Posted by: ramlyharahap | May 14, 2009

LAPORAN BUKU: A HISTORY OF LUTHERANISM by ERIC W.GRITSCH Minneapolis: Forteis Press, 2002

1.      PENDAHULUAN

A.     PENULIS[1]

Penulis buku A History oof Lutheranism ini adalah Eric W.Gritsch. Gritsch adalah seorang Profesor Emeritus Sejarah Gereja pada Seminary Gettysburg Lutheran, Pennsylvania. Menurut Gritsch, buku ini memberikan sebuah saringan sejarah gerakan pembaharuan. Lebih tegas lagi Gritsch mengatakan bahwa hingga sekarang (2002) tidak seorang pun yang telah mecoba untuk menulis sejarah umum Lutheranisme. Gritsch mengakui bahwa penulisan buku ini adalah sebuah tugas yang menakutkan dikarenakan perubahan-perubahan sejarah Lutheranisme di seluruh benua di dunia ini. Sehingga Gritsch memutuskan untuk menulis buku ini sebab para mahasiswa Sekolah-sekolah Lutheran, para pendeta, dan yang lainnya selalu mencari sebuah sejarah yang komprehensif. Gritsch menyadari bahwa buku-buku yang membahas sejarah Lutheranisme memang sudah ada, namun buku-buku tersebut hanya membahas sejarah Lutheranisme yang khusus, misalnya Lutheranisme di Amerika Utara, tetapi dari semua penulis buku-buku tersebut tidak seorang pun yang mencoba membahas sejarah Lutheranisme secara menyeluruh (worldwide).

Dalam rangka mempermudah para pembaca buku ini untuk mengerti sejarah Lutheranisme tanpa dibingungkan oleh ragam informasi, maka Gritsch mencoba membuat beberapa volume dan risalah. Gritsch berharap agar banyak orang termotivasi untuk memperbaiki bukunya ini agar semakin sempurna.

Dalam menulis buku ini, Gritsch mencantumkan beberapa sumber-sumber yang menjadi buku pegangannya seperti: Theologische Realenzyklopädie (TRE), The Histrorical Dictionary of Lutheranism, dan The Encyclopedia of the Lutheran Church.

2.      ISI BUKU

Buku ini terdiri dari tujuh bab dan kesimpulan. Dan pada akhir buku ini kita temukan sebuah kronologi sejarah Lutheranisme sejak kelahiran Martin Luther hingga perkembangannya pada abad keduapuluh ini. Kronologi ini sangat menolong kita untuk mengerti garis besar sejarah Lutheranisme di dunia ini.

2.1    KELAHIRAN SEBUAH GERAKAN, 1517-1521[2]

Menurut Gritsch, kelahiran gerakan Lutheranisme ditandai tujuh hal yaitu: kondisi-kondisi bagi Pembaruan, perjuangan Luther, pandangan teologi, kekuatan Status Quo, blueprint bagi Pembaruan, masa sulit dan keputusan, dan jalan buntu.

Pertama, kondisi-kondisi bagi Pembaruan.[3] Kondisi-kondisi yang memungkinkan terpicunya pembauan itu beraneka ragam. Menurut Gritsch ada beberapa kondisi yang mendukung terjadinya pembaruan itu yaitu: (a) setelah berakhirnya masa kesatuan Gereja (1054), Kristendom mengalami skisma yang serius di antara orang Kristen Yunani di Timur (kemudian disebut “Ortodox Timur”) dan orang-orang Kristen Latin di Barat (yang dikenal sebagai “Gereja Katolik Roma” [GKR]). Setengah milenium kemudian, tahun 1517, 95 Dalil Martin Luther melawan penyalahgunaan indulgensia GKR.[4] Hal ini menjadi skisma kedua yang mengakibatkan tumbuhnya “Protestan”.[5] (b) Kaisar-kaisar, raja-raja dan pangeran-pangeran sangat berkompromi dengan paus-paus, uskup-uskup, dan imam-imam untuk menikmati kekuasaan di dalam masyarakat. Paus-paus berbagi kekuasaan dengan pangeran-pangeran. Pada masa jabatan ketigapuluh tujuh, Paus Innocentius III mentransformasikan Vatikan ke dalam kekuatan dunia dan mengumumkan dengan resmi doktrin-doktrin baru. Di antara tahun 1309 dan 1378, tujuh paus memindahkan tempat tinggal mereka ke Avignon, Perancis. (c) Gereja mencoba menjaga umat di dalam jalur ideologi teologi yaitu Allah digambarkan seorang yang murka, yang harus disenangkan melalui penebusan yang dimanifestasikan dalam kepatuhan kepada Gereja, mediator keselamatan itu. Anggota Jemaat didorong untuk berbuat baik untuk memperoleh anugerah ilahi dan berkat sakramental dari bayi hingga kematian (kuburan).[6] (d) Ancaman kebangkitan Islam yang didirikan oleh Muhammad tahun 622. Tentara Turki mengalahkan perang Salib orang Kristen pada Tanah Suci.  (e) Timbulnya pemikiran baru, perdagangan, dan kehidupan. Augsburg, Jerman menjadi sebuah pusat perbankan dan perdagangan di bawah pimpinan Jacob Fugger. Dan pada saat yang bersamaan, Johann Gutenberg merevolusi metode percetakan di Timur. (f) Adanya perlawanan dan tirani Gereja dan Negara. Jan Hus, imam dan profesor dari Bohemia (sekarang Republik Ceko), melakukan gerakan pembaruan di Paraha yang mengajarkan ide-ide yang dia peroleh dari seorang Reformator Inggris, John Wycliffe (kira-kira 1325-1384). Hus mengajarkan otoritas Kitab Suci sebagai hukum Allah melawan lembaga Gereja yang diperintah oleh paus. Akibat pengajarannya ini, Hus akhirnya dihukum bakar tahun 1409. Tokoh pembaharuan yang lebih radikal lagi datang dari seorang Dominikan Italia Jerome Savonarola (1452-1498), yang mencoba mentransformasikan kota Florence dari sebuah “kota-kota sombong” (city of vanities) menjadi sebuah tempat bagi millenium baru, permulaan kedatangan Kristus kali kedua. (g) Kebangkitan Renaissans dan Humanisme. Renaissans yang berpusat di Florence, Itali melahirkan banyak penulis, pujangga dan seniman (misalnya: Marsilio Ficino dan Leonardo da Vinci). Humanisme Kristen[7] membangkitkan penelitian sumber-sumber sejarah misalnya: Alkitab, Credo (Pengakuan Iman) dan gereja Purba kala. Pemikiran humanisme ini nantinya sangat banyak mempengaruhi Martin Luther. (h) Timbulnya teologi mistik (mystical piety)[8] yang mendirikan pusat persekutuan umum di Low Countries (sekarang Belanda) dan di Jerman di sepanjang sungai Rhine. Salah seorang dari murid terbaiknya adalah Thomas a Kempis, seorang penulis spiritual klasik, Imitation of Christ. (i) Timbulnya sekolah-sekolah teologi. Artinya dengan berbagai pengajaran semakin banyak bermunculan. Pengajaran Thomisme semakin banyak diperdebatkan sehingga bemunculanlah teolog-teolog baru seperti Thomas Aquinas, Erasmus dan William Ockham.

GKR sendiri merespons seluruh perubahan situasi dan kondisi tersebut. Paus Gregorius IX (1227-1241) membentuk sebuah inkuisi (lembaga penyelidikan) yang dikontrol oleh paus untuk mendeteksi bidat-bidat.

Kedua, perjuangan Luther.[9] Menurut Gritsch ada beberapa perjuangan Luther selama hidupnya. (a) Perjuangan pendidikan. Luther yang lahir dan meninggal di sebuah kota kecil Eisleben (10 November 1483 – 18 Februari 1546) berjuang dalam sebuah kehidupan keluarga yang konservatif yang telah menetapkan dirinya akan menjadi seorang ahli hukum. Sehingga untuk mencapai tujuan ini, keluarganya menyekolahkan Luther ke sekolah yang berkualitas dan terkenal hingga ke Universitas di Erfurt tahun 1501. Luther tinggal di asrama yang disebut dengan bursa, dan dia dikenal sebagai seorang “filsuf”. Luther menamatkan sarjana muda tahun 1502 dan meraih master tahun 1505 dan kemudian memasuki sekolah hukum. (b) Perjuangan kerohanian. Setelah beberapa minggu memasuki sekolah hukum, pada umur 21 tahun, Luther memasuki Serikat Eremit Augustinus.  Keinginan orangtua Luther ialah agar Luther menjadi seorang ahli hukum, namun karena Luther mengalami pergumulan secara rohani maka dia memutuskan untuk mengubah jalan hidupnya. Peristiwa 2 Juni 1505 membelokkan seluruh kehidupannya. Dalam perjalanan pulang dari Mansfeld ke Erfurt tiba-tiba turun hujan lebat yang disertai dengan guntur dan kilat yang hebat. Luther sangat ketakutan. Ia merebahkan dirinya ke tanah sambil memohon keselamatan dari bahaya kilat. Luther berdoa kepada Santa Anna, yaitu orang kudus yang dipercayai sebagai pelindung dari bahaya kilat sebagai berikut. “Santa Anna yang baik, tolonglah aku! Aku mau menjadi biarawan.” Luther sangat bergumul sekali untuk mencari Allah yang rahmani itu. Akhirnya Luther memutuskan menjadi seorang imam untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Allah. Dengan segera Luther diterima menjadi diakon dan pada tahun 1507. Luther ditahbiskan menjadi seorang imam.  (c) Pergumulan tentang kematian. Bagi Luther, setelah memasuki kehidupan biara dan memiliki kuasa keimaman, perasaan takut akan kematian dan penghukuman Allah tidak berkurang sedikit pun. Trauma akibat sambaran halilintar yang mempengaruhi dimensi spiritualnya tidak bisa hilang kendati dia sudah hidup di dalam lingkungan biara. Luther semakin merenungkan lebih dalam apakah dia termasuk yang dipilih oleh Allah untuk diselamatkan. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka Luther semakin rajin mendalami Alkitab. (d) Pergumulan tentang Alkitab. Bagi Luther, untuk mendalami Alkitab haruslah dengan melakukan Pendalaman Alkitab (Bible Study). Apa yang disebutkan oleh Augustinus dalam The Spirit and the Letter (De spiritu et litera) banyak memengaruhi Luther dalam pergumulannya tentang Alkitab. Johann von Staupitz mengirimkan Luther ke Universitas Wittenberg tahun 1508 menjadi seorang guru besar filosofi moral dan mengajar etika Aritoteles. Dan pada saat yang bersamaan, Luther melanjutkan studi doktoralnya di bidang biblical baccalaureate (baccalaureus biblicus). (e) Perjuangan moralitas kepausan. Perjalanan Luther dari Saxony ke Roma selama tahun 1510-1511 menimbulkan banyak kesan bagi Luther. Dalam perjalanannya ini, Luther sangat menyayangkan: birokrasi kepausan yang membingungkan, keboborokan moral secara umum, dan apati spiritual.  Di Roma sendiri, Luther menemukan praktik penghapusan dosa melalui indulgensia. (f) Perjuangan kedamaian. Setelah pulang dari perjalanan dari Roma, Luther bersama Staupitz berkeinginan untuk melakukan gerakan pembaharuan. Staupitz yang sangat memperhatikan masa depan Luther, mengirimkan Luther ke Wittenberg tahun 1511 dan menjadikannya sebagai kepala biara di sana. Luther tinggal dengan kira-kira empat puluh orang biarawan. Akhirnya, Staupitz memutuskan agar Luther menjadi seorang doktor dan pengkhotbah. Luther memang menolak hal ini, namun Staupitz terus mendorong Luther dan akhirnya Luther pun menerimanya. Dan inilah pengalaman Luther yang disebut dengan Anfechtung. Ketika Luther bergumul dengan pertanyaan bagaimana menemukan anugerah Allah, Staupitz mengatakan kepadanya untuk melihat penebusan dosa dalam sakramen bukan berarti sebagai menyenangkan hati Allah tetapi sebagai sebuah latihan rohani untuk menghadirkan kasih Allah bagi orang berdosa yang dinyatakan dalam Salib Kristus. Luther meraih gelar doktornya pada tanggal 9 Oktober 1512 dan mulai mengajar sebagai guru besar Alkitab (lectura biblica) tahun 1513.  (g) Perjuangan terobosan baru. Setelah menjadi imam-guru besar di Wittenberg, Luther mengalami sebuah “perubahan” atau “terobosan” baru spiritualnya. Hal ini akibat pekerjaan dan pengajarannya atas Kitab-kitab Mazmur (1513-1518), Kitab Roma (1515-1516), Kitab Galatia (1516-1517) dan Kitab Ibrani (1517-1518). Luther bergumul akan pengertian kebenaran (righteousness). Apakah kebenaran itu lebih merupakan milik Allah atau sesuatu yang diciptakan manusia, dengan demikian kebenaran itu sebagai “kebenaran yang asing” (alien righteousness)? Atau dapatkah kebenaran diperoleh melalui perbuatan baik manusia, sebuah “kebenaran aktif” (active righteousness) keselamatan? Luther menemukan kembali pengertian nabi-nabi dahulu di dalam perjanjian antara Allah dan Israel: seseorang menjadi benar dengan percaya hanya kepada kasih Allah bagi umat manusia: “tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Seseorang dibenarkan “oleh imannya sendiri”. Dengan demikian Luther merasakan “lahir kembali” sebab perhatiannya telah lebih tertuju pada apa yang dilakukan Allah di dalam Kristus dari pada apa yang telah dilakukannya bagi Allah. Hal inilah yang menjadi perubahan yang radikal dari keresahan monastik apakah dia dapat atau tidak mampu untuk menyenangkan Allah (kebenaran aktif) pada itikad bahwa Luther telah dikasihi Allah (kebenaran pasif). Pengalaman ini membuka pintu sorga bagi Luther dengan mendalami surat Paulus dalam Roma 1:17 dan 3:28. Luther akhirnya memahami bahwa iman itu sendiri diikat oleh kasih Allah di dalam Kristus. Gereja adalah pengantin perempuan Kristus, dan Kristus menjadi pengantin laki-laki dan kedua-duanya akan selalu menjadi satu.

Ketiga, wawasan teologi. Wawasan teologi Luther banyak dipengaruhi oleh Augustinus, John Tauler, metodologi Aristoteles, dan teologi modern William dari Ockham. Pemikiran teologi Luther kemudian akan terlihat dalam pemikirannya yang radikal dalam karyanya atas teks-teks Alkitab yang disebut dengan “pengalaman menara” (tower experience). Perhatian Luther diutamakan pada dua hal yakni tentang praktik indulgensia sebagai usaha manusia untuk penebusan dosa atau kepuasan – dengan memberikan uang ke gereja. Kedua ajaran penggunaan indulgensia ini menjadi hal yang kompleks dan kontroversial. Ajaran yang normatif mengartikan indulgensia sebagai bagian dari remisi total penghukuman bagi dosa-dosa yang telah diberikan; indulgensia bagian dari pembayaran atau kepuasan. Untuk melawan praktik indulgensia ini, Luther menggunakan tiga saat untuk mengekspose interrelasi yang berbahaya di antara tuntutan doktrinal dan praktik kegerejaan. Pertama, di dalam ujian salah seorang muridnya untuk meraih gelar sententiarius tahun 1516, Luther menggunakan pembelaan untuk berargumentasi bahwa anugerah Allah, bukan kehendak manusia, ditentukan proses keselamatan dari dosa. Kedua, setahun kemudian, Luther memberikan pendapat di dalam perdebatan umum selama ujian bagi gelar sarjana muda (baccalaureate) tentang metodologi Aristoteles atas pemikiran skolastik mengenai kehendak bebas (pemilihan manusia atau melawan keselamatan), dan keyakinan teolog akan spekulasi filosofi harus ditinggalkan. Dan ketiga, Luther melakukan perlawanan atas kekuatan dan kehebatan indulgensia dengan 95 Dalilnya pada tanggal 31 Oktober 1517.

Pemikiran Luther lainnya adalah mengenai penatalayanan keuangan gereja, yang dihubungkan dengan kemerosotan penjualan indulgensia yang akhirnya melahirkan gerakan pembaharuan.  Luther melanjutkan untuk menjelaskan secara rinci pandangannya didukung oleh pendiri Serikat Eremit Augustinus, Staupitz. Luther menyebut teologinya sebuah “teologi salib” yang didasarkan hanya pada anugerah ilahi melalui Kristus. Luther menekankan bahwa Allah dapat dikenal hanya melalui penderitaan dan salib.

Luther bukanlah seorang teolog sistematik yang memaparkan pemikirannya secara apik. Luther lebih dikenal sebagai seorang teolog biblika dibandingkan sebagai seorang teolog praktika. Bagi Luther, teologi menjadi praktis ketika teologi itu dihubungkan dengan kenyataan hidup – melalui perjuangan, penderitaan, kebahagiaan, dan kegagalan.

Luther memfokuskan pemikirannya atas kemanusiaan Allah di dalam Kristus dan percaya penuh tentang apa yang telah dikatakan Alkitab mengenai “pembenaran oleh iman” merupakan bagian dari pekerjaan yang dituliskan oleh hukum (Roma 3:28). Dengan demikian, Luther membedakan anugerah dan hukum. Anugerah Allah dikenal melalui komunikasi bahwa percaya sepenuhnya pada Yesus Kristus mengantarai keselamatan dari dosa-dosa; komunikasi ini adalah Injil (kabar baik). Hukum Allah, salah satu dari hubungan perjanjian anugerah di antara Allah dan umat Israel. Luther menegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk berargumentasi bagi keselamatan diri di hadapan Allah. Sama halnya dengan tidak ada jalan untuk menyenangkan hati Allah dengan perbuatan moral. Iman sangat sederhana dibandingkan dengan percaya dengan rasional tentang Allah. Iman artinya memahami firman Allah bahwa Kristus adalah arti dari kehidupan. “Iman membuat pribadi, pribadi melakukan perbuatan baik, perbuatan baik tidak membuat iman dan juga pribadi”. Menurut Luther, iman adalah pengalaman yang dipahami oleh kasih Allah melalui cerita inkarnasi Allah di dalam Kristus.

Luther juga memberikan pemikiran tentang soteriologi. Akhirnya pemikiran teologi Luther disebut sebagai “sebuah revolusi Copernicus” di dalam sejarah pemikiran Kristen. Sama seperti astronout Nicolaus Copernicus (1473-1543) menggeser pusat pemikiran dari bumi ke matahari, maka Luther mengubah pemikiran Kristen dari antroposentis ke theosentris.

Keempat, kekuatan Status Quo. John Tetzel mecoba memfitnah Luther dengan mempublikasikan 106 dalil, mendakwa Luther sebagai bidat. Tetzel telah mendapat amanah dari Uskup Albrecht dari Magdeburg dan bank Fugger di Augsburg untuk menggunakan perintah Dominikan untuk menjual indulgensia (dengan menggunakan slogan, “Kalau uang berdenting di dalam peti, melompatlah jiwa itu ke dalam sorga!”). Demikian juga sikap uskup Jerome Ghinducci meminta Sylvester Mazzolin (juga dikenal sebagai Prierias) untuk mengevaluasi Luther. Dia juga menyatakan bahwa pengajaran Luther keliru dan dimusuhi sebab Luther mempertanyakan hak kewibawaan paus untuk mengontrol iman dan moral. Karena itu ia menyatakan Luther sebagai penyesat, dan menulis bantahan ilmiah terhadap dalil-dalilnya. Bantahan ini menegaskan kewibawaan paus terhadap Gereja dan menolak setiap penyimpangan daripadanya yang dianggap sebagai ajaran sesat.

John Eck berusaha untuk menyatakan kelemahan Luther di dalam argumentasi Luther dengan mempublikasikan Obelisks (Yunani: obeliskos, “pisau belati kecil”), dan menyatakan Luther sebagai pembohong, bidat, dan pemberontak. Luther dengan segera menjawab dengan Asterisks (Yunani: asterikos, “bintang kecil”), menyatakan bahwa Eck tak berpengetahuan untuk mengerti kasus Luther.

Banyak mahasiswa dan teolog muda mendukung gerakan Luther untuk kembali ke teologi alkitabiah dan mengajarkan ajaran gereja mula-mula, khususnya tulisan Augustinus. Yang menyelamatkan Luther dari kemarahan politik Roma adalah keadaan status quo dari Elektor Frederick dari Saxony. Frederick meminta kepada Paus agar Luther diperiksa di Jerman dan permintaan ini dikabulkan. Paus mengutus Kardinal Thomas de Vio (Cajetanus) untuk memeriksa Luther pada tanggal 12-14 Oktober 1518. Cajetanus meminta Luther menarik kembali dalil-dalilnya, namun Luther tidak mau. Cajetanus pun gagal dalam misinya.

Perdebatan demi perdebatan pun semakin banyak terjadi. Perdebatan pada 27 Juni – 14 Juli 1519, di Leipzig, Luther berhadapan dengan Johann Eck disertai oleh Carlstadt, rekan mahagurunya di Wittenberg. Carlstadt dan Luther ditemani oleh presiden Universitas Wittenberg, Duke Barnim dari Pomerania dan Melanchthon dan beberapa kolega yang lain serta sekitar dua ratus mahasiswanya. Perdebatan ini berlangsung di Pleissenburg. Perdebatan ini membahas indulgensia dalam hubungannya dengan dosa dan anugerah. Menurut Eck, paus memiliki otoritas atas apa yang telah dilaksanakan yaitu praktik indulgensia. Namun dalam perdebatan ini pokok perdebatan telah bergeser dari surat indulgensia ke kekuasaan Paus. Menurut Luther yang berkuasa di kalangan orang-orang Kristen bukanlah Paus atau konsili, tetapi firman Allah saja.

Walaupun kelihatannya dalam debat Leipzig ini Eck yang menang, namun Luther mendapat dukungan yang lebih banyak ketimbang Eck sendiri. Froben mengkoleksi pekerjaan Luther dalam tiga edisi pada tahun 1520 dan disebarkan ke Inggris, Belanda, Perancis dan Italia. Luther disebut sebagai “Daniel baru” yang akan membebaskan umat Allah dari perbudakan pada teologi skolastik.

Kelima, blueprint bagi Pembaruan. Produksi literatur Luther makin berkembang pesat di antara tahun 1519 dan tahun 1521. Seorang sekretaris menulis 116 khotbah untuk dipublikasikan dan Luther sendiri memberikan enambelas risalah untuk dicetak selama enam bulan selama perdebatan Leipzig. Luther juga mengerjakan tafsiran kitab Mazmur dan menyelesaikan tafsiran pertamanya atas kitab Galatia.

Perdebatan mengenai primasi kepausan masih dilanjutkan. Augustinus Alveld, seorang biarawan Franciskan dari Leipzig membela kepausan sebagai institusi ilahi di dalam dua ringkasan dengan menggunakan Matius 16:18 sebagai dasar alkitabiah atas argumentasinya. Alveld menyebut Luther seorang “serigala di antara domba”, “seorang manusia galak”, seorang “bidat”. Luther merespons dengan alasan yang baik membela posisinya bahwa paus adalah lebih merupakan sebuah  institusi kemanusiaan daripada insitusi yang ilahi. Luther didukung oleh Ulrich von Hutten dan Albrecht Durer. Luther melakukan gerakan ini dengan menerbitkan empat seminal tahun 1520, berkaitan dengan posisi Luther yang menantang melawan status quo: (1) Ringkasan Pekerjaan Allah; (2) Seruan kepada Pemimpin-pemimpin Jerman; (3) Pembuangan Babel Gereja; dan (4) Kebebasan Kristen.[10] Hal ini diuraikan secara mendalam oleh Gritsch dalam bukunya ini. (Dan mengenai hal ini sudah dibahas dalam laporan buku sebelumnya pada konsentrasi I).

Keenam, pengadilan dan keputusan. Ketika Luther sibuk membangun platform teologi gerakan Reformasi, Roma sibuk mencari penghakiman kepada Luther in absensia. Pada bulan Januari 1520, perlawanan melawan Luther kembali dibuka untuk mencari bukti tuduhan atas tuduhan sebagai bidat. Eck membuat gambaran yang jelas tentang pandangan Luther kepada jemaat (curia) setelah perdebatan Leipzig. Eck menghukum Luther sebagai teolog muda yang cemerlang yang memiliki kesulitan dengan pengajarannya tentang gereja.

Paus Leo X memerintahkan dengan hati-hati untuk menginvestigasi pengajaran Luther, mengangkat Kardinal Pietro Accolti, ahli hukum dan Cajetanus untuk memimpin penyelidikan ini yang dibantu oleh Eck dan John Hispanus dari Universitas Roma. Mereka bertemu empat kali untuk mempertimbangkan bukti melawan Luther, yang diambil dari risalah-risalah dan sermon-sermon Luther bukan dari pekerjaan tafsiran Alkitab Luther. Akhirnya, pada tanggal 15 Juni 1520, paus mengeluarkan bulla (Latin: bulla, surat dokumen yang dikeluarkan paus) berkenaan dengan Luther dengan melarang pengajaran Luther kecuali kalau Luther menarik kembali pandangannya dalam tempo enampuluh hari. Bulla yang dikeluarkan paus itu dinamakan dengan Exsurge Domine (dari Mazmur 74:22, “Bangunlah, ya Allah”). Bulla ini menyatakan bahwa empat puluh satu dari tuntutan Luther dinyatakan gereja keliru.

Pada 10 Desember 1520 Luther membakar bulla Paus tersebut bersama-sama dengan Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik Roma di depan gerbang kota Wittenberg dengan disaksikan oleh sejumlah besar mahasiswa dan mahaguru Universitas Wittenberg. Tindakan ini merupakan tanda pemutusan hubungannya dengan Gereja Katolik Roma. Kemudian keluarlah bulla kutuk Paus pada tanggal 3 Januari 1521 dengan bulla, Decet Romanum Pontificem (Hal ini layak bagi Paus Roma). Alasan dikeluarkannya bulla ini adalah karena Luther menolak untuk menarik kembali ajarannya dan mendorong orang lain untuk mengikuti tindakannya, sehingga mereka harus dihukum dengan penderitaan.

April 1521, Kaisar Karel V mengadakan rapat kekaisaran di Worms. Luther diundang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya dan karangan-karangannya. Kaisar Karel V menjanjikan perlindungan atas keselamatan jiwa Luther. Pada 18 April 1521, Luther mengadakan pembelaannya. Wakil Paus meminta agar Luther menarik kembali ajaran- ajarannya, namun Luther tidak mau. Kaisar Karel V ingin menepati janjinya kepada Luther sehingga sebelum rapat menjatuhkan keputusan atas dirinya, Luther diperintahkan untuk meninggalkan rapat. Pada 26 Mei 1521, dikeluarkanlah Edik Worms yang berisi antara lain: Luther dan para pengikutnya dikucilkan dari masyarakat; segala karangan Luther harus dibakar; dan Luther dapat ditangkap dan dibunuh oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun juga.

Ketujuh, jalan buntu. Sebelum Luther meninggalkan Worms, seseorang atas suruhan Budiman Frederick menyergap dan membawa Luther untuk disembunyikan di istana Wartburg. Di sini Luther tinggal selama sepuluh bulan dengan memakai nama samaran “Knight George” (Junker Georg). Di sini pulalah Luther mengerjakan terjemahan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani (naskah asli PB) ke dalam bahasa Jerman yang dikenal dengan “September Bible” tahun 1522. Dia menerjemahkan PL tahun 1534. Dan tahun 1546 edisi akhir sudah selesai.

Pengaruh yang paling berarti yang diperbuat Luther di Wartburg adalah mengenai “pembenaran oleh iman” yang disampaikan kepada teolog Louvain, Jakobus Latomus. Luther berkata kepadanya bahwa seorang teolog harus serius membuang kekuatan dosa setelah baptisan. Oleh karena itulah maka Allah memberikan “hukum” – Dasa Titah dan pemerintahan sekuler. Di dalam Alkitab dan di dalam teologi, hukum dan Injil harus dibedakan sebagai “dua pernyataan” Allah. Pernyataan pertama, hukum menyatakan kejahatan manusia, kejahatan manusia dibedakan dalam diri mereka masing-masing ketika mereka melakukan apa yang mereka inginkan, dan hukum menghukum mereka dengan hukuman ilahi. Pernyataan kedua, Injil juga memiliki dua hal. Injil memberikan kebenaran, iman di dalam Kristus yang mati bagi dosa manusia (Roma 3:28). Iman memampukan orang percaya melakukan yang baik bagi sesama manusia. Kebenaran diikuti dengan anugerah, kehendak yang baik dan pengasihan Allah bagi seluruh orang yang percaya pada Allah .

Luther juga mengatakan kepada Latomus perbedaan di antara hukum dan Injil adalah metodologi yang mungkin dalam refleksi prinsip teologi. Pembedaan ini memimpin Luther untuk menerima bahwa seorang Kristen adalah secara simultan benar oleh iman di dalam Injil dan “berdosa” oleh karena hukum (simul justus et peccator).

2.2    PERTUMBUHAN DAN KOSOLIDASI, 1521-1555[11]

Dalam bagian ini Gritsch menguraikan pertumbuhan dan konsolidasi Lutheranisme dalam tujuh hal yaitu:

Pertama, Model-model hidup orang Kristen yang [sudah] dibarui. Model pembaharuan hidup Luther ini dimulai dari hubungannya dengan keempat sahabat baiknya yakni: Philip Melanchthon (ahli bahasa Yunani dan Ibrani), John Bugenhagen (yang memampukan Luther menjadi seorang pengaku dalam pengakuan pribadinya), Justus Jonas (yang menerjemahkan tulisan-tulisan Luther dari bahasa Latin ke bahasa Jerman), dan Nicolas von Amsdorf (seorang pendukung Luther menjadi uskup di Naumburg tahun 1541).

Secara ringkas Gritsch menyimpulkan bahwa model pembaharuan hidup orang Kristen yang dilakukan Luther adalah: (1) Hidup dengan kekudusan pribadi. Dalam rangka mencapai hidup kudus ini, Luther menerbitkan “Buku Doa Pribadi” (1522) yang berisikan ringkasan “Dekalog” (“apa yang harus dilakukan”), Pengakuan Iman (“apa yang harus dipercayai”) dan Doa Bapa kami (“bagaimana berdoa”).  (2) Pembaharuan dalam tugas panggilan imam. Dasar pandangan Luther atas pelayanan ini termasuk uskup bukanlah sebuah tahbisan yang ilahi. (3) Pembaharuan yang ketiga ialah pembaharuan ibadah.

Di sisi lain, Luther juga menerbitkan liturgi baptisan dengan keiukutsertaan orangtua dan nenek sebagai “imam” baptisan. Luther juga sangat memberikan perhatiannya dalam perbaikan pendidikan dengan mengajarkan sejarah dan bahasa –bahasa klasik seperti bahasa Latin dan Yunani bagi kaula muda. Luther mendirikan perpustakaan untuk mendorong masyarakat menjadi terpelajar dan mempelajari lebih dalam tentang dunia.

Pernikahan Luther menjadi model pembaharuan hidup Kristen ketika ia menikah dengan Katherine von Bora tahun 1525. Dengan pernikahan ini, Luther mendorong para imam lainnya untuk menikah. Melalui pernikahan ini Luther dikaruniakan Tuhan enam orang anak yakni: Hans (1526), Elizabeth (1527), Magdalena (1529), Martin (1531), Paul (1533) dan Margareth (1534). Di samping enam anaknya ini, Luther mengadopsi enam orang anak panti asuhan.

Dalam gerakan pembaharuan ini Luther dan Melanchthon yang dibantu oleh dewan kota Wittenberg membaharui ibadah umum dengan pembaharuan pendidikan. Mereka merencanakan rencana “perkunjungan” dengan membentuk empat orang satu tim “kunjungan” dengan tugas: dua orang memperhatikan soal-soal ekonomi, dan dua orang lainnya mengevaluasi kehidupan jemaat. Melanchthon membuat buku panduan “Instruksi” atas dasar saran dari Luther (1528). Setiap tim memiliki tugas untuk mengajarkan delapan belas bahan yakni: doktrin (perbedaan di antara Katolik Roma dan tuntutan-tuntutan Lutheran), Dekalog, kehidupan doa, moralitas, baptisan, Perjamuan Kudus, penebusan dosa, pengakuan pribadi, penghapusan dosa, peraturan gereja, pernikahan, kehendak bebas, kebebasan Kristen, Turk (isi yang signifikan bagi kebijakan orang Kristen asing), ibadah, pengucilan, pegawai uskup (superintendent) dan sekolah-sekolah.

Dalam perkembangan selanjutnya, Luther menerbitkan Katekismus Bersar Jerman yang digunakan sebagai bahan bagi katekisasi yang berisikan pendahuluan dan lima bagian yaitu: Dekalog, Pengakuan Iman, Doa Bapa kami, Baptisan dan  Perjamuan Kudus.

Kedua, Bahaya yang tersembunyi dan Entusiasme. Menurut Gritsch ada beberapa bahaya dan entusiasme yang terjadi pada masa pertumbuhan dan konsolidasi ini yaitu:

(1)         Thomas Muntzer (1491-1525). Gerakan yang dipimpin Muntzer ini dikenal dengan pemberontakan petani (1525). Muntzer mendasarkan gerakan ini atas pandangan Luther akan Kebebasan Kristen. Semula ia adalah pengagum dan pengikut setia Luther. Tetapi sejak tahun 1521 ia menyalahgunakan ajaran Luther tentang Kebebasan Seorang Kristen untuk mengobarkan pemberontakan melawan para penguasa politik.[12] Luther sendiri menolak pemberontakan ini sebagai gerakan rakyat yang illegal yang harus diganyang. Pemberontakan ini mengakibatkan tentara Katolik Roma yang dipimpin George dari Saxony dan Philip dari Hesse dari Protestan membunuh ribuan petani dalam peristiwa yang dikenal dengan perang di Franckenhausen pada bulan Mei 1525. Katolik dan Protestan sama-sama menolak tindakan Muntzer ini. Akhirnya Muntzer ditangkap, dianiaya dan kepalanya dipenggal.

(2)         Andreas Bodenstein dari Carlstadt atau lebih dikenal dengan Carlstadt. Luther menuduh Carlstadt sebagai penggagas pemberontakan dan Luther menganggap dia sebagai musuh yang menolak kehadiran Kristus dalam Perjamuan Kudus. Bagi Carlstadt, kata “inilah” dalam kalimat “inilah tubuh-Ku” (1Kor.11:23-26) lebih merujuk kepada tubuh Yesus sendiri, daripada roti dan anggur. Akhirnya Frederick mengeluarkan Carlstadt dari Saxony tahun 1524.

(3)         Erasmus. Pada tahun 1525 perdebatan Luther dengan filsuf Erasmus pun terjadi tentang masalah apakah manusia memiliki kebebasan untuk menolak anugerah ilahi. Menurut Erasmus, keselamatan diperoleh melalui perbuatan baik, sementara Luther menolak keras keterlibatan perbuatan baik manusia dalam keselamatan yang Allah berikan.

(4)         Ulrich Zwingli. Zwingli mengadopsi dan mengelaborasi penafsiran humanis Belanda Cornelius Hoen yang mengatakan bahwa Perjamuan Kudus pada dasarnya merupakan sebuah peringatan “spiritual” bukan makan dan minum yang “material”. Sehingga perkataan Yesus, “Inilah  tubuh-Ku” artinya “Ini menandakan tubuh-Ku” dan perayaan Perjamuan Kudus lebih merupakan sebuah penegasan iman dan komitmen pribadi pada Kristus dari pada sebuah peristiwa “kehadiran tubuh” Kristus. Luther menolak dan melawan pengajaran Zwingli yang membedakan antara “spiritual” dan “material” dalam Perjamuan Kudus ini. Menurut Luther, Kristus dapat ‘duduk di sebelah kanan Allah Bapa’ dan juga berada dalam roti dan anggur. “Ubiquitas” Allah tidak terbatas sebab Allah berjanji dalam Injil bahwa Allah hadir di dalam Perjamuan Kudus.

(5)         Anabaptis. Luther sangat terganggu atas sikap dan tindakan gerakan Anabaptis ini. Di kota Munster Westphalia, gerakan ini ingin memberlakukan pemerintahan Allah. Mereka meniadakan ibadah Minggu, memberlakukan poligami, memberlakukan praktik-praktik kehidupan Perjanjian Lama (PL). Luther sendiri tidak menyukai gerakan ini dan mendukung tindakan pemerintah membasmi gerakan radikal ini.[13]

Luther mencoba menstir apa yang terjadi pada abad Pertengahan antara “Reformasi sayap kiri” yang terdiri dari Muntzer, Anabaptis Munster, Zwinglian atau “sakramentarian” dengan “Reformasi sayap kanan” yang berisikan iman yang benar.

Ketiga, Konfesi Augsburg. Konfesi ini bermula dari persetujuan yang diberikan Kaisar Charles V pada Diet Augsburg tahun 1530. Luther menyetujui tulisan Melanchthon tentang Konfesi Augsburg. Melanchthon sendiri memulai pekerjaan ini dengan lebih dulu meringkas “Teologi Lutheran” (1521) yang berjudul Loci Communes rerum theologicarum (Tema-tema dasar Teologi). Konfesi Augsburg ini terdiri dari dua bagian besar yaitu: Bab I berisikan “Pasal-pasal Iman dan Ajaran” dan Bab II berisikan “Pasal-pasal bantahan, Daftar Kekurangan yang telah diperbaharui”.

Secara ringkas Gritsch menguraikan isi Konfesi ini. Dalam pendahuluan, Luther menjelaskan tiga hal: (1) Pasal-pasal iman yang telah dihubungkan dengan dasar Alkitab. (2) Lutheran tidak akan gagal dalam segala hal. (3) Lutheran sudah siap berpartisipasi secara umum.

Gritsch memaparkan secara ringkas isi pasal-pasal bab I Konfesi Augsburg ini. Pasal 1-3 menegaskan dogma Trinitas, menunjukkan persetujuan Lutheran dengan dasar teologi dari gereja kuno. Pasal 4-6 menggambarkan bagaimana kasih Allah dalam diri Yesus Kristus. Pasal 5 berisikan tentang imam . Pasal 7-15 membahas tentang gereja. Pasal 16 membahas tentang keterlibatan orang Kristen dalam politik. Pasal 17 membahas tentang kedatangan Kristus kali kedua. Pasal 18-20 membahas tentang hubungan di antara iman dan perbuatan baik. Pasal 20 adalah pasal yang terpanjang sebab pasal ini khusus membicarakan tentang “perbuatan baik” yang menjadi perjuangan Luther terhadap Katolik Roma. Pasal 21 berbicara tentang orang-orang kudus.

Pasal-pasal pada bab II memiliki pembahasan yang lebih mendalam tentang: cawan Perjamuan Kudus untuk kaum awam, perkawinan para imam, bentuk ibadah misa, pengakuan pribadi, puasa, janji imam dan Uskup.

Konfesi ini dikritik oleh Kaisar Charles  V dan John Eck serta dua puluh enam teolog dengan membuat Confutation (penyangkalan). Untuk menjawab semua kritikan ini, maka Melanchthon membuat Apologi terhadap Konfesi Augsburg pada tahun 1531.

Keempat, Hubungan orang-orang Skandinavia. Gerakan Reformasi Luther dengan cepat menyebar ke utara, mendirikan benteng pertahanan pertama di wilayah Schleswig dan Holstein melalui para pengkhotbah Lutheran sejak tahun 1522. Di Skandinavia sendiri, gerakan Lutheran ini bertumbuh akibat situasi politik di Kesatuan Kalmar dari tahun 1397-1523. Akibat keadaan politik yang berkaitan dengan kekristenan di Skandinavia, maka Raja Christian II Denmark (1513-1523) menghubungi Wittenberg tahun 1520 untuk memohon bantuan imam Saxon untuk membangun kurikulum pendidikan. Maka datanglah Andreas Carlstadt dari Universitas Wittenberg mengajar Martin Reinhart. Dengan demikian mulailah terjadi pertumbuhan Lutheran di Skandinavia. Christian III (1534-1559) cucu tertua Raja mendirikan enam puluh jemaat Lutheran di sekitar Haderslev di wilayah  Schleswig. Gerakan ini dibantu dua orang teolog Jerman dari Wittenberg yakni: Eberhard Weidensee dan John Wendt. Mereka membangun wilayah gereja Lutheran pertama di Skandinavia tahun 1528.

Lutheranisme juga di bawa ke Swedia oleh Olavus Petri yang dikenal sebagai “Martin Luther Swedia” yang belajar di Wittenberg. Olavus menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Swedia.

Gerakan Reformasi di Swedia ini dikaitkan juga dengan perang melawan Denmark, Polandia dan Lubek (1536-1570) oleh Raja Erik XIV (1560-1568). Erik menyenangi Calvinisme.

Lutheranisme di Norwegia dimulai  dengan kegiatan pengkhotbah Lutheran  Antonius tahun 1526 di kota kota yang terbesar Bergen yang diambil dari wilayah Hanseatik Jerman. Tahun 1537, Christian II Denmark mendekritkan sebuah transisi dari Katolikisme ke Lutheranisme. Olav Uskup Katolik Trondheim meninggalkan kota dan uskup lainnya dipecat. Gerakan Lutheranisme di Norwegia ini sungguh sangat kuat sekali. Para uskup dan imam kemudian belajar teologi yang sangat dekat dengan humanisme dan Calvinisme. “Hanya buku-buku bacaan keagamaan yang ditulis selama masa periode Reformasi” yang dipublikasikan tahun 1572 oleh Jens Skielderup uskup Bergen melawan Katolikisme yang berjudul: A Christian Instruction from the Holy Writ about the Considerations a Christian Should Take on Idolatry. Selama masa jabatan Jens (1557-1582) dan penggantinya Anders (1583-1607) gereja baru di Norwegia berdiri menjadi seperti Gereja Lutheran Denmark. Namun gereja Lutheran di Norwegia ini tidak mengadopsi seluruh pandangan Lutheranisme misalnya mereka tidak menerima Buku Konkord di Norwegia dan Denmark.

Gerakan Lutheranisme di Finlandia bertalian dengan raja Swedia, Gustavus Vasa yang memisahkan diri dari Roma tahun 1523. Tokoh gerakan di Swedia ini yang dikenal sebagai Martin Luther adalah Michael Agricola (1510-1557). Literatur Agricola menghasilkan banyak teologia Lutheran di Finlandia dan memperbanyak literatur dalam bahasa Finlandia. Dia merupakan penulis buku pertama dalam bahasa Finlandia yakni ABC-Book tahun 1541 yang berisikan alfabetika, bilangan, dan katekismus yang didasarkan pada Katekismus Kecil Martin Luther. Kemudian dia juga menulis buku-buku doa tahun 1544 dan Perjanjian Baru bahasa Finlandia tahun 1548.

Lutheranisme di Islandia didekritkan oleh Gereja Denmark tahun 1537. Jauh sebelumnya para pedagang dari Hamburg telah memimpin ibadah Lutheran di diosis Skalholt sehingga dua orang pembantu uskup yakni: Gizur Einarsson dan Oddur Gottskalksson menjadi menerima Lutheranisme. Gottskalksson bekerja di penerjemah Perjanjian Baru yang dipublikasikan tahun 1540 di Denmark dan inilah buku tertua yang dikenal di Islandia.

Lutheranisme di Skandinavia sama seperti Lutheranisme Jerman berdirinya lebih dikarenakan oleh politik raja daripada pangeran.

Kelima, Di luar Jerman dan Skandinavia. Gerakan Lutheranisme ini semakin berkembang ke luar Jerman dan Skandinavia misalnya ke daerah Baltik (Lithuania, Latvia, Estonia), ke arah timur (Polandia, Czekoslowakia, Hungaria, Rumania) dan menyusup ke wilayah Katolik di utara dan barat (Austria, Italia, Perancis dan Spanyol).

Gerakan Lutheranisme di Baltik dipengaruhi oleh Teutonic Order, persekutuan kesatria Jerman. Pada masa Grandmaster Margrave Albrecht Brandenburg (1490-1568), Lutheranisme diperkenalkan di wilayah ini. Kemudian, Albrecht menemui Luther dan Melanchthon di Wittenberg dan dia dinasihati oleh Luther dan Melanchthon untuk mendirikan negara yang merdeka.

Ide-ide Luther pertama kelihatan di Riga, sekarang Latvia (bagian dari Livonia) tahun 1521. Murid-murid Erasmus John Bugenhagen di Treptow, Pomerania, Andreas Knopcken menghubungi Melanchthon di Wittenberg dan memulai mengajarkan ide-ide Lutheran sebagai pendeta di Gereja St.Petrus.

Di Estonia (bagian dari Livonia), pengajaran Lutheran mulai kelihatan tahun 1523 di Reval (sekarang ibu kota Tallinn). Di Lithuania, Lutheranisme kelihatan setelah tahun 1530 yang dibawa oleh kaum bangsawan, penduduk kota dan imam. Mereka memiliki banyak motivasi bagi perubahan keagamaan. Beberapa orang tidak suka Katolikisme. Yang lain menginginkan gereja yang lepas dan merdeka dari Katolik Pilandia. Tetapi pendukung Lutheranisme tidak toleransi dan harus berpindah ke gereja Prussia. Albrecht dari Brandenburg mensponsori penerbitan katekismus Lutheran Lithuania pertama tahun 1547 Tetapi pendukung Lutheranisme tidak toleransi dan harus berpindah ke gereja Prussia. Albrecht dari Brandenburg mensponsori penerbitan katekismus Lutheran Lithuania pertama tahun 1547 yang berjudul: The Simple Words of the Catecism. Tokoh lain yang bekerja di Lithuania ini adalah Martin Mosviolius yang menerbitkan buku-buku nyanyian dan bahan-bahan lainnya dan Johan Bretke yang menerjemahkan Alkitab tahun 1591.

Di Polandia, panggilan Luther akan pembaharuan telah didengar: penduduk di Gdansk (Danzig) membaca 95 Dalil tahun 1518 setahun setelah Luther mempublikasikannya di Wittenberg. Walaupun Raja Sigismund I (1506-1648) melarang memasukkan ide-ide Luther. Tetapi ide-ide Luther masih beredar di Universitas Krakow. Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Jan Laski (1499-1560). Hanya di kota Ciezsyn, sebuah kota dekat Czech Lutheranisme bertahan hidup sejak tahun 1523, ketika mereka pertama kali memakai ibadah Reformasi di Polandia. Kemudian sebuah gereja lembaga Lutheran didasarkan pada Konfesi Augsburg.

Moravia juga dikontrol oleh Archduke Ferdinand sebab dia menjadi raja Bohemia tahun 1526. Gerakan Lutheranisme di Bohemia ini didukung oleh orang-orang Hussit Moravia yang dipimpin oleh Jan Roh yang mendukung Luther sejak tahun 1520. Pendukung Luther lainnya adalah Paul Speratus yang datang ke Moravia sebagai pengungsi hingga dia menetap di Prussia di bawah perlindungan Pemerintahan Teutonik Lutheran.

Di Hungaria, Lutheranisme dikenal pertama sekali melalui perdagangan para saudagar. 95 Dalil Luther telah mereka baca di Lubica (dekat Kezmarok). Tokoh yang dikenal di daerah ini adalah Matyas Devai yang dikenal sebagai “Luther Hungaria”.

Gerakan Lutheranisme di Transylvania (sekarang Rumania) telah dimulai sejak tahun 1140. Pemikiran Luther semakin dikenal tahun 1520 di antara orang-orang Saxon di Rumania. Tokoh yang membawa pemikiran Luther di Rumania ini adalah Kronstadt dan Hermannstadt yang memperkenalkan Lutheranisme pada Gereja dan sekolah-sekolah. Setelah tahun 1543 sudah ada gereja Lutheran di Rumania yang disebut dengan Gereja Allah dari Bangsa Saxon.

Di Austria, Lutheranisme menyebar dengan sangat cepat pada parohan pertama abad keenambelas. Limabelas tulisan Luther dipublikasikan di Vienna di antara tahun 1519 dan 1522. Ide-ide Luther juga menyebar dengan cepat ke Carinthia di sebelah selatan pada tahun 1526.

Keenam, Isu-isu neuralgis. Pendirian daerah-daerah Lutheran ditandai oleh kesetiaan pada Konfesi Augsburg menghalau banyak harapan untuk menghindari perpecahan yang dibangun kekuasaan kepausan dan kekaisaran di Eropa. Luther menjadi pemimpin gerakan pembaharuan yang berhasil. Paus Paulus III dan Kaisar Charles V tidak dapat membungkam Luther melalui pengucilan dan edik paus. Mahaguru Wittenberg memberikan ringkasan pada bagian ini yaitu: pertama, pembedaan antara konsili pertama dan keempat yang telah merumuskan dogma Trinitas yakni: Nicea (325), Konstantinopel (381), Efesus (431), dan Khalsedon (451). Kedua, Luther kemudian mendefinisikan konsili lainnya sebagai sidan dari representasi gereja untuk membahas tata gereja, sama seperti konsistori, dewan supremasi, dan lain sebagainya. Akhirnya, gereja sebagai persekutuan orang Kristen yang dikenal dengan tujuh karakteristiknya yakni: memberitakan firman Tuhan, melaksanakan baptisan, Perjamuan Kudus, kekuatan pengampunan dan pertobatan, para pelayan, ibadah dan penderitaan.

Kaisar Charles V berharap untuk menghindari skisma keagamaan dengan cara negosiasi. Utusan Katolik dipimpin John Eck dan dari Protestan Melanchthon telah melakukan banyak pertemuan tahun 1540 dan 1541 dan mereka mencapai doktrin persetujuan bersama di Regensburg. Tetapi Roma menolak untuk mengabsahkan hasil kesepakatan ini.

Lebih jauh dalam bagian ini Gritsch memaparkan pertikaian antara pengikut Luther dan Katolik. Luther berhadapan dengan Duke Henry dari Braunschweig. Duke tidak takut atas perdebatannya dengan Luther. Keluarga Luther sendiri mengalami penderitaan. Katherine mengalami penyakit serius tahun 1540 dan Magdalena meninggal pada usia 13 tahun setelah menderita penyakit tahun 1542[14]. Ketika Luther menerima kabar bahwa Paus Paulus III akhirnya mengumumkan bahwa konsili umum akan dilaksanakan di Trente, Italia tahun 1545, Luther memutuskan mengirimkan perlawanan akhir ambisi pilitik kepausan. Hasilnya adalah “Melawan Paus Roma, sebuah Lembaga Setan”.  Setelah itu, Luther merasa puas sebab tugasnya telah selesai. Dia kembali menyelesaikan tulisannya atas Kejadian tahun 1545. Luther mengantisipasi kematiannya. Gritsch memaparkan kematian Luther secara rinci. Luther meninggal pada tanggal 15 Februari 1545 pada pukul 3.00 AM.

Ketujuh, Damai yang rapuh. Luther meninggal di tengah perkembangan politik yang memperjuangkan gerakan pembaharuan itu. Paus Paulus III telah menegur Kaisar Charles V tahun 1544 atas toleransinya pada wilayah Lutheran yang menutup hukum Gereja. Pada saat yang bersamaan, Roma menawarkan 12.500 serdadu sewaan dan dukungan finansial bagi perang melawan Perkumpulan Smalcald Lutheran.

Keputusan yang sangat penting dalam keputusan perjanjian adalah pengakuan wilayah Lutheran dan Katolik sebagai kepala Gereja dan Negara. “Di mana ada sebuah pemerintah, di sana harus ada sebuah agama” (kemudian semboyan ini dikenal dengan, “Siapa pun yang memimpin wilayah menentukan agamanya” (cuius regio, eius religio).

Ketentuan khusus dibuat bagi pemimpin gereja yang berkeinginan kembali ke Lutheran seperti sebagai uskup dan biarawan. Ketentuan ini dikenal dengan “reservasi kegerejaan”.

Kedamaian Augsburg bermaksud untuk menerangkan permasalahan keagamaan hingga konsili umum di Trente yang akan membuat keputusan akhir. Kedamaian Augsburg meletakkan Lutheranisme pada peta Eropa. Lutheranisme banyak berada di Jerman dan Skandinavia, dan pengikut Konfesi Augsuburg dapat juga ditemukan di wilayah Rusia yang dikenal sebagai Moscovia atau Muscovy. Kedamaian Augsburg mendirikan wilayah teritorial Lutheranisme yang didasarkan pada dugaan bahwa pemimpin teritorial dapat memaksa secara politik dasar keseragaman baik di dalam Gereja Katolik Roma atau di dalam Konfesi Augsburg.

2.3    IDENTITAS KONFESIONAL, 1555-1580[15]

Identitas Konfesional ini dibahas Gritsch dengan tujuh bagian besar yaitu:

Pertama, Jalan Katekisasi[16]. Pada bagian ini Gritsch menguraikan tentang isi Katekisasi Martin Luther itu mulai dari Sepuluh Perintah Tuhan, Pengakuan Iman, Doa Bapa kami, baptisan dan Perjamuan Kudus.

Kedua, Faktor Melanchthon. Pemimpin arsitek konfesi Lutheran adalah Philip Melanchthon (1497-1560) yang bergabung dengan fakultas teologi di Wittenberg tahun 1518. Sebagai maha guru bahasa Yunani, Melanchthon memulai belajar telologi dengan Luther dan menyakini hidup bahwa Allah menerima orang berdosa oleh anugerah sendiri demi Kristus. Dasar teologi inilah yang dituangkannya dalam Loci Communes (Common place), buku pegangan teologi Lutheran pertama yang dipublikasikan tahun 1521. Dan kemudian tiga tulisan lainnya menjadi bagian normatif pengakuan Lutheran yaitu: Buku Konkord (1580), Konfesi Augsburg (1530) dan Risalah atas Kuasa Primasi Paus (1537).

Yang mau disampaikan Gritsch dalam bagian ini adalah bahwa Melanchthon sangat memiliki banyak andil dalam perkembangan pemikiran teologi Luther. Pada tahun 1527 dan 1538, Melanchthon menerbitkan etika filosofi Kristen yang diikuti kemudian fisika tahun 1549 dan antropologi tahun 1553.  Gritsch juga memaparkan isi artikel dari Apologi Konfesi Augsburg yang dikeluarkan tahun (1531). Melanchthon dikenal juga sebagai Gnesio-Lutheran. Maka pengikut Melanchthon dikenal sebagai Philippist.

Ketiga, Dihakimi oleh Roma. Konsili Trente (di sebelah utara Italia, 1545-1563) membuka penghukuman Roma atas Lutheranisme. Yang menjadi perdebatan dalam masa ini adalah mengenai pembenaran oleh iman hubungannya dengan anugerah ilahi dan tindakan manusia. Dalam perdebatan ini Jerome Seripando menekankan anugerah atas kodrat dan setiap orang berdosa hanya diselamatkan oleh anugerah Allah saja. Konsekuensinya, konsili berpikir bahwa dosa manusia hanya dapat diatasi melalui kasih Kristus dari pada karena usaha manusia dan kasih karunia ini dimediasikan dalam sakramen baptisan. Tetapi konsili Bapa Gereja membuat perbedaan di antara dosa asali (dosa Adam dan Hawa) dan concupiscence (keinginan untuk berdosa). Konsili berpendapat bahwa baptisan hanya membuang dosa asal dan penghumannya, bukan menghapus keinginan untuk berdosa. Bagi pemikiran Luther bahwa seluruh dosa, baik itu dosa asali maupun keinginan untuk berdosa, dihapuskan oleh iman di dalam Kristus. Pembenaran iman bukan salah satu aksi Allah di dalam Kristus, tetapi langkah pertama dalam sebuah proses atau perjalanan yang berangsur-angsur orang-orang berdosa kembali kepada keluarga yang ilahi, keluarga yang dimulai dengan Adam yang ditebus di dalam Kristus, Adam kedua.

Pada tahun 1564 secara resmi bulla Paus dikeluarkan oleh Pius IV yang menolak Protestanisme. Sebagai tambahan, Roma meringkaskan dogma Trente di dalam “Profession of the Tridentine Faith” yang berisikan bahwa setiap imam harus patuh kepada paus. Tindakan ini diikuti oleh lima komponen yakni: (1) Daftar Buku-buku yang dilarang; (2) Katekismus Katolik yang harus digunakan oleh imam untuk mempropagandakan pengajaran Trente; (3) Buku Doa (Breviary) Roma digunakan imam sebagai disiplin spiritual mereka; (4) Missal Roma, mengkoordinasikan ibadah melalui perayaan Misa yang beraneka ragam; (5) Edisi baru Alkitab Latin, Vulgata, menjadi edisi akhir dari Alkitab Latin.

Keempat, Perdebatan Intra-Lutheranisme. Konsili Trente membuang banyak harapan Philipp Melanchthon dan Philippist bagi pembangunan dialog kesatuan. Gritsch memaparkan ada enam perdebatan yang tejadi di kalangan intra-Lutheranisme. Empat di antara perdebatan ini membahas tentang pengertian pembenaran oleh iman. Satu di antaranya mengklarifikasi hubungan Lutheranisme dan Katolikisme, dan yang lainnya membicarakan hubungan tradisi Reformed atau Calvinis (khususnya membahas mengenai bagaimana Perjamuan Kudus ditafsirkan).

Adapun keenam perdebatan itu adalah: 1) Perdebatan Antinomian, 2) Perdebatan Sinergis, 3) Perdebatan mayoristik, 4) Perdebatan Osiandrian, 5) Perdebatan Adiaphoris dan 6) Perdebatan Cripto-Calvinis.

Kelima, Mediasi. Melanchthon mencoba menemukan jalan tengah di antara dua posisi yaitu berharap kesatuan Protestan (Jerman – Swiss) melawan Katolik. Melanchthon telah membentuk persekutuan Konfesi Augsburg tahun 1540 yang bernama Varita. Dalam rangka mediasi ini Melanchthon telah mencoba sebagai irenik (bagian dari teologi Kristen yang mempersatukan perbedaan sekte) sebisa mungkin, namun dia meninggal di tengah-tengah perselisihan ini tahun 1560. Melanchthon mati dibakar di podium Kastel Gereja di Wittenberg. Namun usaha mediasi ini tidak berhenti karena ipar anak Melanchthon, Caspar Peucer dan teolog Christopher Pezel mencoba menstir di antara Lutheran dan Calvinis tentang doktrin Perjamuan Kudus.

Sebegitu jauh mediasi ini dilakukan, namun kesatuan Lutheran masih belum tercapai. Salah seorang warga jemaat akhirnya mencoba membuat dasar teologi bagi kesatuan ini yaitu: Jacob Andreae dari Wǜrttemberg, seorang pejabat tinggi di Universitas Tǜbingen (1561-1590). Dia berjalan melalui batas wilayah elektoral Saxony dan dibantu Duke Julius dari Braunschweig-Wolfenbuttel dalam memperkenalkan Lutheranisme di teritial ini setelah tahun 1568. Adreae menggunakan ringkasan teologi sebagai rumusan bagi kesatuan yang berisikan lima pasal tentang pembenaran, perbuatan  baik, kehendak bebas, adiaphora dan Perjamuan Kudus. Tetapi pertemuan berbagai faksi tidak menunjukkan keinginan untuk bersatu. Maka Andreae merubah dari pengajaran pada berkhotbah dengan menerbitkan pekerjaannya sebagai Six Sermon on the Division among Theologians of the Augsburg Confession tahun 1573. Usaha ini pun gagal sebab pemimpin Lutheranisme di sebelah utara Jerman khususnya David Cytraeus dari Rostok dan Joachim Westphal dari Hamburg tidak menyukai sermon tersebut sebagai flatform bagi negosiasi kesatuan. Mereka meminta Andreae menukar sermon ini dengan Swabian Concord (1574). Dan akhirnya setelah mengalami banyak proses maka Andreae bersama Duke Ulrich, Count George Ernst, dan Margrave Karl membentuk tim kesatuan teolog yang menghasilkan Maulbrum Formula (1576).

Keenam, Rumus Konkord[17]. Dalam bagian ini Gritsch memaparkan sejarah dan proses terbentuknya Rumus Konkord dan isi pasal demi pasal. Ringkasnya, Gritsch memaparkan bahwa Rumus Konkord ini berisikan dua belas pasal yang dielaborasikan dengan “Solid Declaration” dan ringkasan dalam “Epitome”.

Pasal 1 (dosa asali) dan 2 (kehendak bebas) dialamatkan pada isu-isu perdebatan Sinergis. Pasal 3 (Pembenaran Iman di hadapan Allah) dialamatkan pada isu-isu perdebatan Osiandrian tentang “pembenaran iman di hadapan Allah”. Pasal 4 (Perbuatan baik) dialamatkan pada isu-isu perdebatan Mayoris yang mempertanyakan apakah perbuatan baik diperlukan bagi keselamatan. Pasal 5 (Hukum Taurat dan Injil) dan pasal 6 (Fungsi Hukum Taurat yang Ketiga) dialamatkan pada isu-isu perdebatan Antinomian. Pasal 7 (Perjamuan Kudus), pasal 8 (pribadi Kristus) dan pasal 9 (Turunnya Kristus ke dalam Kerajaan Maut) dialamatkan pada isu-isu perdebatan Crypto-Calvinis. Pasal 7 menekankan “kehadiran nyata” Kristus di dalam Perjamuan Kudus. Pasal 8 mendefinisikan kehadiran nyata Kristus di dalam Perjamuan Kudus sebagai kehadiran penuh baik tubuh Kristus yakni tubuh kemanusiaan dan tubuh keilahian-Nya. Zwingli, Calvinis dan beberapa Philippis (crypto-Calvinis) beranggapan bahwa hanya tubuh kemanusiaan ilahi yang hadir di dalam Perjamuan Kudus sebab kemanusiaan, tubuh fisik Kristus tidak bisa hadir di dalam dua tempat pada saat yang sama, pada satu sisi di sebelah kanan Allah di sorga dan dikonsentrasikan di dalam roti dan anggur. Pasal 8 mengatakan kehadiran kedua kodrat itu dalam Perjamuan Kudus. Pasal 10 (Kebiasaan-kebiasaan Gerejawi) dialamatkan pada isu-isu perdebatan adiafhoris. Pasal 10 ini menegaskan bahwa setiap persekutuan Kristen dibolehkan untuk memiliki berbagai macam kebiasaan atau ritus-ritus “menurut kebiasaan dan ketentraman umum”. Pasal 11 (Pratahu Allah yang kekal dan Predestinasi) dialamatkan pada isu-isu ringkasan perdebatan di antara Lutheran dan Calvinis di Strasbourg dan Lower Saxony tahun 1563. John Calvin dan penggantinya, Theodore Beza, beranggapan bahwa Allah tidak ingin seluruh manusia bertobat dan percaya pada Injil. Pasal 12 (Faksi yang tidak pernah menerima Konfesi Augsburg) yang mendaftarkan kelompok yang radikal di dalam Reformasi khususnya Anabaptis, Schwenckfelders, dan Anti-Trinitas atau Unitarian yang menolak Trinitas.

Ketujuh, Konfesi Gereja Lutheran[18]. Tepatnya setelah limapuluh tahun pengajuan Konfesi Augsburg baru pada tanggal 25 Juni 1580 Lutheran mempublikasikan pengajaran formalnya di dalam Buku Konkord (kemudian dimasukkan “Pengakuan Gereja Evangelikal Lutheran”).

Dalam bagian ini Gritsch memaparkan isi ringkas dari Buku Konkord ini. Buku Konkord ini dimulai dengan sebuah Konkordia, kemudian kata pembukaan, kemudian tiga teks pengakuan iman ekumenis (Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, dan Pengakuan Iman Athanasianum).

Kemudian Gritsch memaparkan dasar pendirian teologis yang mengidentifikasikan pengakuan gereja Lutheran pada abad kesembilan belas yaitu: (1) Penegasan kerendahan hati kasih Allah sebagai satu-satunya jalan keselamatan. (2) Injil tentang pembenaran Ilahi di dalam Kristus sebagai norma pemberitaan kegerejaan dan sebagai dasar kehidupan Kristen. (3) Perbedaan Hukum Taurat dan Injil sebagai penjagaan atas pesan anugeah Ilahi. (5) Penekanan Firman dan Sakramen sebagai arti yang penting pada keselamatan melalui yang Kristus telah buat dan pelihara di dalam Gereja-Nya. (6) Penekanan atas keimamatan seluruh orang percaya sebagai sebuah indikasi bahwa seluruh orang Kristen adalah sama di hadapan Allah dan memiliki kewajiban apostolik bagi misi. (7) Penegasan dunia sebagai ciptaan Allah, yang menuntun dunia ke kemuliaan Ilahi. (8) Penunjukan dunia Kristen bertanggung jawab sebagai hubungan kepatuhan dengan pekerjaan Allah di dunia. (9) Penggunaan Alkitab sebagai norma bagi pemberitaan dan pengajaran di dalam Gereja serentan dengan perhatian pada perbedaan, memisahkan Injil dan Alkitab. (10) Komitmen pada pengakuan Gereja sebagai arti untuk melestarikan sebuah pemberitaan yang benar dari Injil dan kesatuan Gereja. (11) Usaha intensif teologi untuk menyediakan sebuah iman dan pemberitaan yang benar tentang Injil di sini dan sekarang.

2.4    ORTODOKSI, 1580-1675[19]

Dalam membahas ortodoksi ini Gritsch mengemukaan tujuh hal penting yaitu:

Pertama, Daerah Imperatif. Kedamaian Augsburg tahun 1555 menciptakan teritorial Gereja Lutheran dan Gereja Katolik Roma di bawah otoritas pangeran. Gereja Lutheran dipandang sebagai yang ortodox ketika gereja Lutheran memasukkan Konfesi Lutheran di dalam Buku Konkord tahun 1580; Gereja Katolik dituntun oleh norma-norma Konsili Trente (1545-1563). Ortodoksi Lutheran mengakar di sekolah teologi yang mencoba memodernisasi seluruh pemikiran dan kehidupan Kristen dan mempersiapkan sistem tunggal bagi kesatuan politik dan kegerejaan. Sekolah-sekolah inilah nantinya yang menghasilkan para pendeta dan pengajar yang menjaga “doktrin yang murni”.

Gritsch memaparkan beberapa orang yang terus berjuang menjaga dan memelihara daerah-daerah imperatif ini misalnya: (1) John Brenz (1499-1570), pemimpin gereja di Wurttemberg yang menciptakan sebuah model teritorialisme Lutheran yang menggabungkan kekuatan masyarakat dan spiritual. Model ini dikembangkan di dalam dokumen yang berjudul Great Church Order tahun 1559. (2) Marsillius yang mencoba menghubungkan antara gereja dan negara dalam karyanya Defender of Peace (Defensor pacis, 1324). (3) Thomas Luber yang dikenal dengan Erastus (1524-1583) yang melihat daerah teritorial sebagai hukum Kristen tertinggi, cerminan pola raja-raja Israel Perjanjian Lama. (4) Di Denmark, Raja Frederick II (1559-1588) sangat tegas menekankan legislasi termasuk menyensor dan menolak doktrin-doktrin orang lain. (5) Di Swedia, Raja-raja Swedia selalu menolak Calvinisme; dan mereka mengadopsi Rumus Konkord Jerman tahun 1663. (6) Di Finlandia, hanya orang-orang Lutheran yang dikenal sebagai warga negara.

Ortodoksi Lutheran membenarkan teritorial imperatif dengan ajaran dua kerajaan (realms atau regiments) yang biasanya dipahami Augustinus (354-430) dan Luther. Luther menekankan perbedaan dua lembaga kerajaan dengan: kerajaan dunia (the realm of the world) yang dipimpin oleh otoritas sekular dan kerajaan persekutuan Kristen yang tertulis dalam Injil. Orang Kristen milik kedua kerajaan ini, sementara orang yang tidak percaya hanya milik kerjaan dunia saja. Ortodoksi Lutheran mengalami sisi positif dan negatif setelah kematian Luther.

Kedua, Praduga. Banyak praduga yang berkembang setelah daerah imperatif dan ortodoksi Lutheran semakin menyebar. Menurut Gritsch ada beberapa pradugaan orang akan hal ini yaitu: (1) mengangkat Luther dari konteks sejarah dan memandangnya sebagai nabi yang memiliki kebenaran ilahi yang tak terbantahkan. (2) Gerakan Reformasi dilihat sebagai sebuah tindakan supernatural Allah yang didirikan Gereja Lutheran. Dan Luther lebih dilihat sebagai objek iman dari pada sebuah subjek penelitian sejarah. (3) Pengaruh liturgi dan pembinaan iman menjadi sebuah pujian (hymne) yang membangunkan pietisme. Puisi-puisi dan hyme Lutheran yang ditulis Paul Gerhardt (1607-1676) menjadi sumber pietis ortodox yang berpengaruh. (4) Munculnya pembaharuan kehidupan Kristen dengan kedalaman mistik yang dipelopori oleh Johann Arndt (1555-1621). Karyanya yang sangat terkenal adalah, Four Books of True Christianity (1605-1609) menjadi buku terlaris pada masa ortodoksi, bagi para pemikir teolog ortodox Lutheran.

Ketiga, Mencari Doktrin yang Murni. Gritsch lebih jauh memaparkan para tokoh yang mempertahankan doktrin Lutheran yang murni dalam bukunya ini. Para tokoh dimaksud adalah: (1) Alumnus Universitas Tǜbingen yang menjadi pendiri ortodoksi Lutheran di Wittenberg yang dipimpin oleh Aegidius Hunnius (1530-1603), Polikarpus Leyser (1552-1610), dan Leonhart Hutter (1563-1616). Mereka bersama dengan yang lainnya mendukung kuat Elektor Frederick William dari Saxony yang berkeinginan untuk memelihara Universitas Wittenberg sebagai “kursi Luther” (Cathedra Lutheri). Hutter mencoba menjadi seorang teolog ortodox terkenal dengan mengambil dan mempelajari ringkasan teologi Lutheran yakni Loci Melanchthon dan mengggantikannya dengan karyanya yang berjudul Compendium tahun 1610. (2) Generasi kedua dari teolog orthodks di Wittenberg adalah John Andreas Quenstedt (1617-1688) yang mempublikasikan karyanya yang berjudul Didactic, Polemical, or Systematic Theology (1685). Dia mencoba menunjukkan bagaimana pemikiran ortodox Lutheran memaparkan sistem analisis yang masuk akal yang didasarkan pada Alkitab. (3) Ortodox Lutheran Jerman di Barat dipertahankan oleh Universitas-universitas Marburg dan Giessen yang dipimpin oleh Balthasar Mentzer (1565-1627) yang memisahkan konsep doktrin kemurnian Lutheranisme dari Calvinisme dari wilayah barat ini. (4) Di Universitas Strasbourg dipelopori oleh kelompok “Trio Yohanes” (“Johannine triad”): John Schmidt (1594-1658), John Dorsche (1597-1658), dan John Dannhauer (1603-1666). Dan yang paling berpengaruh suaranya adalah Dannhauer dari ketiga orang ini. Dannhauer begitu gigih menyerang Katolikisme, Calvinisme dan nonortodox Lutheranisme. Pandangannya atas doktrin yang murni tidak boleh digabungkan dengan usaha ekumenis untuk menyatukan Katolik dan Protestan. Karyanya yang terkenal adalah Hodosophia christiana sive theologia positiva (Hikmat Kristen atau teologi positif, 1649). (5) Lutheran Ortodox di Universitas Leipzig lama yang dipelopori oleh John Hulsemann (1602-1661) yang mengeluarkan bukunya yang berjudul Breviarium theologiae (Isi Ringkas Teologi, 1641). Dia menggunakan kuasanya sebagai pendeta Gereja St.Nicolai dan sebagai uskup untuk mempropagandakan doktrin murni sebagai seri pasal yang fundamental didasarkan pada Alkitab dan Konfesi Lutheran. (6) Di sebelah utara, doktrin yang murni ini dibahas di Universitas Rostock dan di Copenhagen, Denmark yang dipelopori oleh John Quistorp Sr. (1584-1648) dan anaknya John (1624-1669) yang menekankan disiplin spiritual di dalam traktat-traktat dan sermon-sermon, menekankan Penelaahan Alkitab, menolak polemik-polemik dan pelayanan sederhana gereja. (7) Ortodox Lutheran yang terkenal adalah Abraham Calov (1612-1686) yang tumbuh, dilatih dan aktif melayani di Konigsberg, Prussia dan Wittenberg. Dia berpengaruh besar sebagai superintendent gereja-gereja Saxon dan sebagai “mahaguru yang dibedakan” (“distinguished professor” – professor primarius). (8) Dan terakhir tokoh ortodox Lutheran adalah David Hollaz (1648-1713). Dia meringkaskan pandangannya di dalam sebuah karya dogmatikanya yang berjudul Examen theologicum acroamaticum (1707).

Secara umum para teolog ortodox Lutheran mencoba mempertahankan persetujuan yang diperoleh di dalam Rumus Konkord tahun 1577 dengan beberapa metode. Metode pertama, mereka mencoba untuk mendefinisikan doktrin murni melalui metode loci, yang digunakan pertama kali oleh teolog sistematik, Melanchthon. Metode kedua, mendefinisikan doktrin murni dengan analisa, memberi contoh pertama di dalam karya John Gerhard. Dan metode ketiga, metode analisis yang mendefinisikan doktrin murni dengan mencakup refleksi filosofi dan teologi metafisika dan teologi alami.

Keempat, Alkitab dan Inspirasi. Gritsch menjelaskan bahwa orthodoksi Lutheran secara umum beranggapan bahwa Alkitab adalah firman Allah. Bahkan John Gerhard mengatakan, “Alkitab adalah Firman Allah, yang ditulis berdasarkan keinginan Tuhan melalui evangelis dan rasul-rasul… untuk mengarahkan pada hidup yang kekal”. Allah-lah yang menjadi penulis Alkitab. Oleh karena itu maka teologi ortodox mengatakan bahwa penulis utama Alkitab adalah Allah dan kedua para penulis dan akhirnya para penafsir Alkitab.

Dasar literatur inspirasi ini ditemukan dalam Alkitab itu sendiri. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16). Dasar lainnya adalah 2 Petrus 1:21, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”.

Teolog ortodox melihat inspirasi verbal ilahi sebagai alasan bahwa Alkitab memiliki otoritas yang eksklusif, dengan “Kitab Suci itu sendiri” (Latin: sola scriptura). “Sebab penulis Kitab Suci adalah Allah dengan langsung menginspirasikannya kepada para nabi, penginjil dan rasul yang memiliki otoritas”. Teolog ortodox sistematika berpendapat bahwa Alkitab sebagai firman Allah yang berfokus pada dugaan autentisitas, sufisiensi (kecukupan), dan efikasi (kemanjuran).

Sufisiensi artinya kanon Alkitab berisikan segala sesuatunya harus dipercayai menyelamatkan dan setiap orang harus melakukannya di dalam hidup yang menyenangkan Allah. Sebagai efikasi, Alkitab, firman Allah harus diwartakan sebagai kabar baik bagi manusia yang berdosa. Dengan argumen bahwa Alkitab adalah autentik, sufisien, dan efikasi, para teolog ortodox mengatakan bahwa Kitab Suci adalah benar sebagai sumber keselamatan.

Teolog ortodox juga mengatakan bahwa Alkitab bukanlah sebuah buku bagi ilmu pengetahuan alam. Tetapi Alkitab berisikan kebenaran tentang keselamatan dan kebenaran ini tidak dijamin dari pengalaman manusia.

Kelima, Polemik-polemik. Dalam bagian ini Gritsch mencoba memaparkan beberapa polemik yang terjadi akibat ortodoksi Lutheranisme. Sebenarnya polemik ini sudah muncul selama masa Reformasi dan post-Reformasi. (1) Robert Bellarmine, Teolog Katolik  Roma yang sangat berpengaruh dalam karyanya Controversies (1583) dan dalam banyak edisi yang menuntun untuk anti-Protestan pada abad ketujuhbelas. Polemik Lutheran yang melawan Konsili Trente adalah Martin Chemnitz dalam karyanya Examination of the Council of Trent (1573). Lutheran juga berlawanan dengan Reformed (Calvinis) atas perbedaan prinsip di dalam Perjamuan Kudus.

Polemik berikut yang dipermasalahkan adalah masuknya filosofi di dalam teologi. Bagi Luther berkata bahwa sangat baik pernikahan antara filosofi dengan teologi. Kebangkitan Aristotelianisme dan humanisme di universitas-universitas Jerman memaksa para teolog untuk mengevaluasi aturan filosofi.

Inti polemik ortodox adalah melawan doktrin tradisi Katolik yang diterima pada Konsili Trente. Doktrin yang diajarkan bahwa penafsiran Alkitab harus dilakukan oleh uskup gereja yaitu paus. Ortodox Lutheran berprinsip bahwa “Hanya oleh Kitab Suci” (sola scriptura) sebab Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus.

Musuh terpenting dari doktrin Lutheran inspirasi verbal adalah Robert Bellarminus yang mendaftarkan enam alasan mengapa Alkitab membutuhkan gereja menjadi jelas: (1) banyak pesan menunjukkan berlawanan satu sama lainnya; (2) Alkitab berisikan firman dan pernyataan-pernyataan yang bermakna ganda; (3) Alkitab berisikan pernyataan yang tidak sempurna atau pemikiran-pemikiran yang tidak konsisten; (4) Alkitab berisikan pernyataan yang mustahil; (5) banyak ditemukan Hebraisme; dan (6) ditemukan banyak bahasa figuratif (alegoris, metafora, dan sebagainya). Polemik ortodox Lutheran merupakan bagian pekerjaan teologi yang harus membuat jelas perbedaan apakah itu yang benar dan palsu.

Keenam, Selingan irenik (menuju kedamaian). Karena sudah bosan dan capai berpolemik, para teolog mecoba mencari dasar yang lebih tinggi. Mengapa Protestan (Lutheran dan Calvinis) tidak menyatu melawan Katolik, Socianian dan gerakan unortodox radikal lainnya? Franciscus Junius (1545-1602) yang mengajar di Heidelberg dan Leiden, Belanda mencoba mendamaikan Lutheran ortodoksi dengan mengusulkan dua esensi dogmatika loci sebagai dasar bagi kesatuan: penerimaan otoritas Alkitab dan pusat penebusan Kristus melalui kematian-Nya. Kedua kubu ini seharusnya jangan terlalu lama larut dalam persoalan penafsiran Perjamuan Kudus tetapi merayakannya dengan misteri kesatuan.

Tetapi pertemuan di antara Lutheran dan Reformed di Leipzig tahun 1631 tidak membuahkan hasil keinginan untuk bersatu walaupun sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan dalam mencapai kesatuan ini.

Usaha selanjutnya ialah usaha penyatuan Lutheranisme dengan Katolik yang diprakarsai oleh Calixtus. Namun usaha ini juga ditolak oleh teolog ortodox Lutheran karena usaha penyatuan ini merusak aturan dan otoritas Konfesi Lutheranisme.

Ketujuh, Bahaya-bahaya kesatuan (Uniformity). Di sisi lain Gritsch juga memaparkan bahaya-bahaya kesatuan yang sedang dikerjakan oleh para teolog. ortodox Lutheran menggabungkan komitmen konfesi Lutheran pada kesatuan orang Kristen dengan kesatuan yang menyeluruh di dalam pengajaran, kesatuan dogmatikanya. Pasal 7 Konfesi Augsburg telah dengan jelas bahwa “sudah cukup [satis est] bagi kesatuan gereja yang benar untuk menyetujui pengajaran Injil dan sakramen. Tidak lagi penting tradisi-tradisi manusia … sama seperti di mana saja”.

Ortodoksi Lutheran mewarisi dan bagian manifestasi dari skisma gereja pada abad keenambelas gerakan Reformasi di dalam Gereja Katolik Roma yang berpisah dari Gereja Ortodox Yunani tahun 1054. Dengan demikian ortodox Lutheran bukan mencari kesatuan “kesatuan dari hal-hal yang kudus” sebagai mana dituangkan dalam pasal 7 tetapi kesatuan di dalam pemikiran yang sistematik, dogma yang benar tentang Alkitab. Konfesi Lutheran tidak memerlukan keseragaman tetapi berbicara tentang dua kondisi bagi kesatuan yang diekspresikan dalam “sudah cukup” (it is enough”): pengajaran Injil dan pelaksanaan sakramen.

2.5    PIETISME, 1675-1817[20]

Dalam membahas Pietisme ini, Gritsch menguraikan dan menjelaskan latar belakang berdirinya gerakan ini hingga pada perkembangannya di dunia baru. Gerakan ini dijelaskannya secara mendalam dan sistematis. Ada beberapa catatan yang menjadi perhatiannya dalam membahas Pietisme ini yaitu:

Pertama, Deklarasi (Manifesto) Pietis. Menurut Gritsch, gerakan ini pada mulanya merupakan gerakan yang dihubungkan dengan ortodoksi Lutheran yang menganut faham mistik yang dihubungkan dengan skolastisisme. Misalnya John Gerhard mendirikan “sekolah kekudusan” (schola pietatis) tahun 1622 yang berusaha untuk menggabungkan dogma rasional dengan kekudusan emosional. Kemudian Johann Arndt (1555-1621) mendirikan reformasi umum kekudusan Lutheran dengan subur. Dia melakukannya dengan mempublikasikan karyanya True Christianity tahun 1610, buku yang sangat laris dan berpengaruh pada masa itu. Arndt mengajarkan bagaimana keselamatan di dalam Kristus menjadi sebuah jalan pengudusan melalui tiga langkah yaitu: penyucian, pencahayaan, dan penggemblengan jiwa dengan Allah.

Tokoh lainnya yang menjadi pelopor berdirinya Pietisme ini adalah Philip Jacob Spener (1635-1705) yang lahir di Alsace. Karyanya Spener yang terkenal adalah Pia Desideria (Kehendak Saleh). Secara ringkas Gritsch menjelaskan isi Pia Desideria ini. Isi Pia Desederia adalah sebuah program pembaharuan. Pia Desideria terbagi dalam tiga pokok penting. Bab I membahas diagnosa kemunduran gereja yang menyangkut kondisi korup di dalam gereja; bab II diikuti dengan prognosis tentang harapan perbaikan gereja; bab III merupakan usul-usul program pembaharuan yang berisikan enam komponen; dan inilah yang menjadi pusat manifesto Pietis.

Bab I menganalisa kebobrokan pemerintahan gereja dengan pembedaan di antara pengajaran dan kehidupan. Bab II berbicara tentang harapan akan masa depan melalui dasar pembaharuan di dalam janji-janji alkitabiah. Bab III berisikan program pembaharuan yang terdiri dari enam langkah yakni: (1) Penggunaan Firman Allah secara ekstensif (1 Korintus 14:26-40). (2) Kebangunan Imamat yang Rajani seluruh orang percaya. (3) Kekristenan lebih menekankan praktik dari pada pengetahuan. (4) Tidak perlu perdebatan-perdebatan teologi. (5) Pembaharuan menyeluruh pendidikan teologi. (6) Hidup sederhana, memperbaiki cara berkhotbah.

Kedua, Yayasan Halle. Spener adalah orang yang sangat baik dalam bersahabat sehingga banyak yang bersimpati kepadanya. Misalnya di Berlin, salah seorang yang menjadi pilar Pietisme adalah August Hermann Francke (1663-1727). Ia meneruskan gagasan Spener dan mempertahankan ajaran Spener dari penentang-penentangnya. Menurut Francke, teologi harus melayani perubahan hidup, pembaharuan gereja, pembaharuan bangsa dan penginjilan dunia. Berbeda dengan ortodoksi, Francke tidak menekankan doktrin yang benar, tetapi yang dipentingkan adalah perwujudan ajaran itu di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu seperti Spener, Francke lebih banyak berbicara tentang lahir baru dan kurang berbicara tentang pembenaran. Tindakan objektif Allah dalam keselamatan diabaikan, sedangkan peranan subjektif manusia ditekankan. Dengan perkataan lain Francke menganut Ordo Salutis yang diajarkan Spener.[21] Francke berjalan lebih jauh dari Spener. Kalau Spener hanya mengandalkan Collegia Pietatis dalam universitas, maka menurut Francke harus ada revisi seluruh sistem pendidikan, dari sekolah dasar sampai universitas. Mereka dikenal dengan sekolah-sekolah Jerman. Francke juga mendirikan sekolah bagi pelatihan guru. Untuk itu Francke menjadikan Halle sebagai model. Kesalehan pendidikan menjadi perhatian utamanya, sebab mereka harus menjadi contoh bagi anak-anak didik. Pada tahun 1707, Francke mendirikan “Seminarium Selectum Praeceptorum”. Akhirnya, Francke mendirikan toko-toko buku dan percetakan di panti asuhan untuk mempropagandakan program pembaharuan Halle. Gerakan ini didukung oleh Freiherr Carl von Canstein (1667-1719) yang menjadi kepala “Lembaga Alkitab” tahun 1710 yang menjadi lembaga Alkitab pertama di dunia (menjadi Lembaga Alkitab Cansteinian sejak tahun 1720). Francke dan  Lembaga Halle didukung sepenuhnya oleh pemerintah Prussia. Raja-raja Prussia mengirimkan pendeta tentara dilatih dan dibimbing di Halle. Yayasan ini juga berkembang di Copenhagen sehingga didirikanlah Misi Danish-Halle untuk mempropagandakan Kekristenan Pietis di India. Francke sendiri memelihara hubungan dengan organisasi Lutheranisme di Amerika dengan Henry Melchior Muhlenberg (1711-1787) salah seorang lulusan Halle.

Ketiga, Pietis Zinzendorf. Tokoh ketiga yang terkenal dalam gerakan Pietisme ini adalah Count Nikolaus Ludwig von Zinzendorf (1700-1760). Gerakan Pietisme Zinzendorf ini dimulai di Herrnhut (kelompok orang Kristen Moravian yang dipaksa melarikan diri dari tanah airnya karena penganiayaan). Di daerah inilah Zinzendorf mengembangkan pietismenya. Walaupun Zinzendorf dipengaruhi oleh Halle, namun Zinzendorf mengembangkan Pietisme Herrnhurt dengan gayanya sendiri. Pandangan teologis Zinzendorf tidak diuraikan secara sistematis. Pandangan Zinzendorf hanya dapat disimak dari khotbah-khotbahnya atau dari perkataan-perkataannya. Zinzendorf tidak setuju dengan ortodoksi dan Pencerahan yang terlalu menekankan akal namun ia menekankan perasaan. Menurut Zinzendorf, agama personal adalah persoalan perasaan dan bukan akal. Pusatnya di hati dan bukan di kepala.

Perkembangan Pietisme Zinzendorf ini selanjutnya diteruskan oleh anaknya, Christian Renatus (Latin: “lahir kembali”, 1727-1752) yang menggiring Pietisme Herrnhurt ke fantasi yang ekstrem. Ibadah Minggu menjadi sebuah teater yang berisikan musik intrumental, khotbah yang memukau dan pertunjukan yang berbagai macam gambar untuk melukiskan hubungan antara Kristus dengan orang-orang Kristen. Bentuk ekstrem Pietisme Herrnhurt akhirnya diberhentikan tahun 1750 oleh dewan Saxon. Zinzendorf mempunyai perbedaan yang cukup menyolok dengan Pietisme Halle. Ia setuju dengan Halle ketika ia menekankan pertobatan dan lahir baru. Tetapi ia menolak Francke yang terlalu menekankan penyesalan, sehingga sering disertai dengan kesedihan dan air mata. Bagi Zinzendorf, pengalaman pertobatan adalah pengalaman sukacita yang membawa serta jaminan keselamatan.

Akhirnya Gritsch berpendapat bahwa pandangan Zinzendorf tentang Pietisme sebagai sebuah gerakan pembaharuan dalam gereja Katolik sama seperti gerakan Luther dan Melanchthon dimengerti bahwa Lutheranisme menjadi gerakan pembaharuan di dalam Gereja Katolik Roma. Sebab tiga dari mereka, mengingatkan gereja harus bersatu tanpa menjadi seragam.

Keempat, Kebangunan Jemaat. Gerakan Pietisme ini mampu membaharui kehidupan jemaat lokal misalnya di Wǜrttemberg yang menjadi pusat intelektual Universitas Tǜbingen. Dua orang tokoh Pietisme Wǜrttemberg yang terkenal adalah John Albrecht Bengel (1687-1752) dan seorang filsuf-teolog, Frederick Christopher Oetinger (1702-1782). Secara teologis walaupun Bengel dipengaruhi oleh Halle, tetapi ia memberikan warna atau cap tersendiri kepada Pietisme Wǜrttemberg. Misalnya Bengel sangat mementingkan hidup baru, tetapi ia tidak membuat semacam jalan khusus ke arah hidup baru itu. Beberapa yang menarik dari Bengel ialah: ia memulai menyelidiki Alkitab dan menekankan kritik teks. Dengan kritik teks, Bengel bermaksud menolong orang agar dapat mengerti Alkitab lebih baik. Bengel merupakan orang yang pertama yang membuat pembagian naskah atau penggolongan naskan dalam Perjanjian Baru.

Sementara itu, Oetinger menekankan ajaran metafisika untuk menggambarkan kerajaan supranatural dari roh. Oetinger sangat gemar mencari jemaat yang mengalami pengalaman khusus, termasuk vis yang menjadi bagian dari “pusat visi”. Dia berbicara tentang “kedalaman” dari “tubuh-jiwa” di mana Kristus bersatu di dalam cara yang luar biasa. Kekhasan Oetinger adalah dia sangat memberikan tempat dan perhatian yang cukup besar bagi ilmu pengetahuan.

Pietisme Wǜrttemberg melestarikan, menguatkan, dan mengembangkan panggilan Spener bagi kebangunan jemaat melalui keaktifan imam-imam dan seluruh orang yang percaya. Dengan kelompok kecil yang terus menelaah Alkitab, berdoa, dan membaharui masyarakat menjadikan jemaat menjadi “gereja kecil di dalam gereja”, menguatkan kesaksian Injil di dalam gereja dan memampukan orang ke luar dan berjuang di antara kebaikan dan kejahatan di dunia ini.

Kelima, Gerakan Radikal. Dalam gerakan Pietisme ini juga dikenal dengan adanya gerakan yang radikal sama seperti gerekan lainnya seperti yang terjadi di dalam gerakan Reformasi. Terkadang gerakan radikal ini memisahkan dirinya dari institusi yang mapan. Beberapa tokoh radikal dalam Pietisme ini adalah: (1) Gottfried Arnold (1666-1714). Orang Kristen yang benar menurut Arnold, harus mengalami kelahiran baru secara radikal dan pembaharuan hati. Ia mengatakan semua itu terjadi karena anugerah Allah. Arnold juga mempunyai padangan yang negatif terhadap dunia ini. Ia juga tidak menghormati organisasi-organisasi gereja pada umumnya dan Lutheran khususnya. Menurutnya ada empat berhala dalam Lutheranisme yaitu: kursi pengakuan dosa, altar, bejana baptisan dan mimbar. Sebab menurutnya, yang paling penting di atas segala-galanya ialah identifikasi batin dengan Kristus. (2) Ernst Christoph Hochmann von Hohenau (1670-1721), seorang pengkhotbah kebangunan rohani yang mengatraksikan umat dari seluruh pemberhentian hidupnya. Dia mencela baptisan anak, sidi yang pasif, dan bergerak dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain untuk melarang penganiayaan politik. Orang melihat dia di Switzerland, di Belanda, dan di Chekoslowakia di mana ia bersahabat dengan gerakan separatis lainnya seperti Mennonit dan misitik.

Beberapa dari gerakan radikal ini membentuk jemaat kecil. Percaya pada baptisan dewasa yang disatukan dengan yang telah membaca karya Arnold yang berjudul First Love, yang menolak baptisan anak sebagai yang tidak alkitabiah. Salah satu di antaranya adalah Conrad Beissel (1690-1786) yang mendirikan komunitas monastik di Ephrata, Pennsylvania.

Ada yang menyebut dirinya sebagai “alat-alat Tuhan” yang dipimpin oleh John Frederick Rock (1678-1749) yang mendirikan komunitas kecil di berbagai bagian Jerman dan Switzerland.

Spekulasi milenialis bangkit kembali di dalam “jemaat Sion” di Ronsdorf dekat Elberfeld yang didirikan oleh Elias Eller (1690-1750). Jemaat ini diinspirasikan oleh gadis kecil yang bernama Anna von Buchel yang mengklaim memiliki pengalaman “suara hati” yang memberitahukan kedatangan Yesus kali kedua di akhir milenium.

Keenam, Para Misionaris. Gerakan Pietisme memiliki visi bagi kesatuan orang Kristen dan semangat bagi penginjilan yang luar biasa. Yayasan Halle Francke menjadi puat pelatihan misionaris. Salah seorang muridnya, Anton Wilhelm Bohme (1673-1722), menjadi pendeta tentara di Inggris dan mendirikan jaringan dengan “Masyarakat bagi Promosi Pengetahuan Kristen” tahun 1699. Misionaris pertama yang tamat dari Yayasan Halle adalah: Bartholomew Ziegenbalg (1682-1719) dan Henry Plutschau (1677-1646). Dalam melaksanakan penginjilannya, Ziegenbalg mendasarkan penginjilannya pada lima prinsip dasar yang kemudian dikenal menjadi model bagi misionaris Pietis yaitu: (1) pendidikan Kristen bagi anak-anak di dalam sebuah sekolah paroki harus dikonsentrasikan atas firman Allah. (2) Firman Allah harus dimengerti di dalam bahasa setempat. (3) Pengkomunikasian Injil harus menyesuaikan diri pada pemikiran dan kehidupan umat. (4) Misi adalah konversi pribadi. (5) Gereja harus mengatur sesegera mungkin melayani dengan melatih orang yang bertobat sebagai pemimpin.

Murid Francke yang lain, John Henry Callenberg (1694-1760) mendirikan apa yang dikenal sebagai “Lembaga Yahudi dan Muhammad” (Institutum Judaicum et Muhamedicum) tahun 1728 di Halle. Para misionaris dikirim ke bukan hanya ke Eropa utara dan Timur Tengah tetapi juga ke Skandinavia. Dari Halle, mereka pergi ke Denmark untuk mempertobatkan orang Yahudi di sana.

Pergerakan penginjilan ini semakin berkembang ke daerah Baltik (Riga dan Reval), Belanda, Inggris, Switzerland dan ke India Barat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pietisme bukanlah menopang gerakan kepercayaan ekumenikal dan misionaris, melainkan Yayasan Halle menjadi pusat misi dunia. Banyak misionaris dilatih di sana dan dikirimkan ke seluruh dunia.

Ketujuh, Hubungan pada Dunia Baru (Amerika). Penyebaran Pietisme ini  semakin merambat ke Amerika. Lutheran kelihatan pertama sekali tahun 1528 di Amerika Utara yang dikenal sekarang sebagai Venezuela. Kemudian Lutheran berkembang di Florida, Swedia, New York, dan lain sebagainya.

Perkembangan Pietisme ke Amerika adalah karena seorang murid Francke di Halle yaitu: Justus Falckner. Setelah menerima tahbisan, Falckner diutus menjadi pengkhotbah berpindah-pindah, pergi ke Gereja Reformed Belanda dan jemaat Lutheran di Manhattan, Albany dan Athena, New York dan Hackensack, New Jersey. Selanjutnya, ketika Yayasan Halle dipimpin oleh Gotthilf August Francke (anak August Hermann Francke), maka dia mengutus Henry Melchior Muhlenberg untuk mengamankan dan mengorganisasikan permasalahan Lutheran di Amerika. Dengan cepat dia menjadi “bapa gereja” Lutheranisme di Amerika Serikat. Tahun 1733, Lutheran Pennsylvania mulai berhubungan dengan Pietis Halle yang dipimpin anaknya Francke, Gotthilf dan Frederick M.Ziegenhagen, dan mereka mempresentasikan misi Halle di London. Dua puluh empat pendeta misionaris dikirim ke Amerika Utara, khususnya ke Pennsylvania selama parohan kedua abad kedelapan belas. Hallesche Berichte (Laporan Halle) dari Amerika menjadi terkenal dan digunakan untuk merekrut dan dana misionaris.

Memang harus diakui bahwa di mana saja selalu terjadi konflik dalam penyebaran Injil. Di antara kolonial Lutheran Amerika, ada beberapa tanda konflik di antara Ortodoksi dan Pietis Lutheran di Eropa. Pembela Ortodoksi mengatakan bahwa Pietis bukanlah Lutheran yang murni dan sangat berbahaya atau bahkan kelompok “Crypto-Herrnhuter” (Moravian tersembunyi). Akhirnya Gritsch memaparkan bahwa Pietisme pada masa perang Tiga Puluh tahun, Lutheranisme merasa aman karena intervensi militer atas Raja Lutheran Sedia, Gustavus Adolphus II (1594-1632) yang dibunuh di dalam sebuah peristiwa.

2.6    DIVERSIFIKASI (KEBHINEKAAN), 1817-1918[22]

Pada masa kebhinekaan ini Gritsch menguraikan beberapa hal yaitu:

Pertama, Kebangkitan Gereja yang Mengaku (Konfesional). Kebangkitan gereja yang mengaku ini tidak terlepas dari kebangkita peradaban dunia pada masa itu. Misalnya dengan kebangkitan “sistem pasar bebas” oleh Adam Smith (1723-1790), pendeklarasian kemerdekaan Amerika Serikat (1776), Revolusi Perancis (1789), dan lain sebagainya. Segera setelah kebangkitan itu, maka di kalangan gereja pun mengalami kebangkitan juga. Gereja yang mengaku menyebar melalui Jerman yang berpusat di Universitas Erlangen yang memegang pengakuan Lutheranisme yang konservatif.

Gritsch memberikan beberapa contoh tokoh kebangkitan gereja yang mengaku ini yaitu: (1) Pdt.Wilhelm Lohe (1808-1872) yang mengorganisasikan sebuah model jemaat Neo-Lutheranisme tahun 1837 di Neuendettelsau, sebuah kota kecil Bavarian. Lohe adalah seorang Neo-Lutheran yang memiliki jaringan ekumenis mengenai substansi Konfesi Lutheran dengan misi ke dalam dan ke luar. Dia berpendapat bahwa misi sebagai perkembangan organik menuju masa akhir yang bertentangan dengan pasal 17 Konfesi Augsburg yang menolak spekulasi. (2) Nikolaj F.S. Grundtvig (1783-1872) seorang pendeta Denmark yang memimpin gerakan reformasi pada permulaan tahun 1830 di Skandinavia. Dia menunjukkan dasar roh kebebasan ekumenis Lutheranisme di dalam tradisi pengakuan para rasul untuk menyatukan Kekristenan dan budaya melalui pendidikan. (3) Hans Nielsen Hauge (1771-1824) seorang pemimpin kebangkitan di Norwegia. Dia merupakan seorang penganut konfesi Lutheran di dalam arti bahwa dia meyakini disiplin orang Kristen menjadi dasar pembedaan di antara hukum Taurat (penampakan dosa) dan anugerah (menyingkap keselamatan di dalam Kristus). (4) Pdt.Lars Levi Laestadius (1800-1861) dan pengkhotbah awam Carl Olof Rosenius (1816-1868) yang menjadi pemimpin kebangkitan di Swedia. Mereka menciptakan kebangunan keagamaan dengan pembaharuan moral dan misi di dalam dan ke luar. (5) Paavo Ruotsalainen (1777-1852) seorang pemimpin kebangkitan di Finlandia yang dikenal dengan “nabi dari padang gurun”. Khotbahnya tentang pertobatan dan kebutuhan akan doa diminati banyak orang baik imam maupun kaum awam.

Gereja Jerman mengaku dan Lutheran liberal mencoba bersatu melawan berbagai ancaman kesatuan dengan Reformed. Maka mereka mendirikan Allgemeine Evangelische-Lutherische Konferenz atau Konferensi Evangelikal Lutheran Umum tahun 1867 yang bertemu pada tahun 1868 di dalam sidang raya di Hannover. Isu utama yang dibahas ialah arti dari Konfesi Augsburg pasalal 7 dihubungkan pada kepemimpinan gereja.

Kedua, Misi ke Dalam. Melanjutkan perhatian pada praktik kehidupan Kristen maka diciptakanlah gerakan Misi ke Dalam (Inner Mission) di Jerman dan di Skandinavia. Gerakan ini pada dasarnya adalah sebagai tambahan pada gerakan “misi ke luar” yang bertugas untuk menyampaikan bimbingan Alkitab kepada sesama manusia, pelayanan diakonia kepada seluruh warga jemaat. Pendeta Lutheran dan tokoh-tokoh gerakan Misi ke Dalam yang sangat antusias dalam misi ini misalnya: (1) Pdt.John E.Oberlin (1740-1826) di Waldbach, Alasce, melakukan pekerjaan sosial dengan mendirikan sekolah, menyehatkan perbankan, dan peningkatan pertanian. (2) Pdt. John Falk (1768-1828) yang mengabdikan dirinya memelihara keluarga dan anak-anak yang membutuhkannya. Dia mendirikan bimbingan keluarga, persekutuan kecil bagi bimbingan keagamaan dan “rumah pemulihan” (Rettungshauser) dan yang paling terkenal adalah “Lutheran Court” (Lutherhof) di Weimar. (3) Theodor Fliedner (1800-1864) yang menganjurkan program anti kemiskinan, pembaharuan penjara, dan aktif melayani kaum perempuan yang bekerja di perindustrian. Dia juga mendirikan rumah sakit bagi orang-orang miskin dan mendirikan rumah diakones pertama di Kaiserswerth yang menjadi pusat pelatihan bagi gereja khususnya pendidikan dan pastoral konseling. (4) John H.Wichern (1808-1881) yang diasuh Pietisme dan Inner Mission memiliki teologi aksi sosial. Mulai terjun ke aksi sosial di Hamburg dengan mengumpulkan anak-anak dan tahun 1833 mendirikan pusat pendidikan bagi anak-anak muda penjahat yang dikenal sebagai “rumah cowboy” (Rauhes Haus). Tamatan dari pendidikan ini menjadi “saudara” yang pergi ke jalanan untuk menyelamatkan anak-anak lainnya dari kehidupan yang tercela dan misikin. (5) Pdt.Frederick Bodelschwingh (1831-1910). Dalam masa pelayanannya di daerah Dellwig an der Ruhr di wilayah orang miskin di Rheinland, dia kehilangan empat orang anaknya dalam masa dua minggu karena epidemi batuk. Peristiwa ini mengubah hidupnya. Tahun 1877 dia mendirikan rumah persaudaraan, yang menuntun anak-anak yang terlantar di jalanan dan tahun 1882 dia mendirikan “balai latihan kerja” (Arbeitskolonie) dekat Wilhelmsdorf di tempat orang-orang yang diluar kasta dan penduduk yang bermental sakit. “Kerja adalah amal” itulah motto hidupnya. Di samping misi ke dalam, dia juga melakukan misi ke luar dengan mendirikan Lembaga Misi bagi Jerman Afrika Timur (sekarang Tanzania). Pekerjaannya ini kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Bodelschwingh Jr. (1877-1946). (6) Johan Gottfried Herder (1744-1803) seorang tokoh gerakan misi ke dalam di Jerman yang menekankan “terang, hidup dan kasih” sebagai suara umum filosofi romantik. (7) Pdt.Vilhelm Beck (1829-1901) yang membantu pemerintah Denmark dalam misi ke dalam tahun 1861 dengan mendirikan tiga puluh misi ke dalam pada tahun 1872.  (8) Pdt.William A.Passavant (1821-1894), tokoh gerakan misi ke dalam di Austria tahun 1874 dengan berbagai macam lembaga termasuk rumah induk bagi diakones di Gallneukirchen dekat Linz.

Ketiga, Menuju pelembagaan di Amerika Utara. Pada tahun 1817, tapal batas Amerika Utara telah dibuka oleh transportasi yang baik dan penganiayaan yang memalukan pada penduduk asli Amerika yang disebut dengan Indian. Lutheran New York mendirikan Badan Misi ke Dalam tahun 1823 yang dipimpin oleh kepala Seminary Hartwick, Ernst L.Hazelius (1777-1853) pendiri Moravian. Tokoh yang menonjol dalam masa ini adalah Samuel S.Schmucker (1799-1873). Dia memiliki tiga cita-cita bagi Lutheranisme di Amerika Utara yaitu: (1) mendirikan sekolah seminary untuk mempersiapkan pendeta-pendeta yang berpendidikan; (2) mendirikan perguruan tinggi sebagai dasar bagi pengetahuan umum dan yang dikhususkan pada bidang filosofi dan teologi; dan (3) membangun komposisi teologi sistematik Lutheran dan dogmatika Lutheran. Namun Sinode umum hanya menyetujui dua hal yaitu dengan mendirikan Seminary Gettysburg tahun 1826 dan Perguruan Tinggi Gettysburg tahun 1832 yang keduanya berada di Pennsylvania.

Gritsch berpendapat bahwa motivasi kehadiran Lutheran di Dunia Baru dari Jerman dan Skandinavia adalah karena alasan politik, ekonomi, dan agama. Perluasan pelembagaan Lutheran sangat cepat di Amerika. Hal ini terlihat dari fakta bahwa paling sedikitnya enam puluh sinode diorganisasikan di antara tahun 1830 dan 1875. Lutheran Amerika Serikat juga mengutus para misionarisnya ke Kanada. Para misionaris juga mendirikan persekutuan di Ontario dan Nova Scotia. Pelembagaan Lutheranisme di Amerika Utara termasuk juga di dalamnya pendirian lembaga pendidikan khususnya seminary-seminary, perguruan tinggi dan universitas-universitas.

Keempat, Versi/sayap Missouri. Tahun 1839, tujuh ratus Lutheran Saxon memprotes melawan rasionalisme dan melakukan/memprakarsai perpindahan penduduk ke St.Louis (dan kota Perry), Missouri yang dipimpin oleh pendeta Dresden Martin Stephan. Tetapi pemalsuan dan kesalahan dana managemen menghancurkan koloni Lutheran. Pemimpin baru, Pdt.C.F.W.Walther (1811-1887) mendirikan dasar bagi sinode mendatang bagi “gereja yang benar” yang loyal kepada Konfesi Lutheran. Sebab sinode tersebut diorganisasikan empat badan yaitu: (1) Orang Saxon dari Missouri, (2) Para misionaris Lohe, (3) Wilhelm Sihler dan sahabatnya yang dikeluarkan dari sinode Ohio, dan (4) Frederick C.D.Wynecken dan koleganya yang dikeluarkan dari Sinode Umum. Mereka semua berkeinginan untuk melestarikan Lutheranisme dari Amerikanisasi. Dalam sebuah kesepakatan bersama tahun 1846, mereka menegaskan menerima Konfesi Lutheran “sebagai penjelasan yang  benar dan tidak menyimpang dan penampakan Firman Allah”.

Sinode baru ini berkeinginan sekali untuk mempropagandakan konfesi konservatif ini melalui tiga jurnal yaitu: Der Lutheraner, yang dipublikasikan pertama kali oleh Walther tahun 1844; Lehre und Wehre (Doktrin dan Pembelaan) tahun 1855; dan Lutheran Witness tahun 1882. Concordia Seminary menjadi pusat teologi yang dipimpin oleh Walther.

Namun kesatuan ini tidak bertahan lama sebab Lohe dan Walther memiliki perbedaan pandangan tentang tahbisan pendeta. Lohe berpendapat bahwa hanya pendeta yang dapat ditahbiskan sinode. Sementara Walther mengatakan bahwa penahbisan itu juga termasuk kepada pelayan sebagai lembaga ilahi. Perdebatan lain yang terjadi di antara Missouri dan Sinode Lutheran lainnya adalah berkenaan dengan predestinasi.

Kelima, Pemikiran sekolah-sekolah Teologi Eropa. Dalam bagian ini Gritsch memaparkan beberapa pemikiran teolog-teolog Eropa seperti: (1) Friedrich Schleiermacher (1768-1834) yang mencoba membalas rasionalisme filosofi Pencerahan dengan teologi yang didasarkan pada pengalaman iman. Pengalaman iman bukan semata-mata pengalaman perorangan, tetapi juga pengalaman persekutuan orang Kristen. Dari pengalaman seperti itulah rumusan-rumusan iman telah dan akan dirumuskan.  Schleiermacher yakin bahwa setiap orang adalah religius dan memiliki perasaan kebergantungan sama pada semua agama serta tujuan agama pada akhirnya adalah membawa manusia dalam hubungan yang harmonis dengan Allah.[23] Schleiermacher adalah teolog pertama yang membangkitkan pemikiran teologi Lutheran Jerman pada abad itu sebelum akhir Perang Dunia I tahun 1918. (2) Albrecht Ritschl (1822-1889) salah seorang murid Baur yang mengajar di Berlin. Menurutnya, Kekristenan berakar di dalam inkarnasi Allah di dalam Yesus dan di dalam dogma Trinitas. (3) Adolf von Harnack (1851-1930) seorang sejarawan dogma yang menetap di Tǜbingen dan mengajar di Berlin. Dia menunjukkan bahwa ide-ide Yunani mendominasi Kekristenan mula-mula dan bagaimana perhatian pergeseran dari pengajaran Yesus pada pribadi-Nya. Bagi Harnack ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam kebangunan Kekristenan berdasarkan tiga esensi pengajaran Kristus yaitu: a) pemerintahan Allah dan kedatangan-Nya, b) Allah Bapa dan nilai jiwa manusia yang tidak terbatas, dan c) kebenaran yang tertinggi dan perjanjian kasih. (4) David F. Strauss (1808-1874) seorang sejarawan yang paling radikal yang memprakarsai perdebatan panjang dengan penerbitan biografinya tentang Yesus. Dia membedakan antara apa yang dia sebut dengan Kristus iman dan Yesus sejarah.

Tokoh dan pemikir lain yang dicatat oleh Gritsch dalam bukunya ini adalah: Ludwig Feuerbach (1804-1872), John K.von Hofmann (1810-1877), Gottfried Thomasius (1802-1875), Isac A.Dorner (1809-1884), Wilhelm Herrmann (1846-1922), Hans L.Martensen (1808-1884), Søren Kierkegaard (1813-1855), Henrik Schartau (1757-1825), dan Wilhelm Dilthey (1833-1911).

Keenam, Di luar Eropa dan Amerika Utara. Gerakan kebangunan dan Misi ke Dalam di Eropa seperti migrasi orang Lutheran ke Amerika Utara, menguatkan misi global pertama yang dipelopori oleh Pietis. Pekerjaan misionaris ini menjadi bagian program global yang digaungkan William Carey (1761-1834), seorang tukang sepatu Baptis Inggris dalam sebuah khotbahnya tahun 1792 atas Yesaya 54:2-3. Abad kesembilan belas menjadi abad misi. Anglikan, Methodis, dan Baptis mengambil bagian dalam misi ini. Berbagai lembaga misi bangsa dan wilayah mendukung dan mempropaganda untuk menginjili kepada orang kafir yang kemudian dikenal sebagai negara berkembang (di luar Amerika Utara dan Eropa).

Gereja-gereja Lutheran Jerman pertama mendukung Lembaga Reformed Basel di Switzerland (1819). Berlin menjadi pusat kegiatan bagi misi asing tahun 1824 yang didukung oleh gereja. Pdt.John Gossner (1773-1858) mentransformasikan usaha ini ke dalam Lembaga Gossner tahun 1829.[24] Lembaga Barmen-Rhenish (1829) memulai Jerman mendukung pekerjaan gereja di Inggris dan di London.

Setiap Gereja Lutheran di kota Skandinavia memiliki lembaga misionarisnya sendiri yang bekerja di daerah jajahan Skandinavia seperti: Badan Misi Denmark (didirikan tahun 1821), Badan Misi Norwegia (1824), Badan Misi Swedia (1835), dan Badan Misi Finlandia (1859).

Lebih jauh Gritsch memaparkan kegiatan-kegiatan misi ke luar ini di berbagai benua misalnya di Asia dan Pasifik, di Afrika, dan di Amerika Utara.

Ketujuh, Akibat Perang Dunia. Dalam bagian ini Gritsch memaparkan pengaruh Perang Dunia bagi perkembangan Lutheranisme di dunia. Perang Dunia I (1914-1918) memberikan konsekuensi tragis bagi Lutheranisme. Gereja Luther Jerman secara total tertutup dari Lutheran lainnya, bahkan dari orang Kristen. Di Amerika Utara, orang Amerika lainnya berpandangan Lutheran sebagai musuh. Misi Lutheran di seluruh dunia terhambat tetapi dilanjutkan sebagai misi panitia asuhan yang dikerjakan oleh para misionaris Protestan dari Amerika Serikat, Kanada, Austria dan Swedia.

Dua simbol peristiwa kegagalan akibat Perang Dunia I ini yaitu: Pertama, dua pemimpin Kristen dipisahkan oleh perang, Pdt.Frederick Sigmund-Schultze dari Gereja Lutheran Jerman Bersatu dan Quaker Henry Hodkin Inggris, merencanakan menciptakan sebuah kesaksian melalui formasi Perjanjian Rekonsiliasi Internasional. Hal ini tidak pernah terealisasi karena kekurangtertarikan orang Kristen Protestan di Jerman dan Inggris. Kedua, hampir dalam waktu yang bersamaan, pendeta tentara Lutheran di dewan Prussia berkhotbah pada ibadah bagi delegasi entusiastik tentang perang atas pesan alkitabiah “Jika Allah di pihak kita, siapa lawan kita?” (Roma 8:31).

2.8    UPAYA-UPAYA BARU[25]

Bagian terakhir buku Gritsch ini membahas tentang upaya-upaya baru bagi Lutheranisme dan implikasinya di dalam perkembangan dunia. Perjuangan Lutheranisme mengarah ke dunia baru dan harapan baru. Karena itu Gritsch membahas topik ini dengan berbagai topik yaitu:

Pertama, Para Penggagas (Pioneering) Gerakan Ekumenis. Setelah Perang Dunia I, perasaan kesatuan kemanusiaan mulai mempengaruhi kesatuan Kekristenan. Usaha perdamaian dunia dan internasional mulai dikerjakan. Banyak organisasi dunia internasional didirikan untuk mempromosikan perdamaian dunia. Mahasiswa dinasihati untuk berdamai. Gerakan Mahasiswa Kristen tahun 1895 menjadi pelopor utama bagi kesatuan Kekristenan dan misi sebagai dasar perdamaian. Pemimpin Kristen bergabung dalam jalan ini. Misi Kristen menderita kemiskinan kesatuan Kekristenan. Uskup Uppsala Gereja Lutheran Swedia, Nathan Soderblom (1866-1931) merupakan pemimpin pertama mentransformasi kesatuan Kekristenan dalam sebuah program nyata. Soderblom membuat proposal pertamanya bagi kesatuan orang Kristen tahun 1908 selama masa kunjungan Raja Edward VII Inggris. Soderblom terus berusaha untuk mewujudkan kesatuan ini melalui Aliansi Gereja-gereja Dunia untuk mempromosikan persaudaraan internasional. Soderblom membuat sebuah “Manifesto” tahun 1917 yang ditandatanganinya. Soderblom melanjutkan mengundang konferensi internasional termasuk Gereja Ortodox Yunani dan Gereja-gereja Katolik Roma. Banyak gereja Ortodox setuju berpartisipasi tetapi Vatikan di Roma mundur dari pertemuan. Tetapi Soderblom mampu mengumpulkan enam puluh anggota Badan Aliansi Internasional Dunia dari empat belas negara di Oud Wassenaar dekat The Hague (=Den Haag), Belanda tahun 1919.

Hingga Perang Dunia II (1939-1945), Gereja Lutheran melanjutkan untuk mendukung gerakan ekumenis ini. Perkembangan yang terlihat dalam Konferensi Iman dan Tata Gereja tahun 1937, delegasi Lutheran semakin bertambah dari luar Eropa (Amerika Utara, India). Karena gereja-gereja Lutheran sudah semakin banyak maka timbullah kerinduan untuk membentuk sebuah kesatuan yang khusus bagi orang-orang Lutheran yang dilaksanakan di Eisenach, Jerman tahun 1923 dengan pertemuan Konfensi Lutheran Se-Dunia. Inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Federasi Lutheran Se-Dunia tahun 1947. Dan masih banyak lagi kesatuan gereja-gereja Lutheran di berbagai negara seperti di Amerika Utara, Washington, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Pergerakan ini terus diperjuangkan hingga pada masa Dietrich Bonhoeffer (1906-1945).

Kedua, Perjuangan dengan Tyranny[26]. Gerakan ekumenis terputus akibat Perang Dunia II (1939-1945) dan akibat dasar ideologi perjuangan Fasisme di Italia yang dipimpin Benito Musolini (1883-1945), Sosialisme Nasional Jerman yang dimpimpin Adolf Hitler dan komunis Rusia, Joseph Stalin (1879-1953). Lutheranis menghadapi situasi politik baru di Jerman setelah tahun 1918, ketika teritorial kerajaan kehilangan kuasa vetonya atas gereja sebagai “uskup tertinggi” (summi episcopi).

Lebih jauh dalam ulasan ini Gritsch menjelaskan panjang lebar perjuangan gereja Lutheran di Jerman, Skandinavia, Norwegia dan di Hungaria dengan situasi negara yang dikuasai oleh Nazi dan komunis Rusia. Ketakutan atas Nazisme Jerman dan komunis Rusia menyapu seperti awan hitam atas Lutheranisme di Eropa.

Ketiga, Kecenderungan Teologi. Pemerintahan Nazisme di Jerman membuat traumatik bagi teologi Lutheran. Konfesi teolog yang benar milik Konfesi Gereja di dasarkan pada Konfesi Barmen tahun 1934. Walaupun banyak pengajaran teologi diajarkan uskup, pendeta, dan jemaat untuk memelihara iman melalui konferensi, buku-buku, dan hubungan keluarga. Teolog yang memiliki pengaruh selama dan setelah Perang Dunia II adalah: (1) Karl Barth (1886-1968)[27] seorang pendeta Reformed Swiss. (2) Rudolf Bultmann (1884-1876)[28] yang membedakan antara “eksistensi” (kenyataan) dan “mitos” di dalam Perjanjian Baru. (3) Paul Tillich (1886-1965)[29] yang membahas pengertian keagamaan, khususnya hubungan Kekristenan pada pluralisme keagamaan. Teologi Kristen harus memiliki dasar filosofi agar keagamaan itu berada pada posisi kebenaran. Baginya, iman adalah sebagai “keprihatinan yang mahaluhur” yang membangun pertanyaan eksistensi terakhir. Masalah ini dinamakan dengan “korelasi” untuk menjawab pertanyaan khusus yang didasarkan pada Allah, “dasar dari segala sesuatu”. Artinya bahwa antara dua hal ada hubungan timbal-balik. Hubungan Allah dan manusia saling bergantungan: Allah untuk manusia dan manusia untuk Allah.

Keempat, Lutheran World Federation (LWF). Ketika Konvensi Lutheran Se-Dunia pertama kali bertemu di Eisenach tahun 1923, maka harapan akan kesatuan Lutheran akan bertumbuh. Namun Perang Dunia II menghancurkan usaha kesatuan global ini. Setelah Perang Dunia II, tapi sebelum pendirian Dewan Gereja-gereja Se-Dunia tahun 1948, ada empat pilar yang menjadi perhatian Lutheran bagi organisasi Federasi Lutheran Se-Dunia ini di Geneva yaitu: (1) tolong-menolong dalam kebutuhan, (2) berinisiatif bagi misi umum, (3) usaha bersama di dalam teologi dan (4) merespons tantangan ekumenis. Gereja Lutheran German, Skandinavia dan Amerika Serikat menjadi penggerak utama melahirkan pertemuan federasi pertama kali di Lund, Sweden, tahun 1947. Sekretaris eksekutif pertama LWF (kemudian sekretaris jenderal) adalah, Sylvester Michelfelder, seorang pendeta Gereja Lutheran Amerika. Konstitusi LWF tidak begitu menekankan kesatuan doktrinal tetapi menekankan kesatuan itu sebagai “persahabatan bebas gereja-gereja Lutheran” yang tidak mengintervensi otonomi gereja masing-masing.

Gritsch dalam bahasannya ini menyebutkan lebih dalam lagi apa yang terjadi dalam tubuh LWF itu sendiri, baik itu pergumulan mengenai integritas pengakuan gereja Lutheran, persoalan tindakan dan perilaku anggota gereja yang tinggal di negara-negara komunis, proses penerimaan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menjadi anggota LWF tahun 1952 dengan menerima pengakuan iman HKBP tahun 1951, hingga kerjasama yang dibangun LWF dengan Dewan Gereja-gereja se-Dunia sebagai rasa pertanggungjawaban LWF atas persoalan dunia. LWF juga bergabung dan memperhatikan persoalan hak azasi manusia, persoalan politik di Amerika Latin dan lain sebagainya.

Kelima, Gerakan Dialog Ekumenis. Lutheranisme abad enambelas membangun norma-norma ekumenis liberal bagi dialog untuk menjangkau kesatuan Kristen kembali. Gereja Katolik Roma, Persekutuan Reformed (Zwinglian-Calvinis), dan Gereja Orthodok Timur menjadi pola dalam berdialog. Philipp Melanchthon pemimpin penganjur gerakan ekumenis Lutheran yang memformulasikan kondisi bagi dialog di dalam pasal 7 Konfesi Augsburg yakni untuk menyetujui firman dan sakramen. Tetapi tidak ada persetujuan yang mungkin terjadi pada abad keenambelas. Tim Lutheran dan Katolik mencoba sekuat tenaga di Regensburg tahun 1541 tetapi itu pun gagal. Tidak ada lagi dialog yang dilaksanakan hingga akhir masa Vatikan II tahun 1965 di Baltimore. Banyak usaha Lutheran-Reformed untuk mengatasi permasalahan Perjamuan Kudus, itu pun gagal.

Namun dalam perkembangan selanjutnya pintu dialog pun mulai terbuka. Masing-masing organisasi Gereja-gereja nasional dan LWF telah menjadi mitra kerja (partner) di dalam gerakan dialog ekumenis pada abad keduapuluh dengan kebangkitan gerakan ekumenisme. Dialog yang dibangun itu pun bermacam-macam. Ada tingkatan dialog yang bilateral (dengan dua mitra) dan ada yang multilateral (banyak mitra). Beberapa dialog internasional yang disponsori oleh LWF adalah: (1) Dialog Gereja Lutheran dengan Gereja Katolik Roma, (2) Dialog Gereja Lutheran dengan Gereja Reformed (Zwinglian dan Calvinis), (3) dialog Gereja Lutheran dengan Gereja Anglikan, (4) dialog Gereja Lutheran dengan Gereja Ortodox, (5) dialog Gereja Lutheran dengan Denominasi lainnya.

Keenam, Percaturan (Konstelasi) Global. Lutheran dapat ditemukan hampir di seluruh dunia. Jumlahnya sekitar 64 juta orang yang berada di Eropa (37 juta), Afrika (10,5 juta), Etiopia (3,3 juta), Tanzania (2,5 juta), dan di daerah lainnya.[30] Pemimpin yang terkenal di dalam organisasi ini adalah: Josiah Kibira (1925-1988), presiden LWF dari tahun 177 hingga 1984.

Lebih lanjut uraian Gritsch ini memaparkan keadaan dan pergumulan gereja-gereja Lutheran di bebagai belahan bumi ini seperti di Afrika, di Eropa, di Asia, di Asia Timur Jauh, di Amerika Utara. Pada bagian akhir bahasan ini Gritsch menjelaskan bagaimana status dan kedudukan Gereja Lutheran Missouri yang tidak mau bergabung dengan LWF karena perbedaan pemahaman doktrin tentang inspirasi Alkitab.

Ketujuh, Konfesi dan Budaya. Lutheranisme mulai sebagai gerakan pembaharuan di dalam Gereja Katolik Roma. Ketika paus dan kaisar mencoba membasmi gerakan pembaharuan melalui gerakan pengucilan dan pengeluaran edik paus, Lutheranisme melakukan pembaharuan baru. Konfesi Augsburg tahun 1530 bukan hanya merupakan pernyataan doktrinal tetapi juga merupakan uraian dari apa yang dipikirkan dan dilakukan di dalam penguasaan teritorial. Konfesi ini pertama kali mendaftarkan “Pasal Iman” dan kemudian “Pasal yang membeberkan penurunan moral yang telah diperbaiki”.

Lutheranisme memahami dirinya sendiri menjadi pembela kemurnian katolik dan “tradisi manusia” ekumenis yang didasarkan pada Alkitab dan persetujuan dengan Bapa-bapa Gereja kuno dari Gereja Katolik Roma sebelah Barat sama seperti Ambrosius dan Augustinus. Lutheranisme menganggap bahwa setiap orang “tradisi manusia” Kristen tidak identik dengan “satu, Gereja Kristen yang kudus”. Di dalam kepelbagaian ini, kesatuan gereja dilihat di dalam persekutuan firman dan sakramen.

Reformasi bukan skisma pertama yang dihubungkan dengan kekuatan budaya. Ada tiga skisma yang terjadi di dalam Kristendom sebelum Reformasi terjadi. Pertama, Orang Kafir dan Orang Kristen Yahudi menghancurkan kesatuan mereka atas permasalahan sunat dan makanan. Kedua, skisma atas doktrin keilahian Kristus pada abad keempat di Mesir. Arian menolak keilahian Kristus dan memaksa gereja berdebat di dalam hal doktrin Tritunggal. Dan ketiga, skisma besar antara Gereja Timur dan Gereja Barat tahun 1054 di mana kedua kubu saling menghukum satu dengan lainnya.

2.8    KESIMPULAN: BAGI LUTHER?[31]

Pada bagian akhir bukunya ini Gritsch mencoba membuat kesimpulannya yang khusus ditujukan kepada Martin Luther atau yang lain karena masih merupakan sebuah pertanyaan.

Dalam kesimpulan akhirnya ini Gritsch berpendapat bahwa Lutheranisme hanya mencoba untuk menstir di pertengahan antara autoritarianisme dan anarkhisme dan kemudian memberitakan Injil dan melaksanakan sakramen sebagai jaminan melawan ketakutan. Dan yang paling berharga dari kesimpulannya adalah bahwa Luther merupakan seorang tiang penunjuk jalan yang terpandang di atas jalan ramai tradisi Kristen. Martin Luther tidak boleh diabaikan – paling tidak oleh orang Lutheran itu sendiri.

Sebagai pelengkap buku ini Gritsch menambahkan kronologi peristiwa yang terjadi di dalam perjalanan sejarah Lutheranisme di dunia ini sejak hari lahirnya Martin Luther hingga tahun 2000. Kronologi ini juga sekaligus mencantumkan kronologi yang terjadi di dunia dengan berbarengan apa yang terjadi pada masa Lutheranisme itu sendiri.[32]

3.      TANGGAPAN HISTORIS

A.     ISI BUKU

Berdasarkan apa yang dikeluhkan oleh penulis buku ini pada kata sambutannya bahwa sangat jarang ditemukan sebuah buku yang memaparkan secara umum sejarah Lutheranisme, inilah yang mendorong Gritsch untuk menulis buku ini. Secara umum harapannya itu termaktub dalam buku ini. Dengan membaca buku ini maka kita akan tertolong memahami gerakan Lutheranisme sejak awal hingga abad kedua puluh satu, walaupun harus diakui bahwa pembahasan topik demi topik masih merupakan pembahasan umum.

Memang banyak buku-buku yang membahas sejarah Lutheranisme, namun pembahsan mereka hanya difokuskan pada salah satu bagian daerah tertentu, misalnya Lutheranisme di Amerika Utara, Lutheranisme di Jerman dan lain sebagainya. Namun dengan membaca buku ini,  kita akan melihat benang merah gerakan Lutheranisme di seluruh dunia ini, baik yang ada di Eropa, maupun di Amerika Utara, Asia dan Afrika, dan daerah-daerah lainnya di dunia ini.

B.     REFLEKSI

Setelah membaca buku ini, maka timbul dalam benak saya bahwa: pertama, perpecahan di dalam gereja Lutheran sejak dulu selalu diakibatkan oleh persoalan doktrin dan ajaran yang dipahami berbeda, pemahaman hubungan Gereja dan Negara dan Tata Gereja yang berbeda-beda di kalangan Lutheranisme itu sendiri. Berbeda dengan situasi Gereja Lutheran di Indonesia, perpecahan yang terjadi di Gereja bukan karena pemahaman akan doktrin yang berbeda, melainkan karena persoalan pemimpin organisasi gereja itu sendiri.

Kedua, sejak dulu hingga kini sangat sulit mempersatukan orang Kristen. Perseteruan antara Gereja Katolik Roma dengan Protestan dipelihara ratusan tahun. Untunglah perseteruan tersebut sudah diakhiri dengan ditandatanganinya Joint Declaration On the Doctrine of Justification: The Lutheran World Federation and The Roman Catholic Church yang dirayakan pada 31 Oktober 1999 di Augsburg.[33] Jika Lutheran dan Katolik sudah bisa membuat sebuah persetujuan bersama, mengapa gereja-gereja yang sealiran dengan Lutheranisme tidak mengikuti jejak ini? Misalnya di Indonesia sendiri, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam cita-cita luhurnya untuk mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa (GKYE) di Indonesia.[34] Namun apa yang terjadi? Malahan yang terjadi adalah krisis (kepemimpinan) gereja-gereja Protestan. Kemudian gereja-gereja yang sealiran juga semakin semangat membentuk kesatuan-kesatuan mereka sendiri, misalnya: Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-gereja Lutheran Jakarta[35],  dan lain-lain.

Ketiga, warna teologi Lutheran tidak sama di seluruh dunia. Mengapa? Sebab banyak gereja yang mengaku anggota LWF namun dalam ibadah, tata gereja dan peraturan lainnya tidak seutuhnya murni didasarkan pada ajaran dan tata ibadah Lutheran murni. Misalnya, Gereja-gereja Lutheran yang ada di Indonesia pada umumnya tidak murni memakai tata ibadah Lutheran.

Keempat, sebenarnya harus diakui bahwa perkembangan Lutheranisme di seluruh dunia tidak begitu berkembang pesat, bahkan yang terjadi sebaliknya semakin menurun. Berbeda dengan Gereja Katolik, dari tahun ke tahun perkembangan gereja ini terlihat statis dan bertahan. Data statistik Kristen di dunia menunjukkan bahwa jumlah Kristen keseluruhannya hampir mencapai 2,1 milyard dari 6,6 milyard penduduk dunia. Dan dari 2,1 milyard tersebut, 1,1 milyard adalah Katolik. Dari statistik ini terlihat bahwa, sejak Reformasi Luther 1517 hingga kini, Lutheranisme tidak bisa mengimbangi jumlah Katolik itu sendiri. Itu berarti pengaruh ajaran Luther terhadap Katolik tidak begitu mempengaruhi jumlah anggota Katolik itu sendiri. Memang harus diakui bahwa, pengaruh Luther ini tidak hanya dirasakan oleh pihak Lutheranisme itu saja bahkan sebenarnya pengaruh Luther itu sangat besar bagi pembaharuan Katolik itu sendiri dari dalam.

4.      KEPUSTAKAAN

Aland, Curt A History Of Christianity, Philadelphia: Fortress Press, Vol.II, 1986.

Aritonang, Jan S. Berbagai Aliran Di Dalam dan Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.

Berkhof, H.& Enklaar, I.H.Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992.

Buku Konkord, (terj. )  P.Siantar, Lutheran Literatur Team, 1986.

Curtis dkk, A.Kenneth 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Gritsch, Eric W. A History of Lutheranism, Minneapolis: Forteis Press, 2002.

Hale, Leonard Jujur Terhadap Pietisme: Menilai kembali Reputasi Pietisme pada Gereja-gereja Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

Hadiwijono, Harun Teologi Reformatoris Abad Ke-20, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

Joint Declaration On the Doctrine of Justification: The Lutheran World Federation and The Roman Catholic Church, Grand Rapids, Michigan / Cambridge, U.K.: William B.Eerdmas Publishing Company, 2000.

Katekismus Besar: Martin Luther, (terj. Anwar Tjen),  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Katekhismus DR.Martin Luther, (terj. John B.Pasaribu),  Jakarta: Yayasan Borbor, 2004.

  1. Kooiman, W.J.        Doktor Dalam Kitab Suci Reformator Gereja: MARTIN  LUTHER, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

Kristiyanto, Eddy Reformasi dari Dalam: Sejarah Gereja Zaman Modern, Kanisius: Yogyakarta, 2004.

Lane, Tony  Runtut Pijar, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Rumus Konkord, (terj. W.Sihite,dkk)  P.Siantar, Lembaga Komunikasi Sejahtera, ttp.

Simorangkir, MSE. Ajaran Dua Kerajaan Luther, Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 2008.

Sumampow, dkk, Jeirry Krisis Gereja Protestan?, Jakarta: Keluarga Alumni STT Jakarta, 2004.

The Book of Concord: The Confession of the Evangelical Lutheran Church, Philadelphia: Fortress Press, 1976.

Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.


[1] Eric W.Gritsch, A History of Lutheranism, (Minneapolis: Forteis Press, 2002), hlm.xi-xii.

[2] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.1-35.

[3] Menurut Dr.Jan S.Aritonang dalam bukunya, Berbagai Aliran Di Dalam dan Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), hlm. 24-26, latar belakang yang memicunya gerakan pembaruan Luther ini menyangkut empat hal yaitu: (1) Bidang kerohanian atau kegerejaan; (2) bidang sosial-politik; (3) bidang kebudayaan; dan (4) bidang ekonomi. Sedangkan Kurt Aland dalam bukunya  A History of Christianity, (Philadelphia: Fortress Press, Vol.II, 1986), hlm.5-12, mengatakan bahwa motif-motif yang menyebabkan terjadinya Reformasi adalah (a) karena kritik terhadap Gereja Katolik; (b) usaha untuk membangun kesadaran nasionalisme; (c) faktor politik; dan (d) karena adanya penurunan moralitas. Demikian juga Eddy Kristiyanto, Reformasi dari Dalam: Sejarah Gereja Zaman Modern, (Kanisius: Yogyakarta, 2004), hlm. 42-51, mengatakan bahwa alasan-alasan munculnya Reformasi adalah: (a) nasionalisme dan bangkitnya negara-negara nasional, (b) ketidakpuasan dan kekacauan di bidang ekonomi, (c) kelemahan kepausan, (d) keadaan GKR yang sangat memprihatinkan.

[4] Indulgensia adalah penghapusan (sepenuhnya atau sebagian) dari penghukuman sementara yang masih ada bagi dosa-dosa setelah kesalahan seseorang dihapuskan melalui absolusi (pernyataan oleh imam bahwa dosa seseorang telah dihapuskan). Luther menganggap penjualan indulgensia ini sebagai penyelewengan yang dapat menyesatkan umat sehingga mereka hanya mengandalkan indulgensia itu saja dan mengabaikan pengakuan dosa dan pertobatan sejati.

[5] Masa sebelum Luther disebut dengan “the late Middle Ages” (masa akhir Abad Pertengahan) yang ditandai dengan sebuah penolakan yang radikal nilai-nilai tradisi yang dihormati masyarakat Kristen.

[6] Melalui tujuh sakramen: Baptisan, Perjamuan Kudus, Konfrimasi, Pernikahan, Pengakuan, pemberian minyak suci dan juga penahbisan.

[7] Humanisme Kristen ini dipelopori oleh Humanis Jerman John Reuchlin dan Humanis Belanda Erasmus dari Rotterdam.

[8] Tokoh teologi mistik ini misalnya: John Eckhart dan Bretheren Common Life, yang mengajarkan kehidupan batin sebagai sebuah “pemujaan baru” (devotio moderna).

[9] Bnd. F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 168-172; A.Kenneth Curtis dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 75-77; H.Berkhof & I.H.Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), hlm. 120-126; Tony Lane, Runtut Pijar, (terj.) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm, 130.

[10] Uraian mengenai hal ini dapat dibaca lebih mendalam dalam Jan S.Aritonang, Berbagai Aliran …, hlm. 31; Kurt Aland dalam bukunya  A History of …, hlm.75-94; H.Berkhof & I.H.Enklaar, Sejarah …, hlm. 131-132; Tony Lane, Runtut …, hlm, 132-133; Eddy Kristiyanto, Reformasi dari …, hlm. 60-61

[11] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.36-69.

[12] Bnd. Jan S.Aritonang, Berbagai Aliran …, hlm. 33.

[13] Bnd. Jan S.Aritonang, Berbagai Aliran …, hlm. 35.

[14] Luther sangat berdukacita setelah anak kesayangannya diambil darinya. Selama hidupnya, anak itu tidak pernah membuat dia marah. Suasana murung dan berduka cita segera hilang dari Luther sebab ia terlalu optimis bahwa hidupnya ada di dalam tangan Allah. (W.J.Kooiman, Doktor Dalam Kitab Suci Reformator Gereja: MARTIN  LUTHER, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), cet.6, hlm. 207-208).

[15] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.70-108.

[16] Uraian lebih mendalam tentang topik ini dapat dilihat dalam Katekismus Besar: Martin Luther, (terj. Anwar Tjen), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996); bnd. Katekhismus DR.Martin Luther, (terj. John B.Pasaribu), (Jakarta: Yayasan Borbor, 2004), hlm. 1-22.

[17] Uraian lebih lengkap dapat dilihat dalam, Rumus Konkord, (terj. W.Sihite,dkk) (P.Siantar, Lembaga Komunikasi Sejahtera, ttp).

[18] Uraian lebih lengkap dapat dilihat dalam, The Book of Concord: The Confession of the Evangelical Lutheran Church, (Philadelphia: Fortress Press, 1976) dan sebagian dalam terjemahan Indonesia, Buku Konkord, (terj. ) (P.Siantar, Lutheran Literatur Team, 1986).

[19] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.109-140.

[20] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.141-178; uraian yang dalam tentang gerakan Pietisme ini dapat dibaca dalam buku Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme: Menilai kembali Reputasi Pietisme pada Gereja-gereja Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993); H.Berkhof & I.H.Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), hlm.244-255. Sekitar tahun 1677 di Darmstadt, istilah Pietisme muncul dan menjadi populer di kalangan gereja-gereja Lutheran. Kata pietisme dipergunakan sebagai ejekan terhadap kelompok-kelompok orang yang hidup saleh (Collegia Pietatis), yang pada waktu tumbuh menjamur dalam gereja-gereja Lutheran. Menurut penilaian pada waktu itu, kesalehan-kesalehan mereka terlalu berlebihan dan dituduh Farisi oleh masyarakat. Tetapi lama kelamaan konotasi negatif dari kata itu mulai hilang, bahkan Pietisme lalu menjadi tanda pengenal atau nama aliran itu.

[21] Leonard Hale, Jujur Terhadap …, hlm. 28.

[22] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.179-216.

[23] Bnd. F.D.Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 222.

[24] Dan lembaga ini mengutus Ottow dan Geinsler ke Papua tahun 1815.

[25] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.217-256.

[26] Gereja Lutheran tidak mendukung Nazi/Hitler pada masa ini, walaupun ada tuduhan bahwa seolah-olah ajaran Luther khususnya Ajaran Dua Kerajaan-nya menjadi landasan keberpihakan greja kepada Hitler. Gereja memang menyambut Hitler pada mulanya karena Hitler berjanji akan menyelamatkan Eropa dari ateis-komunis. Tetapi tidak semua gereja mendukung Hitler. Misalnya, Martin Niemoller, memimpin perlawanan gereja terhadap Hitler dengan membentuk kelompok Gereja Yang Mengaku dan berperan aktif menyusun Deklarasi Barmen (Lih. MSE.Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther, (Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 2008), hlm. 3.

[27] Bnd. Harun Hadiwijono, Teologi Reformatoris Abad Ke-20, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 24-35.

[28] Ibid., hlm. 60-71.

[29] Ibid., hlm. 84-95

[30] LWF sekarang terdiri dari 140 anggota gereja-gereja di 78 negara di seluruh dunia dengan jumlah anggotanya 68,3 juta (lih. Lutheran World Information (LWI) pada www.lutheranworld.org).

[31] Eric W.Gritsch, A History of …, hlm.257-260.

[32] Pada tabel kronologis tersebut tidak disebutkan tahun dari “Joint Declaration on the Doctrine of Justification (1995). Yang disebutkan/dicatat adalah “celeberation” dari deklarasi tersebut pada tahun 1999.

[33] Lih. Joint Declaration On the Doctrine of Justification: The Lutheran World Federation and The Roman Catholic Church, (Grand Rapids, Michigan / Cambridge, U.K.: William B.Eerdmas Publishing Company, 2000), hl.241.

[34] Pergumulan ini disampaikan oleh Pdt.Dr.Natan Setia Budi dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Krisis (Kepemimpinan) Gereja-gereja Protestan” dalam Jeirry Sumampow, dkk, Krisis Gereja Protestan?, (Jakarta: Keluarga Alumni STT Jakarta, 2004), hlm.145-153.

[35] Persekutuan Gereja-gereja Lutheran Jakarta ini dideklarasikan tanggal 20 April 2008 oleh Gereja-gereja Lutheran Se-Jakarta di GKPA Penjernihan, Jakarta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: