Posted by: ramlyharahap | April 13, 2009

TINJAUAN BUKU Carl E.Braaten, Justification: The Article by Which the Church Stands or Falls (Minneapolis: Fortress Press, 1990; vii + 191 hlm.)

TINJAUAN BUKU

Carl E.Braaten, Justification: The Article by Which the Church Stands or Falls (Minneapolis: Fortress Press, 1990; vii + 191 hlm.)

Penulis buku ini, Carl E.Braaten, adalah seorang dosen teologi di Lutheran School of Theology, Chicago, dan ia adalah juga editor dari Dialog: A Journal of Theology. Di samping buku ini, Braaten juga sudah menulis sejumlah buku lain, a.l. The Future of God, Eschatology and Ethics, History and Hermeneutics, dan The Apostolic Imperative. Di dalam buku Justification ini dimuat sejumlah artikel Braaten yang membahas topik Pembenaran, terutama mengacu pada ajaran Martin Luther, yang menurutnya sangat menentukan berdiri atau jatuhnya gereja. Braaten menguraikan pengajaran pembenaran dalam berbagai sudut pandang para ahli baik dari kalangan Reformasi (Protestan) dan Katolik. Dan pada bagian akhir buku ini diuraikan bagaimana pembahasan dan praktik langsung dari ajaran pembenaran itu di dalam gerakan ekumene Protestan dan Katolik.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca, sebab di sini kita melihat perjalanan pemikiran teologi Braaten sebagai seorang teolog yang dipengaruhi pemikiran Martin Kähler tentang articulus stantis et cadentis ecclesiae, yaitu ajaran pembenaran oleh iman sebagai yang menentukan berdiri atau jatuhnya gereja (hlm.vii). Ulasan Braaten tentang ajaran pembenaran ini sudah dimulainya sejak 1960-an dan telah dipublikasikan dalam buku The New Community in Christ (1963) dengan judul “The Correlation of Justification and Faith in Evangelical Dogmatics” (hlm.vii), yang revisinya menjadi bab 1 buku ini. Pemikiran Braaten tentang topik pada bab 1 ini juga dipengaruhi oleh pemikiran Paul Tillich tentang “Prinsip Protestan dan Substansi Katolik”, buku Jeroslav Pelikan, The Riddle of Roman Catholicism dan artikel George Lindbeck, “The Ecclesiology of the Roman Catholic Church” (hlm.3).

Setelah Bab 1 yang merupakan Introduksi, menyusullah dua bagian besar. Bagian I (terdiri atas empat bab) diberi judul “Dasar-dasar Teologis” (Theological Foundations) [dari Pembenaran]. Ada beberapa hal penting yang dibahas dalam bagian I ini. Setelah berbicara tentang masalah hubungan di antara pembenaran dan iman di dalam tradisi ajaran Lutheran (Bab 2), di mana antara lain disebut soal pembenaran dan iman di dalam Luther dan Reformasi (hlm.22), tempat pembenaran pada periode Orthodoksi (hlm.28), dan pergeseran dari pembenaran kepada pemilihan (hlm.37), maka menyusullah Bab 3 yang berbicara tentang makna kontemporer dari Pembenaran di dalam teologi Paul Tillich. Ada enam hal yang disebut di dalam bab ini, yakni: keradikalan ajaran tentang Pembenaran (hlm.43), makna eksistensial dari Pembenaran (hlm.45), tempat soteriologi di dalam Pembenaran (hlm.48), Pembenaran dan transforamasi sosial (hlm.51), Pembenaran dan metode korelasi (hlm.56), dan Pembenaran dalam Teologi Sistematik Paul Tillich (hlm.60).

Bagian I ini juga diisi dengan uraian tentang konflik antara teologi Karl Barth dan teologi Lutheran mengenai Pembenaran oleh iman (Bab 4). Bab 4 ini menjelaskan pemahaman Barth tentang Pembenaran (hlm.66) dan pergeseran kerangka-kerja dari keselamatan kepada pewahyuan (hlm.69). Sehubungan dengan ini Barth menyatakan bahwa Martin Kähler adalah satu-satunya teolog Lutheran yang pernah berani merencanakan dan menata dogmatika kaum Injili (baca: Protestan) tentang yang menjadikan ajaran pembenaran sebagai pusatnya (hlm.74). Bab 4 ini juga membahas fungsi kritis dari Pembenaran (hlm.76). Bagi Barth, soteriologi adalah bagian kedua dari pewahyuan. Bahkan Barth mengatakan bahwa bukan Pembenaran yang merupakan articulus stantis et cadentis ecclesiae, melainkan pengakuan akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat (hlm.77).

Bagian I ini ditutup dengan sebuah pembahasan mengenai Injil sebagai anugerah yang membenarkan dan iman yang membenarkan (Bab 5). Bagi Luther Injil Allah di dalam Yesus Kristus merupakan jantung dari Alkitab (hlm.81). Ada tiga hal yang diuraikan dalam bab ini, yakni: bentuk kontemporer dari permasalahan tentang Pembenaran (hlm.82), konsep alkitabiah dari anugerah (hlm.86), dan konsekuensi dari iman yang membenarkan (hlm.93).

Ringkasnya, dalam bagian I ini Braaten mencoba memberikan penafsiran dan penilaian atas pandangan Luther tentang Pembenaran, dengan juga mengacu pada pemikiran Orthodoksi, Calvin, Ritschl, Adolf von Harnack, Paul Tillich dan Karl Barth.

Bagian II (terdiri atas lima bab) diberi judul “Aplikasi-aplikasi Praktis” (Practical Applications). Bagian II ini dimulai dengan sebuah telaah atas dialog-dialog yang dibangun gereja dan gerakan ekumenis Lutheran di Amerika Serikat tentang Pembenaran oleh iman sejak 1965 (Bab 6).. Ada enam dialog yang dilaporkan Braaten dalam bab ini, yakni: pertama, dialog Lutheran dan Reformed (hlm.107); kedua, dialog Lutheran dan United Methodist (hlm.111); ketiga, dialog Lutheran dan Evangelikal Konservatif (hlm.112); keempat, dialog Lutheran dan Episkopal (hlm.113); kelima, percakapan Lutheran dan Baptist (hlm.117); dan keenam, dialog Lutheran dan Katolik (hlm.118).

Kemudian dilanjutkan dengan bahasan tentang pengertian evangelisasi (penginjilan) di dalam konteks anugerah Allah yang universal (Bab 7). Di sini diuraikan: dasar-dasar alkitabiah dari evangelisasi (hlm.127), tugas penginjilan yang menetap (hlm.132), harapan akhir dari universalisme alkitabiah (hlm.135), dan kemudian mengapa kita harus menginjili (hlm.139). Bab 8 membahas pembedaan yang tepat di antara Hukum Taurat dan Injil di dalam berkhotbah. Pendirian Luther atas pembedaan Hukum Taurat dan Injil didasarkan pada teologi Paulus. Hukum Taurat dan Injil saling berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan walaupun di antara keduanya ada hal yang membingungkan (hlm.143). Bagi Luther, mengkhotbahkan hukum Taurat semata tanpa Kritus akan menghasilkan manusia pongah, yang percaya bahwa mereka dapat memenuhi hukum Taurat dengan perbuatan-perbuatan lahiriah, atau menghalau orang ke dalam keputusasaan yang luar biasa (bnd. Rumus Konkord V,10, dalam Buku Konkord, hlm.788). Pemberitaan hukum Taurat tidak cukup untuk pertobatan yang murni dan bermanfaat; Injil harus ditambahkan kepadanya. Jadi ajaran yang dua ini selalu berdampingan, dan keduanya harus dipergunakan bersama-sama namun dalam urutan yang pantas dan perbedaan yang tepat (Ibid., hlm. 789; bnd. Apologi IV,257).

Menurut Luther, Firman Allah dinyatakan kepada manusia dalam dua bentuk yaitu: Taurat dan Injil, dan Taurat itu sendiri dalam dua bentuk atau ‘penggunaan’. Firman adalah satu sebagaimana Allah adalah satu, artinya ada kesatuan ilahi antara Taurat dan Injil. Hanya satu Taurat yang efektif di dalam semua zaman dan dikenal seluruh manusia, sebab Taurat itu ditulis di dalam setiap hati orang. Ketika Luther menggunakan pengertian pertama Taurat itu di dalam ‘masyarakat’ atau di dalam ‘politik’, maka hal itu harus dibedakan dari ‘Hukum Alam’ skolastik sebagai kategori metafisika. Pembedaan oleh Luther antara ketaatan ‘moral’ dan ‘spiritual’ pada Taurat menjadi tajam dan relevan di dalam – in loco justificationis – ketika keselamatan kita dipancangkan. Luther menggunakan ayat dari Yesaya 28:21, “Sebab TUHAN akan bangkit seperti di gunung Perasim, Ia akan mengamuk seperti di lembah dekat Gibeon, untuk melakukan perbuatan-Nya — ganjil perbuatan-Nya itu; dan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya — ajaib pekerjaan-Nya itu!”. Menurut Luther, Taurat itu digunakan dalam dua bagian yaitu: jika digunakan dalam kedagingan, maka ia ada di bawah Taurat, tetapi jika digunakan sebagai roh, maka ia ada di bawah Injil. Taurat dan Injil bukan untuk dua kelas manusia, melainkan bagi seluruh orang Kristen di sepanjang masa (bnd. Benjamin Drewery, “Martin Luther” dalam Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian Doctrine, hlm. 311-350).

Bab 9 menyajikan kritik teologis atas pelayanan dan konseling pastoral terhadap warga jemaat. Bab ini sebenarnya menguraikan pemeliharaan jiwa-jiwa (seelsorge) yang menjadi bagian dari teologi Luther (hlm.155). Kemudian seelsorge ini berkembang menjadi sebuah gerakan Clinical Pastoral Education (C.P.E) yang dipelopori oleh Larry E.Holst (hlm.155). Dalam Bab 9 ini kita lihat uraian tentang C.P.E.: sebuah warisan liberalisme Protestan Amerika (hlm.156), kecenderungan utama teologi (hlm.159), pembedaan permasalahan dan perhatian Lutheran (hlm.162), dan kemungkinan kembali ke asal (hlm.166).

Bagian II ini ditutup dengan pengujian-kembali atas ajaran Dua Kerajaan dari Luther (Bab 10). Menurut Braaten, ajaran Dua Kerajaan ini, sama seperti ajaran Trinitatis dan Kristologi, lahir dan berkembang di dalam perdebatan dan masih belum ada konsensus di kalangan Lutheranisme tentang penafsiran atasnya, atau bagaimana mengaplikasikan ajaran ini ke dalam situasi dan konteksnya (hlm.171).

Secara ringkas, dalam bagian II ini Braaten mencoba menguraikan dialog-dialog ekumenis tentang pembenaran dan hubungan ajaran Pembenaran dengan evangelisasi, pembedaan di antara Hukum Taurat dan Injil, pelayanan pastoral, dan keterlibatan gereja di dalam isu-isu sosial.

Sebagai catatan akhir: Pertama, salah satu keunggulan buku ini adalah upaya Braaten menjelaskan ajaran Pembenaran itu sebagai dasar berdiri dan jatuhnya gereja. Kedua, dengan mudah para pembaca akan mengerti perkembangan alur pemikiran teologi dan permasalahan yang timbul di seputar ajaran Pembenaran ini. Ketiga, kita juga akan dengan mudah melihat proses yang panjang yang dibangun untuk mengaplikasikan ajaran Pembenaran ini kepada berbagai aharan gereja agar tercapai sebuah pemahaman bersama tentang ajaran Pembenaran itu sendiri.

Ramli Harahap & Jan S. Aritonang

Catatan:

Ramli Harahap baru saja (akhir Maret 2009) menyelesaikan penulisan tesis S2/MTh di bidang Sejarah Gereja dengan judul “Pengaruh Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran oleh Iman terhadap Gereja-gereja Potestan dan Katolik di Indonesia” (258 hlm).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: