Posted by: ramlyharahap | April 13, 2009

LAPORAN BUKU A HISTORY OF CHRISTIANITY by KURT ALAND Philadelpia: Fortress Press, 1985, Vol.I

1. PENDAHULUAN

A. PENERJEMAH Buku Kurt Aland ini aslinya ditulis dalam bahasa Jerman yakni Geschichte der Christenheit yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh James L.Schaaf pada tahun 1984. Tebal buku volume I terjemahan ke dalam bahasa Inggris ini adalah 474 halaman. Buku ini terbit dalam dua volume. Volume I membahas tentang Dari Kekristenan Mula-mula hingga ke Ambang Pintu Reformasi. Sedangkan volume II membahas tentang Dari Reformasi hingga kini. Kurt Aland, yang lahir di Berlin tahun 1915, adalah seorang Guru Besar Sejarah Gereja dan Peneliti Teks Perjanjian Baru di Universitas Münster di Westphalia. Aland dikenal orang karena dia salah seorang editor buku Novum Testamentum Graece, dan dia juga menulis buku tentang studi Perjanjian Baru dan sejarah Reformasi. Khusus buku volume I ini, Kurt Aland hanya membahas dua bagian besar yakni Permulaan Kekristenan dan Kekristenan di Abad Pertengahan. Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang pemikiran Aland, di bawah ini akan dibahas bagian demi bagian dari bukunya A History of Christianity volume I.

B. PENULIS

Buku ini dilatarbelakangi dari bahan kuliah yang diajarkan oleh Aland dalam mengajarkan teologi yang berjudul “Garis Besar Sejarah Gereja”. Menurut Aland, buku ini tidak hanya semata bertujuan untuk para mahasiswa dan para teolog tetapi juga – di dalam kenyataan – untuk “kaum awam”, yaitu, kepada seluruh yang tak memperhatikan keanggotaan gereja mereka, yang tertarik pada sejarah umat Kristen (Christenheit) dan ingin untuk mengetahui apa yang telah terjadi di dalam sejarah ini dan apa yang memaksa perkembangan dari permulaan hingga saat ini. Aland mengakui bahwa buku ini bukan pengetahuan sejarah yang mendetail yang penting, melainkan mengerti konteks di mana mereka hidup.

2. PERMULAAN KEKRISTENAN

Menurut Aland, untuk mengerti permulaan Kekristenan itu sedikitnya ada 5 hal yang harus dibahas, yakni: argumen dengan penyembah berhala, sejarah eksternal Kekristenan mula-mula, sejarah internal Kekristenan mula-mula, sejarah di antara umat, masa Konstantin dan akhir sejarah Kekristenan mula-mula. Kelima pokok bahasan inilah yang menjadi perhatian dasar Aland untuk melihat permulaan Kekristenan itu sendiri.

I. Pertarungan dengan Penyembah Berhala Untuk membahas bagian ini, Aland membagi dua bagian yaitu iman penyembah berhala pada peralihan zaman pra-Kristen ke zaman Kekristenan mula-mula ( abad I-III) dan alasan-alasan kemenangan Kekristenan atas para pengikut penyembah berhala.

1. Iman Penyembah Berhala pada pra-Kristen ke zaman Kekristenan mula-mula ( abad I-III)

Menurut Aland, untuk memperoleh sebuah gambaran luas yang hidup tentang keagamaan di sekitar kekristenan, diperlukan sebuah peta dunia agama-agama untuk dapat melihat geografi dan statistik penyebaran dari bermacam-macam tipe orang percaya. Arkeologi telah menemukan tempat-tempat candi-candi purbakala; sebagai sebuah contoh, di sana ada peta-peta yang mengindikasikan tempat yang terkenal di mana Mithra disembah. Tetapi hanya beberapa penemuan-penemuan tempat kultus pada masa itu yang dapat dikonfirmasikan; banyak yang telah hilang tanpa meninggalkan bekas di sekitarnya. Paham/aliran filsafat dan gerakan intelektual pada abad itu tidak dapat memastikan secara geografis. Sebagai tambahan, ada sebuah fakta bahwa sebetulnya tidak mungkin memiliki informasi statistik tentang pendukung-pendukung bentuk-bentuk persaingan keagamaan saat itu. Oleh karena itu tidak akan ada sebuah peta dapat dibandingkan kepada atlas keagamaan-keagamaan kita saat ini yang dapat memberi kita pandangan yang sempurna dari bentuk-bentuk keagamaan pada saat itu. Walaupun ketika kita melintas sebuah jalan melalui satu cagar daerah-daerah candi seperti Paestum, atau melalui sebuah kota kuno yang dibawa dari reruntuhan di masa lalu seperti Pompeii, atau walaupun berjalan melalui forum Roma, belum lagi agama seperti misalnya Delphi, semua itu memperlihatkan bahwa Kekristenan tidak muncul di tengah-tengah sebuah kekosongan (vacuum), melainkan di tengah-tengah dunia yang sudah dihuni oleh masalah keagamaan. Tak satu pun dari kultus-kultus, tak satu pun dari bentuk-bentuk agama, tak satu pun sekolah-sekolah philosofi dan gerakan intelektual pada masa itu yang siap untuk menyerah kepada Kekristenan tanpa sebuah perjuangan. Inilah hal penting yang harus diperhatikan, kata Aland. Hal ini menurut Aland benar, sebagaimana dinyatakan berulang-ulang, bahwa kepercayaan tradisional tentang penyembahan berhala-berhala di dalam periode ini sebagian besar hilang kuasanya. Hal ini benar pernyataan ulang Augustus tentang iman penyembah berhala ditandai hanya oleh perubahan, di mana ada usaha untuk merubah sebuah bentuk luar penyembahan berhala dan mentransfusinya dengan kuasa baru. Hal ini juga benar bahwa skeptisisme secara partikular mendominasi iman di kalangan atas pada waktu itu dengan akibat-akibat demoralisasi yang mengikuti skeptisisme pada waktu yang lain. Tetapi jika seandainya kita memandangan konteks keberagamaan pada Kekristenan mula-mula hanya didominasi dengan demoralisasi, kita akan jatuh pada penghakiman-penghakiman yang fatal dan rusak. Kita hanya butuh melihat pada akhir abad keempat, ketika Kekristenan telah meraih kemenangan atas perlawanan pemerintah dan menang memiliki perlindungan kuasa penuh dari kaisar, hingga hal ini akhirnya mendeklarasikan pegawai agama kaisar. Pada waktu itu kita melihat bahwa penyembah berhala telah kehilangan perjuangan melawan Kekristenan. Menurut Aland, jika kita berbicara kehidupan iman penyembah berhala pada masa kuno, kita tidak hanya melihat perjuangan intelektual penyembah berhala dengan Kekristenan namun juga harus dilihat dengan orang Yahudi yang begitu keras menganiaya orang Kristen pada dunia kuno. Tetapi penyembah berhala dan orang Yahudi berjuang melawan Kekristenan bukan hanya dengan pengertian sebelah luar, tetapi juga membawa perjuangan intelektual dan keagamaan, misalnya makan tubuh dalam persekutuan Kristen, immoralitas Kekristenan yang mempraktekkan perkawinan sedarah. Pagan juga melawan otoritas PB dan otoritas seluruh Alkitab. Menurut Aland, kehidupan penyembah berhala di dunia kuno dapat didokumentasikan dalam berbagai sumber. Namun bisa juga ditemukan dalam buku Kisah Para Rasul. Misalnya Kis. 17 membawa kita kepada metropolis. Di sini Paulus mengembara melalui Atena dan menemukan kota yang penuh dengan gambaran ilah-ilah. Dalam Kis.19 kita membaca bagaimana pandai perak Demetrius di kota besar Efesus dapat mengacaukan rakyat banyak sebab – sebagaimana dia klaim – Artemis telah dilukai dengan khotbah Paulus dengan iman baru. Dan pengajaran Paulus mendapat banyak reaksi dari para penyembah berhala.

2. Alasan-alasan Kemenangan Kekristenan atas Para Penyembah Berhala

Menurut Aland, banyak jawaban telah diberikan pada pertanyaan tentang bagaimana Kekristenan dapat menang dalam persaingan dengan beraneka bentuk-bentuk iman, kendatipun di dalam setiap hal para pesaing melampauinya di dalam keanggotaan maupun di dalam sumber-sumber. Sebuah generasi yang lalu, beberapa ahli sering memahami Kekristenan sebagai sebuah agama-agama misteri dan berpikir bahwa kemenanganya atas agama-agama misteri lain disebabkan dia (kekristenan) mengambil dari mereka apa yang menentukan dan efektif dan memformulasikannya ke dalam sebuah bentuk baru. Hal ini dipercayai bahwa hal ini didokumentasikan dengan sebuah contoh tentang Paulus. Walaupun sebuah perbandingan superfisial di antara agama-agama misteri dan Kekristenan akan ditunjukkan – maka mereka berargumentasi – bahwa Kekristenan mudah mengekspresikan hal yang sama sebagai agama-agama misteri, tetapi di dalam jalan yang berbeda. Di dalam keduanya, Allah dimuliakan sebagai Tuhan. Hal lain yang menyebabkan orang Kristen mengalami kemenangan adalah karena orang Kristen memiliki sebuah kesatuan kekuatan, sementara para pesaing mereka tidak bersatu dan saling memburuk-burukkan kawannya. Padahal Kekristenan hingga abad ketiga belum merupakan sebuah “kekuatan”. Kekristenan sering juga diidentifikasikan dengan agama misteri. Menanggapi hal ini Aland berkata bahwa paling sedikit kita dapat katakan bahwa ada tema-tema di dalam agama misteri yang juga dinampakkan di dalam Kekristenan dan yang salah satunya mungkin diklaim Kekristenan diadopsi dari mereka. Misalnya tema-tema: kematian dan kebangkitan, kelahiran kembali dan menjadi anak Allah, pencerahan dan penebusan, ketuhanan dan kesusilaan.

II. Sejarah Eksternal Kekristenan Mula-Mula

Untuk melihat sejarah eksternal Kekristenan mula-mula, Aland melihat dari sisi penyebaran Kekristenan, struktur sosial gereja-gereja mula-mula, posisi perempuan di dalam Kekristenan mula-mula, penganiayaan orang-orang Kristen, dan “Kemenangan” Kekristenan.

1. Penyebaran Kekristenan

Menurut Aland, jika kita ingin belajar sejarah penyebaran Kekristenan di dalam periode mula-mula, kita memiliki hanya satu dokumen – Kisah Para Rasul dan membandingkannya dengan surat-surat Paulus. Para sarjana kontemporer, khususnya di Jerman, didominasi oleh “skeptisisme tak terkalahkan” (invincible skepticism) ketika mereka menafsirkan Kisah Para Rasul. Hal ini dibenarkan oleh Aland, bahwa Kisah Rasul bukanlah sebuah buku sejarah di dalam pengertian modern, melainkan laporan penyebaran Kekristenan di periode mula-mula. Tetapi Aland yakin bahwa “skeptisisme tak terkalahkan” ini melangkah terlalu jauh – dengan kata lain, ini bukan secara meluas dibagikan di luar negara-negara yang memakai bahasa Jerman – dan bahwa paling sedikitnya di antara pekerjaan dari tipe ini – untuk kembali pada apa yang telah kita sebutkan terdahulu – Kisah Para Rasul memiliki sebuah perbedaan secara menyeluruh sejarah pendek dari pada yang sering kita percayai. Menurut Aland, komunitas orang Kristen berada di Yerusalem, tetapi tidak membatasi kegiatan orang Kristen pada daerah di sekitarnya. Dalam Kis. 9:32 dilaporkan tentang perjalanan misi Petrus dari Lidda, Yope dan Kaisarea. Tetapi perjalanan Petrus itu bukanlah satu-satunya bukti bahwa sudah ada jemaat di Yerusalem. Bukti lain misalnya ketika Saulus menganiaya orang Kristen di Damaskus membuktikan bahwa sudah ada orang Kristen di Yerusalem (Kis. 9:2). Penyebaran Kekristenan itu dimulai ketika terjadi penganiayaan Stefanus di Yerusalem, sehingga banyak orang Kristen akhirnya keluar meninggalkan Yerusalem misalnya ke Palestina dan Siria. Dalam Kis. 11:26 dilaporkan bahwa di Antiokialah pertama sekali disebut orang “Kristen”. Dari Antiokia inilah Paulus semakin menyebarkan Kekristenan itu ke Siria dan Siprus dan Asia Kecil dan juga hingga ke Eropa. Paulus bekerja di Makedonia dan Akaya kemudian pergi ke Italia dan bahkan mungkin ke Spanyol. Menurut Aland ada dua observasi tentang pekabaran Injil yang dilakukan Paulus yang sangat penting. Pertama, Kisah Para Rasul adalah laporan singkat penyebaran Kekristenan. Kedua, pekabaran Injil ini didominasi oleh kegiatan presentasi Paulus. Tetapi juga kita tidak melupakan orang-orang yang melakukan Pekabaran Injil disamping Paulus dalam penyebaran Kekristenan pada abad mula-mula misalnya Barnabas, Lewi dari Siprus yang berkoloborasi dengan Paulus. Hal kedua yang kita harus tidak kita lupakan adalah bahwa Paulus tidak sendirian melainkan memiliki sekelompok pembantu di sekitarnya yang memberi masukan demi kesuksesan misinya misalnya Titus, dan Timotius. Untuk mengerti penyebaran Kekristenan itu lebih jauh dan mendalam, Aland juga mengutip pemikiran Adol von Harnack dalam bukunya Die Mission und Ausbreitung des Christentums in den ersten drei Jahrhunderten (“The Mission and expansion of Christianity in the first three centuries”) edisi keempat 1924. Menurut Harnack dalam sebuah peta dinampakkan penyebaran Kekristenan tahun 180, dia mengidentifikasi seluruh lokasi di mana laporan-laporan jemaat Kristen hidup pada waktu itu. Pertama kita temukan di beberapa tempat di Palestina, walaupun di sana dapat tidak diragukan bahwa arti jemaat Palestina secara pasti mengalami kemunduran setelah bencana alam di Yerusalem tahun 70 misalnya jemaat di Asia Kecil, Siprus, Kreta, Akaya, Makedonia. Peta kedua dalam pikiran Harnack adalah menggambarkan Kekristenan yang luas di sekitar tahun 325. Umat telah mencoba menentukan berapa besar persentase orang-orang Kristen di Kekaisaran Romawi pada saat Konsili Nicea. Ada yang memperkirakan di antara 8%, atau mungkin 12% atau bahkan 50%. Jika kita ingin menggambarkan banyaknya orang Kristen pada abad keempat menurut Harnack, kita harus melihat 4 kategori. Pertama termasuk daerah-daerah di mana Kekristenan itu hidup dan sejauh mana melampaui kebudayaan-kebudayaan lainnya. Kedua tergantung kepada daerah-daerah lain di mana orang Kristen telah menang secara pertimbangan jumlah populasi, dan ketiga jumlah tempat-tempat dan provinsi-provinsi di mana Kekristenan ditemukan secara meluas dan keempat termasuk tempat-tempat di mana Kekristenan menyebar sangat sedikit atau secara besar ditemukan. Kesimpulan yang diambil Aland dari fakta-fakta ini adalah pertama, kita tidak dapat menekankan, bahwa kekuatan Kekristenan di abad pertama adalah di Timur, bukan di Barat. Sebab dikemudian hari Barat memainkan peranan.

2. Struktur Sosial Gereja-Gereja Mula-Mula

Untuk mengetahui struktur sosial gereja mula-mula, Aland mengembangkan komposisi ilmu sosiologi jemaat mula-mula berdasarkan 1 Kor.1:26-29. Kita harus mengasumsikan bahwa gambaran yang dibuat Paulus di sini juga dipakai untuk jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu. Paulus katakan bahwa Allah telah memilih apa yang bodoh di dalam dunia, apa yang lemah di di dalam dunia, apa yang rendah di dalam dunia dan yang dipandang rendah di dunia ini, walaupun hal ini bukan demikian. Kekristenan di periode mula-mula ditemukan di antara orang rendah – kita hampir dapat katakan “terendah” – kelas sosialnya. Di samping jumlah orang Kristen yang sederhana yang banyak, sejumlah orang yang merepresentasikan kelas menengah dan atas ditemukan juga di dalam gereja-gereja mula-mula. Kisah Rasul memberikan kita seluruh daftar nama penduduk dari kelas-kelas ini. Sebuah Jemaat seperti Roma – kaya, berpengaruh, luas dan banyak orang terkemuka di antara anggotanya – tidak dianggap aneh seperti yang telah disebutkan bahwa dalam kenyataan Kallistus terpilih menjadi uskup; jemaat memilih budak sebagai perlawanan kepada Hippolytus yang berpendidikan dan dari kelas atas. Struktur gereja pada gereja mula-mula tidak ada yang sudah baku, melainkan struktur gereja itu mengikuti struktur masyarakat di mana gereja itu hadir. Setelah mendalami struktur sosial gereja mula-mula, akhirnya Aland berkesimpulan bahwa kita tidak harus pergi ke ekstrim yang lain: umat berkeinginan untuk membaca gambaran Paulus sebagai sebuah bentuk proletar di dalam Kekristenan mula-mula. Hal ini salah. Kenyataan bahwa orang-orang Kristen kelihatan keseluruhan menjadi terendah dan terendah.

3. Posisi Perempuan di dalam Kekristenan Mula-mula

Menurut Aland, bukan berlebihan bila berbicara tentang posisi perempuan di dalam gereja. Bukan hanya gereja Katolik dan gereja Ortodoks tetapi juga gereja-gereja Protestan mengkhususkan laki-laki untuk memegang seluruh jabatan. Perempuan dikeluarkan dari mereka; tingkatan tertinggi perempuan di Katolik dan Ortodoks adalah menjadi seorang kepala biarawati; sedangkan di gereja Protestan menjadi “seorang pendeta perempuan”, sangat jarang. Di Gereja Katolik dan Ortodoks sudah pasti tidak akan berubah. Kendati pun di antara gereja-gereja Protestan kita tak dapat mengatakan bahwa laki-laki telah membuat itu sangat mudah bagi perempuan untuk mencapai pelayanan kantor. Hal ini benar bahwa hingga sekarang belum pernah memiliki seorang perempuan yang menjadi superintendent atau bishop, paling tidaknya di Eropa. Tetapi Gereja Reformed Francis jemaat-jemaat di Jerman yang pada akhir tahun 1979 memilih seorang perempuan sebagai moderator mereka. Tetapi jika kita melihat kehidupan sehari-hari gereja, kita mendapatkan perbedaan penekanan. Jika kita menghadiri sebuah ibadah “normal”, baik Protestan maupun Katolik dan Ortodoks, di jemaat-jemaat Kristen terjadi penonjolan perempuan. Dalam hal ini partisipasi perempuan di dalam gereja dinampakkan begitu besar dari pada indikasi pejabat. Di periode mula-mula partisipasi perempuan bukan hanya dinampakkan lebih besar dari pada laki-laki, sebagai mana yang dilakukan saat ini, melainkan dalam kenyataan sama besar, jika tidak lebih besar dari pada laki-laki. Sedikitnya dalam kelas atas lebih banyak perempuan menjadi Kristen dari pada laki-laki. Perempuan ini adalah perempuan yang serius dan tidak ingin menikah dengan suami penyembah berhala. Peranan perempuan sangat berpengaruh sekali pada periode mula-mula. Mereka mendampingi Yesus dalam pelayanNya. Kemudian gereja di Yerusalem mengadakan pertemuan di rumah Maria ibu Markus. Jemaat Kristen pertama di Eropah di rumah perempuan – Lidia.

4. Penganiayaan Orang-orang Kristen

Menurut Aland, kalimat pertama dalam gambaran penganiayaan adalah: penganiayaan adalah sama tuanya dengan Kekristenan, sama tuanya dengan gereja Kristen; kalimat kedua seharusnya menjadi: penganiayaan adalah sebuah komponen yang sangat diperlukan dari eksistensi gereja Kristen. Dalam bukunya Von den Konzilen und der Kirche (“Majelis Jemaat dan Gereja”), Luther pada tahun 1539 berbicara tentang jalan kita mengenal gereja. Dia menyebutkan satu per satu tujuh tanda: kita mengenal gereja Kristen (1) di dalamnya ada Firman Allah, (2) lihat di dalamnya ada sakramen baptisan, (3) ada sakramen Perjamuan Kudus, (4) ada pengampunan dosa, (5) ada pejabat gereja, (6) di dalamnya ada pemujian-pemujian, doa-doa, dan ucapan syukur, (7) kata Luther, “umat Kristen yang kudus adalah secara luar dikenal dengan memiliki rahasia salib kudus. Mereka harus memikul setiap kemalangan dan penganiayaan, seluruh pencobaan dan jahat … dengan kata lain menjadi seperti kepala mereka, Kristus.” Penganiayaan bukanlah hanya sama tuanya dengan Kekristenan melainkan penganiayaan juga sebuah tanda sejati dengan mana kita mampu mengenal gereja Kristen. Penganiayaan Kekristenan sama tuanya dengan gereja Kristen itu sendiri. Kebencian orang Yahudi adalah apa yang membawa Yesus kepada kematianNya. Yudaisme juga secara sedih menganiaya para rasul, sehingga Kekristenan memisah dari Yudaisme. Dengan demikian Stefanus dibunuh dan pengikutnya diceraiberaikan. Yudaisme juga berperang melawan Kekristenan atas dasar keagamaan. Di sisi lain, Kekristenan juga menganiaya Yudaisme dengan alasan keagamaan. Penganiayaan Yudaisme paralel dengan penganiayaan orang Kristen kepada orang penyembah berhala hingga penganiayaan negara datang ke permukaan dan menjadi ancaman eksternal pada gereja muda. Hingga abad ketiga penganiayaan ini masih sering terjadi. Di bawah Diokletianus penganiayaan berkobar kembali dengan ukuran yang lebih besar dan lebih kejam. Pada permulaan abad keempat, penyembah berhala melakukan pencobaan untuk memusnahkan Kekristenan. Pada tahun 303 penganiayaan mulai lagi. Pada tahun 311 setelah penganiayaan berakhir, Galerius penganiaya orang Kristen, harus menerima kenyataan dan Dekrit Toleransi Nikomedia. Dalam Dekrit ini kekaisaran mendeklarasikan bahwa orang-orang Kristen akan menikmati kebebasan dari penganiayaan. Dekrit ini tidak sama secara fundamental dengan Dekrit Toleransi Milan tahun 313. Di Barat penganiayaan besar nampak pada akhir dan bahkan sebelum Dekrit Nikomedia, sementara di Timur penganiayaan berlangsung walaupun setelah tahun 311.

5. “Kemenangan” Kekristenan

Ketika penganiayaan secara aktual berakhir (tahun 312 di Barat dan 324 di Timur), Konstantin tidak menemukan – sebagaimana mungkin diduga setelah penganiayaan-penganiayaan yang dahulu – gereja yang hancur dan putusasa. Benar bahwa penganiayaan telah mengambil banyak korban. Kita tidak dapat gambaran tentang persentase mereka yang masih tetap hidup ketika penganiayaan. Penganiayaan terbesar, khususnya di kota-kota besar, menghabiskan banyak orang Kristen. Penurunan besar juga pada tingkat pendeta, serta uskup, bagi keputusan-keputusan yang telah diaplikasikan pada para teolog sangat parah. Secara karakteristik, penganiayaan besar pada tahun 303 mulai di pusat kota Nikomedia ketika satu kompi tentara disuruh menghancurkan gereja besar Kristen yang melawan istana; mereka dengan segera meratakan gereja dengan tanah dan pada saat yang sama membakar manuskrip-manuskrip yang mereka temukan di sana. Tetapi penganiayaan tidak dapat menghancurkan kekuatan gereja; sementara, gereja Kristen dimurnikan dengan penganiayaan Diokletia dan penggantinya dan timbul dari hal itu dengan kekuatan-kekuatan baru. Kita lihat gereja setelah 312 atau 324 berkonfrontasi kepada kaisar dengan kepercayaan diri (self-confidence). Inilah salah satu aspek menurut Aland. Gereja dengan kepercayaan diri berhadapan pada kaisar. Tapi hal ini juga bentuk sebuah persekutuan dengan kaisar – dengan negara – yang berkembangan kuat dari dekade ke dekade. Ada beberapa alasan untuk hal ini kembali kepada Kekristenan mula-mula. Pada awal abad ketiga kehidupan orang Kristen bukan hanya keharusan loyal kepada negara tetapi juga keharusan setuju dengan negara. Dengan jelas orang Kristen tidak dapat menegaskan bentuk yang penyembah berhala berikan kepada negara dan kaisar yang menuntut balas dendam pribadinya – di dalam analisis akhir, milik negara pengertian pribadi (self-understanding). Kendati pun mereka menghormati penyembah berhala negara sebagai milik mereka. Mereka selalu berdoa untuk kaisar dan negara, walaupun ketika kaisar dan negara menganiaya mereka. Pernyataan positif Perjanjian Baru (PB) tentang negara harus dilihat melawan latar belakang penganiayaan oleh negara ini; dengan demikian mereka beruntung sebuah karakter khusus dan kepentingan khusus. Menurut Aland, masa baru itu dimulai ketika Konstantin menghentikan penghambatan, walaupun ia baru menerima Kristus pada tanggal 22 Mei 337. Hal ini juga terus dilanjutkan oleh anak-anaknya kendatipun Konstantius belum menerima Kristus hingga menjelang mati. Mereka meninggalkan praktek-praktek penyembahan berhala dan menikmati persekutuan dengan orang-orang Kristen. Ketika Julianus memerintah tahun 361, penyembahan berhala kembali dihidupkan. Pada hal Julianus sendiri sudah dibaptis secara Kekristenan. Dia menghidupkan kembali penyembahan berhala ini karena keluarganya dibunuh oleh Kontantius. Julianus kemudian menggabungkan ajarannya dengan filosopi kebijaksanaan kontemporer seperti Neoplatonisme. Masa penyembahan berhala ini berkahir ketika Julianus meninggal dan digantikan oleh Valens (364-378). Pada tahun 380 dikeluarkanlah Deklarasi Theodosius (379-395) yang menekankan ke-Tritunggal-an Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Melalui deklarasi ini penyembahan berhala dikeluarkan dari negara. Pada tahun 341 Konstantinus melarang orang mempersembahkan korban kepada berhala dan jika dilanggar maka mereka akan dihukum dengan hukuman mati. Kemudian Theodosius pada tahun 391-392 melarang penyembahan berhala dan memberi hukuman bagi orang yang memasuki kuil.

III. Sejarah Internal Kekristenan Mula-Mula

Menurut Aland, untuk menyebutkan sejarah gereja kuno yang berusaha untuk menghadirkan dalam satu jalan perkembangan dari permulaan hingga akhir abad keempat harus pertama mengalamatkannya sendiri pada perkembangan eksternal, tetapi kemudian harus dengan segera menjelaskannya dengan mempertimbangkan perkembangan internal Kekristenan. Hal ini jelas dapat dilakukan hanya dengan gaya-gaya luas, sehingga segala sesuatu dapat disebutkan hanya secara insidental atau sebagai isyarat; tetapi kita akan memasukkan segala sesuatu untuk membangun sebuah gambaran yang tidak hanya dapat dimengerti dan satu lagi kita berharap juga dapat menjadi mengesankan, tetapi satu hal lagi yaitu sempurna. Inilah beberapa alasan menurut Aland.

1. Pudarnya Pengharapan pada Akhir Zaman

Jika kita berusaha untuk meringkaskan perkembangan internal Kekristenan di dalam abad mula-mula, kita menemukan sebuah hal yang menentukan di dalam parohan kedua abad kedua. Abad kedua bukan hanya titik batas, tetapi di sini ada juga keputusan bagi perkembangan gereja Kristen. Dapat dikatakan, apa yang datang sebelum akhir abad kedua dapat disebut masa “prasejarah” (prehistoric) Kekristenan. Hingga pertengahan abad kedua, dan juga kemudian, orang-orang Kristen tidak tinggal di dalam dan untuk masa kini, melainkan mereka tinggal di dalam dan untuk masa yang akan datang; dengan demikian masa yang akan datang berasal dari masa kini, sehingga masa yang akan datang dan masa kini menjadi satu – masa yang akan datang secara jelas berdiri di bawah tanda tentang kehadiran Tuhan. Inilah pengharapan yang pasti dari generasi pertama bahwa akhir dunia bukan hanya dekat, tetapi hal itu sudah sesungguhnya datang. Inilah keyakinan yang pasti bukan hanya bagi Paulus, tetapi bagi seluruh orang Kristen pada masa itu, yakni mereka sendiri mengekspresikannya dengan kembali kepada Tuhan. Dalam 1 Tesalonika 4, kita melihat bahwa gereja sudah terganggu oleh fakta bahwa beberapa orang Kristen mati sebelum masa akhir datang. Aland membahas tentang pergumulan orang Kristen mula-mula tentang Parusia baik dari laporan Paulus (1 Tes. 4:16-18), dan Yohanes tahun 96 (Why. 22:12) yang mengatakan bahwa Tuhan akan datang segera. Namun dalam kenyataan kedatangan Tuhan tidak seperti apa yang diberitakan oleh para rasul. Hal ini mengakibatkan memudarnya iman orang Kristen mula-mula.

2. Organisasi Gereja Katolik Mula-mula

Presupposisi-presupposisi

Menurut Aland, pengorganisasian gereja Katolik mula-mula dipercepat oleh krisis yang dialami Kekristenan pada masa itu. Itu tentu tidak berarti bahwa krisis-krisis itu merupakan sebagai penyebab nyata bagi formasi gereja Katolik mula-mula. Agaknya, melalui kemunduran perhatian secara eskatologi, sebuah perkembangan terjadi ketika berhadapan dengan krisis-krisis internal, dalam membentuk pengakuan iman. Hal ini mengambil bentuk pasti pada pertengahan abad kedua, tetapi embrio mereka mulai pada waktu mula-mula. Ketika beberapa sarjana PB berbicara tentang “Katolik mula-mula di dalam PB”, mereka secara pasti berkata itu benar. Tetapi di dalam pelaksanaan – mereka meninggalkan bahaya kesalahpahaman, sebab kekurangan mereka secara frekuensi adalah sebuah presentasi terpercaya tentang bagaimana gereja Katolik mula-mula eksis dekat pada abad kedua.

“Kitab Suci” di abad kedua

Menurut Aland, pada awalnya banyak sekali gerakan-gerakan yang mencoba untuk menyatakan bahwa merekalah yang paling benar. Orang Kristen seharusnya dapat membedakan secara jelas dan mudah Kekristenan dari Gnostisisme, Marsionisme, Montanisme, dan kelompok-kelompok yang lain yang selalu dengan tegas menuntut pada saat itu bahwa ajarannya yang benar. Hal pertama yang tak dapat diragukan harus ditentukan ialah apa yang benar – dan apa yang tidak – dalam menyatakan Kitab Suci. Gnostisisme dan Montanisme menawarkan secara jelas sesuatu yang positif di dalam perbandingan dengan apa yang dipertimbangkan gereja tentang Kitab Suci pada masa itu: apakah ramalan-ramalan Montanus dan nabi-nabi dan kitab-kitab mereka sendiri, atau injil-injil Gnostik dan tindakan-tindakan Para Rasul. Marsion, sebaliknya, menawarkan yang negatif: dia menghilangkan tiga Injil; dia menghilangkan pernyataan-penyataan penting Lukas dan bagian-bagian panjang surat-surat Paulus. Jadi, hal ini secara esensial untuk menegaskan kanon PB, untuk menentukan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan atau paling tidak untuk membangun kriteria yang pasti tentang apa yang dapat diterima di dalam kanon PB. Tanpa jalan lain kanon PB mencapai bentuk pada akhir abad kedua yang kita ketahui; hal ini tidak terjadi hingga abad keempat. Perdebatan mengenai Kitab Suci ini dijelaskan secara mendetail oleh Aland dengan memaparkan pendapat para ahli teologi dan literatur seperti 1 Klemens. Persoalan yang dibahas juga ialah mengenai keaslian dari Injil dan isi dari PB itu sendiri. Aland juga mengutip pendapat Luther yang mengatakan bahwa PB adalah “proklamasi Kristus” (“Christum treibt”). Pada akhirnya Aland mengakui bahwa akan selalu ada usaha gereja dan Kekristenan pada setiap saat untuk mengadakan suatu perubahan. Misalnya sebelum 1933 disebut “godless movement” (Gottlosenbewegung); dan setelah 1933 gerakannya berbeda disebut “The German-Christian movement” (Deutschglaube). Keaslian kanon Perjanjian Baru Menurut Aland, kesatuan kanon PB yang terdiri dari 27 buku itu pada awalnya tidak ditemukan pada gereja mula-mula. Kesatuan kanon PB ini baru mencapai tahap kesempurnaan pada akhir abad keempat. Dan untuk mencapai kesatuan kanon ini harus mencapai tujuh tahapan. Perkembangan tahap pertama ialah pada saat antara Paulus dan tulisan-tulisan tua Bapak-bapak Gereja pada permulaan abad kedua. Perkembangan tahap kedua dicirikan oleh tulisan-tulisan Bapak-bapak Gereja kemudian dan Justinus sekitar tahun 150. Sekitar tahun 150 berlangsung perkembangan tahap ketiga di mana kanon sudah mulai dibentuk. Empat Injil sudah disusun dan surat-surat Paulus diterima namun belum bisa dipergunakan. Sekitar tahun 200 perkembangan tahap keempat keempat Injil sudah lengkap dan surat-surat Paulus sudah bisa digunakan dalam ibadah. Perkembangan tahap kelima dimulai dari memasuki abad ketiga hingga permulaan abad keempat. Surat 1 Petrus, 1 Yohanes diterima sejajar dengan Injil dan surat-surat Paulus. 2 Petrus dan 2 dan 3 Yohanes, Yakobus dan Yudas diusahakan untuk diterima. Perkembangan tahap keenam mulai pada tahun 350 hingga permulaan abad kelima. Dalam tahap ini sebenarnya kanon PB sudah diterima oleh gereja-gereja, namun masih memperbincangkan pendapat Athanasius, Hieronimus dan Augustinus. Dan tahap ketujuh keduapuluh tujuh buku telah diterima oleh gereja-gereja kendati pun masih terus diperdebatkan. Tahap ketujuh ini terlihat dengan jelas ketika kita melihat gereja Yunani. Aturan Iman Jika kita mengikuti proses formasi kanon secara mendetail, kita dapat dengan keras menghindari anggapan bahwa abad kedua sungguh tidak membutuhkan sebuah kanon. Perkataan-perkataan ini paradoksal. Tetapi jika kita sekali membaca tulisan-tulisan pada masa itu di dalam konteks mereka, pengaruh ini hampir tidak bisa dihindari. Ketika kita lihat seruan akhir ilmu teologi yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menerima tulisan-tulisan yang dapat diperdebatkan ke dalam kanon, apa yang kita temukan adalah norma iman, aturan iman (the regula fidei, the regula veritas, the canon aletheias). Melawan aturan iman, regula fidei ini, semuanya telah diukur, termasuk tulisan-tulisan perkembangan PB. Apakah salah satu dari bilangan sirkulasi tulisan-tulisan di bawah nama rasul secara langsung dapat diterima oleh gereja adalah akhirnya diputuskan dengan apakah isinya disetujui dengan kanon ini, dengan regula fidei. Regula fidei berhubungan dengan Kitab Suci dan bertumbuh dari Kitab Suci dan diterima sebagai ringkasan iman yang dimiliki oleh gereja. Tradisi Rasuli dan Keuskupan Monarkial Menurut Aland, regula fidei adalah sangat penting di dalam gereja pada abad kedua untuk menentukan apakah sebuah organisasi baru gereja atau sebuah kelompok dapat disebut sebagai orang Kristen. Itulah cara untuk menunujukkan kepada keaslian kelompok tersebut. Sekali lagi presupposisi untuk hal ini adalah revisi kesadaran mengenai eskatologi. Ketika pengharapan pada masa akhir mulai memudar, umat mulai berpikir secara sejarah. Mereka mulai memperhatikan sejarah mereka sendiri. Mereka tidak hanya dapat merencanakan masa yang akan datang, tetapi untuk melihat mereka sendiri dan usia mereka sebagai kesinambungan masa lampau. Setiap gereja kembali memperhatikan tradisi rasul dan atau paling sedikit para pendahulu mereka misalnya dengan sejarah para pendiri gereja mereka mulai dari Kisah Para Rasul dan Surat-surat Paulus. Hal yang menarik juga ialah keuskupan monarkial yang begitu berbahaya, di mana jemaat menjadi milik pemimpin jemaat bukan sebuah komite. Komite tidak praktis, berbeda pendapat dengan yang lain.

3. Perkembangan Jabatan Imamat dan Struktur Hirarki

Aland berpendapat bahwa periode mula-mula tidak mengenal keuskupan secara monarkhial walaupun siginifikansinya memegang tuntutan-tuntutan yang penting. Ketika Paus Paulus VI dalam kata sambutannya pada Sidang Raya Gereja-Gereja Se-Dunia berkata, “Aku adalah Petrus”, pernyataan ini terutama adalah ungkapan simbolik dan tidak berhubungan dengan realita sejarah. Petrus meninggal di Roma, tetapi Petrus tidak pernah menjadi uskup di kota itu dan secara pasti bukan uskup secara monarkhial. Di abad pertama dan permulaan abad kedua, Gereja Roma dipimpin oleh sekelompok presbiter. Kita tidak bicara banyak tentang sebuah suksesi kerasulan, di mana Petrus meninggalkan jabatan keuskupan dengan lambaian tangan. Ide ini adalah hasil dari abad kedua ketika ide suksesi keuskupan yang tak dapat dielakkan dibangun dari konsep atau persyaratan dari tradisi keuskupan. Kita mengenal dua tipe jemaat yakni jemaat Paulus dan Kristen Yahudi non-Paulus. Sebagai pimpinan jemaat Paulus ialah rasul-rasul yang menjadi saksi hidup Yesus dan kebangkitanNya seperti Yakobus, Petrus dan Yohanes. Bagi jemaat Paulus, Paulus menjadi pemimpin spritual tetapi jemaat menjadi anggota tubuh Kristus dan otoritas yang nyata bagi mereka adalah Roh Kristus. Sehingga dalam jemaat Paulus kita temukan pelayan kharismatik rasul-rasul, nabi-nabi, dan guru-guru. Paulus hanyalah seorang rasul walaupun dia mengklaim dirinya sebagai pusat otoritas. Mengenai nabi-nabi tidak bisa didapat informasinya. Sedangkan guru-guru kita temukan dalam permulaan Kekristenan baik sebagai individu dan pengajar dalam sekolah katekisasi di Aleksandria. Didache adalah sebuah tata gereja yang ditulis sekitar tahun 100-200 yang di dalamnya akan terlihat bahwa telah terjadi penurunan pelayan kharismatik itu sendiri. Kemudian Aland menggambarkan perkembangan selanjutnya para pelayan kharismatik ini seperti presbiter, bishop dan diakon. Presbiteros mungkin pertama kali adalah gelar kehormatan bagi orang yang berbalik di dalam jemaat. Episkopoi (“bishop”) dan diakonoi (“diakon”) adalah tenaga pelayan suka rela bagi kehidupan jemaat. Namun perkembangan selanjutnya gereja mengalami kekurangan para pelayan. Tidak ada lagi para rasul, nabi-nabi dan guru-guru. Tidak ada lagi yang melayani Perjamuan Kudus. Maka timbullah masa transisi di mana ‘officeholder’ memegang peranan hingga ke ‘ficeholder’. Berdasarkan laporan 1 Klemens jemaat di Roma kemudian membuat tiga jabatan yaitu episkopos, presbiteros, dan diakonos. Namun tugas administrasi jemaat dipegang oleh officeholder. Perkembangan selanjutnya terlihat dalam surat Igantius antara tahun 110 dan 120 yang menampakkan kerajaan keuskupan di mana sebuah jemaat dipimpin oleh uskup dan officeholder hanya sebagai bawahan. Perkembangan selanjutnya adalah bahwa kerajaan keuskupan itu makin dipersempit lagi dengan adanya pemimpin provinsi gereja sehingga terbentuklah uskup Demetrius di Aleksandria sekitar tahun 200.

4. Tulisan-tulisan pada Periode Awal

Adalah tidak mungkin untuk berurusan dengan sejarah internal Keristenan mula-mula tanpa memasukkan tulisan-tulisan, yang adalah sumber-sumber eksklusif bagi penyataan-pernyataan mengenai abad pertama yang menjadi fundasi-fundasi gereja di abad kemudian. Untuk mengerti hal ini Aland membicarakan hubungan antara Timur dan Barat, para penulis di sekitar abad pertama serta perkembangan literatur itu sendiri. Hubungan Antara Timur dan Barat Menurut Aland, dalam penulisan PB itu sendiri ada yang menganggap bahwa itu ditulis di Barat, seperti Markus, Lukas, Kisah Para Rasul, Ibrani, dan 1Petrus yang lain di tulis di Timur. Baik Timur maupun Barat sama-sama memiliki tulisan-tulisan. Di Timur misalnya ada Acta Petri (Acts of Peter”) dan Acta Pauli (“Acts of Paul”), Epistula Apostolorum (“Epistle of the Apostles”). Orang Kristen di Barat juga membuat apokrif misalnya Stoic Seneca yang berhubungan dengan Paulus. Dari Timur muncul beberapa teolog misalnya Quadratus (sekitar 130) dari Asia Kecil, Aristides, dari Atena; Theophilus yang bekerja di Antiokia; Athenagoras juga dari Atena dan Melito dari Sardis. Begitu juga dari Barat misalnya Justinus dan atau juga Tatianus. Namun perlu juga diketahui bahwa pada abad ketiga teolog-teolog dari Barat ini berasal dari Timur misalnya Hippolytus. Kemudian sekitar tahun 180 Ireneus yang bekerja sebagai uskup Gaul diduga berasal dari Asia Kecil. Dengan demikian Aland benar-benar memaparkan bahwa hubungan antara Timur dan Barat tidak bisa dipisahkan dan saling berkaitan erat. Para Penulis Untuk menghempang dan melawan ajaran Gnostisisme, Marcion, dan Montanisme, menurut Aland setidaknya ada tiga nama yang membuat tulisan membantu gereja pada waktu itu yakni Tertullianus, Irenaeus, dan Hippolytus. Irenaeus menulis kira-kira tahun 180, Tertullianus kira-kira tahun 200, dan Hipplytus pada permulaan abad ketiga (meninggal mungkin 235). Ketiga orang inilah yang pertama pelawan-pelawan bidah. Perkembangan Literatur Gereja Mula-Mula Dalam bukunya ini Aland memaparkan perkembangan literatur gereja mula-mula dengan munculnya para apologet seperti Julianus, Origenes, Laktantius, Eusebius, Augustinus dan juga Tertullianus. Dan tulisan-tulisan apologet mereka itu akhirnya memunculkan rumusan dogma.

IV. Sejarah di Antara Umat

Dalam bagian ini Aland semakin menganalisis sejarah Kekristenan itu lebih khusus lagi yakni sejarah disekitar orang-orang Kristen itu sendiri. Bagian ini dimulai dengan melihat konflik yang terjadi pada awal periode, melihat keadaan Roma dan Asia Kecil, membahas pemikiran para apologet Kristen pada gereja mula-mula seperti: Origenes dan Demetrius, Hippolistus dan Kallistus, Cyprianus dan Stepanus, juga membahas tentang Roma dan Konstantinopel sebagai pusat Kekristenan mula-mula, serta membahas tentang perdebatan Arius dan Kaum Donatis.

1. Konflik pada Awal Periode

Konflik yang terjadi pada awal periode ini adalah mengenai Origenes. Origenes memperoleh kelengkapan ilmu teologi secara unik. Jika kita membaca presentasinya, yang disajikan Eusebius di dalam buku keenam dari sejarah gerejanya, kita akan secara mendalam penekanan bukan hanya dengan kesempurnaan ilmu teologi Origenes tetapi juga dengan kepribadiannya, imannya, dan karakter moralnya. Origenes, salah satu di antara umat pada masanya, punya modal cukup untuk menjadi Santo (orang suci). Namun demikian, gereja di negeri asalnya mengutuk dia selama hidupnya; dan gereja kembali memecat dia pada masa Justinus. Luther mengutuk Origenes dengan alasan teologis. Gereja pada masa Justinus tidak menghukum Origenes untuk alasan teologis, tetapi dengan alasan-alasan kekuasaan politik. Peristiwa ini bukan hanya terjadi sekitar tahun 230 di Aleksandria tetapi di daerah lain hingga permulaan abad ketiga namun juga yang terbesar pada permulaan Kekristenan itu sendiri.

2. Roma dan Asia Kecil

Asia Kecil adalah asal gereja pada periode mula-mula. Di sisi lain, gereja Roma juga sangat penting. Namun pada zaman Petrus dan Paulus bekerja Roma menjadi pusat gereja. Gereja Roma juga membantu gereja lain dalam kesulitan finansial sejak periode mula-mula seperti Korintus, Mesir, Kartage dan tempat-tempat lainnya. Menurut Aland yang perlu kita perhatikan adalah baik Roma maupun Asia Kecil pada abad kedua saling membangun opini sendiri menjadi pusat Kekristenan. Konflik pertama terjadi lebih awal, ketika Polikarpus mengunjungi Roma sekitar tahun 150. Selama kunjungan ini konflik terjadi atas perbedaan perayaan Paskah. Dan hal ini terulang kembali pada tahun 190.

3. Origenes dan Demetrius

Dalam buku ini Aland memaparkan perseteruan antara Origenes dengan Demetrius. Bishop Aleksandria sangat bergembira bahwa Origenes yang adalah direktur sekolah katekisasi dapat mengajar di Palestina karena pada tahun 216 uskup Kaisarea meminta dia mengajar di Yerusalem. Namun ketika Demetrius mempelajari pengajaran Origenes di Palestina, Demetrius menyurati uskup bahwa Origenes bukanlah imam oleh karena itu tidak memiliki kuasa untuk mengajar di gereja. Akhirnya tahun 230 Origenes ditahbis menjadi imam di Kaisarea sehingga dia telah berhak mengajar di gereja. Namun Demetrius bereaksi degan membuat surat ke synode Aleksandria dan synode orang Mesir. Synode Aleksandria memenuhi permintaan Demetrius sehingga Origenes dikeluarkan dari gereja Mesir, tetapi tidak mengeluarkannya dari jabatan penatua. Akhirnya Demetrius membuat surat ke synode nasional yang meminta agar Origenes dipecat dari direktur sekolah katekisasi dan mencabut tahbisan imamnya sebagai penatua. Alasan yang Demetrius berikan adalah tidak cukup untuk menjelaskan aksinya. Dia katakan bahwa Origenes tidak dapat memegang jabatan imam karena dia tidak mememnuhi tuntutan kesempurnaan tubuh seperti yang dirinci dalam Buku Imamat.

4. Hippolitus dan Kallistus

Dalam paparan ini Aland kembali menjelaskan perseteruan antara Hippolistus dan Kallistus. Seharusnya secara struktur sosial Hippolistuslah yang pantas menjadi uskup namun kenyatannya jemaat memilih Kallistus sebagai bishop di Roma. Gereja Roma sangat selektif dalam memilih Kallistus sebab menurut mereka dialah yang pantas dan yang dibutuhkan gereja untuk memimpin mereka kendatipun dia dulunya adalah seorang budak.

5. Cyprianus dan Stefanus

Pada bagian ini Aland menjelaskan beberapa perbedaan teologi dan pemikiran antara Cyprianus dan Stefanus. Aland juga menuliskan bahwa terjadi skisma gereja antara Kornelius di Roma dan Cyprianus di Kartago. Seorang uskup menghukum orang yang berdosa dan seorang lagi mengampuni mereka. Ketegangan ini akhirnya tidak berakhir. Permusuhan ini terus berlangsung kepada pengganti Kornelius yaitu Stefanus yang membahas keabsahan baptisan yang dilakukan oleh para bidah. Cyprianus menjawab bahwa orang yang berbalik seharusnya dibaptis. Dengan demikian benarlah apa yang dikatakan: Extra ecclesiam nulla salus (Di luar gereja tidak ada keselamatan), sehingga sakramen di luar gereja tidak sah. Namun Stefanus tidak menyetujui hal ini dan bahkan dia menyatakan bahwa baptisan tidak harus diulang bagi setiap orang yang kembali dari perpecahan gereja.

6. Roma dan Konstantinopel

Dalam bagian ini Aland membicarakan pusat gereja. Di antaranya adalah sebuah periode selama pusat kekaisaran dipindahkan ke Timur, sehingga Romawi dan Barat nampaknya diabaikan. Di bawah orang Diokletia, kekaisaran telah diperintah dari Timur. Ketika Konstantin mendirikan pusat ibu kota baru Konstantinopel di Timur, hal ini sangat keras membangun sebuah persaingan secara politik dengan ibu kota lama, Roma. Untuk alasan ini, beberapa orang merasa bahwa posisi Roma di dalam gereja lemah selama masa Konstantin.

7. Perdebatan menyangkut Arius dan Kaum Donatis

Aland juga mencatat bagaimana perdebatan antara Arius dan kaum Donatis. Jika kita sederhanakan, kita dapat katakan bahwa perdebatan Arius disebabkan hanya pemisahan diri Arius sendiri dari partai radikal dan pergi ke gereja besar. Ketika dia bergabung dengan partai Melitius, Arius membuktikan bahwa dialah yang memiliki iman yang benar. Dan ketika dia kembali ke gereja besar dia memulai teologi yang radikal. Sejak itu mulailah terjadi perlawanan kepada Arius. Sementara bagi kaum Donatis perdebatan terjadi dari faktor non teologis. Misalnya Uskup Mensurius di Kartago memiliki seorang musuh yakni seorang wanita kaya dalam jemaatnya yang bernama Lucilla. Sebelum menerima Perjamuan Kudus, dia suka mencium patung orang martir.

V. Masa Konstantinus dan Akhir Sejarah Kekristenan Mula-Mula

Bagian ini adalah paling terakhir dalam pembahasan permulaan Kekristenan menurut Aland. Di sini kita akan melihat bagaimana sikap dan reaksi kaisar Konstantinus terhadap Kekristenan. Dan akan kita lihat juga uraian yang cukup mendalam tentang Monastisisme. Kemudian Aland juga kembali membahas perdebatan pengikut Arius tentang Kristologi. Dan pada bagian terakhir akan diuraikan tentang organisasi dan perpisahan gereja serta perseteruan pengikut Augustinus dan Pelagius.

1. Kaisar Konstantinus dan Kekristenan (Hubungan Gereja dan Negara)

Tindakan Konstantinus di dalam pertikaian mengenai orang Donatis dan Arius secara jelas menunjukkan bagaimana kekaisaran berpartisipasi bukan hanya secara luarnya saja, melainkan secara langsung di dalam kejadian-kejadian di dalam gereja Kristen. Kendatipun secara enggan, dia setuju pada permintaan orang Donatis, pertama satu synode bishop, kemudian kedua yang berhubungan dengan keputusan kekaisaran. Di dalam konteks ini, dia membuat deklarasi yang mutlak: “Mereka bermohon kepada penghakimanku, tetapi saya menunggu penghakiman Kristus”. Kalimat ini tidak seharusnya ditafsirkan seolah-olah Konstantinus berbicara tentang penghakiman Kristus atas dirinya sendiri. Lebih jauh ia bermaksud – ini adalah jalan ringan yang menyisihkannya, tetapi hal ini masih terus berlangsung cukup jauh – bahwa dia mengharapkan penghakiman Kristus tentang perselisihan yang berasal dari pertemuan synode. Kristus akan berbicara melalui synode ini; Konstantin akan menghakimi berdasarkan keputusannya. Dia pertama berusaha membimbing perlawanan orang Arius dengan bujuk rayu, dengan mengirim surat kepada yang termasuk di dalamnya, dan akhirnya dengan pertemuan Konsili Nicea tahun 325. Kekaisaran berpartisipasi secara pribadi. Tidak hanya menampakkan diri dalam sidang namun berpartisipasi dengan sengaja dan memasukkan otoritasnya dalam penerimaan pengakuan konsili. Pengakuan yang diputuskan adalah homoousios – deklarasi bahwa Bapa dan Anak adalah sama. Dari semua penjelasan Aland ini dapat disimpulkan bahwa peranan Konstantin sangat besar bagi kehidupan orang Kristen pada saat itu, kendati ada tantangan dari Eusebius yang mempertanyakan keaslian Vita Constantini (“Kehidupan Konstantin”). Eusebius mengatakan bahwa Vita Constantini adalah palsu.

2. Monastisisme

Dalam membahas Monastisisme ini Aland mengutip buku bacaan tentang Vita Antonii (“Kehidupan Anthonius”). Dalam buku ini terlihat gambaran kehidupan Anthonius sahabat Athanasius. Di dalamnya dijelaskan: pertama, para eremit tinggal dekat desa-desa kecil. Tetapi bagi Anthonius hal itu belum cukup; dia pergi jauh dan jauh dari masyarakat sebab dia lebih suka tidak memiliki sesuatu untuk melakukan bersama mereka. Petapa percaya bahwa dia mampu tinggal hidup benar hanya jika dia bebas dari setiap orang dan segala hal. Kemudian kita dapat katakan, petapa dapat berbahagia atas siapa saja yang tidak mengunjunginya. Petapa percaya pada dunia dan menjauhkan mereka dari kenyataannya, kehidupan spiritual. Lebih dalam lagi ke dalam padang gurun pelarian para emigran, oleh karena itu, semakin banyak menjadi mempraktikkan askese mereka, hingga kita melihat konsekuensi akhir di dalam patung orang-orang suci pada abad kelima. Di dalam patung ini ditemukan sebuah podium hanya beberapa yard kuadrat ukurannya. Di sini para asket menghabiskan hidup mereka memuja Allah. Hal yang mengherankan adalah bahwa fenomena ini tidak tampak pada kekristenan pada waktu itu. Agaknya, para asket ini, mulai dari para eremit ke patung para orang suci, tidak lain merupakan objek kemajuan bagi kehidupan orang-orang Krsiten di dunia pada waktu itu. Orang-orang Kristen dan gereja memandang kehidupan eremitik sebagai perbuatan yang seolah mengalami sendiri pada yang mana mereka menakjubkan, tetapi yang juga mengijinkan mereka puas dengan mereka sendiri dan kemudian mulai lagi kehidupan normal mereka. Kekuatan Monastisisme pada saat itu adalah ekspresi kekuasaan kekuatan yang diakibatkan luka perasaan pada gereja yang secara bertahap pada mulanya untuk menghilangkan kekerasan aslinya.

3. Pengikut Arius dan Perdebatan Kristologi

Untuk membahas perdebatan ini lebih dalam Aland menyinggung beberapa pendahuluan yang melatar belakangi perdebatan itu kemudian membahas tentang perdebatan tentang ke-Tuhan-an Kristus dan perdebatan tentang kemanusiaan Kristus. Catatan Pendahuluan Sebagaimana pertimbangan Arian dan perdebatan-perdebatan Kristologi, beberapa kata-kata pendahuluan yang bisa kita catat menurut Aland adalah: pertama adalah langsung kepada dari siapa perdebatan-perdebatan ini sering menjadi isu aktual kehidupan gereja pada abad keempat dan kelima. Orang Arian dan perdebatan-perdebatan Kristologi sering didiskusikan sehingga membuat ini kelihatan bahwa tak ada sesuatu yang sedang terjadi kemudian, sementara kebenaran adalah bahwa di sisi lain argumen-argumen ini kehidupan gereja berlangsung di dalam keseluruhannya – ibadah, doa, penafsiran Alkitab, dan khotbah – dan tulisan-tulisan teologi pada saat itu tidak begitu dicurahkan oleh mereka sendiri secara khusus tema ini, serta ketika dialamatkan kepada orang Arian atau perdebatan Kristologi. Kedua: ada selalu bahaya tentang pandangan perdebatan-perdebatan ini di dalam kesalahan ringan ketika orang, unsur seluruh-terlalu-manusia (all-too-human) ditempatkan begitu banyak di bagian depan. Ketiga: orang yang memandang Arian dan perdebatan-perdebatan Kristologi seolah-olah mereka hanya berjanji dengan defenisi-defenisi teologi akan juga gagal untuk mengerti perseteruan ini. Keempat: Di dalam buku-buku sejarah gereja, perdebatan Arian biasanya dimulai pada abad keempat. Hal ini tidak benar. Konflik ini dimulai agaknya pada abad kedua, pada saat ketika umat tidak begitu lama mampu melakukan pernyataan PB tentang Trinitas. Kelima: perdebatan Arian menerangkan defenisi Trinitas. Perdebatan tentang ke-ilahi-an Kristus (Perdebatan Arian) Aland mengupas perdebatan ini dengan melihat perdebatan Monarkianistik di dalam PB dan Bapa-bapa gereja. Pernyataan Monarkianisme berusaha menjaga monoteisme. Allah adalah satu – sebuah prinsip dasar yang tidak dapat dikompromikan. Namun kesimpulan pada abad kedua adalah Kristologi Logos di mana Kristus digambarkan sebagai Logos yang berasal dari Allah. Kristologi Logos mengatasi Monarkianisme di kalangan teolog-teolog dan pelayan gereja dan bukan pada kaum awamnya. Aland juga memaparkan tentang Athanasius yang merupakan orang yang selalu bermusuhan dengan Arius. Athanasius banyak menulis tulisan yang melawan kelompok Arius. Dari beberapa tulisan itu, Aland menyimpulkan bahwa Athanasius adalah orang yang sungguh tertarik dengan ajaran bahwa Kristus sehakikat dan sama kuasanya dengan Allah. Bahkan Athanasius adalah dianggap pembela homoousios yang diakui pada Konsili Nicea 325. Banyak perdebatan juga tentang homoousios. Beberapa ahli mengatakan bahwa homoousios Nicea berasal dari Uskup Hosios dari Kordoba, bukan dari Konstantin. Aland berpendapat bahwa Hosios menghabiskan waktunya di penjara kekaisaran dan merupakan penasihat episkopal Konstantin tentang masalah teologi dan gereja namun dalam Konsili Nicea, pengaruh Hosios tidak kelihatan dalam pikiran Konstantin. Pandangan homoousios sendiri sebenarnya sudah dikenal pada parohan kedua abad ketiga yang menganggap homoousios sebagai standar kekudusan jemaat, dan standar orang Kristen awam di Mesir. Bahkan sebenarnya Tertullianus telah mempergunakan kata itu untuk mengungkapkan ide, bahwa Bapa dan Anak itu berasal dari satu substansi. Semasa Konstantin pemahaman homoousios dan Trinitas telah diterima sebagai rumusan teologi yang dianut umat. Namun setelah Konstantin meninggal, perdebatan ini mulai timbul kembali. Perdebatan “ousia” dan “hypostatis” menjadi topik yang hangat diperdebatkan. Perdebatan ini akhirnya diputuskan pada tahun 381 di mana homoousios bukan diartikan sebagai “of identical essence – esensi yang identik” (wesenidentisch) atau “of the same essence – esensi yang sama” (weseneins) melainkan diartikan sebagai “of one essence – satu esensi” (eines Wesens). Perdebatan mengenai Roh Kudus belum dapat diselesaikan hingga akhir periode perdebatan Arius. Perdebatan tentang ke-Manusia-an Kristus (Perdebatan Kristologis) Menurut Aland, ke-ilahi-an Kristus sudah dapat diterima dan dimengerti, namun mengenai kemanusiaan Kristus masih terus diperdebatkan. Kaum Monofisit (mia physis = satu tabiat) menekankan kemanusiaan dan ke-Tuhan-an telah bersatu di dalam Yesus. Manusia Yesus tercakup di dalam Kristus Allah. Kelompok Arian, Monarkianisme dan Monofisitisme terus mempersoalkan ke-ilahi-an Kristus. Di kalangan Arian sendiri mereka juga belum sepaham. Ada yang berpendapat bahwa kesatuan ke-Allah-an dan ke-Manusia-an hanya dalam penebusan-Nya tetapi mereka menemukan kesulitan ketika menggambarkan dua hakikat yang disatukan dalam seorang pribadi. Yang lain beranggapan bagaimana mungkin dua hakikat bersatu bersama di dalam satu pribadi? Namun ada bahaya yang harus dijaga dari pihak Doketisme yang mengatakan kemanusiaan Yesus yang berpura-pura. Tertullianus sendiri telah memberikan pemahamannya tentang unitas substantiae – kesatuan substansi dan coniunctio duarum personarum – kesatuan dua pribadi di dalam satu substansi. Pendapat Tertullianus ini akhirnya diterima dalam Kosili Kalsedon 451 dengan sebuah rumusan yakni: Videmus duplicem statum, non confusum, sed coniuntum – Kita lihat status rangkap dua, tidak bercampur, melainkan bergabung. Namun pendapat ini mendapat kritikan dari kelompok Apollinaris dari Laodekia yang mengatakan: “Tidak mungkin Kristus manusia sempurna, sebab manusia memiliki dosa, dan Kristus tidak berdosa. Kritikan dari Nestorius tahun 428 ialah tentang kedudukan Maria sebagai Bunda Allah (theotokos) atau Bunda Yesus (anthropotokos). Menurut Nestorius, “Bagaimana mungkin manusia Maria melahirkan Allah?” Manusia hanya bisa melahirkan manusia dan manusia tidak bisa melahirkan Allah. Kemudian pernyataan Cyrilius yang dibesar-besarkan oleh Eustathius (Eutyches) mengatakan: “Sebelum penyatuan dua habitat, saya mengenal dua habitat, tetapi setelah penyatuan hanya satu. Daging Tuhan tidak sama dengan tubuh kita.” Akhirnya pada “Sinode Perampok” di Ephesus 449, Eustathius dan Diodorus (Dioscurus) dipecat karena Diodorus memaksa agar monofisitisme dari Eustathius diakui sebagai ajaran ortodoks. Konsili keempat oikumenis di Kalsedon tahun 451 mencapai suatu keputusan kompromi dengan bunyi: Kristus bukan bertabiat satu dan bukan bertabiat dua, melainkan Ia “bertabiat dua dalam satu oknum”. Dalam Konsili Kalsedon ini, pertikaian diakhiri walaupun pemimpin gereja Timur menolak menandatangani keputusan ini. Setelah beberapa tahun mereka mencoba untuk memenangkan Monofisit ini namun gagal, akhirnya mereka meninggalkan gereja.

4. Pengorganisasian Gereja yang terpisah; Pertikaian Agustinus dan Pelagius

Monofisit berpisah dari gereja dan membentuk gereja sendiri seperti Gereja Koptik di Mesir dan Gereja Yakobit di Siria. Kendati pun demikian di gereja Timur itu sendiri terjadi perdebatan. Di bawah Justinus, hubungan gereja dan negara dicirikan dengan gereja dan negara digabungkan begitu dekat bahkan nampaknya sudah difusikan menjadi satu. Dalam pemisahan organisasi gereja ini Aland membahas tentang “Kekristenan kelas dua”. Pertama, ekspresi “Kekristenan kelas dua” itu sudah terlalu, dan kedua, Kekristenan seperti itu bukan hanya di Timur di mana kita menemukan apa yang disebut kemenangan “Kekristenan kelas dua”; itu juga terdapat di Barat. Pada abad kelima dan bahkan abad kemudian, Barat masih berpartisipasi aktif di dalam argumentasi teologi di Timur. Secara sederhana Augustinus mengatakan perbedaan keduanya adalah: Di Timur kita temukan teologi spekulatif (“theologia speculativa”), dan di Barat kita temukan teologi praktika (“theologia practica”). Dalam perlawanannya dengan ajaran Pelagius, Augustinus melahirkan pandangan teologinya tentang kehendak bebas, dosa turunan dan rahmat. Bahkan dia telah menuliskan ajarannya dalam buku 8 dari Konfesinya. Sementara Pelagius dan Coelestinus melawan ajaran Augustinus dan membuat keributan di Kartago. Pertikaian ini disampaikan kepada uskup Innocentius I namun tidak dapat diselesaikan, dan pada masa penggantinya Zosimus masalah ini dibicarakan lagi dan Zosimus lebih cenderung kepada Pelagianisme. Zosimus mengatakan bahwa Afrika Utara telah berbuat salah. Akhirnya, pada abad keenam, di bawah Paus Gregorius (590-604) perseteruan ini diakhiri. Ajaran Gregorius berdiri atas nama dan perlindungan Augustinus. Dengan demikian Augustinus memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya. Sehingga sejak saat itu gereja menerima ajaran Augustinus.

3. KEKRISTENAN ABAD PERTENGAHAN

Untuk melihat Kekristenan Abad Pertengahan, Aland membahas berdasarkan pembagian waktu atau juga wilayah misalnya Kekristenan Jerman Abad Petengahan , Kekristenan Katolik Abad Pertengahan , kemudian kesimpulan masa Abad Pertengahan Katolik dan Perkembangan hingga ke Ambang Pintu Reformasi .

I. Kekristenan Germanik Abad Pertengahan

Menurut Aland, pada abad ketujuh, Eropa Barat telah berada dalam kekuasaan suku-suku German. Perpindahan suku-suku German dijelaskan secara mendetail misalnya suku Visigoth di bawah Alarik pindah ke Italia untuk pertama kali tahun 401. Kemudian tahun 405 invasi suku-suku Jerman diulangi lagi dengan suku Ostrogoth, dan suku-suku lainnya. Untuk memahami Kekristenan Germanik Abad Pertengahan ini, Aland memulainya dengan Kekristenan di Jerman pada saat Perpindahan penduduk , Kekristenan di Frank , Skot-Iris dan Anglo-Saxon , Bonifatius dan Pembaharuan Gereja Frank , Masa Karolingian .

1. Kekristenan Kalangan suku-suku German pada saat Perpindahan penduduk

Untuk menelusuri Kekristenan di kalangan suku-suku German pada saat perpindahan penduduk ini, menurut Aland, kita harus melihat mengapa suku-suku German bertobat dan beralih kepada Kekristenan. Seluruh penduduk German sudah Kristen, kecuali suku Lombard yang masih militan dengan penyembahan berhala hingga permulaan abad ketujuh. Bagaimana Kekristenan datang ke suku-suku German dan apa motif-motif yang membuat mereka menerima Kekristenan? Aland menjelaskan bahwa awal masuknya Kekristenan ke German bermula dari orang-orang German yang dipenjarakan di Kekaisaran Roma. Sehingga ketika di dalam penjara dimungkinkan orang Jerman yang terpenjara itu dipaksa menerima Kekristenan. Misalnya di daerah Danube ada cerita tentang Ulfilas. Kakek dan neneknya di penjara perang yang ditangkap sebagai budak oleh orang Goth dalam sebuah kampanye di Kapadokia. Kakek, neneknya sudah Kristen. Putri mereka menikah dengan orang Goth, putri mereka itu adalah seorang Kristen sebab Ulfilas dibaptiskan pada saat anak-anak. Dia inilah bekas orang penjara Kekaisaran Roma yang menjadi Kristen, dan membawa Kekristenan ke German. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang German pertama adalah orang orang dari suku Goth. Dan akhirnya banyak orang yang menjadi Kristen seperti Visigoth di German. Perpindahan agama ini membangkitkan amarah dari pihak paganisme German. Ulfilas dan orang Kristen Gotik harus meninggalkan daerah suku-suku German mengungsi ke daerah Roma di mana orang Kristen berada. Penganiayaan yang dilakukan Atanarik (369) semakin membuat banyak suku-suku German berbalik kepada agama Kristen yang dipimpin oleh Fritigern (376). Hal yang kedua yang dilihat Aland dalam Kekristenan di German adalah iman penyembah berhala orang German. Dalam ulasannya ini memang tidak begitu dipaparkannya iman penyembah berhala itu di daerah German. Namun yang jelas Kekristenan itu datang ke German bukan dengan paksaan melainkan dengan bujukan damai. Dari kesaksian Augustinus misalnya kita mengetahui bahwa Ostrogoth masih penyembah berhala ketika mereka menyerang Italia untuk pertama kali tahun 405 di bawah Radagaisus. Namun tahun 488, ketika mereka memasuki Italia kembali di bawah Theodorius, mereka adalah pengikut Kristen Arian. Aland menjelaskan bahwa iman penyembah berhala tidak begitu bertahan lagi ketika Kekristenan masuk ke daerah German. Hal yang ketiga yang perlu diperhatikan dalam bagian ini adalah motif-motif pertobatan orang Jerman kepada Kekristenan. Aland mengemukakan beberapa motif yang membuat orang German menjadi Kristen. Pertama karena kesamaan budaya dan sejarah di kalangan suku yang menerima Kekristenan. Misalnya Ulfilas dari suku Visigoth akhirnya bisa membawa sukunya menjadi pengikut Kristen Arian karena kemampuannya untuk membahasakan secara langsung ajaran itu dalam budaya dan sejarah mereka. Kedua, motif politik. Hal ini mungkin ketika kita melihat sejarah Kekristenan di antara suku Visigoth. Athanarik dan Fritigern berada dalam posisi yang berlawanan. Athanarik dari iman penyembah berhala sementara Fritigern dari Kekristenan. Fritigern mencoba membujuk orang Visigoth menjadi Kristen agar dia dipandang di Kekaisaran Roma. Pemerintah Roma juga memberikan perlindungan kepada orang German yang sudah Kristen dan memberikan bantuan kepada mereka sementara penyembah berhala dibiarkan hancur. Ketiga, ada juga motif keagamaan. Bangsa German secara sadar dapat menerima Kekristenan. Misalnya ketika kerajaan Vandal dihancurkan, Gelimer raja terakhir dibawa sebagai tawanan ke Byzantium dan mereka membujuknya agar menerima Kekristenan. Artinya ada usaha untuk mengajak Gelimer menjadi Kristen dari sudut keagamaan. Hal yang terakhir yang diperhatikan dalam Kekristenan di German adalah struktur internal gereja-gereja Jerman. Struktur dan pola hidup suku-suku German berbeda sekali dengan penduduk Roma. Monastikisme banyak mengambil peranan dalam aturan German di mana para pendeta secara umum menikah. Memang Aland akui bahwa agak sulit menentukan yang mana organisasi gereja yang disebut gereja nasional kendatipun penganut Arian sangat banyak di German. German sendiri tidak berusaha menyatukan gereja di bawa ke suku-suku yang beraneka ragam itu untuk semakin dekat dan bersatu. Mereka membatasi diri mereka pada daerah kesukuan yang walaupun gereja-gereja di suku-suku yang berbeda itu dihubungkan dengan organisasi dan doktrin yang sama. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa gereja-gereja di German memiliki aturan sendiri-sendiri di dalam suku mereka masing-masing.

2. Kekristenan di Frank

Ada keunikan Kekristenan suku Frank ini, karena seluruh suku-suku German pada umumnya menganut Kekristenan Arianisme sementara mereka menganut faham Katolik. Kekristenan di Frank ini bermula dari pertobatan anak Childerik, Klovis menjadi Kristen Katolik. Pertobatan ini bagi sebagian kalangan sejarawan dan sejarawan gereja dianggap sebuah pertobatan dengan motif politik. Pernyataan ini menurut Aland tidak benar. Alasannya karena Klovis tidak memilih Kristen Arian. Padahal saudara perempuannya sendiri menikah dengan Theodorius seorang Arian. Dan Klovis sendiri selalu bermusuhan dengan Theodorius, misalnya ketika Klovis berhasil menginjili orang Jerman (Alemanni) dan Burgundia, Theodorius memblok sumber dana. Dan ketika Klovis berjuang melawan Visigoth, Theodorius mengirimkan tentara melawan Frank dan Burgundia. Ayahnya sendiri, Childerik menjalin hubungan yang baik dengan kekaisaran Roma dan juga dipengaruhi budaya Roma. Pertobatannya sangat dipengaruhi oleh istrinya, Clotilda. Klovis menerima Katolikisme sebagai bentuk Kekristenan yang dia yakini bukan karena perhitungan politik. Selanjutnya Aland membahas perkembangan aturan Frank setelah Klovis. Ekspansi kerajaan Frank setelah kematian Klovis tidak mengarah ke selatan atau barat tetapi ke arah timur. Anak Klovis menundukkan sisa-sisa suku-suku Burgundia, Thuringia, dan Jerman di daerah yang belum selesai diinjili ayahnya karena berkonsentrasi melawan Theodorius. Cucu Klovis, Theodebert, mengembangkan ke arah Italia. Perpindahan Theodebert ke Italia ini disebabkan karena masih persaingan/pertarungan di antara Ostrogoth dan Byzantium. Dan terakhir dalam bagian ini Aland melihat Gereja di dalam Kerajaan Frank setelah Klovis. Gereja Katolik di Kerajaan Frank berkembang menjadi bentuk gereja nasional. Rajanya disebut uskup, dipilih secara langsung dan dia memerintah atas umat. Memang kelemahan sistem ada, yaitu mengenai moral dari kerajaan Frank ini akhirnya rendah. Sistem seperti ini akan banyak menimbulkan masalah, baik di kalangan pelayan tahbisan dengan umat. Gereja tidak menjadi mandiri artinya tidak terlihat lagi pemisahan antara gereja dengan kerajaan.

3. Skot-Iris dan Anglo-Saxon

Menurut Aland, untuk melihat perkembangan gereja Skot-Iris ini pertama kita harus melihat Gereja Skot-Iris itu sendiri. Kekristenan ke Irlandia di bawa oleh Patrick yang hidup pada parohan pertama abad kelima. Pada permulaannya gereja di Irlandia ini sangat tertutup dengan dunia luar karena letak geografisnya yang dikelilingi lautan. Namun ada kekhususan Kekristenan di daerah ini, yakni sistem organisasi pelayanan bukan sistem keuskupan atau episkopal melainkan sistem kebiarawan yang menekankan kesalehan para rahib. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gereja di Irlandia didominasi oleh rahib-rahib gereja dan gereja biarawan yang saleh. Dengan sistem ini, gereja Irlandia memperluas penginjilan mereka ke daerah Skotlandia. Di Skotlandia, Columba mendirikan biara baru yakni di pulau Iona yang terkenal dengan ibu para biarawan. Dari tempat ini akhirnya semakin berkembang ke daerah pulau Orkney, pulau Shetland, Islandia dan akhirnya ke benua Eropa. Pulau Iona dan Luxeuil di pegunungan Vosges akhirnya menjadi pusat pendidikan dan pengutusan biarawan Skot-Iris di daerah Frank. Berbeda dengan Columbanus bersama dua belas sahabatnya yang melawan kepala biara dan memulai misi baru. Gerakan ini membawa sebuah pembaharuan di gereja Frank. Gereja harus menampakkan iman yang tangguh di dalam negara dan dunia ini. Uskup harus lebih menjadi seorang serdadu daripada gembala untuk melawan musuh-musuh internal di kalangan masyarakat kalangan atas. Columbanus dan saudaranya mendapat pengaruh yang luar biasa bahkan mereka membentuk gereja baru di dalam gereja Frank yang akhirnya memicu konflik gereja. Columbanus akhirnya dipenjarakan dan melarikan diri dari sana dan meninggalkan kerajaan Frank pergi ke Gregenz di Daau Constance dan meninggal pada tahun 615. Kedua adalah pertobatan Anglo-Saxon. Pada permulaannya masyarakat Anglo-Saxon adalah penyembah berhala. Pada tahun 596 seklompok rahib mendarat di bagian selatan Inggris. Setelah setahun, pemimpin rahib Augustinus melaporkan ke Roma bahwa pertobatan pertama Anglo-Saxon terjadi di Kent. Misi di Anglo-Saxon ini merupakan keputusan pribadi Paus Gregorius (590-604). Memang ada sebuah legenda tentang Kekristenan di Anglo-Saxon ini. Dari legenda itu terlihat bahwa Paus sangat memberikan perhatian yang mendalam bagi Anglo-Saxon sehingga dia membekali mereka dengan pendidikan katekisasi dan membaptiskannya dan menyuruh mereka kembali ke daerah mereka masing-masing yang dipimpin oleh Augustinus. Namun ada cerita lain yang mengatakan bahwa raja Kent telah menikah dengan seorang Kristen dari putri Frank sehingga dengan pernikahan ini maka Kent masuk menjadi Kristen. Namun yang jelas menurut Aland bahwa Kekristenan di Anglo-Saxon ini sangat erat kaitannya dengan misi Gregorius dari Roma. Lebih jauh Aland mengatakan setidaknya ada beberapa masa Kekristenan di Jerman yang dicirikan dengan pertama Ulfilas – dengan berdirinya gereja nasional Arian di Eropa, kedua dengan pertobatan Klovis ke Katolik – dengan berdirinya gereja nasional Frank, ketiga ditandai dengan kegiatan Skot-Iris – yang menekankan gereja biara, dan keempat Kekristenan Anglo-Saxon – di mana gereja Katolik diorientasikan ke Roma. Dan ketiga, permulaan misi Anglo-Saxon di benua Eropa di bawah Wilfrid dan Willibrord. Pelayanan Wilfrid sangatlah penting di gereja Inggris, walaupun dia kurang dikenal oleh gerejanya sendiri. Dia adalah uskup York. Ketika dalam perjalanannya ke Roma dia singgah di Frisia. Di sana dia sangat mengenal situasi Kekristenan di sana dan membuat langkah untuk menguatkan keberadaan jemaat dan pengembangan ke depan Kekristenan di sana. Dan tugas ini dilanjutkan oleh Willibrord, murid Wilfrid yang bertumbuh dan belajar di dalam biara di bawah bimbingan Wilfrid. Willibrord meninggalkan Inggris ke Irlandia mungkin berkaitan dengan kesulitan pengalaman yang dihadapi Wilfrid. Di Irlandia, dia mendengar kunjungan Wilfrid ke Frisia yang sangat membutuhkan pelayanan di sana dan dia memiliki keinginan untuk melanjutkan pelayanan itu. Keinginan Willibrord itu mendapat sambutan dari Pepin kemudian Willibrord meminta persetujuan negara ke Roma. Tetapi ketika ia kembali dari Roma, dia mempelajari bahwa sahabat-sahabatnya telah bekerja di pabrik. Kemudian kali kedua dia pergi lagi ke Roma atas petunjuk Pepin. Pepin berkeinginan agar Willibrord menjadi uskup kepala sehingga dia dapat memainkan peranan yang lebih hebat dalam penginjilannya dan membuat perkembangan bagi gereja Frank. Dan memang setelah kembali dari Roma Willibrord menjadi uskup kepala di Clement. Kemudian Willibrord dapat membangun kembali apa yang telah hancur dan membangun sesuatu yang baru mengembangkan Kekristenan, membuka biara di Thuringia di sekitar Gotha, Meimar dan di benteng Hamelburg di Saale.

4. Bonifatius dan Pembaharuan Gereja Frankish

Dalam membahas bagian ini Aland pertama melihat hidup dan kerja Wynfrith (= Bonifatius). Kita tidak banyak mengetahui kehidupan Wynfrith. Dia lahir sekitar 675 dari keturunan Saxon. Semasa kecil, dia tertarik menjadi biarawan. Dia seorang yang sangat cerdas yang menjadikannya seorang guru pada sekolah biara dan ditahbiskan menjadi seorang rahib. Namun dia meninggalkan Inggris dan menjadi seorang misionaris dan bekerja di Eropa Kontinen. Sebenarnya dia memiliki karir yang baik di gereja, namun semuanya itu dia tinggalkan demi menyebarkan Injil di tengah penyembah berhala. Tahun 716 dia memulai perjalanan pertamanya ke Frisia. Namun perjalanan ini sangat singkat dan menghasilkan sedikit tuaian, sebab penyembah berhala di Frisia telah dikuasai oleh tangan yang membingungkan setelah kematian Pepin. Sehingga Wynfrith kembali ke biara. Tetapi kegagalan ini tidak memadamkan semangat Wynfrith untuk melakukan tugas utamanya. Perhatian utamanya bukan lagi Frisia namun lebih mengarah ke daerah timur Jerman secara khusus ke Roma. Tugas misi ini diperolehnya dari Paus Gregorius II. Wynfrith mendapat nama baru yakni Bonifatius (Boniface = pekerja yang baik). Perjalanan pertama Bonifatius adalah ke Thuringia, kemudian ke Frisia (719) setelah kematian Radbod dan dia menolak pergi ke daerah Sungai Lahn dan Hesse. Bonifatius merekomendasikan agar Karel (Charles) Martel melanjutkan tugas misi itu di daerah Hesse. Dia juga pergi ke daerah Oak Thor dekat Geismar. Dari penginjilan ini dapat dikatakan bahwa Kekristenan di daerah itu telah mengakar kuat. Hubungan Karel Martel dengan Bonifatius sangat bagus dengan mendukung segala penginjilan yang dilakukan Bonifatius. Bahkan anak Karel Martel sendiri Carloman memilih menjadi biarawan dengan meninggalkan kekuasaannya demi keselamatan jiwanya. Bonafatius mengakhiri hidupnya di antara orang Frisia di mana dia memulai pelayanannya dan meninggal dunia pada tanggal 5 Juni 754 yang dibunuh oleh orang penyembah berhala. Kalimat terakhir yang dikatakannya adalah: Kuatlah di dalam Roh Kudus dan jangan takut. Kedua adalah permulaan hubungan antara Kepausan dan kerajaan Frank. Agaknya mula-mula pangeran Frank berkali-kali mengembangkan hubungan dengan Roma, misalnya: mengirimkan Willibrord ke Roma oleh Pepin untuk konsentrasi uskup kepala. Di bagian lain, paus menjalin hubungan dengan pemerintah Frank melalui bantuan pekerjaan penginjilan. Beberapa tahun kemudian, Paus Stepanus II (752-757) secara pribadi mengunjungi kerajaan Frank dan menggunakan gereja mendukung pemerintahan Pepin dengan permintaan agar pemerintah Frank membantu Stepanus II melawan Lombard. Hal ini juga sudah dilakukan pada masa Karel Martel. Hubungan kepausan dan pemerintahan Frank begitu akrab sehingga timbul pertanyaan, “Apakah motivasi paus dan raja? Motif paus sudah jelas: dia membutuhkan bantuan jika dia dan pemerintahannya dikecam dan dihancurkan. Sehingga dia mendekatkan diri kepada penguasa yakni raja Frank. Sementara motif raja adalah memberi penghormatan kepada paus dengan memberikan pemberian kepada paus baik bantuan material maupun bantuan pengamanan. Namun apakah ini yang menjadi motif raja Frank? Sebenarnya masih ada motif lain yang diinginkan oleh raja yakni agar daerah kekuasaannya makin meluas ke Italia.

5. Masa Karolingian

Bagian terakhir dalam Kekristenan Abad Pertengahan ini adalah masa Karolingian. Dalam bahasan ini Aland melihat beberapa hal penting yang terjadi pada masa Karolingian yakni: pertama, Kerajaan Karel Agung (Charlemagne). Setelah kematian Pepin tahun 768, kerajaannya dibagi pada anaknya Karel Agung dan Carloman dengan pembagian yang seimbang di daerah Romawi dan Jerman. Setelah memerintah menjadi raja, Karel Agung memfokuskan diri pada pengembangan kerajaannya. Selama 32 tahun (772-804) berperang melawan Saxon (Saxon ini terdiri dari empat suku: Engerian di Sungai Weser, Westphalian, Eastphalian dan Albingian di Utara). Keempat suku ini tidak pernah bersatu melawan kerajaan Frank. Perjuangan kerajaan Frank terhadap suku Saxon ini bukan hanya merupakan perjuangan politik saja tetapi termasuk perjuangan terhadap iman yang berbeda. Dalam perjuangan Frank melawan Saxon terlihat adanya pemaksaan misi dalam sejarah Kekristenan di Jerman. Setelah mengalami beberapa kali peperangan, maka pada tahun 777 suku Saxon dikuasai oleh Frank dan banyak suku Saxon berbalik menjadi Kristen dengan baptisan masal. Charlemagne merasa bangga akan prestasinya ini. Muncullah Capitulatio Saxonica (“Penyerahan Saxon”) yang diumumkan secara resmi. Bahkan ada peraturan yang harus dipatuhi yakni: Di mana pun gereja Kristen didirikan di daerah Saxon tidak boleh dihina melainkan harus dihormati melebihi penghormatan kepada dewa. Lebih jauh peraturan ini menegaskan: Barang siapa melarang seseorang ke gereja dan mencuri sesuatu dari gereja atau membakar gereja harus dihukum mati. Bahkan dikatakan lagi bahwa barang siapa tidak menerima baptisan akan dihukum mati. Dengan peraturan yang ketat ini, akhirnya hingga pada tahun 804 suku Saxon sudah dikristenkan. Kedua, hubungan dengan Kepausan. Penobatan Pepin menjadi kaisar menciptakan aliansi di antara pemerintah Frank dan paus. Hal ini semakin dikembangkan semasa pemerintahan Karel Agung. Pepin sendiri telah menyandang gelar Patricius Romanarum (“Penjaga Roma”) yang Karel Agung tambahkan kepada gelar raja Frank dan Lombard. Puncak kejayaan Karel Agung adalah pada tahun 800 di mana Paus Leo II memahkotai dia sebagai kaisar di gereja St.Petrus. Memang Aland sendiri mengakui bahwa hubungan Karel Agung dengan kepausan sulit ditentukan. Karel Agung sendiri begitu menghormati paus dengan mencium tangga gereja St.Petrus sebelum memasukinya dan berjalan bersama dengan bergandengan tangan dengan paus. Di sisi lain Karel Agung merasakan bahwa dia adalah penguasa (superior). Ketika Leo III mencoba mengkritik Charlemagne, maka Leo III dimasukkannya ke dalam penjara dan kemudian harus mengambil sumpah pengampunan di gereja St.Petrus. Ketiga, hubungan Gereja dan Negara. Hubungan gereja dengan negara pada masa Charlemagne tidak begitu jelas, karena dia sendiri yang menjalin hubungan dengan paus, bukan negara yang berhubungan dengan gereja. Oleh karenanya ada beberapa pendapat yang mengatakan tentang hubungan gereja dan negara ini. Ada yang mengatakan hubungan itu sebagai kesadaran teokrasi kaisar karena Karel Agung merasakan bahwa Allah-lah yang memberikan dia tugas itu sama dengan Pepin yang mengatakan bahwa kerajaan itu diperoleh hanya karena anugerah Allah (dei gratia). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam kerajaan Frank, Karel Agung adalah penguasa dalam kerajaan sementara paus hanya sebagai kepala uskup di dalam kerajaan. Pendapat lain mengatakan bahwa gereja negara berada di bawah Karel Agung. Namun pendapat ini kurang disetujui Aland dan mengatakan bahwa hubungan gereja dan negara adalah begitu dekat. Para klerus memiliki kantor pelayanan dan berada dalam struktur gereja, namun bisa saja mereka mengambil bagian dalam pemerintahan. Keempat, hidup internal Gereja. Perhatian Karel Agung tidak hanya terfokus pada hal-hal luar tetapi juga memperhatikan kehidupan internal gereja dengan melanjutkan pelayanan di Skot-Iris dan Anglo-Saxon agar tercipta keamanan di daerah-daerah tersebut. Salah seorang dari Anglo-Saxon, Alcuin (730-804) memainkan peranan yang penting bahkan dia sangat berpengaruh bagi perkembangan teologi dan pendidikan di kekaisaran Frank, sama seperti Melanchthon di era Reformasi. Dalam kehidupan internal gereja ini ada banyak perdebatan teologi yang digumuli seperti perdebatan Adopsionis yang membicarakan “adopsi anak Allah” (filius Dei adoptivus). Adopsionis ini telah dihukum gereja namun kekaisaran Frank agak lebih condong kepada aliran ini. Perdebatan lain adalah masalah “dan Anak” (filioque) dalam rumusan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Anak (processio spritus santi ex patre filioque). Dalam perdebatan ini peranserta teolog Frank sarat dengan kepentingan politik dengan menerbitkan “Buku Charlemagne” (Libri Carolini). Mereka mengatakan bahwa ikon seharusnya tidak dihancurkan, dan tidak harus dimuliakan tetapi mereka harus dihormati. Masih banyak lagi yang diperdebatkan dalam kehidupan internal gereja ini yang dicatat Aland seperti pengaruh ajaran Pelagius yang begitu besar bagi kerajaan Frank tentang Predestinasi, perdebatan ekaristi antara Paschasius Radbertus dan Ratramnus. Dan kelima, kehancuran Carolingian. Ternyata tak selamanya kejayaan itu bertahan selamanya. Itulah yang terjadi dalam kerajaan Carolingian ini. Akibat perseteruan di kalangan saudara mengenai kekuasaan mengakibatkan kehancuran kerajaan. Sejak Karel Agung merencanakan melanjutkan kekuasaannya kepada tiga anaknya, itulah bukti betapa lemah posisi Karel Agung dalam kerajaannya. Semenjak Karel Agung memberikan kekuasaannya kepada Louis Pious, Lothair, dan Norman, mulailah terjadi peperangan di antara mereka yang bersaudara dan akhirnya kerajaan itu dibagi di Treaty Verdun (843) menjadi tiga yakni: di sebelah Barat kerajaan Charles (II) di Bald, di sebelah Timur kerajaan Louis (II) di Jerman dan Lotharing. Dan perkembangan selanjutnya adalah kerajaan ini terbagi menjadi lima kekaisaran yaitu: Franconia Timur, Franconia Barat, Italia, dan dua kaisar di Burgundia. Pada akhir bahasan ini Aland memberikan komentarnya terhadap Kekristenan Abad Pertengahan ini. Menurutnya German memainkan peran yang luar biasa di dalam abad-abad yang akan datang. Walaupun kita tidak bisa berbicara lagi tentang Abad Pertengahan German karena masa itu telah berlalu. Mereka masih ada tetapi tidak mendominasi lagi pusat Eropa seperti abad yang mendahuluinya. Kekaisaran Frank tidak ada lagi dan telah dibagi menjadi wilayah Romawi dan German dengan kehidupan dan identitas masing-masing. Dengan demikian masa Germanik Abad Pertengahan harus ditinggalkan dan memasuki Kekristenan Katolik Abad Pertengahan.

II. Kekristenan Katolik Abad Pertengahan

Bagian kedua dari Kekristenan Abad Pertengahan ini dibahas Aland dengan membahas enam sub-pokok pikiran yaitu: tuntutan Paus untuk Supremasi , Gereja dan Negara hingga pemerintahan Otto , perkembangan di bawah pengganti Otto I hingga Henry III , perjuangan di antara Kepausan dan Kuasa dibawah Heny IV dan Henry V , kejatuhan Kerajaan Jerman dan kebangkitan kepausan sebagai penguasa dunia , dan kehidupan dalam Gereja .

1. Tuntutan Paus untuk Supremasi

Jalan paus menuju supermasi sangat sulit. Sejak masa Charlemagne perjuangan ini selalu mengalami tantangan. Sejak permulaan memang kepausan berusaha keras untuk mencapai tujuan ini, akhirnya dapat diperoleh pada masa Innocentius III. Pada masa paus Nikolas I pun supermasi kepausan itu pada posisi lebih tinggi menjadi kaisar. Namun gagal. Nikolas I membuat tuntutan agar gereja terbebas dari kekuasaan temporal. Kekuasaan temporal tidak memiliki hak mengklaim kepemilikan gereja tetapi harus melayani gereja. Namun tuntutan ini juga gagal ketika disampaikan kepada gereja Yunani.

2. Gereja dan Negara hingga Pemerintahan Otto yang Agung

Pada masa pemerintahan Otto I ini perubahan mendasar pun terjadi. Dia berbeda dengan ayahnya Henry I yang memerintah atas dasar wilayah kekuasaan dan dari perspektif mereka sendiri. Bagi Otto sendiri, ia mencoba memulihkan pusat kekuasaan yang mengakibatkan konflik di antara suku-suku. Tetapi karena dia diwarisi teritorial yang kuat dari ayahnya akhirnya dia menang dalam konflik ini. Dia juga memulihkan kesatuan kerajaan sehingga memampukan dia mengembangkan kerajaannya. Ketika Otto kembali ke gereja, gereja sangat menyambut kedatangannya. Otto I mempersekutukan dirinya sendiri dengan gereja melalui uskup dan membuat aliansi ini menjadi dasar atas dominasinya. Sehingga pada masa Otto I ini, para pemimpim imam di gereja Jerman merasakan dirinya milik raja dan merasa pegawai negara. Gereja menjadi digaji oleh negara dan bahkan menjadi lapangan politik kekuasaan. Aliansi gereja dan negara ini sangat berbahaya sekali. Gereja berbeda dari negara ketika dihubungkan dengan otonomi dan berbicara tentang kekuasaan, siapakah yang memiliki supremasi kekuasaan, negarakah atau paus? Aliansi keduanya ini berbeda dengan hakiki dasarnya dan bertolak belakang dengan tugas uskup dan posisinya di dalam gereja dan begitu juga sebaliknya dengan kaisar.

3. Perkembangan di bawah Pengganti Otto I hingga Henry III

Aland begitu panjang membahas perkembangan setelah Otto I ini. Namun jika kita melihat secara umum perkembangan Kekristenan setelah Otto I tidak berkembang pesat karena Otto II dan III memerintah dalam waktu yang relatif singkat. Otto II memerintah pada usia 18 tahun dan meninggal pada usia 28 tahun. Demikian juga Otto III yang memerintah pada usia 15 tahun dan meninggal pada usia 22 tahun. Pada masa Otto II terjadilah pemberontakan Slav yang banyak merusak daerah kekuasaan Otto I dan juga termasuk Kekristenan di dalamnya. Demikian juga ketika Otto III, situasi makin lebih terpuruk lagi. Uskup Jerman bergabung dengan pemerintah sekuler melawan Otto III karena Otto III meninggalkan prinsip dasar politik Otto I dengan menghapuskan sistim aliansi gereja dan negara. Pada masa ini terjadilah pembaharuan biarawan dengan reorganisasi biarawan yang bersih dari sekularisasi. Menurut Aland inilah langkah perkembangan ketiga yakni gerakan pembaharuan yang ditujukan secara langsung kepada paus. Pusat gerakan pembaharuan ini adalah di biara Cluny. Tuntutan biarawan Cluny ini adalah pertama, gaya hidup yang sesuai dengan peraturan gereja, yakni hidup selibat bagi para pastor, kemudian kedua, menekankan kehidupan moralitas dan ketiga, penghapusan “simoni” yaitu penjual belian pangkat-pangkat gereja.Tuntutan ini pada masa Henry II tidak dapat diselesaikan, namun pada masa Henry III yang didorong pengaruh hidup kekudusan mulai memberikan respon atas tuntutan para biarawan ini. Ketika dalam perjalanan ke Roma, Henry III dia mengikuti sinode Pavia. Sinode ini menghasilkan resolusi melawan praktik simoni dan mengecam orang-orang yang melakukan praktik simoni ini. Kemudian pada sinode di Sutri tahun 1046 Henry III berusaha untuk mengatasi masalah kepausan dengan memecat 3 paus yakni paus Silvester, paus Gregoruis VI dan paus Benediktus IX dan mengangkat uskup Bamberg menjadi paus Klement II.

4. Pertarungan Di antara Kepausan dan Kekaisaran di bawah Henry IV dan Henry V

Tentang hubungan kepausan dan kekaisaran menurut dua kardinal, Petrus Damianus dan Humbert Silva Candida dalam tulisan dan khotbah mereka menekankan bahwa kepausan dan kekaisaran di dasarkan pada Lukas 22:38 (Teori dua pedang; [ sama dengan Luther]) yakni paus dan kaisar bagaikan dua kekuatan yang berdiri berdampingan satu sama lainnya. Dalam bukunya, Libri tres adversus Simoniacos (“Tiga buku melawan praktik simoni”), Humbert menekankan kebebasan paus dari monarki dan dominasi gereja atas dunia. Pemikiran Humbert ini kemudian menjadi dasar pemikiran Hildebrand dan dikembangkan bahkan ditekankan pada masa Stefanus IX. Kemudian di bawah Nikolas II, kepausan mendapat posisi yang lebih kuat. Dia beraliansi dengan Norman yang mengakibatkan posisinya secara politik semakin kuat. Setelah kematian Nikolas II, posisi Hildebrand semakin hebat dan bahkan setelah kematian Aleksander II, Hildebrand menjadi paus dan menobatkan diri menjadi Paus Gregorius VII (1073-1085). Sejak permulaan Gregorius VII dan Henry IV telah bermusuhan, kendati pun mereka selalu berusaha untuk hidup berdampingan dengan damai. Permusuhan ini bukan dimulai oleh Gregorius VII melainkan oleh Henry IV. Pertikaian ini bermula dari tindakan Gregorius VII yang berkeinginan mereformasi gereja German dan perlawanannya terhadap uskup German. Henry IV tidak dapat mengantisipasi persoalan ini di mana “gereja atas – high church” (Hochkirche) tidak berkembang di German sebagaimana di tempat lain. Henry mengirimkan surat kepada Gregorius karena rekonsiliasi tidak mungkin terjadi lagi. Henry memproklamasikan dirinya sangat dekat dengan Allah: dia ditempatkan oleh gratia Dei (“oleh anugerah Allah”), independen (merdeka) dari paus. Henry memakai kekuasaannya melawan paus. Pada tanggal 25 Januari 1077, ia membuat demonstrasi yang memaksa paus untuk bernegosiasi, sebab paus bukan pemain politik dan bukan politikus melainkan seorang rahib. Perselisihan ini diselesaikan di Cannosa. Paus menjatuhkan larangan kepada Henry. Henry merendahkan diri dan berjanji akan memerintah atas dasar perintah dari paus. Namun pada tahun 1083, Henry dengan menggunakan para tentaranya selama tiga kali menguasai kembali kota Roma. Henry menyatukan keduanya yakni kepausan dan kekaisaran di Roma. Mereka mendeklarasikan anti paus. Paus Gregorius tidak menyetujui hal ini. Sehingga pada tahun 1084, pada sinode Roma, paus Gregorius VII dipecat dan digantikan oleh paus Klemens III yang akhirnya paus inilah yang menobatkan Henry IV sebagai kaisar di Castel Sant’Angelo. Gregorius akhirnya dibuang dan meninggal pada tanggal 25 Mei 1085. Keadaan ini terus berlanjut hingga kaisar Henry V (1106-1025) yang dikenal dengan pertarungan investitur yakni pertarungan di antara kerajaan dan kepausan. Dan pertarungan ini akhirnya diselesaikan pada Konkordat Worms tanggal 23 September 1122 yang memutuskan bahwa uskup-uskup harus dipilih oleh klerus dan disahkan oleh paus, tetapi di samping itu kaisar berhak memberi pangkat raja. Dan raja masih memiliki pengaruh langsung dalam pemilihan.

5. Kejatuhan Kerajaan Jerman dan Kebangkitan Kepausan sebagai Penguasa Dunia

Pada masa Henry V kekaisaran Frankonian berakhir. Pengganti Henry adalah Lothair dari Supplinburgh (1125-1137). Lothair menang atas calon Henry, Hohenstaufens. Namun setelah kematian Lothair, Hohenstaufens menjadi penguasa bersama dengan Conrad III (1138-1152). Lothair dipengaruhi kesalehan baru yang diimplementasikan dalam hidup pribadi dan kegiatan Bernard Clairvaux (1091-1153). Conrad III digantikan oleh Frederick I Barbarossa (1152-1190) yang menolak keputusan Worms dan berusaha membangun kekuasaan di Italia. Perintah-perintah paus tidak diterimanya. Setelah kematian paus Hadrian, mayoritas memilih Alexander III (1159-1181) sebagai penggantinya. Namun Frederick tetap memimpin baik gereja maupun negara. Setelah kematian Alexander III, kekuasaan Frederick semakin kuat dan memperluas kekuasaannya sampai ke Napels dan Sisilia. Di bawah kekuasaan anaknya, Henry VI, kuasa kaisar bertambah besar lagi. Namun setelah Henry VI meninggal, maka kekuasaan kekaisaran mulai pudar dan hancur. Setelah kematian Henry VI, maka kembalilah kepausan memegang kekuasaan. Paus Innocentius III (1198-1216), seorang kardinal yang paling muda yang berusia 37 tahun, meluaskan kekuasaan paus di Italia, Roma dan kemudian ke Sisilia. Innocentius juga menaklukkan Francis, Raja Philip II dan Raja John di Inggris. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sejak masa Innocentius III, paus diakui selaku satu-satunya penguasa dalam gereja. Dialah pengurus dan hakim yang tinggi dan segala undang-undang ditetapkan atau ditiadakan olehnya. Ia berhak mengutuki orang dengan pengucilan (ekskomunikasi) dan menghukum dengan interdik, yaitu pelarangan pelaksanaan sakramen di satu daerah.

6. Kehidupan batiniah Gereja

Menurut Aland, Katolik Abad Pertengahan berurusan dengan hal-hal yang secara esensial berkaitan dengan kejadian-kejadian dan pertimbangan-pertimbangan sejarah politik. Bahkan Aland yakin bahwa hal inilah yang menjadi bukti yang jelas bahwa penampilan pengaruh Kekristenan selama Abad Pertengahan ini tidak semata-mata buruk walaupun berlangsung hubungan yang dekat di antara kejadian politik dan gerejawi. Pertanyaan struktur gerejawi juga didiskusikan dalam hubungannya dengan perkembangan pengalaman struktur episkopal selama abad keempat. Menurut Aland, ada beberapa alasan mengapakah begitu penting masalah kesalehan selama Abad Pertengahan Katolik: pertama, karena berkaitan langsung dengan arena politik. Misalnya biara Cluny di Burgundia yang menjalankan Reformasi Cluny. Para biarawan membaharui dari dalam dengan tindakan nyata mereka di dalam gereja melalui hidup saleh. Kedua, gerakan perubahan besar pada Abad Pertengahan Katolik yang dapat kita lihat pada masa Karel Agung yang menekankan kesamaan hak dengan negara. Ketiga, kebangkitan golongan asketik seperti gerakan Kathari (Yunani, Katharos artinya “suci”). Dan terakhir adalah gerakan yang diikuti oleh pegawai rumah sakit dan tentara. Gerakan ini dihubungkan dengan perang salib. Aland juga membahas perang salib sebagai bagian dari kehidupan batiniah gereja. Pihak kepausan berkeinginan membebaskan tempat-tempat suci Kristen di Palestina dari penguasa dan pendudukan laskar Islam dan kemudian menetapkan dan mempertahankan ketentuan-ketentuan Kristen di tempat itu. Perang salib ini sendiri terjadi tujuh kali (Perang salib pertama, 1096-1099; kedua, 1147-1149; ketiga, 1189-1192; keempat, 1202-1204; kelima, 1228-1229; keenam, 1248-1254; ketujuh, 1270). Menurut Aland, kendatipun perang salib mengakibatkan citra negatif bagi Kekristenan, namun masih ada hal-hal positif yang diambil dari perang salib itu yaitu: pertama, bangkitnya semangat penginjilan. Kedua, mereka menemukan kembali filsafat dan kesusateraan klasik klasik yang sudah sempat diambil oleh Islam yang digali ulang kembali yang disebut dengan Renaisance. Ketiga, munculnya ‘skolastisisme’. Para tokoh yang terkenal dari skolastik ini adalah: Anselmus (1033-1109), Abelardus (1079-1142), Thomas Aquinas dan Scot Johannes Duns Scotus. Pemikiran Thomas Aquinas ini sangat populer di kalangan Katolik. Menurut Thomas, dunia ini dan kehidupan manusia terbagi atas dua tingkat. Tingkat yang di bawah dibentuk oleh hidup kodrati (hidup alamiah) yang dapat dipahami dengan akal budi. Pengetahuan ini pun memberi pengenalan kodrati akan Allah. Hidup biasa ini menuju kepada persekutuan dengan Allah, sehingga belum sempurna selama persekutuan itu belum diwujudkan. Sebab itu hidup kodrati perlu ditambah dan digenapi oleh suatu tingkat atas, yaitu hidup rahmat yang datang dari Tuhan. Hidup rahmat, yang mengatasi tabiat kodrati dunia ini, mencukupi segala kekurangan hidup kodrati, dengan menyempurnakannya. Semboyan Thomas bunyinya: Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan gerakan pembaharuan batin gereja ini membuktikan bahwa tidak selamanya gereja pada Abad Pertengahan dipandang negatif, karena masih ada hal-hal positif yang dapat dilihat dari perkembangan para pemikir skolastisisme ini.

III. Akhir Masa Katolik Abad Pertengahan dan Perkembangan hingga ke Ambang Pintu Reformasi

Untuk membahas akhir masa Katolik Abad Pertengahan ini, Aland melihat dari beberapa aspek yaitu: kemunduran kepausan hingga perpecahan besar dan Konsili Pisa, kebangkitan kesadaran Nasional dan akibatnya dalam suasana hidup Gereja, maknanya bagi Reformasi, kritik dalam Gereja, Konsili Pembaruan, Kepausan pada Akhir Masa Abad Pertengahan, kesalehan dan iman masyarakat pada Ambang Pintu Reformasi.

1. Kemunduran Kepausan hingga Perpecahan Besar dan Konsili Pisa

Menurut Aland, kemunduran kepausan ini terjadi pada masa Bonifatius VIII (1294-1303) yang memerintah hanya tujuh puluh delapan tahun setelah Innocentius III. Bonifatius VIII mengeluarkan bulla Unam sanctam ecclesiam (Satu Gereja Kudus) 18 November 1302. Bulla ini menekankan kuasa kepausan bahwa satu dan hanya gereja, hanya satu tubuh dan kepala – Kristus dan wakil Kristus, Petrus dan penerus Petrus. Bulla ini berbicara tentang dua pedang yang dikutip dari Injil (Lukas 22:38) bahwa di dalam gereja dan kuasanya ada dua pedang yakni pedang rohani dan pedang temporal (duniawi). Paus mencoba menguasai kaisar-kaisar yang ada di Italia, German, Hongaria dan Polandia, dan di Perancis. Namun di Prancis kekuasaan paus ini mengalami perlawanan dari raja Philip IV. Pertentangan ini terjadi tatkala paus Bonifatius melarang raja Philip memungut pajak untuk negara dari klerus dan biara-biara serta segala milik Gereja yang lain. Larangan ini tidak diperdulikan oleh Philip. Maka paus mengutus uskup Pamiers, Bernhard de Saisset kepada Philip untuk menerangkan bahwa raja harus mematuhi perintah paus sebab paus telah menguasai seluruh kaisar-kaisar. Namun Philip tetap menolak segala perintah paus dan berkeinginan untuk memisahkan diri dari kekuasaan paus. Akhirnya paus hendak menjatuhkan hukuman kepada Philip, namun dengan tiba-tiba paus sendiri disergap dan ditawan oleh suatu pasukan Perancis atas perintah raja Philip. Dan beberapa hari kemudian paus dibebaskan lagi, tetapi karena akibat segala pengalamannya yang berat ini, tak lama kemudian Bonifatius mangkat tanggal 11 Oktober 1303. Kemuduran kepausan ini berlanjut kepada pengganti Bonifatius yakni Benediktus XI (1303-1304) dan bahkan hingga pada masa Clemens V (1305-1314). Raja Philip telah menguasai para paus dan memindahkan istananya ke kota Perancis Avignon pada tahun 1309 hingga tahun 1377. Paus/gereja dipimpin oleh Perancis hingga hampir memasuki abad keempat belas. Masa inilah yang disebut dengan masa “Pembuangan ke Babel”. Raja Philip melihat bahwa ordo yang kaya dari tuan-tuan Templar merupakan kelompok yang sangat membahayakan dirinya, maka raja memerintahkan paus Clemens V untuk membubarkan ordo ini. Tidak lama setelah masa pembuangan ini, pada tahun 1377 tahkta paus dipulangkan ke kota Roma. Namun pada masa ini terjadilah skisma besar di Barat. Kardinal di Perancis memilih Clement VII yang berkedudukan di Avignon dan kardinal Italia memilih Gregorius XI di Roma. Skisma di antara kedua kepausan ini dimulai tahun 1378 hingga 1415. Kedua paus itu saling mengutuki, sehingga segenap umat Kristen pada masa itu kena kutuk. Sebab itu banyak orang percaya kehilangan ketenangan hatinya. Akibat dari skisma ini adalah orang mulai tidak percaya kepada paus dan memikirkan kemungkinan gereja-gereja kebangsaan.

2. Kebangkitan Kesadaran Nasional dan Akibatnya dalam suasana hidup Gereja

Kebangkitan kesadaran nasional yang diungkapkan oleh Aland di sini merupakan akibat dari kemunduran kepausan itu sendiri. Skisma yang terjadi pun semakin membangun jiwa nasionalisme. Dan hal ini sangat berpengaruh dalam kehidupan gereja. Misalnya di Jerman, Perancis, Inggris: John Wycliffe, Bohemia: John Huss, dan Italia: Renaisanse dan Humanisme. Di Jerman, kritik terhadap kepausan sangat tajam sekali. Kekuatan intelektual juga mengambil bagian dalam gerakan ini. Dalam sebuah tulisan Walther von der Vogelweide atau Dante terlihat jelas kekuatan yang melawan gereja dan mendukung kekuatan temporal (duniawi). Tidak berbeda di Perancis, kesadaran gereja nasional sangat dominan. Mereka menghendaki memisahkan diri dari kuasa paus di Avignon. Sehingga pada tahun 1408 akhirnya mereka memisahkan diri dari paus di Avignon dan memproklamasikan dirinya dengan nama Gereja Nasional Perancis. Di Inggris, tokoh yang terkenal dalam kebangkitan ini adalah John Wycliffe yang lahir sekitar tahun 1320 dari kaum bangsawan Anglo-Saxon. Wycliffe membangun kesadaran nasionalisme yang menekankan bahwa gereja seharusnya tidak mengambil bagian dalam politik. Bahkan menurut Wycliffe, segala miliki gereja di Inggris harus dianggap kepunyaan negara. Kegiatannya dilakukan melalui khotbah, pengajaran, mengajar dan tulisan. Pemahamannya yang dalam tentang Alkitab menjadikan dia mampu menyerang gereja Roma. Bahkan dia mengatakan bahwa paus adalah anti-Kristus. Di Bohemia: tokoh yang terkenal adalah John Huss yang lahir pada tahun 1369/1370 di Husinec. Dia merupakan penerus Conrad Waldhausen, Jan Milic dan John Wycliffe. Huss tidak mengadopsi seluruh ajaran-ajaran para pendahulunya, walaupun pemikiran Wycliffe sangat mempengaruhi perjuangannya. Huss juga memproklamasikan ide nasionalisme Wycliffe. Tetapi ide nasionalisme Wycliffe yang diterapkan di Inggris tidak bisa diterapkan Huss di Bohemia. Huss mengalami banyak tantangan dalam perjuangannya. Raja Sigmund ingin menyelesaikan perkara ini dengan cepat dan mengajak Huss untuk berunding di Constanz dan berjanji melindungi Huss. Tetapi Huss ditangkap atas perintah gereja dan dipenjarakan serta disiksa dengan kejam. Dan akhirnya dia dihukum mati dan dibakar hidup-hidup di Constanz pada tanggal 6 Juli 1415, karena dia tidak mau menarik ajarannya. Akibat kematian Huss ini, maka terjadilah perang Hussit melawan raja dan gereja. Akhirnya, Paus terpaksa mengakui sebuah gereja Hussit di samping gereja Roma. Terakhir di Italia. Di daerah ini kesadaran nasional membangkitkan Renaissance (kelahiran kembali) dan humanisme (kemanusiaan). Di Italia sudah timbul condottiere, yakni pemimpin prajurit upahan, yang mengambil bagian di dalam perjuangan pribadi-pribadi. Salah seorang yang terkenal dari gerakan ini adalah Cola di Rienzi. Pada tahun 1347, dia telah memperluas kekuasaannya hingga ke Roma dan lebih jauh perjuangannya adalah dengan mendirikan Kerajaan Kristus di seluruh dunia ini.

3. Maknanya bagi Reformasi

Apakah arti dan makna gerakan Wycliffe dan Huss, humanisme dan Renaissance bagi Reformasi? Menurut Aland, gerakan-gerakan pembaharuan dalam gereja ini akhirnya menjadi cikal-bakal gerakan Reformasi di kemudian hari. Timbulnya gerakan Reformasi Luther adalah akibat dari gerakan yang dilakukan oleh Wycliffe dan Huss, walaupun mereka hanya dibedakan dari kesuksesannya. Gerakan humanisme ini juga mempengaruhi pemikiran Melanchthon, Zwingli dan Erasmus. Gerakan ini kemudian dipopulerkan oleh tiga tokoh yang terkenal yakni: Lorenzo Valla (Italia), Reuchlin (German), dan Erasmus. Humanisme sangat mempengaruhi ilmu dan kesusasteraan di tanah Jerman, tetapi renaissance tidak terdapat di sana. Sebab itu kaum humanis di Jerman tidak menolak Gereja sebagai perbendaharaan kebudayaan, tetapi berusaha melayani Gereja dengan pendapat-pendapatnya yang baru itu. Sementara itu, Reuhclin, membuka jalan bagi pelajaran baru bahasa Yunani dan Ibrani. Dengan demikian disediakannya alat-alat untuk membaca Alkitab nas asli. Dalam bukunya yang berjudul De rudimentis hebraicis (“Permulaan Ibrani”) tahun 1506 mengajarkan bagaimana penggunaan leksikon dan grammar bagi bahasa Ibrani. Humanis yang paling terkenal lainnya adalah Desiderius Erasmus. Humanisme Erasmus adalah campuran pandangan-pandangan Yunani-Romawi dengan ajaran Injil. Ia boleh disebut “bapa aliran kekristenan yang serba bebas (liberal)”. Artinya, pada pendapat Erasmus, Injil adalah suatu ajaran yang indah tentang kebajikan manusia.

4. Kritik Dalam Gereja

Gerakan-gerakan pembaharuan yang telah dikerjakan oleh Wycliffe dan Huss merupakan kritik dari dalam Gereja yang mencoba membaharui gereja itu sendiri dari dalam. Gerakan dari dalam gereja ini akhirnya membangkitkan kesadaran nasional dan humanisme dan Renaissance. Kemerosotan gereja pada Abad Pertengahan adalah akibat supermasi paus yang begitu kuat atas gereja dan negara. Kehidupan asketik dan kesalehan pada masa itu membantu paus untuk memenangkan kekuasaannya atas kekaisaran. Gerakan yang berikut yang mengkritik gereja dari dalam adalah gerakan Kathar dan Waldensian. Kemudian gerakan Mistisisme juga memprotes perkembangan gereja dengan serangan Mistisisme Kristus dan Mistisisme Allah yang antara lain Johan Tauler, Meister Eckhart, Henry Suso dan Jan van Ruysbroeck. Kemudian gerakan pembaharuan gereja ini semakin jelas dan memuncak pada masa Luther. Luther banyak mengkritik gereja dari dalam demi pembaharuan. Luther dua kali mempbulikasikan German Theology (Theologia deutsch).

5. Konsili-Konsili Pembaruan

Konsili-konsili Pembaruan ini lahir dari keinginan gereja untuk kemurnian gereja itu sendiri dari setan-setan. Namun dalam kegiatannya konsili ini lebih bergerak untuk menghancurkan posisi kepausan. Sehingga timbullah skisma besar di dalam gereja. Konsili Pembaruan menentang klaim paus atas kekuasaannya dalam gereja dan kaisar. Aland mengulas sejarah Konsili Pembaruan ini yang dimulai dari Konsili Pisa 1409, kemudian Konsili Konstance hingga Konsili di Basel secara mendetail.

6. Kepausan pada Akhir Masa Abad Pertengahan

Masa kepausan akhirnya berakhir pada masa Pius II (1458-1464). Masa gelap terlihat pada masa pengganti paus Pius II, paus Paulus II (1464-1471). Namun berbeda dengan masa paus Julius II dan Leo X. Mereka berdua merupakan gembala domba Kristus. Julius II adalah cermin, sedangkan Leo X adalah seorang yang humanis. Dengan berakhirnya kepausan ini, maka mulailah timbul masa baru yaitu masa Reformasi.

7. Kesalehan dan Iman Masyarakat pada Ambang Pintu Reformasi

Menurut Aland, sebagai kesimpulan tentang kesalehan pada Abad Pertengahan dan kemudian Reformasi, kita sangat berbeda dengan orang tua dan nenek kita. Tanpa adanya gambaran situasi keagamaan dan moral Protestan tak akan muncul gerakan Reformasi itu sendiri. Karena gerakan Reformasi mengajarkan pembenaran orang berdosa (Rom.1:17).

4. TANGGAPAN HISTORIS

a. Tanggapan Umum

Karena merupakan kumpulan dari bahan-bahan kuliah yang disadur dan dibukukan, maka buku Kurt Aland ini merupakan karya ilmiah populer, artinya secara isi tidak sulit untuk dimengerti. Namun memang harus diakui bahwa secara bahasa buku, buku ini agak sulit dimengerti. Hal ini diakibatkan buku aslinya adalah dalam bahasa Jerman dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga gaya tata bahasa Jermannya lebih menonjol.

b. Tanggapan Isi buku

Dalam bagian pertama tentang “Permulaan Kekristenan” Aland membahasnya dari lima segi yaitu: yakni: argumen dengan penyembah berhala, sejarah eksternal Kekristenan mula-mula, sejarah internal Kekristenan mula-mula, sejarah di antara umat, masa Konstantin dan akhir sejarah Kekristenan mula-mula. Kelima segi ini sangat memudahkan kita untuk mengerti bagaimanakah sebenarnya kehidupan dan perkembangan Kekristenan itu pada Abad Mula-mula. Pembahasan ini hampir bersamaan dengan pemaparan oleh para ahli sejarah gereja lain seperti: I.H.Enklaar , H.Berkhof & I.H.Enklaar , Eddy Kristiyanto , Th.van den End . Namun pendekatan yang dilakukan mereka tentunya berbeda-beda. Namun harus diakui bahwa pendekatan Aland ini agak lebih jelimet dan mendetail dibandingkan dengan bahasan ahli-ahli lain tadi. Pembahasan Aland terhadap satu-satu topik begitu dalam sekali sehingga kita mendapatkan informasi yang lebih banyak. Dalam pemaparannya ini, Aland menjelaskan bagaimana Kekristenan itu berhadapan dengan dunia penyembah berhala. Apakah Kekristenan itu menolak atau menerima penyembah berhala ini? Memang harus kita sadari bahwa Kekristenan itu hadir dan berada di tengah-tengah dunia maupun masyarakat dengan segala aspek yang beraneka ragam termasuk di dalamnya paganisme. Paganisme ini sendiri tidak harus dibuang begitu saja. Karena memang banyak hal yang diserap oleh Kekristenan dari paganisme itu sendiri. Dengan kata lain, ada yang terus berlangsung (kontinuitas) dan ada yang tidak berlangsung lagi (diskontinuitas) dari paganisme itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kekristenan tidak muncul dari dunia yang kosong. Kekristenan itu menyerap sesuatu dan menggunakan tradisi-tradisi yang ada seperti: tradisi Yahudi, budaya Hellenisme dan filsafat-filsafat Yunani. Hal-hal yang masih terus berlangsung itu sendiri telah mengalami pemaknaan baru secara kristiani. Misalnya: (a) Perayaan Natal. Perayaan ini pada dasarnya merupakan perayaan bagi dewa “Matahari” dalam dunia paganisme. Namun perayaan ini dimaknai oleh Kekristenan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. (b) Pemakaian jubah (toga) imam (pendeta). Jubah ini pada dasarnya merupakan jubah para pemuja dewa-dewa untuk memimpin umat menyembah para dewa-dewa. Namun sekarang jubah ini masih terus dipakai oleh para pendeta sebagai jubah keimaman setelah diberi pemaknaan yang baru secara Kekristenan. (c) Pemakaian istilah-istilah yang sudah dikenal pada zaman paganisme seperti: Deus, Theos, Kristos, Kurios, dan Logos. Perkataan ini dipakai oleh Kekristenan setelah dimaknai ulang secara Kekristenan. Dapatlah dikatakan bahwa proses perjumpaan pagan dengan Kekristenan berlangsung sepanjang abad, sehingga tidak mudah menolak praktik-praktik paganisme itu sendiri. Dari paparan Aland dalam bukunya ini, dapat dikatakan bahwa Kekristenan bukanlah agama individual tetapi juga merupakan agama komunitas. Sehingga penyebaran Kekristenan mula-mula sangat didukung oleh faktor-faktor eksternal seperti: (1) Penindasan yang terjadi bukan merupakan sebuah penindasan yang sistematik, artinya penindasan itu tidak mencakup seluruh Roma, (2) cukup banyak pejabat-pejabat yang sudah Kristen, dan (3) karena adanya peranan tulisan-tulisan yang mengenai ajaran Kekristenan itu sendiri. Berbicara mengenai struktur gereja mula-mula, harus diakui bahwa tidak ada struktur gereja yang alkitabiah. Struktur gereja itu biasanya selalu mengikuti struktur masyarakat di mana mereka hidup dan tinggal. Struktur Gereja sepanjang sejarah gereja selalu beradapatasi dengan struktur budaya dan masyarakat di mana gereja itu berada dan hadir. Menurut Aland, perkembangan Kekristenan itu juga dipengaruhi faktor internal. Faktor ini sangat mendukung perkembangan Kekristenan itu sendiri, misalnya: (1) secara politik, pada tahun 70 orang-orang Kristen diusir dari Palestina. Sehingga orang Kristen menyebar ke luar Palestina. (2) Pemerintahan sudah ditata dengan baik. Ketika terjadi mutasi di kalangan pejabat, maka pejabat yang Kristen menyebarkan Kekristenan itu di daerah kekuasaannya. (3) Secara transportasi: transportasi jalan raya, laut sudah sangat baik sehingga penyebaran Kekristenan itu semakin cepat bahkan hingga ke negara lain. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dalam penyebaran Kekristenan ini, Tuhan memakai perangkat-perangkat yang ada, baik itu politik, ekonomi, sehingga Kekristenan itu menyebar ke mana-mana. Perlu juga dicatat bahwa pengaruh Monastisisme sangat kuat dalam perkembangan Kekristenan itu. Kelompok ini dicirikan dengan: (1) hidup asketisme. (2) selibat, (3) kontak dengan masyarakat artinya mereka keluar dari biara pergi melayani masyarakat. Secara umum kehidupan gereja bisa bertahan dan berkembang karena Monastisisme. Namun dalam perjalanan sejarah gereja, Gereja Protestan agak jarang mendirikan biara-biara dibandingkan dengan gereja Katolik. Gereja Katolik masih memelihara kehidupan biara ini hingga saat ini. Monastisisme ini sangat kuat perananannya melawan Abad Kegelapan (“dark ages”) ketika itu. Abad Kegelapan itu sendiri dicirikan dengan: (1) banyaknya pertikaian yang menyangkut ajaran-ajaran gereja yang mengakibatkan skisma besar, (2) merosotnya pola hidup Kekrisenan, karena gereja menjadi agama negara sehingga gereja tidak merasa ada lagi tantangan. Akibatnya kualitas Kekristenan merosot sekali karena Kekristenan itu sudah merupakan Kekristenan yang otomatis, (3) Gereja berangkulan dengan penguasa. Dalam situasi yang demikian justru Monastisisme menjadi nyala lilin untuk memperbaiki kualitas Kekristenan itu. Pertikaian yang sangat mendasar dalam paparan Aland ini adalah pertikaian antara Pelagius dan Augustinus. Perseteruan ini adalah karena perbedaan pemahaman tentang keselamatan. Bagi Pelagius, yang menyelamatkan manusia adalah perbuatan baiknya. Manusia memiliki kehendak bebas yaitu hak untuk menerima atau menolak keselamatan ini. Sementara Augustinus berpendapat lain, manusia diselamatkan bukan karena perbuatan baiknya karena manusia itu berdosa. Oleh karena itu manusia diselamatkan hanya anugerah Allah semata. Manusia tidak punya hak untuk menolak keselamatan itu. Pertikaian ini akhirnya ditengahi dengan ajaran Semi Pelagian (Sinergisme) yang mencari suatu jalan kompromi supaya moralisme Kristen dapat dipertahankan. Kata mereka: Oleh jatuhnya Adam kehendak manusia hanya dilemahkan saja, sehingga manusia dapat berbuat baik lagi. Ia tidak mati (Augustinus), dan tidak pula sehat (Pelagius), melainkan sakit. Oleh karena itu kekuatan manusia sendiri tidak cukup untuk mencapai keselamatan itu. Ia memerlukan bantuan rahmat Tuhan. Rahmat itu ialah suatu khasiat secara batin diberikan oleh Tuhan kepada tiap-tiap oknum. Kehendak manusia yang bebas harus menerima pertolongan ini, supaya dengan demikian manusia dan Allah boleh bekerja bersama-sama sampai keselamatan itu diperoleh. Dalam bagian kedua bukunya ini, Aland membahas “Kekristenan Abad Pertengahan”. Dalam bagian kedua ini, Aland membahas berdasarkan pembagian waktu atau juga wilayah misalnya Kekristenan Jerman Abad Petengahan, Kekristenan Katolik Abad Pertengahan, kemudian kesimpulan masa Abad Pertengahan Katolik dan Perkembangan hingga ke Ambang Pintu Reformasi. Berkhof dan Enklaar juga menjelaskan bahwa Kekristenan di Jerman ini banyak diakibatkan oleh perpindahan bangsa-bangsa. Perpindahan bangsa-bangsa ini akibatnya besar juga bagi Gereja Katolik, karena sebagian besar dari suku German masuk Gereja Arian. Sebab pada abad ke-IV orang Got Barat dimasehikan oleh seorang uskup Arian, Wulfila namanya. Beberapa bagian dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Got yang disediakan oleh Wulfila itu hingga kini masih tersimpan. Kemudian suku-suku German yang lain-lain pun menganut ajaran Arian. Sejajar dengan pendapat di atas, Dietrich Kuhl mengatakan bahwa pada abad IV sampai abad VII bangsa-bangsa dan suku-suku Eropa masih banyak yang berpindah-pindah. Menurutnya, dengan melihat kenyataan sejarah penginjilan di Eropa pada abad-abad Pertengahan dengan coraknya ‘pertobatan multi-individual (multi-individual conversion), maka arti dan pola pemuridan di tengah-tengah ‘perpindahan umat’ (people movement) perlu dipikirkan, supaya pengkristenan tidak hanya menghasilkan anggota gereja yang secara lahiriah menjadi Kristen, namun tidak ber-Kristus dan dalam pola berpikir mereka tetap kafir. Mengapa Kekristenan Arian lebih diminati di daerah Jerman? Karena cara memahami Allah yang Mahatinggi itu sulit dipahami sehingga mereka memilih memahami Allah dari segi kemanusiaanNya. Yesus dipahami pada awalnya di Eropa hanyalah sebagai raja yang memerintah. Sehingga bagi mereka berperang bukan bertentangan dengan Kekristenan karena Yesus adalah pemenang dan panglima. Jika diperhatikan penyebaran Kekristenan di Jerman ini, timbul pertanyaan, apakah penyebaran Kekristenan di Jerman ini alkitabiah? Memang harus diakui bahwa pengkristenan di Jerman ini pasti jauh dari pengkristenan pada jemaat mula-mula yang penuh dengan kedamaian. Kekristenan di Jerman sendiri nampaknya ditandai dengan kekerasan melalui perang di antara raja-raja German. Kekerasan ini seolah-olah tidak alkitabiah, namun harus kita sadari bahwa metode penyebaran Kekristenan pasti mengalami perbedaan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh Kekristenan itu sendiri. Kekistenan di Jerman ini jika dibandingkan dengan Kekristenan di Indonesia jauh berbeda. Di Jerman sendiri, Kekristenan dapat diterima oleh hampir seluruh daerah Eropa. Sementara di Indonesia Kekristenan itu mengalami banyak tantangan dan kesulitan. Hanya sedikit yang bisa dikristenkan. Padahal para penginjil dari Jerman banyak melayani di Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Alasannya: (a) karena di Nusantara sudah ada banyak agama-agama besar yang relatif kuat yaitu Islam, Hindu dan Budha. Masyarakat sudah merasa puas dengan agama mereka anut, (b) karena orang Kristen yang datang dari Eropa mencampuradukkan ajaran agama dengan perangai, perilaku gaya hidup ala Barat yang tidak dikenal di Indonesia. (c) praktek paganisme di German mereka terima di dalam Kekristenan, sementara praktek paganisme di Indonesia mereka tolak. Inilah beberapa hal yang menyebabkan Kekristenan di Indonesia begitu lamban dan tidak berkembang. Berbicara mengenai supremasi paus, ini adalah perkara yang sangat diperdebatkan dalam sejarah Kekristenan di Eropa. Apa yang melatarbelakangi timbulnya sistem paus ini? Gereja Roma menganggap dirinya didirikan oleh Petrus, dan karena kedudukannya di ibu kota dan sebagai gereja yang terkaya dan terbesar; di kala Arius mengancam daerah Jerman, mereka masih mempertahankan imannya yang benar, maka kedudukan dan nama dari keuskupan Roma lambat laun melebihi daerah-daerah lain. Uskup Roma mulai berkuasa atas segala uskup yang lain serta dengan daerahnya, teristimewa di Barat. Bahkan paus sendiri menganggap dirinya sebagai yang dipanggil Tuhan untuk menjadi kepala Gereja selaku “pengganti Petrus”(Matius 16:17-18), bahkan sebagai “wali Kristus” di bumi ini. Jika kita bandingkan di Indonesia, hal yang sama juga pernah terjadi di mana Gereja di jemaat Batavia merasa diri lebih tinggi dari pada jemaat-jemaat yang lain karena mereka berada di pusat ibu kota. Dalam paparannya, Aland menjelaskan bahwa paus sering sekali bergandengan dengan para penguasa. Gereja yang selalu bergandengan dengan penguasa akan menyebabkan banyak konflik. Biasanya memang praktik seperti ini masih dilakukan oleh gereja Katolik hingga saat ini, misalnya: di Filipina dan Amerika Latin. Gereja yang bergandengan tangan dengan pengusa akan menyebabkan kemerosotan moral di kalangan pendeta maupun di kalangan jemaat. Berbicara mengenai kebangkitan kepausan sebagai penguasa dunia yang diulas Aland, tidak akan kita alami di Indonesia, karena Gereja tidak akan bisa menjadi penguasa di Indonesia, namun sedikit banyak ada juga gema dari gerakan-gerakan seperti itu terjadi di Indonesia yakni bagaimana gereja memposisikan dirinya berhadapan dengan penguasa. Di Indonesia sering sekali gereja tidak tepat memposisikan dirinya di hadapan negara. Pada zaman penjajahan, gereja takluk dihadapan negara. Sementara di Eropa, gereja seperti pendulum, kadang-kadang gereja menjadi penguasa dan bisa saja negara menjadi penguasa. Di Indonesia sendiri yang minoritas orang Kristen, godaan di dalam gereja untuk menjadi penguasa dunia, kadang-kadang tidak bisa dihilangkan. Sebagai salah satu contoh, para pejabat gerejawi ikut terjun dalam kancah politik dan menjadi penguasa dunia (seperti menjadi gubernur, bupati, anggota dewan, dll). Hal sangat jelas sangat merusak citra gereja. Kendatipun di dalam gereja selalu ada peluang untuk tergoda menjadi penguasa dunia, namun masih ada juga sekelompok orang-orang yang tidak mau tergoda dengan hal-hal tersebut. Kelompok inilah yang terus menerus membaharui gereja dari dalam yang tidak begitu tergantung kepada aturan-aturan gereja yang berlaku. 4. DAFTAR KEPUSTAKAAN Aland, Kurt. A History Of Christianity, Philadelphia: Fortress Press, Vol.I, 1985 Berkhof, H. & Enklaar,I.H. Sejarah Gereja, Jakarta: BPK GM, 1992 End, Th.van den. Harta Dalam Bejana: Sejarah Ringkas Gereja, Jakarta: BPK GM End, Th. van den. Ragi Carita 1, Jakarta: BPK GM, 1993 End, Th. van den. & Weijens, J. Ragi Carita 2, Jakarta: BPK GM, 1993 Enklaar, I.H. Sedjarah Gereja Ringkas, Djakarta: BPK GM, 1966 Kristiyanto, Eddy. Visi Historis Komprehensif, Yogyakarta: Kanisius, 2003 Kull, Dietrich. Sejarah Gereja: Gereja Katolik Roma, Batu Malang: Departemen Literatur YPPII, 1997 Wongso, Peter. Sejarah Gereja, Malang: Departemen Literatur SAAT, 2001


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: