Posted by: ramlyharahap | May 14, 2009

LAPORAN BUKU A HISTORY OF CHRISTIAN DOCTRINE by HUBERT CUNLIFFE – JONES Edinburg: T & T Clark, 1997

1.      PENDAHULUAN

A.     EDITOR[1]

Buku yang berjudul A History of Christian Doctrine ini merupakan kumpulan tulisan para ahli Sejarah Gereja yang diedit oleh Hubert Cunliffe-Jones. Rencana semula buku ini mulai dikerjakan tahun 1968 dan diharapkan bahan tulisan diselesaikan dan diberikan kepada editor pada tahun 1970. Namun karena berbagai faktor maka bahan tulisan tidak dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Dan bahkan ada tulisan yang tidak bisa diselesaikan oleh penulis, sehingga dilanjutkan oleh penulis lain agar sempurna. Hanya dua penulis yang dapat menyelesaikannya tepat waktu yaitu Professor Lampe dan Dr.Ware.

Akhirnya dengan kesabaran yang sungguh, Hubert Cunliffe-Jones, mantan guru besar  teologi dan pensiunan dari Ketua Jurusan Teologi Universitas Manchester tahun 1973 ini dapat menyelesaikan editing buku ini. Tebal buku ini adalah 591 halaman yang dilengkapi dengan indeks nama-nama dan subyek.

2.      ISI BUKU

Buku ini berisikan sebuah pendahuluan yang diuraikan oleh Hubert Cunliffe-Jones dan empat belas Pasal yang mengulas sejarah ajaran iman Kristen sejak jaman Gereja Purba hingga pada teologi Kristen abad kedua puluh. Buku ini lebih banyak memfokuskan diri pada ajaran-ajaran iman Kristen yang terus-menerus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan jaman.

2.1    PENDAHULUAN (Hubert Cunliffe-Jones)[2]

Dalam pendahuluan ini Hubert Cunliffe-Jones mengemukakan apa isi buku ini dan mengapa buku ini perlu diterbitkan. Buku Sejarah Doktrin yang selalu dipakai dalam pembelajaran bagi para mahasiswa adalah buku karangan G.P.Fisher yang berjudul History of Christian Doctrine yang diterbitkan tahun 1896. Buku ini dipakai selama tujuh puluh tahun sebagai buku pegangan sejarah. Dan selama itu pula tidak ada buku yang diterbitkan yang berkaitan dengan Sejarah Doktrin Kristen. Karena itulah maka Hubert Cunliffe-Jones mencoba memprakarsai penerbitan buku A History of Christian Doctrine ini.[3]

Hubert Cunliffe-Jones memberikan empat catatan pendahuluannya. Pertama, buku ini merupakan penghormatan bagi G.P.Fisher. George Park Fisher lahir 10 Agustus 1827 d Wrentham, Massachusetts dan meninggal 20 Desember 1909. Anak dari Lewis Whiting dan Nancy Fisher. Dia adalah seorang Guru Besar Divinity di Perguruan Tinggi Yale. Karyanya yang telah diterbitkan adalah: Outlines of Universal History (1885), The Colonial Era (1892), History of the Christian Church (1887), History of Christian Doctrine (1896).

Kedua, isi buku ini secara umum mengikuti pekerjaan Fisher. Hal-hal yang diikuti dari pemikiran Fisher adalah: (a) bahwa Gereja bukanlah pintu masuk (starting-point) sebab Kekristenan adalah Wahyu Allah melalui Yesus Kristus dan Kekristenan itu sendiri tidak sama dengan sistem Filosofi. (b) Sejarah Doktrin Kristen seharusnya harus lebih luas skopenya. (c) Pembagian Sejarah Doktrinal dibagi menjadi dua bagian yaitu: Sejarah Doktrin Umum dan Khusus. (d) Fisher juga membahas secara rinci mengenai sejarah terbentuknya Sejarah Teologi Kristen.

Ketiga, namun buku ini juga memiliki sejumlah perbedaan dari apa yang telah dikerjakan oleh Fisher. Yang berbeda dalam buku ini dari Fisher adalah: (a) ditemukannya bahasan-bahasan sejarah yang dianggap penting tanpa membahasnya secara komprehensif dan detail. (b) bahan  tulisan dalam buku ini diambil dari seri-seri penting dalam tradisi Kekristenan. Artinya Fisher hanya melihat Sejarah Teologi Kristen itu dari satu sudut pandang, maka dalam buku ini akan terlihat beberapa pandangan yang berbeda tentang Sejarah Teologi Kristen itu sendiri misalnya dari sisi disiplin Perguruan Tinggi (Universitas). (c) Penelitian yang dilakukan Fisher akan lebih jauh dikembangkan dalam buku ini misalnya Sejarah Teologi Orthodoks, Sejarah Gereja Timur, Sejarah Teologi Katolik sejak Trente, sejarah umum teologi  Kristen khususnya teologi Amerika, sejarah doktrin Kristen dan akhirnya akan membahas perkembangan teologi pada abad kesembilan belas dan abad kedua puluh.

Dan keempat, dalam buku ini akan kita temukan sejumlah persoalan yang timbul dalam sejarah teologi Kristen itu sendiri. Persoalan teologi yang dibahas dalam buku ini adalah: (a) Apakah teologi itu mungkin?;  (b) Hubungan teologi Kristen dengan Iman dan hidup Gereja;  (c) Faktor-faktor yang termasuk dalam memformulasi doktrin ilmu teologi;  (d) Perkembangan dan perubahan besar dalam teologi;  (e) Hubungan Sejarah Teologi Kristen dengan Sejarah Umum dan Sejarah Gereja;  (f) Hubungan Sejarah Teologi Kristen dengan Budaya dan Sosiologi;  (g) Hubungan Sejarah Teologi Kristen dengan Filosofi; dan  (h) Hubungan Sejarah Teologi Kristen dengan Kritik Doktrinal dan Konstruktif Teologi.

2.2    TEOLOGI KRISTEN PERIODE BAPA-BAPA GEREJA (G.W.H.Lampe)[4]

Artikel G.W.H.Lampe yang sangat panjang ini (160 halaman) membahas sepuluh pokok-pokok penting yaitu: Bapa-Bapa Gereja dan Gerakan Abad Kedua, Apologet Yunani, Melito dan Irenaeus, Teologi Latin Mula-mula: Tertullianus dan Novatianus, Teolog-teolog Aleksandria pada Abad Ketiga, Teologi Timur dari Origenes hingga Konsili Nicea, Perkembangan Teologi Trinitarian setelah Konsili Nicea, Perdebatan Kristologis, Keselamatan, Dosa, dan Anugerah, Gereja dan Sakramen.

Pertama, Bapa-bapa Gereja dan Gerakan Abad Kedua.[5] Dalam bagian ini Lampe mengulas pemikiran para Bapa Gereja tentang ajaran-ajaran mereka sekitar Abad Pertama dan Kedua Kekristenan. Misalnya Clemens mengatakan bahwa Allah sebagai  ‘Tuan atas alam semesta tuan’ (Master of the universe). Dia menyebut Allah ‘Bapa’ dan menghubungkannya dengan ‘kreativitas’ (daya cipta) Allah. Allah adalah ‘Bapa dan Pencipta seluruh dunia. Pemikiran ini menggambarkan bahwa gabungan bahasa alkitabiah dan Platonis tentang Allah tampak begitu kuat dari Apologet Yunani ketika Kebapaan Allah mencuat dalam istilah ‘Bapa dan Master universal’ dari Timaeus. Penekananan yang sama akan kebaikan ciptaan tampak dalam Didache bahwa Allah ‘Tuan atas segala sesuatunya’ sangat ditonjolkan.[6] Pemikiran yang lebih lengkap diungkapkan oleh Hermas: “Allah … yang dengan penuh kuasa dan kekuatan dan dengan hikmat dan kebijakasanaan-Nya menciptakan dunia dan dengan tujuan yang mulia mendandani ciptaan-Nya dengan indah dan dengan firman-Nya yang kuat menetapkan sorga dan menemukan bumi di atas air dengan kebijaksanaan-Nya menjaga gereja-Nya….” Lebih dalam Hermas mengatakan bahwa Allah adalah esa, walaupun Ia menciptakan segala sesuatu.

Persoalan lain yang dibahas oleh para Bapa Gereja pada Gereja Mula-mula adalah persoalan pribadi Yesus Kristus di dalam teologi Trinitarian. Clemens menggunakan bahasa Trinitarian dalam suratnya ke gereja Korintus. Ignatius juga menggunakan bahasa Trinitarian yang sama dengan menempatkan aspek keilahian dan kemanusiaan pada pribadi Kristus. Kristus adalah ‘satu tubuh fisik/jasmani’ terdiri dari tubuh dan roh, Allah di dalam manusia,  hidup yang sejati dalam kematian, Anak Maria dan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita.

Menurut Lampe masukan para Bapa Gereja pada penafsiran pekerjaan Kristus tidak begitu membawa banyak arti. Secara keseluruhan mereka mengulangi fraseology tradisional tanpa melakukan banyak upaya untuk menjelaskannya. Bagi Ignatius, kematian Kristus berkaitan erat dengan kesyahidan-Nya dan pemikiran-Nya adalah pusat kesatuan Kristus dalam penderitaan. Barnabas menekankan arti kematian Kristus sebagai antitipe dari persembahan Ishak.

Lampe melihat bahwa langkah formulasi doktrinal ini telah dimulai sejak Abad Kedua dengan benturan sistem yang saling konflik yang diperoleh orang percaya paling tidak dari luar tradisi orang Kristen yang ditunjukkan dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru (PB). Salah satu dari sistem ini adalah Ebionisme. Orang-orang Ebionit adalah sisa-sisa oang Kristen Yahudi yang menafsirkan Yesus sebagai nabi dan Mesias. Kemudian Gnostisisme yang menggejala dalam agama-agama kuno yang berakar jauh ke belakang pada masa orang pra-Kristen Hellenisme, Yudaisme dan agama-agama Timur.

Kedua, Apologet Yunani.[7] Menurut Lampe teologi Kristen yang sistematik dimulai dengan pekerjaan para Apologet Yunani pada Abad Kedua seperti yang dilakukan oleh Aristides, Yustinus Martir, Athenagoras, Tatianus, dan Theofilus dari Antiokia yang berjuang melawan dunia Yunani-Romawi, khususnya para ateis. Hal itu bukan berarti bahwa para Apologet tersebut menjadi pembaharu yang radikal di dalam teologi. Perjuangan mereka adalah melawan keadaan dunia pada saat itu seperti yang dilakukan Yustinus dalam Dialog dengan Trypho, termasuk Yudaisme dan Hellenisme. Terhadap dunia Yahudi Kristen masih menampakkan diri sebagai Yudaisme sejati: pemenuhan yang otentik dan telah dipredestinasikan dari wahyu Allah pada Israel masih dimengerti sebagaimana yang tertulis dalam nubuatan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama (PL). Sementara dunia kafir melihat Kekristenan sama tuanya dengan Penciptaan.  Pemahaman yang benar bagi orang Kristen adalah bahwa Allah nyata dalam hidup, mati dan kebangkitan Yesus Kristus.

Perdebatan mengenai Logos juga menjadi hal yang penting dicatat Lampe. Menurut Yustinus dalam karya apologetnya, Kristus adalah Logos Allah yang telah menjadi manusia demi keselamatan kita dan bahkan rela menderita dan membawa kesembuhan bagi umat manusia. Bahkan Tatianus memberikan pemahaman yang lebih mendalam yang mengatakan bahwa Kristus adalah ‘keseluruhan Logos’ atau ‘Keseluruhan dari apa yang rasional’.

Untuk melawan para penyembah berhala tentang Allah, maka Aristides dalam awal pembelaannya mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak dapat berubah, tak kelihatan, dan Pencipta yang maha kuasa. Dan Theofilus mengatakan bahwa Allah adalah yang tidak berawal, kekal dan tak berubah, tidak dapat digambarkan keberadaan-Nya. Gambaran alkitabiah tentang Allah yang hidup, aktif dalam ciptaan-Nya tidak pernah dilupakan oleh para Apologet. Dalam hal penciptaan, para Apologet mendasarkan pengajar mereka pada pemikiran Pembukaan Yohanes dan Pemazmur, ‘Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya’ (Mzm. 33 :6). Mereka membaca teks ini dalam terang pemikiran Platonik dan Stoik khususnya perkembangan ajaran Philo tentang Logos sebagai mediator pencipta yang Ilahi, pemeliharaan dan wahyu. Perdebatan lain yang mereka lakukan adalah mengenai Pencipta dan mediasi Logos, Kristologi dan Roh Kudus. ‘Dengan Firman Allah, Yesus Kristus Juruselamat kita menyerahkan tubuh dan darah-Nya bagi keselamatan kita’. Yustinus menghargai posisi Roh Kudus dalam posisi ketiga setelah Pencipta dan Logos. Tatianus percaya bahwa keselamatan orang percaya adalah pekerjaan Roh yang Ilahi. Roh manusia dibangkitkan ke alam sorga dengan bersatunya dengan Roh Allah.

Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para kaisar seperti Trajanus, Antoninus Pius dan Marcus Aurelius, gereja mulai membuka diri pada dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang apologet (orang yang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain, seperti Origenes dan Tertullianus, ia menafsirkan kekristenan dalam istilah-istilah yang mudah dikenal orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.

Karya tulis Yustinus yang terkenal adalah: Dialog dengan Trypho (catatan mengenai diskusi panjang dan ramah antara Yustinus dengan seorang Yahudi bernama Trypho),  Apologia (The Apology): yang terdiri dari dua Apologia yakni: Apologia I: suatu pembelaan iman Kristen yang ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius; dan Apologia II: tambahan yang  singkat pada karya Apologia I yang ditujukan kepada Senat Romawi. Yustinus dikenal sebagai bapa Pembela Iman.

Bagi Yustinus, seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah. Para filsuf Yunani yang tersohor sedikit banyak telah diilhami Allah, namun mata mereka belum dibukakan bagi keutuhan kebenaran Kristus. Oleh karenanya, Yustinus menyitir pemikiran Yunani dengan bebas dan kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa kesempurnaan itulah Kristus. la mengutip prinsip Yohanes tentang Kristus sebagai Logos, Firman. Allah Bapa adalah kudus adanya dan terpisah dari manusia yang jahat — tentang hal ini Yustinus setuju dengan Plato. Namun melalui Kristus, Logos-Nya, Allah dapat berhubungan dengan manusia. Sebagai Logos Allah, Kristus adalah bagian dari hakikat Allah, meskipun terpisah, seperti api dinyalakan dari api juga (demikianlah pemikiran Yustinus telah menjadi alat bagi kesadaran akan Tritunggal dan Inkarnasi yang berkembang di Gereja).

Meskipun Yustinus bersandar pada pemikiran Yunani, namun aliran pemikiran Yahudi ada padanya. Ia kagum pada nubuat yang digenapi. Mungkin ia terpengaruh orang tua yang ia temui di pantai. Tetapi ia pun melihat bahwa nubuat Ibrani telah meyakinkan identitas Yesus Kristus yang unik. Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar Yustinus lainnya, Dialog dengan Tryfo (Dialogues with Trypho), ia menulis kepada seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan tradisi Ibrani.

Ketiga, Melito dan Irenaeus.[8] Di antara para Apologet tentunya termasuk di dalamnya Melito, seorang uskup Sardis di Asia, yang menulis sebuah apologi yang dialamatkan kepada Markus Aurelius. Dia seorang pemimpin Gereja di Asia dan seorang teolog yang cukup berpengaruh dalam pemikiran Kristen. Tulisan Melito yang menjadi risalah sistematik pertama adalah tentang Inkarnasi. Bagi Melito, Inkarnasi adalah sungguh-sungguh. Dia menekankan dua kodrat Yesus yaitu: Kristus pada satu sisi adalah Allah dan di sisi lain manusia sempurna. Kemanusiaan-Nya nyata bukan khayalan, Ia terdiri dari jiwa dan tubuh.

Irenaeus berasal dari latar belakang yang sama, penduduk asli Smirna (Asia Kecil), walaupun ia pindah ke arah Barat dan menjadi uskup di Lyons setelah kematian pendahulunya, Ponthinus dalam sebuah penganiayaan tahun 177. Dia diduga lahir sekitar tahun 115 sampai tahun 125.[9] Dia juga seorang penulis yang produktif. Tulisan utamanya berjudul Melawan Aliran-Aliran Sesat (Against Heresies) yang terdiri dari lima jilid, dialamatkan langsung melawan orang-orang Gnostik Valentinian di dalam bermacam-macam bentuk. Dengan tulisannya ini, maka Irenaeus dikenal sebagai bapa melawan orang-orang sesat. Irenaeus memberikan masukan kepada ‘para tua-tua’ di dalam Gereja yang memiliki suksesi keuskupan yang telah menerima karunia kebenaran (charisma veritatis certum). Artinya bagi mereka yang memiliki inspirasi ilahi untuk mengajarkan kebenaran. Menurut Irenaeus, iman yang benar adalah dalam pemeliharaan Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus.  Itulah makanya Irenaeus sangat menekankan pentingnya Gereja yang benar sebagai dasar iman yang kuat sebagaimana Petrus dan Paulus telah lakukan untuk mengajarkan kebenaran di dalam Gereja. Sebab di dalam Gereja semua orang percaya disatukan bersama. Sehingga bagi Irenaeus, aturan iman atau kanon kebenaran adalah norma ajaran ketiga. ‘Kanon kebenaran’ yang dimaksudkan Irenaeus adalah ringkasan pengajaran yang diberikan oleh Gereja. Hal ini bukanlah sebuah pengakuan formal, melainkan lebih fleksibel di dalam perkataannya namun memiliki muatan yang mendalam. Irenaeus memasukkan kriteria kebenaran dalam peneguhan sidi iman Kristen tentang Allah sebagai Pencipta. Bagi Irenaeus kebenaran yang universal datangnya dari keinginan dan kekuatan Allah semata. Manusia sendiri tidak mampu untuk membuat sesuatu. Irenaeus juga mengikuti garis besar usaha Apologet untuk rekonsiliasi ajaran penciptaan dan transendensi ilahi dalam teologi Logos.

Irenaeus juga banyak memberikan ulasan tentang ajaran Logos, Trinitarian, Inkarnasi. Irenaeus sangat menentang keras orang yang telah memisahkan Yesus dari Logos atau Yesus dari Kristus sebab Alkitab mengajarkan Yesus Kristus adalah satu-satunya pintu ke sorga.  Menurut Irenaeus, keselamatan yang dikerjakan Kristus adalah pusat ide-ide restorasi manusia untuk kehendak Allah melalui Inkarnasi dan kerjasama manusia dalam kepatuhan Kristus.

Irenaeus termasuk yang pertama-tama menggunakan istilah Perjanjian Baru di samping Perjanjian Lama. Tadinya “Alkitab” bagi orang Kristen berarti Perjanjian Lama. Pada zaman Irenaeus Perjanjian Baru sudah mirip Perjanjian Baru sekarang, yang berisikan empat kitab Injil, Kisah Para Rasul, Surat-Surat dari Paulus serta tulisan-tulisan lain.

Sepanjang hidupnya, Irenaeus dengan gembira mengenang perkenalannya dengan Polikarpus, yang pernah akrab dengan Rasul Yohanes. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa ia berpegang pada keabsahan para rasul ketika ia menolak paham Gnostik. Sang uskup menegaskan bahwa para rasul mengajar di tempat-tempat umum dan tidak ada satu pun yang dirahasiakan. Di seluruh kekaisaran, Gereja-gereja berpegang pada ajaran-ajaran yang hanya disampaikan para rasul Kristus, dan hanya inilah satu-satunya dasar keyakinan. Irenaeus menyatakan bahwa para uskup yang merupakan pelindung iman

Keempat, Teologi Latin Mula-mula: Tertullianus dan Novatianus[10]

“Darah para martir menjadi benih gereja.”
“Hal itu pasti karena tidak mungkin.”
“Apa urusan orang-orang Athena dengan Yerusalem?”

Kata-kata kiasan yang tajam seperti ini adalah ciri khas karya Quintus Septimius Florens Tertullianus – atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tertullianus. Tertullianus adalah bapa Teologi Latin Barat. Tertullianus yang dilahirkan di Kartago tahun 150 ini sangat menekankan pengajaran Kristus. Menurut Tertullianus, norma ajaran rasuli ditemukan dalam tradisi lisan di dalam pengajaran Gereja di mana para rasul mengajar. Otoritas suksesi kerasulan itu berada dalam Gereja-gereja, para rasul, Kristus dan Allah. Filosofi para bidat bertolak belakang dengan kebenaran Kristen: murka Allah (melawan teologi Marcion), penciptaan dari tidak ada, pembaharuan di dalam kebangkitan daging. Mengenai Allah, Tertullianus juga sangat menentang dualisme dengan mengatakan Allah adalah Esa yang menciptakan segala sesuatu termasuk materi. Allah yang Esa ini harus dimengerti dengan hubungannya pada ‘dispensasi’ atau ‘ekonomi’. Penciptaan itu dari yang tidak ada dan diciptakan menurut kehendak Allah sendiri.

Tertullianus juga sangat menentang anggapan bahwa kesatuan Allah sama dengan kesatuan dewa yang absolut tunggal (absolut monad). Pengajaran ini menentang pemahaman Monarkhianisme bahwa Allah adalah esa dan Kristus adalah Allah. Titik persoalan dasar adalah menyangkut hubungan Bapa dan Anak satu sama lain. Menurut kaum Monarkianisme, memahami keilahian Anak hanya sekedar mode atau cara penampilan Bapa.  Monarkianisme dinamis mengatakan, “maka suatu kuasa ilahi yang tidak bersifat pribadi giat dalam seorang manusia yang bernama Yesus. Sesudah itu Kristus diangkat menjadi Anak Allah. Aliran ini berkembang sekitar abad kedua sampai abad ketiga. Aliran ini mirip “konsep adopsionis”, yang jauh lebih tua dalam gereja purba.  Pengikut aliran ini menitik beratkan “monarkhi” atau pemerintahan tunggal dari Allah – mereka adala monoteis keras. Berdasarkan pandangan teks Yohanes, Tertullianus mengatakan bahwa Kristus dan Bapa adalah satu. Artinya bahwa  Allah Bapa adalah berinkarnasi dalam diri Yesus Kristus.

Untuk melawan gerakan Monarkianisme ini, Tertullianus menulis suatu karya penting berjudul Melawan Praxeas. Praxeas adalah salah seorang pengikut ajaran Monarkianisme – yang melawan Montanisme. Penganut aliran ini memperdaya doktrin ketritunggalan dengan menyatakan konsep bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga nama yang berlainan untuk tokoh yang sama, yang memainkan tiga peranan yang berlainan. Menjawab hal ini Tertullianus mengatakan bahwa Allah adalah satu zat atau hakikat dalam tiga pribadi. Baginya, Tritunggal bukanlah konsep Politeisme seperti yang dituduhkan oleh Monarkhianisme. Konsep Tritunggal tidak sama dengan satu Pribadi dengan tiga modus, seperti yang disodorkan oleh Monarkhianisme. Akan tetapi, Tritunggal Allah adalah, “Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus menyatu di dalam substansinya. Namun kesatuan substansi Allah ini terdistribusi ke dalam tiga pribadi, yaitu pribadi Allah Bapa, pribadi Yesus Kristus dan pribadi Roh Kudus”. Tertullianus mengatakan bahwa  Allah adalah satu zat atau hakikat dalam tiga pribadi. Pemikiran Tertullianus yang dibahas Lampe dalam uraiannya ini adalah mengenai Logos, Anak, Kristologi, soteriologi dan eskatologi. Baginya Anak adalah nama baru Allah karena kasih-Nya bagi umat manusia sehingga Ia menjelma (Inkarnasi) sebagai Anak Allah yang sempurna.

Tertullianus juga berpendapat bahwa dua substansi Manusia dan Allah adalah bagian yang tidak terpisahkan di dalam Kristus yang dimanifestasikan dalam kelemahan dan kekuatan-Nya. Hal inilah yang menjadi perdebatan bagi Novatianus, sebab bagi Novatianus tidak berbicara tentang kasih dalam hubungan Manusia dan Allah ini, karena tendensi umum berpikir bahwa dewa-dewa (deity) dalam istilah kekuatan dan kemanusiaan dalam istilah kelemahan seperti haus, lapar, marah, menderita dan bahkan hampir sama dengan istilah kodrat binatang. Hubungan ini sangat menyulitkan pemahaman Kristologi bagi Novatianus.

Kelima, Para Teolog Aleksandria pada Abad Ketiga.[11] Ada dua tokoh teolog besar yang dibahas Lampe pada Abad Ketiga ini yakni: Clemens dan Origenes. Tokoh pertama, Titus Flavius Clemens dilahirkan dari keluarga Yunani pada pertengahan Abad Kedua. Pada masa hidupnya Clemens menghadapi dunia Gnostik. Clemens berpendapat bahwa antara iman dan gnosis tidak ada pertentangan. Iman diperlukan bagi setiap orang Kristen. Namun di samping iman masih ada hal yang lebih tinggi, yaitu gnosis (pengetahuan). Gnosis diperlukan oleh setiap orang Kristen yang dapat berpikir segera lebih mendalam. Dalam pengajarannya, Clemens mengatakan bahwa Logos adalah mediator di antara Allah yang transenden dengan dunia dan segala isinya. Roh Kudus adalah sinar kebenaran (Logos menjadi kebenaran), sinar yang sebenarnya tanpa bayangan. Sehingga pemikiran Trinitatis Clemens sangat dipengaruhi oleh Neo-Platonisme. Logos Allah adalah gambar-Nya dan Logos Ilahi adalah autensitas Anak dalam pikiran-Nya (nous), dan manusia adalah gambar Logos. Manusia adalah logikos, melampaui pikiran (nous) yang dijadikan dalam gambar dan rupa Allah. Pikiran manusia akhirnya menjadi pikiran Allah. Clemens juga memberikan pemikiran dalam bidang Kristologi bahwa Logos nyata dalam manusia, baik Allah maupun manusia adalah satu, dan menjadi mediator di antara Allah dan manusia. Begitu juga dalam hal soteriologi, Clemens berpendapat bahwa Dia telah menjadi taat dalam kelemahan-Nya untuk memampukan kita memperoleh kekuatan-Nya, memberikan diri-Nya sebagai kurban dan memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Clemens berpendapat bahwa di dalam filsafat Yunani terdapat kebenaran-kebenaran. Para filsuf Yunani telah belajar dari hikmat Ilahi yang terpancar dari gambar Allah yang terdapat dalam diri mereka. Dalam hidupnya, Clemens menulis tiga karya penting yaitu: Nasihat kepada orang Yunani, Pendidik, Serba-serbi (Stromateis).

Tokoh kedua, Origenes yang juga diberi julukan Adamantius memiliki pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan Kekristenan pada Abad Ketiga. Origenes menulis On First Principles (De Principiis) yang merupakan upaya pertamanya dalam teologi sistematis. Dalam tulisan ini Origenes dengan saksama meneliti keyakinan Kristen tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, Penciptaan, jiwa, kemauan bebas, keselamatan dan Kitab Suci. Origenes mencoba di dalam berbagai cara menggambarkan kesatuan di antara Bapa dan Logos. Origenes mendasarkan penafsirannya atas Yohanes 5:19, “…sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” Mengenai Kristologi, Origenes berpendapat bahwa Kristus adalah Allah dan manusia: kodrat ilahi dan kemanusiaan bersatu di dalam Kristus. Logos dilahirkan secara kekal oleh Allah sehingga Logos sama kekal dan memiliki hakikat yang sama dengan Allah Bapa. Allah Bapa tidak ada tanpa Putra Allah dan begitu juga sebaliknya. Akan tetapi ada segi lain dari Origenes. Ia mengajar tentang ketigaan Allah, tetapi menurut dia, Trinitas itu bertingkat – yaitu Bapa lebih besar daripada Anak yang lebih besar daripada Roh Kudus. Hanya Bapa adalah “Allah sejati”. Anak Allah sama dengan Allah Bapa, hanya pada tingkat yang lebih rendah. Ajaran Origenes mengenai penebusan bertentangan dengan ajaran gereja yang ortodoks. Ia mengajarkan bahwa semua makhluk ciptaan Allah akan mengalami keselamatan termasuk di dalamnya iblis dan malaikat-malaikat yang memberontak kepada Allah. Lebih dalam Origenes mengatakan keselamatan adalah proses komplek dari re-deifikasi, kembali kepada yang semula. Pada akhirnya segala sesuatu akan dipersatukan kembali, maka akan terjadi lagi kejatuhan ke dalam dosa dan terbentuklah dunia yang baru lagi. Karyanya yang lain adalah Hexapla merupakan prestasi dalam bidang kritik teks. Di dalamnya, ia mencoba menemukan terjemahan Yunani yang terbaik bagi Perjanjian Lama, dan dalam enam kolom sejajar ia membentangkan Perjanjian Lama Ibrani, sebuah transliterasi Yunani, tiga terjemahan Yunani dan Septuaginta. Against Celsus adalah karya besar yang merupakan pertahanan bagi kekristenan terhadap serangan kafir.

Keenam, Teologi Timur dari Origenes hingga Konsili Nicea.[12] Dalam bagian ini Lampe membahas perjalanan sejarah Kekristenan dalam perdebatannya tentang Trinitas dan Kristologi yang akhirnya harus diselesaikan dalam sebuah Konsili. Perdebatan yang serius diperbincangkan adalah pokok pikiran Arius dan Origenes tentang substansi ke-Allah-an dan ke-manusia-an Yesus. Meskipun Tertullianus telah merumuskan bagi Gereja bahwa Allah itu memiliki satu hakikat: terdiri atas tiga pribadi, namun ia belum memberi pengertian lengkap tentang Tritunggal. Sesungguhnya, doktrin ini telah membingungkan para teolog besar.

Dionysius, Uskup Aleksandria adalah seorang murid Origenes yanng dalam teologi Trinitasnya mengemukakan teologi Sabellian kepada uskup Pentapolis di Libia dan menulis surat kepada mereka yang berisikan untuk melawan identifikasi Sabellian tentang inkarnasi ilahi dengan Bapa. Bagi Dionysius, Allah tidak selalu Bapa, dan tidak ada selalu Anak. Arius dipengaruhi teologi Yunani yang mengajarkan bahwa Allah itu unik adanya dan tidak dapat dikenal. Menurut pemikiran itu, Allah begitu beda, yaitu bahwa Dia tidak dapat membagi hakikat-Nya dengan apa pun. Hanya Allah yang bisa menjadi Allah. Dalam bukunya yang berjudul Thalia, Arius menyatakan bahwa Yesus memiliki sifat keilahian, Namun bukan Allah. Hanya Allah Bapa, yang abadi. Kemudian Allah melahirkan Anak dari yang tiada (ex-nihilo) oleh kehendak-Nya sendiri. Anak-Nya  merupakan manusia yang diciptakan. Ia seperti Bapa, tetapi bukan Allah. Arius menolak untuk menyatakan bahwa Anak sama dengan Bapa karena Anak tidak mempunyai substansi yang sama dengan Bapa. Arius menolak pemakaian istilah homoousios. Banyak dari antara bekas kafir menyenangi pandangan Arius. Karena dengan pandangan itu, mereka mendapat peluang mempertahankan ide yang telah mendarah daging, yaitu Allah yang tidak dapat dikenal, dan memandang Yesus sebagai pahlawan super yang bersifat ilahi, tidak berbeda dengan pahlawan-pahlawan yang ada dalam mitologi Yunani.

Sejalan dengan pemikiran Arius, Eusebius dari Kaesarea sangat bersimpati dengan ajaran Arius. Dia menulis buku yang terkenal dengan judul Sejarah Gereja (Historia Ecclesiastica = History of the Church). Eusebius tidak mau memakai istilah homoousios dalam hubungan Allah dengan Anak. Eusebius menyatakan tentang kelahiran yang kekal dari Allah Anak. Ketika istilah homoousios dimasukkan dalam Pengakuan Iman Nicea, Eusebius mengajukan keberatannya bahwa istilah tersebut terlalu jauh menyimpang dari Kitab Suci. Walaupun kemudian ia harus menerimanya dengan terpaksa. Mengenai Kristologi, Eusebius adalah representasi dari teori kesatuan Logos dengan daging.

Pemikiran yang berbeda terlihat dalam pandangan Alexander uskup Aleksandria yang tidak dapat menerima ajaran Arius.  Alexander menerima eksistensi Logos yang mempunyai hakikat yang sama dengan Bapa. Anak dan Bapa hakikat yang sama. Anak bukan diciptakan dari tiada, tetapi keluar dari pangkuan Bapa.

Perbedaan pendapat ini akhirnya diselesaikan melalui sidang para uskup di Antiokhia. Keputusan sidang adalah mempersalahkan Arius dan merumuskan suatu pengakuan iman yang menyatakan bahwa Anak tidak diciptakan, tetapi dilahirkan. Anak bukan berasal dari tiada tetapi gambar dari hakikat Bapa. Namun pertikaian tidak berhenti sampai di situ, akhirnya Konstantinus mengadakan Konsili Ekumenis Pertama di Nicea tahun 325 yang dikenal dengan Konsili Nicea. Maka mereka merumuskan beberapa pernyataan tentang Allah Bapa dan Allah Anak. Mereka menjelaskan bahwa Anak adalah “Allah sejati dari Allah sejati, diperanakkan bukan dijadikan dan sehakikat dengan Bapa”.

Ketujuh, Perkembangan Teologi Trinitarian setelah Konsili Nicea.[13] Perkembangan teologi Trinitarian setelah Konsili Nicea ini dikupas Lampe secara mendalam bertolak dari pemahaman homoousios para teolog pasca Konsili Nicea. Pemahaman yang dibahasnya mulai dari Eusebius, Ambrosius, Athanasius, Bapa-bapa Kapadokia, hingga Augustinus.  Pergumulan teologis gereja tersebut tak terelakkan menghasilkan ajaran yang pada satu sisi terlalu menekankan keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggalan-Nya, dan pada satu sisi juga ada yang terlalu menekankan ketritunggalan Allah dengan melepaskan keesaan-Nya. Kelompok pertama yang terlalu menekankan keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggal-an-Nya sering disebut dengan kelompok Unitarianisme, dan kelompok kedua yang terlalu menekankan ketritunggalan Allah, terdiri dari beberapa aliran yang kemudian melepaskan diri dari keesaan Allah yang mutlak. Namun secara umum gereja-gereja Tuhan pada prinsipnya tetap menekankan ketritunggalan Allah tanpa melepaskan diri dari keesaan Allah.

Perkataan setara dan sehakikat Yesus dengan Bapa dalam rumusan Konsili Nicea masih diperdebatkan. Bagi Eusebius perkataan itu tidak masuk akal. Sehingga formula Nicea ini dinilai secara negatif. Baik Ambrosius dan Athanasius mengakui bahwa perkataan ousia ada dalam Alkitab, namun perkataan homoousios tidak ditemukan dalam Alkitab. Menurut mereka istilah homoousios membawa perbedaan: satu sisi dapat dikatakan menjadi konsubstansial dengan yang lain bukan dengan Allah sendiri. Penolakan terhadap keputusan Konsili Nicea ini disampaikan oleh Eusebius.

Mereka yang sangat keras menolak formula Konsili ini adalah Eustatius dan Marcellus. Mereka lebih condong kepada pemikiran Sabellius yang pada prinsipnya mempertahankan keesaan Allah. Dalam konsep Sabellius, Allah memiliki satu Hypostasis namun memiliki 3 nama. Jadi Allah yang esa dalam penyataan-Nya itu menampakkan diri secara modalitas atau tiga bentuk penampakan diri. Dalam Perjanjian Lama, Allah menampakkan diri sebagai Bapa yang bertindak sebagai Sang Pencipta dan pemberi taurat. Kemudian, Allah yang esa dan sama itu menyatakan diri-Nya dalam diri Sang Anak, yaitu sebagai Juruselamat untuk menebus dosa umat manusia. Akhirnya Allah yang esa dan sama itu setelah kematian dan kebangkitan Yesus pada hari Pentakosta menyatakan diri-Nya sebagai Roh Kudus. Dengan pola pikir modalisme, Sabellius memang berhasil mempertahankan keesaan Allah tetapi pada sisi lain ia mengorbankan pluralitas Allah. Konsep tritunggal menurut Sabellius sebenarnya tidak lebih sebagai proses urut-urutan penampakan Allah yang esa dalam berbagai momen sejarah.

Melawan pandangan Sabellius tersebut maka Athanasius memberikan pandangan yang berbeda. Dalam ajarannya, Athanasius sebenarnya tetap mengakui keesaan Allah, namun pada saat yang sama Allah yang esa itu pada hakikatnya adalah Allah Tritunggal. Sehingga kedudukan Yesus selaku Firman tidak berada di bawah Allah dan Ia juga bukan ciptaan seperti yang dikatakan oleh Arius. Jadi dalam pemikiran Athanasius, Yesus selaku Firman Allah pada hakikatnya Ia adalah Allah. Selaku Firman Allah, Yesus telah berada sejak kekal, tidak berawal, dan Ia sehakikat dengan diri Allah. Karena itu Athanasius menolak pemikiran Origenes yang mengajarkan bahwa Yesus selaku Firman adalah “Theos Deuteros” (Allah berpangkat dua). Sebab dalam pemikiran Athanasius, Allah dan Yesus itu satu homousios sehingga keilahian Anak identik dengan keilahian Allah. Kepenuhan keilahian Bapa adalah keberadaan (to enai) dari Anak. Jadi Allah Bapa dan Anak dalam pemikiran Athanasius memiliki kesatuan hakikat (oneness of essence).

Pandangan Athanasius didukung oleh Tiga Serangkai dari Kapadokia[14], yang kemudian memunculkan ide/pengertian Trinitas. Bapa-bapa Kapadokia mempersembahkan uraian yang jelas mengenai hubungan antara kesatuan dan ketigaan Allah. Namun penjelasan mereka sekaligus membuat mereka peka terhadap triteisme (percaya kepada tiga Allah).

Pemikiran lain yang muncul dalam hal Tritunggal ini adalah pemikiran Augustinus. Dalam bukunya yang berjudul On the Trinity (399-419), Augustinus memulai dari pemikiran kesatuan (one-ness) dari esensi keilahian dan mencoba memahami dari anggapan dasar ini menuju pernyataan rasional dari Teologi Trinitarian. Agustinus mengatakan bahwa Trinitas adalah satu dan hanya Allah yang benar, dan bagaimana Allah, Anak dan Roh Kudus dipercayai menjadi saru dan memiliki substansi dan esensi yang sama. Trinitas itu sendiri adalah Allah.

Kedelapan, Perdebatan Kristologi.[15] Perdebatan Kristologi ini dibahas oleh Lampe dengan memaparkan pemikiran-pemikiran para tokoh Gereja. Menurut Lampe, perdebatan ini masih membicarakan topik “Alllah” dan “Firman” sehingga perdebatan ini sangat tergantung pada soteriologi. Secara umum orang Kristen setuju bahwa mereka ingin penegasan bahwa di dalam Kristus Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan dunia ini: bahwa Yesus Kristus adalah Inkarnasi Logos. Namun masalahnya adalah bagaimana penegasan ini diputuskan tanpa berlawanan dan tanpa mengurangi kekuatan mereka. Athanasius mengatakan bahwa Logos adalah subyek penglaman asli manusia tanpa berhenti pada subyek kekekalan dan tindakan ilahi. Apollinarius percaya bahwa Yesus Kristus adalah Logos ilahi. Cyrillus dari Aleksandria mengatakan bahwa Anak bukanlah dua kodrat, melainkan kodrat inkarnasi dari Allah dan Firman. Artinya ada kesatuan kodrat (henosis physike) dari tubuh dan Logos; ada ‘satu kodrat, satu hipostasis, satu pribadi (prosopon), keseluruhannya adalah Allah dan Manusia. Tubuh Kristus adalah Tubuh Allah, dan bukan konsubstansial dengan tubuh manusia. Dalam kesimpulannya, Apollinarius menyatakan bahwa Inkarnasi artinya bukan Kristus manusia melainkan Kristus sebagai manusia. Didymus menyatakan hal yang sama bahwa jiwa Kristus efektif dalam keselamatan jiwa kita. Gregorius dari Nyssa mengatakan bahwa ada ‘percampuran’ kodrat Allah dengan kodrat manusia. Gregorius dari Nazianzus mengatakan bahwa bentuk Logos adalah kodrat yang sudah sempurna. Keilahian tidak secara langsung menyatu dalam daging, jiwa dan pikiran manusia. Gregorius menyatakan bahwa ada dua kodrat, Allah dan manusia, tetapi bukan dua Anak atau dua Allah. Kodrat itu dibedakan dengan Allah dan Anak memiliki satu hal dan hal yang lain, tetapi tidak menjadi dua pribadi. Kesatuannya adalah ‘substansial’.

Kristologi Diodore mengatakan bahwa Kristologi adalah sesuatu yang unik dalam Inkarnasi. Di dalam Kristus Logos sudah sempurna dan permanen. Theodore dari Mopsuestia dalam Catechetical Homilies-­nya mengatakan bahwa tubuh Kristus adalah tubuh ilahi yakni tubuh Allah. Di dalam Kristus sudah sempurna tubuh dan jiwa-Nya.

Pendapat Nestorius dalam bukunya Book of Heracleides secara jelas membedakan antara keilahian dan kemanusiaan. Anak Daud dan Anak Allah adalah dua kodrat yang berbeda sebab bagi Nestorius ‘kodrat’ (physis) merupakan objek realitas. Logos adalah Allah yang menyatu dengan manusia.

Cyrillus memaparkan Kristologi yang berbeda. Bagi Cyrillus suatu keberadaan, pribadi dari Logos yang kekal adalah subyek dari pengalaman manusia. Dasar Kristologi Cyrillus adalah ‘satu Inkarnasi kodrat Allah dan Firman’. Cyrillus tidak menolak keilahian dan kemanusiaan Kristus. Kristus adalah ‘dari dua’ dan keduanya dibedakan secara ‘obyek’.

Akhirnya perdebatan Kristologi ini diselesaikan dengan Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus tahun 431 yang dikenal dengan Konsisi Efesus. Dalam Konsili ini kelompok Nestorius dihukum. Konsili ini juga memutuskan masalah gelar Maria sebagai “Bunda Allah” (Theotokos) disetujui.

Selanjutnya perdebatan Kristologi ini masih terus diperbincangkan oleh tokoh-tokoh lain seperti: John dari Antiokia, Acacius, Domnus, Eutyches, Leo, Doscorus,  Teodosius II, Tomotius Aelurus, Severus, Yustinus, Leontius, Ibas. Ajaran Eutyches mengenai hubungan antara keilahian dan kemanusiaan pada diri Yesus adalah setelah penjelmaan satu pribadi atau hipostasis Allah manusia, Yesus Kristus, Putra Allah dan putra Maria, ditempatkan atau ditampung oleh satu hakikat (monofisit) yang mencakup baik yang ilahi maupun yang manusiawi. Perdebatan mereka ini juga akhirnya diselesaikan dalam Konsili Nicea Kedua tahun 787 (Konsili Ekumenis Ketujuh). Pada konsili ini tema yang dibahas adalah mengenai gambar Kristus, Theotokos, malaikat dan orang-orang kudus. Konsili ini juga mengatur penghormatan terhadap icon-icon suci. Konsili ini lebih dimaksudkan untuk mengurus apa yang disebut kontroversi “ikonoklasme”.[16]

Kesembilan, Keselamatan, Dosa, dan Anugerah.[17] Dalam bahasan ini Lampe menjelaskan bahwa ada dua ide sentral yang dibahas para penulis pada periode ini yaitu: pertama, konsep ‘deifikasi’ atau ‘divinisasi’ sebagai tujuan keselamatan dan  sebagai proses berkat keselamatan, buah dari pekerjaan Kristus. Kedua, penafsiran pekerjaan keselamatan Kristus sebagai sebuah ‘perubahan tempat’ di mana Logos/Anak menjadikan diri-Nya berdosa agar manusia yang berdosa diselamatkan. Menurut Plato, tujuan jiwa harus bebas dari dunia dan menjadi berasimilasi dengan Allah. Pendapat tentang keselamatan, dosa dan anugerah ini dibahas oleh Irenaeus, Theofilus dari Antiokia, Clemens, Origenes, Cryllus dari Aleksandria, Gregorius dari Nyssa dan lain sebagainya. Irenaeus percaya bahwa Mazmur 82:6 telah dipenuhi bagi orang Kristen. Bagi Origenes, keselamatan berarti deifikasi atau redeifikasi. Cyrillus dari Aleksandria mengatakan bahwa manusia menjadi Allah dan hal ini mungkin terjadi sebab deifikasi manusia itu sendiri di dalam Kristus. Gregorius dari Nyssa mengerti betul bahwa keselamatan adalah hal yang sangat penting sebab manusia adalah dari sintetis jiwa dan tubuh.

Menurut Eusebius, Athanasius, Maximus Pengaku dan John dari Damaskus, deifikasi selalu merupakan pekerjaan Tuhan, yang digerakkan oleh Roh Kudus. Maximus menekankan aturan manusia sebagai peserta di dalam dua bidang dan konsekuensi implikasi kosmik dari keselamatannya. Menurut Augustinus, pembenaran berimplikasi pada deifikasi, sebab dengan pembenaran manusia Allah membuat mereka anak-anak-Nya; jika kita menjadi anak-anak Allah. Dasar dari deifikasi itu sendiri adalah Inkarnasi. Keselamatan menurut Augustinus adalah pembaharuan manusia di dalam gambar Allah. Jiwa manusia bukan bagian dari Allah.  Origenes dan Chrysostomus berpendapat bahwa kebebasan manusia akan mengambil inisiatif di dalam pertobatan dan iman. Kebebasan adalah pusat penting dalam pembelaan orang Kristen melawan fatalisme penyembah berhala. Bagi Ignatius dan Melito, anugerah dilihat sebagai karkateristik yang membedakan orang Kristen dengan legalisme pra-Kekristenan. Anugerah dilihat secara bersamaan dengan kehendak bebas manusia.

Perdebatan lain yang dibahas Lampe adalah perdebatan Augustinus dengan Pelagius. Perdebatan ini telah dibahas dalam makalah konsentrasi I.

Kesepuluh, Gereja dan Sakramen.[18] Dalam bagian ini Lampe membahas kesatuan Gereja akibat konflik di antara tiga kelompok yakni: Tertullianus, Cyprianus, dan Novatianus. Perdebatan yang utama dalam hal ini adalah dosa post-baptisan diakhiri dengan kemenangan dengan pandangan bahwa Gereja menjadi garansi rekonsiliasi dan pertobatan. Bagi Novatianus, mereka yang di luar Gereja Kristus bukanlah seorang Kristen. Di luar Gereja tidak ada baptisan juga tidak ada anugerah. Tertullianus dan Irenaeus mengatakan bahwa Gereja bergantung kepada suksesi kepausan yang dipimpin oleh uskup. Walaupun Gereja itu dipimpin oleh uskup namun gereja itu sendiri terdiri dari para uskup, presbiter, dan kaum awam. Teori Cyprianus mengenai Gereja membahas tentang ‘keseluruhan’ dan konsistensi. Persekutuan orang Kristen dilihat sebagai bagian yang digerakkan oleh Roh Kudus. Prinsip Cyprianus adalah seluruh umat yang tidak pernah dibaptis harus dapat diterima menjadi anggota jemaat Gereja walaupun mereka adalah petobat dari kafir.

Pandangan lain yang dibahas Lampe adalah pandangan Augustinus tentang Gereja. Bagi Agustinus gereja terdiri dari dua bagian yaitu: (1) Gereja yang kelihatan (Visible Church) – gereja yang tidak sempurna – yang penuh cacat dan cela; dan (2) Gereja yang tidak kelihatan (Invisible Church) – gereja yang sempurna atau ideal. Gereja yang kelihatan adalah bayang-bayang dari gereja yang tidak kelihatan.  Mengenai sakramen, Augustinus berpendapat bahwa sahnya sakramen bukanlah bergantung kepada kesucian orang yang melayankan sakramen tetapi bergantung kepada Kristus sendiri. Pelayan sakramen hanyalah alat dari Kristus. Itulah sebabnya, maka Augustinus menerima sakramen baptisan yang dilaksanakan oleh golongan yang memisahkan diri sebagai sakramen yang sah. Jikalau ada orang Donatisme yang kembali kepada gereja yang resmi, mereka tidak perlu dibaptiskan kembali.

2.3    TEOLOGI KRISTEN TIMUR TAHUN 600 – 1453 (Kallistos Ware)[19]

Teologi Kristen Timur tahun 600 – 1453 ini dibahas Ware dalam lima bagian yakni: Ciri umum Teologi Bizantium, Abad Ketujuh Monotheletes; St.Maximus Pengaku, Perdebatan Ikonoklas, Konstantinopel dan Roma, dan Teologi Mistik: St.Simeon Teolog Baru dan Hesykhast.

Pertama, Ciri umum Teologi Bizantium.[20] Ware mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya para ahli sejarah membedakan Kekaisaran Bizantium dan Roma, tetapi tidak ada demarkasi yang jelas di antara keduanya satu dengan yang lain. Menurut Ware paling tidak dalam sejarah teologi Yunani dari tahun 325 hingga 1453, ada empat periode utama yang bisa dibedakan yaitu:

(i)            Tahun 325 – 381: dari Konsili Ekumenis pertama hingga kedua. Diskusi doktrinal dalam periode ini adalah pengajaran Trinitas.

(ii)          Tahun 431 – 691 : dari Konsili Ekumenis ketiga hingga keenam. Diskusi doktrinal dalam periode ini adalah Kristologi.

(iii)         Tahun 726 – 843 : membicangkan tentang perdebatan ikonoklas.

(iv)        Tahun 858 – 1453 : dari kenaikan Partiarkh Phontius hingga kejatuhan Kekaisarannya yang didominasi dua perkembangan:

(a)     Perkembangan Negatif, dengan pertumbuhan pemisahan di antara Yunani Timur dan Latin Barat.

(b)     Perkembangan Positif, dengan meningkatnya pengertian teologi mistik.

Kedua, Abad Ketujuh, Monotheletes; St.Maximus Pengaku.[21] Dalam bagian ini Ware membahas perdebatan Kristologi yang telah dimulai sejak abad kelima dan keenam. Pusat diskusi bukan lagi membahas kata ‘kodrat’ (physis), tetapi istilah ‘energi’ (energeia) dan ‘kehendak’ (thelema). Apakah Inkarnasi Yesus memiliki dua energi atau satu energi, ataukah memiliki dua kehendak atau satu kehendak? Pada permulaan abad ketujuh sudah ada yang berusaha untuk meredakan perdebatan ini dengan pemahaman ‘monofisit’. Patriarkh Sergius I Konstantinopel (610-638) menyarankan jalan kompromi bahwa walaupun Inkarnasi Kristus memiliki dua kodrat, di dalam Dia hanya ada satu ‘energi’. Kemudian Sergius memodifikasi terminologinya dengan mengatakan bahwa Kristus memiliki hanya satu keinginan. Pandangan ini dikenal sebagai Monotheletisme. Paham ini dikutuk pada Konsili Lateran tahun 649.

Pendapat lainnya adalah St.Maximus Pengaku (kira-kira 580-662). Dia mengatakan bahwa bukan hanya dua ‘kodrat’ di dalam Kristus, tetapi juga ‘satu kodrat’: hal itu semuanya tergantung pada bagaimana kata physis dimengerti. Maximus penentang utama doktrin satu kehendak. Maximus percaya keseimbangan bahwa rumusan ‘satu energi’ adalah penafsiran orthodoks. Maximus mengemukakan bahwa Yesus Kristus bukan manusia sejati, kecuali Ia mempunyai kehendak sendiri sebagai manusia. Yesus Kristus mempunyai dua kehendak sebab Ia mempunyai dua kodrat. Pengajaran Maximus semakin berkumandang setelah kematiannya dan dikonfirmasikan pada Konsili Ekumenis Keenam di Konstantinopel atau dikenal dengan Konsili Konstantinopel III (680-681). Dalam Konsili ini pengakuan dogmatik yang dinyatakan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus bukan hanya memiliki dua kodrat tetapi ‘dua kodrat keinginan dan dua kodrat energi tanpa pemisahan, tanpa perubahan, tanpa pembagian, dan tanpa membingungkan… Konsili ini menandakan berakhirnya masa dalam diskusi Kristologi.[22]

Ketiga Perdebatan Ikonoklas.[23] Dalam bagian ini Ware membahas perdebatan seputar ikon yang sudah menjadi bahan diskusi hampir 120 tahun sejak tahun 726 hingga 843.  ‘Ikon’ atau gambar yang dimaksudkan adalah gambar keagamaan yang menggambarkan Juruselamat, Bunda Maria atau salah satu dari malaikat atau orang kudus. Selama perdebatan ini sedikitnya ada dua dimensi penting yang selalu muncul dalam perdebatan ini yaitu: gambar-gambar pada kayu atau gambar dalam dinding. Pemakaian gambar-gambar ini akhirnya disetujui di dalam Gereja.

Menurut Eusebius dari Kaisarea (†339), ikon sangat penting menunjukkan gambaran ‘sejarah’ Kristus, ‘bentuk’ kemanusiaan-Nya. Pada tahun 650 – 700 usaha pertama yang dibuat oleh penulis Kristen untuk menetapkan ajaran dasar bagi pertumbuhan budaya ikon-ikon dan untuk merumuskan teologi Kristen tentang seni. Kaisar Leo III dari Isaurian (717-741) mulai melawan ikon-ikon ini tahun 726. Leo berusaha untuk menang atas Paus Gregorius II namun tidak berhasil. Pada tahun 730 Leo dalam gerakan silentium – campuran majelis imam dan kaum awam – di Konstantinopel menghancurkan seluruh patung baik di dalam tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah pribadi. Lebih jauh Ware mengatakan bahwa ikonoklasme tidak dengan mudah dijelaskan sebagai importasi dari sumber-sumber non-Kristen, tatapi hal ini merupakan gerakan yang kuat di dalam persekutuan orang Kristen.

Usaha perlawanan lainnya dilakukan oleh Konstantinus V (741-775) anak Kaisar Leo III. Konstantinus yang pandangan Kristologinya menekankan monofisit mengatakan bahwa yang dihukum bukan hanya pemujaan ikon-ikon saja melainkan harus seimbang yakni benda-benda yang ditinggalkan masa lalu dan juga yang dipraktikkan yang sudah lama diterima di dalam gereja. Hieria membarui penghukuman atas ikon-ikon tetapi menolak dengan halus persetujuan teori monifisit tentang pribadi Kristus.

Tahun 780 Irene mengakhiri perdebatan ikonoklas dan tujuh tahun kemudian pemujaan ikon-ikon diumumkan pada Konsili Kedua Nicea (Konsili Ketujuh Ekumenis). Kendatipun demikian perdebatan ini masih mendua. Paus mulai dari Gregorius II dan seterusnya mendukung pemakaian ikon-ikon tetapi Hadrian I (772-795) menerima keputusan Konsili Ketujuh Ekumenis tersebut. Mengapa demikian? Menurut Ware ada beberapa alasannya yaitu:, hubungan politik pada saat itu tegang antara Karel Agung dan Bizantium. Menurut Karel Agung, ikon-ikon dapat dilakukan di dalam Gereja tetapi tidak menyetujui proskynesis.

St.John dari Damaskus membedakan jenis ikon-ikon ini yaitu: ‘alami’ (physike), ‘dengan imitasi’ (mimetike), dan ‘artistik’ (technike). Artinya: (i) Kristus adalah ikon ‘alami’ dari Bapa (Kol.1:15); (ii) Manusia adalah ikon Allah ‘dengan imitasi’; sebab Ia dijadikan ‘menurut gambar dan rupa Allah (Kej.1:26); (iii) Gambar yang ditempelkan pada Gereja adalah ikon ‘artistik’.

Sengketa ikonoklasme sama sekali tidak dapat dipandang sebagai perselisihan antara Timur dan Barat. Sengketa ini pertama-tama menyangkut konflik intern Gereja Yunani. Gereja ini berikhtiar membela kebebasannya dari intervensi Negara. Sengketa ini telah memperlebar jarak antara Roma (Barat) dan Konstantinopel (Timur). Akibat krisis ini Gereja Bizantium terbelah dua bagian yang tak terdamaikan satu sama lain. Keadaan ini mematangkan munculnya pelbagai kekerasan dan penganiayaan. Bahkan dengan perdebatan ini terjadilah pertobatan yang menentukan dalam Sejarah Gereja Timur.[24]

Keempat Konstantinopel dan Roma.[25] Dalam bagian ini Ware membahas ketegangan-ketegangan yang dihadapi oleh Konstantinopel dan Roma. Pemisahan di antara Konstantinopel dan Roma ini diakibatkan banyak faktor misalnya faktor ajaran, politik (sekuler) sehingga kedua kubu ini saling bermusuhan satu dengan yang lainnya. Sejak abad keenam dan seterusnya faktor politik dan keutuhan budaya merupakan persoalan yang sangat menentukan. Tahun 330 Konstantinus mendirikan pusat kekaisaran baru di Konstantinopel sebagai tambahan pada kekaisaran Roma Lama di Italia. Sejak abad ketujuh Timur dan Barat menjadikan mereka sangat berbeda dengan mengisolasi diri satu dengan yang lainnya.

Perpecahan di antara Gereja Konstantinopel dan Roma dapat dilihat dari perdebatan mereka atas kata filioque (‘dan dari Anak’) yang dimasukkan oleh Gereja Barat (Latin) ke dalam teks Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel untuk mengatakan bahwa Roh Kudus berasal ‘dari Bapa dan Putra’. Gereja Konstantinopel menentang filioque karena dua alasan. Pertama, konsili-konsili ekumenis telah melarang mengubah Simbol Iman (Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel). Hanya konsili ekumenis yang dapat membatalkan keputusan konsili ekumenis sebelumnya. Kedua, filioque itu secara teologis salah. Gereja Konstantinopel menanyakan apakah seharusnya kata filioque dimasukkan ke dalam Pengakuan Iman? Apakah ajaran filioque itu benar?[26]

Menurut Photius ada tiga alasan menolak perkataan filioque dalam Pengakuan Iman tersebut yaitu: (i) Kata filioque mengimplikasikan bahwa ada dua ‘kasus’ atau ‘prinsip’ di dalam Ke-Allah-an, sehingga memperkenalkan sebuah pembagian ‘Manikhean’ ke dalam ajaran Trinitas. (ii) Pendukung filioque mengerti Trinitas di dalam istilah Neoplatonik ‘keberadaan jarak’. (iii) Dengan memasukkan kata filioque maka pemahaman Trinitas jatuh ke dalam pemahaman ‘semi-Sabellianisme’. Karena alasan itu (dan beberapa yang lain) selama Photius telah terjadi skisma – yang dikenal di Barat dengan skisma Photius. Tetapi perpecahan final terjadi pada tahun 1054, ketika Kardinal Humbertus da Silvacanandida, utusan paus, menyatakan bahwa  Konstantinopel, Mikhael Cerularius, itu musuh dan memisahkan kesatuan dengan seluruh Gereja yang dia wakili. Sikap yang tidak kalah garang pun diperlihatkan oleh Cerularius yang mengutuk tanpa ampun Gereja Barat dan antek-anteknya.[27]

Kelima Teologi Mistik: St.Simeon Teolog Baru dan Hesykhast.[28] Dalam bagian ini Ware membahas perkembangan teologi mistik di dunia kekristenan. Memang teologi ini berkembang sekitar abad keempat belas namun cikal-bakalnya sudah dimulai sejak abad ketiga oleh Origenes dan St.Gregorius dari Nyssa dan abad keempat oleh Pontus. Penulis lainnya yang tidak dikenal adalah Makarian Homilies (pada akhir abad keempat hingga permulaan abad kelima), kemudian St.Diadokhus dari Photikus (pertengahan abad kelima), St.Dionysius Areopagita (akhir abad kelima hingga permulaan abad keenam), St.Maximus Pengaku dan St.Isaac Niniwe (akhir abad ketujuh).

Ware menjelaskan tiga hal penting yang cukup berarti dalam perkembangan tradisi teologi mistik ini.

(1) Penulis spiritual Yunani menekankan ‘otherness’ (kualitas) Allah yang melawan keras pendapat Eunomius yang mengklaim esensi keilahian bisa dimengerti bahwa kemanusiaan sama dengan Allah sendiri. Gregorius dari Nyssa berpendapat bahwa kita dapat menyadari kehadiran Allah, tetapi tidak pernah merasakan esensi-Nya. Dengan demikian visi mistikal Allah bukan hanya sebuah visi immanen-Nya melainkan transenden dan tanpa batas-Nya: artinya ketika kita berhadapan dengan Allah, kita merasakan seolah-olah kita tidak pernah bertemu sebelumnya. St.Dionysius membedakan dua metode teologi yang berbeda yakni: jalan afirmasi (katapatik=pengetahuan tentang Allah atau teologi affirmatif) dan jalan penyangkalan (apopatik atau teologi negatif). Katapatik teologi berisikan tentang apakah Allah itu: Allah itu ada, baik, bijaksana, kasih, dan disukai. Teologi negatif menolak gambaran manusia di dalam pengalaman Allah.

(2) Teologi mistik ini juga berisikan kemungkinan kenyataan dan tanpa kesatuan dengan dewa. Menggambarkan kesatuan ini, penulis Yunani baik Kristen maupun non-Kristen menggunakan dua simbol berlawanan namun tidak bertentangan yaitu: simbol kegelapan dan simbol terang. Pemimpin ‘mistik kegelapan’ adalah Gregorius dari Nyssa dan Dionysius. Dan penulis ‘mistik terang’ adalah Origenes, Evagrius, dan Makarian Homilies dan terakhir Simeon Teolog Baru dan Gregorius Palamas.

(3) Pada tingkat praktis, penulis spritual Yunani merekomendasikan satu cara berdoa yaitu: “Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah saya”.

Selanjutnya Ware menjelaskan lebih dalam lagi pemahaman Simeon tentang ‘mistik terang’. Simeon disebut ‘orang mistik yang paling menonjol’ di antara para mistik dari Bizantium Abad Pertengahan. Ia diberi gelar “Teolog Baru”. Mistik terang bukanlah simbolikal dan imaginari tetapi sebuah eksistensi realitas meskipun immaterial. Simeon melukiskan pemandangan Allah sebagai terang ilahi yang tak diciptakan dan tak kelihatan.[29] Pemahaman Simeon ini ditentang oleh kelompok Hesykast (hesykast berasal dari hesycia: keheningan, kesunyian). Hesykast adalah seseorang yang menjauhi diri dari dunia dan mencari Allah melalui doa-doa yang menekankan meditasi secara diam dengan posisi badan tertentu. Ada dua orang figur yang terkenal dalam kelompok ini yaitu: St.Gregorius dari Sinai (1255-1346) dan St.Gregorius Palamas.

Palamas berusaha menjelaskan Hesykast yang terdiri dari dua inti utamanya: (i) Allah hanya dapat dikenal dalam keheningan; (ii) Metode fisik doa menggunakan superstitious. Pandangannya ini mendapat kritik dari Barlaam yang mengatakan bahwa Hesykast condong kepada materialisme. Perdebatan ini sangat panjang dan diuraikan Ware secara rinci dalam buku ini. Namun perdebatan ini pun kadang bisa mencapai kesepakatan tapi dilanjutkan kembali ke topik lainnya. Misalnya saja mengenai Allah mereka berdua sepakat bahwa Allah tak dapat dikenal. Namun kesepakatan ini pun juga masih terus diperdebatkan oleh mereka berdua.

2.4    TEOLOGI KRISTEN ABAD PERTENGAHAN 604 – 1350 (David Knowles)[30]

Teologi Kristen Abad-abad Pertengahan ini dibahas Knowles dalam enam pokok bahasan yaitu: Dari Gregorius Agung, Roma dan Konstantinopel; Dari Karel Agung (Charlemagne) ke Abad Ketujuh; Masa Kebangunan dan Reform 1000 – 1150; Teologi Skolastik Pertama kira-kira tahun 1050 – 1200; Masa Keemasan Skolastisisme; dan Skolastik kemudian. Secara umum topik yang dibahas Knowles ini memiliki sedikit kesamaan dengan pembahasan Ware dan Lampe di atas, sehingga dalam pembahasan yang sama nantinya tidak akan diulangi lagi dalam laporan ini. Namun hal yang belum diuraikan Ware dan Lampe akan dilaporkan dalam laporan ini.

Pertama, Dari Gregorius Agung Roma dan Konstantinopel.[31] Pada bagian ini, Knowles membahas perdebatan Monotheletis, ikonoklast, Adopsionis Spanyol, perdebatan Filioque, perkembangan disiplin penebusan dosa dan indulgensia. Mengenai perdebatan Monothelete, ikonoklast, dan Filioque sudah dibahas oleh Lampe dan Ware. Memang ketiga topik ini diuraikan lagi oleh Knowles secara terinci dan mendalam. Ajaran Adopsionis adalah ajaran yang menganggap bahwa Yesus diadopsi sebagai Anak oleh Allah Bapa pada saat baptisan-Nya. Ajaran ini sudah dikenal sebagai ajaran Bapa Gereja Latin yang membedakan keilahian dan kodrat kemanusiaan di dalam Kristus dan menekankan bahwa ketika Anak memiliki kekekalan dari Allah, keilahian Pribadi telah diberikan kepada-Nya atau ‘diasumsikan’ di dalam kodrat kemanusiaan (homo assumptus) pada saat pertama di dalam kandungan Perawan Maria. Hal ini mungkin terjadi dalam liturgi Mozarabik Spanyol pada rumusan kuno yang menganggap Pribadi dari Firman adalah kodrat manusia yang digambarkan sebagai ‘adopsi’. Penjelasan ini dibuat oleh Elipandus untuk melawan ajaran Migetius yang mengatakan bahwa Yesus satu di antara tiga Pribadi Trinitas. Konsili mengkritik Migetius dan menerima bahwa Anak Manusia adalah diadopsi Anak Allah. Namun Hadrianus memberikan penjelasan yang sangat hati-hati, menghukum ekspresi ‘adopsi anak’ yang digunakan kepada Kristus.

Kedua, Dari Karel Agung (Charlemagne) ke Abad Ketujuh.[32] Dalam bagian ini Knowles membahas tiga hal yaitu: perdebatan Eukaristi (Perjamuan Kudus), predestinasi dan pemutusan hubungan di antara Timur dan Barat. Perdebatan Eukaristi ini berkaitan dengan kehadiran Yesus Kristus di dalam Perjamuan Kudus. Beberapa pemahaman tentang kehadiran Yesus dalam Perjamuan Kudus ini bermunculan. Di Barat, St.John Chrysostomus dan St.Ambrosius mengatakan bahwa tubuh Kristus seolah-olah berdiam do dalam roti dan anggur sebagai kehadiran mujizat transformasi dan penciptaan. Augustinus mengatakan Perjamuan Kudus sebagai misteri dan sebagai sebuah simbol yang efektif dalam kehadiran Kristus dan kesatuan iman. Rabanus Maurus (784-856) mengatakan bahwa kehadiran Kristus merupakan hal yang sangat penting dan nyata antara penerima dan ketika menyatu dengan Tuhan di dalam sakramen. Gottschalk berpendapat bahwa kehadiran Tuhan bersifat objektif. Ratramnus (wafat 868) mengatakan bahwa kehadiran Kristus merupakan kehadiran spritual tetapi nyata.

Perdebatan lain yang Knowles bahas ialah perdebatan predestinasi. Perdebatan ini bermula dari pengajaran Gottschalk (wafat 868-9). Pengajarannya ini dipengaruhi oleh pengajaran Augustinus. Gottschalk mengatakan bahwa manusia berdosa tidak dapat berbuat yang baik tanpa anugerah Allah, anugerah Allah yang cuma-cuma. Tidak semua manusia diselamatkan; akhirnya Allah tidak menyelamatkan semua manusia. Rabanus menyampaikan risalah Gottschalk ini kepada uskup agung Hincmar dari Rheims (wafat 882) sehingga Gottschalk dihukum dan dipenjarakan. Hincmar memberikan sanggahannya yang hampir sama dengan pemikiran Augustinus yang menekankan Kristus mati bagi semua manusia. Namun Ratramnus sahabat Gottschalk yang sangat Augustinian melawan pemikiran Hincmar dengan mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah berdosa (massa damnata). Akhirnya perdebatan ini diselesaikan dengan sebuah konsili regional yang memutuskan empat keputusan yang anti-Augustinus yaitu: (1) Hanya satu predestinasi yaitu atas mereka yang terpilih dan hal ini tidak tergantung pada penilaian jasa mereka. (2) Kebebasan manusia telah hilang karena dosa dan diperbaharui oleh anugerah. (3) Allah menginginkan keselamatan bagi semua manusia. (4) Kristus menderita untuk semua manusia.

Mengenai pemutusan hubungan Timur dan Barat, ini sudah dibahas oleh Ware. Namun Knowles mau menjelaskan bahwa sebenarnya pemutusan hubungan ini pada dasarnya diakibatkan oleh faktor sosial dan politik yang sedang terjadi di Timur dan di Barat. Sebenarnya tidak pernah terjadi pertikaian maupun permusuhan Gereja Timur dengan Gereja Barat. Perdebatan mereka hanya seputar doktrin Roh Kudus dan Anak (Filioque). Gereja Barat sendiri tidak pernah menghukum Gereja Timur sebagai musuh. Artinya pertikaian ini lebih cocok disebut sebagai sebuah skisma daripada sebuah permusuhan.

Ketiga, Masa Kebangunan dan Reform 1000 – 1150.[33] Menurut Knowles, masa ini ditandai dengan keberhasilan penerimaan kembali supremasi kepausan di Gereja Barat sekarang. Knowles membahas enam hal pada masa kebangunan dan Reform ini yaitu: perdebatan kedua tentang Eukaristi, Anselmus dari Bec dan Canterbury, Abelardus, masalah Reordinasi, pengaruh Bernardus, dan Perawan Maria.

Perdebatan kedua tentang eukaristi ini membicarakan perdebatan Berengarius (wafat 1088) dengan Lanfranc (kira-kira 1010-1089). Berengarius menolak setiap perubahan ‘kodrat’ atau ‘esensi’ di dalam pengudusan unsur-unsur dan menerima kehadiran Kristus yang hanya menjadi konseptual (intellectuale). Lanfranc dalam bukunya Tubuh dan darah Tuhan (On the body and blood of the Lord) mendefinisikan secara jelas istilah perubahan substansi dari roti dan anggur menjadi ‘esensi’ Tubuh Tuhan sementara ‘penampakan’ (species) tanpa perubahan. Menjawab hal ini Berengarius menulis tentang Perjamuan Kudus (On the Lord’s Supper) bahwa perubahan yang terjadi sungguh-sungguh bersifat spiritual dan menolak menerima materi roti dan anggur pengganti tubuh dan darah Kristus. Di Gereja Barat pemahaman Lanfranc lebih diterima bahwa roti diubah ke dalam tubuh Kristus.

Mengenai Anselmus dari Bec dan Canterbury (1033-1109),  Knowles menguraikan bahwa Anselmus merupakan orang yang pertama memakai akal budi dengan tujuan skolastik untuk menunjukkan kebenaran. Sehingga Anselmus dikenal juga sebagai pendiri aliran Skolastisisme. Pemikiran-pemikirannya yang terkenal adalah fides quaerens intellectum (iman mencari pengertian). Buah karyanya yang sangat terkenal adalah Cur Deus Homo? (Mengapa Allah menjadi Manusia?). Karya ini muncul dalam rangka menjawab tuduhan bahwa tidak pantas dan merendahkan bagi Allah untuk menjadi manusia dan mati demi menyelamatkan kita. Anselmus menanggapi dengan mengemukakan bahwa hal itu pantas juga karena tidak ada jalan lain kecuali itu.[34] Karya lainnya yang ditulis oleh Anselmus adalah risalah mengenai Predestinasi dan Kehendak Bebas, Trinitas dan Proses Roh Kudus dari Bapa dan Anak.

Abelardus (1079-1142) dikenal sebagai pemikir daripada seorang teolog.  Abelardus memiliki kekuatan mengkritik dan pemikirannya mudah dimengerti namun selalu mengalami permasalahan dengan pendahulunya dan sering akhirnya mengaburkan kebenaran. Abelardus sangat dekat dengan pemikiran kritik rasional dan analisis. Abelardus baru memasuki lapangan teologi sekitar tahun 1121 sebagai penakluk dunia baru. Abelardus menggunakan argumentasinya untuk menjelaskan iman sedaya mampu mungkin di dalam pemikiran yang rasional. Karya pertamanya adalah Teologi Kristen (Christian Theology) yang membahas tentang pengajaran Kristen. Dalam doktrin kekristenannya ia memakai metode-metode aliran logis dan dialektis. Dialektika baru ditemukan dalam ajaran Trinitas yang menggunakan definisi istilah ‘kodrat’ dan ‘pribadi’. Dalam Kristologi, dia memahami bahwa kodrat manusia Kristus sebagai ‘yang tidak ada’ (nihil) pada Pribadi yang ilahi. Menyangkut ajaran mengenai Penebusan, Abelardus menentang praktik penafisran ‘uang tebusan’ dan  ‘kepuasan adekuat’ pada Inkarnasi dan Passion. Abelardus memahami Inkarnasi sebagai ‘contoh teladan’ untuk membangun dan menstimulasi manusia di dalam kasih Allah yang sempurna. Pemikiran Abelardus lainnya yang dijelaskan Knowles adalah mengenai perlawanannya atas ajaran dosal asali Augustinus dan di bidang lainnya seperti etika dan analisa perbuatan baik dan jahat. Dalam karyanya Scito te ipsum (Kenal dirimu sendiri) dia menekankan pengetahuan yang penuh, peralihan pikiran (advertence), niat sebelum dosa moral dapat ditanggalkan dan dengan begitu menyatakan hak-hak dan pertanggungjawaban dari suara hati pribadi.

Mengenai masalah reordinasi (penahbisan ulang), Knowles membahas sepintas mengenai tujuh sakaramen dan baptisan ulang. Cyprianus yang melakukan baptisan ulang di Afrika. Dan Gereja Roma melawan Cyprianus. Kendati demikian ini bukan berarti permasalahan selesai, tetapi perdebatan ini merupakan perdebatan yang cukup panjang.

Pengaruh Bernardus sangat kuat pada masa ini. Bernardus mendominasi kehidupan politik dan spritual. Ringkasan pengajaran Bernardus mempengaruhi Abelardus dan Gilbert de la Porre sama kuatnya dengan pengaruh Newman pada abad kesembilan belas.

Mengenai Perawan Maria, Knowles mengatakan bahwa posisi Maria pada Abad Pertengahan sangat dihargai dalam Kekristenan. Maria adalah seorang Perawan sebelum, selama dan setelah kelahiran Yesus. Gelar yang diberikan kepada Maria adalah Ibu Allah dan Hawa Kedua. Di Gereja Timur, Maria diterima sebagai kepenuhan anugerah dan posisinya sebagai Hawa kedua karena imannya. Namun yang menjadi perdebatan adalah apakah Maria berdosa atau tidak? Sebab jika Maria berdosa maka Kristus berdosa karena Kristus menerima dosa asali. Tetapi jika Maria tidak berdosa, bagaimana mungkin dia membutuhkan penebusan. Menjawab hal ini, Aquinas mengatakan bahwa Maria telah dikuduskan oleh Allah.

Keempat, Abad Pertama Teologi Skolastik kira-kira tahun 1050 – 1200.[35] Bagian keempat ini membahas lahirnya teologi Skolastik. Knowles menguraikannya dalam tiga hal yakni:

(1)         Pendidikan Teologi tahun 600 – 1160. Karel Agung berusaha keras menyebarluaskan pendidikan dengan menerbitkan ulang pengajaran-pengajaran lama. Baik di tempat biarawan-biarawan dan sekolah-sekolah keuskupan diajarkan tata bahasa dan menulis, memampukan orang bodoh untuk dapat membaca bahasa Latin klasik. Tujuan pendidikan adalah memampukan orang bodoh untuk dapat membaca dan menulis dan mengerti Kitab Suci. Pola pendidikan ini diikuti oleh Gregorius Agung, Leo Agung dan Yerome. Masa inilah yang dikenal dengan masa kebangunan renaisans Carolingian. Pada masa ini, Alcuin telah membuat sistem pendidikan. Namun ketika terjadi likuidasi kekaisaran Carolingian maka seluruh pendidikan teologi absen lebih dari satu abad. Kebangunan pendidikan kembali sekitar abad kedua belas dengan bentuk sekolah katedral dengan pengajaran dialektika oleh guru pribadi (individual teacher) atau pengajaran yang bersifat free-lance yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pengajaran ini misalnya dilakukan oleh: Berengarius, Roscelin dan Abelardus. Dialektika dan teologi merupakan dua disiplin ilmu yang tidak dipisahkan pada waktu itu. Sehingga pada abad keduabelas inilah sebenarnya pengajaran secara teologi akademik mulai menemukan bentuknya. Pendidikan teologi dimulai dengan gelar sarjana muda dengan memakai metode logika dan dialektika dan pertanyaan-pertanyaan. Sehingga seluruh Summa Theologiae Thomas dipakai dalam bentuk sic et non (ya dan tidak), dan sering membuka sebuah pertanyaan dengan: “Apakah Allah ada?” (Utrum Deus sit?). Seluruh pendidikan teologi skolastik dikondisikan oleh dasar logika dan dialektika ini. Para guru-guru yang ditamatkan melalaui metode ini adalah: Aleksander dari Hale, Albertus, Bonaventure dan Thomas.

(2)         Hukum Kanon dan Sakramen. Para ahli sejarah teologi dan Hukum Kanon tidak begitu menghargai pengaruh kanonis di dalam perkembangan doktrinal. Misalnya saja sakramen. Pada abad kedua belas, baik Gereja Barat dan Gereja Timur menganggap bahwa Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus merupakan anugerah pemberian Allah.

(3)         Bidat. Pemakaian istilah musuh menurut Knowles kurang tepat. Sebab kata bidat adalah kata ‘yang membebani’ dan ketika kata ini dipakai oleh para teolog, hal ini mengimplikasikan ajaran yang palsu sebagai oposisi kepada kebenaran yang ortodoks. Bidat mungkin adalah sesuatu yang berlebihan, penyimpangan dari yang biasa. Penyimpangan yang dipaparkan Knowles misalnya, pemisahan Bogomil dari Balkan.

Kelima, Masa Keemasan Skolastisisme.[36] Masa keemasan Skolastisisme ini diuraikan Knowles dalam empat masa yaitu:

(1)         Pendidikan teologi, tahun 1160 – 1300. Pada masa ini di Paris sudah terdapat tiga sekolah yakni: sekolah katedral di pulau Seine, biara St.Victor, dan Mont Sainte Genevieve. Kebangkitan skolastik pada permulaan abad kesebelas telah membuat pengajaran dialektika dan ilmu logika menjadi hal yang sangat penting. Namun dalam perkembangan sistem pendidikan yang menjadi persoalan adalah mengenai posisi ambigu dari filosofi – ilmu epistemologi, metafisika, etika dan psikologi.

(2)         Filsafat dan teologi. Ilmu filosofi memasuki ajaran teologi menjadi ciri teologi abad ketiga belas. Masa Aquinas berbeda dengan masa Anselmus dan Abelardus. Mereka menggunakan ilmu logika dan dialektika di dalam analisis dan penjelasan kebenaran agama. Gilbert de la Porre menerima prinsip-prinsip ilmu filosofi (atau semantik) pada pengajaran umum. Pada tahun 1250 sistem ilmu filosofi telah diterima dalam bentuk Latin. Sehingga ilmu filosofi menjadi hal yang sangat penting dalam berteologi.

(3)         Bonaventura dan Albertus Agung.  Bonaventura (1221-1274) mengatakan bahwa teologi lebih merupakan sebuah tindakan spiritual daripada cita-cita intelektual, lebih merupakan sebuah jalan hidup daripada sebuah ilmu pengetahuan. Dalam karyanya yang berjudul Kembara Pikiran kepada Allah (Itinerarium mentis ad Deum), Bonaventura mengambil konsep kehidupan Augustinus sebagai bentuk pendidikan Kristen, perjalanan dari ilmu pengetahuan manusia melalui pembelajaran ilmu Kitab Suci dan teologi pada pengetahuan mistik dan kesatuan dengan Allah. Bonaventure orang yang pertama memakai skema yang komprehensif tentang ajaran Kristen tentang keberadaan metafisik, proses kognitif di dalam perasaan, pikiran dan jiwa.  Albertus (1260?-1280) mengatakan bahwa seluruh sistem yang dikenal dalam pengajaran Aristoteles yang merupakan kombinasi yang unik tentang empiricisme dan idealisme, perasaan umum dan pemikiran abstrak adalah yang dapat bertahan hidup dan yang paling ‘rasional’ untuk melayani sebagai dasar bagi teologi. Albertus merupakan pemikir yang simpatik dan luas, yang berusaha untuk menyebarluaskan atau membenarkan pemikiran Aristoteles.

(4)         Thomas Aquinas (1225-1274).  Thomas Aquinas adalah seorang skolastik yang memiliki banyak pemikiran dalam teologi Kristen. Knowles memaparkan pemikiran Thomas Aquinas ini mengenai filosofi, teologi, Inkarnasi, Trinitas, anugerah, keselamatan, predestinasi, Eukaristi, dan sakramen. Thomas tidak menganggap filsafat dan teologi sebagai dua hal yang begitu saja berdampingan satu sama yang lain. Thomas berpendapat bahwa filsafat yang tepat sangat membantu teologi. Tujuan anugerah Allah bukan untuk memusnahkan tabiat manusia, juga tidak untuk bertindak terlepas darinya, melainkan untuk menyempurnakannya. Akal manusia, dengan mempergunakan filsafat, dapat menemukan banyak yang benar mengenai dunia dan umat manusia dan malah tentang Allah. Pemikiran Aquinas yang paling terkenal adalah “teologi kue lapis” artinya Aquinas membedakan antara yang natural (kodrati) dan yang supernatural (adikodrati). Namun ia menekankan bahwa keduanya itu tidak perlu dipertentangkan. Keduanya adalah sumber pengetahuan berasal dari Allah yang harus dilihat dari sudut pandang Allah.

Keenam, Skolastik yang kemudian dan kemacetan Sintesis Thomist[37] Dalam bagian ini Knowles menguraikan empat hal yakni:

(1)   Pengutukan tahun 1270 dan 1277 dan Duns Scotus. Pada masa ini, Knowles membahas tokoh Thomas Aquinas dan John Duns Scotus. Thomas Aquinas mengadopsi pemikiran Aristoteles tentang jiwa sebagai ‘bentuk’ tubuh. Pengajaran Thomas Aquinas kemudian dikutuk oleh uskup Tempier di Paris tahun 1270. Tidak ada ajaran Thomis yang termasuk dikutuk. Thomas Aquinas meninggal tahun 1274, dan pada tahun 1277, saat ulang tahun ketiga kematiannya, banyak pengajarannya dikutuk. Pengejekan terhadap ajaran Thomas Aquinas dihilangkan setelah lima puluh tahun kemudian oleh Paus Johanes XXII, tetapi penghukuman tahun 1277 yang diterima di Paris masih terasa. John Duns Scotus (kira-kira 1266-1308) yang lahir di desa Border Kabupaten Roxburghshire merupakan seorang pengajar di Oxford kemudian di Paris dan Cologne. Scotus merupakan pemikir filosofi modern yang diikuti banyak orang. Secara teologi Scotus sangat penting karena dua hal. Pertama, Scotus memulai memisahkan antara iman dan akal budi, filosofi alami dan wahyu supernatural. Dia menerima pemikiran Aristoteles tentang pengetahuan. Kedua, Scotus melawan pembelaan diri determinisme Aristoteles dan menekankan keunggulan kehendak bebas. Scotus bukanlah seorang skeptik, tetapi dia menolak menerima konsepsi kodrat Aristoteleian.

(2)   Neo-Platonis Rheinland. Tokoh yang dibahas Knowles di sini pertama adalah Maister Eckhart (1260-1327). Eckhart merupakan penulis mistik. Dalam seluruh tulisannya selalu menonjolkan dasar teknik dan teologi Thomist. Eckhart mengatakan kehidupan spiritual dan kehidupan mistik sebagai tujuan kerja keras orang Kristen. Eckhart adalah seorang guru yang populer dan disegani, tetapi kurang hati-hati dalam beberapa pernyataannya. Misalnya Eckhart berbicara tentang “bunga api ilahi” dalam jiwa manusia. Mistik Neo-Platonis selalu menjurus pada panteisme. Sehingga pada tahun 1326 Eckhart dituduh menyesatkan. Kedua, John Tauler dan Henry Suso. Mereka berdua lebih terkenal sebagai penulis ilmu mistik daripada seorang teolog. Mistik versi Tauler populer pada “mazhab Rheinland” (yang menghasilkan karya bernama Teologi Jerman yang dikagumi Luther), pada tradisi mistik Inggris dan pada gerakan Devosi Modern.

(3)   William dari Ockham (kira-kira 1300 hingga 1349). Ockham terkenal sebagai seorang logikus yang lebih condong pada pemikiran Aristoteles. Ockham mencampur pemikiran Aristoteles dengan logika baru dari sekolah Oxford yang akhirnya menjadikan Ockham sebagai pendiri Nominalisme baru. Ockham bukan seorang filsuf skeptik, dia mengemukakan bahwa hanya individu-individu yang benar-benar ada. Yang universal hanyalah merupakan kosep mental yang sebenarnya tidak ada, kecuali dalam benak orang yang memikirkannya. Sifat-sifat universal atau kesemestaan tidak berada, kecuali sebagai konsep dalam otak saja.Universal tidak merupakan kenyataan melebihi individu-individu.

(4)   Masa depan Skolastisme. Masa depan Skolastisisme ini menurut Knowles memiliki arti dan kemampuan membangun dalam perkembangan teologi pada abad-abad berikutnya. Minimal ada dua hal yang menyebabkan Skolastisisme ini sangat berarti yaitu: Pertama, sebab selama tiga abad sebelum 1350, yang menjadi dasar cita-cita pendidikan adalah logika. Kedua, bahwa tujuan yang esensi dari logika Aristoteles dan epistomologi adalah pencapaian kebenaran yang abstrak.

2.5    DOKTRIN KRISTEN DARI TAHUN 1350 HINGGA REFORMASI (E.Gordon Rupp)[38]

Doktrin Kristen yang menjadi sorotan Rupp sejak tahun 1350 hingga Reformasi adalah  ajaran-ajaran para Reformator mulai dari John Wyclif, John Hus, John Gerson, Gerhard Groote, Nicholas dari Kusa, Marsilius Ficino dan Florentinus Platonisme, Skolastik Abad Kelima belas – John Wesel, John Pupper dari Goch, Wessel Gansfort, Gabriel Biel, dan Erasmus. Rupp membahas sekilas tentang doktrin dari setiap tokoh-tokoh Kristen yang berada di sekitar tahun 1350 hingga Reformasi.

(1)          John Wyclif  (kira-kira 1330-1384). John Wyclif adalah orang terpelajar yang terkemuka pada zamannya. Seluruh Inggris menghormati kebijakannya. Pendidikan di universitas masih merupakan fenomena baru ketika itu, dan peranan Wyclif sungguhlah besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar. Namun, kehidupannya penuh dengan kontroversi. Ia mempunyai kebiasaan berbahaya, yaitu mengatakan apa yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertanyakan tentang ajaran Katolik resmi, ia langsung menyuarakannya. Ia mempertanyakan hak gereja atas kuasa duniawi dan kekayaannya. Ia mempertanyakan juga penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan para santo dan relikwi yang berbau takhayul, serta kuasa paus. John Wyclif mempertanyakan juga pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transubstansiasi) yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat. Untuk pandangan-pandangan semacam ini dan lainnya, ia selalu harus membela diri di hadapan para uskup dan konsili-konsili.

Inggris penuh sentimen terhadap Gereja Roma, bahkan pada tahun-tahun 1300-an. Kepemimpinan sekuler sangat kuat di Inggris. Para pangeran — dan banyak orang awam — menyesalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta. John Gaunt sering memakai ide-ide dan kesohoran Wyclif dalam berargumentasi dengan Gereja. Sebagai imbalannya, ia memberi Wyclif semacam perlindungan dari hierarki.

Untuk sementara, Wyclif merupakan pahlawan yang populer. Para pengikutnya, yakni Lollard, para imam yang menganut kemiskinan para rasul dan mengajarkan Kitab Suci kepada kalangan umum, mengembara di Inggris dengan Injil. Tetapi tatkala pengaruhnya menurun, Wycliffe menjadi kurang berguna bagi para sponsornya, termasuk Lancaster. Peristiwa tahun 1377 mengakibatkan tulisannya dilarang. Oposisi pun semakin intensif. Sementara ia sendiri diamankan dari kekerasan, tulisan-tulisannya dibakar dan ia dicopot dari kedudukannya di Oxford serta dilarang menyebarluaskan pandangannya.

Hal ini memberinya waktu untuk menerjemahkan Alkitab. Menurut Wyclif, setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. “Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan bagi para imam saja,” tulisnya. Maka meskipun Gereja tidak setuju, ia bekerja bersama sarjana lain untuk menerjemahkan Alkitab Inggris pertama yang lengkap. Menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan Bahasa Latin), Wyclif berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang-orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua yang diselesaikan setelah Wyclif meninggal, mengalami perbaikan. Namun edisi itu dikenal sebagai “Alkitab Wyclif”, dan dibagi-bagikan secara ilegal oleh para Lollard.

Wycliffe terkena stroke di gereja dan meninggal pada tanggal 31 Desember 1384. Tiga puluh satu tahun kemudian, Konsili Konstanz mengucilkan dia, dan pada tahun 1428 kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya disebarkan di sungai Swift.

Tidak ada yang tahu secepat apa idenya akan tersebar di seluruh Eropa. Dampak ajarannya pada para pemimpin di kemudian hari, seperti Yohanes Hus, memberikan Wyclif julukan “Bintang Fajar Reformasi”. Ia sendiri berusaha tetap bertahan di Gereja Roma sepanjang hidupnya, tetapi dalam hati dan benak para pendengarnya, Reformasi sudah bergerak secara diam-diam.[39]

(2)          John Hus (1369-1415). John Hus adalah seorang pemikir dan reformator agama dari Ceko (yang saat itu tinggal di wilayah itu dan dikenal sebagai Bohemia). Ia memulai suatu gerakan keagamaan yang didasarkan pada gagasan-gagasan John Wycliffe. Para pengikutnya dikenal sebagai kaum Hussit. Gereja Katolik menganggap ajaran-ajarannya sesat, dan Hus dikucilkan pada 1411, dikutuk oleh Konsili Konstanz, dan dibakar di tiang pada 6 Juli 1415, di Konstanz, Jerman.

Hus mengembangkan perlawanan terhadap kaum rohaniwan bukan saja dengan meninggalkan gaya hidup rohaniwan yang amoral dan mewah – termasuk paus – tetapi menegaskan bahwa hanya Kristus sajalah Kepala Gereja. Dalam bukunya On the Church (De Ecclesia = Tentang Gereja), ia mengatakan bahwa Gereja adalah universitas Praedestinatorum. Hus juga membela otoritas kaum rohaniwan, namun menekankan bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Paus ataupun uskup, tambahnya, tidak dapat menciptakan doktrin yang berlawanan dengan Alkitab, tidak juga seorang Kristen sejati yang dapat patuh pada perintah rohaniwan, jika ternyata hal itu jelas-jelas salah.

(3)          John Gerson (1363-1426). Gerson adalah seorang ‘Doktor Kristianissimus’ yang berpegang pada ajaran Nominalis – yang menekankan kebebasan Allah – Allah tidak akan bertindak sebab mereka baik, tetapi mereka baik sebab dia menyukai mereka. Gerson menolak pandangan yang mengatakan bahwa secara institusional hanya ‘agama’ dapat menemukan kesempurnaan. Karyanya yang terkenal adalah Nocturnal Pollutions dan Pusillanimity sangat mempengaruhi pemikiran Katolik dan Protestan. Gerson dikenal sebagai ‘Devosi Modern’ karena dia menekankan pembaharuan kehidupan moral sebagai jalan hidup dan visi pada Allah.

(4)          Gerhard Groote (1340-1384). Groote lebih dikenal sebagai seorang pengacara daripada seorang teolog divine. Groote sangat disiplin terhadap kontemplasi dan kehidupan yang baik, sehingga dia menjadi direktur dari kelompok pengacara. Pengajarannya menekankan meditasi dan kontemplasi yang disebarluaskan melalui buku dan naskah-naskah foto kopian. Gerson terus berjuang untuk melakukan reformasi di dalam tubuh gereja melalui tulisan-tulisannya.

(5)          Nicholas dari Kusa (1401-1464). Nicholas juga sangat bertekad berjuang untuk pembaharuan gereja. Lahir di Moselle, Kusa dan belajar di Heidelberg dan Padua menyelesaikan gelar doktor bidang hukum. Nicholas melawan tradisi rasionalis dan menemukan kunci kebenaran dengan menyakini bahwa pengetahuan manusia memiliki keterbatasan tentang hal-hal yang ilahi. Nicholas lebih dalam mengatakan bahwa pengetahuan itu jangan seperti kesalahan binatang tanpa pengertian tetapi kita harus mempelajari kesalahan itu (docta Ignorantia) di dalam kehadiran Allah. Nicholas menggaris bawahi apa yang dikatakan oleh Thomas dan Eckhart dan Dionysius tentang via negativa dan via eminentiae, analogi seluruh bahasa dan simbol-simbol. Nicholas percaya bahwa Allah adalah yang menyatukan perlawanan: pada-Nya ada kebenaran seluruh polaritas pengetahuan sebagaimana Allah menyatukan alam semesta dan manusia.

(6)          Marsilius Ficino  (1439-1499) dan Florentinus Platonisme. Ficino sendiri ditahbiskan pada usia yang dewasa, seorang pujangga dan ahli kesehatan, yang sangat menyukai musik dan memiliki banyak sahabat. Karyanya yang terkenal berkaitan dengan jiwa yang tidak bermoral yang diberi judul Of the Dignity of Man.. Karyanya ini dikerjakan bersama sahabatnya Pico della Mirandola (1463-1494) yang mengekspresikan pandangan Renaisans mengenai gambar Allah di dalam manusia.

Pada masa ini (abad ke-15) Rupp menguraikan juga tokoh-tokoh Skolastisisme pada abad kelima belas yaitu: John Wesel (kira-kira 1400-1481), John Pupper dari Goch dan Wessel Gansfort.

(7)          Gabriel Biel (kira-kira 1420-1495). Sebenarnya Biel merupakan figur yang lebih dikenal daripada tiga orang yang disebut ‘Reformator sebelum Reformasi’. Biel menggabungkan skolastisisme dengan kunjungan pastoral dan khotbahnya. Biel sangat papalis dan sangat mendukung otoritas kepausan yang dituliskannya dalam karyanya yang berjudul Defensorium Obedientiae Apostolicum (1462). Biel lahir di Spenyer dan pindah ke Heidelberg, Erfurt dan Cologne dan terakhir sebagai profesor di Universitas Tubingen. Biel sangat kuat menekankan Mariologi dalam khotbahnya. Biel menekankan kebebasan Allah dan kebebasan manusia dan membuat dialektika yang penuh pada ‘Potestas absoluta’ dan ‘Potestas ordinata’. Biel mengkombinasikan doktrin penyelamatan melalui amal dan penyelamatan melalui anugerah. Keselamatan diperoleh oleh amal dalam arti bahwa kita layak menerima anugerah, karena usaha kita yang sebaik mungkin, kemudian Allah menerima kita karena kita melakukan pekerjaan baik di bawah anugerah. Namun keselamatan juga diperoleh melalui anugerah dalam arti bahwa Allah tidak diharuskan menetapkan perjanjian-perjanjian yang ditetapkan-Nya.[40]

(8)          Erasmus (1469-1536). Erasmus adalah figur yang terbesar Renaissans. Erasmus juga banyak mengkritik Gereja dan ia lebih menekankan manusia daripada Tuhan. Erasmus menerima otoritas Gereja yang menekankan pentingnya ‘communis sensus fidelium’ – konsensus dari iman. Erasmus semasa hidupnya sering berpolemik dengan Martin Luther. Semasa hidupnya Erasmus bekerja sebagai seorang pastor. Karyanya yang terpenting antara lain adalah edisi teks Alkitab dalam bahasa Yunani dan bahasa Latin. Karyanya yang lain adalah De libero arbitrio diatribe sive collatio (1524), analisanya mengenai takdir dan kebebasan bertindak. Erasmus adalah orang yang meletakkan dasar Reformasi Protestan. Seperti pepatah mengatakan: “Erasmus menelorkannya dan Luther menetaskannya”.[41]

2.6    CATATAN TEOLOGI KRISTEN TIMUR: ABAD KELIMA BELAS HINGGA ABAD KETUJUH BELAS (Kallistos Ware)[42]

Artikel Ware ini yang sangat singkat ini membicarakan catatan penting tentang teologi Kristen Timur sejak abad kelima belas hingga abad ketujuh belas. Menurut Ware pemikiran keagamaan Yunani selama periode Turkis – di antara kejatuhan Konstantinopel tahun 1453 dan timbulnya Perang Kemerdekaan Yunani tahun 1821 – ditandai dengan dua tendensi yang saling berlawanan yakni: konservatisme dan westernisasi. Hal yang sangat penting lagi bagi teologi Yunani pada masa post-Bizantin selama seratus tahun dari tahun 1573 hingga 1672 adalah Ortodoksi berhadapan dengan kekuatan Reformasi dan Kotra-Reformasi. Konfrontasi ini terjadi dalam tiga tahapan yaitu: (a) Perseteruan Jeremia II dengan orang-orang Lutheran; (b) Perseteruan Cyrillus dengan Calvinis; dan (c) reaksi Latinisasi.

2.7    MARTIN LUTHER (Benjamin Drewery)[43]

Artikel Benjamin Drewery ini hanya membahas dua bagian besar yaitu: pertama, Drewery membicarakan bagaimana proses lahirnya teologi Luther dan pemikiran Luther tentang pembaharuan Gereja. Dan kedua, Drewery membahas perkembangan pemikiran teologi Luther yang sudah semakin matang dan dewasa.

Pada bagian pertama ini, Drewery  menjelaskan tanggal dan tempat kelahiran Luther dan proses pendidikan yang ditempuh Luther serta pengalaman rohani Luther sendiri yang membentuk pemahaman baru dan pemikiran baru tentang teologi yang dipahaminya selama ini.  Lebih dalam lagi Drewery menguraikan bagaimana tahapan yang dijalani Luther dalam rangka menyampaikan pemikirannya kepada Gereja dan Paus ketika itu. Drewery membagi perkembangan teologi Luther ini ke dalam tiga tahapan yaitu:  (1) Usaha Luther untuk menempelkan 95 Dalilnya dan praktik Indulgensia. (2) Reaksi Luther melawan skolastisisme dan Indulgensia. (3) Perkembangan teologi Luther kemudian dilanjutkan dengan ‘teologi Salib’.[44]

Pada bagian kedua, Drewery menguraikan perkembangan pemikiran teologi Luther yang semakin matang dan dewasa. Drewery menguraikan pemikiran Luther yang sangat terkenal yaitu:

(1) SOLA FIDE, SOLA GRATIA, DAN SOLA KRISTUS. Luther dikenal sebagai teolog ‘Pembenaran oleh iman’. Ada dua hal pokok yang dikemukakan oleh Drewery dalam bagian ini yakni: Coram Deo (Di hadapan Allah) dan Pembenaran oleh Iman. Menurut Luther, Allah dalam Alkitab adalah Satu. ‘Satu’ artinya ‘sendiri’(alone) – oleh iman, anugerah, Kitab Suci, dan Kristus sendiri. Dalam suratnya Open Letter on Translating (1530), Luther mengatakan bahwa Katolik Roma membuat kekuatiran yang luar biasa sebab kata ‘hanya’ bukan teks kunci pembenaran dalam surat Paulus (Roma 3:28). Luther mempertahankan pendapatnya dengan membandingkan linguistik – Jerman dan Latin pada teks Roma 4:2: ‘jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah’. Dengan demikian Pembenaran oleh Iman berhubungan dengan penciptaan – tentang creatio ex nihilo.

Apakah ‘pembenaran’ itu? Pembenaran adalah ‘membuat benar’ atau ‘dinyatakan benar’. Pembahasan kata ini secara etimologi akan membawa pada kebingungan. Bagi Luther yang penting adalah bagaimanakah manusia berdosa mampu berdiri di hadapan Allah yang Hidup.  Anfechtung Luther sering dianggap sebagai logika abnormal dari sekian banyak ‘tipe’ pengalaman manusia. Kendati pun demikian, Luther tetap pada pendiriannya bahwa visi Allah adalah Salib Kristus dan seluruh dosa kita disingkapkan. Dalam Alkitab digambarkan manusia sebagai incurvatum in se (spiritual yang bengkok secara batiniah). Dan manusia itu sendiri akan selalu mengganggap dirinya lebih benar. Dengan demikian pembenaran adalah pemulihan kehidupan yang hilang di hadapan Allah.

Dalam karyanya Preface to the Epistle to the Romans (1522) Luther menjelaskan pembenaran melalui iman. Ada tiga isu yang diutarakan Luther dalam karyanya ini yaitu: (1) Iman bukanlah sebuah ‘pendapat atau mimpi’ manusia atau ‘ide’ atau ‘imajinasi’ manusia. Iman adalah pekerjaan ilahi di dalam manusia. Iman adalah sebuah hidup, keyakinan di dalam anugerah Allah. (2) Kebenaran yang memberikan manfaat di hadapan Allah diberikan oleh Allah dan ‘dihitung’ sebagai kebenaran demi Kristus. (3) Bagaimanakah ajaran Luther mempertimbangkan pertumbuhan realitas moral? Apakah hubungan di antara pembenaran dengan pengudusan?

(2) ALLAH: MANUSIA: TAURAT. Dalam uraian Drewery ini kita akan menemukan lima pokok bahasan yang berkaitan dengan Allah, Manusia dan Taurat. Pertama, Allah yang tersembunyi dan menyatakan diri. Karya Luther deus absconditus/revelatus harus dibedakan secara hati-hati dari potentia Dei ordinata/absoluta ahli skolastik. Menurut Luther, penyataan Allah di dalam Kristus adalah penyataan yang dibuka hanya oleh iman. Inkarnasi adalah sebuah ‘lapisan’ dan ‘cermin’; keilahian Kristus ‘disembunyikan’ di dalam kemanusiaan-Nya. Inkarnasi memperlihatkan ketersembunyian Allah. Kedua, pengetahuan Allah dan alasan kemanusiaan. Pengetahuan Allah adalah ganda yakni: ‘umum’ (ditemukan di mana-mana) dan ‘khusus’ (diberikan sendiri melalui Yesus). ‘Pengetahuan umum’ ditengahi melalui penciptaan, pelukan. Ketiga, taurat. Firman Allah dinyatakan kepada manusia dalam dua bentuk yaitu: Taurat dan Injil, dan Taurat itu sendiri dalam dua bentuk atau ‘penggunaan’. Firman adalah satu sebagaimana Allah adalah satu, artinya ada kesatuan ilahi antara Taurat dan Injil. Hanya satu Taurat yang efektif di dalam semua jaman dan dikenal seluruh manusia sebab taurat itu ditulis di dalam setiap hati orang. Ketika Luther menggunakan pertama taurat itu di dalam ‘masyarakat’ atau di dalam ‘politik’, maka harus dibedakan identifikasinya dengan ‘Hukum Alam’ skolastik sebagai kategori metafisika. Pembedaan Luther di antara ketaatan ‘moral’ dan ‘spiritual’ pada Taurat menjadi tajam dan relevan di dalam – in loco justificationis – ketika keselamatan kita dipancangkan. Luther menggunakan ayat dari Yesaya 28:21, “Sebab TUHAN akan bangkit seperti di gunung Perasim, Ia akan mengamuk seperti di lembah dekat Gibeon, untuk melakukan perbuatan-Nya — ganjil perbuatan-Nya itu; dan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya — ajaib pekerjaan-Nya itu!”. Menurut Luther, Taurat itu digunakan dalam dua bagian yaitu: jika digunakan dalam kedagingan, maka ia di bawah Taurat, tetapi jika digunakan sebagai roh, maka ia di bawah Injil. Simul iustus ac peccator. Taurat dan Injil bukan untuk dua kelas manusia, melainkan bagi seluruh orang Kristen di sepanjang masa. Keempat, Kebebasan Kristen. Pada tahun 1520, Luther telah mempublikasikan tiga ringkasan pemikirannya yang disebut dengan ‘manifesto Reformasi Jerman’.  Ringkasan ketiganya tersebut dinamakan Mengenai Kebebasan Kristen. Dalam tulisan ini, Luther menyanjung kebebasan (batin) manusia, yang dibenarkan oleh karena iman dan kesatuan dengan Kristus. Baginya perbuatan-perbuatan yang baik tidak bermanfaat samasekali untuk pembenaran. Manusia tentu saja tetap wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik; akan tetapi hal itu tidak lebih daripada konsekuensi logis dari pembenaran. Dengan kata lain, justru karena manusia dibenarkan karena imannya, maka ia wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan-perbuatan baik. Menurut Luther, kebebasan sejati kebebasan manusia sebelum kejatuhan dalam dosa, keinginan manusia hanya untuk menaati Allah secara voluntary dan spontaneous.[45] Kelima, ‘Dua Kerajaan’[46]. Dua Kerajaan adalah kasus misnomer. Zwei Regimente, sama seperti basileiai pada Injil, lebih merujuk pada ‘pemerintahan raja’ atau ‘pemerintah’ daripada ‘kerajaan’ Allah. Dua ‘pemerintahan’ adalah milik Allah, seluruh ciptaan di dalam larva-Nya. Artinya ‘temporal’ di bawah pemeliharaan Allah yang dikontrol oleh ‘spiritual’. Dalam kemahakuasaan-Nya, Allah memiliki dua model pemerintahan yaitu, pemerintahan ‘rohani’ dan ‘duniawi’. Pemerintahan spiritual terlihat dalam khotbah dan sakramen Gereja yang membawa manusia kepada kebaikan hati dan ‘damai yang kekal’. Pemerintahan temporal terlihat dalam Raja-raja, pegawai- pemerintah, bapa-bapa dalam keluarga.  Beberapa catatan Drewery tentang ajaran Dua Kerajaan Luther yaitu: (1) bahwa ‘Dua Kerajaan’ hanya relevan bagi Kristendom, dan ajaran ini memiliki banyak masalah dalam pengertian modern. (2) Pengertian tentang Superman telah dikritisi berdasarkan alasan hanya dengan meninjau ke belakanglah ia (Luther) dianggap demikian, sebab pada saat itu dia adalah tidak lebih dari pemberontak. (3) Ajaran ini diperdebatkan bahwa analisis Luther tentang individu dalam Christperson dan Weltperson merupakan ketegangan yang tidak mungkin. (4) Luther dituduh menyalahgunakan pengabdian kepada Tuhan dengan otoritas temporal. (5) Kelemahan posisi Luther berada pada kesulitan akhir. Garis demarkasi di antara zwei Regimente semakin tajam.

(3) GEREJA DAN SAKRAMEN.[47] Drewery membahas dua pokok pemikiran Luther ini secara bersamaan. Secara ringkas Drewery memaparkan pemikiran Luther tentang kedua topik ini sebagai berikut: (1) Gereja adalah ‘special community’ (persekutuan yang khusus), pekerjaan Roh Kudus di dunia ini. Gereja adalah persaudaraan yang ilahi, persekutuan sorgawi – sebab di dalam Gereja kita memiliki satu baptisan, satu Kristus, satu sakramen, satu makanan, satu Injil, satu iman, satu Roh, satu orang merupakan bagian dari anggota yang lainnya. (2) Gereja Kristus adalah communio sanctorum (persekutuan yang kudus) secara fundamental. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam Gereja itu harus ada persekutuan dan persaudaraan pribadi dan harus memiliki sharing di dalam ‘hal-hal’ kekudusan. (3) Gereja, Israel Baru adalah hidup setelah daging / hidup setelah roh (Life after flesh / life after the spirit). Pandangan ini dipengaruhi pemikiran Augustinus tentang Gereja yang kelihatan dan tidak kelihatan (visible / invisible church). (4) Jabatan dan Pelayanan. Jabatan adalah esensi realisasi atau aktivasi dari kesatuan kita di dalam Kristus – tanggung jawab kita di hadapan Allah (Coram Deo) bagi orang lain. (5) Sakramen. Di antara ‘tanda-tanda’ Gereja termasuk di dalamnya Baptisan, Perjamuan Kudus dan ‘kunci Kerajaan Sorga’. Dalam manifesto kedua tahun 1520, On the Babylonish Captivity of the Church) Luther menolak ‘sakaramen-sakramen’ tradisional. Baptisan menggambarkan dua hal yaitu: kematian dan kebangkitan. Baptisan memberikan keselamatan – pengampunan dosa, kebebasan dari kematian dan kehidupan yang kekal, baik di dalam tubuh maupun jiwa. Menurut Luther, Perjamuan Kudus adalah ‘kehadiran nyata’ Kristus di dalam Sakramen. Perjamuan Kudus merupakan tanda ilahi di mana tubuh Kristus dan darah Kristus benar-benar hadir. Luther tidak mengakui ‘transubstansiasi’ dalam Perjamuan Kudus. Bagi Luther, Perjamuan Kudus adalah konsubstansiasi. Artinya: kedua unsur perjamuan, yaitu roti dan anggur, mencakup kedua hakikat (substansi) sekaligus: hakikat jasmani, tetap sebagai roti dan anggur, dan hakikat rohani, sebagai tubuh dan darah Kristus yang diterima peserta Perjamuan Kudus secara nyata.[48] Luther menolak ex opere operato (secara harfiah berarti ‘melalui karya yang dikerjakan’).[49]

2.8    ULRICH ZWINGLI (Basil Hall)[50]

Artikel Hall ini menguraikan tokoh Reformator Ulrich Zwingli yang berpengaruh di Strasbourg dan di kota-kota lainnya si sebelah selatan Jerman seperti di Basel dan di Berne dan di Swiss.[51] Reformasi di Strasbourg, Basel dan Zurich ditandai dengan perasaan persaudaraan–persaudaraan orang-orang urban. Yang ditekankan adalah persekutuan dalam pendidikan dan moral sebagai mana yang dipraktikkan dalam praktik kekudusan. Misalnya, Zwingli, sebagai seorang imam memulai pelayanan pastoralnya tentang apa yang baik bagi Konfederasi. Starting pointnya adalah, ‘Bagaimana Kristus yang baik dihormati di antara orang Swiss’. Zwingli berbeda dengan Luther bukan hanya karena Swiss, tetapi juga karena pelatihan alami jabatannya dan perkembangan komitmen humanisnya. Zwingli lebih radikal dari Luther dalam mendobrak pembebasan dari tradisi dan praktik Gereja Katolik Roma (GKR).

Hall juga memaparkan apakah pengajaran Zwingli dipengaruhi oleh Luther atau tidak. Seeberg menuliskan: ‘Tidak dapat diragukan lagi bahwa Zwingli memperoleh ide pembenaran oleh iman dari Luther’. Demikian juga Loofs mengatakan bahwa seluruh dasar ide kegiatan keagamaan Reformasi Zwingli diperolehnya dari Luther.

Ada dua aspek pokok pemikiran Zwingli yakni: kebutuhan untuk memperbaiki penyalahgunaan dalam masyarakat pertama melalui pembaharuan kekudusan batin, dan  kedua melalui perubahan di dalam praktik pemerintahan termasuk dalam tujuan dan metode-metodenya. Hal ini dapat dilihat dalam buku Enchiridion dan Institution of a Christian Prince dari Erasmus. Bagi Zwingli, Indulgensia adalah sesuatu yang mustahil dan tidak relevan.

Ada dua pengaruh lain yang disebutkan sebelum memasuki analisa teologi Zwingli. Pada tahun 1524 Zwingli menerima surat dari Cornelis Hoen (Honius) meminta sebuah penafsiran dari kehadiran Kristus dalam Perjamuan Kudus yang telah ditolak di Wittenberg tetapi diterima oleh Oecolampadius Reformator Basel dan mengirimkannya ke Zurich. Surat ini membuat tekanan yang dalam bagi Zwingli dan surat tersebut diterbitkan di Zurich tahun 1525. Pengaruh yang lain yang bersifat negatif, Zwingli memiliki pengaruh oposisi kuat pada gerakan Reformasi di Zurich dengan Anabaptis.

Menurut Hall sangatlah sulit mendeskripsikan teologi Zwingli tanpa melihat tema-tema penting yang dibahas Zwingli. Misalnya, teologinya yang ditulis bulan Januari 1523 Sixty-seven Theses yang dipersiapkan untuk Perbantahan dengan Katolik di Zurich. Tesis ini akan memimpin pada asumsi bahwa pemikirannya dikontrol dengan Kristossentrisme. Dua tulisan lainnya adalah On True and False Religion (1525), On the Providence of God (1530) Zwingli menggantikan penekanan Kristosentris dengan penekanan Teosentris. Pemikiran lain yang dikemukakan oleh Hall adalah mengenai Kitab Suci. Zwingli menekankan bahwa Kitab Suci adalah pusat pengajaran dan kesaksian Gereja.

Secara umum Hall memamparkan perbedaan Luther dan Zwingli. Bagi Luther, iman adalah pintu masuk dan iman membutuhkan dukungan lainnya untuk bertumbuh, meditasi akan Firman Tuhan dan Sakramen. Tetapi bagi Zwingli, iman hanya membutuhkan sedikit meditasi. Pembenaran bagi Zwingli termasuk proses indikasi regenerasi. Pemikiran lainnya yang dibahas Hall mengenai Zwingli adalah tentang pemeliharaan Allah, pemilihan Allah, Gereja dan Sakramen. Pemeliharaan sangat dekat diasosiasikan dengan pemilihan, sebab Zwingli menekankan kekuatan aktif dalam kekuatan omnipresent Allah. Pemilihan direpresentasikan sebagai kekuatan yang tak dapat ditahan (irresistible). Gereja dilihat dalam dua jalan: pertama sebagai gereja yang invisible dari seluruh yang dipilih di dalam Kristus, dan kedua persekutuan lokal, imam dan kantonal Gereja.

2.9    PHILIP MELANCHTHON DAN MARTIN BUCER (E.Gordon Rupp)[52]

Dalam artikel ini Rupp membahas dua tokoh Reformator yakni:

Pertama, PHILIP MELANCHTHON (1497-1560). Melalui kelahiran dan hubungannya dengan Reuchlin, Melanchthon tidak hanya hidup dalam situasi renaisans di sebelah Utara, tetapi juga dalam situasi humanisme di Jerman Selatan. Melanchthon mengkonsentrasikan seluruh latihannya dalam gerakan klasik dan kemanusiaan. Dia dikenal sebagai ‘Master’ Philip.[53] Bagi Melanchthon, Kitab Suci ditafsirkan menjadi otoritas tertinggi bagi kebenaran Kristen. Melanchthon dikenal sebagai orang yang mengajarkan metode teologi revolusi dengan kembali ke Kitab Suci, menggantikan teologi post-Lombard dengan tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja.

Karya Melanchthon “Loci Communes” (1521) menjadi Buku Pegangan Dogmatika pertama yang dibuat untuk kalangan Gereja Lutheran. Isinya antara lain adalah pembahasan tentang kebenaran Firman Allah yang disusun berdasarkan urutan yang dipakai Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma. Menurut Melanchthon seluruh isi Alkitab dapat dibagi menjadi tiga topik/ bagian besar, yaitu: Dosa, Taurat dan Anugerah.

John Brenz pada tahun 1531 menuliskan sebuah definisi baru tentang pembenaran dalam istilah hukum – ‘gratis justifficentur, propter Christum per fidem, cum se in gratiam recipi, et peccata remitti propter Christum, qui sua morte pro nostris peccatis satisfecit. Hanc fidem imputat Deus pro justicia coram ipso’ – bahwa manusia dibenarkan oleh Kristus sungguh hanya oleh iman, ketika mereka percaya bahwa mereka diterima ke dalam anugerah dan dosa mereka dihapuskan Kristus yang melunasinya melalui kematian-Nya bagi dosa kita. Iman kepada Allah membuat kesalahan menjadi kebaikan dalam terang-Nya. Inilah penekanan objektivitas Melanchthon. Kemudian dalam pengajarannya, Melanchthon lebih menekankan unsur pengetahuan di dalam iman.

Kedua, MARTIN BUCER (1491-1552).[54] Bucer menekankan unsur intelektual dalam iman dan ajarannya tentang predestinasi menjadikan pembenaran oleh iman di tempat lain. Sama seperti Melanchthon, Bucer merupakan seorang yang moralis. Bagi Bucer perlu ditambahkan tiga dimensi bagi gereja – Firman, Sakramen,dan disiplin Kristus. Bucer telah banyak belajar bagaimana cara mencapai pembaharuan melalui proses pembelajaran.

Setelah kematian Francis Lambert dari Avignon, Bucer menjadi pemimpin penasihat teologi dengan Melanchthon. Bucer mulai membaharui liturgi dan pendidikan dalam tulisannya Foundation and Origin (1527). Bucer banyak dipengaruhi John Calvin ketika Bucer berada di Strasbourg sebagai pendeta Jemaat Perancis. Pada tahun 1529 di Marburg, Bucer baru sadar bahwa dia telah salah paham dengan Luther.

2.10 JOHN CALVIN (T.H.L.Parker)[55]

Artikel Parker ini sepenuhnya membahas isi buku karya John Calvin[56] (1509-1564) yang terkenal itu Institutio Christianae Religionis. Edisi pertamanya tahun 1536 dalam bentuk kateketikal berisikan enam pasal yaitu: Taurat, Iman, Doa, Sakramen dan lima upacara yang dinamakan Sakramen, dan kebebasan Kristen. Dan buku ini terus mengalami perubahan dan perkembangan substansi dari tahun 1539, kemudian tahun 1543-1550 hingga 1559. Edisi terakhir ini berisikan empat buku/kitab dan delapan puluh bab. Yang disoroti oleh Parker di sini adalah edisi tahun 1559 dengan ringkasan-ringkasan isi dari Institutio Calvin tersebut.

Metode teologi Calvin dibagi dalam tiga bagian. Pertama, metode umum teologinya berisikan penyusunan dan susunan ajaran Alkitabiah. Aspek kedua, teologi adalah penafsiran hubungan Allah dan manusia. Dan ketiga, perubahan-perubahan isi dari buku Institutio ini akhirnya menetapkan pada edisi terakhir penggunaan Pengakuan Iman Rasuli sebagai kerangkanya.

Karena buku ini sangat tebal maka tidak mungkin dibahas secara mendalam, maka Parker menguraikan isi ringkas dari buku Institutio. Ada pun isi ringkas buku tersebut adalah:[57]

Buku I :  PENGETAHUAN TENTANG PENCIPTAAN ALLAH berisikan lima topik utama: pengetahuan alami, objek pengetahuan langsung tentang Allah, ajaran tentang Allah, pendiptaan dan pemeliharaan Allah.

Buku II :  PENGETAHUAN TENTANG ALLAH PENYELAMAT DI DALAM KRISTUS berisikan empat bab: bab i-v, manusia berdosa, bab vi, Kristus Juruselamat, bab vii-xi, kesaksian PL dan PB tentang Juruselamat, bab xii-xvii, ajaran tentang Kristus.

Buku III :  CARA BAGAIMANA KITA MENERIMA ANUGERAH ALLAH, KEUNTUNGAN APA YANG KITA PEROLEH DARINYA DAN APA HASIL-HASIL YANG DIBAWANYA. Buku ini berisikan hanya empat atau lima subyek: Roh Kudus dan Iman; Kehidupan Kristen; pembenaran dan kebebasan; doa, dan predestinasi.

Buku IV :  BERHUBUNGAN DENGAN HAL-HAL LUAR BAHWA SECARA OBYEKTIF BENAR DI DALAM KRISTUS MENJADI SUBYEKTIF BENAR DI DALAM ORANG PERCAYA. Buku ini berisikan beberapa topik: kesatuan Gereja adalah kesatuan di dalam satu Kristus, pelayan Gereja hubungannya dengan hasil pekerjaan keselamatan Kristus di dalam Gereja, disiplin Gereja, Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus, dan bab terakhir berbicara mengenai pemerintahan sipil. Buku keempat ini sangat banyak menyoroti polemik anti-Romawi sejak Calvin menggantikan Gereja Roma dengan Gereja evangelikal. Bagi Calvin dasar gereja adalah pemilihan individu ke dalam Kristus kemudian kesatuan dalam diri-Nya. Gereja adalah ibu orang-orang percaya.

2.11 KONSILI TRENTE (Benjamin Drewery)[58]

Drewery mencatat beberapa ahli yang sudah mempelajari tentang Konsili Trente ini seperti: Hubert Jedin (Geschichte des Konzils von Trient, Band I – 1949; Band II – 1957; terjemahan bahasa Inggrisnya A History of the Council of Trent oleh Dom Ernest Graf, Vol.I – 1957; Vol.II – 1961). Dalam artikel ini secara ringkas Drewery mencoba memaparkan sejarah dan indikasi isi pengakuan penting dalam Konsili Trente ini.

Konsili ini mengalami tiga kali perpanjangan, tetapi tidak bersambung di antara tahun 1545 dan 1563, melakukan dua puluh lima ‘sesi’. Trente dipilih sebagai tempat Konsili di dalam Kekaisaran tetapi dalam praktiknya di bawah kontrol Italia. Pada akhir periode pertama Konsili dipindahkan ke Bologna.

Drewery secara detail menguraikan kedua puluh lima sesi yang dilakukan lengkap dengan topik-topik yang dibahas dalam sesi-sesi tersebut. Namun secara umum pembahasan ini memberikan tiga tema utama bagi para ahli sejarah doktrin yaitu:

Pertama, Kitab Suci/Tradisi. Topik ini dibahas dalam sesi keempat dengan isi ringkasannya sebagai berikut:

(1)   ‘Sumber dari seluruh keselamatan yang benar dan disiplin moral adalah Injil’;

(2)   Kebenaran dan disiplin ini dikandung di dalam buku-buku tertulis dan di dalam tradisi-tradisi yang tidak tertulis;

(3)   Kanon PL yang didaftarkan mencakup Apokrifa; di dalam PB, Surat Ibrani diberikan sebagai surat Paulus keempat belas;

(4)   Versi yang berwewenang dipakai adalah Vulgata;

(5)   Adalah hak prerogatif ‘gereja induk’ untuk ‘menghakimi ajaran dan penafsiran yang benar dari Kitab Suci.

Kedua, Pembenaran oleh Iman. Bagian ini dibahas dalam dua sesi yaitu: sesi kelima membicarakan tentang Dosa asali dengan isi keputusannya sebagai berikut:

(1)   Dosa Adam menghilangkan ‘kekudusan dan kebenaran yang telah dilakukannya’, maka dia membuat murka Allah, kematian dan kejatuhan ke dalam dosa;

(2)   Hukuman tubuh dan dosa yakni kematian jiwa telah ditransfusikan kepada seluruh manusia melalui Adam (melalui propagasi bukan imitasi);

(3)   Dosa Adam ini dipindahkan melalui rekonsiliasi Yesus Kristus yang dinampakkan melalui baptisan;

(4)   Dengan Kristus seluruh esensi dosa asali dibuang bukan dikurangi;

(5)   Berkat Perawan Maria dibebaskan dari syarat (proviso) ini.

Sesi keenam membahas Pembenaran oleh Iman dengan isi keputusannya sebagai berikut:

(1)   Pembenaran dimulai dengan anugerah Allah melalui Yesus Kristus;

(2)   Persiapan Pra-baptisan berisikan percaya, pertobatan dan memutuskan untuk memulai hidup baru;

(3)   Pembenaran bukan hanya remisi dosa-dosa melainkan penebusan dan pembaharuan di dalam batin manusia melalui menerima secara sukarela anugerah dan pemberian Allah;

(4)   Pembenaran juga diikuti dari isu kepercayaan dan kepastian

(5)   Seluruh pembenaran – melalui penghukuman Allah dan Gereja, iman bekerjasama dengan pekerjaan baik;

(6)   Anggapan bahwa seseorang termasuk di antara mereka yang  dipredestinasikan harus dihindarkan, pembenaran hanya dapat dikenal dengan pewahyuan khusus.

(7)   Kehidupan yang kekal adalah baik anugerah dan penghargaan selama hidup.

Ketiga, Sakramen. Keputusan mengenai sakramen sangat banyak di dalam sejarah doktrin. Melalui sakramen seluruh kebenaran benar kendati pun dimulai atau ditambahkan atau juga dikembalikan. Mereka mengatakan anugerah ex opere operato, bukan oleh iman saja, tiga di antaranya (baptisan, peneguhan sidi, jabatan) mengangkat karakter noda atau stempel dan akhirnya tidak dapat diulangi.

Dalam Konsili Trente ini ada beberapa hal  pemikiran Reformasi yang ditolak seperti: imamat am orang percaya (artinya Konsili ini tetap mempertahankan hierarhy Kepausan), kehidupan selibat, menolak pemahaman bahwa hanya ada dua Sakramen (tetap mempertahankan ketujuh Sakramen), menolak predestinasi, dan mempertahankan Mariologi. Dan bahkan Konsili ini menganggap para Reformator sebagai orang-orang yang terkutuk.

2.12 TEOLOGI ANGLIKAN ABAD KEENAMBELAS (H.F.Woodhouse)[59]

Dalam artikel ini, Woodhouse memaparkan secara ringkas pengajaran Gereja Anglikan. Sebelum tahun 1547, ketika Raja Henry VIII meninggal, kita tidak dapat mengatakan bahwa sudah ada doktrin pembaharuan yang sudah permanen di Inggris. Henry menguasai Gereja tetapi tidak membuat perubahan doktrin. Menurut Woodhouse, ada empat hal yang perlu dibicarakan dalam hal ini yaitu: Katolik (bukan Roma), Calvinis, Lutheran dan Erastian.

Kita menemukan di dalam pemerintahan Henry VIII, sebagian karena alasan politik, bahwa buku yang disebut buku Uskup dan Raja, metunjukkan jejak-jejak pengajaran Luther, dan Thomas Cranmer sendiri tertarik pada aspek-aspek tertentu dari ajaran Luther itu..

Woodhouse membahas teologi Anglikan pada Abad Keenambelas ini dengan menguraikan Pasal-pasal penting saja. Uraian teologi Anglikan ini tidak terlepas dari para penulis teologi Anglikan itu sendiri. Misalnya, Rogers dalam eksposisinya tentang Pasal Enam, mengatakan bahwa GKR menempatkan doktrin, peraturan-peraturan mereka sama dengan firman Allah. Di sisi lain, Anglikan tidak mengasumsikan bahwa setiap apa yang disebutkan dalam Kitab Suci harus diimatasikan sebagaimana yang diajarkan orang-orang Puritan.

Berkaitan dengan jabatan Gereja, Hooker berbicara tentang kebutuhan untuk memberikan tempat dan penghormatan pada alasan yang terkandung pada jaman dulu, otoritas Gereja.

Pengajaran Gereja Anglikan ini terdiri dari 39 pasal. Lima pasal yang pertama membicarakan iman dan Trinitas, Kristus dan Roh Kudus. Baik Anglikan dan Puritan menerima ajaran dosa asali, tetapi mereka sangat berbeda secara serius tentang akibat perasaan sakit hati manusia. Pasal 9 berbicara tentang ‘Dosa asal atau dosa di bawa lahir’. Manusia sangat jauh dari kebenaran asali dan kodratnya tunduk kepada dosa. Melihat doktrin ini, Woodhouse mengatakan bahwa pengajaran Anglikan adalah sebuah modifikasi bentuk Augustinianisme. Dengan kata lain, Allah bertindak dan manusia membutuhkan anugerah, manusia tidak dapat melakukan apa pun terhadap dirinya sendiri, sehingga pembenaran oleh iman sangat dibutuhkan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.

Dalam hal keselamatan, teologi Anglikan menekankan tiga hal penting bagi pembenaran yaitu: Tindakan Allah ‘Anugerah dan kasih-Nya’; Tindakan Yesus yang adil; dan tindakan kita dengan hidup benar dan beriman benar kepada Yesus Kristus. Iman tersebut bukan milik kita sendiri melainkan oleh tindakan Allah di dalam kita dan akhirnya iman itu pemberian Allah. Rogers memberikan tiga komentar atas pembenaran bahwa kita dibenarkan: (1) hanya karena kasih Tuhan kita dan Juruselamat kita Yesus Kristus, (2) hanya karena iman, (3) bukan karena usaha kita.

Mengenai predestinasi dibahas dalam Pasal 17 yang mengatakan bahwa hidup kita memiliki tujuan kekal dari Allah dan bahwa Allah memberikan anugerah dan pemberian untuk memampukan setiap orang sehingga predestinasi hidup di dalam kehidupan orang-orang Kristen. Pasal ini menyimpulkan, kita harus menerima janji Allah di dalam kebijaksanaan. Komentar Rogers tentang Pasal ini adalah:

(1) Ada predestinasi manusia pada kehidupan yang kekal.

(2) Predestinasi telah ada kekal selama-lamanya.

(3) Mereka yang dipredestinasikan untuk keselamatan tidak dapat binasa.

(4)  Bukan hanya manusia, tetapi pasti, seluruhnya dipredestinasikan untuk selamat.

(5) Di dalam Yesus Kristus, beberapa orang akan dipilih dan bukan  yang lain pada keselamatan.

Mengenai penebusan, Hooker menekankan bahwa pekerjaan baik sebagai bukti kehidupan orang yang beriman. Ada dua jenis kebenaran Kristen yaitu: kebenaran tanpa kita yang kelihatan dengan implikasi, dan kebenaran di dalam kita yang kelihatan dalam iman, pengharapan, caritas, dan kebaikan orang-orang Kristen.

Mengenai Gereja tertulis dalam beberapa Pasal yang mengatakan bahwa Gereja adalah gereja yang kelihatan. Gereja yang kelihatan adalah sebuah jemaat yang dipenuhi iman, di dalamnya ada firman Allah yang murni dikhotbahkan dan sakramen dilayankan sesuai dengan ordinansi Kristus. Rogers memberikan komentarnya sebagai berikut:

(1) Ada Gereja Kristus, bukan hanya gereja yang kelihatan (visible), tetapi juga gereja yang tidak kelihatan (invisible).

(2) Gereja hanya satu.

(3) Gereja yang kelihatan adalah Gereja Katolik.

(4)  Tanda-tanda Gereja yang kelihatan adalah melaksanakan firman dan sakramen dengan baik dan benar.

Ridley memberikan tiga pengertian kata Gereja yaitu: pertama, gereja itu adalah semua orang yang mengaku Kristus; kedua, gereja adalah orang-orang Kristen yang benar di dalam hati; ketiga, gereja adalah orang yang bersekutu di dalam keseluruhan.

Gereja adalah Katolik dan Gereja Inggris merupakan bagian dari Gereja Katolik itu sendiri. Secara umum Gereja Allah adalah gereja yang kelihatan dan bisa dilihat; tetapi gereja yang benar yang Allah pilih adalah gereja yang tidak kelihatan dan tidak dapat dilihat oleh manusia, melainkan hanya dikenal oleh Allah sendiri. Di dalam gereja Anglikan masih kuat diajarkan tentang tradisi-tradisi dalam Gereja seperti yang tertulis dalam Pasal 34.

Hooker berbicara mengenai otoritas Gereja untuk mengukuhkan pelayan yang baru. Hooker juga memberikan tiga bab mengenai pelayan: pertama tentang kodratnya; kedua, kekuatan yang diberikan kepada manusia untuk menjalankan tugas gereja; ketiga, pemberian Roh Kudus di dalam penahbisan pelayan. Mengenai jabatan di dalam Gereja Anglikan, Hooker menjelaskan bahwa jabatan Gereja itu terdiri dari: Uskup, Presbiter, dan Diakon. Ada tiga hal penting lain yang dibahas dalam Pasal Anglikan tersebut yakni: pertama, berkenaan dengan penahbisan (Pasal 36). Yang kedua mengenai masalah hubungan dengan gereja-gereja non-episkopal. Dan ketiga mengenai suksesi kepemimpinan Gereja.

Bahasan terakhir dalam tulisan Woodhouse ini adalah mengenai Sakramen dan pemerintahan sipil. Untuk membahas teologi Anglikan mengenai Sakramen tidak bisa terlepas dari dua teolog Anglikan yakni: pertama Cranmer dan kedua, Hooker. Dari beberapa Pasal Anglikan tersebut, paling sedikit ada tiga yang membicarakan tentang sakramen. Pertama, Gereja Anglikan mengajarkan bahwa hanya ada dua sakramen yaitu: Baptisan dan Perjamuan Kudus. Kedua, sakramen sangat dibutuhkan baik untuk ‘kekuatan maupun untuk kebaikan generatif. Sakramen merupakan ‘tanda-tanda yang kelihatan dari berkat yang tidak kelihatan’ dan kekuatan instrumen Allah tentang kehidupan yang kekal. Ketiga, bahwa anak-anak bayi dan anak-anak remaja dibaptiskan (Pasal 27).

Pembahasan mengenai gereja dan warga negara, politik, dan disiplin dibahas dalam Pasal 37. Pemerintah merupakan milik Raja. Batasan Gereja dan pemerintah sangat tipis sekali. Satu Allah, satu raja, satu iman, satu profesi merupakan semboyan yang umum. Ratu memiliki supermasi di dalam kekuasaan kegerejaan, tetapi bukan untuk menjalankan fungsi kegerejaan untuk berkhotbah, melayankan sakramen atau menjadi uskup.

2.13 SEJARAH DOKTRIN KRISTEN ABAD KETUJUH BELAS (R.Buick Knox)[60]

Sejarah doktrin Kristen abad ketujuh belas ini diuraikan Knox dalam lima bagian besar. Knox mengakui bahwa sebenarnya selama abad ketujuh belas definisi doktrinal baik berupa keputusan Konsili-konsili, Pasal-pasal Kepercayaan dan Pengakuan-pengakuan Iman sudah mulai permanen.

Knox membahas doktrin Kristen Abad Ketujuhbelas ini dalam lima bagian besar yaitu:

Bagian pertama, membahas perkembangan doktrin Gereja Roma. Di Gereja Roma sendiri perubahan doktrin berjalan dengan lambat untuk menyadari keseriusan Reformasi hingga akhirnya diadakan Konsili Trente. Tokoh yang dimunculkan Knox ialah Kardinal Robert Bellarmine (1542-1621) dan Galileo Galilei (1564-1642). Bellarminus menyadari bahwa pengetahuan baru telah mengubah pengetahuan Gereja dengan segera, walaupun isu-isu perubahan tersebut masih dalam perdebatan. Tokoh lainnya adalah Cornelius Jansen (1585-1638). Jansen yang dipengaruhi Augustinus ini adalah seorang warga jemaat yang kuat beriman di dalam Gereja. Karyanya yang dipublikasikan tahun 1640 adalah Augustinus, seu doctrina S.Augustini de humanae naturae aegritudine, sanitate et medicina (Augustinus, atau pengajaran Augustinus tentang penyakit, kesehatan dan perawatan alami manusia). Buku ini melawan tindakan Pelagius tentang Adam dan Kejatuhan ke dalam dosa dan anugerah Kristus sebagai Juruselamat.

Pemikiran Jansen ini diteruskan oleh Antoine Arnaul dari Sorbonne dan Cornet tahun 1649 dengan lima saran yang diperoleh dari Augustinus. Proposisi pertama menyatakan bahwa sejumlah perintah Allah tidak mungkin dipelihara/dilaksanakan. Kedua, manusia tidak mampu menolak anugerah dari dalam yang diberikan Allah. Ketiga, bagi setiap manusia untuk menerima kelebihan atau kekurangan di dalam penglihatan Allah harus bebas dari kendala eksternal tetapi bukan dari tekanan keinginan dari dalam. Keempat, Semi-Pelagianisme harus ditolak. Kelima, sebagai kelanjutan penolakan terhadap pengajaran Semi-Pelagianisme yang salah, Kristus menumpahkan darah-Nya bagi seluruh manusia. Komisi kepausan mempelajari usulan ini lebih dari dua tahun dan tahun 1653 paus Innocent X mengutukinya dengan surat Bulla Cum occasione.

Kendati demikian pengikut Jansenisme masih banyak yang meneruskan pemikiran Jansen ini, seperti Blaise Pascal (1623-1662) yang dalam tulisannya Lettres Provinciales (Surat kepada propinsial) membela usulan-usulan Antoine dan Cornet sebagai sebuah pemahaman iman tentang pengajaran Agustinus dan Jansen. Knox juga membahas tokoh lainnya seperti: Luis de Molina (1535-1600), Miguel Molinos (1640-697), Madame Guyon (1648-1717) dan Bossuet (1627-1704).

Bagian kedua, membahas doktrin standar umum pada akhir abad keenambelas dari Gereja-gereja Luhteran yakni Formula Konkord yang disusun tahun 1577 dan tahun 1580 diterima sebagian besar negara-negara Jerman. Teolog yang perlu dicatat dalam masa ini adalah: (1) Abraham Calovius (1612-1686), seorang guru besar teologi di Wittenberg. Abraham menulis dua belas volume Tema-tema Teologi Sistematik (Systema Locorum Theologicorum). (2) Johann Gerhard (1582-1637), seorang guru besar teologi di Jena dan salah seorang penulis penjelasan teologi Luther kontemporer. Tulisannya Loci communes theologici (Masalah-masalah Teologi Umum) pada tahun 1610 hingga 1622 menjadi buku pegangan dan pada tahun 1606 menerbitkan buku Meditaiones Sacrae ad veram pietatem exitandam. (3) Johann Arndt (1555-1621), seorang pendeta Lutheran yang lebih menaruh perhatian pada kekuatan sistem teologi tentang pekerjaan Kristus di dalam hati manusia. Bukunya True Christianity (Kristen yang Benar) menjadi sumber spiritualitas dan perhatian sosial. (4) George Calixtus (1586-1656), seorang guru besar teologi di Helmstadt tahun 1614. (5) Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), seorang filsuf agama yang menulis Systema Theologicum (1686). (6) Paul Gerhardt (1607-1876) dan Jakob Boehme (1575-1624). (7) Philip Spnener (1635-1705) yang paling tekenal dari semua tokoh pada masa ini. Ia adalah seorang yang memiliki wawasan pendidikan yang sangat luas dan menjadi pendeta Lutheran tahun 1666 di Frankfurt di Main di mana dia memulai pendalaman Alkitab. Tulisannya yang sangat terkenal adalah Pia Desideria (1675). (8) August Hermann Francke (1663-1727), seorang guru besar Yunani yang banyak menjadikan orang menjadi pendeta Lutheran dan juga dia menulis banyak buku untuk menstimulasi gerakan Pietis dan memberikan kerangka teologis Pietis. (9) Johann Valentine Andreae (1586-1654) dan terakhir (10) Johannes Albercht Bengel (1687-1752) yang menulis Gnomon (1742) yang berisikan penafsiran Perjanjian Baru.

Bagian ketiga, membahas pemikiran Jakobus Arminius (1560-1609), seorang pengkhotbah di Amsterdam dan menjadi guru besar di Leyden tahun 1603. Arminius menghadapi perdebatan di universitas Leyden mengenai ajaran tentang kesetiaan politik dengan dosen-dosen teologi misalnya dengan Gomarus. Gomarus mendukung pemerintahan monarkial Pangeran Maurice dari Orange, tetapi Arminius mendukung partai republik yang dipimpin oleh Oldenbarnevelt. Arminius menginginkan sebuah sinode nasional untuk menuntut posisi hubungan Gereja dengan pengajaran Calvinis yang telah diputuskan di dalam Konfesi Belgia dan Katekismus Heidelberg. Arminius meninggal tahun 1609, namun pada tahun1610, empat puluh enam pelayan yang dipimpin Uytebogaert berkumpul di Gouda dan membuat keempat pengajaran Arminius di dalam lima penegasan. Pertama, Allah melalui tujuan kekal di dalam Yesus Kristus anak-Nya menjadi dasar bagi orang yang jatuh ke dalam dosa untuk diselamatkan di dalam Kristus demi Kristus dan melalaui Kristus. Kedua, ketika Yesus mati, Dia mati bagi seluruh manusia dan setiap orang. Ketiga, tidak ada seorang pun mampu memilih untuk percaya. Keempat, dorongan prevenien dan anugerah Allah membuat manusia tetap memiliki kekuatan untuk melawan dorongan Roh Kudus. Kelima, dengan dorongan anugerah Roh Kudus setiap orang yang bekerjasama dengan Kristus melalui iman yang benar memiliki sumber-sumber kekuatan untuk melawan Setan, dosa, keinginan dunia dan daging. Intinya adalah Arminino menolak doktrin predestinasi dan menganut/mengajarkan doktrin tentang kebebasan manusia untuk memilih.

Tokoh lain yang dibahas Knox adalah Moses Amyraut (Amyraldus). Amyraut adalah seorang pelayan di Saumur yang menerbitkan tulisannya Brief Traite de la Predestination. Amyraut yakin pengajarannya berdasarkan Kitab Suci dan Calvinis dan dia dikenal sebagai seorang penulis Calvinis. Amyraut percaya bahwa Allah telah menyatakan tujuan umum-Nya di dalam Taurat Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia melalui penebusan Kristus. Pengajarannya ini kemudian diikuti oleh Peter du Moulin dan Frederich Spanheim. Amyraut juga menerbitkan tulisannya Defensio doctrinae J.Calvini de absoluto reprobationis decreto (Pembelaan pengajaran John Calvin mengenai pencelaan yang absolut) tahun 1644. Pengajaran Calvin ini dibahas dalam sinode Charenton tahun 1644 dengan mengambil dua keputusan yaitu: pertama, pemilihan Allah dan pemanggilan yang efektif dibatasi hanya pada yang dipilih saja; kedua, dosa asali Adam bukan hanya sebuah kesalahan transmisi turun-temurun.

Perdebatan lain yang dilaporkan Knox adalah di Perancis yang dimulai oleh Claude Pajon (1626-1685). Di Geneva pengajaran Amyraut diadposi oleh Alexandar Morus, namun tahun 1675, pengajaran Amyraut dikutuk di Switzerland dengan Formula Consensus oleh Heidegger di Zurich. Klimaks pengajaran motif Perjanjian (Covenant) ini di bawa oleh Johannes Cocceius (Koch) (1603-1669).

Knox juga menguraikan seorang tokoh Gereja-gereja Reformed yang masih menerima ortodoksi yaitu Francis Turretin (1623-1687) dalam sebuah tulisannya Institutio Theologiae Elencticae (Sistem Teologi Elenktik). Turretin mengatakan bahwa pemilihan Allah sungguh anugerah dan bagian dari seluruh pengetahuan. Dengan kata lain, Allah yang telah menulis nama-nama yang dipilih di dalam buku kehidupan.

Bagian keempat, membahas Gereja Inggris. Bahasan ini sebenarnya sudah dibahas oleh H.F.Woodhouse, namun Knox mau menyoroti secara khusus pengaruh Gereja-gereja Reformed yang terlihat dalam Pasal-pasal Lambeth yang dipersiapkan oleh Usukup Whitgift tahun 1585. Gereja Inggris pada waktu itu mendirikan Gereja Irlandia yang berjuang di tengah-tengah orang yang sangat loyal kepada Gereja di Roma. Posisi Gereja Irlandia ini diperjelas oleh James Ussher dengan menggunakan Pasal-pasal Lambeth. Dalam penjelasannya, James mengatakan bahwa Gereja Inggris adalah Gereja Nasional. Keputusan ini dikenal dengan ‘Caroline divines’ yang diprakarsai oleh Lancelot Andrewes, James Ussher, Joseph Hall, John Bramhall, John Prideaux, John Cosin, Robert Sanderson dan Jeremy Taylor.

Bagian kelima, membahas masukan-masukan pada pembentukan atau definisi doktrin. Pertumbuhan kesadaran banyak agama-agama dunia dengan tradisi-tradisi dan pembangian yang banyak di dalam Kekristenan menimbulkan permasalahan mengenai penilaian kebenaran setiap doktrin sebagai dasar pewahyuan ilahi.

Lord Herbert dari Cherbury (1583-1648) dalam De Veritate (Mengenai Kebenaran) (1624) memberikan motivasi lahirnya Deisme. Herbert menemukan dugaan standar dalam ‘pengertian umum’ yang ditanamkan di dalam pikiran manusia dan hanya ada ‘Gereja Katolik’ yang benar. Pengertian umum ini termasuk percaya kepada Allah yang Mahakuasa yang bekerja melalui pemeliharaan umum dan khusus dalam tujuan akhir-Nya.

Yang paling berpengaruh adalah William Chillingworth (1602-1644) dengan karyanya The Religion of Protestants (1638). Chillingworth mengekspresikan wewenang dari Firman Allah sebagai kriteria doktrin dan dia lebih menitik beratkan pada ‘tradisi umum’ pada penafsiran Kitab Suci.

Rene Descrates (1596-1650) dalam karyanya Discours de la Methode (Percakapan Metode) (1637) menjelaskan dasar pengetahuan. Semboyan Descrates yang terkenal adalah: ‘Cogito ergo sum’ (Aku berpikir, karena itu aku ada).

Tokoh lain yang dibahas Knox adalah Thomas Hobbes (1588-1679) dengan karyanya Leviathan (1651) yang mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia dan merencanakan keselamatan bagi manusia, tetapi manusia tidak dapat diselamatkan dari ambisi mereka. Pengikut pemikiran Descrates dan Hobbes ini adalah Benjamin Whichcote (1609-1683), Ralph Cudworth (1617-1688) dan Henry More (1614-1687).

2.14 CATATAN TEOLOGI KRISTEN TIMUR: ABAD KEDELAPANBELAS HINGGA ABAD KEDUAPULUH (Kallistos Ware)[61]

Ware memberi catatan atas teologi Kristen Timur dari Abad kedelapanbelas hingga abad keduapuluh dengan menampilkan dua contoh besar tentang perkembangan sejarah doktrin Timur antara tahun 1700 dan 1900 yaitu: Hesychast Renaissans di Yunani-Romawi selama pertengahan kedua abad kedelapanbelas; dan kebangkitan teologi Rusia pada pertengahan abad kesembilanbelas.

(1)   Hesychast Renaissans di Yunani-Romawi. Pada dekade terakhir abad kedelapanbelas, sudah ada ketertarikan terhadap pembaharuan di dalam teologi mistik. Ada dua tokoh kunci pada masa ini yaitu: St.Macarius Notaras (1731-1805) dan St.Nikodemus (1748-1809). Karya utama mereka adalah Philokalia yang diterbitkan pada tahun 1782. Hesychast Renaissans lebih menekankan gerakan spiritual daripada gerakan doktrinal khusus. Anggota-anggotanya lebih tertarik pada hal-hal praktis dari Doa Yesus atau frekuensi persekutuan daripada pembedaan di antara esensi dan energi Allah.

(2)   Kebangkitan teologi Rusia. Sekitar tahun 1850 Gereja Ortodoks Rusia pertama kali mulai menghasilkan teolog-teolog yang terkenal seperti St.Nilus dari Sora (kira-kira 1433-1508). Nilus lebih dikenal sebagai murid yang setia daripada seorang pemikir yang handal dan perhatiannya lebih dititik beratkan pada pengajaran praktis Hesychast daripada dasar-dasar doktrinal mereka. Tokoh lain yang muncul pada periode 1850-1900 adalah: Alexis Khomiakov (1804-1860) dan Philaret Drozdov (1782-1867). Pandangan Khomiakov, seluruh Kristen Barat, apakah Gereja Roma atau Reformed, memiliki dasar yang sama, di mana Ortodoks termasuk di dalamnya. Ortodoks akhirnya berhenti menggunakan argumen-argumen Protestan melawan Roma dan Roma berargumen-argumen melawan Protestan. Khomiakov meluangkan perhatian khusus pada doktrin tentang Gereja. Gereja adalah kesatuan dan otoritas. Gereja sebagai kombinasi unik dari kebebasan dan kebulatan suara, beraneka ragam namun satu. Philaret menghidupkan semangat Patristik di dalam sekolah-sekolah teologi Rusia. Dalam banyak khotbahnya, Philaret membuat ciri liturgi Ortodoks untuk menjangkau iman.

Revolusi Rusia tahun 1917 merupakan pukulan keras dalam perkembangan pemikiran keagamaan di dalam Rusia sendiri, tetapi tradisi-tradisi teologi Rusia telah dikombinasikan oleh penulis-penulis terkenal seperti: Fr.Sergius Bulgakov (1871-1944), seorang rektor Institut Teologi Rusia yang menuliskan karyanya Sophia atau Kebijaksanaan Ilahi. Pemikiran Bulgakov ini ditentang keras oleh Vladimir Lossky (1903-1958) dan Fr.George Florovsky (lahir 1893). Lossky dan Florovsky bersikeras pada ciri esensi Patristik bagi seluruh teologi orang Kristen, tetapi juga bersikeras memperlakukan Bapa sebagai kesaksian hidup bukan sebagai teks yang mati.

Untunglah generasi teolog muda Rusia kemudian memperbaharui teologi Rusia seperti: Fr.Alexander Schmemann (lahir 1921) yang menuliskan teologi liturgi dan Fr.John Meyendorff (lahir 1926) yang menuliskan buku pegangan dari karya St.Gregorius Palamas dengan judul Byzantine Theology: Historical Trends and Doctrinal Themes (London, 1975).

2.15 TEOLOGI KRISTEN ABAD KESEMBILAN BELAS HINGGA ABAD KEDUA PULUH (John H.S.Kent)[62]

Artikel Kent ini adalah artikel kedua terpanjang dalam buku ini (130 halaman). Kent membahas lima pokok bahasan dalam paparannya ini yaitu: Abad kedelapanbelas, Abad kesembilan belas, Doktrin Gereja di seluruh periode, Teologi sosial di seluruh periode, dan Abad keduapuluh.

Pertama, Abad kedelapanbelas. Pada masa ini sejarah teologi disebut dengan masa teologi klasik Katolikisme dan Protestanisme. Masa ini juga ditandai dengan perubahan sosial dan politik. Dengan demikian teologi Kristen juga dipengaruhi perubahan sosial, perkembangan teknologi dan akibat perpindahan penduduk. Kombinasi perubahan sosial dan intelektual memasuki Kekristenan mulai dari  masyarakat yang marjinal hingga ke mazhab teologi Kristen modern. Perubahan lainnya, banyak kritik teolog-teolog menjadi diyakini bahwa perubahan intelektual dan sosial mampu menjangkau transformasi Kristen. Hal ini yang menandakan mulai munculnya post-masyarakat Kristen. Kent menjelaskan perkembangan teologi Kristen abad kedelapanbelas ini mulai dari pemikiran Johannes Wollebius (1586-1629) dalam karyanya Compendium of Christian Theology (1626) yang memaparkan pengetahuan tentang Allah dan manusia. Di Jerman, lembaga agama Protestan menikmati budaya yang baik dan juga mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan ancien regime. Ernst Troeltsch mengatakan bahwa Reformasi Protestan bukan sebuah ekspresi ‘roh modern’ sebagai sebuah gerakan keras di dalam batasan intelektual dalam pembaharuan budaya. Kent berpendapat, fungsi teologi sosial abad kedelapanbelas mengalami erosi disebabkan masyarakat itu sendiri berhenti berpegang pada kesetiaan untuk mampu mempertahankannya. Pada pertengahan abad keduapuluh, ketika situasi menjadi lebih buruk, beberapa teolog Kristen bereaksi dengan sebuah teologi ‘revolusi’ atau sebuah teologi ‘politik’, tetapi teolog-teolog abad kedelapanbelas bertahan pada teologi sosial yang lalu. Hasilnya, mereka tidak mendominasi pemikiran pada periode tersebut. Teolog yang sangat terkenal saat itu adalah uskup Butler dengan karyanya Analogy of Religion (1736).

Menurut Kent, ada beberapa faktor yang mendukung perubahan iklim intelektual dalam pemikiran teologi pada abad ketujuhbelas dan kedelapanbelas yaitu: faktor geografi, historiografi Kristen, dan kebudayaan.

Perubahan demi perubahan teologi pun semakin berkembang. John Locke dalam karyanya Reasonableness of Christianity as delivered in Scriptures (1695) berusaha untuk merekonsiliasi tuntutan Kristen pada wahyu ilahi langsung di dalam Alkitab dengan etika sederhana theisme. Locke berhadapan dengan tradisi Deisme yang salah satu tokohnya adalah John Toland (1670-1722) yang mempublikasikan karyanya Christianity not Mysterious (1696) yang disebarkan ke Eropa pada abad kedelapanbelas.

Locke dan kaum Deist sepakat bahwa pengetahuan keagamaan terdiri dari:  (a) sejumlah soal-soal mengenai Allah, (b) pengalaman moral. Kaum Deist menerima ringkasan ‘agama alami’ bahwa Allah berada dan harus disembah, dan bentuk tingkah laku ibadah adalah perbuatan baik. Immanuel Kant mengatakan bahwa manusia seharusnya bertobat dari perbuatan salah mereka sehingga Allah akan memberikan penghargaan dan penghukuman pada manusia di dalam kehidupan masa yang akan datang. Hanya ‘pengalaman’ keagamaan di dalam perasaan mereka yang merupakan pengalaman moral.

Perdebatan mengenai kemungkinan pengalaman keagamaan manusia di dalam iman Kristen menjadi permasalahan yang mendasar bagi Kekristenan kemudian pada periode ini. Schleiermacher, Soren Kierkegaard, J.H.Newman, F.D.Maurice, von Hugel dan bahkan Dietrich Bonhoeffer berpikir untuk menjaga Kekristenan melawan kerusakan pada abad Pencerahan dengan membuat validitas pernyataan John Baillie dalam karyanya Our Knowledge of God tahun 1939 yang berisikan: “… bahwa pengetahuan tentang realitas Allah datang kepada kita”. Pengetahuan ini datang melalui hubungan pribadi langsung dengan-Nya di dalam Pribadi Yesus Kristus anak-Nya Tuhan kita.

Formulasi Locke tentang pernyataan teologi yang sulit menjadi salah satu ciri pendapat pada abad kedelapanbelas. Hal ini ditemukan pada bab sembilanbelas dari buku keempatnya The Essay on the Human Understanding, di mana Locke membedakan di antara iman dan akal budi sebagai dasar persetujuan.

Di sisi lain tentang argumen pada abad kedelapanbelas kita harus kembali pada Uskup Butler (1692-1752), seorang pembela ortodoksi dan penulis The Analogy of Religion, Natural and Revealed, to the Constitution and Course of Nature (1736). Secara umum, Butler melawan Deist dengan menekankan batas akal budi manusia, sehingga manusia tidak dapat mengerti lebih banyak lagi. Butler menolak pandangan Deist bahwa pertobatan manusia dicukupi dengan usahanya sendiri untuk menyelamatkan dirinya dari penghakiman yang akan datang. Kekuatan Butler terletak pada perhatiannya akan kemungkinan untuk membangun kemungkinan bahwa Kristus benar. Kelemahannya adalah bahwa Butler masih mempercayai ada kemampuan untuk menyakinkan pembacanya bahwa masih ada setidaknya kemungkinan logika bahwa suara kenabian Perjanjian Lama dipenuhi Kristus.

Tokoh lain yang dibahas Kent dalam perkembangan teologi abad kedelapanbelas ini adalah John Wesley yang menekankan pengajarannya pada Kesempurnaan Kristen atau Kesucian Kristen. Wesley berusaha memikirkan sebuah model kehidupan budaya Kekristenan pada abad kedelapanbelas dengan model kesempurnaan manusia. Doktrin Wesley ini dipelajari dalam dua dokumen yakni: sebuah sermon yang disebut ‘Kesempurnaan Kristen’ yang diterbitkan tahun 1741 dan sebuah karangan singkat yang disebut dengan ‘Pemikiran-pemikiran tentang Kesempurnaan Kristen’ yang dikeluarkan tahun 1760. Kedua dokumen ini ditemukan dalam John Wesley sebuah antologi (bunga rampai) yang diedit oleh A.C.Outler (1964).

Menurut Kent, ajaran Wesley ini ada yang membingungkan di dalam pembedaannya atas dosa yang sengaja dan yang tidak sengaja. Kelemahan Wesley adalah keinginan Wesley untuk menggambarkan bukan hanya kesempurnaan itu yang menjadi tujuan tetapi bagaimana caranya agar kesempurnaan itu dapat dicapai. Wesley menggambarkan ‘kesempurnaan’ sebagai sebuah ‘pengetahuan’ pribadi bahwa seseorang telah dibebaskan dari semua dosa dengan tindakan langsung Allah.

Kent juga membahas masalah rekonsiliasi model tradisi Kristen mengenai kesempurnaan hidup dengan pertumbuhan semangat borjuis yang dihadapi Katolik pada abad kedelapanbelas. Misalnya Daniel Concina (1687-1756) dalam karyanya Theologia Christina Dogmatico-Moralis (1749) menegaskan ada kekuatan yang bergerak untuk mengakurkan kehidupan Kristen dengan kesenangan dunia ini.

Kent mengakhiri bagian pertama ini dengan pembahasan pemikiran dua orang teolog Barat yang mencoba memenuhi harapan yang belum tercapai dalam Revolusi Perancis yakni: Immanuel Kant (1724-1804) dan J.A.Semler (1725-1791). Kant meringkaskan ajarannya dalam Religion within the Limits of Reason Alone (1793) sebuah bentuk Kekristenan yang mungkin bertahan mengkritik rasionalisme kontemporer. Semler ingin membaharui Kekristenan saat itu dari dalam persekutuan Kristen. Kant memulai dari anggapan bahwa Allah berada sebagai pemerintah moral secara umum. Bagi Semler, teologi menjadi pelajaran pengetahuan dokumen agama.

Kedua, Abad kesembilan belas. Aspek sejarah yang paling penting pada teologi abad kesembilanbelas adalah perjuangan atas dominasi di antara dua sistem teologi yaitu: ortodoksi dan liberalisme. Bagi Protestan, liberal dilihat untuk memperoleh metode kritik sejarah dalam menganalisa Alkitab pada abad kedelapanbelas. Protestanisme mencoba mengurangi ketegangan imam-imam dan kaum awam mengenai sejarah pengakuan, dominasi pengakuan dan pernyataan doktrin lainnya seperti Tiga puluh sembilan Pasal Kepercayaan Anglikan. Banyak liberalis mengkiritik kalangan ortodoks khususnya bentuk-bentuk tradisional seperti doktrin Trinitas, Pribadi Kristus, dan ajaran Pertobatan. Liberalis mempromosikan ajaran non-dogmatik dan kadang-kadang  bahkan anti-dogmatik bagi orang-orang percaya.

Liberalis tidak menerima sistem ide doktrin Kristen sebagai sebuah revelatio revelata, sebuah pesan pasti dari Allah untuk manusia. Schleiermacher, tidak membantah menggunakan kata ‘wahyu’ untuk melambangakan kegiatan ilahi tetapi dia tidak berpikir bahwa wahyu berfungsi pada manusia sebagai sebuah keberadaan kognitif.

Abad kesembilanbelas ini juga ditandai dengan berbagai revolusi baik di Amerika, Perancis. Di Amerika revolusi diikuti oleh kebangunan Protestan Injili di mana tradisi-tradisi tidak relevan lagi di Amerika. Di Perancis juga dapat dikatakan bahwa perubahan politik dan sosial secara umum telah mengarah pada sekularisme. Secara umum, baik di Amerika dan Perancis, juga revolusi Marxist selalu didasarkan pada pemikiran Kristen, dari politik dan budaya Kekristenan Barat seperti: Joseph de Maistre (1753-1821), Lamennais muda (1782-1854), S.T.Coleridge (1772-1834) dan F.D.Maurice (1805-1872).

Abad kesembilanbelas ini juga ditandai dengan perkembangan teologi liberal yang disebut dengan ‘quest for the historical Jesus’ (permasalahan mengenai Yesus Sejarah) yang membahas tentang ‘kehidupan Yesus’ seperti yang dilakukan oleh: D.F.Strauss (1808-1874), M.Arnold (1822-1888), J.E.Renan (1823-1892), F.Nietzsche (1844-1900), Johannes Weiss (1863-1914) dan A.Schweitzer (1875-1965). Kent secara mendetail memaparkan pendapat mereka dalam bagian ini.

Tokoh lainnya adalah Soren Kierkegaard, seorang penulis dan teolog terkenal dari Denmark yang memerangi semangat duniawi yang telah merajalela dalam agama Kristen, sehingga orang Kristen pada zaman itu kurang mengerti lagi “perbedaan yang mutlak antara Allah dengan manusia”.

Ketiga, Doktrin Gereja di seluruh periode. Secara umum Kent menguraikan doktrin Gereja pada seluruh periode hanya bertitik pusat pada dua topik di dalam disukusi modern teologi yaitu: doktrin mengenai Gereja dan teologi sosial Gereja. Kent juga memaparkan analisa hubungan di antara Gereja dan Masyarakat pada periode ini. Diskusi mengenai Gereja pada abad kesembilanbelas terlihat dalam berbagai macam ide yang mengejutkan, mulai dari pandangan supremasi Kepausan pada kesimpulan bahwa seseorang boleh memberikan dispensasi dengan Gereja secara bersama. Teologi sosial pada abad kesembilanbelas disaksikan secara perlahan-lahan tetapi juga revolusi yang drastis di dalam pemikiran teologi. Uraian tentang kedua topik ini dibahas secara mendalam oleh Kent dalam bagian ini.

Keempat, Teologi sosial di seluruh periode. Dalam bagian ini, Kent lebih memfokuskan pembahasan mengenai teologi sosial. Teologi sosial sendiri mulai berubah secara jelas pada abad kesembilanbelas. Hal ini disebabkan perkembangan revolusi industri dan revolusi sosial.

Kelima, Abad keduapuluh.[63] Pada permulaan abad keduapuluh doktrin tradisional nampaknya sering menjadi permasalahan, namum masih ada juga para teolog yang membela kedudukan pemikiran ortodoks. Di Inggris, Darwell Stone (1859-1941) memberikan pemikiran bagi teologi Anglikan melalui tulisannya Outlines of Christian Dogma (1900), sementara itu, P.T.Forsyth (1848-1921) membuat penegasan ulang kedudukan Gereja Reform di dalam sebuah buku The Person and Place of Jesus Christ (1909).

Hal yang sangat positif pada abad keduapuluh ini adalah adanya kombinasi ilmu biologi dengan tradisi Kristen yang dituliskan oleh F.R.Tennant (1866-1957) dalam tulisannya The Origin and Propagation of Sin. Tennant menolak tradisi pesimisme Kristen mengenai manusia yang diperoleh dari Alkitab khususnya dari gabungan Kejadian dengan surat-surat Paulus. Bagi Tennant, cerita tentang Adam dan Hawa merupakan sebuah teologi yang tidak relevan lagi. Tennant lebih menekankan perasaan moral dengan perbuatan yang langsung kepada Allah.

Sisi lain yang menandai teologi abad keduapuluh ini adalah kebangunan teologi mistik misalnya Paul Tillich (1886-1974) dalam karyanya Systematic Theology (1951-1957, Volume 2) yang menegaskan ulang Lutheranisme. Dalam bagian ini juga Kent menguraikan pemikiran teolog-teolog abad keduapuluh lainnya seperti: H.Kraemer, Karl Barth (1886-1968) yang menuliskan pemikirannya dalam karya-karyanya (Protestant Thought in the Nineteenth Century, Fides Quaerens Intellectum dan Church Dogmatics) dan Rudolf Bultmann.

3.      TANGGAPAN HISTORIS

A.     ISI BUKU

Buku Hubert Cunliffe-Jones ini secara umum membahas Sejarah Doktrin Kristen mulai dari Bapa-bapa Gereja hingga Abad Keduapuluh. Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan para ahli Sejarah Gereja yang diedit oleh Hubert. Karena merupakan kumpulan tulisan-tulisan lepas dari para penulis maka ketika kita membaca isi buku ini tidak jarang kita akan menemui dan menjumpai bahasan yang diulas kembali oleh penulis lainnya. Walaupun kita menemukan bahasan yang sama tetapi kita juga menemukan pemikiran dari sisi lain dari penulis tersebut terhadap topik yang dibahas bersama itu.

Tulisan-tulisan dalam buku ini ada yang sangat tebal dan ada juga yang sangat tipis dan sederhana. Buku ini sangat cocok dibaca dalam rangka membuka kasanah berpikir untuk mengetahui secara mendalam apa dan bagaimana sebenarnya persoalan doktrin yang terjadi sejak abad kedua hingga abad keduapuluh. Melalui pemikiran para teolog yang ditulis oleh para penulis dalam buku ini, kita diperkaya dengan berbagai pengajaran Kristen yang terus diperdebatkan, bukan hanya pada masa lalu namun juga masih ada yang terus diperdebatkan dan digumuli hingga saat ini.

Dengan membaca isi buku ini, maka kita akan dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa ternyata sangatlah rumit untuk memahami ajaran-ajaran Gereja dari masa ke masa. Tetapi harus disadari juga bahwa Gereja harus mempunyai ajaran baik dalam bentuk Katekismus, Konfesi, Pokok-Pokok Iman, Pokok-Pokok Ajaran dan lain sebagainya. Memang banyak konsekuensi yang dihadapi dalam menyusun ajaran sebuah Gereja itu. Sebab ajaran Gereja itu tidak hanya mengikuti apa yang sudah dirumuskan oleh Bapa-bapa Gereja maupun para Rasuli jaman dulu, sehingga Gereja tidak mempunyai jati diri yang cukup jelas. Dengan demikian kita (Gereja) terangsang untuk berpikir merumuskan dan menggali ulang warisan masa lalu yang relevan bagi Gereja saat ini.

B.     AJARAN GEREJA

Buku ini memang secara tersirat menguraikan perbedaan Gereja Timur dan Barat. Secara umum perbedaan Gereja ini bertitik-tolak dari ajaran yang dianutnya. Gereja Barat mengajarkan: “Apa yang harus kuperbuat agar aku selamat?”. Ajaran ini menekankan aktivitas manusia untuk berbuat baik. Untuk menjawab pertanyaan tadi maka isu-isu tentang dosa, pembenaran, penebusan menjadi hal-hal pokok dalam ajaran Gereja Barat ini. Gereja di Timur mengajarkan: “Apa yang harus kuketahui supaya aku memperoleh hidup yang kekal?”. Ajaran ini mengajarkan hal-hal yang ilahi demi memperoleh hidup yang kekal ini. Gereja di Timur ini juga memakai ikon-ikon dalam rangka mengetahui dan memuji Tuhan. Artinya ikon-ikon tersebut menjadi sarana untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dalam rangka menjawab pertanyaan apa yang harus kuketahui supaya aku memperoleh hidup yang kekal ini, maka Gereja Timur sangat rajin menyusun doktrin-doktrin mereka. Demikian juga halnya dengan Gereja Barat sangat rajin menyusun doktrin-doktrin mereka untuk mencapai dan menjawab pokok ajaran mereka.

Suatu kelebihan Gereja Barat jika dibandingkan dengan Gereja Ortodoks Timur, salah satunya adalah sikap militan yang dipadu dengan keterpanggilannya untuk menyebarkan Injil kepada suku-suku atau wilayah yang dianggapnya masih menyembah berhala (kafir). Sikap inilah yang memungkinkan Kekristenan di Barat hidup secara dinamis dan cepat tanggap dengan segala hal yang mengganggu (dianggap membahayakan) Gereja. Sekalipun sikap yang demikian tidak selalu benar dan Gereja bisa terjebak pada otoriterianisme. Dan inilah yang terjadi pada Gereja Barat Abad Pertengahan.[64]

Harus kita sadari bahwa pasti ada hal-hal yang positif dan relevan dari perumusan ajaran Gereja sejak abad kedua hingga abad keduapuluh ini bagi perkembangan Kekristenan dewasa ini misalnya:

(1)   Ajaran Gereja terus-menerus dirumuskan untuk menjawab tantangan dan permasalah teologi yang sedang dihadapinya. Ajaran Gereja ini merupakan pilar Gereja untuk perkembangannya selanjutnya.

(2)   Gereja terus belajar untuk merumuskan ajaran Gereja. Harus disadari bahwa merumuskan sebuah ajaran Gereja bukanlah sebuah perkara yang mudah, namun pekerjaan ini adalah perkara yang perlu digali secara komprehensif dan matang serta diterima secara mendalam.

(3)   Gereja dari waktu ke waktu ditantang untuk terus-menerus merumuskan ajarannya baik dengan cara menggali warisan-warisan masa lalu maupun merumuskan ajaran dalam menghadapin dan menjawab realitas masa kini.

Hal-hal positif lainnya yang perlu ditiru dari Gereja jaman dulu adalah mengenai pemimpin agama dan keteladanannya. Sebutan seorang tokoh yang sanggup memimpin dan berkarya demi kesaksian pada zamannya yang tidak mendukung apa yang diimaninya, hanya ada satu alasan yang memungkinkan itu bisa dilakukan, yaitu memahami betul apa itu artinya menjadi pengikut Kristus. Sudah pasti kerelaannya untuk ‘menderita’ dan kebenaran iman Kristen itu sendiri yang sanggup menjawab tantangan jamannya. Dalam hal inilah gereja memberi pengaruh di tengah jamannya. Di situ keteladanan para pemimpinnya secara signifikan sangat menentukan. Nuansa inilah yang hilang dalam tubuh Gereja sekarang ini.

Keteladanan seorang pemimpin bukan terletak pada kepandaiannya semata, atau kekayaan materinya. Tetapi kerelaannya untuk menderita demi Tuhannya, tingkat moralitasnya dan yang tak kalah penting adalah pemimpin itu dapat menjawab tantangan yang menyangkut tantangan jamannya. Keteladanan moralitas komunitas Kristen (terutama para tokoh-tokoh Gereja) berbeda dengan masyarakat kafir yang menyembah dewa-dewa yang sering kali digambarkan amoral. Keteladanan kepemimpinan inilah yang hilang (kurang disadari) dalam tubuh Gereja (Kekristenan). Sekarang justru banyak pemimpin Gereja yang “pamer” materi atau prestasi duniawi dari pada karakter dan keteladanan sikap.[65]

Selain itu juga harus perlu dicatat bahwa peran lembaga kebiaraan sangat menentukan dalam perkembangan ajaran Gereja pada masa lalu. Peran lembaga kebiaraan ini sudah mulai terasa pengaruhnya sejak masa-masa Augustinus. Dewasa ini kita masih melihat spirit itu ada pada gerakan pada cendekiawan Katolik yang berkumpul dalam wadah Serikat Yesus. Peran mereka sangat besar dan berpengaruh bagi kesaksian saat ini, terutama melalui dunia pendidikan dan literatur. Spirit Kristiani dalam pengembangan literatur inilah yang perlu digalakkan. Dalam hal ini, terutama bidang pendidikan – Gereja-gereja Protestan ketinggalan. Spirit yang melatarbelakangi hidup Kekristenan model kebiaraan ini tetap relevan di segala jaman. Tidak salah bila digalakkan dan disesuaikan dengan semangat jaman yang terus berubah. Kaum Protestan pun tidak harus memandang hidup model kebiaraan sebagai model (milik) Katolik.[66]

Memang harus diakui bahwa gereja sering kali tidak mampu menjawab atau merumuskan ajaran yang solid tentang ajaran yang baru. Misalnya: masalah internet, teknologi informasi, globalisasi, HIV/Aids dan lain-lain sebagainya.

4.      KEPUSTAKAAN

Aritonang, Jan S. Berbagai Aliran Di Dalam dan Sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.

Calvin, Yohanes. Institutio (terj.)  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980.

Cunliffe-Jones, Hubert. A History of Christian Doctrine. Edinburgh: T & T Clark, 1997.

Curtis dkk, A. Kenneth. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Kuiper, A. De. Didache. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1967.

Kristiyanto, Eddy.  Gagasan yang Menjadi Peristiwa: Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Kristiyanto, Eddy. Visi Historis Komprehensif: Sebuah Pengantar.  Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Kristiyanto, Eddy, Reformasi dari Dalam: Sejarah Gereja Zaman Modern, Yogyakarta: Kanisius. 2004.

Lane, Tony. Runtut Pijar. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

McGrath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, (terj.) Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

Naftallino, A.  Teologi Misi: Misi di Abad Postmodernisme. Jakarta: Logos, 2007.

Tanner, Norman P. Konsili-Konsili Gereja: Sebuah Sejarah Singkat. Yogyakarta: Pustaka Teologi // Kanisius, 2003.

Urban, Linwood. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen (terj.) Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.


[1] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian Doctrine, (Edinburgh: T & T Clark, 1997), hlm.v-vi

[2] Ibid., hlm.1-20.

[3] Memang masih ada buku-buku lain yang ditulis oleh ahli-ahli Sejarah Gereja seperti: Adolf von Harnack dan JND.Kelly.

[4] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.21-180.

[5] Ibid., hlm.23-29.

[6] A. de Kuiper, Didache, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1967), hlm.18-19.

[7] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.30-39; A.Kenneth Curtis dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 5-6; bnd. Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm. 7-9.

[8] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.40-50.

[9] Bnd. F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 145-146; bnd. Tony Lane, Runtut Pijar…, hlm, 9-11.

[10] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.51-63; bnd. F.D. Wellem, Riwayat Hidup …, hlm. 232-234; bnd. Tony Lane, Runtut Pijar…, hlm, 11-14 .

[11] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.64-84;  bnd. F.D. Wellem, Riwayat Hidup …, hlm. 80-81, 205-208; bnd. Tony Lane, Runtut Pijar…, hlm, 14-20.

[12] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.85-97;  bnd. F.D. Wellem, Riwayat Hidup …, hlm. 21-25, 104-105; bnd. Tony Lane, Runtut Pijar…, hlm, 22-26.

[13] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.98-120;  bnd. F.D. Wellem, Riwayat Hidup …, hlm. 4-6, 28-29, 30-33; bnd. Tony Lane, Runtut Pijar…, hlm, 26-44.

[14] Pandangan Athanasius tersebut didukung oleh 3 serangkai dari Kapadokia, yaitu Basilius yang Agung Uskup Kaisarea dan Metropolitan Kapadokia, Gregorius dari Nyssa, dan Gregorius dari Nazianzus. Mereka sepikir dan sepakat menyatakan dalam diri Allah terdapat kesatuan ilahi di antara ketiga keilahianNya. Hanya bedanya, jika Athanasius menekankan “konsubstansialitas” antara ketigaNya; maka menurut tiga serangkai dari Kapadokia di antara ketiga keilahian itu tetap memiliki perbedaannya, dan masing-masing memiliki hypostasis. Dari ketiga serangkai dari Kapadokia tersebut memunculkan ide “Trinitas” yaitu: Tiga pribadi dalam satu keallahan. Mereka tetap menekankan keesaan Allah, tetapi juga pada saat yang sama menegaskan bahwa ketiga keilahian Allah tetap memiliki kekhasan.

[15] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.121-148.

[16] Konsili ini menghukum berbagai tulisan dari tiga pendukung Nestorius yakni Theodorus dari Mopsuestia, Theodoret dari Cyrrhus, dan Ibas dari Edessa. Politik sekuler dan gerejawi masuk ke dalam kotroversi ikonoklas hingga mendalam. Ini hendak mengatakan, bahwa keluarga kekaisaran dan istana Bizantium terbagi menjadi kelompok ikonoklas dan ikonofil sepanjang garis politik dan atas dasar keagamaan. Sosok paling penting satu-satunya adalah Irene yang bertindak sebagai wali raja, yang sekali lagi menggambarkan peran wanita-wanita dalam konsili-konsili. (Lih. Norman P.Tanner, Konsili-Konsili Gereja: Sebuah Sejarah Singkat, (Yogyakarta: Pustaka Teologi & Kanisius, 2003), hlm. 48-52.

[17] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.149-169.

[18] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.170-180.

[19] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.180-225.

[20] Ibid., hlm.183-186.

[21] Ibid., hlm.187-190.

[22] Konsili ini mengakhiri monothelitisme sekaligus mendefinisikan dua kodrat dan kehendak dari Kristus (ilahi dan manusiawi) sebagai suatu prinsip yang berbeda dalam operasionalnya. Konsili ini mengutuk (anathematizing) Sergius, Pyrrhus, Paul, Macarius, dan para pengikutnya.

[23] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.191-200.

[24] Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadi Peristiwa: Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 146-147.

[25] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.201-215. Gereja Barat (berbahasa Latin) dengan pusat kekuasaan di Roma (Paus) yang disebut juga Gereja Katolik Roma (GKR); dan Gereja Timur (berbahasa Yunani) dengan pusat kekuasaannya di Konstantinopel (Batrik) yang disebut juga Gereja Orthodoks.

[26] Bnd. Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadi …, hlm. 160.

[27] Bnd. Eddy Kristiyanto, Visi Historis Komprehensif: Sebuah Penganta, (Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 65-66.

[28] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.216-225.

[29] Bnd. Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm.67.

[30] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.227-286.

[31] Ibid., hlm.231-241.

[32] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.242-245.

[33] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.246-256.

[34] Bnd. Tony Lane, Runtut …, hlm.91.

[35] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.257-265.

[36] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.266-279.

[37] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.280-286.

[38] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.287-304.

[39] A.Kenneth Curtis dkk, 100 Peristiwa …, hlm. 67.

[40] Bnd. Tony Lane, Runtut …, hlm. 120-121.

[41] Bnd. Tony Lane, Runtut …, hlm. 127.

[42] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.305-309.

[43] Ibid., hlm.311-350.

[44] Martin Luther bukanlah seorang pemikir Protestan pertama. Seabad sebelumnya dia sudah didahului oleh John Hus dari Bohemia, dan kemudian John Wycliffe pada abad ke-14.. Malahan di abad ke-12 seorang Perancis bernama Peter Waldo dapat dianggap seorang Protestan pertama. Tetapi, pengaruh para pendahulu Martin Luther itu dalam gerakannya cuma punya daya cakup lokal. Di tahun 1517, ketidakpuasan terhadap gereja Katolik sudah merasuk ke mana-mana. Ucapan-ucapan Martin Luther sudah merupakan kobaran api yang berantai menyebar ke sebagian besar kawasan Eropa. Luther karena itu punya hak yang tak terbantahkan bahwa dialah orang yang bertanggung jawab terhadap sulutan ledakan dinamit pembaharuan.

[45] Uraian lebih jelas dikemukakan dalam buku Jan S.Aritonang, Berbagai Aliran Di Dalam dan Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), hlm. 31; Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (terj.) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hlm.128.

[46] Bnd. Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.267-279.

[47] Bnd. Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.214-221; Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, (terj.) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hlm. 369-372; Jan S.Aritonang, Berbagai Aliran …, hlm. 41-46.

[48] Jan S.Aritonang, Berbagai Aliran …, hlm. 45-46.

[49] Ex opere operato berarti kemujaraban dari sakramen itu dipahami tidak bergantung pada kualitas pribadi dari imam, tetapi pada kualitas yang melekat di dalam sakramen itu sendiri. Berbeda dengan ex opere operantis (secara harfiah berarti ‘melalui karya dari orang yang bekerja). Dalam hal ini kemujaraban sakramen itu dipahami bergantung pada moral pribadi dan kualitas rohani dari imam itu (Lih. Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.215).

[50] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.351-370.

[51] Huldrych (atau Ulrich) Zwingli (1 Januari, 148411 Oktober 1531) adalah pemimpin Reformasi Swiss, dan pendiri Gereja Reformasi Swiss. Zwingli adalah seorang doctor biblicus (pakar Alkitab) yang terpisah dari Luther. Ia tiba pada kesimpulan-kesimpulan yang sama setelah meneliti Kitab Suci dari sudut pandangan seorang sarjana humanis. Zwingli dilahirkan di Wildhaus, St. Gall, Swiss dari sebuah keluarga kelas menengah terkemuka. Ia adalah anak ke-3 dari delapan anak lelaki. Ayahnya, Ulrich, adalah hakim kepala di kotanya, dan pamannya, Bartolomeus seorang pendeta.

[52] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.371-383.

[53] Secara umum, Phillip Melanchthon dikenal sebagai “Guru Jerman,” atau dalam istilah Latin, “Praeceptor Germaniae”. Sebutan ini diberikan pada saat ia masih hidup. Tetapi pengaruh pekerjaan dan tulisan-tulisannya dalam jangka waktu yang lama telah sampai ke pinggiran-pinggiran Jerman. Kaum Humanis memberikan penghormatan kepada Melanchthon sebagai ahli bahasa yang ideal.

[54] Martin Bucer (atau Butzer, bahasa Latin: Martinus Buccer) (14911551) adalah seorang reformator Protestan Jerman. Ia dilahirkan pada 1491 di Schlettstadt, daerah Alsace (sekarang Sélestat, di Prancis). Pada 1506 ia memasuki Ordo Dominikan, dan diutus untuk belajar di Heidelberg. Di sana ia berkenalan dengan karya-karya Erasmus dan Luther. Ia pun hadir pada sebuah perdebatan tentang Luther dengan sejumlah pakar Kepausan. Ia beralih kepada pandangan-pandangan Reformasi, meninggalkan ordonya dengan surat dispensasi Kepausan pada 1521, dan tak lama kemudian menikah dengan seorang biarawati, Elisabeth Silbereisen.

[55] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.385-399.

[56] John Calvin (nama aslinya: Jean Cauvin) lahir tahun 1509 di kota Noyon, Perancis. Dia peroleh pendidikan baik. Sesudah belajar di College de Montaigue di Paris, dia masuk Universitas Orleans belajar hukum. Dia pun belajar hukum di Bourges. Pandangannya yang begitu beraneka ragam tentang masalah seperti teologi, pemerintahan, moral pribadi dan kebiasaan bekerja, lebih dari empat ratus tahun mempengaruhi tingkah laku dan perikehidupan jutaan orang.

[57] Lebih lengkap dapat dilihat dalam Yohanes Calvin, Institutio, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980).  Ini ajaran edisi dipersingkat (abridged) yang lengkap ada dalam bahasa Latin dan Inggris.

[58] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.401-409.

[59] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.411-424. Uraian mengenai Reformasi Anglikan ini dapat dibaca dalam buku Eddy Kristiyanto, Reformasi dari Dalam: Sejarah Gereja Zaman Modern, (Kanisius: Yogyakarta, 2004), hlm. 83-92.

[60] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.425-451.

[61] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.453-457.

[62] Hubert Cunliffe-Jones, A History of Christian …, hlm.459-591.

[63] Uraian pemikiran teologi para Reformator Abad ke-20 ini diulas dan dibahas secara mendalam dalam buku Harun Hadiwijono, Teologi Reformatoris Abad ke 20, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

[64] A.Naftallino, Teologi Misi: Misi di Abad Postmodernisme, (Jakarta: Logos, 2007), hlm. 69.

[65] A.Naftallino, Teologi Misi…, hlm.61-62.

[66] Ibid., hlm, 66-67.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: