Posted by: ramlyharahap | May 1, 2009

LAPORAN BUKU:A WORLD HISTORY OF CHRISTIANITY by ADRIAN HASTINGS Cassel: The Bath Press, 1999 Bab 5-6 dan 9-10

PENDAHULUAN Buku yang berjudul A World History of Christianity ini merupakan kumpulan beberapa tulisan dari para penulis yang disunting oleh Adrian Hastings. Sebenarnya buku ini berasal dari bahan kursus tahun 1994 secara koresponden di antara Judith Longman dengan Peter Hinchliff. Menurut mereka Kekristenan itu dilihat hubungannya dengan perbedaan budaya dunia dan daerah yang terjadi di Asia, Afrika, Amerika, Australia dan Pasifik. Namun dalam bahasan ini Kekristenan itu akan dibahas di beberapa negara dan daerah yaitu: India, Afrika, Amerika Latin, serta Cina dan tetangganya.

1. INDIA Oleh: R.E.Frykenberg

“Kedatangan” atau “timbulnya” Kekristenan di India bukanlah tiba-tiba dan juga bukan sederhana. Penyebaran orang Kristen dan jemaat di India masih terus berlangsung dan berproses. Proses ini diyakini dimulai dua ribu tahun yang lalu atau kira-kira tahun 52M hingga saat ini. Injil berkembang pelan, orang-orang yang percaya juga satu persatu dan kadang-kadang secara massal. Secara sederhana, identifikasi gelombang orang Kristen tiba di India adalah: masa dulu, pertengahan dan modern yang dihubungkan dengan rasul Thomas (termasuk Babilonia/Chaldean/Orthodoks Siria), Katolik (Roma) dan Evangelis (Protestan). Secara umum orang Kristen dikenal sebagai: “Orang Kristen Thomas“, (orang Kristen yang tertua dan hampir diutamakan); kemudian “Kristen Katolik” dan “Kristen Protestan” yang masing-masing memiliki atribut yang berbeda dalam istilah normatif yang diterapkan pada orang Kristen. Misalnya orang Kristen di Malabar dan Mylapur mengatakan berasal dari pertobatan Rasul Thomas dan berbaur dalam pertumbuhan yang kompleks. Setiap yang datang kemudian membangkitkan ‘reformasi’ internal, ‘kebangkitan’, atau ‘kebangkitan kembali’.

GELOMBANG PERTAMA TIBA: KRISTEN THOMAS

Zaman Purbakala orang Kristen di India tidak mudah untuk diidentifikasi dan dipahami. Kekristenan di India memiliki tendensi memamerkan sejarah pemahaman mereka dalam perbandingan dengan penduduk lain India. Mereka memelihara itihasa-puranas dan vamshavalis mereka. Anggota keluarga harus menceritakan dan menceritakan ulang sejarah mereka sendiri. Tradisi mereka mengindikasikan bahwa Rasul Thomas datang dari laut Arab dan mendarat di pantai Malabar. Sumber ini mengindikasikan bahwa Rasul, setelah tinggal di Malabar, berlayar mengelilingi Cape Kanya-Kumari hingga Pantai Coromandel dan berhenti di Mylapur (dulu kota Madras dan sekarang Chennai); dan setelah itu diteruskan ke Cina dan kembali lagi kira-kira tahun 52M ke Malabar dan tinggal di Tiruvanchikkulam (dekat Cranganore) dan mendirikan jemaat di Malankara, Chayal, Kokamangalam, Niraman, Paravur (Kottakkayal), Palayur, dan Quilon. Akhirnya, mereka mengindikasikan bahwa mereka mendapatkan pelatihan kepemimpinan (acharyas dan gurus) dari keluarga kasta tertinggi setiap jemaat. Frykenberg memberikan data Kekristenan di India sebagai berikut: 6.850 (Brahma), 2.800 (Ksatria), 3.750 (Waisia), dan 4.250 (Sudra). Namun tidak disebutkan dari golongan yang “lain” (misalnya: Adivasis atau Dalit) yang mungkin sudah menjadi orang Kristen. Menurut Frykenberg, tradisi lisan masih membekas di hati para keluarga di Kerala bahwa pertobatan mereka waktu itu dihubungkan dengan Rasul Thomas. Bahkan Vamshavalis (sejarah silsilah) otoritas kependetaan turun-temurun sebagai kattanars (pendeta) atau sebagai metrans lokal (uskup atau penatua) – atas dasar suksesi apostolik kembali ke Thomas. Seluruh tradisi ini lebih lanjut mengindikasikan sejarah bahwa Thomas kembali ke Mylapur, barangkali tahun 69M. Mereka menceritakan bagaimana raja setempat memenjarakan Thomas, ketika uang yang dipercayakan padanya untuk mendirikan sebuah istana dibagi-bagi kepada orang miskin; dan akhirnya bagaimana saudara raja bersaksi dan tujuh ratus narapidana menerima Injil dan dibaptis. Literatur tertua yang melaporkan pekerjaan misionaris Rasul di India ditemukan dalam Kisah Thomas (Act of Thomas). Dokumen ini tidak diketahui aslinya, bahasa atau asal mulanya. Penelitian paling awal tentang dokumen ini adalah dalam bahasa Syria. Cerita itu sendiri diulangi dalam bentuk yang beraneka ragam dengan respon pada Amanat Agung. Dalam cerita ini dikatakan bahwa Abban orang Gundaphorus sedang mencari ahli bangunan untuk membangun istana baginya. Thomas adalah seorang ahli bangunan. Lebih lanjut diceritakan bahwa seorang gadis peniup seruling Yahudi menjadi petobat rasul yang pertama. Kemudian Putri Raja menyaksikan imannya kepada Kristus ketika hari pernikahan putri raja dan menolak untuk mengikuti ritual pernikahan. Raja marah hingga memasukkan Thomas dan Abban ke penjara. Suatu malam, abang raja (Gad) meninggal dan masuk sorga, memasuki istana megah yang Thomas bangun bagi saudaranya, dia memohon kesempatan untuk mengatakan pesan saudaranya dan tiba-tiba ia menjadi percaya bersama yang lainnya. Semuanya menerima tiga tanda anugerah dari Rasul: mengurapi dengan minyak (‘segel’), baptisan (‘tambahan segel’), dan perjamuan (‘roti dan anggur’ Perjamuan Kudus) (Kis.Thomas 2:22-27). Setelah hal ini, Rasul kembali memulai perjalanan dan membangun jemaat di tempat lain di India sebelum meninggal dalam kerajaan Raja Mazdai di pantai sebelah timur. Isyarat kehadiran Kekristenan mula-mula di India ditemukan dalam tulisan yang tanggalnya hanya seabad atau dua abad kemudian dari tahun 73M hari kematian Thomas yang dipelihara dalam tradisi setempat. Dari Aleksandria, seorang sarjana Yahudi dan petobat Kristen yang bernama Pantaenus diutus ‘untuk memberitakan Kristus pada orang Brahma dan para filsuf’. Menurut Eusebius, dia pergi ke India dan ‘menemukan bahwa Injil Matius telah ada sebelum dia dan sudah ada di tangan orang di sana yang telah menerima Kristus’. Apakah hal ini benar, bahwa India adalah tempat di mana Pantaenus pergi, tidak dapat ditentukan. Bukti hubungan antara orang Kristen di Parthian Persia dan di Edessa (sekarang dikenal sebagai Urfa yang modern di Turki) adalah kuat. Mengacu pada pluralisme keagamaan, pemerintah Parthia mengijinkan orang Kristen mengatur komunitas keagamaan dan menjadi kelompok minoritas yang penting di dalam Kekaisaran Persia. Mereka umumnya keluarga menengah yang agak kaya, dikenal dari obat-obatan mereka, pengetahuan dan posisi yang terpercaya di dalam pemerintahan. Edessa adalah ibu kota dari sebuah negara kecil yang diperintah seorang pangeran yang dikenal sebagai Osrhoene yang berada di antara kekaisaran Roma dan Parthia. Setelah pengumuman resmi Edik Toleransi Yezderd (kira-kira tahun 401), Gereja Persia menikmati masa restorasi. Hal ini bisa tercapai pada masa pemerintahan Catholicos Isaac, ‘Metropolitan Agung dan Kepada Seluruh Uskup’. Tetapi terjadilah perpecahan yang mendasar antara orang Kristen Barat dan Timur. Para teolog di Edessa hingga Kekaisaran Sassania, melewati batas Byzantium, menolak Konsili Efesus dan berpandangan Maria sebagai ‘Theotokos’ atau ‘Ibu Allah’. Setelah tahun 431, hubungan dengan Barat menjadi melemah dan patriarkha Babilonia atau ‘Gereja Timur’ mempengaruhi orang Kristen di Persia dan India. Menurut Frykenberg mengapa Kekristenan menghilang dari Persia (dan juga dari sebagian Arab) tidak bisa terjawab dengan tuntas. Namun menurutnya paling sedikit ada dua faktor yang menyebabkan Kekristenan itu menghilang dari Persia. Pertama, bentuk bahasa Kekristenan baik Syria maupun Persia hanya dipakai di antara pemimpin gereja dan orang percaya yang sudah dibaptis. Bahasa Gereja, yaitu bahasa Syria (sebuah bentuk Aram), menjadi bahasa eksklusif yang terus dipelihara dan dipelajari. Di Persia dan di daerah lain ke timur, bahasa Syriac bukanlah bahasa umum masyarakat. Dengan demikian banyak orang akhirnya tidak mengerti dan buta huruf. Kedua, Kekristenan di Timur menjadi meningkat, bukan karena dipengaruhi karakter biarawan dan selibat dalam ajaran-ajaran normatif sosial. Konsekuensinya sangat sedikit diketahui tentang kehidupan sehari-hari orang percaya Kristen di Persia atau di daerah timur lainnya. Orang bijak Persia, Aphrates, menulis pada permulaan abad keempat bahwa orang Kristen di sana di bagi dalam dua kelompok : ‘Keturunan Perjanjian’ (Bar Qiyama) dan ‘Orang-orang Petobat’ yang menekankan hanya orang yang memiliki asketik dan hidup selibat yang dapat dibaptiskan. Namun sangat ironis menurut Frykenberg bahwa setelah Islam masuk ke Persia, baik Kristen dan Zoroaster menjadi terpinggirkan. Hanya orang Kristen Armenia yang bertahan di daerah utara dan barat. Dari perspektif orang India, proses yang orang Kristen lakukan, baik sebagai pengungsi atau pendatang yang menetap dan pedagang yang telah tiba di pantai-pantai sebelah barat India dari beragam waktu dan abad baik sebelum maupun setelah kebangkitan Islam, dapat didokumentasikan. Misalnya dapat dilihat dari pengabulan tanah dan hak istimewa yang diterima oleh orang Kristen. Sebuah tradisi mengindikasikan bahwa pada permulaan tahun 293 penganiayaan besar terjadi di dalam Kerajaan Chola di mana 76 keluarga lolos ke Malabar dan diam di antara orang Kristen Quilon. Tahun 345 tidak lama setelah penganiayaan besar orang Kristen di Kekaisaran Persia dimulai, komunitas orang Kristen Siria mendarat di pantai Malabar di bawah pimpinan pedagang bankir Armenia yang bernama Thomas dari Kana. Proses pemisahan di antara Timur dan Barat yang meningkat setelah kebangkitan dan ekspansi Islam membawa banyak pengungsi Kristen menyeberang ke Pantai Arab, yang terbebas dari penganiayaan. Pada abad kedelapan belas di Kottayam diindikasikan bahwa dana bantuan diberikan oleh seorang raja yang bernama Veera Raghavan Chakravarthi kepada pemimpin Kristen yang bernama Eravi Korthan. Yang lain menyatakan empat tempat (dikenal sebagai Tarisa Palli tempat [Kristen Persia], dua di Thiruvalla dan tiga di Kottayam) menunjukkan bahwa hak istimewa itu diberikan oleh Aryan Aigal dari Venad kepada Marwan Savriso dari Tyre pada permulaan abad selanjutnya (kira-kira 825) dan kemudian bahwa raja Ayyan dari Vencat memberikan hak istimewa kepada Tarisa (Orang Kristen Persia), Anjunannam (Yahudi), dan Manigrammam (anggota serikat pekerja buruh yang menjadi Kristen). Dengan demikian, menurut Frykenberg jelaslah bahwa perbedaan komunitas orang Kristen yang berkembang dengan perlahan di Malabar menjadi banyak karena daerah tersebut termasuk elit bangsawan. Dalam abad berikutnya menurut Frykenberg, ekpresi Kekristenan mula-mula ini ditemukan di mana saja di subkontinen (provinsi), baik bentuk idiologi maupun institusional. Paling sedikit ada enam komunitas (masyarakat) yang masih mengklaim tradisi apostolik St.Thomas sebagai dasar sejarah baik dalam sejarah asli maupun bagi ajaran mereka dan juga otoritas kegerejaan. Keenam komunitas yang ditemukan saat ini adalah Gereja Orthodoks Syria (dalam dua cabang), Gereja Independen Syria Malabar (Kunnamkulam), Gereja Mar Thoma, Gereja Katolik Malankara (Ritus Syrian), Gereja (Chaldea) Timur dan Gereja Evangelis St.Thomas.

RESPONS PADA MASA PADROADO DAN PROPAGANDA FIDE

Sejarah umat Kristen di Timur dan di India, sejak masa penaklukan Mongol hingga abad-abad selanjutnya adalah sungguh cerita respons asli dari ekspansi Eropa (Farangi/Parangi) terhadap dunia Indo-Islam – militer, perdagangan dan misionaris. Sementara itu masih banyak orang Kristen ‘Nestorian’ di antara orang Turki nomaden di Asia Tengah berdasarkan laporan Marco Polo. Di bawah kekuasaan Indo-Islamik, orang Kristen Armenia pindah bersama jalur perdagangan dan tinggal di pusat-pusat pasar. Hanya setelah kejatuhan Konstantinopel tahun 1453 dan kedatangan orang Portugis di Calicut tahun 1498, informasi tentang orang Kristen dan institusi Kristen di Timur meningkat. Estado da India Oriental Portugis belum pernah terjadi. Tahun demi tahun armada-armada membawa ribuan tentara Farangi. Kekaisaran maritim Portugal mempertahankan stasiun-stasiun – direntangkan di sepanjang pantai Lautan India dari Mozambique dan Mombasa ke Muscat, Mumbai (Bombay), Kolombo, Maluku dan Macau. Para tentara yang tinggal di sana menikah dengan gadis-gadis setempat. Bentuk masyarakat keturunan Indo-Portugis masih ada saat ini. Setelah penggabungan Portugis oleh Paduka Spanyol sebagai kekuatan militer di Timur menyusut, akibatnya ‘kekaisaran bayangan’ tinggal di dalam spiritualitas dan juridiksi kegerejaan atau padroado (pendukung/majikan raja). Kekuatan institusi Padroado aslinya diberikan paus selama abad kelima belas. Banyaklah orang Kristen Eropa (Farangi) di India memanifestasikan derajat luar biasa dengan adaptasi transkultural – secara individu, ideologi dan institusional. Dari misionaris biarawan dan imam-imam pergi ke seluruh kota memenangkan jiwa dan menyebarkan Injil. Proses penginjilan dan ekspansi ini sering terjadi. Pemimpin Kristen India dari Cochin dipanggil Vasco da Gama tahun 1502, pada perjalanan kedua ke India, meminta perlindungan dari Islam dan predator ‘kafir’ agar orang Kristen tidak musnah. Dengan demikian hubungan orang Kristen Eropa dan Kristen India menjadi baik dan bahagia. Ternyata harmoni Eropa dan India ini tidak bertahan lama. Baik orang Eropa dan orang Kristen Thomas saling membutuhkan, karena keduanya golongan minoritas di dalam wilayah yang luas dan lingkungan yang tak bersahabat, begitu banyak komplikasi, persaingan dan motif-motif yang bercampur di dalamnya. Salah satu ialah Islam diusir dari pantai-pantai Lautan India, sehingga orang Eropa menjadi makin tegas dan memaksa tinggal di sana. Tanda pertama dalam masalah ini adalah kesalahpahaman dalam bidang bisnis dan praktik ritual. Orang Eropa digoncang oleh orang Kristen India, sebab banyak dari antara mereka menghubungkan ide-ide ’Orang Nestorian Sesat’ yang dipelihara Gereja di Timur dengan belajar kekudusan dan ibadah dalam bahasa Syria. Orang Kristen Thomas menolak Bunda Maria sebagai ’Ibu Allah’ tetapi hanya sebagai ’ibu Kristus’. Orang Kristen India juga menolak untuk menyembah patung-patung. Setidaknya hingga kematian Mar Jacob (Metran 1504-1549/52), persetujuan penampilan perilaku sopan dan protokol ibadah diamati. Setelah itu, kesalahpahaman kegerejaan, perdebatan dan skisma mulai terbuka. Menurut Frykenberg, begitu komplek persoalan mereka sehingga sulit untuk diklarifikasi dan dimasuki. Orang Kristen Thomas yang merupakan bagian Gereja Timur menderita dari perjuangan dan skisma mereka sendiri. Mar Joseph mengangkat dirinya sendiri sebagai Metran yang tertinggi. Dipengaruhi kekesalan orang Kristen India, dia tidak mengakui ritus Latin, menegaskan kembali kesetiaannya kepada Gereja Chalsedon dan membaharui dirinya kembali ke jalan lama, melepaskan mandat konfesi, menghukum gambaran ibadah yang berisikan bahwa Maria dikenal sebagai Ibu Kristus dan bukan sebagai Ibu Allah. Akibatnya, dia dikejar dan ditangkap, dikirim ke Cochin, Goa dan Lisbon untuk diindoktrinasi dan kemudian mengijinkannya kembali ke India pada tahun 1565. Gereja India juga menghadapi skisma, Mar Joseph kembali ke Portugis. Sementara Portugis telah menangkap Mar Abraham dan mengirimnya ke Eropa, gagal untuk mencegah pelariannya ke Antiokia. Di sana ia ditolong oleh Patriarkh, Mar Ebed Jesu (Abdiso), Mar Abraham sendiri dikirim ke Roma. Kedua Patriarkh dan Paus yang bergabung bersama dalam mengirim Mar Abraham ke India, memberi Mar Abraham otoritas untuk membagi kesatuan orang Kristen Thomas (Serra) di antara dua metran, Mar Abraham dan Mar Joseph. Tetapi pengaturan baru ini tidak pernah dilakukan. Mar Joseph sudah ditangkap lagi untuk ketiga kalinya, mengirimkannya ke Roma (di mana dia mati tahun 1569). Mar Abraham, telah mencapai Goa tahun 1568 dengan surat dari Paus dan Patriarkh di tangan. Dengan demikian Mar Abraham semakin berkuasa di India dengan Padroado yang diputuskan tahun 1575 bahwa Serra tidak akan pernah lagi dipegang oleh orang yang diangkat Patriarkh Chalsedon dan bahwa tidak ada Metran Ankamali (Uskup seluruh orang Kristen Thomas). Mar Abraham pada waktu itu mengirimkan konfesi iman khusus kepada Paus Gregorius XII dan mengirimkan peringatan kepada Patriakh Mar Abdiso. Akhir krisis orang Kristen Thomas India dimulai tahun 1590 dan diakhiri dengan perlawanan, penaklukan dan penyerahan bagian orang Kristen pada Sinode Diamper, 20-26 Juni 1599. Persoalan memuncak ketika Mar Abraham menolak untuk menahbiskan 50 murid praktek di Seminari Yesus di Vaipikkottai. Sekolah seminari ini didirikan tahun 1587 yang dipimpin oleh Francis Roz menggabungkan pelajaran Malayalam dan bahasa Syria dengan Latin dan Portugis, membandingkan teologi dan liturgi Chaldea dengan teologi Roma. Mar Abraham menolak panggilan untuk menghadiri Konsili di Goa. Paus Klement VIII kemudian mengukuhkan Alexis de Menezes menjadi Uskup kepala Goa, untuk menanyakan persoalan dan menjaga orang Metran. Lebih lanjut, paparan Frykenberg ini menyatakan bahwa orang Kristen Thomas tidak menginginkan orang Farangi untuk memerintah mereka. Tahun 1653, mereka membuat usaha baru untuk membawa uskup dari Babilonia, Diabekr atau Aleksandria. Ketika hal ini digagalkan, sehingga membangkitkan rasa marah kattanars dan mereka berkumpul dalam sidang hikmat di Koonen Cross Mattanceri tanggal 30 Januari 1653. Kemudian di Vaipikkottai dan Manat setelah itu berkumpul untuk mendeklarasikan bahwa mereka tidak akan menerima setiap uskup Frangi atau metran dari luar Gereja Timur. Akhirnya di tengah dukungan yang banyak, Parambil Tumi (Deakon kepala Thomas) mengambil jabatan Mar Thoma I dan menjadi orang India pertama pribumi menjadi uskup kepala. Propaganda Fide di Roma memutuskan untuk mengirimkan empat misionaris Carmelit untuk memperbaiki situasi tersebut. Tetapi ketika mereka tiba dan melihat bahwa mereka tidak dapat melakukan apa-apa tanpa memiliki otoritas resmi dari paus, akhirnya mereka kembali ke Roma melaporkan hasil pengalaman mereka. Setelah itu, baik Padroado maupun misionaris Roma tak pernah lagi memakai kekuasaan mereka atas orang Kristen India. Uskup Joseph diberikan waktu 10 hari meninggalkan India, dan menguduskan uskup orang India, Parampil Chandi Kattanar (Aleksander de Campos) sebagai Metran tertinggi bagi orang Kristen Thomas. Selanjutnya Frykenberg memberikan bahasan lain tentang pengaruh orang Kristen Farangi di India selama ’masa jaya’ (high moon) Indo-Islam di sub-benua yang diduga sukses. Frykenberg juga membahas kekristenan di daerah Parava di sepanjang Teluk Mannar dari Vembar (dekat Rameswaram) ke Kanya Kumari (Cape Comorin). Mereka adalah pemancing, penyelam mutiara dan pedagang burung laut. Mereka hanya orang Kristen nama saja (Kristen KTP). Bentuk ibadah mereka masih seperti agama Hindu. Mereka kemudian mengetahui iman baru ketika Fransiskus Xaverius mendarat di ”Pantai Pemancing”. Ketika Francis Xavier meninggalkan Maluku bulan Agustus 1545, para misionaris dan imam meneruskan apa yang telah dilakukannya. Salah seorang di antaranya adalah Antony Criminali terbunuh ketika dia mencoba berkhotbah kepada peziarah dekat Rameswaram. Secara perlahan budaya orang Kristen berkembang namun masih memelihara jat atau budaya ’kelahiran’ bagi Paravas. Berbeda dengan Francis Xavier, Roberto de Nobili melakukan bentuk kesucian dan Sanskrit klasik dan bahasa, literatur dan adat serta pengetahuan Tamil. Roberto de Nobili menjadi ’Brahmana Roma’. Selama lima puluh tahun, paling tidak hingga kematiannya di Mylapur tahun 1656, dia membangun tradisi yang luar biasa.

EVANGELIKAL (PROTESTANISME) DAN GERAKAN PENCERAHAN

Setelah Portugis tiba tahun 1498 dan mendirikan Estado da India, pemerintah Katolik di bawah Padroado Goa menikmati otonomi yang luas dari Roma dan juga Lisbon. Dari biara para misionaris pergi ke daerah pedesaan, memenangkan jiwa dan memperluas daerah pelayanan, merangkul seluruh masyarakat di sepanjang pantai selatan dan mempelajari tradisi mereka. Misionaris Evangelis Jerman (Denmark – Ziegenbalg) tiba di Tranquebar tahun 1706. Sambil mempelajari situasi, mereka juga melakukan perubahan secara radikal. Kemudian setelah kedatangan William Carey ke Bengal tahun 1793, interaksi transkultural dan perpindahan orang ke agama Kristen meningkat. Hal ini menjadi tantangan bagi budaya Hindu dan Islam bahkan bagi Kongres Nasional India yang dipimpin Gandhi dan Nehru dan seluruh Liga Islam India yang dipimpin Jinnah. Menurut Frykenberg yang menandai kehadiran pemikiran Pencerahan dan Pietisme Protestan di India adalah dengan diutusnya dua pemuda Jerman sebagai penginjil pertama (bukan Katolik atau Protestan). Keluar dari penderitaan Perang 30 Tahun muncullah Gerakan Pietis dan Kebangunan Evangelikal Inggris dan Amerika. Para Pietis Moravian yang berhasil melarikan diri dari penganiayaan tersebut misalnya; Count Zinzendorf berlindung di pengungsian Herrnhut; Profesor August Hermann Franke yang menjadi pengajar di Universitas Halle, Ratu Anne Inggris dan Raja Frederick IV Denmark. Mereka inilah yang dikenal sebagai tenaga sukarela ekumenis yang membentuk lembaga misi internasional seperti Lembaga Promosi Pengetahuan Kristen (Society for Promoting Christian Knowledge – SPCK) tahun 1698, Lembaga Penyebaran Injil ke Luar Negeri (Society for the Propagation of the Gospel in Foreign Parts – SPG) tahun 1702, dan Misi Raja Denmark (Royal Danish Mission) yang didukung oleh SPCK. Berdirinya lembaga-lembaga ini menandai lahirnya gerakan misi modern yang bertumbuh dan berkembang di seluruh dunia. Lembaga misi ini jugalah yang membawa pendidikan dan ilmu pengetahuan serta teknologi yang dikembangkan di Halle sehingga membawa perubahan pada masyarakat. Diktum Francke mengajarkan bahwa kepercayaan yang benar adalah kepercayaan yang alkitabiah artinya kepercayaan alkitabiah tanpa kemampuan membaca dan menulis adalah sesuatu yang tidak mungkin. Sehingga kemampuan baca-tulis dan pendidikan secara menyeluruh menjadi sesuatu yang mendasar sekali dalam Amanat Agung. Bukan hanya setiap manusia, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, harus dapat membaca Alkitab dalam bahasanya sendiri, tetapi Francke juga percaya, setiap pribadi seharusnya memiliki beberapa keahlian. Frykenberg mengatakan bahwa kaum Kristen Protestanlah yang pertama sekali tiba di India pada bulan Juli 1706, dengan mendaratnya Bartholomaeus Ziegenbalg dan Heinrich Plutschau di Tranquebar (atau Tarangambadi). Pelayanan Denmark ini dekat dengan wilayah Kaveri Delta yang telah disewa dari Raghunat Nayaka di Thanjavur tahun 1620. Para misionaris yang telah dilatih di kampus mulai bekerja dengan mengajar anak-anak orang Eropa di rumah mereka. Sementara melakukan pekerjaan ini, mereka juga secara sistematis meningkatkan kemampuan mereka untuk tugas-tugas lain misalnya: belajar bahasa setempat, mendirikan sekolah-sekolah (sebanyak-banyaknya jika memungkinkan), termasuk seminari (sekolah pendeta) untuk pelatihan guru-guru Tamil, menerjemahkan buku-buku sekolah (termasuk buku Alkitab dan ilmu pengetahuan) ke dalam bahasa Tamil, mendirikan percetakan. Mulailah berdiri jemaat kecil Tamil. Murid-murid Tamil dididik sebagai pengajar katekisasi, pendeta dan guru bagi mereka yang telah menjadi Kristen dan menunjukkan kemampuan dan kersediaan untuk membantu pelayanan. Untuk menyempurnakan semua hal ini, Bartholomaeus Ziegenbalg telah melakukan tugasnya hingga perlawanan gubernur Tranquebar pada Perusahaan Denmark di India Timur. Ketika perjalanan pulang Plutschau ke Eropa tahun 1711 yang gagal, Ziegenbalg sendiri memutuskan untuk pergi dan meminta bantuan. Perjalanannya berhasil dan dirinya dinamai dengan Provost Misi Tranquebar. Ziegenbalg kembali ke Tranquebar dengan Maria Salzmann istrinya dan dia menyelesaikan pembangunan Gereja Yerusalem yang luas dan cantik tahun 1707. Namun secara tiba-tiba, datanglah surat yang menghancurkan para misionaris dari pemimpin baru yang berpikiran sempit, Christopher Wendt. Akibatnya, Ziegenbalg meninggal pada permulaan tahun 1719 pada usia 36 tahun. Empat bulan kemudian, tibalah misionaris yang baru, Grundler, sahabat dekat Ziegenbalg yang memiliki keahlian, namun hanya beberapa bulan saja, ia pun menyerah. Frykenberg lebih lanjut mengatakan bahwa pekerjaan Ziegenbalg sungguh luar biasa. Ziegenbalg menjadi guru bahasa Tamil, baik bahasa klasik maupun bahasa setempat, menggunakan perbandingan di antara manuskrip-manuskrip daun palma dalam koleksinya yang banyak dan tiga ratus buku-buku untuk memastikan macam-macam tumbuhan dan kata-kata idiom-idiom. Ziegenbalg juga mengajar orang Tamil untuk bisa mendapat tahbisan. Dialah sarjana pertama yang menyempurnakan terjemahan PB ke dalam bahasa Tamil yang dicetak di Tranquebar tahun 1715. Karyanya yang terkenal adalah Silsilah Ilah-ilah Malabarian (Genealogy of the Malabarian Gods) yang diselesaikan tahun 1713. Frykenberg juga menjelaskan masa di antara tahun 1728 dan 1731, di mana ada model sekolah baru yang menarik perhatian Rajanayakam, yaitu servaikaran atau kapten penjaga tempat di Thanjavur. Dia dan saudaranya, dengan para tentaranya menjadi alat untuk membawa satu dari pendidikan sekolah ini agar mendirikan rumah doa di dalam kerajaan dan mendapatkan dukungan. Aaron segera menjadi pelayan Gereja Evangelikal Tamil pertama ditahbiskan yang memulai melayani di jemaat-jemaat desa di dalam kerajaan; Rajanayakam juga menjadi seorang guru. Dengan demikian, persekutuan Evangelikal di India terdiri dari enam orang Eropa (terutama: Lutheran Jerman), dosen katekisasi pendeta-guru Tamil (Savarimuthu) dan lima belas ribu orang percaya. Frykenberg juga mencatat para pengganti Ziegenbalg yang datang ke India seperti: Benjamin Schultze (1719; Madras/Chennai: 1727-1743) dan Philip Fabrcius (Madras/Chennai: 1740-1790). Schultze bekerja di Telugus, membuat kamus dan menciptakan tata bahasa, mengumpulkan naskah-naskah dan menerjemahkan Injil-Injil. Fabrcius bekerja untuk menyempurnakan apa yang telah dimulai Ziegenbalg, menyempurnakan tata bahasa Tamil (dalam bahasa Inggris), membuat kamus Inggris-Tamil, menerjemahkan bagian-bagian PL, dan merevisi seluruh isi PB. Bahkan Frykenberg berpendapat bahwa penginjil yang termashur dari seluruh misionaris Eropa yang datang ke India pada abad kedelapan belas adalah Christian Frederick Schwartz (1750-1798). Nama Christian berdiri sejajar dengan Xavierus, Nobili, Beshi dan Ziegenbalg. Selama lima puluh tahun, orang Kristen India pindah ke India Selatan – dari Tranquebar ke Tiruchirapalli, ke Thanjavur, ke Tirunelveli dan bahkan ke Kanya Kumari dan Travancore. Christian fasih dalam bahasa Tamil, Telugu, Marathi, Persia, Sanskrit, Portugis dan bahasa Eropa, baik dalam bahasa modern dan klasik, termashur sebagai pengkhotbah, pendidik, berdiplomasi, bernegosiasi dan seorang negarawan. Frykenberg akhirnya menguraikan kisah perjalan dua orang murid Kristen India yang meneruskan penginjilan tersebut seperti: Satyanathan Pillai dan Vedanayakam Sastri. Satyanathan Pillai merupakan murid Schwartz yang sangat aktif dan enerjik. Tugas pertamanya adalah sebagai pendeta pada kamp pasukan militer di Vallam, tujuh kilomenter dari Thanjavur. Pelayanan Satyanathan Pillai di tempat ini sangat menggembirakan karena jemaat di sana kembali hidup dan bahkan seorang janda kaya dari suku Brahmin di Palayamkottai yang bernama Clorinda dibaptiskan. Kemudian ditempatkanlah pendeta di sana yang bernama Rayappan yang membimbing jemaat dan membina sekolah (baik sekolah berbahasa Inggris dan Tamil). Setelah itu, Schwartz menempatkan Satyanathan Pillai sebagai pendeta dan guru. Setelah ditahbiskan di Thanjavur Pada tahun 1790, Satyanathan Pillai menjadi misionaris Tamil SPCK secara formal dan diutus kembali ke Tirunelveli. Dari seluruh pembantu Schwartz yang terkenal adalah Vedanayakam Sastri yang lahir di Palayamkottai, anak dari Devasahayam Pillai. Pada tahun kedua belas, Schwartz meminta agar Devasahayam mengijinkan Vedanayakam Sastri dilatih di Thanjavur. Segera setelah itu Vedanayakam menjadi guru, penulis dan kepala sekolah salah satu di antara tiga sekolah modern yang didirikan Schwartz. Sekolah ini didukung oleh Raja Thanjavur, Shivaganga dan Ramnad sehingga sekolah tersebut dikenal sebagai contoh pendidikan yang terbaik. Vedanayakam juga memiliki banyak kontribusi pada literatur-literatur Tamil khususnya pada pemikiran Kristen Tamil. Jejak Vedanayakam diikuti juga oleh H.A.Krishna Pillai.

TANTANGAN-TANTANGAN PADA MASA RAJ

Kekristen India pada abad kesembilan belas dan kedua puluh menjadi lebih penting dari pertumbuhan kegiatan misionaris Eropa dan oleh kehadiran sistem kekuasaan militer, administrasi dan teknologi. Belum lagi di bawah pengaruh Raj, masukan yang dibuat oleh orang Kristen India sendiri untuk mengembangkan institusi mereka berlanjut menjadi gawat seperti yang sudah pernah terjadi. Sebagaimana sebelumnya, setiap gelombang perluasan Kekristenan selalu membawa perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan tersebut sering sangat radikal, khususnya seperti Injil diterjemahkan dalam cara baru dan dilanjutkan kepada orang baru, baik dari masyarakat terendah, di hutan, atau bagi kaum perempuan dan anak-anak. Gagasan kemanusiaan yang radikal dan pengharapan masyarakat bahwa seluruh manusia – laki-laki, perempuan, dan anak-anak – harus dipandang sama terhadap yang lain, paling tidak di hadapan Allah, dan mereka seharusnya diberikan hak yang sama dalam pemeliharaan dan kebutuhan pokok – seperti obat-obatan, pendidikan dan kesempatan. Ketidak-ramahan terhadap orang Kristen di India, dan kepada misionaris asing, telah menjadi tindakan yang menonjol, setidaknya kebijakan pada masa pemerintahan Pemerintah India. Posisi ini, berdasarkan pandangan yang jelas dan dugaan yang rasional dari kekuatan Perusahaan Raj India Timur. Segala struktur sistem kekuasaan tergantung atas dukungan dari kaum elit Hindu secara khusus kasta Brahma yang mendukung untuk mendirikan dan membentuk kelompok Hindu modern. Ketidak-ramahan terhadap orang Kristen dan misionaris asing dapat dilihat meskipun warga setempat, kadang-kadang memberikan pengecualian-pengecualian khsusus. Dan bahkan orang Kristen dan misionaris asing (baik Katolik dan Protestan) dimanfaatkan sebagai pendeta tentara, guru sekolah atau agen rahasia diplomatik (misalnya: dengan mengirimkan Schwartz ke Tipu Sultan). Namun Frykenberg juga mencatat bahwa ada juga orang Kristen yang mendapat perlakuan yang baik. Kecuali mati martir (seperti: John de Britto SJ, di Ramnad), orang Kristen India dan misionaris asing ada juga yang mendapatkan perjalanan yang baik, menerima kebaikan dan keberhasilan (seperti : dalam pemerintahan Vellama Nayakas di Madurai, Marava Tevars dan Setupatis Ramnad dan Sivaganga, Kallar Tondaimans di Pudukottai, Maratha Rajas di Thanjavur, Nayar Raja Vermas di Travancore dan lain sebagainya). Frykenberg berpendapat bahwa pengaruh William Carey sebagai “Bapa Gerakan Misi Modern” sangat besar bagi perkembangan agama Kristen di India. Sebab William Carey dan pengikut-pengikutnya Baptis di Inggris yang pertama memprakarsai tumbuhnya tenaga sukarela di kalangan orang percaya kelas bawah yang iman Kekristenannya dibangunkan selama Kebangunan Evangelikal (atau Kebangunan Besar di Amerika). Banyak orang yang akhirnya mendukung dan mengirimkan para misionaris ke seluruh penjuru dunia. Tulisannya yang berjudul, An Enquiry into the Obligations of Christians to Use Means for the Conversion of Heathens (1792), diambil dari bagian bacaan tentang tindakan-tindakan Pietis Jerman di India. Sejak penjajah melarang bebas memasuki tapal batas Inggris, kelompok Carey berusaha mencari cara agar mereka bisa memasuki India dengan berbagai cara, misalnya bersedia dikontrak untuk mengajar bahasa orang timur di Fort William College. Tantangan lain yang dipaparkan Frykenberg, datang dari orang Kristen India. Hubungan di antara orang Kristen India penuh dengan konflik dan ketegangan. Hal ini terjadi di antara Katolik dan Protestan dan orang Kristen Thomas dan bahkan juga di antara orang misionaris yang bekerja di India. Hal yang memicu perseteruan di antara orang Kristen ini adalah akibat „mencuri domba“ di antara kelompok orang Kristen itu sendiri. Namun persoalan yang paling besar menurut Frykenberg, bukanlah persoalan „mencuri domba“, melainkan tentang pembagian dan penempatan di antara seluruh kelompok orang Kristen di India, apakah mereka orang India atau orang Barat, Katolik atau Protestan, Anglikan atau Dissenter, Mar Thoma atau Syria, konservatif atau liberal, dilanjutkan dengan masalah kasta, budaya dan akulturasi. Sehingga, sungguh sangat menyulitkan untuk menemukan sejarah Kekristenan di India sepanjang persoalan ini belum diselesaikan. Menurut Frykenberg, hal ini sangat sulit hilang dan masih akan terus perselisihan dan ketegangan ini berlangsung. Namun di sisi lain, Frykenberg menganggap bahwa kehadiran misionaris adalah menjadi agen pembaharuan dan penghancur status quo. Perubahan ini bukan hanya bagi orang Kristen sendiri tetapi juga orang non-Kristen juga merasakan perubahan itu. Dalam kaitannya dengan Raj, Raj menganggap kehadiran para misionaris di India (baik Katolik maupun Protestan) seolah-olah mereka ingin menjadikan India bagian dari Kristendom. Padahal sebenarnya, dalam kenyataannya para misionaris ini sangat mendukung perjuangan anti penjajahan. Hal ini terbukti dengan bergaul karibnya para misionaris dengan Gandhi (mulai dari Allen dan Varrier hingga Charles F.Andrews, Edward Thompson dan Amy Carmichael). Lebih jauh Frykenberg mengatakan bahwa ketika semakin banyak orang menerima Kekristenan dari masyarakat Telugu pada akhir abad kesembilan belas, sekali lagi kesadaran kasta terjaga dari percampuran Malas dan Madigas. Para misionaris sebagai agen perubahan, memahami prosedur dan nilai-nilai penting bagi kemajuan Raj atau membantu untuk menjaga orang Kristen ketika gangguan hukum dan hubungan dengan Hindu atau Islam terjadi. Mereka tidak pernah dipecahkan oleh permasalahan budaya kasta. Sebagaimana abad kesembilan belas berakhir, beberapa misionaris liberal secara teologis dibingungkan oleh perubahan dengan peradaban sebagai tujuan yang berguna dan kemudian meninggikan dan menyanjung peradaban Brahmana. Di antara misionaris terpelajar kelas atas, seperti William Miller dari Perguruan Tinggi Kristen Madras yang mengajarkan teori ‘penyaringan ke bawah’ digantikan oleh ‘pemenuhan ke atas’ sebuah alasan untuk menjelaskan mengapa orang Eropa tidak efektif membawa perubahan di antara kasta tertinggi India. Kinerja orang Kristen tidak begitu banyak merubah masyarakat India dengan nilai-nilai Kekristenan. Perubahan yang lebih nyata kelihatan adalah pada masa J.N.Farquhar. Sejak itu seluruh agama-agama dan Hindu berusaha mengembangkan dialog dan pemahaman yang sama dengan para misionaris. Pemikiran seperti ini dikenal dengan ‚teori pemenuhan’ di Barat misalnya pada Parlemen Agama-agama Dunia di Chicago tahun 1892 dan Konferensi Misionaris Dunia di Edinburgh tahun 1910. Dengan demikian, mulailah terjadi kemajuan bagi kalangan orang Kristen India. Di Bangladesh dan India Utara, di mana di sana orang Kristen sangat sedikit dan di mana orang Kristen Brahma, Anglikan Krishna Mohan Banerjea, berargumentasi tahun 1875, bahwa orang Hindu dapat menjadi Kristen tanpa melepaskan budaya atau tradisi sosial mereka; Kali Charan Banerjea, dalam Calcutta Christo Samajnya (dimulai tahun 1887), memerlukan baik liturgi maupun imam; dan Upadhyaya, seorang Katolik Brahma, memakai jubah kuning. Di Maharashtra, Narayan Vaman Tilak, seorang puitis Kristen Brahma, mendirikan sebuah ashram Kristen tahun 1917 dan seorang Anglikan Christa Seva Sangh (Pelayanan Masyarakat Kristen) dibangun. Di Madras (Chennai), Gereja Nasional didirikan tahun 1886 yang hanya bertahan hidup hingga tahun 1920-an. Tetapi ketika mereka katakan bahwa Kekristenan di India seharusnya menjadi di dalam budaya India, beberapa pemikir kemudian berkata lain, kadang-kadang kurang lebih ortodok dari apa yang dipikirkan Vedanayakam Sastri atau Roberto de Nobili, walaupun mereka menggunakan kata yang sama. Namun masih ada juga misionaris yang datang dengan gaya konservatif dan pragmatis dari tingkatan terendah Amerika, Inggris dan masyarakat Eropa yang bekerja dengan budaya yang berbeda. Akhirnya, orang yang tidak terikat adat yang radikal ini, menerima kritikan yakni Methodis di Inggris tak begitu lama menjadi atau menjangkau kelas pekerja tetapi menjadi kelas menengah. Bagi mereka dan bagi orang-orang lain, liberalisme teologi adalah masalah yang serius daripada kasta dan budaya. Banyak misionaris, dari negara mana pun, mengkritisi mereka yang gagal membawa Injil dan yang hanya melayani kelas kasta tertinggi Hindu bagi keuntungan karir sementara, pada waktu yang sama, mengabaikan keadaan buruk dari orang-orang Kristen kalangan kasta rendahan dan gagal menolong mereka untuk mengatasi ketidakmampuan budaya, ekonomi, dan sosial. Berbeda dengan Bala Keselamatan yang tiba tahun 1880-an yang melepaskan pakaian, makanan, peralatan, dan bahkan musik Eropa, dan memakai nama-nama Kristen India dan mengadopsi banyak elemen budaya India untuk identitas mereka. Maka Pdt.Ramabai, janda Brahma, telah menjadi Kristen saat dia di Inggris. Teologi liberalisme juga menghadapi tantangan dengan pemikir misionaris Kristen konservatif, seperti Hendrik Kraemer, seorang teolog Belanda yang bekerja di Indonesia. Menurut Hendrik, iman Kristen bukanlah buatan manusia tetapi pemberian Allah. Seluruh agama, bahkan elemen yang ditemukan dalam Kekristenan, hanya berasal dari manusia.

MANDIRI SEJAK 1947

Sejak Pemisahan tahun 1947 dan permasalahan India, Pakistan dan Bangladesh, misionaris dari luar negeri hampir menghilang. Gerakan keagamaan dan sosial radikal, diikuti oleh transformasi budaya silang dibangkitkan di dalam lingkungan Hindu-Islam atau orang India, melanjutkan dengan segera bersama dengan sebuah kompetisi fundamentalis dan kebangkitan entusiasme (Buddha, Kristen, Hindu, Islam dan Sikh). Kemerdekaan India tahun 1947 membawa banyak tuntutan bagi orang Kristen di India dan Gereja-gereja. Sehingga Gereja-gereja Anglikan, Kongregasionalis dan Methodis di India pun menyatu dalam bentuk Gereja India Selatan yang diprakarsai oleh Bishop V Azariah yang meninggal tahun 1945. Namun Gereja India Utara dan Gereja Protestan Pakistan pada tahun 1970 tidak begitu menyatu dan kuat. Baptis dan Lutheran, bersama gereja Anabaptis dan Gereja Bebas, dilarang membentuk organisasi mereka sendiri-sendiri. Hal yang sama juga terjadi bagi enam hingga sepuluh gereja Syria dan persekutuan orang Kristen Thomas di Kerala. GKR terus berjuang dengan menyimpang dari Padroado, dan perjuangan ini pecah setelah masa pendudukan India di Goa tahun 1961. Portugis tidak mungkin lagi melanjutkan otoritas kegerejaan di dalam kemerdekaan India. Ketika Bishop terakhir di Cochin pensiun tahun 1952, kebencian di antara orang Kristen kasta tinggi dan kasta rendah membuat gereja itu pecah menjadi dua keuskupan. Sehingga sejak itu, Gereja Katolik India mejadi tiga bagian. Pertama, adalah bagaimana mengimplementasikan dekrit Konsili Vatikan II (1962-1965), yang mendorong adaptasi dan pluralisme, khususnya dalam hubungannya dengan liturgi. Kedua, hubungan di antara Katolik Latin pada satu sisi dan Katolik di dalam Gereja Syro-Malabar dan Syro-Malankara pada sisi lain. Ketiga, adalah perkembangan orang Kristen seperti Jules Monchanin, Abhishiktananda dan Bede Griffith. Gereja Katolik India unik di belahan selatan khususnya jumlah imamnya, baik dalam keuskupan dan keagamaan. Berbeda sekali dengan Gereja di Filipina dan Amerika Latin dan Afrika. Jika secara umum jumlah Yesuit menurun di dunia, maka di India mereka bertumbuh dengan luar biasa. Bahkan India mampu mengutus para misionaris ke Korea Utara. Kekesalan dan kecurigaan tetap ada. Nasionalis Hindu masih beranggapan bahwa orang Kristen India adalah milik kekuasaan orang luar. Bahkan pemerintahan Madhya Pradesh melaporkan orang Kristen India adalah anti-nasionalisme – yang berada pada pengaruh Amerika. Sehingga sejak permulaan Kekristenan di India, Hindu menyerang gerakan ‚perpindahan agama’ (proselytizing activities). Ketidak-ramahan kepada orang Kristen begitu kuat. Bangunan-bangunan Gereja dihancurkan di berbagai tempat dengan dalih bahwa bangunan tersebut adalah bangunan penjajah. Orang Kristen India di beberapa wilayah diserang dan dibunuh, dianiaya dan disiksa. Respons orang Kristen terhadap situasi tersebut adalah bermaca-macam. Gerakan Katolik Shoreline, lebih menonjol dan siap mempertahankan ‚daerah kekuasaan’ mereka sendiri. Yang lain, seperti Mennonit, diam-diam, dan kadang-kadang mereka bermuka dua. Di sisi lain, beberapa orang Kristen menikmati situasi hak istimewa sosial. Banyak orang Kristen Thomas di Kerala, sebuah negara bagian yang tetinggi pengetahuannya di seluruh India, menikmati posisi mereka di pemerintahan, dunia bisnis dan dunia profesionalisme. Di Nagaland (dekat perbatasan Cina, matanya sipit), di mana di atas 95% penduduknya Kristen, mereka menduduki seluruh posisi tertinggi di daerahnya. Berlawanan dengan hal tersebut di atas, orang Kristen yang berasal dari kelas orang termiskin, masih banyak tinggal di daerah pedesaan dan ‘daerah yang tak tersentuh’. Secara hukum mereka disebut dengan „Scheduled Caste“, „Backward Castes“ dan „Other Backward Castes“. Namun secara politik mereka bukan disebut seperti golongan tadi namun mereka disebut sebagai “orang Kristen” dan bukan “Hindu”. Dengan demikian ada dua atau bahkan tiga gerakan kekuatan orang Kristen. Pertama, Gerakan Dalit, dengan Gerakan Kristen Dalit. Dalit, artinya „hancur“ atau „lumat“ atau „ditindas“. Hal yang sama adalah gerakan di antara Adivasis, orang asli atau penduduk suku di sebelah timur laut, yang banyak di antara mereka adalah orang Kristen. Kedua, Gerakan Pentakosta yang aktif dan terkenal di wilayah perkotaan. Dan ketiga, gerakan perpindahan agama di antara bermacam-macam persekutuan.

2. AFRIKA Oleh: Kevin Ward

Menurut Kevin Ward, tradisi keagamaan yang cukup terkenal di Afrika adalah Islam, Kekristenan dan Agama Tradisional orang Afrika. Berbeda dengan ciri asli tradisi keagamaan dan inkulturasi alamiah Islam, orang Kristen Afrika sering ditampilkan sebagai sesuatu yang asing, agama orang Barat, atau para misionaris Eropa. Dan bahkan Kekristenan sangat kuat mengklaim sebagai tradisi tertua dari ketiga tradisi tersebut. Di samping itu, Lamin Sanneh, seorang sejarawan dan teolog Afrika Barat, melihat Kekristenan di dalam Afrika modern adalah sebagai gerakan penegasan dan pemeliharaan kebudayaan setempat. Hal ini menjadi kejutan yang diberikan secara luas dalam pandangan misionaris Kristen sebagai yang memandang rendah dan perusak kebudayaan orang Afrika. Bahkan, penerjemahan Alkitab ke dalam ‚bahasa Afika’ di dalam kenyataan menambah kebudayaan Afrika di dalam ciri khas dan perbedaannya, apa pun motivasi dan perhatian para misionaris. Para misionaris terlalu menekankan budaya Barat tanpa memperhitungkan pendapat orang Afrika sebagai penerima. Penekanan bahasa ibu dalam penginjilan dan ibadah khususnya di daerah perkotaan, seperti bahasa – Swahili atau Lingala, Amharinya atau Hausa, bukanlah bahasa orang Afrika.

MESIR, AFRIKA UTARA, NUBIA DAN ISLAM

Untuk memahami Kekristenan di Afrika ini, menurut Kevin harus dimulai dari pemahaman sejarah Kekristenan Afrika sejak periode pertama 600 tahun masa Kekristenan. Kekristenan tersebar di sepanjang pantai Mediterania Afrika Utara. Telah ditemukan bahasa Yunani dan Latin sebagai bahasa perdagangan dan militer, administrasi dan pelajaran, dan berita Kekristenan itu sendiri di daerah Afrika adalah: dalam bahasa Yunani asli, antara lain Athanasius dan Crylius di Mesir; Latin: Tertullianus, Cyprianus dan Augustinus di Afrika Utara; dan juga tradisi Arius (Yunani) dan Donatus (Latin). Dari permulaan sejarahnya, Kekristenan di Afrika mulai diartikulasikan dalam bahasa ibu. Di Mesir, gerakan biara adalah penting dalam memampukan kesalehan dan teologi Kristen yang diekspresikan dalam istilah budaya Koptik. St.Antonius sendiri tidak tahu ada bahasa Yunani; salah satu dari karya Athanasius yang berjudul Kehidupan Antonius yang menekankan perhatian pada gereja Yunani dan Koptik dalam menopang orang Kristen Orthodoks. Lebih lanjut Kevin paparkan bahwa pada abad berikutnya mulailah terjadi masalah yang membahayakan. Dengan penaklukan Aleksandria oleh tentara Islam tahun 641M, Islam menyebar ke seluruh Afrika Utara, lebih cepat daripada penyebaran Kekristenan yang 500 tahun lebih duluan. Islam mengambil warisan Kerajaan Roma, menggantikan bahasa Yunani dan Latin dengan bahasa Arab dan menggantikan kekuasaan Kekristenan dengan kekuasaan Islam. Dengan demikian Kekristenan di Afrika Utara lumpuh karena kehadiran Islam. Namun menurut Kevin hal ini menarik tetapi mungkin juga salah, untuk mencari penjelasan tentang dugaan wilayah Kekristenan Afrika tidak asli. Hubungan Islam dengan Arab begitu intim daripada hubungan orang Kristen dengan Yunani dan Latin. Hal ini bukanlah menandakan bahwa Kekristenan gagal berbaur dengan budaya setempat, dan Islam berhasil, melainkan karena dunia keagamaan dilihat sebagai keadaan yang tak bisa dihindari dengan peradaban umum. Ketika di Afrika Utara peradaban Kekaisaran Romawi digantikan oleh Arab, hal ini ditandai sebuah perubahan sesuatu yang baru tetapi seimbang dengan monoteistik keagamaan universal. Kekristenan di Afrika Utara bertahan hidup dalam perkembangan Islam namun hanya dengan jumlah yang sedikit. Kekristenan bertahan hidup di Mesir tetapi tidak sehebat di Barat. Di Mesir penaklukan Arab sangat cepat dan diterima dengan damai oleh masyarakat. Hal ini berhubungan dengan ketaatan keagamaan dan penganiayaan Koptik atas kepatuhan kepada teologi „satu tabiat“ (Monofisit) yang dijatuhi hukuman pada Konsili Kalsedon tahun 451. Demikian juga Koptik Orthodoks, bangga dengan teologi mia physis (satu hakikat) Cyrulius, yang menganggap kedatangan pemerintahan Islam sebagai sesuatu yang melegakan dari penindasan Melkitis dari Byzantium. Kevin mengatakan bahwa satu aspek yang membuat Gereja bertahan hidup di Mesir, karena gerakan biara pada permulaan abad keempat, Kekristenan menghentikan urban dan Hellenis yang sangat besar dan bersatu dengan budaya asli orang Mesir di lembah Nil. Alkitab dan liturgi telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Koptik. Mereka menjadi alat bagi bertahannya Kekristenan di dalam pertumbuhan kebudayaan Arab dan Islam. Pemerintahan Islam Mesir melanjutkan mempercayai persekutuan orang Kristen bagi profesi, kesusasteraan, dan keahlian komersil mereka sebagai pegawai administrasi, pedagang, dan pembuat perabot rumah. Pada abad kesepuluh, Koptik menjadi minoritas di dalam penduduk, dan mereka diharuskan untuk hidup di dalam kelompok penduduk yang khusus (kampung orang yang tidak disukai=ghetto), dan memakai seragam yang berbeda. Orang Kristen laki-laki tidak diizinkan untuk menikah di luar kelompok mereka. Laki-laki Muslim dapat menikahi perempuan Kristen – dan anak-anaknya wajib menjadi Muslim. Penginjilan Kristen dilarang, dan bagi orang Kristen yang beralih agama menjadi Islam diberikan keringanan membayar pajak. Akibatnya, orang Kristen Koptik menjadi orang yang minoritas sepanjang abad. Kevin juga melaporkan keadaan Kekristenan di Nubia (bagian selatan Sudan). Kekristenan menyebar di Nubia dengan sebuah cara informal melalui perdagangan dan mungkin juga melalui gerakan biara Koptik di sepanjang tepi sungai Nil. Pada abad keenam, Nubia menjadi target misi penginjilan dari istana Byzantium. Hal ini terbukti dari hasil ekskavasi UNESCO pada tahun 1950-an dan 1960-an di sepanjang tepi sungai Nil ditemukan imam-imam kulit hitam (misalnya orang Nubia) dan keagamaan seperti Koptik. Ketika kerajaan Nubia kuat, mereka bahkan mampu melindungi orang Koptik minoritas. Namun kemudian pada abad-abad berikutnya, meningkatlah penekanan pada Kekristenan. Invasi Arab dan berbalik agama ke Islam dan orang Mesir membela perlawanan Muslim untuk merebut kekuasaan. Raja Kristen Nobatia terakhir dikalahkan tahun 1323. Banyak Gereja dihancurkan pada masa ini.

ETIOPIA

Kekristenan datang ke Etiopia lebih dulu. Dan kesulitan menghadapi Islam hampir sama dengan di Nubia. Tetapi di Etiopia, Kekristenan bertahan hidup. Etiopia juga bergantung pada dukungan makanan dan minuman dari Koptik dan harus ditekankan bahwa Gereja Orthodoks Etiopia bukanlah hasil misi Gereja Mesir. Ini bukanlah Koptik dan mereka memiliki gaya dan tradisi hidup sehari-hari. Orang Kristen asli pada kerajaan Aksum adalah akibat kunjungan dua orang pedagang Kristen dari Siria, Frumentius dan Aedesius ke istana raja Negus. Mereka menjadi figur yang sangat penting sejak kerajaan kecil Raja Ezana menggunakan kedudukan mereka untuk menyebarkan Kekristenan ke istana. Tahun 346, Frumentius pergi ke Mesir untuk mendiskusikan kebutuhan orang Kristen yang baru bertobat dengan Bishop Athanasius. Dia mengangkat dirinya menjadi Bishop (Abuna) pertama Gereja Etiopia dan akhirnya dikenal sebagai Abba Salama. Salah satu keunikan Kekristenan Etiopia adalah pewarisan identitas Yahudi dalam Kekristenan. Etiopia adalah bagian dari dunia Semitik (Amharinya adalah sebuah bahasa Semitik). Mungkin di Etiopia sudah ada orang Yahudi jauh sebelum Kekristenan masuk. Sebab setiap kelompok penduduk Amharik, Falasa, menyatakan diri mereka sebagai orang Yahudi: mereka mematuhi hukum Taurat dan menghargai hari Sabat. Gereja Etiopia juga melihat diri mereka sendiri sebagai ahli waris Yehuda. Raja terbesar Zagwe, Lalibela, kembali dari ziarah ke Yerusalem memutuskan untuk membentuk kembali „Sion“ di Etiopia. Di Kebra Negast (Kemuliaan Raja-raja), pewarisan kerajaan raja-raja dari Raja Salomo ditekankan, dengan legenda Sheba kepada anak Salomo, Menelik I. Berdasarkan mitos ini, Menelik kembali ke istana ayahnya untuk membawa kembali tabut Perjanjian ke Etiopia. Kebra Negast diterjemahkan ke dalam Ge’ez dari bahasa Arab pada masa pemerintahan Amda Siyon (1314-1344), yang ‘memerintah gilang-gemilang’ diingat pada saat Kekristenan menyebar sebagaimana yang terjadi sebelumnya, melalui penaklukan militer yang diikuti proses Kristenisasi dan akulturasi. Raja yang kuat seperti Raja Amda dan Zara Ya’iqob (1434-1468), berhasil menempa perasaan persaudaraan nasional. Namun pada masa Abuna (yang dipanggil dari Mesir) dan kepala biara (Echage), mengalami kemunduran dari tradisi kuno Gereja. Ketegangan pun terjadi. Misalnya permasalahan tentang hari Sabat. Kelompok biarawan sebelah utara, Kepala Biara Ewostatewos, secara konservatif membela tradisi Yahudi dan menekankan hari Sabat. Ada juga ‘dasar mitos’ yang sangat penting di Etiopia yang digunakan untuk menjelaskan perbandingan hubungan yang baik antara kerajaan Kristen dan Islam. Hal ini dihubungkan dengan perlindungan Nabi Muhammad ketika lolos dari penganiayaan di Mekah. Hubungan baik ini dibangun sepanjang abad. Namun hubungan baik ini dirusak oleh serangan mendadak Gran pada abad keenam belas. Di antara tahun 1529 dan 1543, Gran merusak dan menghancurkan seluruh wilayah Kekristenan, menghancurkan gereja-gereja dan biara-biara. Etiopia mencari bantuan dari Portugal dan orang Kristen Eropa. Seorang Yesuit Spanyol, Father Paez, tiba di Etiopia tahun 1603. Dia berusaha meminta bantuan dari Roma untuk menjaga orang Kristen Koptik dari perlawanan Islam. Kemudian dikirim lagi seorang Yesuit Portugis, Alphonsus Mendez, sebagai seorang Abuna pertama yang bukan Mesir sejak Frumentius. Mendez mencoba untuk membaharui Gereja Etiopia ke bentuk teologi dan pelayanan Roma Katolik. Hal ini membuat orang Etiopia merasa tidak nyaman. Mendez membaptis ulang orang awam, menahbiskan ulang para imam (pendeta), menyucikan ulang Gereja-gereja. Akhirnya terjadilah perang sipil yang menurunkan Susenyos dari tahtanya. Hal ini mengakibatkan permasalahan di gereja Etiopia terutama mengenai ajaran Kristologi khususnya ajaran Duofisit. Daya tarik Kekristenan Etiopia terletak pada pertumbuhan yang saling berhubungan dan bentuk iman yang khas, dibangun di dalam tradisi mereka (khususnya bagi orang Afrika pertama sekali). Budaya Kristen menyatupadukan kehidupan orang Afrika dan ide-ide kerajaan, dipadukan dengan budaya setempat dalam rasa kekeluargaan. Mereka juga memadukan musik debtara di dalam Kekristenan. Sehingga Kekristenan di Afrika menyatupadukan pandangan-pandangan roh tradisional tanpa menjadikannya menjadi sebuah konflik pada abad kesembilan belas hingga abad kedua puluh misi Kekristenan. Di sisi lain masalah pernikahan menjadi permasalah yang cukup serius bagi Gereja Etiopia, khususnya tentang poligami. Gereja di Mesir, Nubia dan Etiopia, sering dengan sedih menahan tekanan-tekanan dari perkembangan Islam.

KERAJAAN KONGO DAN MISIONARIS PERUSAHAAN PORTUGIS

Kekristenan di Kongo bermula dari pekerjaan Raja Portugis yang membaptiskan raja Kerajaan Manikongo (pemimpin), Nzinga Nkuwa tahun 1482. Kekristenan menjadi budaya di istana. Kemudian setelah Afonso memimpin Kongo (1506-1543), dia sangat aktif dan dengan tekun membangun kerajaan Kekristenan di Kongo melalui pembangunan budaya Kristen yang kuat di istana. Perjanjian Regimento tahun 1512 diangan-angankan menjadi sebuah aliansi dengan Portugis, meliputi perdagangan dan program akulturasi Portugis, yang dipromosikan oleh imam-imam dan misionaris. Don Henrique, Anak Afonso, dikirim ke Portugis untuk belajar, dan kembali ke Kongo untuk ditahbiskan menjadi ‘Bishop Utica dan Praktek Apostolik Kongo’. Perkembangan Kekristenan selanjutnya di Kongo adalah pada tahun 1645, biarawan Kapusin Italia dikirim dengan Propaganda. Mereka sangat antusias disambut oleh Manikongo, Gracia II. Di bawah inspirasi Kapusin, Kekristenan semakin mengembang ke luar. Para biarawati mengatur untuk menghancurkan nkisi (penyembah berhala) dan dan merusak pekerjaan penyembuh tradisional (nganga). Walaupun para biarawan menyebut diri mereka nganga dalam arti sebagai orang yang dipilih memutuskan sesuatu perselisihan untuk menggantikan para ahli-ahli agama tradisional. Kekristenan di istana sangat dekat dengan budaya Portugis, diakulturasikan dengan irama dan keadaan kehidupan orang Kongo. Baptisan menjadi terkenal dan bahkan setiap orang bangga dengan memakai nama Portugis seperti ‘Dom’ atau ‘Donna’. Kendatipun demikian, Kekristenan di Kongo, seperti Hasting tuliskan, bahwa mentalitas orang Kongo tidak begitu jauh berubah dari pra-Pencerahan Katolik di sebelah selatan Eropa. Dampak yang kuat Kekristenan pada lingkungan Afrika di Kongo dapat dilihat secara dramatis dalam munculnya gerakan Antonian Donna Beatice (dalam bahasa Afrika namanya adalah Kimpa Vita) pada permulaan abad kedelapan belas. St.Antony Padua, lahir di Lisbon, seorang yang kudus dari pedagang Portugis terkenal yang pengabdiannya tersebar di Brazil dan Kongo. Di bawah bimbingan Antoni, Beatrice meminta Manikongo mendorong menempati ulang pusat Sao Salvador, kota kudus Kristus.

KEBANGKITAN MISI ABAD KESEMBILAN BELAS

AFRIKA BARAT

Tiga setengah abad, hubungan di antara Eropa dan Afrika adalah merupakan perdagangan budak. Sistim Atlantik Utara menerima orang hanya sebatas kebutuhan industri. Yang sangat antusias dalam penyebaran Kekristenan di Afrika Barat adalah para pedagang Inggris dan Perancis pada abad kesembilan belas. Sementara itu, hingga tahun 1860-an, perdagangan budak itu sendiri masih terus berlanjut pada kelas atas. Lembaga Persaudaraan (The Society of Friends) adalah kelompok Kristen yang pertama yang menunjukkan ketidakcocokan dengan perdagangan budak dengan sebuah padangan kemanusiaan Kristen. Pada akhir abad kedelapan belas gereja Injili di Inggris melawan perdagangan budak dan membangun perdagangan bebas dan liberalisme ekonomi yang dipelopori oleh Adam Smith. Menurut Kevin, dampak pertama yang cukup jelas dalam ketertarikan Inggris di Afrika setidaknya mengandung makna: penciptaan sebuah ‘bebas penjajahan’ di Sierra Leone. Cara ini adalah cara ‘menyelesaikan’ masalah hitam London dengan membuang urban kulit hitam ke perkampungan yang padat dan kotor. Kebimbangan ini diberikan demi kelangsungan hidup dengan penghapusan perdagangan budak pada tahun 1807, dan mendirikan sebuah Skuadron Inggris di pantai Afrika Barat untuk memaksa pengabulan kekuatan Eropa. Freetown (kota bebas) menjadi tempat di mana budak Afrika, yang tidak pernah menyeberang Atlantik, yang dipulangkan ke Afrika. Mereka disebut “orang yang tertangkap”. Secara umum mereka berasal dari Yoruba, dengan nama kecil ‘Aku’ di Sierra Leone. Lembaga Gereja Misi Anglikan (The Anglican Church Missionary Society – CMS) dan Lembaga Misi Methodis Wesley juga membangun masyarakat Kristen di Freetown. Di gereja dan lembaga sosial selalu didasarkan pada pengajaran Wilberforce dan Waterloo. Ada sebuah inspirasi yang dibagikan para misionaris dan Creoles, dengan mengadakan pendidikan yang bertujuan membangun kemampuan berhasa Inggris orang Afrika, contohnya Creole, pengacara Sir Samuel Lewis (1843-1903). Karirnya sebagai contoh orang Afrika yang sukses yang merespon budaya Barat Eropa. Dan masih banyak lagi orang ‘Aku’ yang berhasil dan kembali ke kampung mereka menjadi pelaku-pelaku bisnis, dan juga sebagai tenaga misionaris. Abeokuta, sebuah kota Yoruba telah dibangun kembali setelah penghancuran pada abad kesembilan belas. Kevin juga mencatat salah seorang tokoh terkenal dalam perkembangan kesadaran Creole dan kritik terhadap Kristen Creole adalah Edward Wilmot Blyden (1832-1912). Dia menghabiskan banyak hidupnya di Afrika Barat (di Liberia dan Sierra Leone). Dia seorang ahli bahasa yang brilian. Dia juga menulis buku yang berjudul Christianity, Islam and the Negro Race (1887). Salah satu tema yang terkenal darinya adalah potensi Kekristenan untuk berbicara dari dalam kondisi Afrika. Tetapi dia mengkritisi cara palsu yang dibangun dalam Kekristenan Creole, sebagai bandingan dengan proses alami dengan yang dia kenal dalam perkembangan yang lamban sepanjang abad dari Islam Afrika Barat. Dia mendorong membentuk Gereja Afrika – sebagai sebuah saran yang menarik pada orang yang terlibat dalam perdebatan Jabatan Pendeta di dalam CMS dan lingkungan Anglikan di Sierra Leone tahun 1870-an. Perdebatan ini muncul dari perasaan bahwa Gereja diseret dalam mengimplementasikan kebijakan ‘three selves’ Henry Venn, sekretaris CMS. Venn berpendapat bahwa tugas misionaris pada dasarnya adalah sebagai yang terdepan (pion). Tujuannya untuk menjadikan pemerintahan sendiri (self-governing), swadana sendiri (self-financing), dan pengembangan sendiri (self-propagating) gereja setempat. Tokoh lain adalah James Johnson (1840-1917). Johnson seorang jurubicara masyarakat Kristen Creole di Sierra Leone, khususnya selama pertikaian Jabatan Kependetaan tahun 1871-1874. Dia melawan Bishop Cheetham dengan protesnya melawan praktek diskriminasi ras di dalam struktur Anglikan Sierra Leone. Johnson kemudian menjadi pelawan kuat Bishop Samuel Ajayi Crowther (1806-1891). Crowther adalah orang Kristen Afrika Barat yang terkenal pada abad kesembian belas. Dia seorang budak Yoruba yang dibebaskan, yang menjadi orang pertama menamatkan pendidikan dari Perguruan Fourah Bay. Ditahbiskan sebagai pendeta Anglikan, dan melakukan misionaris di daerahnya. Tahun 1862, ketika dia mau pensiun, Henry Venn meninta padanya untuk menerima panggilan menjadi Bishop Nigeria.

AFRIKA UTARA

Perkembangan misi Kristen di Afrika Utara sangat berbeda dengan misi Kristen di Afrika Barat pada abad kesembilan belas. Salah satu tema umum dalam perkembangan Kekristenan di Gereja Afrika adalah aturan yang krusial yang dimainkan dalam kedua wilayah baik di bidang pendidikan Afrika ala Barat. Perbedaan yang menyolok adalah kekuatan orang Kristen kulit putih di Afrika Utara, dan substansi kehadiran misi Kristen Eropa. Keluarga para misionaris, khususnya di dalam generasi kedua dan ketiga, sering digabungkan ke dalam masyarakat kulit putih dan menyerap nilai-nilainya. Petani-petani Boer, dari Belanda, Hugenot dan Jerman, menyatakan diri mereka sebagai ‘orang Afrika’: ‘ik bin ein Afrikander’ merupakan bualan yang cukup terkenal dari salah seorang trekboer. Pada abad kesembilan belas penginjilan Scotlandia memberitahukan kehidupan Gereja Reformed Belanda melalui perkenalan pelayan-pelayan (dominies) Scotlandia. Masyarakat kulit hitam juga mengklaim untuk dikenal sebagai bagian dari budaya Afrika, dan banyak penduduk kulit hitam milik Gereja Reformed. Bahkan DRC pada akhir abad kesembilan belas telah mulai aktif dalam pekerjaan misi pada masyarakat kulit hitam Afrika – khususnya pada daerah utara Limpopo dan di wilayah Nigeria. Agama kulit putih Afrika sangat penting bagi diskusi Kekristenan Afrika, sebab di dalam keagamaan inilah terkandung jati diri orang Afrika itu sendiri dan keagamaan ini menjadi dasar dari seluruh kehidupan orang Afrika. Hal yang terpenting lagi adalah pertengkaran di antara Bishop Robert Gray di Cape Town dan pengikutnya Bishop Natal, John Colenso, yang Gray tuduh musuh, memiliki implikasi penting bagi perkembangan persekutuan Anglikan, menjadi faktor besar dalam Konferensi Lambeth pertama tahun 1867. Misionaris Inggris pertama di Cape Town (dari 1799), khususnya London Missinary Society, sangat keras mengkritisi akibat sosial dalam penduduk asli dan budak import dari masyarakat Cape Belanda. Yohanes van der Kemp (seorang Belanda yang dipekerjakan LMS) dan penggantinya Dr.John Philip (seorang Scotlandia) mengkampanyekan martabat kemanusiaan dari Khoikhoi (penduduk asli Cape sebelah barat). Apa yang terjadi di Afrika Utara ini menurut Kevin bukan semata-mata penggembalaan orang Afrika, melainkan merupakan penjajahan orang Inggris dan hanya merupakan pencarian berlian, dan emas, mengacaukan kapitalisme dan industrialisasi internasional. Disamping itu, para misionaris sering kelihatan bertingkah laku negatif pada seluruh elemen penting di dalam kehidupan sosial orang Afrika seperti: poligami, lobola (mahar), perkawinan levirat (campur), dan ibadah-ibadah inisiasi. Misionaris LMS, John Mackenzie mengatakan kelemahan hubungan komunistik dari anggota suku dari seorang ke orang lain dan membiarkan kompetisi individualistik. Di Xhosa, Kekristenan diganggu oleh perpecahan pada masyarakat melalui sebuah perang dengan penduduk pendatang (Inggris sebagai orang Afrika di daerah Port Elizabeth sejak tahun 1820). Dua orang Xhosa yang terkenal dari abad kesembilan belas yang menyimbolkan dua cara respon kekuatan Kekristenan dan Inggris yaitu: Nxele dan Ntsikana. Nxele adalah seorang peramal yang berhubungan dengan petani-petani Boer dan mengetahui tentang Kekristenan. Kadang dia juga dikenal di dalam masyarakat Xhosa dan penduduk kulit putih. Dia melihat pusat misi sebagai ‘alat pengintai penjajah’ dan menyimpulkan bahwa agama misionaris bertentangan dengan sipritualitas orang Afrika. Jalan yang benar menyembah Allah bukanlah dengan menyanyikan “M’Dee, M’Dee,, M’Dee setiap hari dan berdoa dengan berlutut di tanah dan kembali kepada Yang Mahakuasa – melainkan menari dan menikmati hidup dan saling mengasihi, sehingga orang kulit hitam semakin bertambah banyak dan memenuhi bumi. Berbeda dengan Nxele, Ntsikana sosok yang dihormati dalam masyarakat Xhosa, seorang penasihat pemimpin Ngqika. Dia mendukung perdamaian dengan pemerintah kulit putih. Dia menciptakan lagu-lagu pujian dan hymne kepada yang Maha kuasa. Dia tidak pernah dibaptis tetapi menginginkan dikubur ‘dalam cara Kekristenan’. Dia memiliki pengaruh yang mendalam dalam seluruh generasi Kristen yang berpendidikan di Xhosa.

SEBELAH TIMUR AFRIKA

Berbeda dengan di Afrika Barat dan Afrika Utara, di Afrika sebelah timur tokoh misionaris memainkan peranan sangat penting: mereka menjadi penjelajah, yang memiliki visi transformasi sosial yang radikal, sebagai seorang ahli strategi lebih daripada Gereja Kristen Afrika. David Livingstone (1813-1873) mengadakan perjalan jauh melalui Afrika Timur, memberitakan pertumbuhan perdagangan budak yang mengerikan di Afrika sebelah timur ini. Livingstone berbeda dengan Ludwig Krapf, seorang Lutheran Wurttenberger yang bekerja bagi CMS di Etiopia sejak tahun 1844, dan di Rabai dekat Mombasa. Livingstone sangat marah atas penderitaan dan penindasan orang Afrika. Pietisme Krapf memimpinnya untuk melihat orang Afrika dalam istilah kejatuhan yang mereka bagikan dengan seluruh manusia. Mereka berdua gagal seandainya memenangkan jiwa menjadi ukuran kesuksesan. Tetapi mereka berdua menjadi sumber inspirasi bagi banyak misionaris di dalam kesadaran mereka. Livingstone yakin bahwa akhir penderitaan hanya akan datang dari perbaikan ulang masyarakt secara radikal: “Aku kembali ke Afrika membuka jalan bagi perniagaan dan Kekristenan”. Artinya penduduk kulit putih menjadi pioner sebuah agrikultur yang baru. Di Afrika Barat dan Afrika Utara, misi Gereja Katolik Roma (GKR) mengalami kegagalan dibandingkan dengan Protestan pada abad kesembilan belas. Di Afrika Timur, GKR menduduki jabatan di pemerintahan. Tahun 1838, pendeta Lazarist, Justin de Jakobis membangun ulang Katolik di Etiopia, yang diikuti oleh Kapusin Italia di bawah Guglielmo Massaja yang bekerja di Oromo sebelah selatan Etiopia. Daniel Comboni mengilhami dukungan baru untuk membangun ulang Gereja Kristen di Sudan. Dia membuka pekerjaan misi baru, Verona Fathers. Tokoh lain adalah Charles Levigerie, Ukup Kepala Algiers. Dia mendirikan White Fathers, yang memiliki dampak yang kuat di Afrika Timur. Misi Perancis pertama yang bekerja di pantai Afrika Timur adalah The Holy Ghost Fathers. Tahun 1863, mereka mendirikan pembebasan hutang budak di Bagamoyo. Misionaris Eropa memang menjadi pemprakarsa pekerjaan misi bagi orang Kristen Afrika. Pendirian misi ke daerah pedalaman adalah lebih diprakarsai para misionaris Eropa daripada ininisiatif orang Kristen Afrika Timur. Walaupun ada misi pribadi orang Afrika pada tahun 1880-an dan 1890-an seperti Pdt.William Jones yang mengikuti Bishop Hannington pada perjalanannya ke Buganda dan James Mbotela yang mendirikan Misi Dalam Negeri Afrika yang memulai pekerjaan mereka di Ukambani. Buganda adalah pusat masyarakat yang terkenal, yang terbuka dan menerima setiap ide-ide baru. Islam memperoleh pengaruh kuat bagi para pemuda (bagalagala) yang tinggal di istana dan yang dilatih kelak menjadi pemimpin bangsa. Tahun 1875, Henry Morton Stanley mengunjungi Buganda. Dengan rasa ketakutan atas konsekuensi politik, raja Kabaka mendiskusikan kemungkinan masuknya para misionaris Kristen ke Buganda. Stanley menyambut usulan tersebut dan dia mengirimkan surat permohonan kepada Paus agar mengirimkan misionaris ke Buganda. Pada tahun 1877 CMS Anglikan tiba Buganda dan menyusul pula Chatolic White Fathers tahun 1879. Dan segera lembaga misi ini tiba di Buganda maka mulailah terjadi konflik dan fiksi dengan umat Islam. Kabaka segera menemukan bahwa Kekristenan memiliki sifat subversif sama dengan Islam. Bishop pertama Anglikan James Hannington dibunuh dalam perjalanannya ke Buganda kemudian 100 orang Kristen yang bertobat, banyak yang mati dibakar, juga banyak yang mati diniaya di Namugongo sehingga di kemudian hari tempat ini dikenal sebagai makam orang suci. Hal yang penting dicatat dalam keadaan ini adalah bahwa setiap agama baik Islam, Katolik dan Protestan sama-sama menunjukkan kekuatan mereka sendiri. Namun pada akhirnya kekuatan Protestanlah yang menjadi pemenangnya. Sebenarnya masih banyak lagi contoh sejarah Kekristenan modern di dalam pemerintahan Afrika sebagai patron misi Kristen. Tetapi Buganda memperlihatkan dalam seluruh elemen pemerintahannya menjadi Kristenisasi bahkan dalam masyarakatnya pun terlihat pola kehidupan Kristenisasi tersebut. Gereja di Buganda menjadi ‘Gereja bangsa’ yang kuat.

PEREBUTAN DAN PENJAJAHAN MISIONARIS

Pada abad kesembilan belas para misionaris hidup sebagai tamu dalam pemerintahan Afrika. Dalam keadaan tertentu mereka memaksa apa yang disebut dengan ‘kebijakan ke depan’ (forward policy) dalam artian keterlibatan mereka di dalam pemerintahan Afrika. Pemerintah Afrika mencurigai keterlibatan dalam pemerintahan ini. Tuan Palmerston menyindir keras tentang ekspedisi Zambezi tahun 1858: ‘Saya sangat tak menyukai skema baru pengambilalihan Inggris. Informasi Dr.Livingstone sangat berharga namun dia seharusnya tidak dibolehkan membawa kita pada bentuk penjajahan hanya untuk menjadi kaya’. Di antara Kongres Berlin 1885 dan permulaan abad kedua puluh, hampir seluruh orang Afrika dibagi melawan hal ini. Sejak tahun 1880-an mulailah semangat misi nasional yang didorong negara-negara Eropa. Sehingga jiwa nasionalis menjadi alat penangkal bagi penjajahan asing. Misalnya, misi Scots bagi Inggris untuk menegaskan perhatiannya pada Nyasaland sebelum Portugis datang. Memang sedikit banyaknya, masyarakat Kristen Afrika memberi kecenderungan, paling sedikit menerima kontrol Eropa dan bekerjasama dengan kekuatan mereka. Hal yang sama di daerah pengaruh Islam, kekuatan Eropa bergantung kepada Islam untuk menetapkan para pegawai dan fungsi aparat administrasi. Masyarakat tradisional bertahan pada misi orang Kristen, seperti Ijebu di Lagos. Hal yang sangat mendalam yang dialami oleh orang Afrika hingga pada akhir abad kedua puluh adalah krisis ekologi, krisis dalam patologi, dalam masyarakat dan pertumbuhan persatuan Afrika ke dalam ekonomi kapitalis global.

KEKRISTENAN DALAM MASA PENJAJAHAN: PENDIDIKAN DAN ”ADAPTASI“

Bagi misioaris Kristen, menjadi seorang Kristen dan berpendidikan adalah dua aspek dalam proses yang bersamaan. Katekumen disebut ‘pembaca’ sebab mereka harus belajar dasar-dasar pendidikan untuk menguasai teks, apakah itu teks Alkitab atau katekisasi sidi. Pada abad kesembilan belas, misionaris telah mendirikan sekolah menengah atas, dengan kurikulum ‘sekolah grammar’ untuk kelas bahasa dengan bahasa Eropa sebagai bahasa pengantar. Pada akhir abad kesembilan belas telah dibuka kurikulum ‘modern’. Isu yang umum menjelang akhir Perang Dunia I adalah kekawatiran atas tindakan pemerintah yang tidak mencoba membangun sistim paralel sekular di mana etos orang Kristen akan hilang. Pemerintah terlihat kuatir memenuhi pemerintahan baru. Padahal banyak kesempatan untuk bekerja sama. Pada awal tahun 1920-an, lembaga sosial Amerika, Phelps-Stokes Commission, mengadakan perjalanan melalui daerah tropis Afrika, yang dipimpin langsung oleh seorang pendidik yang bernama, Jesse Jones. Komisi ini ditandai dengan pembangunan pendidikan di negara-negara bagian dari selatan Afrika yang diinpirasikan oleh Booker T.Washington dan Institut Tuskegee yang diadaptasi dari ekonomi partikuler dan kondisi sosial dalam masyarakat. Di dalam konteks Afrika, bagian positif dari pemberitaan mereka adalah bahwa pendidikan dihubungkan dengan kenyataan kehidupan desa Afrika. Tetapi juga sangat mudah menafsirkannya secara negatif, yaitu sebuah usaha memperkenalkan pemisahan dan tipe superior pendidikan, menjauhkan orang Afrika dari kemajuan modern. Namun apa pun kritikan yang terjadi, Phelps-Stokes memiliki dua tujuan pokok mereka yaitu: pertama, menciptakan pendapat yang kuat bahwa ‘kenderaan sekolah’ ditekankan lebih mendalam dan sifat orang Kristen dikuatkan. Kedua, komisi ini sangat penting bagi orang Kristen Afrika, salah seorang anggotanya Dr.James Aggrey, seorang pendidik orang Afrika Barat asli, yang membuat gerakan yang luar biasa kemana pun dia pergi. Aggrey menegaskan pentingnya kerja sama di antara kulit hitam dan putih. Joe Oldham, dari Dewan Misi Internasional (The International Missionary Council) – salah seorang pelopor pendiri Dewan Gereja Se-Dunia – sangat aktif di antara tahun-tahun perang dalam membangun sistim kerja sama misi pemerintahan. Beberapa dari misi iman injili (seperti contoh Misi Inland Afrika) sangat mencurigai kelanjutan sistim ini sebab mereka takut bahwa pembebanan kurikulum pemerintah dan campur tangan dari kuasa misi injili dan mendorong tendesi sekularisasi di antara murid. Ketegangan ini juga dirasakan di dalam hubungan kerja sama Katolik Roma dengan pemerintah. Hal ini dapat terlihat jelas dalam perbedaan pandangan misi Katolik Nigeria di Afrika Barat. Karlo Zappa, Misi Masyarakat Afrika di Lokoja, dalam penolakan gaya misi lama yang tidak dipercayai atas pembebasan budak dalam isolasi perkampungan orang ‘Kristen’, dan tidak ingin menghasilkan misi Kristen yang ‘detribalisasi’ dan mempunyai persamaan dengan ‘pendidikan kebarat-baratan’ yang mencurigakan. Karlo menolak sekolah-sekolah sekuler di seluruh wilayah misinya dan berkonsentrasi pada pembangunan kelas katekisasi dan sistim seminari. Sehingga orang Igbo pertama yang ditahbiskan menjadi pendeta adalah Fr.Paul Emecete pada tahun 1920. Berbeda sangat tajam dengan Bishop Joseph Shanahan dari Holy Ghost Father. Dia sangat tertarik menjalin kerjasama dengan pemerintah. Dia berkata, “Barang siapa yang memegang sekolah, memegang negara, memegang agamanya, dan memegang masa depannya”. Artinya seluruh perhatian kerja sama dicurahkan dengan departemen pendidikan kolonial dan menerima kurikulum sekuler. Hasilnya, diperkirakan hampir 40% sekolah-sekolah di Igbo menjadi Katolik dan Katolikisme menjadi yang terbesar di Igbo. Seandainya Fr.Zappa dan AIM di Kenya dilihat sebagai sesuatu yang aneh dalam melawan pendidikan sekular, perhatian Zappa tentang tidak menghasilkan ‘detribalisasi’ penduduk, digemakan kembali dan kembali dalam tahun-tahun dalam perang. Dengan demikian ide ‘tribalisme’ sangat kurang dilakukan dalam kenyataan Afrika daripada persepsi orang Eropa tentang kehidpan orang Afrika. Di sisi lain, campur tangan misionaris dalam adat dapat memiliki pengaruh yang cukup kuat, sebagaimana yang terjadi di dalam krisis adat-istiadat perempuan yang meletus di Kenya tahun 1929. Usaha untuk mendorong orang Kristen Kikuyu untuk berjanji pada waktu baptisan atau institusi sebagai pemimpin Gereja bukan menyunat anak perempuan mereka. Para misionaris turut campur tangan dalam banyak hal di dalam adat-istiadat orang Kikuyu.

KEBANGKITAN GEREJA-GERAJA INDEPENDEN

Kolonialisme memiliki peran ganda dalam dampaknya bagi Kekristenan. Pada satu sisi, kolonialisme membuat Gereja lebih bergantung dari pada sebelumnya pada masa misioaris asing. Dalam masa pra-kolonial, para misionaris berhubungan intim dengan masyarakat setempat, tinggal berdampingan dengan penduduk, sering berbagi rasa dalam materi budaya yang sama. Tetapi sekarang, sudah ada ‘penarikan ke atas’ pada benteng institusional. Disamping itu juga, mentalitas kolonial membuat jarak sosial di antara orang asing dan penduduk asli yang disebut dengan ‘serambi Kekristenan’. Di sisi lain, kolonialisme dengan cepat menyebarkan kegiatan misionaris ke seluruh wilayah jajahannya. Misalnya dengan melakukan katekisasi, penginjilan dan pengajaran oleh orang Afrika. Sehingga orang-orang yang percaya dibolehkan mendirikan Gereja di daerah penjajahan tersebut. Kevin berpendapat bahwa hari berdirinya Gereja Kristen di Afrika adalah pada periode sebelum dan sesudah Perang Dunia Pertama. Pada tahun 1913, William Wade Haris dari masyarakat Grebo di Liberia, melihat visi dari malaikat Gabriel di penjara. Dia memulai penginjilan yang luar biasa di sepanjang pantai Afrika Barat dengan menyampaikan kuasa Kristus dan kuasa Roh Kudus. Dia memakai gaun putih dan selempang hitam, membawa guci, salib, Alkitab, dan cawan untuk membaptiskan. Dia membaptiskan ribuan orang tanpa melihat aturan yang diperbuat oleh para misionaris. Beberapa tahun sebelumnya, di Afrika Selatan, nabi Zulu yang diberi nama Yesaya Shembe mendirikan “Nazaret”-nya di Ekuphakameni pegunungan Drakensberg. Nabi lain dalam periode ini adalah Simon Kimbangu dari orang rendah Kongo, Katolikisme Kongo dan nabi Kristen yang independen, Donna Beatrice. Kimbangu besar dalam Gereja Baptis dan sudah dibaptiskan. Tahun 1921 memulai pelayanan penyembuhan di desanya Nkamba. Gereja Kimbangu menjadi gereja independen terbesar di Afrika. Haris, Shembe, dan Kimbangu adalah yang lebih dulu dan tentu penuh dengan semangat dan perhatian dalam gerakan ‘independensi’ yang menyebar luas di bagian Afrika. Di Nigeria, fenomena ini dikenal sebagai Aladura: Gereja yang berdoa. Para Kerubim dan Serapim, didirikan oleh seorang perempuan, Christiana ‘Kapten’ Abiodun. Masih banyak lagi contoh perempuan pendiri dan pemimpin gereja independen seperti: Gaudencia Aoko pendiri Gereja Maria Legio di sebelah barat Kenya, gereja independen terbesar yang keluar dari Gereja Katolik Roma.

GERAKAN PEMBAHARUAN SPIRITUAL LAINNYA

Gerakan pembaharuan yang terkenal adalah gerakan Kebangkitan Balokole di dalam Gereja-gereja Protestan di Afrika Utara (Balakole adalah Luganda bagi ‘Umat yang Diselamatkan). Gerakan ini timbul dari hubungan kemitraan di antara tenaga medis misionaris CMS, Gereja Dr.Joe dan Simeoni Nsibambi dari keluarga yang berbeda di Buganda. Para anggota menyebut diri mereka sebagai Ab’oluganda. Dalam istilah Inggris, ‘Saudara-saudara’ sering digunakan (yang menunjukkan kepada laki-laki dan perempuan dalam Ab’oluganda di Luganda). Kebangkitan tumbuh untuk menentukan misi pendirian Gereja-gereja. Pada satu sisi, misinya adalah tipe gerakan Injili, yang menekankan pertobatan dosa dan hanya percaya pada penebusan darah Kristus di kayu salib. Kebangkitan tidak takut bertentangan dengan dosa, dengan praktek agama tradisional ‘penyembah berhala’ di dalam Gereja. Pada sisi lain, gerakan yang lebih mendalam dari orang Afrika, melihat diri mereka sendiri sebagai ‘suku’ yang baru, yang menekankan semangat solidaritas kelompok, menentukan pernikahan-pernikahan, dan mengurus para janda dan duda. Dimulai dalam Gereja Anglikan di Uganda dan Rwanda, kemudian gerakan menyebar ke Gereja-gereja Mennonit dan Lutheran di Tanzania dan Presbiterian dan Gereja-gereja Metodist di Kenya. Di dalam Katolikisme, kaum awam didorong, misalnya berpartisipasi dalam Legion dan devosi Maria pada orang martir Uganda, tetapi para klerus sering menjadi faktor penghambat. Gerakan Jamaa (keluarga) di Katolikisme Shaba dan Kasai di Zaire contoh yang terkenal dari kekuasaan spritualitas kaum awam. Sama dengan di Balokole, Jamaa melihat diri mereka sendiri sebagai gerakan di dalam Gereja. Perempuan sering memainkan peran memimpin dalam kehidupan Gereja, bahkan kaum perempuan selama beberapa tahun menjadi jemaat yang terbanyak. Salah seorang tokoh yang terkenal dari mereka adalah Moder Lena (Magdalena) Vehegtte Tikkuie. Ketika George Schmidt meninggalkan misi Moravia di Genadendal di Afrika Utara tahun 1742, dia telah membaptiskan tiga orang anggota persekutuan Kristen: dua orang laki-laki dan Lena. Dia menugaskan kedua laki-laki itu meneruskan pekerjaan misi tersebut, namun tidak lama mereka pun berhenti. Hanya Lena yang bertahan dalan iman, mengajar orang lain Alkitab dan doa-doa Kristen selama 50 tahun, hingga tahun 1792, kelompok baru Moravian tiba. Misi Protestan kemudian memakai misionaris perempuan yang bernama Maria Slessor dari Kalabar. Slessor adalah seorang perempuan yang enerjik dan inisiatif. Bagi perempuan Afrika, keuntungan Kekristenan adalah bermakna ganda. Kadang-kadang misi Kekristenan begitu kuat ‘membangkitkan kalangan perempuan’, tetapi pada saat yang sama memagari apa yang seharusnya dilakukan oleh perempuan. Lembaga Gereja menjadi lebih terstruktur, menahbiskan pelayan hanya dari kalangan laki-laki saja. Di Uganda, telah berhasil menerima perempuan dalam pegawai lokal seperti contoh Bannabikira (Anak perempuan dari Perawan) dan Anak perempuan dari St.Francis. Baik misi Protestan dan Katolik telah memberikan pendidikan dasar dan pengetahuan domestik bagi perempuan untuk menyelesaikan sekolahnya. Kebijakan pemerintah Afrika Utara sering memaksa agar perempuan tinggal di rumah. Tetapi, di Afrika Utara sendiri, kaum perempuan menjadi sandaran utama dalam kehidupan Gereja. Iris Berger menyarankan bahwa di dalam kondisi aparteit, perempuan di dalam kota tidak dapat mempertahankan hubungan patriarkad. Gereja harus memberikan komunitas alternatif.

PEMBERIAN KEBEBASAN POLITIK (DEKOLONIALISASI)

Walaupun dalam periode kolonialisme yang tinggi, namun masih ada para misionaris yang secara individu mengkritik kebijakan penjajah. Beberapa di antara mereka adalah Archdeacon Owen di Kenya, dan Arthur Shearly Cripps di Sebelah Selatan Rhedesia. Bahkan ada juga orang-orang Kristen Afrika khususnya dari Gereja-gereja Protestan yang menyuarakan suara-suara kritikan kepada kolonialisme. Misalnya Terence Ranger dalam bukunya yang berjudul Are We Not Also Men? Mengungkapkan gambaran tentang keluarga Samkange di Sebelah Selatan Rhodesia. Perbedaan di antara pendeta miskin, pendidikan kaum awam di dalam berbagai tingkatan menjadi salah satu kritikan utama Gereja-gereja Protestan dalam memasuki era kebebasan di Afrika, khususnya dalam gerakan Afrikanisasi jabatan Gereja yang dimulai tahun 1950-an. Bagi kalangan Gereja Katolik, kebebasan ini pun mulai diperjuangkan. Joseph Kiwanuka menjadi Bishop pada diocese pertama Afrika pada tahun 1939 di Masaka, Uganda. Demikian juga Aberi Balya menjadi Bsihop pertama di Gereja Anglikan Uganda delapan tahun sebelumnya.

KEBEBASAN KEKRISTENAN DAN POLITIK DI AFRIKA

Proses dekolonialisasi yang cepat adalah pada tahun 1950-an dan 1960-an yang dilakukan oleh pemerintah di berbagai bagian di Afrika. Berbicara tentang kebebasan ini tidak terlepas dari kritikan terhadap misi Kekristenan itu sendiri yang memberi dukungan misi pendidikan kepada kolonialisme. Nkrumah adalah salah seorang tokoh yang menyebarkan penafsiran kebebasan spiritual yang dikutipnya dari diktum misi agama yang mengatakan, ‘Carilah dahulu kerajaan politik’. Pan-Afrikanisme tahun 1960-an adalah alternatif yang tepat bagi kolonialisme dan misi Kekristenan. Tetapi ada juga kekuatan yang memperkuat Kekristenan di dalam negara baru. Hampir seluruh politikus melanjutkan hubungan dengan Gereja-gereja mereka. Jika misi yang didirikan Gereja-gereja ditopang pemerintahan penjajah, mentalitas mereka juga sering menjadi pemimpin di negara merdeka tersebut. Ada sebuah elemen kuat tentang idealisme keagamaan dalam banyak program pemimpin-pemimpin generasi pertama: Katolikisme Nyerere merupakan elemen yang penting dalam program Sosialisme Afrika bagi Tanzania; Presbiterian Kaunda membawa humanisme Afrika di Zambia. Kebebasan membuat orang Afrika bebas menerima baptisan. Dekade setelah kemerdekaan, negara-negara Afrika melampaui berbagai krisis sosial, politik dan ekonomi dan gereja mencoba meningkatkan moral, spritual dan pengharapan. Pada tahun 1980-an, Gereja (misalnya di Malawi atau Benin) menjadi pusat gerakan demokratisasi. Disamping itu juga di Afrika Selatan bermunculanlah pejuang-pejuang individu seperti Michael Scott atau Trevor Huddleston atau Cosmos Desmond. Pemerintahan Archbishop Desmon Tutu dan Alan Boesak sangat berarti bagi pekerjaan UDF (United Democratic Front). Dengan demikian, Gereja berperan aktif memampukan umat untuk terjun dalam dunia politik, pendidikan, jurnalisme dan pelayanan sosial. Bahkan ada yang menjadi mati martir seperti Archbishop Anglikan Janani Luwun yang mati secara brutal di tangan Idi Amin di Uganda. Selain itu, sekitar 200 orang para imam Afrika mati akibat kekerasan selama 40 tahun, seperti: Fr Clement Kiggundu editor Majalah Ktolik Munno, Ananias Oriang dari Lango, Gabriel Banduga dari Arua, dan Charles Oberu dari Tororo. Jika etnis sering dilihat sebagai elemen yang paling mudah mengakibatkan konflik pada akhir abad kedua puluh, agama juga sebuah faktor yang dinampakkan dalam konflik Islam – Kristen.

TEOLOGI AFRIKA

Kevin mencatat beberapa teolog Afrika yang memunculkan teologi Afrika, misalnya Rwandan Tutsi Alexis Kagame dan Congolese Vincent Mulago. Mereka adalah termasuk orang yang belajar di Roma tahun 1950-an yang menghasilkan tulisan-tulisan yang terkenal Des pretres noirs s’interrogent. Ada juga teologi Katolik yang diwarnai dengan ‘inkulturisasi’ Injil di Afrika dan memberikan makna yang sangat mendalam dan resonansi pada transformasi ibadah melalui pengenalan liturgi dan musik. Teolog Protestan berasal dari kaum awam Prebiterian Ghana (seorang pengacara dan politikus) yang bernama J.B.Danquah. Dalam The Akan Doctrine of God (1944), Danquah berusaha secara rinci dan tegas untuk menunjukkan agama tradisional sebagai dasar monoteistik, yang kemudian menjadi dasar pandangan Kristen tentang Allah. Disamping Danquah, masih ada lagi teolog-teolog Protestan lainnya yakni: Bolaji Idowu, Harry Sawyerr, C.G.Baeta, Kwesi Dickson. Teolog dari Afrika Timur adalah John Mbiti, dengan karyanya African Religions and Philosophy. Mbiti berpendapat bahwa tradisi orang Afrika melengkapi agama, dan melihat agama orang Afrika sebagai dasar yang selaras dengan Kekristenan. Walaupun pendapat Mbiti ini ditentang keras oleh Okot p’Bitek (seorang pujangga dan pemikir Uganda). Bagi Okot pandangan orang Afrika lebih mengarah pada orientasi sekuler. Teologi Kekristenan di Afrika Utara lebih mengarah kepada perjuangan melawan aparteit. Teologi Afrika Utara mengadopsi teologi perlawanan yang hampir sama dengan teologi hitam (black theolgy) di Amerika Utara. Tokoh perjuangan ini adalah seorang mahasiswa kedokteran yang bernama Steve Biko. Biko dibunuh oleh polisi tahun 1977. Tahun 1985 kelompok teolog kulit hitam dan putih Afrika Utara, menghasilkan dokumen penting berkaitan dengan situasi politik. Dokumen ini dinamakan dengan „Dokumen Kairos“

KESIMPULAN

Akhirnya, Kevin menyimpulkan, Kekristenan di Afrika bervariasi sangat besar dan memiliki fenomena yang serba komplek. Juga memiliki kekuatan yang luar biasa, mengakar dalam masyarakat desa. Katolikisme pada awal abad kedua puluh sangat tekun dalam mengelola kampung Kekristenan dan sebagai hasilnya banyak daerah Gereja-Gereja Protestan yang diambil alih selama hampir 30 tahun. Pada masa kemerdekaan, ada penekanan yang dapat dimengerti pada perkembangan sistem pendidikan nasional, pengenduran misi dan kontrol Gereja. Gereja Katolik lebih waspada dan penuh perhatian pada kebutuhan untuk menjaga kegiatan pendidikan dan melanjutkan mendukung pendirian sekolah-sekolah. Pemerintah gelisah melibatkan Gereja-Gereja kembali dalam sistem pendidikan. Perbedaan di antara pendiri misi Gereja-gereja ‘arus utama’ dan Lembaga Gereja-gereja Afrika adalah mengenai bentuk inkulturisasi dalam gereja. Namun di sisi lain masih ada kecurigaan di antara dua tradisi. Bagi gereja-gereja misi, mereka menerima kebebasan Gereja-gereja sebagai orang Kristen yang selayaknya. Sementara Lembaga gereja-gereja Afrika berkecil hati dan menganggap gereja misi sering bertingkah laku angkuh. Dekade terakhir abad kedua puluh, terlihat dengan menjamurnya gerakan Gereja-gereja Pentakosta baru. Di satu sisi, hal ini menunjukkan budaya Amerikanisasi.

3. AMERIKA LATIN Oleh: Adrian Hastings

SPANYOL ABAD KEENAM BELAS

Kekristenan Amerika Selatan, pada mulanya, persis sebuah pemboyongan Katolikisme oleh orang Iberia Peninsula pada masa ‘Raja-raja Katolik’ – Isabella dan Ferdinand, Charles V, Philip II. Penaklukan Amerika menjadi sebuah penambahan Mahkota Castile dan di dalam Castile inilah sejarah Gereja Amerika Latin dimulai. Ketika Kolumbus ‘menjelajah’ Amerika tahun 1496, Spanyol memasuki masa kekuatan yang besar dan penentu konstruksi Katolikisme. Hubungan toleransi ‘convivencia’ Kekristenan, Yudaisme dan Islam yang menjadi ciri permulaan Abad Pertengahan Spanyol, telah berakhir. Orang Yahudi sudah diusir dari Spanyol dan Granada, kerajaan Iberia Muslim terakhir, telah ditaklukkan dan digabungkan kepada Castile. Pemaksaan konversi ‘Mudejans’ pun dimulai. Identitas Castile, sama seperti Portugis, ditempa oleh Perang ‘Salib’. Semangat Perang Salib, tidak toleran, agresif, bersikeras pada kesatuan politik – ortodoksi keagamaan menang atas seluruhnya di bawah Isabella. Spanyol pada abad keenambelas adalah sebuah masyarakat ‘Abad Pertengahan’, yang dipengaruhi gerakan Renaisans. Medieval adalah istilah yang tidak cocok : medieval Spanyol kurang toleran. Namun di bawah kepemimpinan Franciscan, Kardinal Ximenez de Cisneros, peraturan keagamaan diperbaharui dan mendukung kemajuan para sarjana di Universitas Alcala yang didirikannya. Spanyol negara yang kuat dalam abad keenam belas di Eropa. Jika kekuatan itu dipakai untuk perluasan kerajaan di dunia dan kemajuan Katolik, maka kekuatan itu akan dihubungkan dengan kebangkitan teologi dan filosofi seperti Thomist (penganut ajaran Thomas Aquinas) di Universitas Salamanca. Kemajuan yang dilakukan oleh teolog Dominican, Francisco de Victoria tentang sebuah teori hukum internasional, didasarkan pada konsep Thomist tentang hukum alam. Penulis spritual lainnya pada abad itu adalah John the Cross, Teresa dari Avila dan Ignatius Loyola, mendemonstrasikan kualitas kehidupan keagamaan itu. Pada abad keenambelas, Spanyol juga memiliki tentara misionaris – Dominikan, Franciskan dan kemudian Yesuit.

SERATUS LIMA PULUH TAHUN PERTAMA KATOLIKISME AMERIKA LATIN

Pada tahun 1493, baik raja-raja Katolik maupun Paus memiliki ide kebesaran atau ciri kemasyarakatan barat di Atlantik. Ekspedisi mereka hanya dimulai untuk meneliti dan menaklukkan. Mereka memasuki ‘Antilles’, pulau-pulau Karibia. Hispaniola pusat konstitusi Santo Domingo inti kerajaan baru bagi dekade pertama dan diocese Santo Domingo didirikan tahun 1504, kemudian 1515 menaklukkan Kuba dan mendirikan pusat imperialis baru di Havana. Hanya tahun 1519 ada serangan utama dengan penaklukan Cortes atas Meksiko yang akhirnya disebut dengan ‘Spanyol Baru’. Dari penaklukan ini menyebar ke semua arah hingga Pizarro menyerang Peru tahun 1532. Hanya dalam tempo beberapa tahun upaya Kerajaan Spanyol membentuk Dunia Baru telah lengkap. Satu ‘Amerika’ ditaklukkan, beban baru diberlakukan. Hastings menjelaskan bahwa penduduk asli Amerika ini adalah suku Indian yang terdiri dari tiga kelompok yang berbeda yakni Mexias (Aztecs) di Meksiko, Tenochtitlan dan Incas di Tawantinsuyu (Peru). Bahasa mereka adalah bahasa Nahuatl bagi Aztecs dan bahasa Quechua untuk Incas. Mereka memiliki banyak agama. Namun dewa yang sangat terkenal adalah Tonantzin, dan dewa yang disembah dalam ibadah mereka (Aztecs dan Incas) adalah dewa matahari. Sehingga mereka dikenal sebagai ‘Umat Matahari’. Mereka juga sangat tegas melakukan hukum moral misalnya dilarang minum alkohol, harta milik bersama dan organisasi mereka secara bersama. Kehadiran Spanyol di Amerika ini membawa benturan dengan suku Indian. Bahkan benturan ini sudah terlihat sejak tahun 1493 dengan membangun invasi sebagai ciri penginjilan. Motivasi dan tingkah laku para penakluk Meksiko (Conquistadores) sangat berbeda sekali. Ada yang menjadi geng petualangan. Pedrarias Davila, seorang Conquistadores yang brutal, menemukan kota Panama, saat Hernan Cortes menyerbu Meksiko dari Kuba. Sebenarnya, Montezuma (raja Aztecs), menyambut Cortes sebagai figur legendaris Quetzalcoatl yang kembali dari timur untuk meminta kembali tanah mereka. Namun Montezuma ditangkap, orang Aztecs dibunuh secara massal dan beberapa bulan kemudian orang-orang Spanyol memaksa melepaskan Tenochtitlan. Kekuatan militer yang diikuti pemaksaan orang Indian dengan sistem borgol encomienda, mengakibatkan dua keputusan yakni: pertama, menurunnya jumlah penduduk asli. Dan kedua, timbulnya kota-kota Spanyol pada abad keenambelas. Sehingga pertumbuhan orang Indian otomatis menjadi berkurang. Sementara itu aspek institusional dan kegerejaan sudah dikontrol oleh dua raja muda – Spanyol Baru dan Peru. Di bawahnya ada berbagai pengurus dan sembilan audiencias di Santo Dominggo, Kota Meksiko, Panama, Quito, Lima dan lain-lain. Gereja Amerika Latin secara ideologi berempati pada Tridentine. Walaupun dalam istilah adiministratif masih ada pengecualian dengan Serikat Yesuit. Serikat Yesuit menjadi kekuatan besar di Amerika Latin yang tunduk kepada Paus di Roma. Di Spanyol Baru sama seperti di Spanyol Lama, Yesuit memelihara kebebasan mereka dari kontrol raja, dari pengawasan episkopal, dan dari Penyelidikan jurisdiksi. Perkembangan sejarah Kekristenan di Amerika Latin adalah samar-samar. Bukan hanya usaha Katolikisme yang bergabung dengan Kontra-Reformasi, bukan juga karena penjajahan, melainkan karena imperialisme khusus yang dilakukan Spanyol. Ketika banyak biarawan Franciskan dan Dominikan melayani di Amerika, maka banyak orang Indian menjadi Kristen. Di Meksiko, dua belas orang biarawan Franciskan yang tiba tahun 1524 merasa bahwa mereka dengan mudah dapat mengkristenkan orang Indian. Menurut Hastings, yang menandakan entusiasme orang Meksiko atas iman baru mereka terlihat dalam entusiasme mereka dalam ibadah, membangun gedung-gedung gereja dan mendorong satu dengan yang lainnya untuk bertobat. Mereka juga mau belajar bahasa Spanyol, seni dan banyak keahlian lainnya. Cortes mengumpulkan seribu anak-anak kaum bangsawan Indian dan membawanya ke Perancis untuk mendapatkan pendidikan khusus dengan harapan agar banyak dari mereka menjadi imam-imam seperti Uskup Agung pertama Meksiko, Jua de Zumarraga. Namun orang yang sangat terkenal dalam awal Kekristenan Meksiko adalah Toribio de Benavente salah seorang dari dua belas biarawan Franciskan yang tiba di Meksiko yang dikenal dengan nama Nahutatl-nya Motolinia yang artinya ‘seorang miskin’. Sewaktu Motolinia mengenal betapa kejamnya orang Indian diperlakukan oleh orang-orang Spanyol, maka pusat perhatiannya adalah sekitar tema pembebasan dari gelap ke terang yang ditulisnya dalam Historia de los indios de la Nueva Espania (1541). Bernardino de Sahagun adalah seorang sarjana Perancis yang terkenal mengenai Nahuatl. Dia belajar dan meneliti kebudayaan Indian bersama dengan murid-muridnya. Sahagun sedikit demi sedikit membangun sejarah dan kebudayaan Indian yang mengagumkan yang mirip sebuah ensiklopedia. Tulisannya Historia general de las cosas de Nueva Espana aslinya ditulis dalam bahasa Nahuatl kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol. Tulisan ini selesai tahun 1570-an, namun dipublikasikan pada abad kesembilan belas. Sahagun sangat pesimistik tentang seluruh usaha misionaris dan penjajah. Pertumbuhan orang Indian sangat menurun tajam sebagaimana pertumbuhan orang creole (percampuran orang Eropa dan kulit hitam), sehingga mereka menjadi orang yang terpinggirkan (marjinal) di negeri mereka sendiri. Di Peru, gambarannya selalu suram. Tidak ada entusiasme orang Kristen yang pernah dilaporkan. Orang Indian dijauhkan dari Kekristen yang murni bahkan mereka dilarang untuk Perjamuan Kudus pada Konsili Lima tahun 1552. Pizarro dibunuh Inca Atahualpa dan Cuzco ditangkap tahun 1533. Hastings mencatat bahwa tokoh Katolikisme di Peru adalah Martin Garcia de Loyola (kemenakan laki-laki St. Ignatius Loyola) dengan istrinya Ratu Beatriz Nusta dan lima orang lainnya yang tidak kalah pentingnya seperti: pertama, Domingo de Santo Tomas yang tiba di Peru tahun 1540, seorang teolog dan ahli bahasa yang menerbitkan buku tata bahasa Quechua pertama (1560). Kedua, Toribio de Mogrovejo, archbishop Lima yang dilantik Philip II tahun 1580. Dia seorang yang sangat enerjik mereorganisasi Gereja Peruvia di antara tahun 1580 hingga kematiannya tahun 1606. Catecismo Mayor-nya dipublikasikan di Lima tahun 1584 dalam bahasa Spanyol, Quechua dan Aymara. Ketiga, St.Rose dari Lima (1586-1617). Dia anak seorang perempuan creole, yang bergabung dengan Third Order of St.Dominic. Keempat, Martin de Porres (1579-1639), tinggal di Lima, keturunan mullatos (peranakan Negro dan kulit putih). Pemerintah Provinsi Peruvia Dominic tidak mengijinkan menerima orang kulit hitam atau mulattos, namun Martin diijinkan sebagai pelayan, memakai pakaian keagamaan. Kelima, Guaman Poma de Ayala. Dia seorang tua-tua Indian keturunan kaum bangsawan yang mengenal Spanyol secara singkat. Testamennya yang sangat kejam ditulis sebagai protes kepada raja muda yang berlaku tidak adil dalam pemerintahan Spanyol. Guaman Poma memuji Yesuit dan Fransiskan tetapi menentang keras Dominikan, Augustinian dan Mercedarian sebab mereka angkuh dan menyakiti orang Indian. Guaman Poma yang lahir di Seville tahun 1484 lama sekali tinggal sebagai pendatang di Hispaniola dan Kuba sehingga dia tahu benar apa dibicarakannya tentang perjuangannya melawan kejahatan atas nama Spanyol dan Kekristenan. Dari tahun 1516 Guaman berjuang hingga mencapai puncaknya tahun 1550 di Spanyol. Tokoh perjuang lainnya adalah Bartolomes de Las Casas. Las Casas adalah tokoh pejuang yang berjuang untuk membela hak-hak orang pribumi. Las Casas selalu menghadapi sebuah dilema. Tantangan yang dihadapinya adalah hampir setiap orang Spanyol telah melakukan segala sesuatunya di Dunia Baru dibandingkan dengan memberitakan Kekristenan. Las Casas dengan sangat berani membenarkan pengorbanan tubuh sebagai ekspresi alami tugas manusia menyembah Allah. Dia meninggal tahun 1566.

1650 – 1780

Katolikisme Amerika Latin memiliki bentuk yang didominasi oleh orang-orang creole yang walaupun mereka harus menerima uskup-uskup dari Spanyol sebagai gubernur dan raja muda dan mereka masih terlihat menjaga dan mengawasi orang-orang Indian. Akibatnya terjadilah penurunan kekuatan intelektual dan kekuatan spiritual Gereja Spanyol. Di Spanyol tenaga semakin habis akibat perang-perang dan kesalahan kebijakan dan ketidakmampuan raja-raja. Kehidupan Katolikisme yang sangat menonjol pada abad keenambelas di Eropa ditemukan di Spanyol. Konsili Trente menekankan bahwa jemaat-jemaat seharusnya memiliki imam-imam terutama dari imam projo di bawah uskup. Pada mulanya di Amerika imam projo diperuntukkan bagi orang-orang creole yang dibagi dalam doctrinas. Ada dua orang petani Meksiko yang menjadi pemimpin mereka yang terkenal pada tahun 1810-1815 yakni : Miguel Hidalgo dan Jose Maria Morels yang kedua-duanya adalah pendeta. Hidalgo seorang creole, dan Morelos seorang mestizo (percampuran orang Spanyol dan Amerika Latin). Para biarawan yang ditangkap lebih menekankan perjuangan kepada creole dan peninsular dibandingkan dengan creole dan Indian. Ada ratusan creole Fransiskan, Dominikan dan Augustinian yang merasa bahwa pengawasan tugas mereka berada pada orang Spanyol. Akhirnya, alternativa harus diadopsi, sebuah aturan di mana setiap posisi penting diduduki secara bergantian di antara orang creole dan peninsular. Katolikisme di Paraguay dimulai tahun 1603. Sedikit demi sedikit kelompok Yesuit tak bersenjata datang ke daerah pegunungan, dan ke pedesaan dengan arak-arakan membawa salib. Pada abad kedelapan belas misi di Paraguay menghasilkan seratus ribu orang yang tinggal di desa. Di Paraguay, sama seperti di Meksiko atau Peru, Gereja Indian sangat rentan dengan perpecahan jika mereka memiliki pelayan dari orang Indian sendiri, padahal beberapa orang mestizos telah ditahbiskan menjadi imam sebelum abad kedelapan belas. Pada tahun 1627, Alonso de Sandoval menerbitkan bukunya yang berjudul De instauranda Aethiopum salute yang menceritakan tentang rasul-rasul dari budak Afrika. Sandoval bersama asistennya, Pedro Claver bekerja dengan tidak mengenal lelah di dermaga Cartagena di mana ribuan orang kulit hitam diperjual-belikan setiap tahun, dan bahkan banyak di antara mereka yang mati daripada yang hidup setelah mereka menyeberangi Atlantik. Sandoval dalam bukunya mencela tindakan keji kepada orang-orang budak. Sehingga Sandoval dan Claver dikenal sebagai pahlawan dalam sejarah keagamaan bahkan dalam sejarah Yesuit. Di Brazil, Yesuit tiba tahun 1549 yang kemudian disusul oleh Franciskan, Carmelit dan Benediktin yang menghadirkan Gereja Eropa yang memiliki teologi dan spiritual yang brilian. Di Brazil ini juga orang-orang kulit hitam yang datang dari Afrika sebagai budak dalam perkebunan tebu mengalami penderitaan.

1780 – 1900: REVOLUSI DAN REAKSI

Hastings berpendapat jika Amerika mampu melakukan sebuah Revolusi Amerika tahun 1780-an, mengapa Amerika Latin tidak bisa melakukannya? Jawabannya menurut Hastings adalah orang-orang creole sangat takut kehilangan bantuan dari penjajah, padahal mereka mayoritas di negeri mereka sendiri. Barangkali hanya 15% dari penduduk Spanyol Amerika kulit putih, bahkan di Spanyol Baru (Meksiko) dari 6 juta penduduknya hanya satu juta kulit putih. Alasan lainnya menurut Hastings adalah akibat terjadinya pemberontakan Tupac Amaru II di Peru dan revolusi berdarah kulit hitam di Saint-Domingue (Haiti). Pertanyaan lain yang diangkat Hastings adalah apakah pengaruh yang diterima Gereja atas revolusi dan apakah akibat yang diterima oleh Gereja dari revolusi? Menurut Hastings, setidaknya ada tiga klasifikasi imam untuk melihat pengaruh dan akibat revolusi ini bagi Gereja. Pertama, kelompok uskup-uskup dan para kaum agama dari peninsular dan yang setia. Mereka diangkat raja dengan demikian mereka membayangkan keselamatan diri. Kedua, kalangan imam-imam creole kelas atas melihat hal-hal yang agak berbeda. Mereka lebih terinspirasi untuk melakukan gerakan-gerakan pembaharuan. Pada dasarnya mereka ingin sebuah Gereja creole bagi negara creole – sebuah negara yang secara ideologi mengadopsi identitas Amerika yang bebas dari non-kulit putih Amerika. Ketiga, kalangan imam-imam dari creole dan mestizo yang tinggal dan bekerja bagi penduduk non-kulit putih. Mereka melihat perlakuan buruk yang dilakukan kepada kulit hitam sehingga mereka memberikan simpati yang mendalam dan membentuk lagi masyarakat creole dan mestizo. Banyak imam yang dihukum mati di Meksiko karena mendukung pemberontakan Hidalgo dan Morelos. Perang 1810-1815 menunjukkan prisma bagi pengungkapan ambiguitas yang terjadi di Meksiko. Perjuangan menuju kemerdekaan dimulai dengan Perang Kemerdekaan yang dikenal dengan Grito de Dolores Hidalgo pada hari Minggu, 16 September 1810. Gerakan ini diikuti oleh orang Indian dan mestizos yang menolak pemerintahan Spanyol dan memperjuangkan kebebasan Indian dari penderitaan mereka. Penduduk asli Guadalupe memproklamasikan kelompok revolusi tetapi hubungannya dengan orang-orang creole masih samar-samar. Sementara itu di Guadalaraja uskup Kabanas telah mengatur resimen cruzado di mana dia sendiri keluar dari katedral. Kabanas ditangkap dan dihukum gantung dan kepalanya dipertontonkan di Guanajuato. Ketika hari kemerdekaan tiba, seluruh orang Amerika Latin berkomitmen untuk memodernisasi, memperbaiki Gereja dalam berbagai cara. Para pemimpin politik dengan sadar menjadi anti-Katolik. Pertanyaan yang sangat penting yang diajukan Hastings adalah bagaimanakah hirarki Amerika Latin dilanjutkan dan bertahan secara keseluruhan. Raja-raja Spanyol dan Portugis telah memberikan jaminan hak untuk membuat pengangkatan uskup. Secara seimbang pemerintahan baru melakukannya bagi jaminan bahwa patronato harus diberlakukan juga bagi mereka. Konsekuensinya tidak ada lagi uskup yang diangkat untuk beberapa tahun. Diosis Meksiko kosong dari tahun 1824-1825, di Buenos Aires dari tahun 1813-1833 dan Nikaragua dari tahun 1825-1849. Ketika Uskup Kepala Guatemala dan Uskup Puebla mati tahun 1829, Amerika Tengah dan Meksiko ditinggalkan tanpa seorang uskup. Perubahan yang berarti dalam pengawasan hirarki Amerika tidak dapat ditaksir. Perubahan ini menghasilkan sistem episkopal baru. Akibat kekosongan dari yang lama ke yang baru adalah penurunan yang tajam dari para imam. Di beberapa tempat tidak ada imam yang ditahbiskan selama dua puluh tahun. Banyak imam yang baik telah ditarik ke Spanyol. Hastings juga mencatat permasalahan yang terjadi dalam hubungan Gereja dan negara. Negara sama seperti Gereja di berbagai kota-kota berantakan. Misalnya di Peru memiliki enam konstitusi dan delapan presiden dalam rentang waktu sepuluh tahun. Pemerintahan baru selalu kekurangan uang. Mereka juga membutuhkan sebuah ideologi untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Ideologi yang didukung oleh pensadores adalah perjuangan liberalisme anti-klerus di Eropa bagian selatan dengan monarkhi absolut dan Gereja yang reaksionis. Di Peru, figur yang terkenal dari tahun 1840-an hingga 1860-an adalah Presiden Ramon Castilla, seorang mestizo yang menunjukkan pragmatisme yang luar biasa dalam mengejar sebuah agenda ‘liberal’ dan menghindari benturan dengan Gereja. Di Meksiko yang terjadi adalah hal yang berlawanan. Konstitusi asli dideklarasikan bahwa “Agama negara Meksiko adalah dan terus-menerus agama Katolik, Apostolik, dan Roma. Negara dilindungi dengan bijaksana dan hukum dan dilarang melakukan hal-hal lain”. Namun dalam kenyataan negara Meksiko jauh dari perlindungan. Kebijakan pemerintah bergeser secara tidak teratur dan terjadilah beragam perebutan kekuasaan (coup) menuju penghapusan perbudakan, juga terjadilah fuero dan penyitaan harta milik gereja. Akhirnya terjadilah Perang Tiga Tahun yang dimulai tahun 1857. Presiden Juarez lebih agresif memprogramkan: penyitaan seluruh kekayaan Gereja, menindas seluruh biarawan, memisahkan Gereja dan Negara, dan kebebasan beragama. Hastings lebih dalam menemukan beberapa ciri Katolikisme Amerika Latin yaitu: Pertama, kebangkitan Atusparia di Peru tahun 1885. Akibat kekalahan Peru terhadap Chili, maka pemerintahan pun semakin lemah. Karenanya timbullah gerakan yang memprotes melawan pajak yang tinggi dan tindakan yang kurang baik. Kedua, gerakan yang dipimpin Antonio ‘Conseheiro’ yang ditindas oleh tentara Brazil di Kanudos pada bulan Oktober 1897. Antonio Vicnete Mendes Maciel adalah penjaga toko dan pengacara gereja di timur laut Brazil. Karena ditinggalkan isterinya, maka dia menjadi beato (laki-laki kudus) sehingga dia dikenal sebagai ‘nosso conselheiro’. Ketika pemerintah mengumumkan bahwa pajak akan dinaikkan, Conselheiro membatalkannya. Dia memutuskan untuk memimpin umat yang sulit sekali dicapai yakni Kanudos tahun 1893. Segera setelah itu, orang Kanudos bertumbuh dari 4.000 orang menjadi 25.000 orang. Daerah ini bebas dan makanan berlimpah ruah. Namun pemerintah melihat mereka sebagai bahaya bagi negara sehingga pemerintah menghancurkan Kanudos pada tanggal 5 Oktober 1897. Tubuh Conselheiro mati tergelat bersama reruntuhan bangunan gerejanya. Victor Lanternari mengklaim bahwa Antonio berpikir bahwa dirinya menjadi ‘seorang mesias, juru selamat manusia dan reinkarnasi Kirstus’. Dan ketiga, Cristiada di Meksiko tahun 1920-an.

ABAD KE DUA PULUH

Cristiada di Meksiko secara keseluruhan sangat besar, yang secara politik cukup berbahaya. Gerakan lain tentang konfrontasi Gereja-negara telah dibangun sejak Revolusi Meksiko tahun 1910 yang secara konsisten dan agresif anti-agama dibanding pemerintahan sebelumnya dalam post-Kemerdekaan Amerika Latin. Pada pertengahan 1920-an Presiden Calles mulai mengimplementasikan secara sistematik pasal-pasal anti-agama pada Konstitusi 1917. Akhirnya terjadilah kerusuhan pertama pada tanggal 31 Juli 1926 yang diikuti kemudian pada bulan Januari 1927 yang bersifat umum. Tiga tahun kemudian pemerintah secara efektif kehilangan kemampuan melawan tentara gerilya. Otoritas Gereja hampir seluruhnya memalukan. Sehingga pada bulan Juni 1929, Gereja dan Negara dipaksa untuk membuat persetujuan. Viva Cristo Rey, tuntutan-perang kaum tani Indian menamakan perang tersebut dengan Cristiada. Cristiada ini, gerakan kebangkitan tebesar di seluruh Amerika Latin yang tidak memiliki tekanan khusus selain keagamaan yang membedakan gerakan petani Kristen dari klerus Gereja dan juga dari negara anti-keagamaan. Dalam sebuah surat pastoral tahun 1916, Uskup Kepala dan Kardinal kemudian Rio de Janeiro D.Sebastiao Leme telah menggambarkan orang miskin sebagai ‘orang yang kurang berpendidikan, orang yang percaya takhyul, orang yang kurang ajar dan fanatik’. Dengan situasi demikian maka mulailah kebangkitan kegerejaan tahun 1872 ketika Uskup Receife di Brazil, Dom Vital Maria de Oliveira masuk penjara karena melawan pengawasan negara atas gereja. Hal ini cukup berarti karena terjadi di Brazil yang penduduknya bertumbuh pesat dengan imigrasi dari Eropa dan yang segera menjadi memimpin Amerika Latin. Tahun 1899, Leo XIII mengadakan pertemuan Dewan Lengkap uskup-uskup Amerika Latin di Roma. Secara kegerejaan, inilah permulaan jaman baru di mana Roma harus merealisasikan hal yang sangat penting di wilayahnya. Di sepanjang abad kesembilan belas pengaruh Gereja telah menurun; dan baru pada abad kedua puluh kembali lagi pengaruh gereja meningkat. Setelah tahun 1920 dalam pontifikatus Pius XI setelah Perang Dunia II, pembaharuan semakin jelas. Diosis semakin diperbanyak; imam-imam dari Eropa, pertama dari Spanyol kemudian dari negara lainnya berdatangan ke Amerika Latin untuk mengurusi institusi keagamaan baru. Filsuf muda Brazil, Jackson de Figueiredo (1891-1928) memulai gerakan dengan penyerahan dirinya kepada gereja tahun 1917 dan mendirikan Dom Vital Center sebagai pusat kehidupan intelektual Katolik dari masyarakat urban baru. Pada akhir jabatan Pius XII tahun 1958 haluan penting Gereja Amerika Latin di dalam dunia Katolikisme semakin jelas. Brazil sendiri memiliki tidak lebih dari tiga kardinal. Tahun 1955 Konferensi Umum pertama uskup-uskup Amerika Latin dilaksanakan di Rio de Janeiro yang menetapkan dewan yang tetap yang disebut dengan CELAM. Untuk mengakhiri badai sejarah Gereja di Amerika Latin ini maka diadakanlah Kosili Vatikan II (1962-1965). Hampir setiap novelis menekankan resonansi pengajaran Konsili di Amerika Latin. Respons terhadap Konsili Vatikan tentang Gereja Amerika Latin dapat dilihat dengan baik dalam tiga bagian: Pertama, Konferensi Umum Kedua uskup-uskup Amerika Latin dilaksanakan di Medellin, Kolombia tahun 1968. Kedua, dalam perkembangan Teologi Pembebasan. Dan ketiga, dalam pertumbuhan Dasar Komunitas orang Kristen, seluruhnya di Brazil. Di Medellin, Gereja mendeklarasikan ‘keberpihakan bagi orang miskin’, mengarahkan mereka untuk menggunakan liturgi yang sesuai dengan bahasa mereka, dan mendorong kaum awam untuk lebih terlibat aktif di dalam kehidupan Gereja. Dengan demikian maka terbukalah pintu bagi pertumbuhan Teologi Pembebasan. Teologi Pembebasan, dipublikasikan dalam bahasa Spanyol oleh Gustavo Gutierrez, seorang imam Purivia tahun 1971 dan dalam bahasa Inggris dua tahun kemudian. Teologi Pembebasan adalah sebuah gabungan kegembiraan yang meluap-luap melalui Gereja Katolik di seluruh dunia akibat buruk dari Konsili Vatikan II, kerelaan menyebarluaskan di antara pemikir intelektual keagamaan untuk maju dalam Marxisme dan keadaan khusus masyarakat dan Gereja di Amerika Latin. Teologi Pembebasan ini muncul dalam berbagai bentuk, ada yang menggunakan terminologi dan analisis Marxis. Mata rantai dengan Teologi Pembebasan adalah strategi pastoral yang dikenal sebagai Komunitas Basis (Base Community). Komunitas Basis adalah dalam hati, memahami kesederhanaan sebagai cara pengembangan tipe persekutuan jemaat tanpa imam yang menetap. Komunitas Basis didasarkan pada konteks yang benar bagi Teologi Pembebasan dan menetapkan tempat bagi The Gospel in Solentiname dari Ernesto Cardenal, pemain musik klasik terkenal. Teologi Pembebasan juga ditemukan dalam agenda akademik bagi setiap negara Amerika Latin. Sebagaimana Teologi Pembebasan, Komunitas Basis berkembang tahun 1970-an dan permulaan tahun 1980-an menghadapi persoalan utama tentang sistem sosio-politik Amerika Latin dan perlawanan terhadap Gereja dan negara. Dukungan terhadap gerakan ini dilakukan Uskup Lopez Trujillo di Medellin. Kolombia adalah salah satu negara yang kuat melakukan perlawanan itu tetapi di sana juga Gereja Katolik sangat konservatif bahkan yang sangat ironi, pada tahun 1968 Konferensi Umum CELAM dilaksanakan di Kolombia. Trujillo terpilih menjadi sekretaris eksekutif CELAM dan berjuang mendukung Teologi Pembebasan. Peru merupakan pusat Teologi Pembebasan, dan juga negara yang menjadi bagian terbesar dari uskup-uskup Opus Dei dan merupakan penampakan dari Opus Dei (bandingkan dengan Dan Brown: Da Vinci Code) di dunia. Pada saat bersamaan polarisasi politik menjadi semakin buruk di antara sayap kiri dan kanan. Bahkan intervensi US semakin agresif di dalam politik Amerika Latin pada periode akhir Perang Dingin dan perubahan umum pada sayap kanan dalam kebijakan Amerika dalam masa Ronald Reagan. Sementara itu kejatuhan Komunis di Rusia dan berakhirnya Perang Dingin membuat banyak orang Amerika pulang dari Amerika Latin. Menurut Hastings, semua bagian sejarah Kekristenan Amerika Latin di antara Katolikisme populer dan sistem klerus Gereja memiliki faktor yang menentukan. Kedua-duanya bersatu dalam abad pertama dengan kepemimpinan orang-orang Fransiskan dan Yesuit. Keadaan ini dirusak kemudian oleh Ultramontanisme Gereja abad kesembilan belas. Pemahaman dasar seluruh gerakan gereja dibaharui, disebarkan dari tahun 1950-an sampai pada pembunuhan Uskup Romero tahun 1980. Dukungan pemimpin Gereja sebagaimana dilakukan Uskup Trujillo adalah mencegah Katolikisme dan mendorong merangkul Protestanisme di wilayah itu. Di Karibia, orang Protestan sudah ada sejak pertengahan abad ketujuh belas ketika Inggris menaklukkan Barbados dan Belanda menaklukkan Kuracao. Kedua negara ini lebih mementingkan perdagangan budak daripada penginjilan itu sendiri. Moravia, Methodis dan Baptis aktif melayani di Jamaika dan di tempat lainnya. Pada awal abad kesembilan belas, Protestanisme belum ada di mana pun di negeri itu, walaupun Protestanisme dikagumi luas oleh elit politik liberal yang berkuasa setelah Kemerdekaan. Protetanisme abad kesembilan belas memasuki daerah itu melalui imigrasi penduduk. Orang-orang Prostestan bertumbuh dan berkembang baik melalui kegiatan para misionaris dari Amerika, khususnya dari sebelah selatan Bible Belt. Perkembangan selanjutnya menurut Hastings, Persekutuan Gereja-gereja Nasional mulai didirikan : di Meksiko dan Puerto Riko tahun 1920-an, Brazil dan Argentina tahun 1930-an, Peru, Chili, Equador tahun 1940-an, Kolombia dan Guatemala tahun 1950-an. Tahun 1949 Konferensi Injili Amerika Latin pertama dilaksanakan di Buenos Aires. Pada tahun 1950-an perubahan yang besar semakin jelas baik di bidang sosial dan politik yang lebih terbuka kepada Protestanisme. Teolog-teolog Protestan pun bermunculan seperti Jose Miguez Bonino dari Argentina dan Emilio Castro dari Uruguay (pernah menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-gereja se-Dunia tahun 1985). Bagi mereka membaharui Katolikisme Vatikan II bukanlah sebuah musuh, tetapi tidak lebih menjadi sebuah sekutu. Pertumbuhan Protestan begitu cepat misalnya di Guatemala yang dulunya hanya 2% Protestan tahun 1960 menjadi 35% pada tahun 1990. Hal yang sama juga terjadi di Brazil dan bahkan pelayanan Pentakosta pun semakin meningkat di sana. Protestan mencapai 15% atau sekitar dua puluh juta jiwa dari seluruh penduduk. Sementara di daerah lain Protestanisme sekitar 8% dan 20% seperti di Chili, Nikaragua, Puerto Riko, El Salvador, Panama dan Venezuela. Hampir seluruhnya pertumbuhan ini didominasi Pentakosta.

4. CINA DAN TETANGGANYA Oleh : R.G.Tiedemann

Menurut Tiedemann, pengantar Kekristenan di sebelah timur Asia membuktikan kesulitan khusus sebab di Asia bertemu dengan sofistik tinggi dan masyarakat secara budaya yang mapan didasarkan perbedaan prinsip ideologi dan organisasionalnya. Asia Tenggara sudah lama menampakkan pengaruh-pengaruh budaya dan keagamaan dari India. Theravada Buddhisme di dalam elit dan berbagai masyarakat begitu kuat mengelilingi kelompok etnik Burma dan Siam (sekarang Thailand) dan memainkan bagian sentral di dalam tradisi politik-keagamaan. Di dalam dunia orang Asia Tenggara, tradisi animis sangat kuat. Dunia Asia Timur didominasi ‘budaya-budaya Kong Hu Cu yang tinggi’ di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam.

CINA SEBELUM TAHUN 1500: NESTORIAN DAN FRANCISCAN

Banyak dari sejarah pra-modern Asia Timur dan Asia Tenggara dipengaruhi Cina yang mendominasi budaya dan kekuatan politik di wilayah ini. Tempat ini dipadati penduduk tetapi kerajaan masa lampau menjadi objek utama bagi penginjilan Barat. Meskipun demikian, di Cina terdapat macam iman Kristen yang diperoleh pertama ke Cina. Seperti Kristen Nestorian menyebar ke arah timur dari Persia di daerah Turki nomaden di Asia Tengah pada abad ke enam. Bukti pertama kegiatan misionaris Kristen di Cina ditemukan pada museum terkenal Nestorian – dibangun tahun 781 dan ditemukan kembali tahun 1625 – yang panjang lebar dan informasi inskripsinya dalam bahasa Cina dan Syria. Alopen tiba di pusat dinasti Tang, Chang’an (sekarang Xi’an) tahun 635 pada masa pemerintahan Kaisar Taizong (627-649). Masa ini menandakan terbukanya kebudayaan dan toleransi beragama yang diikuti Daoisme asli sama seperti agama Buddhisme, Manichaeisme, Zoroastrianisme, Yahudiisme dan Islam berada bersama Kong Hu Cuisme, tradisi budaya Cina orthodoks. Dengan dukungan dan bantuan kaisar, Gereja Kristen pertama dan biara dibangun di Chang’an tahun 638. Pada tahun yang sama Alopen, atas persetujuan kaisar dan bantuan koloborasi bahasa Cina, menyelesaikan terjemahan The Sutra of Jesus the Messiah, yang menjadi buku pertama orang Kristen dalam bahasa Cina. Diperkirakan ada sekitar 21 orang biarawan Nestorian mungkin dari Persia aktif bekerja di Cina. Meskipun demikian setelah keadaan yang menguntungkan pada awalnya ini, namun ada dua perkembangan yang berakibat bagi misi Nestorian di Cina yakni: penganiayaan di bawah Kaisar Wanita Buddhis Wu (625-705) dan penaklukan Arab di sebelah barat Asia yang memberhentikan misi Nestorian. Pada masa pemerintahan Xuangzong (712-756) Gereja dibangun kembali dan membuat kemajuan yang penting. Berdasarkan monumen tersebut, bangunan-bangunan gereja telah dirusak dan misionaris baru tiba dari Persia tahun 744. Tapi iman Kristen telah menyebar di Uighurs, yang dominan kekuatan Turko-Mongolia di Cina barat laut. Bahkan dalam Kekaisaran Cina sendiri, Nestorian menurun segera setelah pembangunan monumen itu. Penganiayaan terbesar di bawah Kaisar Wenzong tahun 845. Pada tahun 907 Gereja Kristen pertama di Cina dilenyapkan. Samuel Moffet menyimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan kejatuhan Gereja Cina bukanlah akibat penganiayaan agama, juga bukan karena teologi yang kompromistis, dan juga bukan karena orang asing, melainkan kejatuhan dari kaisar yang mendukung dan yang melindungi Gereja. Ekspansi Mongolia di Asia menciptakan hubungan yang stabil di sepanjang rute perdagangan di antara Asia Timur dan Asia Barat menciptakan kondisi untuk menampakkan kembali Kekristenan di Cina. Nestorian kembali pada Kerajaan Tengah (Middle Kingdom) dalam kebangkitan penaklukan Mongolia atau Cina Utara tahun 1260. Kaisar Mongolia juga memfasilitasi hubungan langsung di antara orang Cina dan orang Eropa. Paus Innocentius IV dan pemerintah Eropa lainnya memahami ide aliansi dengan Mongolia melawan Islam. Karena itu, Konsili Lyon tahun 1245 memutuskan mengirimkan misi ke Mongolia untuk mendirikan hubungan persaudaraan dengan Mongolia. Salah satu badan misi itu dipimpin biarawan Fransiskan Yohanes Plano Carpini (Giovanni del Pian di Carpini), yang tiba di ibu kota Mongolia Qaraqorum pada saat penobatan Quyuk menjadi Khan Agung ketiga (1246-1248) tanggal 24 Agustus 1246. Namun misi Yohanes ini tidak membawa hasil yang baik. Tenaga misi berikutnya adalah William Rubruck seorang Fransiskan. Tahun 1287 Arghun mengirimkan biarawan Nestorian Rabban Sauma sebagai duta untuk memelihara aliansi dengan orang Eropa. Dia mengunjungi Roma, Paris dan Bordeaux dan bertemu Paus dan raja-raja Perancis dan Inggris. Catatan lain yang perlu diperhatikan menurut Tiedemann, seorang Nestorian Kerait ratu Sorqoqtani yang meninggal tahun 1252 adalah ibu kandung Qubilai Khan yang membangun dinasti Yuan di Cina Utara tahun1271 dan pada tahun 1279 menaklukkan seluruh Cina. Dalam pemerintahannya, Qubilai Khan mengadopsi strategi dan administrasi dari orang asing termasuk orang Kristen. Sehingga dinasti Yuan ini dapat menerima kehadiran Katolik Roma memasuki Kerajaan Tengah itu sendiri. Biarawan Fransiskan lainnya yang datang ke Cina adalah Yohanes Montecorvino yang datang ke Cina melalui pantai India dan tiba di Khanbaliq (atau Dadu yang sekarang Beijing) tahun 1294 dan diterima oleh Kaisar Temur Oljeitu (1294-1307) cucu Qubilai Khan. Yohanes diijinkan membangun Gereja di Beijing tahun 1299 di atas tanah yang dibeli oleh tentara Italia, Peter Lucalongo. Dalam suratnya tahun 1305, Yohanes melaporkan sudah ada 6000 orang yang menjadi Kristen. Setelah Yohanes, masih ada tujuh lagi biarawan yang dikirimkan ke Cina namun hanya tiga yang tiba di Khanbaliq tahun 1308. Dengan kehadiran mereka maka penyebaran Kekristenan semakin meluas ke daerah Quanzhou (Zaitun) di Provinsi Fujian. Sehingga telah berdiri gereja Katolik di Yangzhou, Hangzhou (Quinsai) dan tempat-tempat lainnya. Sekitar tahun 1322 seorang pengunjung Fransiskan, Ordoric Pordenone (kira 1265-1331) yang tiba di Cina Utara dengan membawa tulang-tulang empat orang Fransiskan yang dibunuh di India ketika mereka berusaha menemukan Cina. Kemudian Yohanes meninggalkan Cina kembali ke Eropa. Pada saat itu dinasti Yuan sudah semakin merosot dan digulingkan tahun 1368. Sehingga Uskup Zaitun, James Florence dibunuh oleh pejuang Cina tahun 1362 dan tahun 1369 seluruh orang Kristen diusir dari Beijing.

MENANAMKAN KEKRISTENAN, 1500 – 1800

Ekspansi kolonial Portugis dan kekuatan perdagangan di Asia pada masa pertengahan pertama abad keenam belas diikuti oleh semangat misionaris Katolik untuk menyebarkan Kekristenan kepada penduduk baru dari negara yang ditemukannya. Berdasarkan bulla Paus Aleksander VI (1493) dan perjanjian Tordesillas (1494) dan Saragosa (1529), dunia telah dibagi menjadi dua jurisdiksi spiritual di bawah dukungan penguasa Spanyol dan Portugal yang bertanggung jawab atas pertobatan ‘orang kafir’ dan bangunan gereja-gereja dan biara-biara. Konsekuensinya, Portugis meneruskan mendirikan pusat perdagangan di Asia, dan memperluasnya dari Goa (1510) di India ke Malaka (1511) di Malaysia, Ternate (1522), Tidore dan Ambon di Maluku atau ‘pulau rempah-rempah’, Faifo (sekarang Hoi An) dekat Da Nang di Vietnam, Makao di Cina dan Jepang, imam-imam ikut bersama sebagai chaplain (pendeta yang memberikan khotbah pada golongan tertentu) dan penginjil-penginjil di bawah pengaturan paus (padroado). Kecuali di Malaka, Portugis tidak berhasil menanamkan Kekristenan di Asia Tenggara. Di pulau-pulau Indonesia, Fransiskus Xavierus (1506-1552), seorang Yesuit Spanyol tiba tahun 1546. Dia berada di wilayah Maluku selama dua tahun dan ‘mentobatkan’ ribuan suku-suku non-Muslim. Atas dukungan badan misionarisnya banyak orang yang tertarik menjadi Kristen sehingga tahun 1555, 30 desa di pulau-pulau Ambon menjadi Kristen. Karena Portugis gagal memberikan dukungan yang efektif, maka misisionaris tidak dapat membantu pemimpin setempat yang telah menerima Kekristenan melawan musuh mereka. Misi Katolik jauh lebih melemah setelah tahun 1605 ketika Kompeni India Timur Belanda mengusir Portugis dari Ambon dan Tidore.

FILIPINA

Karena Kekristenan Portugis membuat sedikit penekanan di Asia Tenggara, situasinya agak berbeda di bawah penjajahan Spanyol di Filipina. Setelah komunikasi yang dilakukan Magellan gagal di Cebu tahun 1521, penginjilan dimulai dalam kesungguhan oleh Raja Philip II tahun 1570 untuk mengirimkan Spanyol untuk kolonialisasi dan Kristenisasi seluruh pulau Filipina. Dengan penaklukan Manila, pemimpin setempat menyetujui perjanjian dan menerima pengawasan Spanyol dan penyebaran Kekristenan. Tahun 1595 sudah ada 134 misionaris bekerja di Filipina dan diperkirakan 288.000 telah dibaptiskan. Proses Kekristenan di Filipina diikuti keputusan sebelumnya yang telah dibuat di Spanyol Amerika, di mana para misionaris belajar bahwa adalah sangat penting untuk mengkristenkan para pemimpin beserta pengikutnya dan bahkan lebih efektif lagi jika mengkristenkan pemimpin lokal dan mengajar para anak-anaknya. Hal yang sangat penting juga dalam keberhasilan Kekristenan di Filipina adalah aspek-aspek ibadah mengakomodasi unsur budaya mereka. Di dalam masyarakat di mana penyembahan dipraktekkan, figur kekudusan Katolik diterima sebagai sumber kekuatan yang efektif dan atraktif. Di sisi lain, orang Filipina secara perlahan-lahan menerima ide monogami Kristen dan ketidakberceraian pernikahan.

KEBANGKITAN DAN KEJATUHAN KEKRISTENAN SEBELUM ABAD PERTENGAHAN JEPANG

Usaha misionaris Katolik di Jepang diikuti sangat dekat di belakang perdagangan Portugis yang pertama kali menjangkau negara ini tahun 1543. Pada tanggal 15 Agustus 1549 Fransiskus Xavierus dan teman sekerjanya Torres dan Fernandez mendarat di Kagoshima ibukota Satsuma, salah satu kekuatan ban (penguasa feodal) di Jepang sebelah barat. Mereka ditemani oleh seorang Jepang yang bernama Paul Yajiro (atau Anjiro) yang meninggalkan Jepang tahun 1544 dalam kapal Portugis untuk menghindari penangkapan pembantaian manusia. Dia dibaptiskan dan menerima pendidikan dasar di Perguruan St.Paulus di Goa. Dia melayani para imam sebagai penerjemah. Misi dengan segera mampu membangun hubungan yang ramah dengan beberapa orang Jepang. Yesuit sudah berhasil di di sebelah utara pulau Kyushu dengan menobatkan daimyo (pemimpin feodal) yang berpengaruh. Tidak lama setelah keberangkatan Xavierus tahun 1551, misionaris mulai melihat ke pusat budaya Jepang. Mereka membina hubungan persaudaraan dan menambah dukungan bagi orang-orang yang berpengaruh. Sehingga Gaspar Vilela SJ (1525-1572) dijamini sebagai peserta shogun (pemimpin militer) tahun 1559. Saat itu, Yesuit berhasil mendapatkan hubungan dengan pemimpin hegemonik Oda Nobunaga (1534-1582), seorang yang sangat tangguh dan berpengaruh di Jepang tahun 1568. Pengganti Nobunaga sebagai pemimpin militer Jepang, Toyotomi Hideyoshi (1537-1598) berprinsip sama dengan Nobunaga. Bahan tahun 1583, Hideyoshi memberikan lahan bagi pembangunan sebuah Gereja di Osaka. Misionaris membuat dukungan untuk mengadaptasi budaya setempat. Alessandro Valignano (1539-1606), seorang Yesuit Italia yang tiba tahun 1579 memimpin pertama perjalanan tiga inspeksi. Valignano menekankan agar imam-imam asing sejauh memungkinkan mengakomodasikan diri mereka pada sensibilitas dan gaya melakukan sesuatu dari masyarakat setempat sepanjang hal tersebut tidak jauh menyimpang dari pengakuan iman Kristen. Mereka mengadopsi gaya hidup orang Jepang dalam hal berpakaian, kebersihan, makanan, dan perumahan. Perkembangan selanjutnya mulailah terjadi perebutan lahan penginjilan dari beberapa badan misi di Jepang seperti misi Fransiskan Spanyol. Yang sangat menyedihkan badan misi ini saling menjelek-jelekkan dan berseteru satu sama lainnya. Melihat situasi ini, shogun Ieyasu (1542-1616) yang pada mulanya telah berteman baik dengan orang Kristen dengan segera melawan orang Kristen dan menyatakan bahwa agama Kristen adalah agama yang tidak sah tahun 1606 dan pada tanggal 27 Januari 1614 mempublikasikan edik terkenal yang melawan Kekristenan itu. Hal menyakitkan ini terus berlangsung pada masa pengganti Ieyasu dengan mengusir para misionaris. Tragedi terbesar terjadi tahun 1637-1638, orang petani Kristen di Shimabara-Amakusa wilayah sebelah barat Kyushu secara brutal disiksa oleh pemerintah. Akibat tindakan biadab ini, jumlah orang Kristen (sekitar 300.000 orang dari 25 juta) semakin berkurang. Banyak orang Kristen melarikan diri ke luar negeri dan mendirikan jemaat Kristen Jepang di Faifo di Vietnam dan di Ayutthaya di Thailand (Siam). Memasuki periode Tokugawa ditandai oleh keteguhan dan kekerasan anti-Kekristenan hingga permulaan tahun 1600-an. Tahun 1640 Kantor Penyelidikan bagi Urusan Kristen didirikan di dalam Tokyo modern mengawasi orang-orang Kristen. Pengawasan ini ditambahkan dengan praktek anti-Kristen yang disebut dengan efumi.

KEKAISARAN TERAKHIR CINA

Tidak ada bukti yang konkrit bahwa beberapa jemaat Kristen pada masa Mongolia bertahan hingga akhir dinasti Ming dan pada permulaan dinasti Qing, walaupun komunitas Kristen mengklaim ada sebuah mata rantainya. Permulaan misi modern di Cina sangat dekat dengan Jepang. Fransiskus Xavierus yang memulai bekerja di Jepang berharap juga memulai pekerjaannya bagi orang Cina. Tetapi dia meninggal tahun 1552 di Pulau Shangchuan (Pulau St.Yohanes) pantai sebelah selatan Cina sebelum dia mencapai tujuannya. Tiga orang Yesuit yang berusaha memasuki Cina juga gagal sebelum Alessandro Valignano mendirikan sebuah pusat pelatihan khusus di Makao yang memampukan para misionaris untuk belajar bahasa dan kebudayaan Cina sebagai persiapan pekerjaan di Cina. Pada tahun 1583 baru ada dua orang misionaris Italia yang berhasil memasuki Kekaisaran Cina yaitu: Matteo Ricci (1552-1610) dan Michele Ruggieri (1542-1607). Mereka mulai belajar tata bahasa dan bahasa klasik Cina. Pada tahun 1583, mereka tiba di Zhaoqing dekat Guangzhou (Canton). Di antara tahun 1589 dan 1601, Ricci mendirikan sejumlah badan misi di beberapa kota di ibu kota Cina. Akhirnya, tahun 1601, dia diijinkan ke Beijing pusat kekaisaran dan sejak tahun 1601 hingga kematiannya tahun 1610 menandakan puncak keberhasilannya mengatur pelayanan bagi misi Yesuit di kekaisaran Cina. Ricci sangat cepat mempengaruhi para pemikir intelektual Cina dengan memperkenalkan ilmu-ilmu anstronomi dan matematika serta jam tangan. Ricci juga meyakinkan orang Cina bahwa orang Eropa bukanlah pemakan manusia (barbarian). Dengan demikian maka beberapa orang dari intelek penting Cina menerima Yesus seperti: Xu Guangqi (1562-1633), Li Zhizao (1543-1630), dan Yang Tingyun (1557-1562). Kehadiran para misionaris di Cina membawa kemajuan besar. Misalnya saja Johann Adam Schall von Bell (1592-1666) pengganti Ricci dijadikan sebagai ahli astronomi bagi dinasti Qing. Kemudian misionaris Yesuit khususnya Ferdinand Verbiest (1623-1688) memperoleh penghargaan Kaisar agung Kangxi (1662-1722). Dan sebagai puncaknya maka kaisar mengeluarkan edik toleransi bagi agama Kristen tahun 1692. Namun harus juga dicatat bahwa bukan hanya misionaris Yesuit yang datang ke Cina. Namun masih ada lagi badan misi lain seperti Missions Etrangeres de Paris (MEP) yang melakukan penginjilannya bukan hanya bagi kalangan pemimpin kelas atas, tetapi mereka juga bekerja dan tinggal sebagai masyarakat desa. Di desa mereka bertemu satu per satu dengan pemimpin agama terkenal di Cina. Dalam penginjilannya di Cina, Ricci banyak menerima praktek keagamaan Konfutzu sebab menurutnya bahwa agama ini juga bertujuan untuk membawa damai bagi umatnya dan agama ini bukanlah agama yang percaya pada takhyul. Walaupun demikian, Ricci tetap menolak aliran ortodoks Neo-Konfusianisme sebagai agama takhyul. Rici juga menolak beberapa ajaran yang tidak sesuai dengan iman Kristen misalnya ; dilarang berdoa bagi orang meninggal. Persoalan yang terpenting yang dihadapi Ricci adalah soal kata ‘Allah’. Ricci mengadopsi ide dan ekspresi tradisi klasik Cina dengan dua ekspresi yaitu: pertama, Allah itu disebut Shangdi (Penguasa tertinggi di Atas), dan kedua, Tian (‘Sorga’). Pada tahun 1583, Ricci memilih istilah Tianzhu (‘Raja Sorga’) untuk menyebut ‘Allah’. Namun akibat nasihat dari para sarjana bahasa Cina kemudian, Ricci condong menggunakan istilah Shangdi. Walaupun, tahun 1628 istilah Shangdi ditolah pada kenferensi misionaris di Tianzhu, dan Kristen Katolik mengenal Tianzhujian, agama Tuhan di Sorga. Perdebatan tentang ‘Allah’ ini ternyata menjadi persoalan yang dalam. Bagi beberapa kalangan intelektual Cina mencurigai bahwa Kekristenan telah mencuri istilah Konfutzu untuk menamakan tuhan dan meminjam bahasa Buddhis tentang pemindahan jiwa. Perkembangan selanjutnya menurut Tiedemann, orang Kristen akhirnya secara sosial-politik dinyatakan sebagai orang yang menyimpang secara ideologi. Sehingga sejak tahun 1724 edik Kaisar Yongzheng semakin diintensifkan menganiaya orang yang menjadi Kristen. Orang Kristen diperintahkan meninggalkan iman mereka. Misionaris asing, kecuali yang bekerja di Kantor Astronomi di Beijing, diusir dari Cina. Harta benda gereja disita dan digunakan untuk umum. Walaupun bukan secara eksplisit keberhasilan penginjilan sejak awal bergantung pada dukungan orang-orang Kristen Cina seperti Xu Guangqi (Paul Hsu), Li Zhizao (Leo Li) dan Yang Tingyun (Michael Yang) yang bukan hanya mendukung imam-imam dari Barat tetapi juga mereka mendirikan Gereja-gereja di dalam Jiangnan mereka sendiri. Misionaris Katolik melakukan pelatihan bagi imam penduduk setempat sehingga mereka mengangkat Luo Wenzao [Gregorio Lopez] (1611-1691) orang Cina pertama menjadi imam. Wenzao seorang penduduk asli provinsi Fujian yang memasuki serikat Dominican dan ditahbiskan menjadi imam di Manila tahun 1654. Dia diangkat menjadi uskup di Nanjing yang kemudian menjadi uskup pertama orang Cina yang memimpin wilayah Cina sejak tanggal 1 Agustus 1688. Klerus lainnya dilatih dan dibina di Makao oleh Yesuit, di Manila oleh Dominican, dan di Seminari Umum di Thailand oleh Misionaris Paris. Ada juga yang menarik dalam keterlibatan perempuan dalam penginjilan di Cina ini. Para perempuan mengkonsentrasikan hidup mereka melayani Allah dan misi sehingga mereka disebut perawan-perawan Cina.

ASAL MUASAL GEREJA DI VIETNAM

Walaupun telah ada beberapa hubungan misionaris di Vietnam, namun keberhasilan usaha Kristenisasi dimulai tahun 1624 dengan tibanya Aleksander de Rhodes (1591-1660) di Faifo dari Yesuit Perancis. Dia seorang ahli bahasa dan penulis katekismus pertama dalam bahasa Vietnam. Di antara tahun 1627 dan pengusirannya tahun 1630, Rhodes aktif di Tongking, sebelah utara Vietnam yang diawasi oleh Trinh. Di daerah ini banyak masukan yang diberikannya bagi Gereja Vietnam dengan mendirikan Domus Dei, sebuah organisasi pelatihan-seminar katekis. Dalam kenyataanya, organisasi ini isinya didasarkan pada lembaga Buddhis – terbukti keinginan Rhodes mengikuti apa yang telah dilakukan Valignano dan Ricci – untuk mengadopsi kebiasaan dan praktek agama suku. Dalam kunjungan singkat Rhodes kali kedua ke Vietnam tahun 1640, Rhodes melakukan metode yang sama di wilayah Nguyen di sebelah selatan Vietnam yang walaupun kurang berhasil. Tahun 1658, orang Kristen di Vietnam sekitar 300.000 orang Katolik dan hanya dua orang imam. Sekembalinya Rhodes ke Eropa tahun 1649, dia juga mendirikan sebuah yayasan Lembaga Misi Asing Paris (Missions Etrangeres de Paris) tahun 1659 yang didukung oleh Gereja Perancis, tentara Perancis dan istana Louis XIV. Lembaga ini mengutus dua orang calon pelayan yaitu: Pierre Lambert de la Motte MEP (1624-1679) dan Francois Pallu MEP (1626-1684) ke wilayah Asia Tenggara. Pada tahun 1666 MEP membuka pusat seminari di Ayutthaya di ibu kota Thailand untuk mempersiapkan para pendeta bagi orang Cina, Vietnam dan tempat-tempat lainnya di Asia Timur.

1800 – 1945

Pada abad kesembilan belas badan-badan misi – baik Katolik maupun Protestan berkompetisi – semakin meningkat dengan perluasan kolonialisme dan imperialisme Barat. Meskipun pada permulaan abad kesembilan belas banyak daerah Asia Timur dan Asia Tenggara masih termasuk dalam kekuatan Eropa. Hanya Penang, Malaka, Jawa, beberapa daerah di Maluku dan bagian utara Filipina yang dapat disebut di bawah pengawasan asing. Pada awal abad kedua puluh hampir seluruh wilayah Asia Tenggara berada dalam tangan penjajah, seperti Belanda menjajah seluruh kepulauan Indonesia, sementara itu Ingggris menjajah Burma dan Malasya, Perancis menjajah Indo-Cina (Vietnam, Kamboja, dan Laos).

GEREJA, PENJAJAHAN DAN NASIONALISME DI ASIA TENGGARA

Menurut Tiedemann, hanya Filipinalah negara yang paling banyak menerima Kekristenan pada tahun 1800. Di mana-mana para penginjil selalu berjuang menghadapi Muslim di Malasya dan beberapa bagian wilayah Indonesia dan menghadapi Theravada Buddhis di Myanmar dan Thailand. Tetapi perkembangan di Vietnam, perluasan Kekristenan lebih agresif. Pengaruh Pigneau de Behaine dan tentara Perancis membantu membangun dinasti Nguyen pada kekaisaran Gia Long tahun 1790-an masih terbawa hingga dekade kedua tahun 1800-an. Kekaisaran sangat menghargai iman Katolik. Sehingga para biarawan Spanyol sudah ada di utara Vietnam (Tongking) dan imam-imam Perancis di selatan Vietnam (Annam dan Cochin-Cina). Diperkirakan ada sekitar 300.000 orang Kristen di Tongking dan 60.000 orang di Cochin-Cina tahun 1820. Setelah kematian Gia Long, maka pemimpin baru yang didominasi oleh Konfutzu konservatif mengacaukan para misionaris dan orang yang telah menerima Kristus. Penganiayaan kepada orang Kristen semakin meningkat di Vietnam setelah tahun 1833 dan terjadilah perang di antara Raja Minh Mang dan pemimpin misionaris Perancis. Minh Mang menangkap seluruh para misionaris dan memenjarakan mereka. Beberapa dari para misionaris itu dapat melarikan diri namun tujuh misionaris Perancis dan tiga misionaris Spanyol dibunuh di antara tahun 1833 dan 1840. Berbeda dalam pengawasan Belanda pada abad ketujuh belas dan delapan belas seperti di Indonesia, penginjilan itu tidak didorong oleh para penjajah. Sesungguhnya usaha pengkristenan secara esensial dibatasi pada perpindahan agama Katolik menjadi Protestanisme jika dibutuhkan bahkan dengan paksaan. Setelah tahun 1800 saat penginjilan dihalangi oleh penguasa Belanda, pekerjaan misionaris Protestan aktif dimulai di antara penduduk non-Muslim. Pekerjaan ini diprakarsai oleh Lembaga Misi London (London Missionary Society) di Jawa Timur tahun 1814. Lembaga Misi Rhenish (Rhenish Missionary Society) bekerja di Sulawesi Utara tahun 1836 dan dari tahun 1862 bekerja di Batak Toba di Sumatera Utara dan di Nias tempat Gereja Protestan Indonesia terbesar yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). The Indische Kerk (atau Protestantsche Kerk//Gereja Protestan di Hindia-Belanda//Nederlandsch-Indie), dulunya adalah Gereja Dutch East India Company (Gereja Kompeni Hindia-Belanda Timur) sejak tahun 1900 memulai kegiatan misinya di kepulauan Sulawesi, Maluku dan Timor. Gereja ini adalah gereja negara di mana para pendetanya diangkat dan digaji oleh pemerintah Hindia-Belanda. Di Thailand dan kerajaan-kerajaan Burmese Ava dan Pegu penginjilan sangat sedikit yang dilakukan. Misi Kristen Protestan hanya bisa dilakukan di antara kelompok minoritas non-Buddhis seperti di Karens dan Kachins. Berbeda dengan di Filipina, masukan yang sangat penting dari imam pribumi bagi kembangkitan Nasionalisme Filipina menjadi bukti gerakan keagamaan yang dipimpin oleh Gregorio Aglipay yang telah dikucilkan tahun 1890-an karena menentang kekuasaan asing di Gereja Filipina. Emilio Aguinaldo, pemimpin Katipunan menugaskan Gregorio menjadi tentara nasionalis. Setelah berpisah dari Roma tahun 1902, Gregorio menjadi uskup Gereja Independen Filipina. Sering sekali timbul anggapan bahwa perpindahan agama menjadi Kristen sering diimplikasikan koloborasi dengan pemerintahan penjajah. Pada hal gerakan-gerakan yang dilakukan mistikus Jawa Paulus Tosari dan Sadrach di Jawa adalah contoh perlawanan orang Kristen pribumi kepada penjajah Belanda pada abad kesembilan belas. Sejak tahun 1930-an, maka banyaklah gereja-gereja yang berdiri sendiri seperti Gereja Batak tahun 1930, Gereja Kristen Jawa Timur tahun 1931, Gereja Pasunda di Jawa Barat dan Gereja Minahasa tahun 1934, Gereja Maluku tahun 1935. Teolog Hendrik Kraemer, tenaga misionaris Belanda patut mendapatkan pujian sebab dia mengakui dampak pertumbuhan nasionalisme Indonesia atas orang Kristen pribumi. Kraemer diingatkan atas hasil Konferensi Tambaran tentang Dewan Misi Internasional tahun 1938 bahwa Gereja-gereja ‘muda’ adalah buah pekerjaan misionaris, dan bukan untuk milik lembaga-lembaga misi itu.

DARI MISI KE GEREJA DALAM CINA MODERN

Cina menjadi perhatian utama gerakan misionaris Barat di Asia Timur dan obyek pengharapan umum orang Kristen di seluruh dunia. Walaupun orang Cina sendiri sangat mencurigai kehadiran orang Kristen dan bersikap tidak ramah terhadap Kekristenan itu sendiri. Reintegrasi Katolik Cina pada pengembangan misi bukanlah tanpa perlawanan. Ada beberapa indikasi bahwa masyarakat setempat dan pemimpin kaum awam enggan memberikan otonomi. Di daerah Shanghai ada juga perlawanan untuk pernyataan kembali bagi kekuatan misi asing. Di kota Songjiang sebuah konfrontasi di antara misionaris dan orang Cina terjadi akibat partisipasi perawan perempuan di dalam liturgi. Kemudian dibiasakan untuk memimpin lagu-lagu penyembahan di Cina pada masa Mass. Ketika Uskup Ludovico de Besi menyusun pendoa-pendoa baik laki-laki dan perempuan secara bergilir, badai protes terjadi di antara laki-laki dan perempuan yang menyinggung perasaan dan sensibilitas orang Cina. Setelah Yesuit mengambil alih misi di Jiangnan tahun 1840-an, mereka menentukan cara untuk mengatasi masalah dengan ‘meregularisasi’ kehidupan ‘perawan perempuan’. Maka tahun 1869 sekelompok orang Perancis mendirikan jemaat Cina pribumi, Assosiasi Presentasi Perawan yang Diberkati. Hal yang perlu dicatat adalah timbulnya peseteruan orang Kristen di Cina yang bersamaan dengan Pemberontakan Taiping [Damai Besar] (1851-1864) yang melawan dinasti Manchu, salah satu perang sipil terparah dalam sejarah kemanusiaan. Negara Qing menganggap Pemberontakan Taiping perjuangan yang merusak ideologi. Bahkan di mata pemerintah, pemberontakan ini identik dengan ‘Kekristenan’. Akibatnya, para misionaris Barat sangat sulit memasuki Cina dan Gereja Cina dilarang untuk berkembang. Kehadiran penginjil Protestan menambah sebuah dimensi baru. Tenaga misi Protestan yang tiba di Cina adalah: pertama, Robert Morrison dari London Missionary Society (LMS) yang tiba tahun 1807 di Makao dan Guangzhou (Canton). Di kedua tempat ini kegiatan mereka sangat dibatasi. Kedua, Karl Friedrich August Gutzlaff (1803-1851). Dia berusaha untuk memperoleh langsung akses ke Middle Kingdom. Tindakannya yang ceroboh dalam penyeludupan opium ke pantai Cina sangat dikritisi. Memang seluruh badan misi, baik Katolik maupun Protestan harus bergantung dengan hubungan opium: banyak pedagan keluar Cina selalu membawa opium. Dana mereka juga diperoleh dari hasil penjualan opium. Pada tahun 1900 sudah ada sekitar dua ribuan misionaris Protestan asing di Cina. Misi Protestan melakukan tugas penginjilan mereka biasanya dari kota-kota dan dari sana mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain (itinerate) di sekitar desa-desa dan bekerja serta tinggal di antara petani-petani pribumi. Banyak para imam-imam Eropa yang melanjutkan untuk tinggal menetap di banyak pusat pertumbuhan Kristen di desa. Sehingga dapat dikatakan bahwa petobat-petobat baru kekristenan berada di daerah pedesaan. Menurut Tiedemann, sangat sulit didapati sumber-sumber apa yang menyebabkan pertikaian kekerasan bagi orang Kristen di Cina. Ada ratusan kasus yang menjadi perdebatan orang Kristen setempat pada abad kesembilan belas seperti: penolakan orang Kristen membayar pajak dan pemberian biaya perawatan candi-candi “kekafiran”, perkara di antara orang Kristen dan non-Kristen, permasalahan atas hak kepemilikan, perdebatan intra-lineage (garis keturunan) atau inter-lineage. Perasaan Anti-Kristen diperoleh dari sumber-sumber yang lain. Konflik juga terjadi di daerah urban. Di daerah urban ini para misionaris memiliki pengaruh yang besar terhadap politik dan budaya. Mereka juga menunjukkan diri sebagai pembawa peradaban manusia sebagai bagian dari ekspansi umum dari penguasaan Barat. Misi Protestan mendirikan sekolah bagi anak-anak laki-laki dan perempuan, rumah sakit dan percetakan, melatih tenaga kerja umum maupun agama. Puncak dari ketegangan bagi orang Kristen ialah dengan timbulnya Pemberontakan Boxer tahun 1900 yang membunuh banyak misionaris dan ribuan orang Kristen dibunuh. Badai ‘musim panas yang gila’ (summer madness) tahun 1900 membawa perubahan yang berarti bagi hubungan Cina dengan Barat. Sentimen anti-Kristen tradisional secara signifikan menurun dan para misionaris dan orang Kristen dapat memainkan usaha pembangunan pembaharuan Cina. Bagi Protestan, Kekristenan menjadi semakin bervariasi misalnya dengan masuknya Pentakostal dan Adventis. Semakin banyak misi independent atau misi ‘iman’ yang datang ke Cina yang bukan dari lembaga-lembaga misi. Pada tahun 1925, sudah ada sekitar 8.000 misi Protestan asing di Cina. Perkembangan lain yang sangat penting adalah pertumbuhan gereja Cina Protestan independen dengan tiga prinsip kemandirian yaitu: mandiri organisasi, mandiri dana, dan mandiri penginjilan. Orang Kristen di Cina juga akhirnya bisa membentuk Dewan Kristen Nasional yang telah mengadakan Konferensinya tahun 1922. Gerakan kemandirian gereja di Cina ini dapat terlihat melalui: (1) Federasi Gereja membuat jemaat mandiri penginjilan dan mandiri organisasi dan memisahkan diri dari badan misi asing. Salah satu di antaranya, Gereja Kristen Cina Independen yang didirikan di Shanghai tahun 1906 oleh Pendeta Yu Guozhen (Presbiterian). Gerakan ini juga diikuti oleh Cina Utara di Shandong tahun 1912, jemaat Tianjin oleh Zhang Boliang (1876-1951) pendiri Universitas Nakai, Gereja Beijing independen oleh Cheng Jingyi (1881-1939). (2) Berdirinya Gereja Yesus yang Benar (The True Jesus Church), gereja Pentakosta tahun 1917. (3) Dengan adanya The Assembly Hall (atau ‘Gereja Lokal’) yang diorganisasikan oleh Ni Tuosheng (‘Watchman Nee’, 1903-1972) pada pertengahan tahun 1920-an. (4) Berdirinya Keluarga Yesus (The Jesus Family), Gereja Pentakosta yang unik yang dipimpin oleh Jing Dianying (1890-1953?) di provinsi Shandong tahun 1920-an. (5) Gerakan kemandirian lainnya yang diorganisasikan Spiritual Gifts Church di Shandong tahun 1930-an dan penginjilan prbadi-pribadi seperti Wang Mingdao (1900-1991) dan Song Shangjie [John Sung] (1901-1944). Hal lain yang perlu dicatat juga adalah perkembangan para pemikir Katolik Cina yang begitu banyak memainkan peranan dalam perkembangan Gereja di Cina seperti: pertama, Ma Xiangbo (1840-1939) yang banyak memberikan masukan di bidang agama, politik dan pendidikan. Dia mendirikan Universitas Aurora (sekarang Universitas Zhendan) di Shanghai tahun 1903, Universitas Furen tahun 1925. Kedua, Lu Bohong [Joseph Lo Pa Hong] (1874-1937). Dia mendirikan rumah sakit dan sekolah-sekolah tahun 1928. Ketiga, Rene Lu Zhengxiang (1870-1949) seorang diplomat pada masa akhit kekaisaran dan permulaan tahun-tahun republik. Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1930-an didirikanlah Pemerintahan Guomindang (Nasionalis) yang dipimpin Chiang Kai-shek. Dengan pemerintahan ini maka Kekristenan semakin leluasa bekerja di lapangan sosial dan bahkan di dunia politik.

JEPANG: PERTEMUAN KEDUA

Pada masa shogun Tokugawa Jepang masih terus melanjutkan kebijakan pengisolasian diri dari kegiatan misionaris asing di Jepang. Periode pengisolasian diri Jepang ini berakhir dengan tibanya ‘Kapal Hitam’ Amerika di bawah pimpinan Komodor Matthew C.Perry tahun 1853. Dengan Perjanjian Damai dan Perniagaan tahun 1859 dan perjanjian yang sama yang ditanda tangani dengan penguasa Barat, maka orang Amerika dan Eropa diijinkan lagi bebas melakukan kegiatan Kekristenan di Jepang. Tahun 1859 misionaris Protestan tiba yang melayani orang Kristen asing yang ada di Jepang dan misi khusus lainnya untuk bekerja di antara orang-orang Jepang itu sendiri. Di Jepang ini juga ditemukan komunitas ‘orang Kristen tersembunyi’ (Kakure Kirishitan) di Nagasaki tahun 1865. Kitab mereka disebut dengan Tenchi hanjimari no koto yang menunjukkan gabungan dua kitab Shinto dan elemen Buddhis dan yang berisikan pesan-pesan Alkitab. Diperkirakan sekitar 60.000 orang Kristen tersembunyi ini. Akhirnya, Restorasi Meiji tahun 1868 pemerintah menarik kembali sanksi agama dan mengijinkan para petani kembali ke rumah mereka masing-masing. Bersamaan dengan masa Restorasi Meiji ini, maka bangkit pulalah samangat gereja mandiri dari kalangan Kristen pribumi. Lembaga pertama yang tumbuh di luar pengawasan badan misionaris Barat adalah Mukyokai (Gerakan Non-Gereja) yang didirikan pada tahun 1901 oleh Uchimura Kanzo (1861-1930). Kebangkitan semangat nasionalisme juga semakin kuat akibat sikap orang Barat atas ‘perjanjian tak seimbang’ membuat orang Kristen semakin memberikan masukan untuk modernisasi negara. Setelah tahun 1900 Gereja-gereja mensponsori bermacam proyek sosial dan kesehatan seperti rumah sakit untuk menolong orang yang sakit TBC, kusta dan menolong anak yatim-piatu dan lain-lain. Semangat nasionalisme ini juga menghasilkan kesatuan gereja-gereja di Jepang yang didorong oleh pemerintah. Sehingga pada tahun 1941 Gereja-gereja di Jepang membentuk Persekutuan Gereja Kristus di Jepang (Nihon Kirisuto Kyodan) yang beranggotakan 30 Gereja Protestan.

KOREA

Korea adalah negara Asia Timur yang terakhir membuka diri untuk dimasuki langsung Kristen. Usaha penginjilan ke daerah Korea ini telah dicoba dari Jepang, Cina dan Filipina, namun usaha ini selalu gagal. Dan penginjilan secara langsung belum dimulai hingga akhir abad kedelapan belas. Meskipun demikian, pengaruh Kekristenan secara tidak langsung telah diterima oleh para sarjana elit pada permulaan abad ketujuh belas melalui penerbitan bahasa Cina oleh Yesuit di Cina dan di bawa ke Korea oleh duta Korea yang datang ke Beijing. Kekristenan di Korea ini bermula dari Yi Sunghun [Peter Lee Seung-hun] (1756-1801) yang meyakinkan Yi Pyok [Lee Pyok] (1754-1786) salah seorang anggota kelompok Buddhis yang datang ke Cina untuk belajar tahun 1784. Ketika di Cina Yi Sunghun dibaptiskan oleh Jean-Joseph de Grammont (1736-1812). Sekembalinya Yi Sunghun ke Korea bersama Yi Pyok, mereka mulai menginjili teman-teman dan tetangga mereka. Merekalah yang membawa Kekristenan ke Korea, bukan orang-orang misionaris dari Barat. Dengan kata lain, sejak semula Gereja Katolik Korea telah mandiri secara organisasi Gereja. Orang Kristen mulai berkembang dan membangun gereja berdasarkan apa yang mereka lihat di Beijing. Uskup dan imam-imam dipilih dan diangkat setelah tahun 1789. Namun reaksi dari Beijing mengirimkan surat yang menyatakan bahwa apa yang orang Kristen Korea lakukan adalah tidak sah berdasarkan hukum yang ada. Tahun 1795, James Zhou Wenmo (1752-1801) seorang imam Cina secara diam-diam datang ke Korea dan menghidupkan kembali Kekristenan di Korea. Pada tahun 1795 sudah ada sekitar 4.000 orang Kristen dan meningkat menjadi 10.000 orang setelah lima tahun kemudian. Biasanya sarjana Konfutzu di Cina, Jepang, dan Korea selalu menghakimi Kekristenan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, dan berfilosofi subversif. Keterlibatan orang Katolik dengan Sip’a (Party Expediency) yang mengakibatkan kehilangan kekuasaan dan kematian tiba-tiba Raja Chongjo tahun 1800, membuat gereja di kambing-hitamkan secara politik. Akhirnya penyerangan terhadap Katolik diumumkan, dan puncaknya ialah peristiwa Penganiayaan Sinyu berdarah tahun 1801. Banyak orang Katolik Korea dibunuh termasuk imam Zhou Wenmo. Setelah peristiwa Penganiayaan Sinyu ini masih ada lagi penganiayaan lainnya seperti: Penganiayaan Urhae tahun 1815, Penganiayaan Chonghae tahun 1827, dan Penganiayaan Kihae tahun 1839. Kendati penganiayaan bagi orang Kristen ini masih terus berlangsung, namun semangat penginjilan itu tidak berhenti. Badan-badan misionaris asing masih berusaha untuk tetap datang ke Korea, misalnya: Missions Etrangeres de Paris yang tiba di Korea tahun 1831 dan mendirikan sekolah kerasulan yang terpisah dari Beijing – untuk melayani orang Kristen yang tidak memiliki imam bagi generasi berikutnya. Dengan kehadiran badan misi ini, maka Katolik kembali bertumbuh di Korea. Tidak hanya badan misi Katolik yang tiba di Korea, badan misi Protestan juga telah tiba di sana seperti: badan misi Presbiterian Amerika dan Methodis pada pertengahan tahun 1880-an.

1945 – KE ATAS

Kebangkitan semangat nasionalisme sejak abad kesembilan belas, namun meskipun demikian Kekristenan di Asia Timur dan Asia Tenggara masih berlangsung lama didominasi oleh badan misi asing. Perang Dunia Kedua memulai proses dekolonisasi dan penghapusan bentuk-bentuk imperialis di seluruh dunia. Orang Kristen Asia memiliki kesempatan untuk membebaskan diri mereka dari kekuasaan penjajah dan badan misionari dan melakukan Kekristenan yang mandiri.

GEREJA CINA DI BAWAH KOMUNISME

Ketika Perang Anti-Jepang berakhir pada Agustus 1945, maka proselitisasi orang Kristen telah diantisipasi. Orang Kristen Cina sangat bertangung jawab dalam hal ini. Gereja Katolik mendirikan hierarkhi kegerejaan di Cina tahun 1946. Uskup Thomas Tien [Tian Gengxin] SPD (1890-1967) dari Tsingtao menjadi kardinal pertama dan menjadi Arcbishop di Beijing. Namun tantangan orang Kristen di Cina ini adalah Komunis Cina. Dalam pengawasan Komunis yang disebut ‘zona kebebasan’, perjuangan anti-misionaris telah diorganisasikan, pusat-pusat badan misi dihancurkan. Setelah Komunis mendapatkan kuasa di Cina tahun 1949, maka mereka membuat sebuah perjanjian pada tanggal 23 Juni 1950 yang berisikan penindasan terhadap Gereja. Sehingga tahun 1954, seluruh misionaris asing diusir dari Cina. Walaupun secara ideologi dan organisasi Gereja Katolik dilarang, namun secara implisit mereka masih melanjutkan misi mereka seperti yang dikatakan Eric O.Hanson: “Penduduk Republik mempertimbangkan perlawanan laten politik Katolik secara serius…” Melihat situasi tersebut maka pemerintah membentuk Kantor Urusan Keagamaan pada bulan Januari 1951. Pemerintah juga mensponsori Gereja Tiga Kemandirian Katolik yakni: mandiri organisasi, mandiri dana, dan mandiri daya pada tahun 1950-1951. Bahkan negara juga mendirikan Asosiasi Nasional Katolik Patriotik (sekarang Asosiasi Katolik Cina Patriotik [Chinese Catholic Patriotic Association = CCPA]) tahun 1957 serta mendukung keuskupan tahun 1958.

POST-KOLONIAL ASIA TENGGARA

Di Asia Tenggara, orang Kristen memainkan peranan penting dalam perjuangan kebebasan dan proses nasionalisme setelah Perang Dunia Kedua. Di beberapa daerah setelah post-kolonial Kekristenan mengalami tantangan. Misalnya di Aceh, Islam menuntut intervensi pemerintah melawan Kekristenan. Hal yang sama juga terjadi di Myanmar dan Thailand atas dominasi agama Buddha pada Kekristenan. Di negara-negara merdeka lainnya di Asia Tenggara, setelah post-kolonial pemerintah mengancam kelompok etnis minoritas. Meskipun banyak tantangan, Kekristenan memiliki pengalaman pertumbuhan di Asia Tenggara. Berkaitan dengan timbulnya Komunisme, mempengaruhi banyak orang Cina diaspora untuk bergabung dengan gereja. Di Indonesia, setelah perstiwa tahun 1965 pertumbuhan Protestanisme sangat luar bisa. Di Malyasia perkembangan ini memberikan dorongan dalam pembentukan gerakan ekumenis dan asosiasi regional Kristen. Bagi Katolik Vietnam pengalaman paska perang agak tragis. Dulu Katolik adalah minoritas sekitar 10-15% dari jumlah penduduk. Pada mulanya kekuatan Kristeniasi di daerah Phat Diem dan Bui Chu di sebelah utara Vietnam. Gerakan anti-Katolik timbul dan puncak penganiayaan anti-Kristen di Vietnam Utara terjadi tahun 1954 yang diikuti oleh pembagian negara. Hal ini mengakibatkan 600.000 hingga 800.000 orang Katolik melarikan diri ke Vietnam Selatan.

KOREA SELATAN

Paska perang, Gereja-gereja Korea dibawah pengawasan Amerika, Korea Selatan mulai memainkan peran yang berarti dalam pelayanan sosial dan pembangunan kembali fasilitas lembaga-lembaga. Menjelang pecahnya Perang Korea, banyak imam-imam Katolik dan orang-orang percaya ditangkap, dipenjarakan, dan dieksekusi di Korea Utara. Perang Korea (1950-1953) tentu memiliki dampak yang merusak. Akan tetapi, anggota Gereja masih terus bertumbuh di Korea Selatan dan bahkan hingga saat itu seperlima dari jumlah penduduk Korea Selatan adalah Kristen Protestan. Gereja Katolik bertumbuh cepat setelah akhir Perang Korea. Tahun 1962 jumlah Katolik di Korea meningkat hingga 575.000 dari 166.000 tahun 1953. Pada saat bersamaan dimulai pula perubahan dari Gereja desa kepada salah satu bagian masyarakat Korea arus utama dan Katolik menunjukkan perhatian sosial yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Dan semangat ekumenis menjadi bukti perjuangan pemimpin-pemimpin Gereja bebas melawan yang tidak demokratis, kekuasaan militer Presiden Pak Chonghui [Park Chung-hee] dan Chon Tuhwan [Chun Doo-hwan]. Fenomena pertumbuhan Gereja pada dekade ini diikuti oleh tiga kecenderungan yaitu: fragmentasi, indigenisasi dan sekte sinkretistik.

KOMENTAR PENUTUP

Tiedemann menutup bahasan ini dengan pernyataan bahwa Kekristenan pada abad kesembilan belas sunggung luar biasa walaupun dipenuhi dengan penganiayaan yang sangat kejam telah menjadi gerakan keagamaan yang menonjol di Korea Selatan pada akhir abad kedua puluh. Orang-orang Kristen membuktikan dirinya sendiri adequat untuk bertahan hidup di bawah kondisi kolonial orang asing dan pemerintahan militer pribumi dengan prinsip mandiri dana, dan mandiri perkembangan. Kekristenan berjuang sepanjang abad untuk memperoleh tumpuan dalam menghadapi negara-negara kuat, di mana-mana berusaha untuk menerobos, mengatu dan mengawasi lembaga-lembaga keagamaan. Tiedemann juga menyimpulkan bahwa perkembangan Kekristenan di Cina sangat luar biasa walaupun negara tersebut merupakan negara Komunis. Diperkirakan bahwa tahun 1996 jumlah orang Protestan yang dibaptis sekitar 33 juta (menurut pemerintah Cina: 19 juta) dan Gereja Roma Katolik sekitar 18 juta (perkiraan pemerintah: 6 juta). Hal yang sama juga dicatat Tiedemann di beberapa bagian wilayah lain termasuk Indonesia, Malasya dan Singapura di mana Pentakosta dan kharismatik semakin kuat. Meskipun dengan perkembangan postif ini, Kekristenan juga menghadapi banyak tantangan di Asia Timur dan Asia Tenggara. Sebagaimana di Cina, proses memperbaiki hubungan Sino-Vatikan telah berlangsung sangat lama. Kekristenan juga membangkitkan kecenderungan sektarian, doktrin yang ekstrim dan praktek immoral. Kendatipun demikian, seluruh persoalan internal maupun eksternal dapat diatasi oleh orang Kristen di Asia.

6. TANGGAPAN HISTORIS

Jika ditelusuri sejarah Kekristenan di setiap belahan bumi ini, ternyata akan timbul kesan bahwa Kekristenan membawa pengaruh yang besar bagi perkembangan peradaban manusia di setiap lini kehidupan yang dibawa oleh para misionari ke daerah-daerah yang mereka Injili. Kesan lainnya adalah para misionaris tidak takut dan gentar menghadapi persoalan dan tantangan yang mereka terima dari pihak penguasa baik penjajah maupun pribumi serta masyarakat akibat perjumpaan Injil dengan agama dan budaya. Tidak jarang dari mereka harus menerima siksaan dan penganiayaan bahkan meninggal dunia. Itulah yang terlihat dari paparan para penulis di dalam buku Adrian Hastings (ed.), A World History of Christianity, Cassel: The Bath Press, 1999 ini. Memang tidak semua yang diulas dalam bahasan ini, hanya beberapa daerah saja misalnya: India, Afrika, Amerika Latin dan Cina. Namun dengan pemaparan para penulis artikel ini semakin membuka kasanah berpikir tentang perkembangan Kekristenan di belahan bumi ini. Ternyata tidak mudah menjadikan bumi ini menjadi murid Tuhan Yesus. Kalaupun perintah Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Injil menurut Matius sangat mudah kita mengerti, namun ternyata sangat sulit mewujudkannya di dunia nyata ini. ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Jika kita cermati di empat daerah ini maka akan terlihat bahwa di mana-mana Kekristenan itu berhadapan dengan agama, budaya dan adat-istiadat yang sudah mengakar di hati masyarakat. Seringkali akhirnya Kekristenan mengadopsi banyak hal dari budaya dan adat-istiadat setempat agar Kekristenan itu dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat setempat. Memang gerakan seperti ini lebih dikenal dengan nama teologi kontekstual di mana teologi itu dipahami dari sudut pandang masyarakat setempat. Namun terkadang akibat pemahaman yang sempit bisa saja pola ini terjebak dalam dunia sinkritisme agama. Harus diakui memang bahwa tugas berteologi secara kontekstual membutuhkan daya nalar dan spiritual yang handal. Masuknya Kekristenan ke wilayah Asia merupakan akibat dari semangat imperialisme negara-negara Barat yang disambut orang Kristen Barat sebagai kesempatan serta tanggung jawab yang dikaruniakan Tuhan untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Para biarawan Katolik Romalah yang lebih dulu menyerahkan diri bagi pekabaran Injil di Asia, kemudian diikuti oleh para pekabar Injil Protestan. Jika ditelurusi lebih mendalam maka akan timbul pertanyaan, sebenarnya apakah hal yang mendasar yang membuat para imperialis dan orang Kristen Barat pergi ke seluruh dunia termasuk Asia ini. Setidaknya ada dua dokumen yang menjadi dasar mereka pergi menjelajah dunia yakni: Bulla Paus dan Perjanjian Teoesillas. Perjanjian Teoesillas ini menetapkan daerah kekuasaan menjadi dua bagian yakni: Portugis menguasai belahan timur (ke arah Afrika dan Asia) dan Spanyol menguasai belahan barat (ke daerah Amerika Latin). Dengan demikian Portugis memasuki daerah Asia dengan menancapkan imperialismenya serta sekaligus memberitakan Injil Kristus di wilayah Asia ini. Kekristenan di Asia masa kini merupakan warisan penginjilan Barat; dengan segala implikasi positif maupun negatif. Umat Kristen masih tetap merupakan kelompok minoritas; pada tahun 1990 baru 7,8% penduduk Asia mengaku iman Kristen. Walaupun demikian, menjelang akhir abad ke-20 titik berat kekristenan berpindah daru dunia Barat ke dunia bukan-Barat. Perkembangan Kekristenan di Asia menjadi pusat perhatian orang Kristen di dunia. Di Asia Kekristenan menghadapi agama-agama dan kebudayaan kuat, yang sulit dimasuki Injil. Para pekabar Injil, baik Protestan maupun Katolik, berusaha menafsirkan iman sesuai dengan konteks Asia, tanpa melupakan bahaya sinkritisme. Kesulitan tersebut menimbulkan beberapa pertikaian, misalnya mengenai isu tentang kasta, upacara menghormati nenek moyang dan lain-lain. Penginjilan diarahkan pada golongan masyarakat yang dianggap stategis. Dampak gerakan Kekristenan di Amerika Latin yang dikenal dengan Teologi Pembebasannya bagi dunia adalah dengan timbulnya semangat perjuangan untuk membela hak-hak kemanusiaan. Paus sendiri (Paus Yohanes Paulus II) mendukung gerakan Teologi Pembebasan ini sejauh gerakan itu tidak menggunakan kekerasan. Di Indonesia sendiri gerakan ini terlihat dari perjuangan Romo Mangun dalam memperjuangkan orang-orang yang terpinggirkan dan membela hak-hak mereka. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang berjuang dalam rangka membebaskan orang-orang dari keterbelengguan mereka. Dampak lain dari Kekristenan di Amerika Latin ini yang mempengaruhi perkembangan bangsa lain di dunia adalah gerakan perjuangan kemerdekaan negara-negara di Amerika Latin. Negara-negara di Amerika Latin lebih dulu merdeka di bandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Pada umumnya negera-negara Amerika Latin sudah memperoleh kemerdekaannya pada abad kelimabelas, sedangkan negara-negara lain baru memperoleh kemerdekaannya pada abad kedelapan belas. Perjuangan kemerdekaan di Amerika Latin inilah yang diikuti oleh para pejuang kemerdekaan di negara-negara lain di luar Amerika Latin.

7. DAFTAR KEPUSTAKAAN

a. Buku A.A.Yewangoe, Theologia Crusis Di Asia, Jakarta: BPK GM, 2004 Adrian Hastings (ed.), A World History of Christianity, Cassel: The Bath Press, 1999 Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006 R.Wahana Wegig, Pewartaan Iman Kontekstual: Menimba Pengalaman Misi di Cina, Yogyakarta: Kanisius, 2001 Tata Gereja (TG) Gereja Kemah Abraham (GKA) b. Website http://reinhardlumbantobing.wordpress.com/2007/07/26/catatan-pendek-mengenai-kekristenan-di jepang/ ; http://misi.sabda.org/vietnam_tahun_2007 http://groups.google.co.id/group/soc.culture.indonesia/browse_thread/thread/ea1a2bc09bb01b49/c88ee6c38d9b0a6f%23c88ee6c38d9b0a6f


Responses

  1. Terimakasih paparannya, Gbu.

  2. Info yang sangat menarik, trim’s


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: