Kesalahan manusia bukan dari banyaknya dosa. Yakobus memperingati kita berusaha menyelamatkan diri melalui kebaikan kita bahwa “barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga” (Yak. 2:10-11).

Tetapi keadaan buruk manusia ternyata lebih menyedihkan. Melalui penerangan dari Khotbah di Bukit (Mat. 5-7), di mana Yesus menekankan Hukum Taurat, sukar dipercaya bahwa ada banyak orang yang tidak pernah berzinah. Di dalam ajaranNya, semua hukum mempunyai sebuah pengertian internal yang radikal. Bayangkan umpamanya tentang perintahNya mengenai hukum ketujuh:

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. (Mat.5:27-30)

Jadi bagaimana hukum PL mempengaruhi kita? Yesus dan para rasul dengan jelas memakai banyak kebenaran dari Sepuluh Hukum. Penyembahan berhala, menghujat, mengutuk orang tua, mencuri, berzinah, membunuh, berdusta, tamak tetap merupakan kesalahan. Prinsip-prinsip etika umum dari Sepuluh Hukum tetap berlaku bagi orang percaya di Perjanjian Baru (PB).

Jadi apakah kita menaati hukum Perjanjian Lama? Ada dua paham berbeda yang ada pada zaman ini untuk mewakili pendapat tentang pokok ini. Pada dasarnya ajaran Dispensasi dan ajaran Theonomi merupakan pandangan hermeneutika, tetapi keduanya berfokus pada hukum Taurat dalam hal-hal tertentu. Ada yang melihat penganut ajaran Dispensasi bertendensi membedakan PL sebagai waktu di mana Allah bekerja melalui hukum sedangkan PB sebagai sebuah masa anugerah. C.I. Scoffield berkata: “Pemisahan yang paling jelas dan nyata dari Firman Kebenaran ialah antara Hukum dan Anugerah. Sesungguhnya, prinsip-prinsip yang kontras ini merupakan karakteristik dua dispensasi yang paling penting yaitu antara orang Yahudi dan orang Kristen… Alkitab tidak pernah, dalam tiap disepensasi, mencampurkan dua prinsip ini.[10] Pandangan ini oleh banyak penganut dispensasi zaman sekarang tidak dipegang secara eksplisit, sehingga berakibat pada minimalisasi hukum yaitu sebuah sikap yang kurang menghargai hukum PL.

Di pihak lain, ajaran Theonomi (bhs Yunani untuk “hukum Allah”) berpendapat bahwa hukum-hukum PL dan hukumnya terus berlaku sampai sekarang.[11] Ringkasnya, pendekatan ajaran Theonomi terhadap hukum ialah memegang ajaran Yesus dengan serius baik secara dogmatik dan harafiah. “Iota dan titik” dari hukum Taurat tetap masih berlaku. Kesinambungan ketat tetap ada antara PL dan PB. Penganut ajaran Theonomi percaya bahwa tanggung jawab pemerintah ialah menjalankan hukum-hukum PL yang seharusnya menjadi blueprint bagi masyarakat banyak.

Ajaran Theonomi dan dispensasi mewakili dua pendekatan ekstrim tentang hukum Taurat. Meskipun ajaran theologia mereka amat ortodoks, tetapi mereka secara radikal berbeda pendapat tentang hubungan antara PL dan PB. Ajaran Theonomi menekankan kesinambungan antara PL dab PB, sedangkan ajaran Dispensasi menekankan ketidaksinambungan antara PL dan PB.

Tetapi menurut Tremper Longman III[12], ada kelemahan-kelemahan dalam ajaran Theonomi. Pertama, Hukum PL ditujukan kepada umat Allah ketika mereka merupakan sebuah bangsa. Umat Allah merupakan sebuah grup politik berbeda, yaitu bangsa Israel; dan sebuah fungsi utama yang disebut hukum-hukum yang berkenaan dengan kasus dan khususnya hukuman-hukumannya ialah untuk menjaga bangsa pilihan ini bebas dari dosa. Masa ini Allah tidak bekerja melalui sebuah bangsa pilihan, tetapi melalui sebuah umat pilihan yang meliputi bangsa-bangsa di dunia. Kedua, Allah memberi bangsa Israel hukum Taurat sebelum Yesus Kristus diwahyukan ke dalam dunia. Singkatnya, kita tidak dapat menerima kesinambungan di antara kedua Perjanjian dalam hal pelaksanaan hukum dan hukuman-hukumannya. Pasal-pasal penting dari PB memberikan konfirmasi bahwa sesuatu yang baru sedang bekerja.

Saat ini kita akan melihat hanya satu hukum, yaitu mengenai perzinahan. Perzinahan dihukum oleh hukum ketujuh (Kel.20:14; Ul.5:18). Hukum kasus memberitahukan kita hukumannya: “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel” (Ul.22:22). Berdasarkan hukum PL ini, ajaran Theonomi berargumentasi bahwa pada masa ini, perzinahan harus dihukum mati. Tetapi kalau kita membaca PB dengan teliti, justru mengajar yang lain. Kita ingat kembali Yoh.7:53-8:11 mengenai wanita yang ditangkap sedang berzinah. Wanita itu adalah seorang pezinah. Dia hampir dirajam, tetapi Yesus menengahi dan menahan perajam dengan tantangan “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (8:7). Ketika Yesus memandang wanita ini, Dia berkata kepadanya bahwa Dia tidak menghukumnya. Yesus menyuruh dia pergi dengan peringatan agar “jangan berbuat dosa lagi” (ay.11)

Solusi lain menurut Eka Darmaputra[13], yang mengutip pendapat William Barclay melalui buku kecilnya yang berjudul The Ten Commandments, yakni: Pertama: Barclay menolak anggapan bahwa semata-mata karena kita adalah umat “PB”, maka kita serta-merta kita lalu punya alasan untuk mencampakkan semua yang berbau PL. Salah besar! Sebutan “PB” justru hendak mengingatkan bahwa ia tidak muncul tiba-tiba. Ia punya akar sejarah. Ia punya ibu yang mengandung dan melahirkannya. Tak akan ada yang “baru”, bila tak ada yang “lama”. Kedua, Barclay juga menyangkal bahwa Dasa Titah (Sepuluh Perintah Allah) adalah semata-mata etikanya orang Yahudi dan orang Kristiani saja. Tidak! Dasa Titah mengandung nilai-nilai yang universal. Setiap masyarakat dari bangsa, agama, dan zaman apa pun yang berniat membangun kehidupan berama yang baik, tertib, serta sejahtera, suka atau tidak suka harus menyepakati nilai-nilai Dasa Titah sebagai pegangan normatif bersama.

b. Secara praktis:

  1. Gereja harus memberikan penjelasan-penjelasan teologis tentang makna dan fungsi Hukum Taurat bagi kehidupan setiap orang percaya. Bahwasanya, setiap orang yang percaya kepada Tuhan, dia wajib berpegang dan melakukan Hukum Tuhan (Taurat) dalam perjalanan hidupnya sehari-hari.[14]
  2. Membuat rumusan teologi yang diangkat dan digali dari Sepuluh Perintah Allah tersebut, misalnya: teologi tanah, teologi hari Sabat, teologi perang, teologi perzinahan, dan lain-lain.
  3. Memasukkan Pembacaan Hukum Taurat di dalam rumusan ibadah (liturgi) Gereja setiap Minggu. Karena liturgi adalah sebagai kekuatan untuk bertindak. Pembacaan seperti itu sedikit banyaknya akan turut juga mempengaruhi gerak-langkah kita. Mengapa hal ini perlu dimasukkan? Karena Hukum Taurat itu merupakan penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (bnd. Gal.3:24). Dengan dibacakannya Hukum Taurat ini, maka kita dapat mengingat dosa pelanggaran kita mulai hari Senin hingga Sabtu. Dan pada hari Minggu itu kita mohon ampun dosa kepada Tuhan.[15] Jika dibandingkan dengan ibadah Gereja di Timur – seperti gereja Syiria khususnya di kota Antiokia, kira-kira antara tahun 350-380 – dalam tata ibadah mereka mencantumkan pembacaan Torat.[16]
  4. Membuat dan mengembangkan Hukum Siasat Gereja yang didasarkan kepada Hukum Taurat agar setiap warga jemaat semakin mudah memahami dan melakukan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari,[17] agar tidak terlampau menekankan satu bagian saja dari Hukum Taurat.
  5. Menerbitkan buku tentang Sepuluh Hukum Taurat serta penjelasan praktis bagi warga jemaat.
  6. Memasukkan Sepuluh Hukum Taurat ke kurikulum pelajar Sidi Gereja.
  7. Membuat konsekuensi teologis jika Hukum Taurat dilanggar dan tidak dipatuhi. Memang harus diakui bahwa bukan Hukum Taurat yang menyelamatkan, tetapi sebagai bukti orang yang sudah diselamatkan harus mematuhi Hukum Taurat. Dan jika orang yang sudah diselamatkan itu sendiri tidak melaksanakan hukum Taurat dalam hidup kesehariannya, maka dia akan menerima hukuman-hukuman. Misalnya jika hari Sabat dilanggar maka seseorang itu harus ditegur (Yes.58:13), apalagi jika motifnya keserakahan ekonomi (Yer.19:21-27; Am.8:5-6).[18]

V. DAFTAR PUSTAKA

Abineno, J.L.Ch. Ibadah Djemaat Di Timur dan Di Barat, BPK GM, Jakarta, 1961

Bahnsen, Greg L. Theonomy in Christian Ethics, Presbiterian and Reformed, Nutley, NJ, 1977

Budyapranata Pr., Al. Etika Praktis: Berdasarkan Sepuluh Perintah Allah, Yayasan Andi, Yogyakarta

Darmaputra, Eka. Sepuluh Perintah Allah – Museumkan Saja?, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2005

Kantor Pusat GKPA, Ruhut Parmahanion/Pamincangon ni Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA),1999.

Karman, Yonky. Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, BPK GM, Jakarta, 2005

Longman III, Tremper. Memahami Perjanjian Lama: Tiga Pertanyaan Penting, (Alih bahasa Cornelius Kuswanto, SAAT, Malang, 2002

Lutheran Literatur Team, Buku Konkordia: Pasal-Pasal Smalkalden, LKS, P.Siantar, 1986

Pakpahan, M. Hatorangan Ni Agenda HKBP, HKBP Distrik IX, Bandung, 1954

Scofield, C.I. Rightly Dividing the Word of Truth, Fundamental Truth, Findlay, Ohio, 1940

Selms, A van. “Taurat” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Penyuntung J.D.Douglas), YKBK/OMF, Jakarta, 1999


[1] A van Selms, “Taurat” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Peny. J.D.Douglas), YKBK/OMF, Jakarta, 1999II, hlm.451

[2] Tremper Longman III, Memahami Perjanjian Lama: Tiga Pertanyaan Penting, (Alih bahasa Cornelius Kuswanto, SAAT, Malang, 2002, hlm.127-129

[3] Tremper Longman III, Memahami …, hlm.129-130

[4] A van Selms, “Taurat” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,… hlm.453-454

[5] A van Selms, Ibid, hlm.454

[6] Eka Darmaputra, Sepuluh Perintah Allah – Museumkan Saja?, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2005, hlm.7-9

[7] Al.Budyapranata Pr., Etika Praktis: Berdasarkan Sepuluh Perintah Allah, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1996, hlm.3

[8] Eka Darmaputra, Sepuluh …, hlm.16,21-22

[9] Lutheran Literatur Team, Buku Konkordia: Pasal-Pasal Smalkalden, LKS, P.Siantar, 1986, hlm.46

[10] C.I.Scofield, Rightly Dividing the Word of Truth, Fundamental Truth, Findlay, Ohio, 1940, hlm.5

[11] Lihat Greg L.Bahnsen, Theonomy in Christian Ethics, Presbiterian and Reformed, Nutley, NJ, 1977 yang berpengaruh tapi sayangnya menyimpang. Beberapa pemikir ajaran Theonomi yang berpengaruh ialah Rousas J.Rushdoony dan Gary North

[12] Tremper Longman III, Memahami …, hlm.125-126

[13] Eka Darmaputra, Sepuluh …, hlm.10-12

[14] Bnd. Kantor Pusat GKPA, Konfessi GKPA, P.Sidimpuan, 1975

[15] Bnd. M.Pakpahan, Hatorangan Ni Agenda HKBP, HKBP Distrik IX, Bandung, 1954, hlm.13-14

[16] J.L.Ch.Abineno, Ibadah Djemaat Di Timur dan Di Barat, BPK GM, Jakarta, 1961, hlm.8

[17] Bnd. Kantor Pusat GKPA, Ruhut Parmahanion/Pamincangon ni Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA),1999.

[18] Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, BPK GM, Jakarta, 2005, hlm.89

Posted by: ramlyharahap | April 7, 2009

MAKNA PENELITIAN YESUS SEJARAH DALAM IMAN KRISTEN

MAKNA PENELITIAN YESUS SEJARAH

DALAM IMAN KRISTEN


Dalam perjalanan penelitian Yesus sejarah ternyata tidak semulus yang kita bayangkan. Perdebatan silih berganti terjadi. Keilahian sekaligus kemanusiaan Yesus kembali dipertanyakan. Iman Kristen sedang ditantang oleh produk budaya paling berpengaruh saat ini: media! Media sangat antusias mengeksploitasi Yesus. Entah dengan motif religius atau untuk mengeruk keuntungan semata. Beragam buku, novel, atau film menyangkut kehidupan Yesus atau interpretasi tentang Injil – berserta polemik yang menyertainya – sedang menggempur iman Kristen seperti: The Da Vinci Code, The Lord of The Rings, The Passion of The Christ, Injil Thomas, Injil Maria, Injil Filipus, The Burial Cave Of Jezus dan sejenisnya. Belum lagi kontroversi tentang kematian Yesus – dipicu oleh temuan arkeologis kain kafan Turin atau peti kubur Yakobus. Aneka reportase media massa dan elektronik di Indonesia tak ketinggalan menampilkan penemuan makam Yesus dan Keluarga Kudus. Penemuan itu tepatnya di Yerusalem. Majalah Haarlems Dagblad, terbitan tanggal 23 Februari 2007 lalu memuat laporan seorang pembuat film dokumenter asal Kanada. Dalam jumpa pers ia  berkeyakinan telah menemukan kuburan dari Yesus asal Nasareth. Ia meyakinkan bahwa penyelidikan tersebut telah memakan waktu yang cukup lama. Penyelidikan itu bahkan  dilakukan oleh tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, diantaranya para arkeolog,  ahli sejarah, pakar tulisan kuno dan spesialis DNA.

Dalam laporan penelitian dikatakan, kuburan yang ditemukan tersebut berada di Talpiot, yang masih dalam wilayah Yerusalem. Didalam gua kecil yang dipercaya sebagai kuburan tersebut, team peneliti menemukan 10 sisa – sisa dari peti mati. Dimana tertulis nama-nama diatas sisa-sisa peti tersebut. Nama-nama yang ditemukan, diantaranya: Yesus, anak Yosef, anak Yesus dan dua kali nama Maria, yang dimaksud adalah Maria Magdalena, dan Maria ibu Yesus. Tak heran, penemuan menghebohkan ini segera menjadi headline harian nasional Israel,  Yediot Ahronot.

Dalam refleksi kali ini akan mencoba mengetengahkan pendapat dua ahli yang satu sama lain sangat berbeda melihat Yesus sejarah.

Tom Wright

Karyanya sangat diagungkan banyak sarjana dengan berbagai pandangan mereka termasuk Professor James D.G.Dunn, Richard B.Hays dan Rowan Williams, Archbishop Canterbury. Kritik terhadap karyanya juga disampaikan oleh para teolog dari kalangan konservatif seperti Ligon Duncan; dari kalangan liberal seperti Robert J. Miller dan John Shelby Spong. Juga dia menerima kritik tajam dari kalangan yang lebih radikal seperti Marcus J.Borg, dari kelompok Jesus Seminar.

Dalam pandangan Wright, cara mendapatkan Yesus sejarah adalah dari gambaran Yudaisme mula-mula dan dari gambaran di dalam Injil. Wright menggambarkan secara khusus pada sisi sosial, pilitik dan lingkungan keagamaan Galilea yang telah bertumbuh dengan penelitian saat ini yang disebut dengan Third Quest of the historical Jesus. Tetapi Wright tidak berkesempatan menganalisis penurunan sosial yang mengabaikan faktor keagamaan dan teologi yang membantu etika sosial Yesus pada waktu itu. Secara singkat, Wright melakukan pekerjaannya sebagai seorang sejarawan dan teolog, bukan terutama sebagai seorang arkeolog atau seorang ilmuwan sosial.

Bagi Wright, tekanan utama penelitiannya adalah ke-Yahudian Yesus dan pengikutNya. Hal inilah yang membedakan Wright dengan anggota Jesus Seminar — khususnya Crossan dan Robert Funk. Funk menggambarkan Yesus sebagai seorang sosial radikal, dan orang yang menyimpang. Crossan mengatakan Yesus seorang egalitarian radikal di Galilea dengan memberi kesembuhan dan perjamuan makanan terbuka bagi setiap orang yang datang. Wright mencoba mengerti Yesus dalam terang simbol-simbol umum dan nilai-nilai Kekristenan mula-mula seperti: Hukum Taurat, Bait Allah, kosmos, perumpaan-perumpamaan, dan kemanusiaan Yesus.

Pemikiran Wright sama dengan Schweitzer yang mempercayai bahwa Yesus diutus untuk mendirikan Kerajaan Allah di dunia dan mengutamakan pemberitaanNya pada akhir zaman. Yesus yakin bahwa orang pada abad pertama mempercayai Kerajaan Allah sudah datang di dalam dan melalui pelayananNya.

Dalam bukunya, The Original Jesus: The Life and Vision of a Revolutionary, Wright mencoba mengerti seluruh cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dari pemahaman masyarakat pada zaman Yesus dan memahaminya pada saat sekarang ini. Bahkan Wright berpendapat bahwa dengan menceritakan cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dengan cara yang berbeda akan mengubah dunia saat ini. Dalam bagian dua bukunya (Membaca Injil dengan kedua mata terbuka), Wright menjelaskan lebih dalam bahwa cerita-cerita bukanlah hanya bahan cerita anak-anak, pengikat yang indah di sekitar sisi pemikiran serius yang abstrak. Melainkan cerita-cerita itu merupakan dinamit dan eksplosif yang melakukan segala sesuatu; yang merubah segala sesuatu dan membuat segala sesuatu.

Lebih jauh Wright dalam uraiannya mencoba memahami dunia Yesus dengan pendekatan pastoral artinya dengan melihat peristiwa yang terjadi pada zaman Yesus dua ribu tahun yang silam dimaknai ulang pada saat ini. Pendekatan ini akhirnya mengabaikan penelitian Yesus sejarah secara obyektif. Sehingga pendekatan Wright ini sangat sederhana, sebab dia tidak memakai disiplin ilmu lain dalam memahami keberadaan Yesus sejarah tersebut.

John Dominic Crossan

Dia telah memberikan banyak artikel dan pandangan dalam jurnal-jurnal dan telah menulis lebih dari 18 buku selama 30 tahun. Buku best sellernya adalah The Birth of Christianity yang diterbitkan tahun 1998. Dan empat judul bukunya menjadi best seller nasional yaitu: The Historical Jesus, Jesus: A Revolutionary Biography, Who Killed Jesus dan The Birth of Christianity. Crossan bergabung dengan arkeologist brilian untuk menjelaskan hidup dan pengajaran Yesus.

Crossan menduga Yesus mungkin adalah seorang petani buta huruf, tetapi juga seorang manusia yang penuh hikmat dan yang mendorong orang untuk berpikir inklusif, toleransi dan memiliki kebebasan. Crossan menanyakan kesejarahan cerita-cerita Injil tentang Yesus termasuk “tanda mujizatNya”, kelahiran dan kebangkitan Lazarus. Bahkan Crossan berpendapat bahwa tubuh Yesus mungkin telah dicuri dari kuburanNya, dikuburkan dalam kuburan yang dangkal sehingga dimakan oleh binatang atau burung pemakan bangkai seperti anjing pemakan bangkai. Pendapat ini amat mengejutkan sekali bagi saya.

Berdasarkan pembahasannya yang menggunakan berbagai inter disipliner (cross-cultural anthropology, Greco-Roman and Jewish history, dan literary and textual evidence), maka Crossan menyimpulkan bahwa cerita-cerita kelahiran, paskah, kebangkitan Yesus bukanlah sebuah peristiwa sejarah. Dari paparannya juga kita mendapatkan garis sejarah politik Yesus yang benar dari seluruh ilmu mitologi, seorang pemimpin revolusionaris sosial yang berpikir “egalitarianisme radikal” tetapi tanpa mujizat, kecuali kebangkitan kesadaran sosial. Bahkan analisa Crossan mengatakan bahwa: “Yesus tidak melakukan dan tidak dapat menyembuhkan … penyakit (disease)”; Yesus tidak pernah bertemu dengan Pilatus atau Kayapas; cerita Barnabas adalah fiksi belaka sama seperti Perjamuan Kudus, Kebangkitan Lazarus dan Kelahiran dan lain-lain.

Bahasan Crossan tentang Yesus dalam bukunya ini semakin membuka mata untuk mengerti kehidupan Yesus yang sejarah. Crossan menggambarkan Yesus dengan kehangatan dan kuasa. Dia membuat sebuah potret yang dibuat dalam latarbelakang yang sezaman dengan Yesus. Yesus adalah petani Yahudi, dengan perasaan kesegeraan kehadiran Allah, yang menghancurkan pengendalian sosial. Crossan melihat karya penyelamatan Yesus adalah bersifat sapiental (ethical eschatology), artinya kehadiran kerajaan Allah bukanlah pada hari yang akan datang melainkan kini dan di sini.

Pendekatan Crossan ini sangat berbeda dengan pendekatan NT.Wright. Jika Wright memakai pendekatannya dengan metode pastoral, maka Crossan memakai pendekatan interdisipliner dalam merekonstruksi Yesus sejarah. Pendekatan ini mencakup tiga langkah analitis yang semuanya bekerjasama sepenuhnya, seimbang dan saling terkait, untuk menghasilkan suatu sintesis yang kokoh dan efektif. Langkah pertama adalah melakukan suatu analisis antropologis lintas-budaya dan lintas-zaman, dengan menerapkan beberapa model dan tipologi antropologis. Langkah kedua, melakukan suatu analisis sejarah zaman Hellenistik dan Yunani-Romawi, dengan memakai kajian-kajian sinkronik dan diakronik atas bahan-bahan yang relevan. Kedua langkah ini dimaksudkan untuk mendapatkan konteks historis dan kontemporer dan sesudahnya (sampai tahun 70) yang di dalamnya Yesus dapat dengan mantap ditempatkan. Langkah ketiga, melakukan suatu analisis tekstual dan literer atas bahan-bahan tentang Yesus; langkah ini paling mendasar sebab “setiap kajian tentang Yesus sejarah akan bertahan atau gugur tergantung pada bagaimana si peneliti menangani langkah analisi literer atas teks yang ada.“

Dalam merekontruksi Yesus sejarah, akan selalu ada interaksi antara data-data tekstual yang sedang ditafsir dan teologi si perekonstruksi. Dengan demikian, setiap pengkajian Yesus sejarah adalah sebuah usaha hermeneutik, untuk menemukan Yesus di masa lalu yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang diajukan si peneliti terhadap teks-teks yang tersedia, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari lokasi sosial si peneliti di masa kini. Inilah yang dilakukan oleh Crossan dalam bagian ini. Crossan mencoba menjawab pertanyaan sosial mengenai apakah Yesus anak manusia, apakah Yesus adalah hakim atas dunia ini? Ternyata dalam penelitiannya atas berbagai teks-teks yang ada maka Crossan berkesimpulan bahwa Yesus tidak pernah menjadi hakim, Yesus tidak pernah menyebut diriNya sebagai Anak Manusia. Dalam bagian lain, Crossan juga menegaskan bahwa Yesus bukanlah nabi apokaliptis. Sebab Yesus menekankan “pesta” di dalam pengajarannya, karena Yesus memahami bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada di bumi ini bukan lagi sesuatu yang harus ditunggu-tunggu lagi. Dengan demikian visi eskatologis apokaliptis tentang masuknya manusia ke “sorga” sebagai suatu ”dunia lain“ di masa depan di akhir sejarah dunia, bukanlah visi Yesus sejarah.

Metode penelitian seperti ini menurut saya lebih baik daripada pendekatan Wright sebab kebenaran Yesus sejarah itu digali dari berbagai sumber-sumber yang mengacu kepada kebenaran sejarah. Kehidupan Yesus yang hidup dulu dapat kita rekonstruksi ulang dari penelitian interdisipliner ini. Sebab Yesus yang diberitakan sekarang adalah Yesus kepercayaan dari pada penulis Injil pada abad pertama. Dengan adanya penelitian interdisipliner ini akan memperkaya pemahaman kita akan karya dan hidup Yesus lebih nyata dan otentik.

Perenungan

Dalam penelitiannya, Crossan memakai sumber-sumber non-Alkitab yang membuktikan fakta bahwa Yesus sosok sejarah yang asli. Tulisan Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi abad pertama terkenal menegaskan bahwa Yesus memang benar-benar ada. Dan menggambarkan bagaimana Yesus dirajam oleh dewan Yahudi, Sanhedrin. Ada juga rujukan singkat Yesus lainnya dalam ahli sejarah non-Kristen pada penulis Romawi seperti Thallus, Seutoneous, dan Asotis. Dan ahli sejarah Yunani seperti Lucien. Juga dokumen Yahudi yang membuat Talmut, terdapat rujukan soal Yesus. Meliputi mukjizat dan pengusiran setan olehNya.

Cornelius Tacitus ahli sejarah Romawi menegaskan bahwa Yesus disalibkan layaknya penjahat dalam pemerintahan Pontius Pilatus. Ia juga menceritakan Kekristenan berasal dari Yudea kuno. Umat Kristen berkembang di Roma. Walau ada fakta pendiri Kekristenan itu dihukum mati sebagai penjahat. Certonias adalah ahli sejarah resmi Romawi di zaman Kaisar Trajan. Tulisannya menegaskan pernyataan Lukas dalam Kis. 18:2 tentang pengusiran orang Yahudi dari Roma oleh Kaisar Klaudius. Ia juga menjelaskan ada sejumlah orang Kristen yang tinggal di Roma sebelum pertengahan tahun 60-an M. Tulisan Gubernur Romawi Pliny Muda khususnya menarik mengenai ajaran dalam Perjanjian Baru. Menurut Pliny, umat Kristen sangat mencintai kebenaran. Ia menulis bahwa mereka berkumpul di hari tertentu sebelum fajar, menyanyikan hymne bagi Kristus. Dan bersumpah tak berbuat dosa lagi.

Tapi apakah hanya ahli sejarah kuno yang mendukung catatan Alkitab? Sain modern juga memiliki andil dalam menegaskan Injil. Bahkan saat sumbernya sangat sekuler dan sering tak simpatik pada Kekristenan. Misalnya salah satu aspek dari mukjizat penyaliban yaitu kegelapan meliputi negeri dari jam ke-6 hingga jam ke-9. Matius, Markus, dan Lukas mencatat peristiwa itu. Begitu juga para ahli sekuler. Di antaranya seorang pria bernama Thallus yang hidup di tahun 52 M dari Siria menegaskan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi.

Bisakah sain modern kita memperkokoh argumen ini? Adakah temuan ilmiah lainnya yang cenderung mendukung atau menentang bahwa Kristus pernah hidup? Kolam Siloam dan Betesda yang ada di Injil Yohanes digali tahun 1890-an. Dan ditemukan persis seperti gambaran di Alkitab. Prasasti yang merujuk Pilatus bagian dari Yudea ditemukan tahun 1963. Di pertengahan tahun 1980-an, perahu nelayan yang dibentuk dan gayanya agak mirip dengan cerita Injil, ditemukan abad pertama di dasar Laut Galilea. Dan di tahun 1990-an, makam Kayafas imam besar di saat Yesus mati juga ditemukan.

Jelaslah bahwa Yesus memang ada dalam sejarah. Sumber Alkitab dan non-Alkitab membuktikan karyaNya, pengadilan dan penyalibanNya. Dan masih ada pertanyaan lain-lainnya yang jawabannya masih dicari oleh ilmuwan dan cendikiawan. Tapi janganlah diabaikan pencarian kebenaran ini. Sejauh ini belum ada temuan yang menentang catatan Alkitab. Namun penemuan-penemuan tersebut merupakan pembuktian bahwa di luar sumber Kristen tenyata ada laporan yang melaporkan kisah-kisah Yesus dalam sejarah.

Kisah sejati tentang Yesus sejarah sangat menarik dan memberi ilham. Kisah ini mungkin merupakan cerita lama, tetapi jauh lebih memukau daripada versi cerita Yesus yang lebih baru, radikal, minimalis, dan revisionis. Arkeologi yang terus-menerus dilakukan, penemuan yang terus-menerus berlangsung dan riset tentang dokumen kuno akan terus memancarkan terangnya pada kisah tua ini. Penemuan tersebut mungkin memerlukan penyesuaian di sana sini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penemuan-penemuan arkeologi dan ilmu-ilmu di luar Kekristenan harus kita pahami sebagai penemuan yang meneguhkan iman percaya kita.

Posted by: ramlyharahap | April 7, 2009

LAPORAN BUKU: J E S U S : A Revolutionary Biography

J E S U S :

A Revolutionary Biography

by

John Dominic Crossan

(San Francisco: HarperSanFrancisco, 1994) 29-53

PENDAHULUAN

Untuk melihat lebih dalam tentang pemikiran John Dominic Crossan, kali ini kita akan melihat uraiannya tentang “Yordan bukanlah hanya sebatas air”[1]. Dalam bagian ini Crossan akan memaparkannya dengan tujuh pokok bahasan yaitu:

1. ALLAH ISTIRAHAT DI ITALIA SEKARANG[2]

Crossan menjelaskan pengaruh Yosephus dalam sejarah Yahudi dan Roma. Yosephus lahir dalam golongan bangsawan imam di Yerusalem tahun 37M dan naik pentas di Roma sebelum kaisar Nero membela pengikut imam tahun 64M. Dalam Perang Yahudi-Roma Pertama tahun 66-73M, ia masuk dalam revolusi di Galilea tetapi menyerahkan diri ke Roma Vespasian tahun 67M. Dia meneliti pengepungan dan kejatuhan Yerusalem, sebagai penafsir bagi anak Vespasian Titus dan kembali ke Roma di bawah kekuasaan Flavian baru kerajaan Vespasian yang memerintah tahun 69-79M, Titus tahun 79-81M. Dia meninggal sekitar akhir abad pertama. Bagi Perang Yahudi-Roma Pertama, dia berpartisipasi dan saksi hidup bagi kedua belah pihak baik Yahudi maupun Roma.

Yosepus bekerja bagi Perang Yahudi, menulis di antara tahun 70-an dan awal 80-an sesudah Kristus. Pekerjaan keduanya begitu lama namun tidak berdekatan dengan Jewish Antiquities yang dipublikasikan pada tahun 93-94M. Dua anggapan umum Yosephus di bawah ini sangat berarti dalam bab ini yaitu:

Pertama, dalam hubungannya dengan tradisi nabi alkitabiah dan sejarah kekaisaran, ditafsirkan di dalam istilah penghukuman Allah dan keselamatan. Hal ini ditujukan kepada orang Roma, Mesir, Asyria, Babilonia, Persia, Yunani, dan Syiria. Dengan demikian, berdasarkan Kekaisaran Roma secara umum dan dinasti Flavian secara khusus, posisi teologi Yosephus cukup jelas, sebagaimana di dalam War 5.367,378 dan 412:

Sungguh keberuntungan datang dari seperempat bagian dari mereka (orang Roma), dan Allah yang berkeliling bangsa, …. sekarang istirahat di Italia… Engkau berperang bukan hanya melawan Roma, tetapi juga melawan Allah … Yang Ilahi turun dari tanah suci dan berdiri di sisi orang yang berperang denganmu.

Allah, berdasarkan Yosephus menginginkan Yahudi secara politik patuh kepada Roma; dengan demikian orang-orang yang di dalam revolusi selama Perang Roma-Yahudi Pertama adalah melawan Allah.

Kedua, pengharapan evokatif yang kuat akan pemimpin ideal, Seorang Yang Diurapi atau Mesias, yang akan membawa kembali keadilan dan damai kepada tanah Yahudi mengatasi diskriminasi sosial, dominasi budaya dan penekanan kekaisaran. Di sini suara pengharapan itu, dari satu group sekitar pertengahan abad pertama sebelum Kristus, di dalam Mazmur Salomo 17:21, 29, 32-33 dan 35. Tidak hanya dalam hal itu Yosephus mengerti mesianis Keyahudian dan pengharapan apokaliptik. Dari penafisrannya akan War 6.312-313, Yosephus mengatakan:

Apalagi yang menghasut mereka untuk berperang adalah bermakna ganda … ditemukan di dalam kitab suci mereka, untuk mempengaruhi bahwa seorang dari negeri mereka akan menjadi pemimpin dunia. Hal ini mereka mengerti seseorang dari mereka, dan dari banyak orang bijaksana yang sesat di dalam penafsiran mereka. Ramalan itu di dalam kenyataan menandakan kedaulatan Vespasian yang memproklamasikan kekaisaran di tanah Yahudi.

Kekalahan kaisar Nero pada bulan Juni 68M membuat dinasti Julio-Claudia. Sehingga dinasti baru yaitu dinasti Flavian bangkit. Menurut Yosephus dinasti baru ini timbul karena kebaikan hati kekaisaran Roma dan sebagai keputusan Allah, seperti diramalkan Alkitab dan Yosephus sendiri.

2. PERJALANAN KE MAKHAERUS[3]

Sekitar tahun 30M, Herodes Antipas yang menerima Galilea dan Perea, telah menolak istri pertamanya untuk menikahi Herodias, istri sudara tiri Herodes.[4] Yosephus menyusun laporan baptisan dengan saran bahwa balas dendam ilahi bagi eksekusi Yohanes berada dalam penaklukan militer. Laporannya atas Yohanes diliputi dengan pembelaan teologi dan menjadi kenyataan, kurang komprehensif dari yang memikirkan tentangnya. Crossan memberikan teks dari Antiquities 18.116-119 dalam dua bagian:

Herodes meletakkannya (Yohanes Pembaptis) untuk mati, walaupun dia seorang yang baik dan menasihati Yahudi untuk mengarahkan hidup benar, melakukan keadilan kepada sesama dan kesalehan kepada Allah dan memberi diri untuk dibaptiskan. Dalam pandangannya hal ini penting jika baptisan adalah diterima oleh Allah. Mereka tidak harus menggunakannya untuk pengampunan dosa apapun yang mereka lakukan tetapi sebagai pentahbisan tubuh secara langsung bahwa jiwa telah dibersihkan dengan perbuatan baik.

Menurut Yosephus baptisan bukan sebuah magis atau tindakan ritual yang menghapus dosa tetapi pembersihan tubuh dan eksternal hanya dapat setelah penyucian spritual dan internal. Ini tentu sulit untuk melihat sesuatu yang berjasa atas kematian di dalam upacara tubuh bagi orang kudus. Yosephus begitu hati-hati menolak pada sistim keselamatan itu. Dia melanjutkan ceritanya mengenai Yohanes:

Ketika orang lain bergabung pada keramaian tentang dia, sebab mereka dibangunkan pada tingkatan paling tinggi dengan khotbahnya, Herodes menjadi ketakutan. Karena Yohanes semakin besar … maka Herodes memutuskan untuk membersihkan pekerjaan Yohanes dan mencari kesalahannya. Oleh karena kecurigaan Herodes, maka Yohanes di bawa ke Machaerus … dan akhirnya meninggal dunia.

Setelah membaca bagian kedua ini, bukan satu kejutan bahwa Antipas buru-buru bergerak untuk melenyapkan Yohanes. Yang menjadi masalah ialah bagaimana bagian kedua ini dihubungkan dengan bagian pertama; bagaimana ritual kekudusan disalahtafsirankan sebagai kekuatan revolusi. Jawabannya tergantung pada jalan keluar melalui apa yang Injil-injil Perjanjian Baru (PB) katakan mengenai Yohanes kemudian kembali sekali lagi pada Yosephus.

3. PADANG GURUN (HUTAN BELANTARA) YORDAN[5]

Eksekusi Antipas pada Yohanes tidak dapat dijelaskan dengan sederhana yang ditunjukkan pada Markus 6:17-29. Perhitungan Markus lebih baik dilihat sebagai karyanya, mengikutinya untuk menekankan paralel penting di antara nasib Yohanes dan Yesus, khususnya bagaimana keduanya meninggal atas tekanan orang lain oleh sebuah kekuasaan masyarakat – seperti Antipas dan Pilatus. Walaupun salah satu kritikan Yohanes atas masalah yang berhubungan dengan perkawinan Antipas diatur kembali sebagai fakta, akan sangat sulit menjadi garansi eksekusinya. Beberapa tindakan serius yang terjadi dimotivasi oleh tindakan Antipas.

Yosephus tidak pernah menyebutkan sesuatu mengenai padang gurun atau Yordan dalam hubungannya dengan Yohanes dan dia banyak memprotes bahwa baptisan Yohanes bukan mengampuni dosa-dosa. Markus melaporkan padang gurun, Yordan dan penghapusan dosa-dosa, berlawanan pada Yosephus (Mrk.1:4-5).

Secara geografis daerah itu berada di sebelah selatan Lembah Yordan. Termasuk berada di daerah kekuasaan Antipas dan dijaga batas selatan dan oleh benteng Machaerus. Dari sumber Injil lain kita dapat satu contoh dari khotbah Yohanes miliki, sesuai dengan Yosephus. Yohanes mengatakan, berdasarkan sumber Injil Q di dalam Mat.3:7-12 atau Luk.3:7-9 dan 16b-17. Dalam rangkaian naratif Injil, Seorang Nabi Yang Akan Datang itu menunjukkan pada Yesus, walaupun untuk meyakinkan, hal ini sangat kuat dilayani sebagai gambaran yang baik dari tindakan Yesus. Memang secara tersembunyi dalam Yoh.1:26-31 bahwa baptisan itu ditujukan kepada Yesus. Yohanes tidak berbicara mengenai Yesus seluruhnya tetapi kira-kira dekat advent (kedatangan) menuntut apokaliptik Allah. Katalismik advent digambarkan dalam dua gambaran kekuatan. Allah sebagai Sesorang Yang Datang adalah yang pertama seperti penjaga hutan yang memisahkan pohon-pohon yang baik dari yang buruk dan kedua seperti penebah yang memisahkan butir padi dari dedak. Bagi visi Yohanes yang berapi-api hanya ada dua kategori yaitu, yang baik dan yang buruk, dan waktunya sangat singkat untuk memutuskan di kategori mana seseorang bermaksud untuk hidup dan mati.

Menurut Crossan, Yohanes adalah seorang pengkhotbah apokaliptik di dalam tradisi klasik Yahudi, dekat dengan advent, tuntutan Allah atau tidak, seperti Yosephus, dekat dengan advent yang berhubungan dengan pembasmian. Tetapi kita masih membutuhkan untuk mengetahui tentang padang gurun, Yordan dan hubungan di antara baptisan dan penghapusan dosa-dosa.

4. PENABUH GENDANG APOKALIPTIK[6]

Crossan menyebutkan sesuatu mengenai hiasan-hiasan mitologi masa Augustinus sebagai pembungkus puisi yang berhubungan dengan kenyataan baru dalam sebuah lapisan kemasyuran kuno dan manifestasi nasib. Kembali pada lirik terkenal dari Virgil Aeneid 6.851-853:

Roma, ingatlah dengan kekuatanmu untuk memerintah, Umat dunia – sebab senimu menjadi hal-hal seperti ini: untuk menenangkan, untuk menjatuhkan aturan hukum, mengampuni orang yang jahat, menghancurkan yang sombong.

Sekarang bayangkan sebentar, bagaimana memandangnya dari sisi lain, dari bawah, dari pandangan menenangkan, penjahat, dan menghancurkan. Bacalah karya pidato agung aristokrasi sejarawan Roma Tacitus di dalam Agricola 30, sebuah biografi dari mertuanya, Gnaeus Julius Agricola, gubernur Britain antara tahun 77 dan 84M.

Semua para penuntut mesianis menginginkan agar kekuatan transendental segera terasa. Apokaliptisisme sering disebut dengan millenialisme atau millenarianisme yang berasal dari dua tipe yaitu pertama membendung, dan yang kedua dari Petani yang mendukungnya dengan otot dan tubuh mereka. Ada juga tipe apokaliptisisme ditemukan dalam Alkitab yakni dalam buku Daniel dan Wahyu. Crossan fokus pada apokaliptisisme petani masa Yesus, sebab hal tersebut latarbelakang langsung bagi pengertian Yohanes Pembaptis. Tetapi sama seperti penuntut mesianik petani meminta model kuno dari Saul dan Daud, maka nabi-nabi apokaliptik petani meminta model kuno Musa dan Yosua.

Pada tahun 30-an, 40-an, 50-an, dan 60-an abad pertama, perlawanan meletus lagi di wilayah Yahudi bukan hanya di antara Yahudi tetapi juga di antara orang Samaria dan Yosephus berbicara dengan pedas menjijikkan kepada para penipu, pembohong, dukun, dan nabi-nabi palsu yang membawa umat sesat selama waktu itu. Kedua peralawan itu terjadi ketika Felix menjadi gubernur Roma yang meliputi kedua kota itu. Ini ringkasan pernyataan mengenai apokaliptik nabi-nabi dalam teks paralel dari War.2.258-260 dan Antiquities 20.167b-168:

(1) … Para penipu dan pembohong di bawah kepura-puraan inspirasi ilahi membantu gerakan perubahan revolusional, mereka meyakinkan banyak orang untuk bertindak seperti orang gila dan membiarkan mereka keluar ke gurun pasir dengan keyakinan bahwa Allah di sana memberikan mereka tanda bukti pembebasan.

(2) Para pembohong dan penipu mempersilahkan rakyat banyak mengikuti mereka ke padang gurun. Sebab mereka katakan bahwa mereka akan menunjukkan pada mereka sesuatu yang menakjubkan dan tanda yang tak mungkin salah yang ditempa di dalam harmoni dengan desain Allah.

Felix dengan segera melawan orang banyak yang tak bersenjata dan diikuti dengan pembunuhan massal. Tetapi Crossan telah menggarismiringi hal yang penting apa yang apokaliptik nabi-nabi coba lakukan. Mereka melakukan kembali model kuno dari Musa dan Yosua memimpin bangsa Israel keluar dari padang pasir dan memasuki Tanah yang Dijanjikan sekitar 1200 tahun sebelumnya. Dengan demikian sebagai contoh, tanda bukti atau tanda-tanda pembebasan dalam ekspresi yang sama digunakan bagi wabah yang Musa minta bagi Mesir sebelum Keluaran di Antiquities 2.327. Dan desain Allah atau pemeliharaan Allah merupakan frase yang sama digunakan bagi keajaiban yang Musa lakukan melawan musuhnya Mesir sebelum Keluaran di dalam Antiquities 2.286. Maka walau pun dirinya sendiri, Yosephus meletakkan nabi-nabi ini dalam kelanjutan Mosaik.

Illustrasi khusus membuat tipologi Musa dan Yosua, padang gurun dan Yordan, penyaliban dan kemenangan, ketidakmampuan manusia dan kekerasan ilahi, bahkan makin jelas. Sekali lagi Crossan memberikan teks paralel dari War 2.261-262 dan Antiquities 20.169-170, yang setiap isi elemen-elemen pentingnya hilang dari yang lain. Crossan menempatkan Yohanes Pembaptis di antara orang Yahudi dan apokaliptik petani nabi-nabi. Dan hal itu menggambarkan dua keberatan langsung.

Pertama, mengapa Yosephus tidak melawan Yohanes Pembaptis, menghina dan merendahkan dia bagi apokaliptik nabi-nabi? Artinya Yohanes diingat dan diingat lagi dengan bilangan yang cukup untuk menahan penafsiran Yosephus atas 60 tahun kemudian. Kecurigaan Crossan adalah bahwa ada beberapa umat Yahudi tinggal di Roma pada masa Yosephus menulis Antiquites dan Yosephus tidak hati-hati, membersihkan Yohanes bagi penggunaan orang Yahudi dan Roma. Tidak ada keajaiban, Yosephus tidak pernah menyebutkan padang gurun atau Yordan ketika membicarakan Yohanes; sebab setiap orang Yahudi tahu, padang gurun bukan hanya sebatas pasir saja dan Yordan bukan hanya sebatas air saja. Jika seluruh pembaptisan mewajibkan air, bahkan diikuti air, hal itu didapati di dalam bidang-bidang tanah bagian tempat Yordan itu sendiri. Yohanes bukan, dengan kata lain, membaptiskan di Yordan; dia membaptiskan di Yordan.

Kedua, mengapa jika Yohanes merupakan nabi apokaliptik, apakah kita tidak mempunyai bukti tentangnya memimpin orang-orang banyak ke mana-mana dan mengapa Antipas pindah hanya untuk melawan Yohanes bukan melawan pengikut-pengikutnya? Yosephus menggunakan frase ”datanglah bersama di dalam baptisan“ tetapi strategi Yohanes bukanlah membawa orang banyak dari timur Yordan di kekuasaan Antipas Perea, menunda gerakan massa ke arah barat. Ketika umat datang kepadanya, dia menyuruh kembali dari padang gurun, melalui Yordan, yang membasuh dosa-dosa mereka, dan menyucikan dan siap ke dalam Tanah Perjanjian.

5. YOHANES MEMBAPTISKAN YESUS[7]

Menurut Crossan bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes secara sejarah dan tentu salah satu dari mereka pernah ada. Alasannya adalah bahwa pembelaan teologis yang dikerjakan oleh Yosephus dalam menceritakan Yohanes tidak dibandingkan dengan yang dilaporkan Injil-injil dalam menceritakan mengenai Yohanes dan Yesus. Tradisi Kekristenan sangat jelas gelisah dengan ide Yohanes membaptiskan Yesus, sebab nampaknya membuat Yohanes sebagai atasan (pemimpin) dan Yesus sebagai orang berdosa.

Markus 1:9 memberitakan tentang baptisan tanpa komentar pembelaan, tetapi tiba-tiba mengalihkannya dengan suara dari sorga di dalam 1:10-11.

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Hal itu nampaknya mampu untuk memuliakan wahyu atas baptisan dan Yesus lebih tinggi dari Yohanes. Tetapi itu belumlah cukup sebab Luk.3:21 sebelum menceritakan tentang suara ilahi, tergesa-gesa setelah baptisan Yesus menekankan doanya, atau bagi Matius 3:13-15, di mana Yohanes mencegah Yesus, atau bagi Injil Nazorean 2, teks ditemukan di luar PB.

(1) Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit

(2) Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.

(3) Lihatlah, ibu Tuhan dan saudaranya berkata kepadanya: Yohanes Pembaptis membaptis ke dalam pengampunan dosa-dosa, mari pergi dan dibaptiskan olehnya. Tetapi dia berkata kepada mereka: Dimanakah saya orang berdosa seharusnya pergi dan dibaptis olehnya? Kecuali kalau apa yang telah saya katakan adalah kebodohan.

Akhirnya, dua sumber tidak pernah bahkan menyebutkan baptisan Yesus, walau keduanya mengetahui tentang kegiatan pembaptisan Yohanes. Injil Q lebih banyak tertarik pada khotbah Yohanes dari pada baptisan Yohanes dan hal memungkinkan tidak ada cerita baptisan Yesus ditangannya. Kendati pun dalam Yoh.1:32-34 memberikan baptisan Yesus, tetapi merupakan berita epiphanias:

Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah”.

Penulis Injil Yohanes mungkin bergantung pada ketiga Injil PB bagi tradisi Baptisan, tidak pernah disebutkan sebuah kata mengenai baptisan Yesus di dalam seluruh pasal 1:19-34 dan malahan menekankan kesaksian Yohanes Pembaptis mengenai Yesus. Dengan Injil Yohanes, baptisan Yesus telah berlalu dan hanya sebuah wahyu untuk mengingatkan Yesus.

6. DARI PUASA KE PESTA[8]

Yesus dibaptiskan oleh Yohanes di Yordan. Yohanes keluar ke sejarah Transyordania dalam melakukan kembali ritus Musa dan Yosua menaklukkan Tanah Perjanjian. Pertanyaan umum bukanlah apakah Yesus memulai sebagai pengikut apokaliptik tetapi apakah Dia melanjutkan ketika Dia memulai missiNya, Dia melakukanNya karena baptisanNya.

Menurut Crossan, ada tiga perkataan khusus dalam hubungan mereka dan akibat kumulatif Yesus berpisah dengan visi Yohanes. Pertama ditemukan di kedua Injil Thomas 78 dan Injil Q di Matius 11:7b-9 atau Lukas 7:24b-26. Versi aslinya telah dirubah akhirnya mengarah kritikisme kekuatan daripada memuji nabi.

(1) Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar.

(2) Mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi.

Dalam format perkataan istilah-istilah ini diletakkan sebagai dialog yang implisit yang dialamatkan kepada orang yang bersimpatik pada Yohanes. Dalam isi perkataan istilah ini merupakan perbedaan antara padang gurun dan istana. Dia menggambarkan secara metapora sebagai seorang yang membengkokkan ke angin kemenangan dan secara literatur adalah gaun lunak atau garment yang mewah. Mengapa dibandingkan dan dibedakan padang gurun – tempat nabi yang secara seksama istana – berdiam „manusia“. Hanya ada satu jawaban yang Crossan imaginasikan bahwa perkataan itu bermaksud untuk sebuah perbandingan di antara Yohanes dan Antipas. Bacaan ini berusaha untuk memelihara iman visi apokaliptik Yohanes daripada eksekusi Yohanes sendiri.

Kedua, ditemukan juga di dalam kedua Injil Thomas 46 dan Injil Q dalam Matius 11:11 atau Lukas 7:28:

(1) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.

(2) Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.

Nampaknya hal ini kontradiksi dengan yang pertama. Pertama mengagumkan Yohanes lebih besar dari Antipas, tetapi kedua ditutup dengan pengaguman seseorang dalam Kerajaan Allah yang lebih besar daripada Yohanes. Kedua perkataan tentang Yohanes diperoleh dari Yesus sejarah yang hanya meninggalkan satu kesimpulan yaitu di antara dua pernyataan Yesus merubah pandanganNya atas misi dan pesan Yohanes. Visi Yohanes menunggu penyingkapan Allah akan kedatangan Seseorang sebagai penebus dosa yang secara asli diterima oleh Yesus.

Ketiga, menggubah perkataan oleh sahabat-sahabat atau musuh yang berbeda dengan Yohanes dan Yesus. Hal ini mengindikasikan pengenalan yang berbeda dari mereka berdua. Misalnya, bagaimana Yohanes berpuasa dan Yesus berpesta dibedakan dalam dua unit yang berikut dari aslinya Markus 2:18-20 dan kemudian berubah dari Injil Q dalam Matius 11:18-19 atau Lukas 7:33-34:

(1) Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

(2) Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Di samping metapor positif dari unit aslinya dan unit negatif dari perkembangan berikutnya ada sebuah perbedaan yang sama di antara puasa Yohanes dan pesta Yesus. Yohanes hidup dalam asketisme apokaliptis dan Yesus dalam situasi yang berlawanan.

7. SESEORANG SEPERTI ANAK MANUSIA[9]

Menurut Crossan, ada sebuah kesimpulan yang nampaknya pincang pada bagian terdahulu. Bukankah Yesus meramalkan kedatangan Anak Manusia, seorang figur yang apokaliptik? Bukankan Yesus sebagai seorang yang apokaliptik sama seperti Yohanes Pembaptis? Kemudian pertanyaan ini menekankan: Apakah Yesus berbicara tentang diriNya sendiri atau ada yang lain sebagai pelaku utama kedatangan Anak Manusia?

Istilah Ibrani dan Aram terjemahan “anak manusia” (son of man) adalah mankind (umat manusia) dalam bahasa Inggris, cara chauvinistik untuk menggambarkan seluruh kemanusiaan, cara patriarkhal untuk menggambarkan keseluruhan gambaran yang ekskulif. Pertama Crossan memberikan dalam Revised Standard Version (RSV) dan kemudian terjemahan yang baru New Revised Standard Version (NRSV).

What is man that thou art mindful of him, and the son on man that thou dost care for him?

What are human beings that you are mindful of them, mortals that you care for them?

Perubahan dari terjemahan lama kepada terjemahan baru meliputi bukan hanya penghilangan anakronistik thou art dan thou dost tetapi menggantikan chauvinistik man dan son of man di dalam terjemahan aslinya dengan human being dan mortals di dalam terjemahan kemudian.

Contoh lain, pengaguman digunakan sama dalam Daniel 7 sebagai visi apokaliptik yang bermaksud untuk menenteramkan hati iman Yahudi yang mengalami penganiayaan antara tahun 167 dan 164 sM oleh raja Syria Antiokhus IV Epiphanes. Kemudian di tempat itu Allah menghadirkan kerajaan bagi yang dianiaya dan yang setia dalam iman. Seluruh kekaisaran digambarkan sebagai “seperti singa… seperti beruang … seperti macan tutul” – yaitu seperti binatang liar – juga dengan sengaja berbeda apakah kerajaan kudus digambarkan sebagai “seperti anak manusia” – yaitu seperti umat manusia dari surga. Hal itu tentunya bukan sebuah perbedaan judul melainkan merupakan perbedaan literatur: kerajaan iblis seharusnya diinkarnasikan sebagai binatang jahanam, sehingga kerajaan yang sempurna diinkarnasikan sebagai umat manusia. Secara khusus dalam terjemahan Yunani di mana ekspresi Ibrani dan Aram sama kerasnya dengan bahasa Inggris, “anak manusia (a son of man)” menjadi sebuah judul, “the Son of Man (Anak Manusia)”. Judul itu kemudian mengindikasikan kekhususan individu sebagai agen bagi apokaliptik penghakiman Allah atas iblis dunia. Dengan kata lain, penggunaan generik bagi seluruh umat manusia bersama menjadi sebuah penggunaan gelar bagi manusia tunggal itu sendiri.

Secara jelas bahwa Yesus sebagai mana yang digambarkan dalam kanon Injil-injil menggunakan “Anak Manusia (Son of Man)” di dalam pemahaman gelar dan dia akhirnya mengimajinasikan diriNya sendiri. Pertanyaan sekarang adalah apakah Yesus sejarah diriNya sendiri pernah menggunakan ekspresi tersebut atau apakah hal itu representasi dari penafsiran dari Kekristenan mula-mula.

Alasan utama Crossan untuk menolak bahwa Yesus pernah secara sejarah menggunakan ekpresi gelar adalah bahwa di dalam tradisi Anak Manusia merupakan contoh tunggal di mana dua sumber independen memiliki ekspresi yang lebih dari versi tunggal. Argumentasi Crossan bukan hanya pada semua yang Yesus tidak seharusnya atau tidak berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Crossan melihat pada pengecualian tunggal sebab hal ini memungkinkan signifikan yang ekstrim dalam pengertian mengapa gelar ekspresi Anak Manusia kemudian ditempatkan kepada bibir Yesus. Perkataan itu ditemukan dalam kedua Injil Thomas 86 dan Injil Q dalam Matius 8:19-20 atau Lukas 9:57-58.

(1) Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

(2) Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Siapakah Anak Manusia ini? Anak manusia ini menurut Yesus adalah orang miskin, dan orang papa. Yesus menggunakan istilah “anak manusia” untuk mengidentifikasi diriNya dengan orang miskin dan papa untuk menenkankan bahwa Dia berbagi rasa dengan manusia yang miskin dan papa itu sendiri. Menurut Crossan, perkataan “Anak Manusia” berkembang setelah kematian Yesus.

Pada abad ini, Albert Schweitzer mengatakan bahwa Yohanes dan Yesus keduanya adalah pengkhotbah apokaliptik, setiap mereka berusaha di dalam caranya untuk memaksa masa penantian Allah. Ada kebingungan dalam teks Schweitzer di antara perluasan atau generik (umum) dan penyempitan atau istilah khusus. Istilah yang lebih luas adalah eskhatologi atau penyangkalan dunia. Hal ini mengindikasikan kritikisme budaya radikal dan peradaban serta penolakan yang fundamental dari nila-nilai dunia dan pengharapannya.

Istilah yang khusus adalah apokaliptik eskhatologi. Hal ini menganggap dunia dihakimi dengan bencana iblis dan mempertimbangkan yang tak dapat dibatalkan obat manusia. Schweitzer salah dalam pemahaman yang dangkal dan dalam pemahaman yang luas benar. Yesus bukanlah nabi apokaliptik seperti Yohanes Pembaptis, melainkan Dia seorang ahli eskhatologi atau figur penyangkal dunia.

TANGGAPAN LAPORAN

Pendekatan Crossan ini sangat berbeda dengan pendekatan NT.Wright. Jika Wright memakai pendekatannya dengan metode pastoral, maka Crossan memakai pendekatan interdisipliner dalam merekonstruksi Yesus sejarah. Pendekatan ini mencakup tiga langkah analitis yang semuanya bekerjasama sepenuhnya, seimbang dan saling terkait, untuk menghasilkan suatu sintesis yang kokoh dan efektif. Langkah pertama adalah melakukan suatu analisis antropologis lintas-budaya dan lintas-zaman, dengan menerapkan beberapa model dan tipologi antropologis. Langkah kedua, melakukan suatu analisis sejarah zaman Hellenistik dan Yunani-Romawi, dengan memakai kajian-kajian sinkronik dan diakronik atas bahan-bahan yang relevan. Kedua langkah ini dimaksudkan untuk mendapatkan konteks historis dan kontemporer dan sesudahnya (sampai tahun 70) yang di dalamnya Yesus dapat dengan mantap ditempatkan. Langkah ketiga, melakukan suatu analisis tekstual dan literer atas bahan-bahan tentang Yesus; langkah ini paling mendasar sebab “setiap kajian tentang Yesus sejarah akan bertahan atau gugur tergantung pada bagaimana si peneliti menangani langkah analisi literer atas teks yang ada.“ [10]

Dalam bab ini Crossan memakai penelitian langkah kedua dengan memakai kajian-kajian The Independent Multiple Attestation yaitu metode yang menggunakan bahan yang muncul di beberapa tempat yang independen. Bahan yang digunakan Crossan adalah (a) sumber-sumber Kristen seperti: Injil Markus, Injil Matius,Injil Lukas,Injil Yohanes, Injil Q, dan Injil Thomas,serta Injil Nazorean; (b) sumber-sumber non-Kristen seperti yang ditulis oleh Flavius Yosephus (Joseph ben Mattias) Antiquitates Judaicae atau Jewish Antiquities, dan Agricola 30.

Dalam merekontruksi Yesus sejarah, akan selalu ada interaksi antara data-data tekstual yang sedang ditafsir dan teologi si perekonstruksi. Dengan demikian, setiap pengkajian Yesus sejarah adalah sebuah usaha hermeneutik, untuk menemukan Yesus di masa lalu yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang diajukan si peneliti terhadap teks-teks yang tersedia, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari lokasi sosial si peneliti di masa kini. Inilah yang dilakukan oleh Crossan dalam bagian ini. Crossan mencoba menjawab pertanyaan sosial mengenai apakah Yesus anak manusia, apakah Yesus adalah hakim atas dunia ini? Ternyata dalam penelitiannya atas berbagai teks-teks yang ada maka Crossan berkesimpulan bahwa Yesus tidak pernah menjadi hakim, Yesus tidak pernah menyebut diriNya sebagai Anak Manusia. Dalam bagian lain, Crossan juga menegaskan bahwa Yesus bukanlah nabi apokaliptis. Sebab Yesus menekankan “pesta” di dalam pengajarannya, karena Yesus memahami bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada di bumi ini bukan lagi sesuatu yang harus ditunggu-tunggu lagi. Dengan demikian visi eskatologis apokaliptis tentang masuknya manusia ke “sorga” sebagai suatu ”dunia lain“ di masa depan di akhir sejarah dunia, bukanlah visi Yesus sejarah.[11]

Metode penelitian seperti ini menurut saya lebih baik daripada pendekatan Wright sebab kebenaran Yesus sejarah itu digali dari berbagai sumber-sumber yang mengacu kepada kebenaran sejarah. Kehidupan Yesus yang hidup dulu dapat kita rekonstruksi ulang dari penelitian interdisipliner ini. Sebab Yesus yang diberitakan sekarang adalah Yesus kepercayaan dari pada penulis Injil pada abad pertama. Dengan adanya penelitian interdisipliner ini akan memperkaya pemahaman kita akan karya dan hidup Yesus lebih nyata dan otentik.

DAFTAR PUSTAKA

Miller, Robert J. ed., The Apocalyptic Jesus: A Debate (Santa Rosa, CA: Polebridge Press, 2001)

Rakhmat, Ioanes. “Kajian Yesus Sejarah dan Sumbangannya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini” dalam Jurnal Teologi Proklamasi (Jakarta: UPI STT Jakarta, edisi No.7/Tn.4/Juni 2006)


[1] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary Bibliografy (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1994) 29-53

[2] Ibid., 30-33

[3] Ibid., 33-35

[4] Hubungan erat antara riwayat Yohanes Pembaptis dengan sejarah Yahudi itu diperlihatkan Yosephus ketika ia membahas kekalahan Herodes Antipas terhadap Aretas, Raja Nabatea. Herodes pernah menikah dengan putri Raja Aretas, namun putri ini kemudian diceraikannya karena ia ingin menikah dengan Herodias.

[5] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 35-39

[6] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 39-44

[7] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 44-45

[8] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 45-48

[9] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 49-53

[10] Ioanes Rakhmat, “Kajian Yesus Sejarah dan Sumbangannya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini” dalam Jurnal Teologi Proklamasi (Jakarta: UPI STT Jakarta, edisi No.7/Tn.4/Juni 2006) 105-106

[11] Perdebatan tentang pokok ini Lihat Robert J.Miller, ed., The Apocalyptic Jesus: A Debate (Santa Rosa, CA: Polebridge Press, 2001)

Posted by: ramlyharahap | April 7, 2009

LAPORAN BUKU: THE ORIGINAL JESUS

THE ORIGINAL JESUS

The Life and Vision of a Revolutionary

by

TOM WRIGHT

(Oxford: Lion Publishing, 1996) 34-55

PENDAHULUAN

Untuk melihat lebih dalam tentang pemikiran Tom Wright, kali ini kita akan melihat uraiannya tentang “Dua Sisi Cerita” dan “Khotbah di Bukit”. Wright ingin membuktikan kepada kita bahwa penelitian Yesus sejarah melalui perumpamaan dan pengajaranNya sungguh menggembirakan.

DUA SISI CERITA[1]

Dua sisi cerita ini digali dari perumpamaan Yesus tentang “Anak yang hilang”(Luk.15:1-2, 11-32). Pada umumnya kita menggambarkan bahwa cerita anak yang hilang ini adalah bahan cerita untuk anak-anak: illustrasi-illustrasi kecil. Tapi Wright mengatakan ide-idenya nyata, kendati pun cerita ini abstrak.

Menurut orang, cerita Yesus ini, hanya merupakan ‘cerita-cerita duniawi dengan pengertian sorgawi’. Tetapi itu omong kosong! Cerita-ceritaNya jauh lebih kuat dari hal duniawi itu. Cerita-cerita Yesus menciptakan dunia-dunia. Menceritakan cerita dengan cara yang berbeda akan mengubah dunia. Dan itulah maksud dan tujuan Yesus.

Wright mengatakan, manusia pada masa Yesus mengetahui bahwa cerita-cerita merupakan sebuah usaha; atau cara untuk mendapatkan pengertian yang nyata. Tetapi untuk mengerti cerita Yesus yang nyata saat ini bukan selalu mudah. Manusia dalam zaman Yesus akan mengetahui apa yang Yesus bicarakan; tetapi bagi kita, hal ini adalah upaya membuat sejarah kembali dengan pemikiran terdalam dari pendengar asli.

Sebuah berita revolusioner[2]

Wright menceritakan bahwa Yesus membawa berita yang revolusioner di mana seseorang bisa menanggalkan segala harkat dan martabatnya demi orang yang berdosa yang kembali dari jalannya yang salah. Wright menelusuri keadaan orang desa pada abad pertama di Palestina bahwa setiap orang mengenal siapa seseorang dan siapa dia. Setiap orang mengenal siapa yang lebih senior. Kemasyarakatan ini memberikan sebuah nilai tinggi pada umur dan hikmat. Mereka menghormati para tua-tua[3] dengan bertindak bermartabat tinggi. Yesus menceritakan cerita tentang seorang tokoh senior, figur yang dihormati yang melemparkan martabatnya dari jendela dan berlari di jalan.

Kemudian berita revolusioner yang lain adalah adanya kejutan. Ceritanya sangat dikenal, tetapi biasanya kita tidak menghargainya. Seharusnya disebut cerita Ayah yang Berlari, tetapi hal ini lebih terkenal sebagai cerita Anak yang Hilang.

Seorang ayah yang memiliki dua anak. Anak yang bungsu meminta kepada ayahnya harta warisan bagiannya. Cerita ini mengejutkan bagi umat yang pertama mendengar. Di dalam kemasyarakatan kita, anak-anak sering meminta ayahnya untuk memberi dengan banyak. Bahkan dengan nada yang mengancam ‘Aku ingin Anda meninggal’. Hal ini membuat ketakutan pada ayah.

Dan ayah tentu setuju pada permintaan itu. Dan memberikan tanah milik bagian anaknya. Anak bungsu menjual harta warisannya dan pergi meninggalkan keluarganya. Dia menghabiskan uangnya, dia pun melarat; akhirnya dia memberi makan babi-babi. Tetapi jauh dalam pikirannya mengatakan pada dirinya bahwa lebih baik kembali ke rumah ayahnya.

Inilah kejutan berikutnya. Pada umumnya seseorang yang merasa malu dan berdosa tidak akan mau kembali ke rumah. Dia telah membuat marah ayahnya; dia merasa malu pada seluruh keluarga. Tetapi dia pulang ke rumah dan mujizat pun terjadi. Ayahnya yang sudah tua itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Tidak hanya itu; dia membuat pesta bagi seluruh desa itu. ‘Inilah anakku yang telah mati, dan hidup kembali.’

Namun anak sulung sangat marah kepada ayahnya di depan para tamu-tamunya. Tetapi sang ayah secara dewasa memberikan penjelasan bagi anak sulung. Ayahnya ingin agar anak sulungnya mengerti hal yang membahagiakan dia. Lagi-lagi ayahnya merendahkan martabatnya sendiri. “Adikmu ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Kejutan terakhir di dalam cerita ini adalah akhir cerita ini begitu cepat. Seperti ketika kita menonton film, pada akhir ceritanya saat kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya, Yesus membiarkan ceritanya gantung mengawang di udara.

Apa yang dia dapatkan?[4]

Dari cerita tersebut, Wright memaparkan akibat yang Yesus terima dari masyarakat dan dari golongan agama. Jadi apakah makna semuanya itu? Apakah sesungguhnya kenyataan dibalik cerita ini? Inilah cerita umum tentang kasih Allah bagi kita, anak-anak yang boros. Inilah salah satu sisi menurut Wright. Cerita ini bagaikan bangsa Israel yang pergi ke pembuangan, dan kemudian kembali lagi! Cerita ini menceritakan tentang Kerajaan Allah, tentang pembebasan bangsa Israel.

Tetapi mengapa Yesus menceritakannya dengan jalan ini, dengan karakter ini? Inti cerita ini adalah alasan berpesta. Yesus dikritisi secara luar biasa oleh wali-wali keturunan tradisi-tradisi, sebab Yesus merayakan Kerajaan Allah, bukan dengan orang benar dan golongan keagamaan, melainkan dengan orang-orang hina, orang tak beragama, dan orang pinggiran.

Kendati pun Yesus menerima kritikan tersebut, Yesus tetap menjelaskan mengapa Yesus bertindak di dalam cara yang memalukan. Yesus membawa Kerajaan Allah; Dia membawa pembebasan yang nyata, kembali dari pembuangan, sehingga tentulah ada sebuah pesta. Lebih dalam Yesus menjawab: inilah anakKu, inilah saudaramu, telah mati dan hidup kembali – Israel hidup kembali. Gambaran lain Wright hubungkan dengan penglihatan nabi Yehezkiel tentang tulang-tulang kering di sebuah lembah, semuanya menjadi hidup (Yehz. 37:1-6, 11-14). Hal ini merupakan sebuah kebangkitan bagi bangsa Israel.

Sisi yang kedua menurut Wright adalah tentang anak sulung dalam cerita ini. Anak sulung ini adalah orang yang tidak ingin mendengar versi Yesus tentang cerita Kerajaan Allah. Mereka ingin menjaga versi Kerajaan Allah mereka secara utuh. Mereka ingin memegang erat-erat martabat kepribadian atau bangsa atau budaya mereka daripada mengejar nabi aneh yang merayakan Kerajaan Allah dengan umat yang salah. Maka Yesus menyebut mereka dengan umat yang tidak menginginkan Israel kembali dari pembuangan. Di dalam kitab Yahudi mereka adalah orang-orang Samaria.

Yesus menceritakan seluruh kebaikan orang-orang dalam cerita-cerita ini. Setiap orang sama seperti sebuah dinamit yang siap meledak setiap saat. Dia pergi ke sana ke mari merencanakan bahan peledak di dalam hati dan pikiran umat. Kerajaan Allah, pemerintahan Allah yang baru sedang berlangsung untuk merubah segala sesuatunya; seluruh dunia akan berbalik. Dengan demikian siapakah yang mempersiapkan hidup dengan cerita ini? Inilah pertanyaan yang bergema dari cerita ini sejak saat itu hingga hari ini.

Dari cerita ini dapat kita lihat bahwa tak ada mediasi antara anak yang hilang dengan ayahnya sendiri. Pada hal dalam tradisi Israel dosa umat manusia selalu dipulihkan melalui institusi Bait Allah yang dipimpin oleh imam. Yesus mengajarkan sebuah kerahiman Allah yang bukan berasal dari institusi Bait Allah.

KHOTBAH DI BUKIT[5]

Dalam bagian ini, Wright menguraikan pengajaran Yesus di bukit yang dikenal dengan “Khotbah di Bukit” (Mat.4:23,25; 5:1-16, 38-45). Pada zaman Yesus, pegunungan-pegunungan di atas Laut Galilea digunakan untuk revolusi-revolusi kudus. Orang Romawi membawa kerajaan Allah ke dalamnya – dengan paksaan jika perlu. Mengapa Yesus pergi ke sana untuk mengajar pengikutnya? Dan apakah isi khotbah yang membuat mereka tersungkur di hadapan Yesus? Orang-orang berpikir bahwa Khotbah di Bukit merupakan pusat Kekristenan. Tetapi apakah yang diberitakannya?

Bukit merupakan sebuah simbol bangkitnya seorang pemimpin baru. Para nabi kalau naik gunung, hal itu menggambarkan akan ada seorang pemipin baru. Misalnya Musa yang naik gunung Sinai. Musa menjadi pemimpin bagi bangsa Israel. Jika Yesus disebut naik ke bukit, hal itu berarti Yesus akan menjadi pemimpin baru bagi bangsa Israel. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bukit merupakan simbol bagi pengangkatan Yesus sebagai pemimpin baru bagi bangsa Israel.

Menurut sebagian orang, bahwa Khotbah di Bukit secara sederhana terdiri dari kata-kata Yesus kepada umat untuk berbuat baik kepada orang lain. Gambaran umum yang terkenal dari khotbah ini adalah kelemah-lembutan, kehidupan keagamaan yang romantis, terhindar dari dunia. Pendapat lain mengatakan, dengan Khotbah di Bukit ini, kita akan berpikir bahwa Yesus hanya berbicara tentang bagaimana manusia ke sorga setelah mati.

Sebuah manifesto bagi perubahan[6]

Apakah yang diberitakan khobah di bukit itu? Menurut Wright, ketika Yesus pertama memberikan apa yang sekarang kita sebut Khotbah di Bukit, Dia sedang menaiki sesuatu yang akan menunjukkan pada kita lebih seperti sebuah kenyataan politik. Dia bagaikan seseorang yang sedang menghidupkan dukungan bagi sebuah gerakan baru, seorang penyebab besar. Dia disebut para pendengarNya, secara sederhana, sebuah jalan menjadi Israel, sebuah jalan menjadi umat Allah di dunia ini.

Untuk dapat menggumuli apa artinya ini, menurut Wright, kita butuh kembali ke dalam tradisi tertua Israel. Mengapa ada ‘umat pilihan’ di dalam tempat pertama? Menurut Alkitab, Allah Pencipta memilih Abraham dan keluarganya, nenek moyang Israel dan pemecah persoalan seluruh dunia. Israel disebut menjadi umat pilihan dengan tujuan: umat yang kepadanya Allah akan menjadikan dunia baik. Israel disebut menjadi terang dunia dan garam dunia.[7]

Orang Israel pada waktu itu bertanya, apakah orang miskin bisa menjadi terang dunia? Akan datangkah Kerajaan Allah itu? Yesus menjawab dengan tegas tidak. Yesus memanggil dan menegur para orang sezamanNya menjadi umat Allah di dalam jalan yang radikal. Yesus dengan bijaksana mengumumkan berkat Allah – tetapi dia memberkati orang-orang yang berdosa: orang miskin, orang yang berdukacita, lembut, lapar, miskin hati, yang dianiaya, pembawa damai. Ketika revolusi yang nyata tiba, dia nampaknya berkata orang-orang revolusioner tidak akan diterima. (bnd. Luk.1:53)

Membuat dunia menjadi jungkir balik[8]

Yesus telah memutar segala sesuatunya terbalik. Dia menuntut bahwa kepatuhan yang nampak dari luar tidaklah cukup. Allah menginginkan sebuah perubahan segalanya – termasuk hati umat. Jika seseorang menampar pipi kananmu, mereka akan memukul dengan belakang tangan – sebagai hal yang memalukan. Tetapi Yesus memutar balikkan dengan berkata: “Jika mereka memukul engkau kembali berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat.5:39). Artinya, jika mereka menampar pipi kiri itu berarti kita mereka anggap setara dengan mereka. Yesus mau mengajarkan bahwa yang hina bisa menjadi orang yang setara dan dihormati.

Seluruh khotbah berbicara tentang resiko besar iman: yang merubah dunia, hingga sekarang. Jika kita mau percaya bahwa Allah adalah Allah, maka kita membiarkan kebangsaan dan prioritas pribadi kita berubah. Maka Yesus menekankan khotbahNya dengan sebuah peringatan. Jangan sangka bahwa hal ini sebuah pilihan di antara yang lain. Hanya inilah jalan pergi, jalan Israel yang benar yang menuju umat Allah (bnd. Mat.7:15-20).

Revolusioner yang nyata[9]

Beberapa para pendengarnya mengikutiNya; dan dari sana mereka disebut dua belas orang dan membawa mereka ke bukit kembali untuk mengutus mereka untuk tugas yang mulia (Mrk.3:13-19). Dengan demikian, ketika Yesus memilih kedua belas muridNya dan memberikan tugas mulia di sana, hal itu harus dilihat bahwa begitu banyak pendiri gerakan revolusioner.

Pesan ini datang dari bukit Galilea kepada pintu kota kudus, Yerusalem itu sendiri, 70 mil ke selatan. Hal yang utama di Yerusalem adalah bait Allah, sering menunjukkan sebagai ‘rumah’ yang sederhana, yang dibangun di atas batu Bukit[10] Sion dan orang Yahudi melihatnya sebagai simbol keamanan mereka.

Pada akhir Khotbah di Bukit, Yesus menunjuk tantangan hikmat pada seluruh orang yang berpihak kepada bait Allah. Seseorang berkata, siapa yang mendengar suaraku dan mereka lakukan – mereka akan menjadi orang yang sungguh-sungguh bijaksana, orang yang membangun rumahnya di atas batu. Dengan kata lain, adalah gerakan bait Allah yang benar. Allah bekerja di dalam Yesus, hal yang nyata pada bait Allah yang menjadi hal yang berguna bagi semua orang. Inilah dinamit keagamaan dan politik.

Pemimpin Israel pada zaman Yesus menolak teguranNya, tidak mendengar peringatanNya dan terus mengejar mimpi revolusi militer mereka, menjaga terang bagi mereka sendiri dan memastikan bahwa hanya merekalah terang dunia. Banyak orang Yahudi tahbisan mengikuti pemimpin mereka kepada kehancuran. Dan rumah Allah dihancurkan oleh Romawi hanya empat puluh tahun setelah Yesus mengingatkan mereka tentang hal itu.

TANGGAPAN ATAS LAPORAN

Tom Wright dalam pembukaannya mengatakan bahwa bukunya ini dibagi dalam dua bagian yaitu: Pertama, sebagian isi buku ini bersumber dari versi yang ditunjukkan dalam TV. Dalam bagian ini kita menemukan kisah-kisah tentang Yesus dulu dan sekarang. Kedua, sebagian lagi ditambahkan supaya orang yang terkecoh oleh bagian pertama dapat melihat bagaimana mereka mungkin mengikuti isu-isu yang berkembang dan mulai menemukan banyak dari dalamnya. Dalam bagian ini Wright menawarkan pemikiran yang lebih luas dengan membaca Injil dengan kedua mata yang terbuka.

Dua bagian yang sedang kita bicarakan tadi merupakan cerita dan pengajaran yang didengar dan diceritakan dulu dan hendak dimengerti juga oleh pendengarnya pada zaman sekarang. Wright mencoba mengerti seluruh cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dari pemahaman masyarakat pada zaman Yesus dan memahaminya pada saat sekarang ini. Bahkan Wright berpendapat bahwa dengan menceritakan cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dengan cara yang berbeda akan mengubah dunia saat ini. Dalam bagian dua bukunya ini nanti (Membaca Injil dengan kedua mata terbuka), Wright akan lebih menjelaskan lebih dalam bahwa cerita-cerita bukanlah hanya bahan cerita anak-anak, pengikat yang indah di sekitar sisi pemikiran serius yang abstrak. Melainkan cerita-cerita itu merupakan dinamit dan eksplosif yang melakukan segala sesuatu; yang merubah segala sesuatu dan membuat segala sesuatu.[11]

Wright menceritakan juga bahwa Yesus membawa berita yang revolusioner di mana seseorang bisa menanggalkan segala harkat dan martabatnya demi orang yang berdosa yang kembali dari jalannya yang salah. Kemudian berita revolusioner yang lain adalah adanya sebuah kejutan di dalam gerakan Yesus. Jelaslah bahwa bagi Wright cerita Anak Hilang itu membawa dua sisi yakni sisi pertama, cerita ini mengisyarakan akan kebangkitan bangsa Israel dari pembuangan. Dan sisi yang kedua, cerita ini mengisyaratkan tentang orang Israel yang tidak mengakui kedatangan Mesias itu.

Pendekatan Wright ini lebih bersifat pastoral yang mencoba melihat Yesus dari sisi perumpamaan dan pengajaranNya dan diaplikasikan ke dalam dunia saat ini. Atau dapat dikatakan bahwa Wright mempolitisasi cerita Anak Hilang ini menjadi cerita kebangkitan bangsa Israel. Agar cerita ini menjadi cerita masa kini yang mampu merubah dunia maka Wright menghubungkan cerita ini dengan kebangkitan bangsa Israel. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan ini kurang mengacu kepada pendekatan sejarah yang objektif. Pada hal penemuan dokumen gulungan Laut Mati (1947) telah membuka peluang untuk menyelidiki Yesus sejarah itu. Penemuan ini mentah-mentah ditolak Wright.[12] Sementara Bock, telah mencoba melakukan pendekatan penelitian sejarah tentang Yesus sejarah itu baik melalui naskah gulungan Laut Mati sejak pertengahan abad kedua puluh satu.[13] Pendekatan yang agak berbeda sedikit dipaparkan oleh Nolan[14] yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya membuat Yesus relevan. Yang dapat kita lakukan ialah melihatNya dari perspektif zaman kita dengan budi yang terbuka.

Pendekatan yang hampir sama dengan Wright dilakukan oleh Boehlke[15]. Boehlke mengatakan bahwa sejak abad pertama gereja sudah berusaha dengan giat untuk merumuskan siapa sebenarnya Yesus. Mau tidak mau munculnya Yesus dalam panggung sejarah menantang orang-orang untuk meninjau kembali pandangan mereka tentang “Allah” dan “Manusia”. Dan kenyataannya ialah bahwa kedua hal ini nampaknya baru dapat dipahami dengan lebih mendalam, jika orang-orang bersedia melibatbkan diri secara sungguh-sungguh dalam suatu petualangan yang mulia, seraya membuka hati dan pikiran kepada bimbingan Tuhan. Penelitian yang lebih dalam juga dilakukan Boehlke dengan melihat peristiwa-peristiwa yang menunjuk kepada identitas ilahi Yesus yakni peristiwa yang berkaitan dengan hukum Taurat, tatkala Ia mengklaim wewenang ilahi seperti yang dinyatakanNya dalam Khotbah di Bukit. Di situ enam kali diulangiNya formula yang sama, yang begini bunyinya, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu…” (Mat.5:21-22a).[16]

Pada bagian kedua bahasan ini Wright memaparkan Khotbah di Bukit sebagai sebuah gerakan revolusioner di mana Yesus yang sedang menghidupkan dukungan bagi sebuah gerakan baru. Hal bertolak belakang dengan pendapat Abineno[17]. Abineno mengatakan bahwa semua yang Yesus – seperti yang kita baca dalam kitab-kitab Injil – tidak mengorganisir suatu gerakan yang besar. Pengikut-pengikutNya tidak banya: – dengan beberapa pengecualian – hanya terbatas pada orang-orang Galilea, orang-orang kecil. Bahkan lebih dalam Abineno mengatakan bahwa pemberitaan Yesus tidak banyak membawa hasil: tidak mengubah situasi politik dan religius yang ada pada waktu itu. PengaruhNya hanya terbatas pada daerah-daerah tertentu saja.[18] Berbeda dengan Wright, Eckardt[19] mengatakan bahwa cara yang paling memadai untuk mengungkapkan gagasan-gagasan pokok dari amanat dan misi Yesus sejarah adalah dengan memandangNya sebagai seorang pejuang Israel, bangsaNya.

Perjuangan Yesus mengenai Kerajaan Allah, Eckardt[20] memberikan dua hipotesa, yakni: Pertama, Yesus berhasil dengan cakupan percaya diri, untuk memajukan kedatangan Kerajaan Allah dengan kepercayaanNya bahwa diriNya sendiri dipanggil atau ditantang untuk memikul peran sebagai Mesias. Kedua, seluruh dasar pengharapan Yesus terbukti pada akhirnya sebagai suatu khayalan saja. Kegagalan ini adalah kegagalanNya, namun bagiNya, ini juga adalah kegagalan Allah. Menurut Ioanes Rakhmat[21] dalam beberapa catatan penerjemahan buku Eckardt, seandaninya Kerajaan Allah sudah datang sepenuh-penuhnya pada masa kehidupan dan pelayanan Yesus (tahun 30-an) sesuai dengan keyakinan dan pengharapan Yesus dari Nazaret, sehingga karenanya Ia bukanlah seorang Mesias yang gagal, maka akan muncul pertanyaan mendasar dan mengganggu, apakah itu yang pasti dikehendaki Allah? Lebih jauh dikatakan bahwa dapat dipastikan Allah tidak berpikir bahwa dunia yang didiami manusia harus diganti sama sekali dengan yang baru, yaitu Kerajaan adikodrati dari Allah. Justru karena Kerajaan Allah tidak datang dengan sepenuh-penuhnya pada tahun 30-an, maka sejarah masih berlangusung. Di dalam sejarah yang masih berlangsung inilah, usaha-usaha untuk memahami dan mengalami kehadiran tindakan Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus dapat terus dilakukan.

KEPUSTAKAAN

Abineno, J.L.Ch. Yesus Dari Nazaret, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006)

Bock, Darrel L. Studying the Historical Jesus: A Guide to Sources and Methods (Michigan: Baker Academic, Grand Rapids, 2002)

Boehlke, Robert R. Siapakah Yesus Sebenarnya? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001)

Eckardt, A.Roy. Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masakini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996)

Nolan, Albert. Yesus Bukan Orang Kristen? Rekonstruksi singkat, akurat dan seimbang tentang hidup Yesus historis (Yogyakarta: Kanisius, 2005)

Wright, Tom. The Original Jesus: The Life and Vision of a Revolutionary (Oxford: Lion Publishing, 1996)


[1] Tom Wright, The Original Jesus: The Life and Vision of a Revolutionary (Oxford: Lion Publishing, 1996), 34-43

[2] Ibid., 37-40

[3] Di dalam Alkitab, para tua-tua dari masyarakat ditentukan dari pengaruh yang besar di dalam usia mereka yang diakumulasikan dengan hikmat dan pengalaman mereka.

[4] Tom Wright, The Original Jesus: …, 40-43

[5] Tom Wright, The Original Jesus: …, 44-55

[6] Ibid., 48-50

[7] Yesus mendorong murid-muridNya untuk melihat diri mereka sebagai ‘terang dunia’, membandingkan mereka pada sebuah kota di sebuah bukit yang tidak dapat disembunyikan. Di dalam PL waktu nabi Yesaya telah mengatakan bahwa orang Israel disebut ‘menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta’ (Yes.42:6-7)

[8] Tom Wright, The Original Jesus: …, 50-52

[9] Ibid., 52-55

[10] Pada bukit kudus berdiri kota yang dibangun; TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion’ (Mzm.87:1)

[11] Tom Wright, The Original Jesus: …, 111

[12] Tom Wright, The Original Jesus: …, 114

[13] Darrel L.Bock, Studying the Historical Jesus: A Guide to Sources and Methods (Michigan: Baker Academic, Grand Rapids, 2002),40

[14] Albert Nolan, Yesus Bukan Orang Kristen? Rekonstruksi singkat, akurat dan seimbang tentang hidup Yesus historis (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 20

[15] Robert R.Boehlke, Siapakah Yesus Sebenarnya? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 6-8

[16] Ibid., 15

[17] J.L.Ch.Abineno, Yesus Dari Nazaret, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 73-74

[18] Ibid., 74

[19] A.Roy Eckardt, Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masakini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 106-107

[20] A.Roy Eckardt, Menggali Ulang Yesus ..., 122-127

[21] Ibid., xiv-xv

Posted by: ramlyharahap | April 6, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

« Newer Posts

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.