Posted by: ramlyharahap | April 7, 2009

LAPORAN BUKU: J E S U S : A Revolutionary Biography

J E S U S :

A Revolutionary Biography

by

John Dominic Crossan

(San Francisco: HarperSanFrancisco, 1994) 29-53

PENDAHULUAN

Untuk melihat lebih dalam tentang pemikiran John Dominic Crossan, kali ini kita akan melihat uraiannya tentang “Yordan bukanlah hanya sebatas air”[1]. Dalam bagian ini Crossan akan memaparkannya dengan tujuh pokok bahasan yaitu:

1. ALLAH ISTIRAHAT DI ITALIA SEKARANG[2]

Crossan menjelaskan pengaruh Yosephus dalam sejarah Yahudi dan Roma. Yosephus lahir dalam golongan bangsawan imam di Yerusalem tahun 37M dan naik pentas di Roma sebelum kaisar Nero membela pengikut imam tahun 64M. Dalam Perang Yahudi-Roma Pertama tahun 66-73M, ia masuk dalam revolusi di Galilea tetapi menyerahkan diri ke Roma Vespasian tahun 67M. Dia meneliti pengepungan dan kejatuhan Yerusalem, sebagai penafsir bagi anak Vespasian Titus dan kembali ke Roma di bawah kekuasaan Flavian baru kerajaan Vespasian yang memerintah tahun 69-79M, Titus tahun 79-81M. Dia meninggal sekitar akhir abad pertama. Bagi Perang Yahudi-Roma Pertama, dia berpartisipasi dan saksi hidup bagi kedua belah pihak baik Yahudi maupun Roma.

Yosepus bekerja bagi Perang Yahudi, menulis di antara tahun 70-an dan awal 80-an sesudah Kristus. Pekerjaan keduanya begitu lama namun tidak berdekatan dengan Jewish Antiquities yang dipublikasikan pada tahun 93-94M. Dua anggapan umum Yosephus di bawah ini sangat berarti dalam bab ini yaitu:

Pertama, dalam hubungannya dengan tradisi nabi alkitabiah dan sejarah kekaisaran, ditafsirkan di dalam istilah penghukuman Allah dan keselamatan. Hal ini ditujukan kepada orang Roma, Mesir, Asyria, Babilonia, Persia, Yunani, dan Syiria. Dengan demikian, berdasarkan Kekaisaran Roma secara umum dan dinasti Flavian secara khusus, posisi teologi Yosephus cukup jelas, sebagaimana di dalam War 5.367,378 dan 412:

Sungguh keberuntungan datang dari seperempat bagian dari mereka (orang Roma), dan Allah yang berkeliling bangsa, …. sekarang istirahat di Italia… Engkau berperang bukan hanya melawan Roma, tetapi juga melawan Allah … Yang Ilahi turun dari tanah suci dan berdiri di sisi orang yang berperang denganmu.

Allah, berdasarkan Yosephus menginginkan Yahudi secara politik patuh kepada Roma; dengan demikian orang-orang yang di dalam revolusi selama Perang Roma-Yahudi Pertama adalah melawan Allah.

Kedua, pengharapan evokatif yang kuat akan pemimpin ideal, Seorang Yang Diurapi atau Mesias, yang akan membawa kembali keadilan dan damai kepada tanah Yahudi mengatasi diskriminasi sosial, dominasi budaya dan penekanan kekaisaran. Di sini suara pengharapan itu, dari satu group sekitar pertengahan abad pertama sebelum Kristus, di dalam Mazmur Salomo 17:21, 29, 32-33 dan 35. Tidak hanya dalam hal itu Yosephus mengerti mesianis Keyahudian dan pengharapan apokaliptik. Dari penafisrannya akan War 6.312-313, Yosephus mengatakan:

Apalagi yang menghasut mereka untuk berperang adalah bermakna ganda … ditemukan di dalam kitab suci mereka, untuk mempengaruhi bahwa seorang dari negeri mereka akan menjadi pemimpin dunia. Hal ini mereka mengerti seseorang dari mereka, dan dari banyak orang bijaksana yang sesat di dalam penafsiran mereka. Ramalan itu di dalam kenyataan menandakan kedaulatan Vespasian yang memproklamasikan kekaisaran di tanah Yahudi.

Kekalahan kaisar Nero pada bulan Juni 68M membuat dinasti Julio-Claudia. Sehingga dinasti baru yaitu dinasti Flavian bangkit. Menurut Yosephus dinasti baru ini timbul karena kebaikan hati kekaisaran Roma dan sebagai keputusan Allah, seperti diramalkan Alkitab dan Yosephus sendiri.

2. PERJALANAN KE MAKHAERUS[3]

Sekitar tahun 30M, Herodes Antipas yang menerima Galilea dan Perea, telah menolak istri pertamanya untuk menikahi Herodias, istri sudara tiri Herodes.[4] Yosephus menyusun laporan baptisan dengan saran bahwa balas dendam ilahi bagi eksekusi Yohanes berada dalam penaklukan militer. Laporannya atas Yohanes diliputi dengan pembelaan teologi dan menjadi kenyataan, kurang komprehensif dari yang memikirkan tentangnya. Crossan memberikan teks dari Antiquities 18.116-119 dalam dua bagian:

Herodes meletakkannya (Yohanes Pembaptis) untuk mati, walaupun dia seorang yang baik dan menasihati Yahudi untuk mengarahkan hidup benar, melakukan keadilan kepada sesama dan kesalehan kepada Allah dan memberi diri untuk dibaptiskan. Dalam pandangannya hal ini penting jika baptisan adalah diterima oleh Allah. Mereka tidak harus menggunakannya untuk pengampunan dosa apapun yang mereka lakukan tetapi sebagai pentahbisan tubuh secara langsung bahwa jiwa telah dibersihkan dengan perbuatan baik.

Menurut Yosephus baptisan bukan sebuah magis atau tindakan ritual yang menghapus dosa tetapi pembersihan tubuh dan eksternal hanya dapat setelah penyucian spritual dan internal. Ini tentu sulit untuk melihat sesuatu yang berjasa atas kematian di dalam upacara tubuh bagi orang kudus. Yosephus begitu hati-hati menolak pada sistim keselamatan itu. Dia melanjutkan ceritanya mengenai Yohanes:

Ketika orang lain bergabung pada keramaian tentang dia, sebab mereka dibangunkan pada tingkatan paling tinggi dengan khotbahnya, Herodes menjadi ketakutan. Karena Yohanes semakin besar … maka Herodes memutuskan untuk membersihkan pekerjaan Yohanes dan mencari kesalahannya. Oleh karena kecurigaan Herodes, maka Yohanes di bawa ke Machaerus … dan akhirnya meninggal dunia.

Setelah membaca bagian kedua ini, bukan satu kejutan bahwa Antipas buru-buru bergerak untuk melenyapkan Yohanes. Yang menjadi masalah ialah bagaimana bagian kedua ini dihubungkan dengan bagian pertama; bagaimana ritual kekudusan disalahtafsirankan sebagai kekuatan revolusi. Jawabannya tergantung pada jalan keluar melalui apa yang Injil-injil Perjanjian Baru (PB) katakan mengenai Yohanes kemudian kembali sekali lagi pada Yosephus.

3. PADANG GURUN (HUTAN BELANTARA) YORDAN[5]

Eksekusi Antipas pada Yohanes tidak dapat dijelaskan dengan sederhana yang ditunjukkan pada Markus 6:17-29. Perhitungan Markus lebih baik dilihat sebagai karyanya, mengikutinya untuk menekankan paralel penting di antara nasib Yohanes dan Yesus, khususnya bagaimana keduanya meninggal atas tekanan orang lain oleh sebuah kekuasaan masyarakat – seperti Antipas dan Pilatus. Walaupun salah satu kritikan Yohanes atas masalah yang berhubungan dengan perkawinan Antipas diatur kembali sebagai fakta, akan sangat sulit menjadi garansi eksekusinya. Beberapa tindakan serius yang terjadi dimotivasi oleh tindakan Antipas.

Yosephus tidak pernah menyebutkan sesuatu mengenai padang gurun atau Yordan dalam hubungannya dengan Yohanes dan dia banyak memprotes bahwa baptisan Yohanes bukan mengampuni dosa-dosa. Markus melaporkan padang gurun, Yordan dan penghapusan dosa-dosa, berlawanan pada Yosephus (Mrk.1:4-5).

Secara geografis daerah itu berada di sebelah selatan Lembah Yordan. Termasuk berada di daerah kekuasaan Antipas dan dijaga batas selatan dan oleh benteng Machaerus. Dari sumber Injil lain kita dapat satu contoh dari khotbah Yohanes miliki, sesuai dengan Yosephus. Yohanes mengatakan, berdasarkan sumber Injil Q di dalam Mat.3:7-12 atau Luk.3:7-9 dan 16b-17. Dalam rangkaian naratif Injil, Seorang Nabi Yang Akan Datang itu menunjukkan pada Yesus, walaupun untuk meyakinkan, hal ini sangat kuat dilayani sebagai gambaran yang baik dari tindakan Yesus. Memang secara tersembunyi dalam Yoh.1:26-31 bahwa baptisan itu ditujukan kepada Yesus. Yohanes tidak berbicara mengenai Yesus seluruhnya tetapi kira-kira dekat advent (kedatangan) menuntut apokaliptik Allah. Katalismik advent digambarkan dalam dua gambaran kekuatan. Allah sebagai Sesorang Yang Datang adalah yang pertama seperti penjaga hutan yang memisahkan pohon-pohon yang baik dari yang buruk dan kedua seperti penebah yang memisahkan butir padi dari dedak. Bagi visi Yohanes yang berapi-api hanya ada dua kategori yaitu, yang baik dan yang buruk, dan waktunya sangat singkat untuk memutuskan di kategori mana seseorang bermaksud untuk hidup dan mati.

Menurut Crossan, Yohanes adalah seorang pengkhotbah apokaliptik di dalam tradisi klasik Yahudi, dekat dengan advent, tuntutan Allah atau tidak, seperti Yosephus, dekat dengan advent yang berhubungan dengan pembasmian. Tetapi kita masih membutuhkan untuk mengetahui tentang padang gurun, Yordan dan hubungan di antara baptisan dan penghapusan dosa-dosa.

4. PENABUH GENDANG APOKALIPTIK[6]

Crossan menyebutkan sesuatu mengenai hiasan-hiasan mitologi masa Augustinus sebagai pembungkus puisi yang berhubungan dengan kenyataan baru dalam sebuah lapisan kemasyuran kuno dan manifestasi nasib. Kembali pada lirik terkenal dari Virgil Aeneid 6.851-853:

Roma, ingatlah dengan kekuatanmu untuk memerintah, Umat dunia – sebab senimu menjadi hal-hal seperti ini: untuk menenangkan, untuk menjatuhkan aturan hukum, mengampuni orang yang jahat, menghancurkan yang sombong.

Sekarang bayangkan sebentar, bagaimana memandangnya dari sisi lain, dari bawah, dari pandangan menenangkan, penjahat, dan menghancurkan. Bacalah karya pidato agung aristokrasi sejarawan Roma Tacitus di dalam Agricola 30, sebuah biografi dari mertuanya, Gnaeus Julius Agricola, gubernur Britain antara tahun 77 dan 84M.

Semua para penuntut mesianis menginginkan agar kekuatan transendental segera terasa. Apokaliptisisme sering disebut dengan millenialisme atau millenarianisme yang berasal dari dua tipe yaitu pertama membendung, dan yang kedua dari Petani yang mendukungnya dengan otot dan tubuh mereka. Ada juga tipe apokaliptisisme ditemukan dalam Alkitab yakni dalam buku Daniel dan Wahyu. Crossan fokus pada apokaliptisisme petani masa Yesus, sebab hal tersebut latarbelakang langsung bagi pengertian Yohanes Pembaptis. Tetapi sama seperti penuntut mesianik petani meminta model kuno dari Saul dan Daud, maka nabi-nabi apokaliptik petani meminta model kuno Musa dan Yosua.

Pada tahun 30-an, 40-an, 50-an, dan 60-an abad pertama, perlawanan meletus lagi di wilayah Yahudi bukan hanya di antara Yahudi tetapi juga di antara orang Samaria dan Yosephus berbicara dengan pedas menjijikkan kepada para penipu, pembohong, dukun, dan nabi-nabi palsu yang membawa umat sesat selama waktu itu. Kedua peralawan itu terjadi ketika Felix menjadi gubernur Roma yang meliputi kedua kota itu. Ini ringkasan pernyataan mengenai apokaliptik nabi-nabi dalam teks paralel dari War.2.258-260 dan Antiquities 20.167b-168:

(1) … Para penipu dan pembohong di bawah kepura-puraan inspirasi ilahi membantu gerakan perubahan revolusional, mereka meyakinkan banyak orang untuk bertindak seperti orang gila dan membiarkan mereka keluar ke gurun pasir dengan keyakinan bahwa Allah di sana memberikan mereka tanda bukti pembebasan.

(2) Para pembohong dan penipu mempersilahkan rakyat banyak mengikuti mereka ke padang gurun. Sebab mereka katakan bahwa mereka akan menunjukkan pada mereka sesuatu yang menakjubkan dan tanda yang tak mungkin salah yang ditempa di dalam harmoni dengan desain Allah.

Felix dengan segera melawan orang banyak yang tak bersenjata dan diikuti dengan pembunuhan massal. Tetapi Crossan telah menggarismiringi hal yang penting apa yang apokaliptik nabi-nabi coba lakukan. Mereka melakukan kembali model kuno dari Musa dan Yosua memimpin bangsa Israel keluar dari padang pasir dan memasuki Tanah yang Dijanjikan sekitar 1200 tahun sebelumnya. Dengan demikian sebagai contoh, tanda bukti atau tanda-tanda pembebasan dalam ekspresi yang sama digunakan bagi wabah yang Musa minta bagi Mesir sebelum Keluaran di Antiquities 2.327. Dan desain Allah atau pemeliharaan Allah merupakan frase yang sama digunakan bagi keajaiban yang Musa lakukan melawan musuhnya Mesir sebelum Keluaran di dalam Antiquities 2.286. Maka walau pun dirinya sendiri, Yosephus meletakkan nabi-nabi ini dalam kelanjutan Mosaik.

Illustrasi khusus membuat tipologi Musa dan Yosua, padang gurun dan Yordan, penyaliban dan kemenangan, ketidakmampuan manusia dan kekerasan ilahi, bahkan makin jelas. Sekali lagi Crossan memberikan teks paralel dari War 2.261-262 dan Antiquities 20.169-170, yang setiap isi elemen-elemen pentingnya hilang dari yang lain. Crossan menempatkan Yohanes Pembaptis di antara orang Yahudi dan apokaliptik petani nabi-nabi. Dan hal itu menggambarkan dua keberatan langsung.

Pertama, mengapa Yosephus tidak melawan Yohanes Pembaptis, menghina dan merendahkan dia bagi apokaliptik nabi-nabi? Artinya Yohanes diingat dan diingat lagi dengan bilangan yang cukup untuk menahan penafsiran Yosephus atas 60 tahun kemudian. Kecurigaan Crossan adalah bahwa ada beberapa umat Yahudi tinggal di Roma pada masa Yosephus menulis Antiquites dan Yosephus tidak hati-hati, membersihkan Yohanes bagi penggunaan orang Yahudi dan Roma. Tidak ada keajaiban, Yosephus tidak pernah menyebutkan padang gurun atau Yordan ketika membicarakan Yohanes; sebab setiap orang Yahudi tahu, padang gurun bukan hanya sebatas pasir saja dan Yordan bukan hanya sebatas air saja. Jika seluruh pembaptisan mewajibkan air, bahkan diikuti air, hal itu didapati di dalam bidang-bidang tanah bagian tempat Yordan itu sendiri. Yohanes bukan, dengan kata lain, membaptiskan di Yordan; dia membaptiskan di Yordan.

Kedua, mengapa jika Yohanes merupakan nabi apokaliptik, apakah kita tidak mempunyai bukti tentangnya memimpin orang-orang banyak ke mana-mana dan mengapa Antipas pindah hanya untuk melawan Yohanes bukan melawan pengikut-pengikutnya? Yosephus menggunakan frase ”datanglah bersama di dalam baptisan“ tetapi strategi Yohanes bukanlah membawa orang banyak dari timur Yordan di kekuasaan Antipas Perea, menunda gerakan massa ke arah barat. Ketika umat datang kepadanya, dia menyuruh kembali dari padang gurun, melalui Yordan, yang membasuh dosa-dosa mereka, dan menyucikan dan siap ke dalam Tanah Perjanjian.

5. YOHANES MEMBAPTISKAN YESUS[7]

Menurut Crossan bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes secara sejarah dan tentu salah satu dari mereka pernah ada. Alasannya adalah bahwa pembelaan teologis yang dikerjakan oleh Yosephus dalam menceritakan Yohanes tidak dibandingkan dengan yang dilaporkan Injil-injil dalam menceritakan mengenai Yohanes dan Yesus. Tradisi Kekristenan sangat jelas gelisah dengan ide Yohanes membaptiskan Yesus, sebab nampaknya membuat Yohanes sebagai atasan (pemimpin) dan Yesus sebagai orang berdosa.

Markus 1:9 memberitakan tentang baptisan tanpa komentar pembelaan, tetapi tiba-tiba mengalihkannya dengan suara dari sorga di dalam 1:10-11.

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Hal itu nampaknya mampu untuk memuliakan wahyu atas baptisan dan Yesus lebih tinggi dari Yohanes. Tetapi itu belumlah cukup sebab Luk.3:21 sebelum menceritakan tentang suara ilahi, tergesa-gesa setelah baptisan Yesus menekankan doanya, atau bagi Matius 3:13-15, di mana Yohanes mencegah Yesus, atau bagi Injil Nazorean 2, teks ditemukan di luar PB.

(1) Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit

(2) Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.

(3) Lihatlah, ibu Tuhan dan saudaranya berkata kepadanya: Yohanes Pembaptis membaptis ke dalam pengampunan dosa-dosa, mari pergi dan dibaptiskan olehnya. Tetapi dia berkata kepada mereka: Dimanakah saya orang berdosa seharusnya pergi dan dibaptis olehnya? Kecuali kalau apa yang telah saya katakan adalah kebodohan.

Akhirnya, dua sumber tidak pernah bahkan menyebutkan baptisan Yesus, walau keduanya mengetahui tentang kegiatan pembaptisan Yohanes. Injil Q lebih banyak tertarik pada khotbah Yohanes dari pada baptisan Yohanes dan hal memungkinkan tidak ada cerita baptisan Yesus ditangannya. Kendati pun dalam Yoh.1:32-34 memberikan baptisan Yesus, tetapi merupakan berita epiphanias:

Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah”.

Penulis Injil Yohanes mungkin bergantung pada ketiga Injil PB bagi tradisi Baptisan, tidak pernah disebutkan sebuah kata mengenai baptisan Yesus di dalam seluruh pasal 1:19-34 dan malahan menekankan kesaksian Yohanes Pembaptis mengenai Yesus. Dengan Injil Yohanes, baptisan Yesus telah berlalu dan hanya sebuah wahyu untuk mengingatkan Yesus.

6. DARI PUASA KE PESTA[8]

Yesus dibaptiskan oleh Yohanes di Yordan. Yohanes keluar ke sejarah Transyordania dalam melakukan kembali ritus Musa dan Yosua menaklukkan Tanah Perjanjian. Pertanyaan umum bukanlah apakah Yesus memulai sebagai pengikut apokaliptik tetapi apakah Dia melanjutkan ketika Dia memulai missiNya, Dia melakukanNya karena baptisanNya.

Menurut Crossan, ada tiga perkataan khusus dalam hubungan mereka dan akibat kumulatif Yesus berpisah dengan visi Yohanes. Pertama ditemukan di kedua Injil Thomas 78 dan Injil Q di Matius 11:7b-9 atau Lukas 7:24b-26. Versi aslinya telah dirubah akhirnya mengarah kritikisme kekuatan daripada memuji nabi.

(1) Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar.

(2) Mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi.

Dalam format perkataan istilah-istilah ini diletakkan sebagai dialog yang implisit yang dialamatkan kepada orang yang bersimpatik pada Yohanes. Dalam isi perkataan istilah ini merupakan perbedaan antara padang gurun dan istana. Dia menggambarkan secara metapora sebagai seorang yang membengkokkan ke angin kemenangan dan secara literatur adalah gaun lunak atau garment yang mewah. Mengapa dibandingkan dan dibedakan padang gurun – tempat nabi yang secara seksama istana – berdiam „manusia“. Hanya ada satu jawaban yang Crossan imaginasikan bahwa perkataan itu bermaksud untuk sebuah perbandingan di antara Yohanes dan Antipas. Bacaan ini berusaha untuk memelihara iman visi apokaliptik Yohanes daripada eksekusi Yohanes sendiri.

Kedua, ditemukan juga di dalam kedua Injil Thomas 46 dan Injil Q dalam Matius 11:11 atau Lukas 7:28:

(1) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.

(2) Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.

Nampaknya hal ini kontradiksi dengan yang pertama. Pertama mengagumkan Yohanes lebih besar dari Antipas, tetapi kedua ditutup dengan pengaguman seseorang dalam Kerajaan Allah yang lebih besar daripada Yohanes. Kedua perkataan tentang Yohanes diperoleh dari Yesus sejarah yang hanya meninggalkan satu kesimpulan yaitu di antara dua pernyataan Yesus merubah pandanganNya atas misi dan pesan Yohanes. Visi Yohanes menunggu penyingkapan Allah akan kedatangan Seseorang sebagai penebus dosa yang secara asli diterima oleh Yesus.

Ketiga, menggubah perkataan oleh sahabat-sahabat atau musuh yang berbeda dengan Yohanes dan Yesus. Hal ini mengindikasikan pengenalan yang berbeda dari mereka berdua. Misalnya, bagaimana Yohanes berpuasa dan Yesus berpesta dibedakan dalam dua unit yang berikut dari aslinya Markus 2:18-20 dan kemudian berubah dari Injil Q dalam Matius 11:18-19 atau Lukas 7:33-34:

(1) Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

(2) Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Di samping metapor positif dari unit aslinya dan unit negatif dari perkembangan berikutnya ada sebuah perbedaan yang sama di antara puasa Yohanes dan pesta Yesus. Yohanes hidup dalam asketisme apokaliptis dan Yesus dalam situasi yang berlawanan.

7. SESEORANG SEPERTI ANAK MANUSIA[9]

Menurut Crossan, ada sebuah kesimpulan yang nampaknya pincang pada bagian terdahulu. Bukankah Yesus meramalkan kedatangan Anak Manusia, seorang figur yang apokaliptik? Bukankan Yesus sebagai seorang yang apokaliptik sama seperti Yohanes Pembaptis? Kemudian pertanyaan ini menekankan: Apakah Yesus berbicara tentang diriNya sendiri atau ada yang lain sebagai pelaku utama kedatangan Anak Manusia?

Istilah Ibrani dan Aram terjemahan “anak manusia” (son of man) adalah mankind (umat manusia) dalam bahasa Inggris, cara chauvinistik untuk menggambarkan seluruh kemanusiaan, cara patriarkhal untuk menggambarkan keseluruhan gambaran yang ekskulif. Pertama Crossan memberikan dalam Revised Standard Version (RSV) dan kemudian terjemahan yang baru New Revised Standard Version (NRSV).

What is man that thou art mindful of him, and the son on man that thou dost care for him?

What are human beings that you are mindful of them, mortals that you care for them?

Perubahan dari terjemahan lama kepada terjemahan baru meliputi bukan hanya penghilangan anakronistik thou art dan thou dost tetapi menggantikan chauvinistik man dan son of man di dalam terjemahan aslinya dengan human being dan mortals di dalam terjemahan kemudian.

Contoh lain, pengaguman digunakan sama dalam Daniel 7 sebagai visi apokaliptik yang bermaksud untuk menenteramkan hati iman Yahudi yang mengalami penganiayaan antara tahun 167 dan 164 sM oleh raja Syria Antiokhus IV Epiphanes. Kemudian di tempat itu Allah menghadirkan kerajaan bagi yang dianiaya dan yang setia dalam iman. Seluruh kekaisaran digambarkan sebagai “seperti singa… seperti beruang … seperti macan tutul” – yaitu seperti binatang liar – juga dengan sengaja berbeda apakah kerajaan kudus digambarkan sebagai “seperti anak manusia” – yaitu seperti umat manusia dari surga. Hal itu tentunya bukan sebuah perbedaan judul melainkan merupakan perbedaan literatur: kerajaan iblis seharusnya diinkarnasikan sebagai binatang jahanam, sehingga kerajaan yang sempurna diinkarnasikan sebagai umat manusia. Secara khusus dalam terjemahan Yunani di mana ekspresi Ibrani dan Aram sama kerasnya dengan bahasa Inggris, “anak manusia (a son of man)” menjadi sebuah judul, “the Son of Man (Anak Manusia)”. Judul itu kemudian mengindikasikan kekhususan individu sebagai agen bagi apokaliptik penghakiman Allah atas iblis dunia. Dengan kata lain, penggunaan generik bagi seluruh umat manusia bersama menjadi sebuah penggunaan gelar bagi manusia tunggal itu sendiri.

Secara jelas bahwa Yesus sebagai mana yang digambarkan dalam kanon Injil-injil menggunakan “Anak Manusia (Son of Man)” di dalam pemahaman gelar dan dia akhirnya mengimajinasikan diriNya sendiri. Pertanyaan sekarang adalah apakah Yesus sejarah diriNya sendiri pernah menggunakan ekspresi tersebut atau apakah hal itu representasi dari penafsiran dari Kekristenan mula-mula.

Alasan utama Crossan untuk menolak bahwa Yesus pernah secara sejarah menggunakan ekpresi gelar adalah bahwa di dalam tradisi Anak Manusia merupakan contoh tunggal di mana dua sumber independen memiliki ekspresi yang lebih dari versi tunggal. Argumentasi Crossan bukan hanya pada semua yang Yesus tidak seharusnya atau tidak berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Crossan melihat pada pengecualian tunggal sebab hal ini memungkinkan signifikan yang ekstrim dalam pengertian mengapa gelar ekspresi Anak Manusia kemudian ditempatkan kepada bibir Yesus. Perkataan itu ditemukan dalam kedua Injil Thomas 86 dan Injil Q dalam Matius 8:19-20 atau Lukas 9:57-58.

(1) Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

(2) Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Siapakah Anak Manusia ini? Anak manusia ini menurut Yesus adalah orang miskin, dan orang papa. Yesus menggunakan istilah “anak manusia” untuk mengidentifikasi diriNya dengan orang miskin dan papa untuk menenkankan bahwa Dia berbagi rasa dengan manusia yang miskin dan papa itu sendiri. Menurut Crossan, perkataan “Anak Manusia” berkembang setelah kematian Yesus.

Pada abad ini, Albert Schweitzer mengatakan bahwa Yohanes dan Yesus keduanya adalah pengkhotbah apokaliptik, setiap mereka berusaha di dalam caranya untuk memaksa masa penantian Allah. Ada kebingungan dalam teks Schweitzer di antara perluasan atau generik (umum) dan penyempitan atau istilah khusus. Istilah yang lebih luas adalah eskhatologi atau penyangkalan dunia. Hal ini mengindikasikan kritikisme budaya radikal dan peradaban serta penolakan yang fundamental dari nila-nilai dunia dan pengharapannya.

Istilah yang khusus adalah apokaliptik eskhatologi. Hal ini menganggap dunia dihakimi dengan bencana iblis dan mempertimbangkan yang tak dapat dibatalkan obat manusia. Schweitzer salah dalam pemahaman yang dangkal dan dalam pemahaman yang luas benar. Yesus bukanlah nabi apokaliptik seperti Yohanes Pembaptis, melainkan Dia seorang ahli eskhatologi atau figur penyangkal dunia.

TANGGAPAN LAPORAN

Pendekatan Crossan ini sangat berbeda dengan pendekatan NT.Wright. Jika Wright memakai pendekatannya dengan metode pastoral, maka Crossan memakai pendekatan interdisipliner dalam merekonstruksi Yesus sejarah. Pendekatan ini mencakup tiga langkah analitis yang semuanya bekerjasama sepenuhnya, seimbang dan saling terkait, untuk menghasilkan suatu sintesis yang kokoh dan efektif. Langkah pertama adalah melakukan suatu analisis antropologis lintas-budaya dan lintas-zaman, dengan menerapkan beberapa model dan tipologi antropologis. Langkah kedua, melakukan suatu analisis sejarah zaman Hellenistik dan Yunani-Romawi, dengan memakai kajian-kajian sinkronik dan diakronik atas bahan-bahan yang relevan. Kedua langkah ini dimaksudkan untuk mendapatkan konteks historis dan kontemporer dan sesudahnya (sampai tahun 70) yang di dalamnya Yesus dapat dengan mantap ditempatkan. Langkah ketiga, melakukan suatu analisis tekstual dan literer atas bahan-bahan tentang Yesus; langkah ini paling mendasar sebab “setiap kajian tentang Yesus sejarah akan bertahan atau gugur tergantung pada bagaimana si peneliti menangani langkah analisi literer atas teks yang ada.“ [10]

Dalam bab ini Crossan memakai penelitian langkah kedua dengan memakai kajian-kajian The Independent Multiple Attestation yaitu metode yang menggunakan bahan yang muncul di beberapa tempat yang independen. Bahan yang digunakan Crossan adalah (a) sumber-sumber Kristen seperti: Injil Markus, Injil Matius,Injil Lukas,Injil Yohanes, Injil Q, dan Injil Thomas,serta Injil Nazorean; (b) sumber-sumber non-Kristen seperti yang ditulis oleh Flavius Yosephus (Joseph ben Mattias) Antiquitates Judaicae atau Jewish Antiquities, dan Agricola 30.

Dalam merekontruksi Yesus sejarah, akan selalu ada interaksi antara data-data tekstual yang sedang ditafsir dan teologi si perekonstruksi. Dengan demikian, setiap pengkajian Yesus sejarah adalah sebuah usaha hermeneutik, untuk menemukan Yesus di masa lalu yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang diajukan si peneliti terhadap teks-teks yang tersedia, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari lokasi sosial si peneliti di masa kini. Inilah yang dilakukan oleh Crossan dalam bagian ini. Crossan mencoba menjawab pertanyaan sosial mengenai apakah Yesus anak manusia, apakah Yesus adalah hakim atas dunia ini? Ternyata dalam penelitiannya atas berbagai teks-teks yang ada maka Crossan berkesimpulan bahwa Yesus tidak pernah menjadi hakim, Yesus tidak pernah menyebut diriNya sebagai Anak Manusia. Dalam bagian lain, Crossan juga menegaskan bahwa Yesus bukanlah nabi apokaliptis. Sebab Yesus menekankan “pesta” di dalam pengajarannya, karena Yesus memahami bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada di bumi ini bukan lagi sesuatu yang harus ditunggu-tunggu lagi. Dengan demikian visi eskatologis apokaliptis tentang masuknya manusia ke “sorga” sebagai suatu ”dunia lain“ di masa depan di akhir sejarah dunia, bukanlah visi Yesus sejarah.[11]

Metode penelitian seperti ini menurut saya lebih baik daripada pendekatan Wright sebab kebenaran Yesus sejarah itu digali dari berbagai sumber-sumber yang mengacu kepada kebenaran sejarah. Kehidupan Yesus yang hidup dulu dapat kita rekonstruksi ulang dari penelitian interdisipliner ini. Sebab Yesus yang diberitakan sekarang adalah Yesus kepercayaan dari pada penulis Injil pada abad pertama. Dengan adanya penelitian interdisipliner ini akan memperkaya pemahaman kita akan karya dan hidup Yesus lebih nyata dan otentik.

DAFTAR PUSTAKA

Miller, Robert J. ed., The Apocalyptic Jesus: A Debate (Santa Rosa, CA: Polebridge Press, 2001)

Rakhmat, Ioanes. “Kajian Yesus Sejarah dan Sumbangannya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini” dalam Jurnal Teologi Proklamasi (Jakarta: UPI STT Jakarta, edisi No.7/Tn.4/Juni 2006)


[1] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary Bibliografy (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1994) 29-53

[2] Ibid., 30-33

[3] Ibid., 33-35

[4] Hubungan erat antara riwayat Yohanes Pembaptis dengan sejarah Yahudi itu diperlihatkan Yosephus ketika ia membahas kekalahan Herodes Antipas terhadap Aretas, Raja Nabatea. Herodes pernah menikah dengan putri Raja Aretas, namun putri ini kemudian diceraikannya karena ia ingin menikah dengan Herodias.

[5] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 35-39

[6] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 39-44

[7] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 44-45

[8] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 45-48

[9] John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary…, 49-53

[10] Ioanes Rakhmat, “Kajian Yesus Sejarah dan Sumbangannya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini” dalam Jurnal Teologi Proklamasi (Jakarta: UPI STT Jakarta, edisi No.7/Tn.4/Juni 2006) 105-106

[11] Perdebatan tentang pokok ini Lihat Robert J.Miller, ed., The Apocalyptic Jesus: A Debate (Santa Rosa, CA: Polebridge Press, 2001)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: