Posted by: ramlyharahap | May 26, 2009

LAPORAN BUKU: SEJARAH PEMIKIRAN REFORMASI by ALISTER E.McGRATH (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002)

1.      PENDAHULUAN

A.     KATA PENGANTAR[1]

Reformasi Eropa pada abad ke-16 adalah salah satu bidang paling menarik untuk dipelajari yang dapat digarap oleh sejarawan. Reformasi itu mencakup sejumlah bidang – baik reformasi moral maupun reformasi struktur gereja dan masyarakat, pembaruan spiritualitas kekristenan, dan pembaruan atas dasar ajaran Kristen.

Buku ini ditulis dalam keyakinan bahwa terdapat banyak orang yang tidak akan puas dengan keterlibatan yang dangkal dengan Reformasi dan mengharapkan untuk berhubungan dengannya secara serius – tetapi tidak berani melakukannya karena kesulitan-kesulitan besar yang ditemui dalam usaha percobaannya untuk memahami ide-idenya. Mempelajari Reformasi tanpa mempertimbangkan ide-ide keagamaan yang memberikan “bahan bakar” untuk perkembangannya dapat disamakan dengan mempelajari Revolusi Rusia tanpa merujuk Marxisme.

Secara ringkas sebenarnya McGrath memberikan tiga kata tujuan dari buku ini yaitu: “memperkenalkan”, “menjelaskan” dan “mengkontekstualisasikan”. Buku ini bertujuan: pertama, memperkenalkan ide-ide atau paham-paham yang penting dari Reformasi Eropa selama parohan pertama abad keenam belas. Kedua, menjelaskan ide-ide atau paham-paham tentang teologi Kristen yang melandasi Reformasi seperti “pembenaran oleh iman” dan “predestinasi”. Ketiga, mengkontekstualisasikan ide-ide atau paham-paham Reformasi dengan menempatkan ide-ide atau paham-paham tersebut dalam konteks intelektual, sosial, dan politik yang sebenarnya seperti humanisme dan skolastik, ideologi-ideologi keagamaan alternatif dari Reformasi radikal dan Katolik Roma dan realitas-realitas politik dan sosial dari kota-kota kerajaan pada awal abad keenam belas.[2]

Seluruh pemikiran McGrath ini diulasnya dalam sebelas bab seperti yang diuraikan di dalam laporan buku ini.

2.      ISI BUKU

2.1    Bab I: PENDAHULUAN[3]

Menurut McGrath, para mahasiswa secara umum mendekati Reformasi dengan pola pikir yang hampir sama, mereka bagaikan pelancong-pelancong pada Abad   Pertengahan yang mendekati hutan lebat yang gelap di bagian selatan Jerman. Mereka bagaikan penjelajah yang berpetualang masuk ke daerah yang baru, tidak pasti apa yang akan mereka temukan. Bahkan lebih dalam McGrath mengatakan bahwa para mahasiswa kadang-kadang tergoda untuk mengabaikan ide-ide dan paham-paham dari Reformasi supaya mereka dapat memusatkan perhatian pada aspek-aspek sosial dan politik, sehingga konsekuensinya mereka akan gagal menangkap esensi dari Reformasi sebagai suatu fenomena sejarah dan gagal memahami mengapa Reformasi merupakan titik rujukan bagi banyak perdebatan di dalam dunia keagamaan masa kini dan di bidang lain.

Bab pendahuluan ini bertujuan untuk berkenalan dengan masalah-masalah pengantar supaya dapat mempersiapkan landasan untuk diskusi mengenai pemikiran dari Reformasi dalam bab-bab selanjutnya. Bab I ini diuraikan McGrath dalam enam pokok pikiran yaitu:

Pertama, Jeritan untuk pembaharuan. Menurut McGrath, istilah Reformasi secara langsung memberikan kesan bahwa sesuatu, yaitu kekristenan Eropa Barat, sedang diperbarui. Artinya istilah Reformasi secara umum diterima sebagai sebutan yang sesuai untuk gerakan kekristenan Eropa Barat, karena gerakan ini dihubungkan dengan pengakuan akan kebutuhan untuk pemeriksaan yang mendalam atas lembaga-lembaga, praktik-praktik dan paham-paham dari gereja Barat. Sehingga istilah Reformasi ini berbeda dengan gerekan-gerakan yang ada dalam sejarah gereja lainnya.

McGrath membuktikannya bahwa pada awal abad ke-16 tampak jelas bahwa gereja di Eropa Barat berada dalam keadaan yang sangat memerlukan pembaruan. Jeritan untuk “pembaruan yang menyeluruh” meringkaskan baik hakikat dari krisis itu maupun penyelesaian yang dirasakannya. Tata gereja yang resmi benar-benar membutuhkan pembongkaran yang menyeluruh dan birokrasi kegerejaan telah menjadi sangat tidak efisien dan korup. Moral para rohaniwan sering tampak lemah dan menjadi sumber skandal bagi jemaat mereka. Sebagian besar jabatan kegerejaan yang tinggi diperoleh melalui cara-cara yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Umumnya didasarkan atas hubungan keluarga, status politik atau status keuangan dari para kandidat dan bukan atas kualitas kerohaniaan mereka. Machiavelli memandang moral yang rendah dari zaman Renaisans Italia sebagai contoh jelek dari gereja dan kaum rohaniwannya. Bagi pengamat-pengamat yang kritis seperti Martin Luther dari Wittenberg dan Yohanes Calvin dari Jenewa, gereja telah kehilangan visi mengenai warisan intelektualnya. Para reformator itu mengumandangkan jeritan dari kaum humanis, yaitu kembali ke sumber-sumber (ad fontes), kembali ke zaman keemasan gereja supaya mendapatkan kembali kesegaran, kemurnian dan vitalitasnya di tengah-tengah suatu zaman yang mandek dan korup. Konkordat Bologna (1516), kesepakatan antara gereja dan negara mengenai pengurusan masalah-masalah gerejawi, memberikan kuasa kepada Raja Perancis untuk mengangkat imam senior dari gereja Perancis dan dengan demikian ia memegang kontrol atas gereja dan keuangannya.

Ringkasnya menurut McGrath, para tokoh reformator adalah orang-orang pragmatis, mereka bersedia memberikan imbalan kepada pemerintah sekuler asalkan kepentingan untuk Reformasi itu dimajukan.

Kedua, Konsep tentang “Reformasi”. Menurut McGrath, istilah “Reformasi” dipergunakan dalam banyak arti dan karena itu perlu dilihat perbedaan-perbedaannya. Ada empat unsur yang terdapat dalam definisi tentang Reformasi yaitu: Lutheranisme, gereja Reformed (“Calvinisme”), Reformasi radikal (“Anabaptisme”) dan Kontra-Reformasi atau Reformasi Katolik. Artinya, istilah “Reformasi” dipergunakan untuk merujuk pada keempat gerakan ini. Di sisi lain, menurut McGrath, dalam karya ilmiah istilah “Reformasi” dipergunakan untuk merujuk pada “Reformasi magisterial” atau “Reformasi arus utama” – yang berhubungan dengan gereja-gereja Lutheran dan Reformed, tanpa Anabaptis. Ungkapan “Reformasi magisterial” dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian pada hubungan yang erat antara gereja dan penguasa hukum dari program-program pembaruan tokoh-tokoh seperti Martin Luther atau Martin Bucer. Istilah “Reformasi magisterial” secara bertahap dipakai untuk merujuk pada dua arti pertama dari istilah itu (yaitu mencakup Lutheranisme dan gereja Reformed) secara bersama-sama, dan istilah “Reformasi radikal” merujuk pada arti ketiga (yaitu mencakup Anabaptisme). Dan McGrath menegaskan bahwa karyanya ini khusus membahas ide-ide Reformasi magisterial yakni:

(a) Reformasi Luther. Reformasi ini dikaitkan dengan wilayah-wilayah Jerman di bawah pengaruh pribadi yang berkharisma – Martin Luther yang khusus memperhatikan masalah doktrin pembenaran, yang merupakan pokok utama dari pemikiran keagamaannya. Reformasi ini pada mulanya berbentuk reformasi adamis yang terutama berkenaan dengan pembaruan pengajaran teologi di Universitas Wittenberg yang kemudian berubah menjadi suatu program untuk pembaruan gereja dan masyarakat.

(b) Gereja Reformed. Berkembang mulai dari negara Konfederasi Swiss yang berakar pada serangkaian usaha membarui moral dan peribadahan gereja (tanpa mementingkan ajarannya) agar lebih sesuai dengan pola yang terdapat dalam Alkitab. Tokoh gerakan ini adalah: Huldrych Zwingli, Heinrich Bullinger, Yohanes Calvin, Theodore Beza, William Perkins atau John Owen. Istilah “Reformed” merujuk pada gereja-gereja (terutama di Swiss, Dataran Rendah dan Jerman) dan pemikir-pemikir keagamaan (seperti Theodore Beza, William Perkins atau John Owen) yang mendasarkan pemikirannya atas buku besar karya Calvin, Christianae Religionis Institutio atau dokumen-dokumen gereja (seperti Katekismus Heidelberg). Gereja Reformed ini lebih dikenal dengan “Calvinisme” sejak tahun 1560-an padahal seluruh pemikiran gerakan ini bukan hanya bersumber dari Calvin sendiri.

(c) Reformasi Radikal (Anabaptisme). Istilah “Anabaptis” mempunyai asal-usulnya pada Zwingli yang muncul pertama kali di sekitar Zurich, setelah Reformasi Zwingli awal tahun 1520-an. Gerakan ini berpusat pada individu seperti Conrad Grebel yang menuduh Zwingli tidak setia pada prinsip-prinsip reformasinya. Orang-orang Anabaptis mempunyai alasan yang kuat untuk menuduh Zwingli berkompromi. Misalnya, dalam tulisan Zwingli yang berjudul Apologeticus Archeteles (1522), Zwingli mengakui ide tentang “kepemilikan bersama” (community of goods) sebagai prinsip yang khas Kristen, tetapi tahun 1525, Zwingli mengubah pandangannya dan sampai pada pendapat bahwa kepemilikan pribadi atas harta benda bagaimanapun juga bukanlah merupakan hal yang jelek. Tokoh gerakan ini adalah Balthasar Hubmaier, Pilgram Marbeck dan Menno Simons. Ajaran yang sangat menonjol dalam gerakan ini adalah: suatu ketidakpercayaan yang umum terhadap penguasa luar, penolakan akan baptisan anak dan dukungan pada baptisan orang dewasa yang percaya, kepemilikan bersama atas harta benda dan penekanan atas pasifisme dan gerakan tanpa kekerasan. Bagi beberapa kalangan gerakan ini disebut sebagai “sayap kiri dari Reformasi“ (Roland H.Bainton) atau “Reformasi radikal” (George Hunston Williams). Dokumen yang paling penting yang muncul dalam gerakan ini adalah “Pengakuan Schleitheim” yang disusun oleh Michael Sattler pada 24 Februari 1527 yang berisi “artikel-artikel pemisahan” yang membedakan Anabaptis dengan gerakan Reformasi maupun yang di luar Reformasi. Fungsi pengakuan ini untuk membedakan orang-orang Anabaptis dari mereka yang di sekelilingnya – orang papis (Katolik) dan antipapis (Protestan/Reformasi magisterial) dan pengakuan ini juga berfungsi sebagai pemersatu perbedaan-perbedaan yang mungkin ada di antara mereka.

(d) Reformasi Katolik. Istilah ini dipakai untuk merujuk revitalisasi dari Katolikisme Roma dalam periode setelah pembukaan Konsili Trente (1545). Gerakan ini sering digambarkan sebagai “Kontra-Reformasi”. Gerakan ini bertujuan untuk memerangi Reformasi Protestan dengan maksud membatasi pengaruh Protestanisme. Kemudian gerakan ini bertujuan untuk melakukan pembaruan atas dirinya sendiri untuk menyingkirkan alasan-alasan kritikan dari kaum Protestan. Konsili Trente, bentuk yang paling menonjol dari Refomasi Katolik, menjelaskan pengajaran Katolik atas sejumlah masalah yang membingungkan dan mengintroduksikan lebih banyak lagi pembaruan yang diperlukan dalam hubungan dengan kelakuan dari kaum rohaniwan, disiplin gerejawi, pendidikan keagamaan dan kegiatan pekabaran Injil. Gerakan pembaruan ini terutama dirangsang oleh reformasi dari banyak keagamaan yang lebih tua dan pendirian orde-orde yang baru seperti Yesuit.

Ketiga, Peran penting dari percetakan. McGrath berpendapat bahwa percetakan mempunyai dampak yang sedemikian besar atas Reformasi. Faktor-faktor utama yang menunjukkan pentingnya percetakan tersebut adalah:

(a) dengan adanya percetakan berarti propaganda Reformasi dapat secara cepat dan murah disebarluaskan.

(b) Reformasi didasarkan atas sumber-sumber yang spesifik: Alkitab dan para teolog dari lima abad (sering disebut sebagai “Bapa-bapa Gereja” atau “penulis-penulis patristik”). Penemuan atas media cetak mempunyai dampak langsung untuk sumber-sumber yang spesifik ini: pertama, memproduksi edisi-edisi yang lebih akurat dari suatu teks karya tulis sebagai dasar untuk refleksi teologis ; kedua, mempermudah memperoleh sumber-sumber teks karya tulis dari pada sebelumnya.

Peranan penting lainnya dari percetakan ini menurut McGrath adalah dalam rangka penyebaran ide-ide dari Refomasi ke luar negeri. Suatu titik balik yang penting sekali dalam Reformasi Perancis ditandai dengan penerbitan buku Calvin dalam edisi berbahasa Perancis, Institution la religion chretienne, pada tahun 1541. Lebih jauh McGrath berpendapat bahwa percetakan merupakan alat yang membawa perubahan dalam iklim atau dunia intelektual sementara warga kota pada umumnya diubah keyakinannya pada hal-hal yang mendukung Reformasi melalui dampak para pendeta/pengkhotbah dan pribadi tertentu.

Keempat, Konteks sosial dari Reformasi. Dengan melihat situasi sosial yang terjadi di Eropa, menurut McGrath bahwa keberhasilan dan kegagalan Reformasi di dalam kota-kota sebagian tergantung pada faktor-faktor sosial dan politik. Krisis bahan makanan yang diakibatkan Black Death (Maut Hitam atau penyakit sampar) pada akhir abad ke-14 dan ke-15, menyebabkan krisis agraria. Sehingga pada awal abad ke-16 keresahan sosial berkembang di banyak kota. Pendapat beberapa ahli yang dikutip McGrath mengatakan bahwa dalam abad ke-15 keinginan untuk urbanisasi agak tersendat disebabkan ketegangan sosial yang berkembang di dalam kota-kota (Berndt Moeller). Moeller menaruh perhatian pada implikasi-implikasi sosial dari ajaran Luther mengenai masalah keimanan tradisional tertentu di dalam masyarakat urban dan merangsang timbulnya suatu perasaan kesatuan komunal. Pendapat lainnya dikemukakan Thomas Brady, keputusan untuk menerima Protestanisme di Strasbourg merupakan akibat dari suatu perjuangan kelas yang di dalamnya suatu koalesi yang kuat antara kaum bangsawan dan pedagang percaya bahwa kedudukan sosial mereka hanya dapat diperthankan melalui persekutuan dengan Reformasi. Sedangkan Steven Ozment berpendapat, daya tarik Protestanisme adalah doktrinnya tentang pembenaran oleh iman yang menawarkan pembebasan dari tekanan psikologis yang diakibatkan oleh sistem Abad Pertengahan bagian akhir dan doktrin pembenaran “semi-Pelagian” yang saling berkaitan.

Menurut McGrath  ada beberapa ciri umum asal-usul dan perkembangan Reformasi di sebagian besar kota Eropa Utara yaitu:

(a)    Reformasi di kota-kota muncul sebagai jawaban atas suatu desakan rakyat untuk mengadakan perubahan kecuali di Nuremberg (Reformasi di tempat ini muncul tanpa protes dan tuntutan dari masyarakat).

(b)   Keberhasilan Reformasi di dalam suatu kota bergantung pada sejumlah peristiwa sejarah yang terjadi. Bagi kota-kota yang memilih tetap Katolik, mengadopsi Reformasi berarti mengambil risiko dengan suatu perubahan yang sangat berbahaya.

(c)    Visi romantis, yang kelewat ideal dari seorang reformator yang tiba di suatu kota untuk menghkhotbahkan Injil lalu disambut dengan suatu keputusan langsung dari kota yang bersangkutan untuk menerima prinsip-prinsip Reformasi, harus dijauhkan karena benar-benar tidak realistis.

McGrath menyimpulkan, konteks sosial Reformasi pada dirinya sendiri adalah pokok yang sangat menarik. Contohnya, banyak ide Zwingli khususnya mengenai fungsi kemasyarakatan dari sakramen yang secara langsung dikondisikan oleh keadaan politik, ekonomi dan sosial dari kota Zurich. Demikian juga dengan ide-ide Calvin tentang sturuktur-struktur yang tepat dari suatu gereja Kristen tampak merefleksikan lembaga-lembaga yang telah ada di Jenewa sebelum kedatangannya di kota itu.

Kelima, Paham-paham keagamaan para Reformator. Menurut McGrath, para reformator magisterial berkeyakinan bahwa hal sentral yang dibutuhkan untuk refomasi adalah kembali ke ajaran dan praktik gereja mala-mula. Kelima abad pertama (“periode patristik”) dianggap sebagai zaman keemasan kekristenan. Visi agung dari reformator abad ke-16 diringkaskan dalam slogan bahasa Latin, Christianismus renascens – “kekristenan yang dilahirkan kembali”. Kelahiran kembali itu terjadi melalui vitalitas kekristenan pada periode apostolis, seperti yang disaksikan Perjanjian Baru (PB) dan menghidupkan kembali semangat serta wujud dari periode yang sangat penting di dalam sejarah gereja Kristen mula-mula. Penekanan pada arti kekristenan mula-mula sebagai norma atau titik rujukan untuk visi Christianismus renascens abad ke-16 memberikan pengertian bagi para refomator untuk mengutamakan PB dan penulis-penulis Kristen mula-mula (“Bapa-bapa Gereja”).

Kemajuan humanisme Renaisans secara luas dipandang sebagai kehendak Tuhan. Artinya kemajuan-kemajuan besar dalam bidang penelitian bahasa Ibrani dan Yunani dalam hubungannya dengan teks-teks klasik di Eropa Barat meratakan jalan untuk ketelibatan yang langsung dengan teks Kitab Suci sebagai pengganti dari pada terjemahan Vulgata yang kurang dapat diandalkan.

Keenam, Peran sosial dari paham-paham keagamaan: Jerman dan Inggris. Menurut McGrath, peran sosial dari paham-paham keagamaan di Jerman dan Inggris ini sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Misalnya, sejarawan F.W.Powicke mengatakan bahwa “satu hal yang dapat dikatakan tentang Reformasi di Inggris adalah bahwa reformasi itu adalah suatu tindakan Negara”; dan lagi, bahwa “Reformasi di Inggris adalah suatu transaksi parlementer. Lebih jauh Powicke membuat perbedaan antara Reformasi Jerman dan Reformasi Inggris yakni:

(a)    Di Jerman terdapat perjuangan yang berlarut-larut antara para penulis Prostestan dan Katolik dan para pejabat gereja selama dekade 1530-an; masing-masing berusaha mendapatkan pengaruh di dalam wilayah yang sedang dilanda persengketaan. Sedangkan di Inggris, Henry VIII dengan mudah mengumumkan bahwa hanya ada satu gereja nasional di wilayah kekuasannya.

(b)   Paham-paham keagamaan (seperti Katolikisme Roma, Lutheranisme, dan Calvinisme) sangat berkembang di Jerman, namun ketiga paham tersebut tidak diizinkan di Inggris.

(c)    Di Jerman paham-paham keagamaan menjadi sangat penting; sementara di Inggris hal ini kurang berperan. Namun melalui kebangkitan Puritanisme sebagai kekuatan keagamaan dan politis di Inggris menjelang akhir abad ke-16, paham-paham keagamaan mulai menjadi penting di dalam situasi Inggris.

2.2    Bab II: AGAMA ABAD PERTENGAHAN AKHIR[4]

Dalam Bab dua ini McGrath membahas beberapa pokok pendahuluan tentang agama dalam Abad Pertengahan akhir yaitu:

Pertama, Pertumbuhan Agama rakyat. Menurut McGrath, penelitian-penelitian yang cenderung menggambarkan latar belakang Reformasi Abad Pertengahan sebagai suatu periode kemunduran keagamaan bukanlah suatu penelitian yang benar. Sebab justru sebaliknyalah yang benar, yaitu bahwa antara tahun 1450 dan 1520 Jerman memperlihatkan peningkatan yang luar biasa dalam kesalehan keagamaan rakyat (popular religious piety). Hal ini diungkapkan oleh Berndt Moeller dalam suatu artikel yang berjudul Piety in Germany around 1500. Menurut Moeller, menjelang Reformasi Jerman terdapat pertumbuhan yang luar biasa dalam bidang agama rakyat. Antara tahun 1450 dan 1490, jumlah massa yang dibantu oleh kaum bangsawan kelas atas Austria bertambah terus dan mencapai puncaknya pada tahun 1490-1517. Suatu kebiasaan bertumbuh, yakni membentuk persaudaraan-persaudaraan keagamaan dengan tujuan membiayai seorang pendeta yang melakukan upacara misa bagi anggota mereka yang meninggal dunia. Yang paling menarik menurut McGrath adalah bahwa pertumbuhan akan kesalehan ini tampak terutama terbatas pada kalangan orang awam; para rohaniwan pada saat itu.

Kedua, Bangkitnya Antiklerikalisme. Suatu aspek penting dari keadaan keagamaan di Jerman pada abad ke-15 adalah fenomena antipapalisme dan antiklerikalisme. Faktor yang menyebabkan timbulnya antiklerikalisme adalah kualitas yang rendah dari pada pejabat gereja Katolik itu sendiri. Misalnya imam-imam yang kurang terdidik atau yang  selalu salah memakai buku ibadah. Kualitas yang rendah dari imam paroki merefleksikan status sosial mereka yang rendah pula.

Sisi lain yang membuat timbulnya antiklerikalisme ini adalah karena pejabat gereja menikmati pembebasan sebagian besar pajak-pajak. Pengecualian ini menjadi sumber kejengkelan banyak orang, khususnya dalam masa-masa kesulitan ekonomi misalnya di keuskupan Meaux, Perancis.

Perasaan-perasaan antikepausan juga meningkat dalam masa Renaisans, khususnya di Jerman. Perkembangan ketidaksenangan terhadap pemerintahan kepausan ini sering dihubungkan dengan persepsi bahwa hal itu didominasi oleh orang-orang Italia. Ketidaksukaan terhadap paus paling besar terdapat di kalangan orang-orang terpelajar dan kelas-kelas penguasa, yang tidak senang pada campur tangan paus di dalam masalah-masalah kegerejaan dan politik setempat.

Tokoh yang dianggap sebagai pembebas pada masa itu adalah Luther dan Ulrich von Hutten. Di Jerman, surat penghapusan dosa disangsikan Luther dan dianggapnya sebagai eksploitasi terhadap perasaan-perasaan alamiah dari rakyat biasa mengenai kematian mereka yang kotor secara moral. Ajaran Luther mengenai pembenaran hanya oleh iman, meniadakan makna penyucian dan surat penghapusan dosa; orang mati dapat beristirahat dalam kedamaian oleh karena iman mereka, yang membuat mereka benar di hadapan Allah dan bukan karena pembayaran akan suatu “pemanis” kepada gereja.

Ketiga, Munculnya Pluralisme Ajaran. Satu ciri yang paling penting dari pemikiran keagamaan Abad Pertengahan adalah tumbuhnya “mazhab-mazhab” teologi. Misalnya mazhab Thomis, yang mendasarkan diri atas tulisan-tulisan Thomas Aquinas dan mazhab Scotis, yang mendasarkan diri atas ide-ide yang berbeda yang ditemukan dalam tulisan-tulisan Yohanes Duns Scotus.

Setiap mazhab pemikiran ini mempunyai pengertian yang sedikit berbeda mengenai sejumlah masalah pokok. Misalnya, mereka berbeda pendapat mengenai isu ajaran pembenaran – terutama apa yang harus dilakukan seseorang supaya dibenarkan. Yang menjadi persoalan menurut McGrath adalah: manakah dari pemikiran mazhab-mazhab itu yang benar? Mazhab manakah yang paling dekat hubungannya dengan pengajaran resmi dari gereja? Akibat yang tidak dapat dihindarkan dari situasi ini adalah munculnya kebingungan. Pendapat pribadi dan kebijaksanaan umum menjadi tercampur aduk dan membingungkan. Tidak ada seorangpun yang benar-benar yakin manakah pengajaran resmi dari gereja tentang masalah-masalah tertentu. Salah satu dari masalah itu adalah ajaran mengenai pembenaran; maka tidaklah mengherankan bahwa ajaran ini telah menjadi pokok yang sentral dari suatu gerakan pemaruan – yang dihubungkan dengan Martin Luther.

Keempat, Krisis Kewibawaan. Suatu perkembangan pada akhir Abad Pertengahan yang sangat penting bagi suatu penelitian mengenai Reformasi adalah krisis kewibawaan. Kepada siapakah atau kepada apakah seseorang harus mencari keputusan yang berwibawa mengenai ajaran? Siapakah yang berhak menyatakan dengan tegas bahwa “posisi Gereja Katolik mengenai masalah ‘ini’ adalah ‘demikian’”?

Menurut McGrath ada dua perkembangan besar di dalam gereja Abad Pertengahan akhir yang secara bersama-sama membuat definisi dan pelaksanaan ortodoksi. Pertama, kewibawaan dari paus dipersoalkan melalui Skisma Besar dan akibat-akibatnya. Skisma Besar (1378-1417) membawa perpecahan kekristenan di Barat, tepatnya pada saat kematian Gregorius XI. Dengan skisma ini, berkembanglah dua teori yang saling bersaing mengenai kewenangan di dalam gereja, yakni mereka yang berpendapat bahwa kewenangan yang tertinggi atas ajaran terletak di dalam suatu Konsili Umum atau Persidangan Umum (posisi konsiliaris); dan mereka yang berpendapat bahwa kewenangan itu terletak di dalam pribadi paus (posisi kurialis). Kedua, bangkitnya kekuatan-kekuatan penguasa sekuler di Eropa, yang cenderung melihat persoalan-persoalan yang berkenaan dengan paus sebagai sesuatu yang mempunyai relevansi terbatas. Lebih lanjut lagi, para paus tampaknya enggan memanfaatkan saluran-saluran yang ada untuk memaksakan ortodoksi ajaran. Sementara itu, kemampuan para paus untuk meminta para penguasa sekuler agar memaksakan keinginan keagamaan mereka telah semakin berkurang. Nasionalisme menjadi suatu faktor yang semakin penting dalam mengurangi kekuasaan paus di bagian utara Pegunungna Alpen.

McGrath menyimpulkan, ada krisis kekuasaan yang berangkap dua dalam periode akhir Abad Pertengahan. Ada kekacauan yang mencolok sekali dalam hal-hal yang berkaitan dengan hakikat, tempat, dan cara memberlakukan kewenangan teologis, dan ada keengganan atau ketidakmampuan untuk menjalankan kewenangan politis yang diperlukan untuk menindas ide-ide baru dari Reformasi.

Kelima, Suatu studi kasus di Inggris ; Kelompok Lollard. Reformasi tidak membentuk suatu gereja yang sama sekali baru di seluruh Eropa. Reformasi didirikan di atas fondasi yang sudah ada. Sebagai contoh Reformasi di Inggris dibangun di atas fondasi Lollard (suatu aliran kekristenan di Inggris). Karena itu, kelompok Lollard dimasukkan ke dalam analisa atas agama Abad Pertengahan akhir ini sebagai suatu studi kasus khusus yang menggambarkan cara yang di dalamnya unsur-unsur dari agama rakyat memberikan sumbangan pada awal mula dan pembentukan suatu reformasi radikal. Gerakan-gerakan yang serupa dengan gerakan Lollard ini terdapat di banyak bagian di Eropa yang menyediakan persemaian subur yang di dalamnya ide-ide Reformasi dapat bersemi dan berakar.

2.3 Bab III: HUMANISME DAN REFORMASI[5]

Menurut McGrath, dari banyak anak sungai yang memberikan kontribusi terhadap aliran Reformasi, yang paling penting adalah humanisme Renaisans. Meskipun Reformasi dimulai di kota-kota Jerman dan Swiss, namun dapat dikatakan bahwa Reformasi timbul sebagai akibat dari Renaisans di Italia. McGrath dalam bab ini mencoba meneliti ide-ide dan metode-metode dari humanisme Renaisans agar relevansinya untuk Reformasi dapat dimengerti.

Lebih dalam lagi, McGrath mencoba membedakan pengertian “humanisme” pada abad ke-20 dengan abad ke-14, ke-15 dan ke-16. Kalau humanisme pada abad ke-20 diartikan sebagai suatu falsafah anti-agama yang berfokus pada manusia dan mengesampingkan Allah, namun humanisme pada abad ke-14, ke-15 dan ke-16 adalah sangat religius karena mereka memperhatikan pembaruan gereja Kristen. McGrath membahas topik ini dengan enam sub bab yaitu:

Pertama, Konsep “Renaisans”. Pada awalnya konsep “Renaisans” ini merupakan istilah Perancis yang menunjuk pada kebangkitan kembali sastra dan seni pada abad ke-14 – dan ke-15. Pada tahun 1546 Paolo Giovio merujuk abad ke-14 sebagai “abad kebahagiaan yang dalamnya tulisan-tulisan Latin dipandang telah lahir kembali (renate)”. Namun para sejarawan tertentu seperti Jacob Burckhardt mengemukakan bahwa Renaisans melahirkan era modern. Dalam era modern ini umat manusia untuk pertama kali mulai berpikir tentang diri mereka sebagai individu-individu. Kesadaran komunal dari periode Abad Pertengahan mengalah terhadap kesadaran individual dari Renaisans. Florence menjadi Atena baru, ibukota intelektual dari suatu dunia baru yang berani, dengan sungai Arno yang memisahkan dunia lama dan dunia baru.

Menurut McGrath, dalam banyak hal definisi Burckhardt tentang Renaisans sangat diragukan, mengingat aspek nilai-nilai kolektif yang terdapat dalam humanisme Renaisans Italia. Namun dalam satu hal Burckhardt benar: sesuatu yang baru dan menggairahkan telah berkembang dalam Renaisans Italia, yang terbukti mampu memberi daya tarik terhadap beberapa generasi pemikir. Bahkan menurut McGrath, tidaklah jelas sama sekali mengapa Italia pada umumnya atau Florence pada khususnya, menjadi tempat kelahiran dari gerakan baru yang brilian di dalam sejrah ide-ide. McGrath memberikan alasan-alasannya yakni: (1) Italia masih memiliki sisa-sisa kejayaan masa lampau, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. (2) Teologi Skolastik – kekuatan intelektual utama dari peridoe Abad Pertengahan – tidak pernah secara khusus mempunyai pengaruh di Italia. (3) Kestabilan politik di Florence bergantung pada pemeliharaan akan pemerintahan republiknya. (4) Kemakmuran ekonomis dari Florence menciptakan waktu luang dan dengan demikian menciptakan pula tuntutan akan kesusasteraan dan kesenian. (5) Karena Byzantium mulai runtuh – Konstantinopel ahirnya jatuh pada tahun 1453 – terjadi eksodus para intelektual berbahasa Yunani ke arah barat.

Kedua, Konsep “Humanisme”. Menurut McGrath, istilah “humanisme” adalah temuan dari abad ke-19 yang dalam bahasa Jerman kata Humanismus pertama kali diciptakan pada tahun 1808, yang merujuk pada suatu bentuk pendidikan yang memberikan tempat utama bagi karya-karya klasik Yunani dan Latin. Kata ini dipakai pertama oleh Samuel Coleridge Taylor (1812) untuk menunjukkan suatu posisi Kristologis, yaitu kepercayaan bahwa Yesus Kristus adalah murni manusia. Kata itu pertama kali dipakai dalam konteks kebudayaan pada tahun 1832.

McGrath memusatkan perhatian bab ini terhadap masalah mendefinisikan apa humanisme itu. Menurutnya, istilah itu masih dipergunakan secara luas dalam bidang studi mengenai Renaisans dan Reformasi. Lebih lanjut McGrath mengatakan bahwa ada dua aliran utama yang dominan dalam menafsirkan gerakan humanisme ini. Pertama, humanisme dipandang sebagai suatu gerakan yang mencurahkan perhatian pada ilmu-ilmu yang mempelajari karya-karya klasik dan filologi. Kedua, humanisme adalah filsafat baru dari Renaisans.

McGrath mengatakan bahwa ada dua kesulitan yang menghadang penafsiran humanisme ini. Pertama, orang-orang humanis tampil terutama berkenaan dengan peningkatan akan kefasihan. Sementara itum tidaklah benar untuk mengatakan bahwa orang-orang humanis tidak memberikan kontribusi yang penting pada dunia kesusasteraan. Kedua, penelitian intensif atas tulisan-tulisan kaum humanis menyingkapkan fakta yang mengusik kita, yakni “humanisme” benar-benar heterogen. Secara singkat, menurut McGrath, telah menjadi semakin jelas bahwa “humanisme” tidak mempunyai filsafat yang mempersatukan. Tidak ada satu ide filsafat atau politik yang mendominasi dan menjadi ciri utama gerakan itu.

Pendapat lain tentang humanisme ini adalah dari Kristeller yang menggambarkan humanisme sebagai gerakan kebudayaan dan pendidikan. Humanisme secara esensial adalah suatu program kebudayaan, yang mengacu pada kebudayaan kuno tetap berlaku sebagai model untuk kefasihannya.

Ketiga, Ad fontes – Kembali ke sumber-sumber asli. Program humanisme dalam kesusasteraan dan kebudayaan dapat diringkaskan dalam slogan ad fontes – kembali ke sumber-sumber asli. Slogan ad fontes berarti kembali ke dokumen-dokumen yang sah dari kekristenan, yaitu penulis-penulis patristis dan – yang paling utama – Alkitab. Slogan ad fontes menyatakan sesuatu yang lebih dari pada hanya menenrtukan sumber-sumber yang dipergunakan dalam proses kelahiran kembali peradaban. Slogan ini juga menentukan sikap yang dipakai untuk menggali sumber-sumber itu. Perlu diketahui bahwa Renaisans adalah zaman penemuan kembali, baik geografis maupun ilmu pengetahuan.

Menurut McGrath, bagi gereja Kristen, ad fontes membukakan kesempatan yang baru, menggairahkan dan menantang – bahwa pengalaman-pengalaman orang-orang Kristen pertama, dapat diperoleh kembali dan diteruskan ke titik sejarah yang jauh lebih kemudian. Ad fontes lebih daripada sekedar slogan: ia adalah suatu garis-kehidupan bagi orang-orang yang putus asa menghadapi keadaan dari gereja dalam Abad Pertengahan.

Keempat, Humanisme di Eropa bagian Utara. Dalam bagian ini McGrath memfokuskan diri pada “humanisme” yang mempengaruhi Reformasi terutama humanisme Eropa bagian utara. Menurut McGrath, semakin nyata bahwa humanisme Eropa bagian utara sangat dipengaruhi oleh humanisme Italia dalam setiap tahapan perkembangannya. Lebih lanjut McGrath menjelaskan bahwa ada tiga hal penting yang mendukung penyebaran metode-metode dan cita-cita Renaisans Italia ke Eropa bagian utara yakni: (1) Penyebaran itu terjadi akibat para ahli Eropa bagian utara berkunjung ke selatan, ke Italia, mungkin untuk belajar atau sebagai anggota dari suatu misi diplomatik. Sekembalinya ke tanah air mereka, mereka membawa semangat Renaisans misalnya Christoph Scheure yang belajar hukum di Bologna, setelah mencapai gelar doktor di bidang hukum ia kembali ke Universitas Wittenberg, yang baru didirikan. (2) Surat menyurat keluar negeri oleh orang-orang humanis Italia. Humanisme memusatkan perhatian pada peningkatan kefasihan tulis menulis, dan penulisan surat-surat dilihat sebagai cara untuk memasukkan dan menyebarluaskan cita-cita Renaisans. (3) Buku-buku yang diterbitkan oleh Aldino Press di Venice sering dicetak ulang oleh percetakan-percetakan di Eropa bagian utara, khususnya di Basel, Swiss. Para humanis Italia sering mengalamatkan karya-karya mereka kepada langganan-langganan di Eropa Utara.

Setelah humanisme memasuki Eropa bagian utara, maka humanisme itu pun mengalami beberapa variannya, namun setidaknya ada tiga hal yang tampaknya diterima bersama yakni: pertama, minat yang sama terhadap bonae literae ­– kefasihan menulis dan bertutur, dalam batas pengertian periode klasik – seperti yang terdapat dalam Reformasi Italia. Kedua, program keagamaan yang diarahkan pada kebangunan kembali gereja Kristen. Ketiga, beberapa saksi dari humanisme di Eropa bagian utara menganut pasifisme terutama sebagai rekasi terhadap tragedi peperangan Perancis-Italia (abad ke-16).

McGrath juga menjelaskan pengaruh humanisme di beberapa daerah lain misalnya:

(a) Humanisme Swiss bagian Timur. Swiss bagian Timur sangat terbuka dan bahkan menerima dengan baik  ide-ide Renaisans Italia. Konrad Celtis memastikan bahwa Wina menjadi pusat para ahli humanis dalam tahun-tahun terakhir abad ke-15 seperti penulis besar humanis Joachim von Watt alias Vadian, Xylotectus, Beatus Rhenanus, Glarean dan Myconius. Mereka mengatakan bahwa kekristenan merupakan “way of life” (pandangan hidup), ketimbang seperangkat ajaran-ajaran. Etos humanisme Swiss adalah benar-benar moralistis. Kitab Suci dipandang sebagai yang menentukan tingkah laku moral yang benar bagi orang-orang Kristen, ketimbang menceritakan janji-janji Allah.

(b) Humanisme Legal Perancis. Humanisme legal di Perancis ini dimulai dari adanya kecenderungan yang semakin meningkat ke arah sentralisasi administrasi pemerintahan, melihat pembaruan legal (bidang hukum atau perundang-udangan) sebagai sesuatu yang esensial bagi modernisasi Perancis. Salah seorang pelopor dari antara para ahli ini adalah Guillaume Bude, yang berpendapat agar mereka kembali langsung ke sistem perundang-undangan Romawi sebagai suatu alat untuk menemukan sistem perundang-undangan baru yang dibutuhkan Perancis. Humanisme Perancis ini berlawanan dengan kebiasaan orang Italia (mos italicus) dalam hal membaca teks undang-undang, yang memandangnya dari sudut keterangan tambahan, maka orang Perancis mengembangkan prosedur mos gallicus untuk mendekati secara langsung sumber-sumber perundang-undangan klasik yang asli dalam bahasa mereka yang asli pula.

(c) Humanisme Inggris. Ada tiga unsur utama dalam bidang keagamaan dan intelektual yang berperan di belakang Reformasi Inggris, yakni: Lollardy, Lutheranisme, dan humanisme. Ketiga aliran ini dianggap sebagai unsur-unsur yang sangat penting oleh para ahli yang mempelajari Reformasi. Menurut McGrath, pusat humanisme yang paling penting pada awal abad ke-16 di Inggris adalah Universitas Cambridge disamping Universitas Oxford dan London. Cambridge adalah rumah dari Reformasi Inggris mula-mula, yang berpusat dalam apa yang disebut “White Horse Cicle”, yaitu tempat sekelompok orang seperti Robert Barnes bertemu untuk membaca sampai habis dan mendiskusikan tulisan-tulisan terakhir dari Martin Luther selama awal tahun 1520-an. Humanisme Inggris sama sekali bukan merupakan gerakan asli Inggris, melainkan import. Robert Weiss memperlihatkan bahwa asal-usul humanisme Inggris dapat ditelusuri ke sejarah Italia pada abad ke-15 dan awal abad ke-16 Universitas Cambridge cenderung mengangkat orang-orang Italia menjadi dosen – antara lain Gaio Auberino, Stefano Surigone dan Lorenzo Traversagni.

Kelima, Erasmus dari Rotterdam. Erasmus dari Rotterdam adalah tokoh yang menonjol melebihi para humanis Eropa Utara. Pengaruh Erasmus atas pemikiran Reformasi sangat terasa khususnya bagi pemikiran Zwingli dan Bucer. Erasmus sering ditampilkan sebagai orang yang merefleksikan humanisme Eropa yang terbaik. Erasmus melihat dirinya sebagai seorang “warga dunia” dan bahasa Latin ala Cicero sebagai bahasa dari dunia itu. Bahasa-bahasa nasional adalah rintangan bagi pandangannya tentang satu Eropa kosmopolitan yang dipersatukan oleh bahasa Latin. Bagi para humanis Jerman dan Swiss, bahasa-bahasa nasional dikembangkan demi mempromosikan rasa identitas nasional. Namun, bagi Erasmus nasionalisme dipandang sebagai ancaman terhadap visi tentang Eropa kosmopolitan. Karya paling berpengaruh dari kaum humanis yang beredar di Eropa selama dekade-dekade pertama abad ke-16 adalah tulisan Erasmus, Enchiridion militis Christiani (Buku Panduan bagi Prajurit Kristen).[6] Enchiridion memunculkan ide yang menarik hati, yakni gereja masa itu dapat dibarui dengan cara berbalik kembali secara bersama-sama terhadap tulisan-tulisan dari Bapa-bapa Gereja dan Kitab Suci.

Menurut McGrath, ada sejumlah ciri utama dari buku Enchiridion yang sangat penting. Pertama, Erasmus memahami akan vitalitas masa depan dari kekristenan yang terletak pada kaum awam, bukan rohaniwan. Rohaniwan dilihat sebagai pendidik, yang fungsinya adalah mengarahkan kaum awam agar mencapai pengertian pada tingkat yang sama dengan mereka sendiri. Kedua, Erasmus menekankan pemahaman akan kekristenan yang tidak merujuk pada gereja – ibadahnya, imamnya atau lembaganya. Menurut Erasmus, orang tidak perlu mengaku dosa kepada seorang imam, sebaliknya seseorang dapat secara langsung mengaku dosanya kepada Allah. Agama adalah masalah batin dan pikiran seseorang ; agama berpusat ke dalam (diri manusia).

Yang menjadi ciri revolusioner dari karya Erasmus, Enchiridion adalah terletak pada pendapat barunya yang berani bahwa pengakuan akan panggilan Kristen dari orang awam merupakan kunci bagi kebangkitan kembali gereja. Kewibawaan rohaniwan dan gerejawi diabaikan. Namun demikian, Erasmus melihat adanya hambatan-hambatan serius yang menghambat perkembangan pandangannya dan berusaha menyingkirkan hambatan-hambatan tersebut. Pertama, ada suatu kebutuhan untuk dapat mempelajari PB dalam bahasa aslinya, ketimbang terjemahan Vulgata yang tidak akurat. Erasmus berhasil menerbitkan PB Bahasa Yunani, Novum Instrumentum omne yang dicetak oleh percetakan Froben di Basel tahun 1516.

Erasmus juga menuntut perhatian terhadap tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja seperti Ambrosius, Augustinus, dan Hieronimus. Erasmus bertanggung jawab untuk menyunting karya-karya Bapa-bapa Gereja ini dalam satu seri edisi tulisan patristis yang merupakan karya mengagumkan dari zamannya.

Keenam, Humanisme dan Reformasi – Suatu Evaluasi. Menurut McGrath, untuk dapat mengetahui pengaruh humanisme atas Reformasi harus lebih dulu memperhatikan perbedaan antara dua sayap dalam Reformasi yaitu: Reformasi Luther di Wittenberg dan Reformasi Zwingli di Zurich. Kedua sayap ini mempunyai ciri yang berbeda. Salah satu dari perbedaan yang paling menonjol antara kedua sayap Reformasi ini adalah berkenaan dengan hubungan masing-masing dengan humanisme seperti dijelaskan di bawah ini :

(a)    Hubungan humanisme dan Reformasi Swiss. Hubungan ini bermula dari kebangkitan kelompok-kelompok humanis (“sodalities”) di universitas Wina dan Basel pada awal tahun 1500-an. Titik balik dari gerakan ini muncul ketika seorang anggota dari suatu “sodality” humanis yaitu Huldrych Zwingli dipanggil ke Zurich sebagai pendeta pada bulan Januari 1519. Dengan memanfaatkan kedudukannya, Zwingli memulai program pembaharuannya yang didasarkan pada prinsip-prinsip humanis yang luas, khususnya visi tentang pembaruan kelembagaan dari gereja dan masyarakat berdasarkan Kitab Suci dan Bapa-bapa Gereja. Secara ringkas pengaruh humanisme Erasmus atas Zwingli tampak nyata dalam hal-hal berikut: a]. Agama dilihat sebagai suatu masalah spiritual dan batiniah; hal-hal yang sifatnya lahiriah tidak boleh dibiarkan menjadi hal yang sangat penting. b]. Penekanan yang sangat penting dikenakan untuk regenerasi (kelahiran kembali) dan pembaruan dalam bidang moral dan etika. c]. Relevansi Yesus Kristus bagi orang Kristen terutama adalah sebagai teladan dalam bidang moral. d]. Bapa-bapa Gereja dari gereja purba tertentu dipilih sebagai tokoh yang sangat penting. e]. Reformasi lebih banyak menyangkut kehidupan dan moral gereja dari pada ajarannya. f]. Reformasi dipandang sebagai suatu proses pedagogis atau edukasional (pendidikan).

(b)   Hubungan humanisme dan Reformasi Wittenberg. Berbeda di Jerman, meskipun humanisme menjadi suatu kekuatan intelektual yang cukup penting pada awal tahun 1500-an, namun pengaruhnya atas Martin Luther tampak hanya terbatas saja. Luther adalah seorang teolog akademis, yang dunianya didominasi oleh pola-pola pemikiran teologi skolastik. Fokus pemikiran Luther ialah melawan teologi skolastik yang telah gagal memberikan pengertian yang benar tentang anugerah Allah dan cenderung menyatakan bahwa setiap orang dapat mencapai keselamatan dirinya sendiri. Sementara Zwingli hanya melihat moral gereja sebagai bidang yang harus diperbaharui. Teologi pembaharuan Luther bertujuan akademis yaitu teologi “nominalisme” atau via moderna. Memang ada kesan bahwa Luther bersimpati terhadap humanisme pada akhir dekade 1510-an sebagai akibat Perdebatan Leipzig tahun 1519, di mana Luther berdebat tentang serangkaian isu dengan tokoh kontroversial Katolik Johann Eck. Namun menurut McGrath, tidak ada bukti yang nyata bahwa Luther mempunyai minat terhadap humanisme an sich ; Luther hanya memanfaatkan hasil-hasil pandangan humanis untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Lebih dalam McGrath juga mencatat ketegangan-ketegangan antaran humanisme dengan kedua sayap dari Reformasi ini di dalam lima bidang yakni:

(1)   Sikap terhadap Teologi Skolastik.

(2)   Sikap terhadap Kitab Suci.

(3)   Sikap terhadap Bapa-bapa Gereja.

(4)   Sikap terhadap Pendidikan.

(5)   Sikap terhadap retorika.

McGrath menyimpulkan, hubungan humanisme dan Reformasi menunjukkan bahwa sayap Swiss dalam Reformasi lebih dipengaruhi humanisme daripada di Wittenberg. Namun demikian, di Wittenberg pun program baru tentang penelitian Alkitab dan tulisan  Augustinus tampak sebagai inspirasi dari kaum humanis. Dan puncak dari ketegangan antara humanisme dan Reformasi tampak nyata pada tahun 1525. Pada tahun ini, baik Zwingli maupun Luther menyusun serangan di hadapan umum ke atas Erasmus, keduanya memusatkan perhatian pada konsep “kebebasan kehendak”. Bagi kedua reformator itu, ajaran Erasmus mengenai kebebasan penuh dari manusia akan membawa pada suatu konsepsi yang nyata-nyata terlalu optimis tentang hakikat manusia. Dengan terbitnya tulisan Zwingli Tafsiran Mengenai Agama Benar dan Palsu dan karya Luther mengenai perhambaan kehendak, ketegangan yang selalu ada di antara humanisme dan Reformasi menjadi nyata bagi semua orang.

2.4    Bab IV: SKOLASTIK DAN REFORMASI[7]

Skolastik merupakan suatu gerakan intelektual yang paling dilecehkan dalam sejarah umat manusia. Bahkan, di dalam bahasa Inggris kara “dunce” (bodoh) diambil dari nama salah seorang penulis skolastik terbesar, Duns Scotus. Para pemikir skolastik – “orang-orang sekolahan” – sering digambarkan gemar memperdebatkan, walaupun tak bermakna. Kesan yang muncul ialah: tidak mempunyai arti, kering atau membosankan, spekulasi intelektual atas hal yang sepele. Oleh karena itu menurut McGrath, sebagian besar buku teks yang berhubungan dengan Reformasi merasa benar dalam penolakannya akan skolastik tanpa benar-benar menjelaskan apa sebenarnya skolastik itu dan mengapa skolastik begitu penting peranannya bagi Reformasi Wittenberg. Dalam bab ini McGrath akan menguraikan skolastik dan peranannya bagi Reformasi Wittenberg secara mendalam.

Pertama, Mendefiniskan “Skolastik”. Istilah “skolastik” merupakan penemuan dari penulis-penulis humanis yang berhasrat dan ingin mendiskreditkan gerakan yang diwakili oleh kata itu. Menurut McGrath, sulit memberikan definisi yang tepat, yang pantas terhadap posisi-posisi yang khusus dari semua mazhab besar di dalam Abad Pertengahan. Skolastik sebaiknya dipandang sebagai gerakan pada Abad Pertengahan yang berkembang dalam periode tahun 1200-1500 yang memberikan penekanan atas pembenaran rasional dari kepercayaan-kepercayaan itu. Jadi “skolastik” tidak merujuk pada suatu sistem yang spesifik dari kepercayaan-kepercayaan, tetapi pada suatu cara tertentu dalam mengorganisasikan teologi – suatu metode penyajian bahan yang sangat maju, yang membuat perbedaan-perbedaan yang tajam dan berusaha mencapai suatu pandangan yang menyeluruh tentang teologi.

McGrath melihat bahwa esensi dari skolastik itu sendiri adalah demonstrasi akan rasionalitas yang hakiki dari teologi Kristen dengan mengacu pada filsafat dan demonstrasi akan keserasian yang lengkap dari teologi itu melalui pengujian yang ketat mengenai hubungan dari unsur-unsur yang bermacam-macam. Tulisan-tulisan skolastik cenderung merupakan tulisan yang panjang dan argumentatif, sering mendasarkan diri atas perbedaan-perbedaan tipis yang dipersoalkan. Etienne Gilson secara tepat menjelaskan sistem-sistem skolastik yang agung itu sebagai “katedral pikiran”. Setiap sistem skolastik mencoba merangkum realitas dalam totalitasnya berhubungan dengan masalah-masalah logika metafisika, dan teologi.

Kedua, Skolastik dan Universitas-universitas. Pengaruh skolastik yang paling besar pada Abad Pertengahan terasa pada universitas-universitas dalam lingkup yang terbatas. Berbeda dengan humanisme yang berpengaruh bagi dunia pendidikan, seni dan kebudayaan, skolastik hanya memberikan daya tarik yang terbatas bagi mereka yang menyukai dialektika. Dalam abad ke-15 suatu konfrontasi antara humanisme dan skolastik berkembang di banyak universitas. Universitas Wina, yang memegang peranan sangat penting bagi perkembangan Reformasi Swiss, benar-benar menyaksikan pemberontakan humanis yang sedemikian rupa terhadap skolastik dalam dasawarsa terakhir abad ke-15. Pada awal abad ke-16, banyak mahasiswa mulai menghindari universitas-universitas yang didominasi skolastik dan beralih ke universitas-universitas yang mempunyai program-program pendidikan humanis.

Skolastik ini pada umumnya berperan di universitas-universitas seperti di Universitas Erfurt, Jerman tempat Luther dididik. Karya-karya awal Luther sebagai seorang pembaru teologi dilakukan di dalam konteks universitas yang bertarung melawan musuh akademis. Sebaliknya para reformator Swiss, tidak merasa perlu menaruh perhatian pada skolastik dan mereka hanya bertekad membarui kehidupan dan moral gereja. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang mendasar antara reformasi Swiss dan Wittenberg. Zwingli mengawali pembaruannya di sebuah kota (Zurich), sedangkan Luther memulai pembaruannya di fakultas teologi di sebuah universitas (Wittenberg). Pembaruan Zwingli dimulai dengan cara menentang kehidupan dan moral dari gereja Zurich pra-Reformasi; Luther memulai pembaruannya dengan menentang suatu bentuk khusus teologi skolastik. Pada mulanya Zwingli tidak merasa perlu untuk mengadakan reformasi terhadap doktrin gereja, sedangkan bagi Luther reformasi doktrinal merupakan batu loncatan yang esensial dari program reformasinya.

Ketiga, Tipe-tipe Skolastik. Menurut McGrath, untuk mengerti perkembangan teologi Luther, perlu berkenalan dengan – setidak-tidaknya – dasar-dasar dari dua gerakan utama di dalam skolastik Abad Pertengahan yang lalu yaitu: Thomisme dan Scotisme kemudian disusul dua gerakan lainnya yaitu: via moderna dan schola Augustiniana moderna.

McGrath membahas tipe-tipe skolastik pada Abad Pertengahan ini dalam beberapa tipe yaitu:

(a) Realisme versus Nominalisme. Untuk memahami kompleksitas skolastik Abad Pertengahan, perlu menangkap perbedaan antara “realisme” dan “nominalisme”.  Bagian awal dari periode skolastik (1200-1350) didominasi oleh realisme dan bagian terakhir (1350-1500) oleh nominalisme. Untuk membedakan kedua sistem itu, McGrath membayangkannya sebagai dua buah batu berwarna putih. Realisme menegaskan bahwa ada suatu konsep yang universal tentang “putih” yang di dalamnya kedua buah batu itu terhisab. Sementara batu-batu putih itu berada pada waktu dan tempat, “putih” yang universal itu berada pada dataran metafisika yang berbeda. Nominalisme, sebaliknya, menyatakan bahwa konsep universal tentang “putih” itu tidaklah perlu dan sebagai gantinya dikatakan bahwa kita seharusnya memusatkan perhatian pada yang khusus. Dua mazhab skolastik utama yang dipengaruhi oleh realisme adalah Thomisme dan Scotisme yang berakar pada tulisan-tulisan Thomas Aquinas dan Duns Scotus. Karena kedua mazhab ini tidak begitu berpengaruh pada Reformasi maka kedua mazhab lainnya yang sangat berpengaruh bagi Reformasi ialah via moderna dan schola Augustiniana moderna.

(b) “Pelagianisme” dan “Augustinianisme”. Topik utama yang diperdebatkan oleh kedua mazhab ini adalah ajaran tentang pembenaran yang bergumul tentang bagaimana seseorang yang berdosa dapat diterima Allah yang benar dan apakah yang harus dilakukan seseorang agar dapat diterima Allah. Secara ringkas McGrath memberikan pemikiran kedua mazhab ini.

Tema sentral pemikiran Augustinus adalah kejatuhan dari hakikat manusia berdasarkan Kejadian 3 dan menyatakan bahwa hakikat manusia telah “jatuh” dari status aslinya yang mula-mula. Akibatnya, semua manusia tercemarkan oleh dosa sejak saat dilahirkan. Dosa sebagai yang hakiki melekat pada keberadaan manusia. Dosa merupakan suatu aspek yang integral, bukan opsional dari keberadaan kita. Bagi Augustinus, manusia dengan cara dan kemampuannya sendiri, tidak pernah dapat masuk ke dalam suatu hubungan dengan Allah. Tak satu pun perbuatan manusia yang dapat mematahkan belenggu dosa. Augustinus mengatakan bahwa manusia hanya bisa diselamatkan melalui anugerah Allah. Penebusan hanya dimungkinkan sebagai pemberian Allah, bukan sesuatu yang didapat dengan usaha sendiri, melainkan sesuatu yang harus diperbuat bagi manusia. Agustinus menekankan bahwa sumber keselamatan terletak di luar manusia, di dalam Allah sendiri.

Berbeda dengan Pelagius. Pelagius mengajarkan bahwa sumber-sumber keselamatan terdapat di dalam manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya. Manusia tidak terperangkap oleh dosa, tetapi mempunyai kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan agar selamat. Keselamatan adalah sesuatu yang diperoleh melalui perbuatan-perbuatan baik, dan ini berarti Allah berkewajiban memberi ganjaran kepada manusia. Pelagius mengecilkan ide tentang anugerah.

Dengan demikian, McGrath menjelaskan bahwa kedua teologi itu mempunyai perbedaan tentang hakikat manusia. Bagi Augustinus, hakikat manusia adalah lemah, sudah jatuh dan tidak berdaya; bagi Pelagius, hakikat manusia adalah otonom dan dapat mencukupi dirinya.  Bagi Augustinus adalah perlu bergantung pada Allah untuk keselamatan; bagi Pelagius, Allah semata-mata hanya menunjukkan apa yang harus dilakukan kalau keselamatan itu akan diperoleh dan kemudian membiarkan manusia memenuhi syarat-syarat itu tanpa bantuan dari luar. Bagi Augustinus, keselamatan adalah suatu anugerah tanpa jasa dari manusia, bagi Pelagius, keselamatan adalah upah yang pantas diterima.

(c) Via Moderna, alias “Nominalisme”. Via moderna ini dikenal juga sebagai gerakan nominalisme yang dianut beberapa pemikir abad ke-14 dan ke-15 seperti : William Ockham, Pierre d’Ally, Robert Holcot, dan Gabriel Biel yang membuat serbuan penting ke dalam banyak universitas di Eropa bagian utara – misalnya, universitas Paris, Heidelberg, dan Erfurt. Gerakan ini mengajarkan tentang pembenaran yang oleh banyak pengkritiknya dicap “Pelagian”. McGrath menjelaskan pengertian pembenaran yang dianut oleh gerakan ini. Ciri utama soteriologi, atau doktrin tentang keselamatan, via moderna adalah suatu perjanjian antara Allah dan manusia. Perjanjian ini tidak dinegosiasikan, tetapi secara sepihak ditentukan oleh Allah. Menurut para teolog via moderna perjanjian antara Allah dan manusia menghasilkan kondisi-kondisi (syarat-syarat) yang diperlukan untuk pembenaran yang disebut dengan facere quod in se est (harfiah Latin: “melakukan apa yang terdapat di dalam diri orang” atau “melakukan apa yang baik”). Ketika individu-individu memenuhi persyaratan ini, Allah wajib menerima manusia yang disebut dalam sebuah peribahasa Latin, facieti quod in se est Deus non denegat gratiam, artinya “Allah tidak akan mengingkari anugerah-Nya kepada siapa saja yang melakukan apa yang terbaik yang ada di dalam dirinya”. Dengan kata lain, via moderna dan Pelagius memiliki kesamaan, keduanya menyatakan bahwa manusia diterima atas dasar usaha-usaha dan prestasi-prestasi mereka sendiri. Keduanya menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan manusia menempatkan Allah di bawah kewajiban untuk memberikan ganjaran bagi mereka. Pengaruh pemikiran “perjanjian” ini nantinya akan mempengaruhi pemahaman Luther mengenai pembenaran.

(d) Scola Augustiniana Moderna, alias “Augustinianisme”. Perkembangan pemikiran via moderna kemudian dipusatkan di Universitas Oxford. Namun Oxford pun berangsur-angsur telah mengalami isolasi dari Eropa daratan akibat Perang Seratus Tahun. Apalagi dengan serangan yang dilakukan oleh Thomas Bradwardine kepada via moderna Oxford melalui tulisannya yang berjudul De causa Dei contra Pelagium, “Kasus Allah melawan Pelagius”. Pemikiran Bradwardine ini dikembangkan di Eropa daratan oleh Gregorius dari Rimini di Universitas Paris. Pemikiran ini lama-kelamaan menjadi dikenal dengan nama schola Augustiniana moderna, “Aliran Augustinian modern”. Pemikiran Augustinus ini dikembangkan oleh Gregorius dengan mengembangkan ide-ide sebagai berikut: pertama, Gregorius mengambil pandangan nominalis mengenai persoalan tentang yang “universal”. Kedua, Gregorius mengembangkan suatu soteriologi, ajaran tentang keselamatan, yang merefleksikan pengaruh Augustinus yang menekankan kebutuhan akan anugerah atas kejatuhan dan keberdosaan manusia. Keselamatan dimengerti sebagai suatu perbuatan yang sepenuhhya dilakukan Allah, mulai dari awal hingga akhir. Gregorius berkeyakinan bahwa hanya Allah-lah yang dapat memberikan keselamatan.

Keempat, Pengaruh Skolastik Abad Pertengahan atas Reformasi. Pengaruh skolastik Abad Pertengahan atas Reformasi ini dapat terlihat khususnya bagi dua tokoh terkenal dari tokoh Reformasi pada Abad Pertengahan tersebut yakni: Martin Luther dan John Calvin. Dalam hal ini McGrath membahas pengaruh-pengaruh dari teologi skolastik yang mungkin ada atas mereka berdua dengan memperhatikan bagaimana lingkungan pendidikan mereka dalam rangka membuka ide-ide pokok dari skolastik Abad Pertengahan tersebut.

(a) Hubungan Luther dengan Skolastik Abad Pertengahan Akhir. Secara sederhana dapat diringkaskan bahwa Luther benar-benar ahli daam bidang filsafat dan teologi skolastik. Hal ini terbukti dari masa pendidikannya di Universitas Erfurt (1501-1505). Selama belajar di sana, Luther menghargai ciri-ciri dasar filsafat nominalis. Kemudian dia sangat berkonsentrasi pada teologi via moderna setelah mengambil keputusan memasuki biara Augustinian (1505) dengan membaca habis tulisan-tulisan tokoh-tokoh gerakan ini seperti William Ockham, Pierre d’Allay dan Gabriel Biel. Menurut Heiko A.Oberman dalam satu esai penting yang diterbitkan tahun 1974 mengatakan bahwa ide-ide Gregorius (via Gregorii) mungkin telah disalurkan kepada Luther yang masih muda kala itu. Menurut McGrath, meskipun arti penting dari pendapat Oberman tidak perlu diragukan lagi, namun sejumlah kesulitan yang serius terdapat dalam jalan pikiran Oberman itu yakni: 1]. Sampai tahun 1519, Luther tidak pernah menjumpai tulisan Gregorius dari Rimini. 2]. Johannes von Staupitz, yang dirujuk Oberman sebagai saluran penyebaran tradisi ini, tidak dapat dipandang sebagai seorang yang mewakili dari schola Augustiniana moderna. 3]. Gregorius dari Rimini secara khusus diidentifikasikan oleh Universitas Paris sebagai tokoh yang menonjol, bersama dengan William Ockham, dari via moderna. Hal ini menyatakan bahwa via Gregorii tidak lebih daripada suatu jalan alternatif yang merujuk pada via moderna. 4]. Teologi mula-mula Luther (1509-1514) memperlihatkan tidak adanya jejak dari Augustinianisme radikal yang dikaitkan dengan Gregorius dari Rimini dan schola Augustiniana moderna. 5]. Statuta-statuta (anggaran dasar) Wittenberg tahun 1508 berhubungan dengan fakultas sastra, bukan dengan fakultas teologi. Karena itu tidak dapat diperkirakan bahwa mereka akan menyahkan pandangan-pandangan filsafat, bukan teologis, yang berhubungan dengan Gregorius dari Rumini.

(b) Hubungan Calvin dengan Skolastik Abad Pertengahan Akhir. Perjumpaan Calvin dengan teologi skolastik Abad Pertengahan akhir ini tidak dapat dielakkan. Sebab dia mengawali karier akademisnya di Universitas Paris dalam tahun 1520-an khususnya pada fakultas “the College de Montaigu” – yang merupakan benteng dari via moderna. Salah satu contoh yang menujukkan kedekatan hubungan antara Calvin dengan teologi Abad Pertengahan akhir ini adalah voluntarisme – ajaran bahwa dasar terdalam dan menentukan dari perbuatan baik terletak di dalam kehendak Allah, bukan dalam kebaikan intrinsik suatu perbuatan. Dalam karyanya, Institutio, Calvin mengambil benar-benar posisi voluntaris dalam kaitannya dengan jasa Kristus. Calvin menjelaskan pandangannya bahwa dasar dari jasa Kristus tidak terletak dalam persembahan diri Kristus sendiri (yang akan sejalan dengan pendekatan intelektualis terhadap ratio meriti Christi), tetapi dalam keputusan ilahi untuk menerima persembahan seperti itu sebagai jasa yang cukup untuk penebusan umat manusia (yang sejalan dengan pendekatan voluntaris). Bagi Calvin, “dilepaskan dari perkenan Allah yang baik, Kristus tidak dapat mempunyai jasa apa pun (nam Christus nonnisi ex Dei beneplacito quidquam mereri potuit). Menurut Karl Reuter, Calvin sangat dipengaruhi oleh teolog skolastik yang menonjol dari Skotlandia, John Major (atau Mair). Walaupun hipotesa ini menuai  kritik dari berbagai kalangan. Namun yang jelas, Calvin memperlihatkan hubungan-hubungan yang sangat dekat dengan ide-ide dari schola Augustiniana moderna. Menurut McGrath, ada tujuh ciri utama dari pemikiran Calvin yang mempunyai kesejajaran langsung dengan schola Augustianiana moderna: 1]. Suatu “nominalisme” atau “terminisme” epistemologis yang ketat. 2]. Suatu pemahaman voluntaris mengenai dasar-dasar dari jasa baik manusia dan juga jasa baik Yesus Kristus. 3]. Suatu penggunaan yang luas akan tulisan-tulisan Augustinus, khususnya karya-karya anti-Pelagian, yang memusatkan perhatian pada ajaran tentang anugerah. 4]. Suatu pandangan pesimistis yang kuat tentang hakikat manusia. 5]. Suatu penekanan yang kuat atas prioritas Allah dalam penyelamatan umat manusia. 6]. Suatu doktrin yang radikal mengenai predestinasi ganda yang absolut. 7]. Suatu penolakan akan peran perantara-perantara, seperti “kebiasaan-kebiasaan anugerah yang diciptakan” (created habits of grace) dalam pembenaran atau jasa baik.

Kelima, Konteks Sosial Skolastik. Konteks sosial skolastik ini dihubungkan dengan ordo-ordo keagamaan. Misalnya, orang-orang Dominikan cenderung untuk menyebarluaskan Thomisme dan orang-orang Fransiskan menyebarluaskan Scotisme meskipun ide-ide dari via moderna telah mapan di dalam kedua ordo tersebut pada abad ke-15. Seorang skolastik umumnya akan menjadi anggota dari satu ordo keagamaan. Karena itu pengaruh dari skolastik menjadi sangat terbatas dalam masyarakat. Kemudian, skolastik ini berada di bawah pembatasan-pembatasan geografis, sebagai contoh skolastik merupakan kekuatan intelektual yang penting dalam awal abad ke-16 di Jerman, tetapi tidak demikian halnya di Swiss.

2.5    Bab V: AJARAN PEMBENARAN OLEH IMAN[8]

Menurut McGrath, tema besar pertama dari pemikiran Reformasi adalah ajaran tentang pembenaran oleh iman. Namun agar dapat mengerti topik ini harus perlu membahas satu tema sentral dalam pemikiran Kristen yaitu “penebusan melalui Kristus”.

Pertama, Tema Dasar: Penebusan melalui Kristus. Tema “penebusan melalui Kristus” berkumandang di seluruh PB, ibadah Kristen dan teologi Kristen. Ide dasarnya adalah bahwa Allah telah menggenapi penebusan umat manusia yang berdosa melalui kematian Kristus di kayu salib. Komponen dasar dari ide penebusan ini dapat dibedakan sebagai berikut: (1) Gambaran-gambaran mengenai kemenangan. (2) Gambaran-gambaran mengenai status legal yang berubah. (3) Gambaran-gambaran mengenai hubungan pribadi yang berubah. (4) Gambaran-gambaran mengenai kebebasan. (5) Gambaran-gambaran mengenai pemulihan ke keutuhan.

Kedua, Konsep tentang Anugerah. Kata “anugerah” pada dasarnya berarti “kemurahan ilahi – yang tidak seharusnya diterima dan bukan semacam balas jasa – yang diberikan kepada manusia”. Selama Abad Pertengahan, anugerah cenderung dimengerti sebagai suatu substansi adikodrati yang dicurahkan oleh Allah ke dalam jiwa manusia supaya memudahkan pendamaian. Oleh karena itu, anugerah dimengerti sebagai sesuatu yang diciptakan di dalam diri kita oleh Allah untuk menjadi jembatan antara hakikat manusia yang murni dan hakikat ilahi – yang berfungsi sebagai pengantara. Anugerah dipandang sebagai semacam pangkalan jembatan atau titik pertengahan; melalui titik ini jurang pemisah yang tak terjembatani antara Allah dan manusia itu dapat diatasi. Ide tentang anugerah sebagai kemurahan Allah secara umum dan benar dipandang sebagai ide yang mendasari Reformasi Lutheran di Jerman – yang diperoleh manusia tanpa perbuatan baik dari pihaknya yang melandasi ajaran pembenaran oleh iman.

Ketiga, Terobosan Teologis Martin Luther. Menurut McGrath, Luther naik ke panggung sejarah umat manusia adalah karena suatu ide. Ide itu meyakinkannya bahwa gereja pada masa kehidupannya telah salah mengerti Injil, esensi kekristenan itu. Ide Luther itu dikenal dengan ungkapan “pembenaran hanya oleh iman”. Terobosan teologis Luther, yang sering disebut Turmerlebnis (Pengalaman Puncak Menara), berkenaan dengan pertanyaan bagaimana mungkin bagi seorang berdosa memasuki suatu hubungan dengan Allah yang benar. Untuk membahas ini, maka McGrath memberikan penjelasan yang lebih rinci tentang topik ini di bawah ini.

Keempat, Ajaran tentang Pembenaran. Istilah “pembenaran” dan kata kerja “membenarkan” mempunyai arti “masuk ke dalam suatu hubungan yang benar dengan Allah”, atau mungkin juga “dijadikan benar di hadapan pandangan Allah”. Ajaran pembenaran dilihat sebagai berhubungan dengan pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang individu supaya diselamatkan. Pertanyaan ini dalam sepanjang sejarah gereja masih terus diperdebatkan bahkan mengalami kekacauan. Mengapa? Menurut McGrath ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Pertama, tidak adanya pengumuman resmi dari gereja mengenai masalah ini selama lebih dari seribu tahun. Kedua, ajaran mengenai pembenaran tampaknya telah menjadi topik perdebatan yang disukai di antara teolog-teolog periode akhir Abad Pertengahan dengan hasil bahwa sejumlah pendapat yang tidak proporsional atas persoalan itu masuk ke dalam peredaran.

Kelima, Pandangan Luther yang mula-mula tentang Pembenaran. Pandangan Luther tentang pembenaran ini dimulai dalam kuliah-kuliah yang disampaikannya kepada mahasiswanya. Pada mulanya Luther adalah seorang pengikut yang setia dari pandangan via moderna. Allah telah mendirikan suatu perjanjian (pactum) dengan manusia. Melalui perjanjian itu Allah wajib membenarkan siapa saja yang mencapai persyaratan minimum tertentu (quod in se est). Akibatnya, Luther mengajarkan bahwa Allah memberikan anugerah-Nya kepada orang yang rendah hati sehingga semua orang yang merendahkan hatinya di hadapan Allah dapat mengharapkan untuk dibenarkan seperti yang sudah selayaknya. Oleh karena orang-orang berdosa melihat kebutuhan mereka akan anugerah dan datang kepada Allah agar Ia mengaruniakannya, maka ini berarti menempatkan Allah di bawah kewajiban untuk melakukan hal itu, dengan demikian membenarkan orang berdosa. Dengan kata lain, orang-orang berdosa memegang inisiatif, dengan datang kepada Allah: orang berdosa dapat melaukan sesuatu yang memberikan keyakinan bahwa Allah menjawab dengan membenarkan dia.

Keenam, Penemuan Luther akan “Kebenaran Allah”. Penemuan Luther akan “kebenaran Allah” (“iustitia Dei”) membuat dia sadar bahwa “kebenaran Allah” merujuk pada atribut ilahi yang tidak membeda-bedakan (adil). Allah menghakimi individu-individu dengan keadilan yang sempurna. Bila individu itu telah memenuhi prasyarat dasar untuk pembenaran, ia dibenarkan; apabila tidak memenuhi, ia dihukum. Allah tidak memperlihatkan bahwa Ia murah hati atau pilih kasih: Ia mengadili hanya berdasarkan atas jasa perbuatan baik. Allah bertindak secara sama maupun adil, dalam arti Ia memberikan kepada setiap individu tepat seperti jasa yang diperbuat itu – tidak lebih tidak kurang. Ide Luther itu sendiri menjadi ancaman bagi dirinya sendiri. Janji akan pembenaran memang cukup nyata, tetapi persyaratan yang ditempelkan pada janji itu membuat pemenuhannya tidak mungkin dilakukan. Akhirnya timbullah sikap pesimisme dalam diri Luther hingga membawanya kepada keputusasaan atas keselamatan dirinya sendiri yang semakin merupakan suatu ketidakmungkinan. “Bagaimanakah aku dapat menemukan Allah yang penuh anugerah? (Wie kriege ich einen gnadigen Gott?). Menjelang akhir tahun 1514, tampak bahwa Luther telah gagal untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini.

Pergumulan yang cukup mendalam ini dapat teratasi Luther melalui pengalaman pribadinya yang dikenal dengan istilah Turmelebnis, “Pengalaman Menara”. Melalui pengalaman rohani ini, Luther mengalami perubahan mendasar dan radikal bagi kehidupan Luther. Semula Luther melihat prasyarat untuk pembenaran sebagai sesuatu perbuatan manusia, sesuatu yang harus dilakukan oleh orang berdosa, sebelum ia dibenarkan. Dengan keyakinan yang semakin bertambah, melalui pembacaannya akan tulisan Augustinus, perbuatan seperti itu adalah suatu ketidakmungkinan, Luther hanya dapat menafsirkan “kebenaran Allah” sebagai kebenaran yang menghukum. Tetapi dalam pengalaman rohaninya, ia menceritakan bagaimana ia menemukan suatu “arti yang baru” dari ungkapan itu – suatu kebenaran yang “diberikan” Allah kepada orang berdosa. Dengan kata lain, Allah sendiri memenuhi persyaratan itu, dengan penuh kemurahan memberikan kepada orang-orang berdosa apa yang diperlukan mereka kalau mereka akan dibenarkan.

Ketujuh, Hakikat dari Iman yang membenarkan. Untuk dapat mengerti ide Luther tentang pembenaran oleh iman ini, maka kita tidak bisa terlepas dari pemahaman tentang “iman” itu sendiri. Luther memberikan kontribusi yang fundamental pada perkembangan pemikiran Reformasi tentang pokok iman ini. Menurut Luther, ada tiga pokok penting tentang iman yaitu:

(1)     Iman mempunyai rujukan yang pribadi/personal daripada rujukan yang murni historis. Artinya iman bukanlah semata-mata pengetahuan historis. Luther berpendapat bahwa iman yang puas dengan percaya pada keandalan historis dari Injil bukanlah iman yang membenarkan. Iman yang menyelamatkan menyangkut kepercayaan dan keyakinan yang sungguh bahwa Kristus telah dilahirkan pro nobis, dilahirkan untuk kita secara pribadi, dan telah menggenapi untuk kita pekerjaan keselamatan itu.

(2)     Iman menyangkut kepercayaan pada janji-janji Allah. Artinya iman ini adalah iman “kepasrahan” (fiducia) yang memakai analogi kelautan. Maksudnya, iman bukanlah semata-mata hanya percaya bahwa ada sebuah kapal;  iman berarti naik dan masuk ke dalam kapal dan memasrahkan diri kepada kapal tersebut. Bagi Luther, iman bukanlah sekedar hanya percaya bahwa sesuatu adalah benar; iman berarti siap untuk bertindak atas dasar kepercayaan dan menyandarkan diri padanya.

(3)     Iman mempersatukan orang percaya dengan Kristus. Bagi Luther, iman bukanlah suatu jawaban “ya” terhadap seperangkat ajaran yang abstrak. Iman adalah suatu “cincin perkawinan” yang menunjuk pada komitmen bersama dan kesatuan antara Kristus di dalam diri orang percaya.

Lebih dalam Luther mengatakan bahwa dalam pembenaran, Allah adalah aktif, dan manusia adalah pasif. Ungkapan “pembenaran oleh anugerah melalui iman” memberikan arti dari ajaran itu dengan lebih jelas; pembenaran orang berdosa didasarkan atas anugerah dan diterima melalui iman. Luther berkata, “Anugerah Allah yang membenarkan kita demi Kristus hanya melalui iman, tanpa perbuatan-perbuatan baik, sedangkan iman dalam pada itu berlimpah dalam perbuatan-perbuatan baik”. Artinya ajaran tentang pembenaran hanya oleh iman merupakan suatu penegasan bahwa Allah melakukan segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan. Bahkan iman itu sendiri adalah pemberian Allah, bukan perbuatan manusia.

Menurut Luther, perbuatan baik bukanlah dasar dari pembenaran iman, melainkan sebagai suatu tindakan pengucapan syukur kepada Allah karena telah mengampuninya. Artinya perbuatan baik bukan usaha untuk mencapai Allah supaya mengampuni orang berdosa.[9]

Kedelapan, Alasan-alasan dan konsekuensi-konsekuensi dari ajaran Luther mengenai Pembenaran. Menurut McGrath, konsekuensi-konsekuensi dari terobosan Luther dilihat dari beberapa hal. Pertama, berkaitan dengan serangan Luther terhadap teologi skolastik. Luther mengungkapkan kekurangan-kekurangan dari ajaran mengenai pembenaran melalui sebuah karyanya, Perdebatan Melawan Teologi Skolastik (September 1517) yang diarahkan melawan seorang teolog skolastik Gabriel Biel yang mewakili via moderna. Perlawanan ini didukung oleh Andreas Bodenstein von Karlstadt, dekan fakultas teologi di Wittenberg. Karlstadt dan Luther merekayasa suatu pembaruan atas fakultas teologi dalam bulan Maret 1518 dan berhasil dalam menyingkirkan segala sesuatu yang benar-benar berhubungan dengan skolastik dari kurikulum. Sejak saat itu mahasiswa teologi di Wittenberg akan mempelajari Augustinus dan Alkitab, bukan skolastik. Kedua, ajaran pembenaran oleh iman berdampak pada terhadap praktek surat penghapusan dosa yang diberlakukan oleh Johannes Tetzel. Kemarahan Luther disulut oleh teknik-teknik pemasaran surat penghapusan dosa itu sendiri. Ajaran Luther ini sangat merugikan pihak Gereja Katolik Roma sebab surat penghapusan dosa ini merupakan sumber utama dari penghasilan paus. Ajaran pembenaran ini melumpuhkan vested interest pada surat penghapusan dosa itu. Pengampunan adalah masalah antara orang percaya itu dengan Allah, tidak ada orang lain terlibat. Tidak ada imam yang diperlukan untuk menyatakan bahwa orang itu telah diampuni.

Lebih dalam McGrath menjelaskan konsekuensi-konsekuensi sosial dari ajaran Luther tentang pembenaran hanya oleh iman dapat digambarkan dengan merujuk pada nasib dari persaudaraan-persaudaraan kaum awam. Ajaran pembenaran oleh iman menyingkirkan kebutuhan dari persaudaraan-persaudaraan dengan menolak jaringan kerja dari kepercayaan-kepercayaan. Raison d’etre (keberadaan) dari persaudaraan-persaudaraan itu dengan demikian secara radikal diruntuhkan sehingga peran-peran sosial dari persaudaraan-persaudaraan itu juga ikut hancur.

Kesembilan, Konsep tentang “Pembenaran berdasarkan hukum”. Pokok persoalan pembenaran berdasarkan hukum (forensic justification) ini berpusat pada pertanyaan tentang lokasi dari kebenaran yang membenarkan (justifying righteousness) itu sendiri.  Augustinus dan Luther sependapat bahwa Allah dengan anugerah-Nya memberikan kepada manusia berdosa suatu kebenaran yang membenarkan mereka. Tetapi di manakah kebenaran itu ditempatkan? Augustinus berpendapat bahwa kebenaran itu ditemukan di dalam diri orang percaya. Luther berpegang bahwa kebenaran itu tetap berada di luar diri orang-orang percaya. Bagi Augustinus kebenaran yang dibicarakan adalah internal; bagi Luther dia adalah eksternal. Menurut Augustinus, Allah melimpahkan kebenaran yang membenarkan ke atas orang berdosa dalam suatu cara sedemikian rupa sehingga dia menjadi bagian dari diri orang itu sendiri. Sebaliknya, bagi Luther, kebenaran merupakan suatu “kebenaran yang asing” (iustitia aliena). Artinya orang-orang percaya benar oleh karena kebenaran asing dari Kristus yang dihubungkan kepada mereka (diperlakukan seolah-olah kebenaran itu ada pada mereka melalui iman). Lebih dalam Luther berpendapat bahwa melalui iman, orang percaya berpakaian kebenaran Kristus. Iman adalah hubungan yang benar dengan Allah. Dengan demikian dosa dan kebenaran berada bersama. Artinya, kita tetap merupakan orang-orang berdosa dari dalam, tetapi merupakan orang benar dari luar, yaitu dalam pandangan Allah. Dengan mengaku dosa kita dalam iman, kita berdiri dalam hubungan yang benar dengan Allah. Luther sama sekali tidak menyatakan bahwa keberadaan dosa dan kebenaran ini secara permanen. Luther sepenuhnya sadar bahwa kehidupan Kristen adalah dinamis.

Kesepuluh, Perbedaan-perbedaan di antara Reformator-reformator mengenai Pembenaran. Dalam bagian ini McGrath mencoba memaparkan beberapa perbedaan pemikiran di antara para Reformator tentang pembenaran itu sendiri.

(1) Pembenaran dan Reformasi Swiss. Menurut Ernst Ziegler, Reformasi Swiss menunjuk pada reformasi kehidupan dan moralitas. Istilah “pembenaran oleh iman” secara mencolok tidak terdapat di dalam tulisan-tulisan para reformator Swiss. Zwingli melihat Reformasi sebagai sesuatu yang mempengaruhi gereja dan masyarakat yang bersifat moral dan spiritual. Tekanan pembenaran iman tidak ditemukan dalam ajaran Zwingli. Namun bagi Zwingli, pembenaran iman itu cenderung untuk memperlakukan Kristus sebagai suatu teladan moral yang dari luar daripada suatu kehadiran yang pribadi sifatnya di dalam diri orang percaya. Tidak benar mengatakan bahwa Zwingli mengajarkan pembenaran oleh perbuatan dalam periode awal dari pembaruannya. Ide-ide Zwingli mengenai pembenaran iman ini lebih dekat dengan Luther. Bagi Luther, Kitab Suci menyatakan janji-janji Allah, yang memulihkan kembali dan menghiburkan orang percaya. Bagi Zwingli, Kitab Suci menyatakan tuntutan-tuntutan moral yang dibuat Allah untuk orang-orang percaya.

(2) Perkembangan selanjutnya: Pandangan Bucer dan Calvin tentang pembenaran[10]. Bagi Bucer, pembenaran itu ada dua tahap yang dikenal dengan “pembenaran ganda” . Tahap pertama, “pembenaran orang yang tidak beriman” (iustificatio impii) yang terdiri atas pengampunan yang penuh kemurahan dari Allah atas dosa manusia (bagi Protestan: = “pembenaran”). Tahap kedua, “pembenaran orang salah” (iustificatio pii) yang terdiri atas suatu tanggapan ketaatan manusia akan tuntutan-tuntutan moral dari Injil (bagi Protestan: = kelahiran kembali). Dengan demikian, suatu hubungan kausal didirikan antara pembenaran dan kelahiran kembali. Orang berdosa tidak dapat disebut telah dibenarkan kecuali jika keduanya terjadi. Sedangkan menurut Calvin, iman mempersatukan orang pecaya dengan Kristus di dalam suatu “kesatuan mistis”. Persatuan dengan Kristus ini mempunyai dampak rangkap dua yang disebut sebagai anugerah ganda yakni: pertama, persatuan antara orang percaya dengan Kristus membawa secara langsung para pembenaran dirinya. Melalui Kristus orang percaya dinyatakan menjadi benar dalam pandangan Allah. Kedua, oleh karena persatuan orang percaya dengan Kristus, orang percaya itu mulai melakukan proses menjadi seperti Kristus melalui kelahiran kembali.

Kesebelas, Tanggapan Gereja Katolik: Konsili Trente tentang Pembenaran. Gereja Katolik Roma sangat serius membahas dan menanggapi ajaran pembenaran iman Luther ini dalam Konsili Trente khususnya pada sesi keenam pada tanggal 13 Januari 1547. Kritik Trente atas ajaran Luther ini dapat dirincikan ke dalam empat bagian utama:

(1) Hakikat pembenaran. Menurut Luther, hakikat pembenaran mengubah status sebelah luar dari orang berdosa dalam pandangan Allah (coram Deo), sedangkan kelahiran kembali mengubah sifat dasar bagian dalam dari orang berdosa itu. Bagi Katolik, pembenaran “bukanlah hanya suatu pengampunan dosa tetapi juga penyucian dan pembaruan kembali dari batin seseorang melalui penerimaan yang sukarela dari anugerah dan pemberian yang menyebabkan seseorang yang tidak benar menjadi seorang yang benar”. Pembenaran sangat erat dihubungkan dengan sakramen baptisan dan penebusan dosa. Orang berdosa mula-mula dibenarkan melalui baptisan: namun, oleh karena dosa, pembenaran itu dapat hilang. Walaupun demikian, pembenaran itu dapat dibarui kembali dengan sakramen penebusan dosa.

(2) Hakikat kebenaran yang membenarkan. Bagi Luther, orang-orang berdosa mempunyai kebenaran di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak mempunyai apa pun di dalam diri mereka yang dapat dianggap sebagai dasar bagi keputusan yang mahamurah dari Allah untuk membenarkan mereka. “Kebenaran yang asing dari Kristus” (iustitia Christi aliena) membuat jelas bahwa kebenaran yang membenarkan orang-orang berdosa adalah di luar mereka. Hal itu dinyatakan, tidak ditanamkan; eksternal, bukan internal. Trente dengan kuat mempertahankan ide Augustinus tentang pembenaran atas dasar suatu kebenaran internal. Trente menyatakan bahwa alasan yang langsung dari pembenaran adalah kebenaran yang oleh Allah dengan kemurahan-Nya ditanamkan ke dalam kita.

(3) Hakikat iman yang membenarkan. Bagi Luther, iman yang membenarkan tidak lain dari keyakinan akan kemurahan Allah yang mengampuni dosa demi Kristus. Trente sendiri sepenuhnya mengakui bahwa kehidupan Kristen dimulai melalui iman, jadi sebenarnya sangat dekat dengan pandangan Luther. Keputusan Trente menyatakan bahwa “Kita dikatakan menjadi benar oleh iman karena iman adalah permulaan dari keselamatan manusia, dasar dan akar dari semua pembenaran, bahwa tanpa iman tidaklah mungkin untuk menyukakan Allah” (pasal 8).

(4) Kepastian keselamatan. Bagi Luther, seseorang dapat benar-benar yakin akan keselamatannya. Keselamatan didasarkan pada kesetiaan Allah pada janji-janji kemurahan-Nya. Sementara itu, Trente tetap berpegang bahwa “tidak seorang pun dapat mengetahui dengan pasti tentang iman yang tidak dapat keliru, apakah mereka telah memperoleh anugerah Allah”.

2.6 Bab VI: AJARAN TENTANG PREDESTINASI[11]

Menurut McGrath, ciri utama dari teologi Reformed adalah predestinasi. Bagi banyak orang, istilah “Calvinis” sebenarnya identik dengan “menempatkan tekanan yang besar ke atas ajaran predestinasi”. Dalam bab ini McGrath memaparkan lebih dalam dan rinci tentang ajaran predestinasi ini dalam empat sub bab yaitu:

Pertama, Pandangan Zwingli, mengenai kedaulatan ilahi. Berbeda dengan Luther yang membentuk teologinya dari pengalaman rohaninya akan pembenaran Allah atas dirinya yang berdosa, teologi Zwingli hampir secara total dibentuk oleh perasaannya akan kemahakuasaan yang mutlak dari Allah dan ketergantungan total manusia pada-Nya. Ide Zwingli tentang kedaulatan Allah yang mutlak dikembangkan dalam ajarannya tentang pemeliharaan Allah khususnya dalam khotbahnya yang terkenal, De providentia, “Tentang Pemeliharaan Allah”.  Keprihatinan Zwingli yang sedang bertumbuh terhadap kedaulatan Allah membuat dia memutuskan hubungan dengan humanisme yang walaupun tidak diketahui sejak kapan dia memutuskan hubungannya dengan humanisme tersebut. Bagi Zwingli, dalam pembaruan yang dilakukannya yang dibutuhkan adalah pemeliharaan Allah, campur tangan ilahi; tanpa hal-hal itu reformasi yang benar merupakan suatu ketidakmungkinan.

Kedua, Pandangan Calvinisme yang kemudian[12]. Pemikiran Calvin merefleksikan suatu keprihatinan mengenai keberdosaan manusia dan kemahakuasaan ilahi, suatu keprihatinan yang menemukan pernyataannya yang paling lengkap dalam ajaran predestinasi. Ajaran predestinasi ini sebenarnya bukanlah merupakan pusat dari pemikiran Calvin seperti yang dikemukakan beberapa sarjana. Ajaran itu hanyalah satu aspek dari ajarannya mengenai keselamatan. Sebelum memahami ajaran predestinasi Calvin ini ada baiknya membandingkan pendapat Augustinus dan Calvin mengenai ajaran itu. Bagi Augustinus, kemanusiaan setelah kejatuhan ke dalam dosa adalah korup dan tidak berdaya, membutuhkan anugerah Allah untuk menebusnya. Anugerah itu tidak diberikan kepada semua orang. Augustinus mempergunakan istilah predestinasi untuk merujuk pada tindakan Allah dalam memberikan anugerah kepada beberapa orang. Predestinasi, bagi Augustinus, hanya merujuk pada keputusan ilahi untuk menebus, tidak merujuk pada tindakan membuang orang-orang berdosa yang lainnya. Bagi Calvin, keketatan logis menuntut bahwa Allah secara aktif memilih untuk menebus atau mengutuk. Allah tidak dapat dibayangkan melakukan sesuatu yang keliru; ia aktif dan berdaulat dalam tindakan-tindakan-Nya. Karena itu, Allah dengan aktif menginginkan keselamatan bagi orang-orang yang akan diselamatkan dan kutukan bagi orang-orang yang tidak akan diselamatkan. Bagi Calvin, predestinasi adalah “keputusan kekal dari Allah yang dengan cara itu Ia menentukan apa yang ingin dilakukan-Nya terhadap setiap individu. Sebab, Ia tidak menciptakan semua orang dengan kondisi yang sama, tetapi menakdirkan kehidupan kekal bagi beberapa orang dan hukuman kekal bagi orang-orang yang lain” (Buku 3 dari Institutio edisi tahun 1559, pasal 21-24).  Menurut Calvin, kemurahan Allah diperlihatkan di dalam keputusan-Nya untuk menebus individu-individu terlepas dari jasa-jasa mereka; keputusan untuk menebus seorang individu dibuat tanpa rujukan pada berapa berjasanya kira-kira individu tersebut. Bagi, Luther, kemahamurahan Allah diperlihatkan di dalam hal bahwa Ia menyelamatkan orang-orang berdosa tanpa memperhitungkan cacat cela mereka.

Lebih dalam Calvin menjelaskan bahwa predestinasi harus dipertimbangkan dalam konteksnya yang benar. Predestinasi bukanlah produk dari spekulasi manusia, melainkan merupakan suatu misteri penyataan ilahi (I.ii.2; III.1-2). Konteks itu berkaitan dengan kemujaraban dari proklamasi Injil.

Meskipun ajaran tentang predestinasi itu bukan merupakan ajaran yang sentral bagi pemikiran Calvin sendiri, ajaran itu sendiri menjadi pusat dari teologi Reformed di kemudian hari melalui pengaruh dari penulis-penulis seperti Petrus Martyr Vermigli dan Theodorus Beza.

Ketiga, Predestinasi di dalam Calvinisme yang kemudian. Pemahaman predestinasi ini mengalami perkembangannya dalam Calvinisme yang kemudian sehingga perbedaan yang kontras dengan Calvin akan terlihat dengan jelas. Bagi Calvin, teologi berpusat pada dan berasal dari peristiwa Yesus Kristus, seperti yang disaksikan Kitab Suci. Calvin memusatkan teologinya pada fenomena historis yang khusus dari Yesus Kristus dan kemudian bergerak untuk menjelajahi implikasi-implikasinya. Sebaliknya, Beza, mulai dari prinsip-prinsip umum dan melanjutkannya dengan menarik kesimpulan (deduksi) berdasarkan konsekuensi-konsekuensi prinsip tersebut bagi teologi Kristen. Beza memakai prinsip-prinsip teologinya berdasarkan sistem keputusan-keputusan pemilihan ilahi, artinya keputusan ilahi untuk memilih orang-orang tertentu pada keselamatan dan orang-orang lain pada penghukuman. Konsekuensi perkembangan teologi ini muncullah ajaran tentang “pendamaian yang terbatas” atau “penebusan yang khusus”. Benedictus Godescalc dari Orbais (Gottschalk), telah mengembangkan suatu ajaran tentang predestinasi ganda. Godescalc menunjukkan bahwa sangat tidak tepat mengatakan kalau Kristus menderita bagi orang-orang seperti itu. Sebab, bila Ia telah menderita bagi mereka, Ia telah mati dalam kesia-siaan karena nasib mereka tidak akan terpengaruh. Godescalc mengemukakan bahwa Kristus mati “hanya untuk orang yang telah dipilih”.  Dengan penekanan predestinasi yang demikian, maka muncullah ide pemilihan. Bagi Lutheranisme akhir abad ke-16, pemilihan berarti suatu keputusan manusia untuk mengasihi Allah, bukan keputusan Allah untuk memilih individu-individu tertentu. Orang-orang Lutheran tidak pernah memiliki perasaan menjadi “pilihan Allah” yang sama seperti orang Calvinis.  Sementara ajaran Reformed tentang pemilihan dan predestinasi merupakan kekuatan pendorong di belakang ekspansi besar-besaran dari gereja Reformed abad ke-17.

Keempat, Ajaran tentang anugerah dan Reformasi. Benjamin B.Warfield berkata, “Bila dipikirkan dari dalam, Reformasi merupakan kemenangan yang paling menentukan dari ajaran Augustinus tentang anugerah atas ajaran Augustinus tentang gereja”. Pendapat ini meringkaskan dengan brilian makna penting ajaran tentang anugerah bagi perkembangan Reformasi. Bagi, Luther, ajaran Augustinus tentang anugerah, merupakan articulus stantis et cadentis ecclesiae atau “pengakuan yang berdampak bagi berdiri atau jatuhnya gereja”.  Pemahaman tentang ajaran anugerah ini terdapat perbedaan-perbedaan halus antara Augustinus dan para reformator. Bagi para reformator, khususnya Luther, gereja Kristen dibentuk secara sah oleh ajarannya tentang anugerah. Namun Augustinus telah mengembangkan suatu eklesiologi yang menekankan kesatuan dari gereja. Para reformator merasa dapat meninggalkan Augustinus pada pokok masalah ini dengan berpendapat bahwa pandangan-pandangannya mengenai anugerah adalah jauh lebih penting daripada pandangan-pandangannya tentang gereja. Gereja, menurut para reformator merupakan produk dari anugerah Allah. Gereja merupakan penjamin dari iman Kristen.

2.7    Bab VII: KEMBALI PADA KITAB SUCI[13]

Ide tentang sola scriptura, “hanya oleh Kitab Suci”, menjadi suatu slogan besar dari para reformator tatkala mereka berusaha untuk membawa kembali praktik-praktik dan kepercayaan-kepercayaan gereja sesuai dengan praktik dan kepercayaan gereja sesuai dengan praktik dan kepercayaan dari Zaman Emas kekristenan. Bila ajaran pembenaran hanya oleh iman merupakan prinsip material dari Reformasi, prinsip sola scriptura merupakan prinsip formalnya. Reformasi memandang Kitab Suci sebagai sumber tambang yang darinya ide dan praktik-praktik aliran itu digali.  Dalam bab ini McGrath pengertian reformasi tentang Kitab Suci dengan rinci, menempatkannya dalam konteks dunia pemikiran dari periode Abad Pertengahan dan Renaisans. Bab ini dibagi dalam empat sub bab yakni:

Pertama, Kitab Suci di dalam Abad Pertengahan

(1) Konsep tentang “Tradisi”. Konsep “tradisi” telah menjadi sangat penting dalam hubungannya dengan penafsiran dan kewibawaan Kitab Suci pada akhir Abad Pertengahan. Menurut Heiko A. Oberman, hanya ada dua konsep tradisi yang sangat berbeda yang beredar di dalam Abad Pertengahan yakni: “Tradisi 1” dan “Tradisi 2”. Tradisi 1 artinya suatu cara tradisional dalam menafsirkan Kitab Suci di dalam persekutuan iman. Tradisi 2 adalah penyataan di samping Kitab Suci, karena Kitab Suci tidak berkata apa-apa atas sejumlah pokok masalah. Tradisi ini melengkapi kekurangan pada tradisi 1. Untuk meringkaskannya, “Tradisi 1” merupakan suatu teori satu sumber untuk ajaran: ajaran didasarkan atas Kitab Suci dan “tradisi” merujuk pada “cara tradisional dalam menafsirkan Kitab Suci”. Sebaliknya, “Tradisi 2” merupakan suatu teori dua sumber untuk ajaran-ajaran didasarkan atas dua sumber yang sama sekali berbeda, Kitab Suci dan tradisi lain.

(2) Terjemahan Vulgata atas Alkitab. Dalam perkembangan penafsiran Kitab Suci, para teolog tidak hanya memakai textus vulgatus, “teks biasa” yang disusun oleh sarjana alkitabiah patristis yang besar seperti Hieronimus pada abad ke-4. Namun dalam abad-abad ke 16, teks Vulgata ini diterjemahkan dengan berbagai variasi-variasi yang sangat berbeda. Misalnya Theodulfus dan Alcuinus, sarjana-sarjana yang terkenal dari Abad Kegelapan, mempergunakan versi-versi yang sangat berbeda dari teks Vulgata. Dengan adanya berbagai macam variasi tersebut, maka kebutuhan untuk penyeragaman muncul sebagai usaha bersama dari teolog Paris dengan menghasilkan “versi Paris” dari teks Vulgata. Sejak itu, Paris diakui sebagai pusat yang menonjol dari teologi di Eropa. “Versi Paris” dari Vulgata ditetapkan sebagai yang normatif.

(3) Versi-versi Kitab Suci bahasa daerah dalam Abad Pertengahan. Selama Abad Pertengahan telah dihasilkan sejumlah versi bahasa daerah dari Kitab Suci, meskipun pernah dikutuk proses penerjemahan ini. Misalnya, terjemahan versi Wycliffe yang dihasilkan oleh sekelompok sarjana di sekitar John Wycliffe di Lutterworth. Motivasi untuk penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris sebagian bersifat rohani, sebagian lagi bersifat politik. Bersifat rohani dalam arti bahwa orang awam sekarang dapat mempergunakan Goddis lawe (hukum Allah) dan bersifat politik dalam arti bahwa suatu tantangan yang implisit diajukan pada kewenangan pengajaran gereja.

Kedua, Kaum Humanis dan Alkitab. Secara ringkas McGrath memberikan hubungan gerakan humanis dengan penelitian Kitab Suci yaitu: (1) Tekanan yang besar dari kaum humanis untuk kembali ke sumber-sumber (ad fontes)[14]. (2) Kitab Suci harus dibaca secara langsung dalam bahasa-bahasa aslinya daripada dibaca dalam terjemahan Latin. (3) Gerakan humanis membuat tersedianya dua peralatan yang esensial untuk metode baru dari penelitian Alkitab. Pertama, menyediakan teks cetakan Kitab Suci dalam bahasanya yang asli misalnya Novum Instrumentum omne dari Erasmus tahun 1516. Kedua, menyediakan buku-buku pegangan dalam bahasa klasik. (4) Gerakan humanis mengembangkan teknik-teknik meneliti teks yang mampu menetapkan dengan akurat teks terbaik dari Kitab Suci. (5) Orang-orang humanis cenderung melihat teks-teks kuno sebagai perantara suatu pengalaman yang dapat ditangkap kembali melalui metode-metode sastra yang sesuai. (6) Dalam karyanya Enchiridion, yang menjadi sangat berpengaruh dalam tahun 1515, Erasmus berpendapat bahwa kaum awam yang memahami Alkitab merupakan kunci bagi pembaruan gereja.

Ketiga, Alkitab dan Reformasi. “Alkitab”, tulis William Chillingworth, “dan aku katakan, hanya Alkitab, adalah agama dan orang-orang Protestant.” Kata-kata termasyhur dari orang Protestan Inggris dalam abad ke-17 ini meringkaskan sikap Reformasi terhadap Kitab Suci. Calvin menyatakan, “Biarlah hal ini kemudian menjadi suatu aksioma yang pasti: bahwa tidak ada yang lain yang harus diakui di dalam gereja sebagai Firman Allah kecuali apa yang termuat, pertama dalam Torah dan Kitab Nabi-Nabi, dan kedua dalam tulisan-tulisan dari para Rasul; dan bahwa tidak ada metode pengajaran lain di dalam gereja yang berlainan dari apa yang sesuai dengan ketentuan dan aturan dari Firman-Nya.” Zwingli memberikan judul untuk traktat yang ditulisnya pada tahun 1522 mengenai Kitab Suci, yakni Tentang Kejelasan dan Kepastian dari Firman Allah, yang menandaskan bahwa “Landasan agama kita adalah firman yang tertulis, Kitab Suci Allah”. Pandangan-pandangan seperti itu menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap Kitab Suci yang secara konsisten dimiliki oleh para reformator. Perbedaan antara para reformator dan teologi Abad Pertengahan pada pokok masalah ini menyangkut bagaimana Kitab Suci itu didefinisikan dan ditafsirkan lebih daripada menyangkut status yang diberikan kepadanya. McGrath membahas pokok-pokok ini lebih jauh dalam bagian yang berikut ini.

(1) Kanon Kitab Suci. Kanon Kitab Suci adalah merupakan hal pokok dalam   menentukan batas-batas Kitab Suci. Istilah “kanon” (satu kata Yunani yang berarti “aturan” atau “norma”) dipergunakan untuk merujuk pada kitab-kitab yang oleh gereja dianggap otentik. Bagi teolog-teolog Abad Pertengahan, “Kitab Suci” berarti “karya-karya yang tercakup dalam Vulgata”. Namun, para reformator merasa berwenang untuk mempersoalkan penilaian ini. Para reformator berpendapat bahwa tulisan-tulisan Perjanjian Lama yang dapat diakui untuk masuk dalam kanon Kitab Suci hanyalah yang asli terdapat dalam Alkitab Ibrani. Jadi, suatu perbedaan ditarik antara “Perjanjian Lama” dan “Apokrifa”; yang pertama terdiri atas kitab-kitab yang terdapat dalam Alkitab Ibrani, yang belakangan terdiri atas kitab-kitab yang terdapat dalam Alkitab Yunani dan Alkitab Latin (seperti Vulgata), tetapi tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani. Sementara beberapa reformator mengakui bahwa karya-karya apokrif itu merupakan bacaan yang dapat membawakan perbaikan, telah ada persetujuan umum bahwa karya-karya ini tidak dapat dipergunakan sebagai dasar untuk ajaran. Namun, teolog-teolog Abad Pertengahan, diikuti oleh Konsili Trente tahun 1546, mendefinisikan “Perjanjian Lama” sebagai “karya-karya Perjanjian Lama yang termuat dalam Alkitab Yunani dan Latin”, dan menyingkirkan perbedaan antara “Perjanjian Lama” dan “Apokrifa”. Jadi, suatu perbedaan yang fundamental berkembang antara pengertian- pengertian Katolik Roma dan Protestan tentang apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan istilah “Kitab Suci”. Perbedaan ini tetap ada sampai hari ini. Satu perbandingan antara versi-versi Alkitab Protestan – dua yang terpenting adalah New Revised Standard Version (NRSV) dan New International Version (NIM) – dengan versi-versi Katholik Roma, seperti Jerusalem Bible, akan mengungkapkan perbedaan- perbedaan ini. Bagi para reformator, sola scriptura dengan demikian tidak hanya mengimplikasikan satu perbedaan, tetapi dua, dari pihak Katolik yaitu pihak yang bertentangan dengan mereka; bukan hanya status yang berbeda yang mereka kenakan terhadap Kitab Suci, tetapi mereka juga tidak sependapat tentang apa sebenarnya Kitab Suci itu. Tetapi apakah relevansi dari perdebatan ini? Satu hasil dari perdebatan ini adalah produksi dan peredaran daftar-daftar yang sah dari buku-buku yang dianggap “alkitabiah”. Sesi keempat dari Konsili Trente (1546) menghasilkan suatu daftar yang rinci yang memasukkan karya-karya Apokrifa sebagai yang otentik Alkitabiah, sedangkan jemaat-jemaat Protestan di negeri Swiss, Perancis, dan di mana saja, memproduksi daftar-daftar yang dengan sengaja menghilangkan rujukan pada karya-karya ini atau juga menunjukkan bahwa mereka tidaklah penting dalam masalah ajaran.

(2) Kewibawaan Kitab Suci. Para reformator melandaskan kewibawaan Kitab Suci dalam hubungannya dengan Firman Allah. Bagi beberapa orang, hubungan itu tampaknya sedikit lebih bernuansa; Kitab Suci memuat Firman Allah di mana Kitab Suci harus diterima seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara. Bagi Calvin, kewibawaan Kitab Suci dilandaskan dalam fakta bahwa para penulis Alkitab adalah “sekretaris (`notaires authentiques` dalam Institutio versi bahasa Perancis) Roh Kudus”. Menurut Heinrich Bullinger, kewibawaan Kitab Suci adalah mutlak dan otonom, “Oleh karena ia merupakan Firman Allah, Kitab Suci yang kudus itu mempunyai kedudukan dan kredibilitas yang mencukupi di dalam dirinya sendiri dan dari dirinya sendiri.” Kitab Suci mampu memberikan penilaian atas gereja Abad Pertengahan (dan nyatanya “kurang”) dan juga memberikan model bagi gereja Reformed baru yang akan muncul segera sesudah ini. Sejumlah hal menunjukkan makna penting dari prinsip `sola scriptura` ini. Pertama, para reformator itu mempunyai pendapat yang teguh bahwa kewenangan paus-paus, dewan-dewan dan teolog-teolog berada di bawah Kitab Suci. Alkitab, sebagai Firman Allah, harus dipandang sebagai yang lebih tinggi daripada Bapa-bapa Gereja dan dewan-dewan. Kedua, para reformator itu berpendapat bahwa kewibawaan di dalam gereja tidaklah berasal dari status sang pengemban jabatan, tetapi dari Firman Allah yang dilayani oleh pengemban jabatan itu. Para reformator melandaskan kewibawaan dari uskup-uskup (atau jabatan yang sepadan dalam gereja Protestan) di dalam kesetiaan mereka pada Firman Allah.[15] Dengan demikian prinsip sola scriptura mencakup klaim bahwa kewibawaan gereja dilandaskan di dalam kesetiaannya pada Kitab Suci.

(3) Peran Tradisi. Tiga pengertian utama tentang hubungan antara Kitab Suci dan tradisi yang ada dalam abad ke-16 dapat diringkaskan sebagai berikut: [a] Tradisi 0: Reformasi radikal. [b] Tradisi 1: Reformasi yang mengaku negara (Reformasi magisterial). [c]  Tradisi 2:  Konsili Trente. Satu-satunya sayap dari Reformasi yang menerapkan secara konsisten prinsip `sola scriptura` adalah Reformasi radikal atau “Anabaptisme”. Bagi orang-orang radikal itu seperti Thomas Muntzer dan Caspar Schwenkfeld, setiap individu mempunyai hak untuk menafsirkan Kitab Suci sesuka hati masing-masing dengan tunduk pada tuntunan Roh Kudus. Bagi Sebastian Franck yang radikal itu, “Alkitab adalah suatu kitab yang dimeteraiksan oleh tujuh meterai yang tidak dapat dibuka oleh seorang pun kecuali ia mempunyai kunci Daud, yang adalah pencerahan Roh”. Dengan demikian, jalan terbuka bagi individualisme, dengan penilaian (pendapat) pribadi dari seorang individu yang muncul mengatasi penilaian yang bersifat kelompok dari gereja.

Reformasi magisterial secara teologis bersifat konservatif. Ia mempertahankan ajaran-ajaran gereja yang paling tradisional – seperti keilahian Kristus dan ajaran tentang Trinitas – oleh karena keyakinan para reformator itu bahwa penafsiran-penafsiran tradisional atas Kitab Suci ini benar. Pokok ini sangatlah penting dan telah tidak mendapatkan perhatian sewajarnya. Salah satu alasan mengapa reformator-reformator itu menghargai tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja, khususnya Augustinus, adalah bahwa mereka melihat Bapa-bapa Gereja itu sebagai eksponen-eksponen dari teologi Alkitabiah. Dengan kata lain, reformator-reformator itu percaya bahwa Bapa-bapa Gereja itu sedang berusaha untuk mengembangkan suatu teologi yang hanya didasarkan atas Kitab Suci – yang tentu saja tepat sama seperti apa yang juga tengah mereka coba lakukan pada abad ke-16. Dengan demikian akan menjadi jelas bahwa penghargaan yang tinggi terhadap penafsiran tradisional atas Kitab Suci ini (yakni “Tradisi 1″) memberikan Reformasi magisterial arah yang kuat mengenai konservatisme dalam ajaran.

Pemahaman tentang prinsip `sola scriptura` ini memberikan kemungkinan kepada para reformator untuk mengkritik kedua lawan mereka – pihak pertama adalah golongan radikal dan pihak kedua adalah golongan Katolik. Orang-orang Katolik berpendapat bahwa reformator-reformator itu mengangkat penilaian (pendapat) pribadi di atas penilaian (pendapat) yang bersifat kelompok dari gereja. Tradisi 0 tidak memberikan tempat bagi penafsiran tradisional atas Kitab Suci. Para reformator magisterial dengan demikian menolak pengertian yang radikal akan peran Kitab Suci ini dengan menganggapnya sebagai individualisme murni, suatu resep untuk kekacauan teologis.

Konsili Trente, yang bersidang dalam tahun 1546, menanggapi ancaman dari Reformasi dengan menegaskan suatu teori dua sumber. Penegasan oleh Tradisi 2 dari Reformasi Katholik ini menyatakan bahwa iman Kristen menjangkau setiap generasi melalui dua sumber: Kitab Suci dan suatu tradisi yang tidak tertulis. Tradisi yang di luar Alkitab ini harus diperlakukan sebagai yang memiliki kewibawaan yang setara dengan Kitab Suci. Dalam membuat pernyataan ini, Konsili Trente tampaknya telah mengangkat yang belakangan dan yang kurang berpengaruh, dari dua pengertian Abad Pertengahan yang utama tentang “tradisi” dengan meninggalkan yang lebih berpengaruh itu untuk para reformator. Penting dicatat bahwa dalam tahun-tahun terakhir ini sudah ada suatu “revisionisme” dalam derajat tertentu dalam lingkungan-lingkungan Katolik Roma mengenai masalah ini dengan beberapa teolog masa kini yang berpendapat bahwa Konsili Trente meniadakan pandangan bahwa “Injil hanyalah sebagian ada di dalam Kitab Suci dan sebagian ada di dalam tradisi-tradisi”.

(4) Metode-metode Penafsiran Kitab Suci. Metode baku penafsiran Alkitab yang dipergunakan selama Abad Pertengahan dikenal sebagai Quadriga atau “pengertian rangkap empat dari Kitab Suci”. Keempat pengertian Kitab Suci itu adalah: [a] Pengertian harfiah, yaitu bahwa teks itu diambil menurut apa yang tertulis. [b] Pengertian alegoris, yaitu bahwa bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci ditafsirkan sedemikian rupa untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan tentang ajaran. [c] Pengertian tropologis atau moral, yaitu bahwa bagian-bagian tertentu ditafsirkan untuk menghasilkan pedoman etis bagi tingkah laku Kristen. [d] Pengertian analogis,, yaitu bahwa bagian-bagian tertentu ditafsirkan untuk menunjukkan dasar-dasar pengharapan Kristen.

(5) Hak menafsir Kitab Suci. Bagi Katolik, Kitab Suci sukar untuk ditafsirkan – dan Allah telah menakdirkan untuk memberikan seorang penafsir yang dapat diandalkan dan berwibawa dalam bentuk Gereja Katolik Roma. Para reformator menolak pandangan ini dengan mengatakan bahwa setiap orang percaya memiliki hak dan kemampuan untuk menafsirkan Kitab Suci. Persoalannya adalah bagaimanakah suatu penafsiran komunal Protestan yang berwibawa atas Kitab Suci dapat diberikan. Setidaknya ada dua cara yang dilakukan Reformasi yaitu: pertama, pendekatan “kateketis”. Para pembaca Kitab Suci Protestan dilengkapi dengan suatu penyaringan yang boleh mereka gunakan untuk menafsirkan Kitab Suci seperti Katekismus Kecil Martin Luther yang melengkapi para pembacanya dengan suatu kerangka sehingga mereka dapat memahami Kitab Suci. Kedua, “hermeneutika politis” yang dihubungkan dengan Reformasi Zwingli di Zurich. Metode ini sangatlah penting dalam hubungannya dengan sejarah politis Reformasi.

Keempat, Tanggapan Katolik: Konsili Trente dalam hal Kitab Suci. Keputusan Konsili Trente khususnya sesi keempat pada tanggal 8 April 1546 menyimpulkan dan menetapkan keberatan-kebaratan terhadap posisi Protestan tentang Kitab Suci sebagai berikut: (1) Kitab Suci tidak dapat dilihat sebagai satu-satunya sumber pernyataan, tradisi merupakan suatu pelengkap yang vital. (2) Daftar kitab kanonis Protestan tidak mencukupi dan menerbitkan satu daftar lengkap dari karya-karya yang diterima sebagai berwibawa. (3) Edisi Vulgata dari Kitab Suci ditegaskan dapat diandalkan dan berwibawa. (4) Kewenangan gereja untuk menafsirkan Kitab Suci dipertahankan. (5) Tidak ada orang Katolik Roma yang diizinkan untuk menerbitkan karya tulis apa pun yang berkenaan dengan penafsiran Kitab Suci.

2.7 Bab VIII: AJARAN TENTANG SAKRAMEN-SAKRAMEN[16]

Istilah “Sakramen” berasal dari bahasa Latin, sacramentum yang berarti “sesuatu yang dikuduskan” dan telah dipakai untuk merujuk pada serangkaian ritus gereja atau perbuatan-perbuatan klerikal yang dianggap mempunyai kualitas-kualitas spiritual yang khusus, misalnya kemampuan untuk menyalurkan anugerah Allah. Duns Scotus mendefinisikan sakramen sebagai “tanda yang bersifat fisik, yang ditetapkan oleh Allah, yang secara mujarab menandakan anugerah Allah atau perbuatan anugerah Allah”. Pada umumnya definisi sakramen ini adalah sama bahwa sakramen-sakramen adalah tanda-tanda yang kelihatan dari anugerah yang tidak kelihatan sebagai “saluran-saluran” anugerah. Ajaran tentang sakramen pun mengalami kritik yang tajam dari kalangan reformatoris terhadap Katolik yang mengakui bahwa ada tujuh sakramen dalam gereja yaitu: baptisan, ekaristi (Perjamuan Kudus), penebusan dosa, konfirmasi, pernikahan, penahbisan, dan pengurapan orang sakit. Pada Abad Pertengahan, para reformator menyusun suatu serangan gencar atas jumlah, hakikat dan fungsi sakramen-sakramen serta mengurangi jumlah sakramen-sakramen menjadi dua (baptisan dan Perjamuan Kudus). Perdebatan ini tidak hanya melawan pihak Katolik saja, namun di kalangan para reformator sendiri pun terjadi pemahaman yang berbeda-beda tentang Perjamuan Kudus misalnya antara Luther dan Zwingli. Di sisi lain dalam pemakaian istilah sakramen ini terdapat juga perdebatan di antara Katolik dan Protestan. Reformasi secara berangsur-angsur menolak istilah “misa” dan lebih suka memakai istilah “ekaristi”. Dalam bab ini McGrath menguraikan ajaran sakramen ini dengan enam sub bab yakni:

Pertama, Sakramen-sakramen dan janji-jani anugerah. Tema sentral bagi Reformasi yang menekankan pentingnya sakramen-sakramen adalah “akomodasi ilahi atas kelemahan manusia”. Prinsip akomodasi ini berlaku lebih luas dengan mempergunakan analogi-analogi dan alat-alat bantu visual. Menurut Calvin, Allah mengakomodasikan diri-Nya sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan kita. Bagi para reformator generasi pertama, sakramen-sakramen merupakan tanggapan Allah terhadap kelemahan manusia. Sakramen merupakan suatu akomodasi terhadap keterbatasan manusia itu. Sakramen-sakramen itu menggambarkan janji-janji Allah yang disampaikan melalui objek-objek dunia sehari-hari. Philip Melanchthon dalam karyanya, Usul-usul mengenai Misa (1521), menekankan bahwa sakramen-sakramen terutama merupakan suatu penyesuaian ilahi yang penuh anugerah untuk kelemahan manusia. Bagi Melanchthon, sakramen-sakramen merupakan tanda-tanda. Tanda-tanda sakramental ini mempertinggi kepercayaan kita kepada Allah. “Supaya mengurangi ketidakpercayaan ini di dalam hati manusia, Allah menambahkan tanda-tanda pada firman itu”. Sedangkan menurut Luther, sakramen-sakramen sebagai “janji-janji dengan tanda-tanda yang dilampirkan kepada mereka” atau “tanda-tanda ilahi yang ditetapkan dan janji akan pengampunan dosa”. Luther mempergunakan “jaminan” (Pfand) untuk menekankan sifat pemberian kepastian dari ekaristi. Roti dan anggur menjamin kita akan realitas janji pengampunan ilahi yang membuat kita lebih mudah untuk menerimanya, dan setelah menerimanya, berpegang padanya erat-erat.

Kedua, Pandangan Luther tentang Sakramen-sakramen. Semula Luther mengakui tiga sakramen (baptisan, ekaristi dan penebusan dosa), namun Luther akhirnya mengakui hanya ada dua sakramen (baptisan dan roti) dan penebusan dosa tidak lagi mempunyai status sakramental karena kedua ciri esensial dari suatu sakramen adalah Firman Allah dan suatu tanda sakramental yang bersifat lahiriah atau dapat dilihat (seperti air dalam baptisan dan roti serta anggur dalam ekaristi). Secara ringkas Luther menolak beberapa pandangan sakramen yang dilakukan Katolik yaitu:

(1)   Praktik kebiasaan “komuni dalam satu jenis” yang hanya memberi kaum awam roti saja, bukannya roti dan anggur. Menurut Luther, hal ini tidak benar dan tak mempunyai teladan alkitabiah atau teladan patristis.

(2)   Ajaran tentang transubstansiasi. Bagi Luther, Kristus benar-benar hadir dalam ekaristi – bukan suatu teori tertentu.

(3)   Ide bahwa pendeta menawarkan atau melakukan suatu pekerjaan yang baik atau menyerahkan korban atas nama umat adalah sama sekali tidak alkitabiah. Bagi Luther, sakramen terutama merupakan suatu janji akan pengampunan dosa yang diterima melalui iman oleh jemaat.

Bagi Luther, Perjamuan Kudus itu adalah kehadiran nyata. Luther memang berbeda pendapat dengan Aristotelianisme, namun keberatan Luther bukanlah terhadap “kehadiran nyata”, melainkan terhadap suatu cara khusus untuk menjelaskan kehadiran itu. Bagi Luther, Allah bukan di belakang sakramen-sakramen, melainkan juga Ia ada di dalam-nya. Pandangan Luther bahwa roti dan anggur itu benar-benar menjadi tubuh dan darah Kristus bukanlah merupakan hasil konservatisme teologis belaka. Bagi Luther, kehadiran nyata itu sungguh-sungguh merupakan arti yang sebenarnya dari teks Alkitab, seperti Matius 26:26: hoc est corpus meum, “inilah tubuh-Ku”.

Ketiga, Pandangan Zwingli mengenai Sakramen-sakramen. Zwingli memahami bahwa sakramen adalah sebagai jaminan kesetiaan Allah kepada kita, dan sakramen itu merujuk pada jaminan dan kesetiaan kita satu terhadap yang lain. Zwingli berpendapat bahwa suatu “sakramen” pada dasarnya merupakan suatu deklarasi kesetiaan dari seseorang kepada suatu kelompok (Zwingli memakai istilah Jerman, Pfichtszeichen, “suatu demonstrasi kesetiaan”). Zwingli mengembangkan bahwa sakramen-sakramen berada di bawah atau lebih rendah dari pemberitaan Firman Allah. Menurutnya, khotbah melahirkan iman; sakramen-sakramen hanya menyediakan kesempatan yang dengannya iman itu dapat didemonstrasikan di hadapan umum. Zwingli mengembangkan arti ekaristi dengan analogi kemiliteran. Bagi Zwingli, hakikat ekaristi itu sendiri ditegaskan dalam Matius 26:26: hoc est corpus meum, “inilah tubuh-Ku”. Menurut Zwingli, dalam ayat tersebut seolah-olah Yesus berkata, “Aku mempercayakan kepada kamu suatu simbol penyerahan diri dan wasiat saya, untuk membangkitkan di dalam kamu peringatan akan Aku dan kebaikan-Ku kepadamu sehingga ketika kamu melihat roti ini dan cawan ini, … kamu boleh mengingat Aku yang diserahkan untuk kamu…” Zwingli sangat dipengaruhi pemikiran Wessel Gansfort (1420-1489) yang dikembangkan oleh Cornelius Hoen tentang kehadiran nyata Kristus dalam Perjamuan Kudus. Bagi Zwingli dan Hoen ada dua hal dalam ekaristi yaitu: pertama, ekaristi merupakan sebuah cincin mempelai laki-laki yang diberikan kepada mempelai perempuan. Artinya ekaristi itu merupakan jaminan cinta Allah kepada manusia. Kedua, peringatan akan Kristus di dalam ketidakhadiran-Nya.

Perbedaan yang mendasar antara Luther dan Zwingli adalah dalam hal kehadiran nyata Kristus dalam ekaristi. Bagi Luther, Kristus hadir di dalam ekaristi. Namun, Zwingli menunjukkan bahwa Kristus sekarang “duduk di sebelah kanan Allah” sehingga Kristus tidak hadir di dalam ekaristi. Kristus tidak dapat hadir di dua tempat pada saat yang bersamaan.

Keempat, Luther versus Zwingli: Ringkasan dan Evaluasi. Secara ringkas pemikiran Luther dan Zwingli dipaparkan oleh McGrath sebagai berikut:

(1)   Kedua reformator itu menolak skema sakramental Abad Pertengahan yang mengatakan bahwa ada tujuh sakramen sementara dan mengatakan hanya dua sakramen yakni baptisan dan ekaristi yang disahkan Perjanjian Baru.

(2)   Luther menganggap Firman Allah dan sakramen-sakramen mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Sakramen-sakramen mampu menciptakan iman. Bagi Zwingli, Firman Allah itulah yang menciptakan iman dan sakramen-sakramen yang mendemonstrasikan iman itu di hadapan umum.

(3)   Kedua reformator sama-sama mempraktikkan tradisi baptisan anak walau berbeda pemahamannya. Bagi Luther, sakramen-sakramen dapat menciptakan iman; dan karena itu, baptisan dapat menghasilkan iman di dalam diri seorang bayi. Bagi Zwingli, sakramen-sakramen mendemonstrasikan kesetiaan dan keanggotaan pada suatu komunitas, karena itu, baptisan mempertunjukkan bahwa seorang bayi terhisab ke dalam suatu komunitas.

(4)   Luther jauh lebih tradisional dalam pendekatannya terhadap perayaan ekaristi dibanding Zwingli. Luther masih mempertahankan nama “Misa” tetapi tidak setuju menjadikannya sebagai suatu kurban yang dirayakan secara mingguan – lebih baik diadakan dalam bahasa daerah sehari-hari – sebagai ibadah utama hari Minggu. Namun, Zwingli menghapuskan nama “Misa” dan mengemukakan supaya dirayakan hanya tiga atau empat kali dalam setahun.

(5)   Luther dan Zwingli tidak dapat sepakat mengenai arti dari kata hoc est corpus meum, “inilah tubuh-Ku” (Matius 26:26) yang sangat penting dalam ekaristi. Bagi Luther, est berarti “adalah”; bagi Zwingli, kata itu berarti “menandakan”.

(6)   Mereka berdua menolak ajaran transubstansiasi dari Abad Pertengahan. Luther masih menyerap sebagian ajaran Aristotelianisme tentang kehadiran nyata Kristus dalam ekaristi; namun Zwingli menolak keduanya, istilah dan idenya. Bagi Zwingli, Kristus diperingati di dalam ketidakhadiran-Nya dalam ekaristi.

(7)   Zwingli menyatakan bahwa, oleh karena Kristus sekarang duduk di sebelah kanan Allah, Ia tidak dapat hadir di mana pun. Luther menentang pernyataan Zwingli dengan mengatakan bahwa “Kristus hadir di mana-mana“.

Kelima, Pandangan Calvin tentang Sakramen-sakramen. Menurut Calvin, sakramen-sakramen dilihat sebagai yang memberikan identitas; tanpa sakramen-sakramen, tidak ada gereja Kristen. Calvin menawarkan dua definisi tentang sakramen, pertama sebagai “simbol eksternal yaitu bahwa Tuhan memeteraikan pada hati nurani kita janji-janji-Nya akan kehendak yang baik kepada kita demi menopang kelemahan iman kita”; dan kedua, sebagai “tanda yang kelihatan dari perkara yang suci atau bentuk yang dapat kelihatan dari anugerah yang tidak kelihatan”. Bagi Calvin, sakramen-sakramen merupakan akomodasi (bantuan) yang penuh anugerah bagi kelemahan kita.

Pemahaman Calvin mengenai baptisan dapat dipandang sebagai penggabungan unsur-unsur Zwingli dan Luther. Menurut Calvin, baptisan adalah tanda inisiasi yang memungkinkan kita diterima ke dalam persekutuan-persekutuan masyarakat gereja. Lebih jauh Calvin berpendapat bahwa baptisan juga membawa manfaat yang lain karena baptisan itu memperlihatkan kepada kita keberadaan kita yang dimatikan di dalam Kristus dan kehidupan kita yang baru di dalam-Nya. Singkatnya, Calvin mendukung dengan kuat keabsahan baptisan anak.  

Keenam, Tanggapan Katolik: Pandangan Konsili Trente tentang Sakramen-sakramen. Konsili Trente memerlukan beberapa waktu lamanya untuk menanggapi pandangan-pandangan tentang sakramen yang dihubungkan dengan Reformasi. Misalnya, sesi ketujuh dari Konsili Trente mencapai kesimpulannya pada tanggal 3 Maret 1547 dan mengeluarkan “Keputusan tentang Sakramen-sakramen”. Keputusan ini berisi tiga belas peraturan umum (kanon) umum yang secara eksplisit mengutuk pandangan-pandangan para reformator mengenai sakramen dan pemberlakuannya. Pada tanggal 11 Oktober 1551, Konsili Trente akhirnya menyatakan kedudukan yang positif dari Gereja Katolik Roma dalam “Keputusan tentang Sakramen yang Paling Suci, Ekaristi”. Konsili Trente sangat kuat mempertahankan baik ajaran maupun terminologi transubstansiasi. “Oleh penyucian atas roti dan anggur suatu perubahan terjadi atas keseluruhan substansi dari roti itu menjadi substansi tubuh Kristus dan keseluruhan substansi anggur itu menjadi darah Kristus. Perubahan ini pada tempatnya dan dengan tepat dinamai oleh Gereja Katolik yang Kudus sebagai transubstansiasi”.

2.9 Bab IX: AJARAN TENTANG GEREJA[17]

Ajaran tentang gereja ini timbul sebagai akibat dari dua pemahaman yang berbeda dari lawan-lawan para reformator magisterial yakni Katolik dan Reformasi radikal. Menurut Katolik, gereja merupakan suatu lembaga historis, kelihatan, yang mempunyai kesinambungan historis dengan gereja apostolis. Bagi reformasi radikal, gereja yang benar ada di sorga dan tidak ada lembaga apa pun di bumi ini berhak memperoleh nama “gereja Allah”. Para reformator magisterial berusaha untuk menyatakan dasar di tengah-tengah dua pandangan tersebut. Luther menyatakan bahwa ajarannya tentang pembenaran hanya oleh iman merupakan artculus stantis et cadentis ecclesiae, “pasal yang dengannya gereja itu berdiri atau jatuh”.

Pertama, Konteks pandangan-pandangan Reformasi tentang gereja. Pada dasarnya para reformator tidak berkeinginan untuk memisah dari Katolik dan bahkan Luther sendiri mempunyai kebencian yang mendalam terhadap skisma. Usaha-usaha rekonsiliasi pun selalu diusahakan oleh para reformator agar tidak terjadi pemisahan diri dari Katolik. Kalangan reformasi merindukan sebuah konsili pembaruan. Pengakuan Augsburg (1530) sebenarnya menyatakan garis-garis besar dari kepercayaan Lutheran yang berkeinginan untuk berdamai dengan Katolikisme. Namun harapan itu pun hacur dalam tahun1540-an. Percakapan Regensburg tampaknya menawarkan harapan untuk berekonsiliasi; ketika itu sekelompok teolog Protestan dan Katolik bertemu untuk mendiskusikan perbedaan-perbedaan mereka. Diskusi-diskusi itu berakhir dengan kegagalan. Harapan terakhir dalam berekonsiliasi ini adalah Konsili Trente. Kardinal Reginald Pole, berharap bahwa konsili itu akan menjadi suatu yang membawa perdamaian dengan orang-orang Protestan. Namun, dalam kenyataannya konsili itu mengadili dan mengutuk ide-ide pokok Protestantisme. Harapan-harapan untuk terjadinya rekonsiliasi hancur. Sejak tahun 1540-an inilah teori tentang gereja mulai dibicarakan.

Kedua, Pandangan Luther mengenai hakikat gereja. Pandangan Luther tentang hakikat gereja pada mulanya menekankan bahwa Firman Allah berjalan terus untuk menaklukkan dan ke mana pun ia menaklukkan dan mendapatkan kesetiaan yang benar-benar kepada Allah ada gereja. Menurut Luther, pemberitaan Injil adakah sesuatu yang esensial bagi identitas gereja. “Di mana firman itu ada, di sana ada iman, di mana ada iman, di sana ada gereja yang benar”. Gereja yang kelihatan dibentuk oleh pemberitaan Firman Allah. Dengan demikian menurut Luther, pengertian gereja itu bersifat fungsional bukan bersifat historis. Yang mengesahkan suatu gereja atau pengemban jabatannya bukanlah kesinambungan historis dengan gereja apostolis, melainkan kesinambungan teologis.

Ketiga, Pandangan Calvin mengenai Gereja[18]. Calvin dikenal sebagai reformator yang paling banyak bergumul mengenai ajaran tentang gereja. Hakikat gereja menurut Calvin adalah bahwa tanda-tanda dari gereja yang benar adalah bahwa Firman Allah itu harus dikhotbahkan dan sakramen-sakramen dilayankan secara benar. Dalam perkembangan selanjutnya, Calvin membentuk Peraturan-peraturan Gereja (1541) yang memberikan kepada gereja Jenewa bentuk dan karakteristik dan identitasnya. Calvin menyadari bahwa sebuah gereja membutuhkan kedisiplinan dan tertata dengan baik dan mempunyai struktur. Aspek yang paling menonjol dan kotroversial dari sistem Calvin tentang pemerintahan gereja adalah Konsistori (Majelis Jemaat). Calvin memahami konsistori terutama sebagai suatu peralatan untuk “menjaga” ortodoksi keagamaan. Di sisi lain, Calvin melihat bahwa gereja – maksudnya lembaga, bukan gedungnya – sangat penting dan menempati urutan yang pertama. Menurutnya, lembaga gereja adalah suatu peralatan yang perlu, bermanfaat, diberikan dan disahkan oleh Allah untuk pertumbuhan serta perkembangan kerohanian kita. Calvin membedakan antara gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan[19]. Gereja yang kelihatan adalah kumpulan orang-orang percaya, suatu kelompok yang kelihatan. Namun, gereja juga adalah persekutuan dari orang-orang kudus dan persekutuan dari orang-orang terpilih – suatu kesatuan yang tidak kelihatan. Sementara itu, Luther memandang organisasi gereja sebagai suatu perkara yang secara historis kebetulan, tidak memerlukan “resep” teologis.

2.10 Bab X: PEMIKIRAN POLITIK REFORMASI[20]

Pada bab ini McGrath membahas pemikiran para reformator tentang gereja, politik, pemerintahan dan pelayanan. McGrath membagi bab ini dalam lima sub bab yaitu:

Pertama, Reformasi radikal dan kekuasaan sekuler. Tokoh gerakan ini memang sudah memberikan pemahamannya tentang gereja, bahwa gereja merupakan “suatu persekutuan dari orang-orang benar”, yang bertentangan dengan dunia.  Menurut McGrath, pernyataan yang paling jelas dari sikap umum golongan Anabaptis terhadap penguasa sekular dapat ditemukan dalam “Pengakuan Schleitheim” (1527), khususnya pasal  keenam dan ketujuh menjelaskan dan membenarkan kebijkasanaan untuk tidak melibatkan diri dalam masalah-malsah sekular dan tentang sikap tanpa perlawanan kepada penguasa sekular. Ananbaptisme mempertahankan disiplin di dalam persekutuan-persekutuannya melalui “pengucilan”, suatu alat yang digunakan untuk mengucilkan anggota-anggota gereja dari jemaat-jemaat Anabaptis. “Pengucilan” itu dalam pelaksanaannya dilihat sebagai pencegahan dan pemulihan, memberikan baik rangsangan (insentif) kepada individu-individu yang dikucilkan untuk mengubah cara hidup mereka dan juga peringata (disinsentif) bagi orang-orang lain agar tidak meniru mereka dalam dosa-dosanya.

Kedua, Ajaran Luther mengenai Dua Kerajaan.[21] Ajaran “Dua Kerajaan” ini merupakan lanjutan pengajaran Luther atas “imamat am semua orang percaya” dalam risalahnya, Kepada para Pangeran Bangsa Jerman” (1520). Luther berpegang teguh bahwa perbedaan itu murni dalam hal jabatan, bukan status. Tidak ada tempat di dalam kekristenan bagi pemahaman apa pun tentang suatu kelas profesional di dalam gereja yang mempunyai hubungan spiritual yang lebih dekat dengan Allah daripada rekan-rekan atau anggota-anggotanya. Namun, tidak setiap orang dapat diperkenankan “bertindak” sebagai seorang imam atau pendeta. Prinsip fundamental Luther adalah bahwa semua orang Kristen berbagi bersama dalam status (Stand) keimaman yang sama oleh karena baptisan mereka; namun, mereka boleh melakukan fungsi-fungsi (Amt) yang berbeda dalam persekutuan iman, yang merefleksikan anugerah-anugerah dan kemampuan-kemampuan yang diberikan Allah secara individu kepada mereka. Jadi, setelah menghapus perbedaan dari Abad Pertengahan antara tingkatan “temporal” dan “spiritual”, Luther melanjutkan untuk mengembangkan suatu teori alternatif tentang bidang-bidang kekuasaan yang didasarkan atas suatu perbedaan antara “Dua Kerajaan” atau “Dua Pemerintahan”.

Luther menarik suatu perbedaan antara pemerintahan “spiritual” dan “duniawi” atas masyarakat. Pemerintahan “spiritual” dari Allah diberlakukan melalui Firman Allah dan tuntunan Roh Kudus. Orang percaya yang “berjalan menurut Roh” tidak memerlukan tuntunan lebih lanjut lagi dari siapa pun tentang bagaimana ia seharusnya bertindak. Pemerintahan “duniawi” Allah diberlakukan melalui raja-raja, pangeran-pangeran dan hakim-hakim, dengan mempergunakan pedang dan hukum negara. Namun, etika sosial Luther menyatakan bahwa dua moralitas yang sama sekali berada berdampingan: suatu etika pribadi Kristen, yang merefleksikan ajaran tentang kasih yang terwujud dalam Khotbah di bukit. Jadi, Allah memerintah gereja dengan Roh Kudus melalui Injil dalam suatu cara yang dari dirinya semua paksaan disingkirkan; dan Ia memerintah dunia dengan pedang kekuasaan sekular. Hakim-hakim berwenang untuk memakai pedang guna memaksakan hukum, bukan karena kekerasan dibenarkan, tetapi oleh karena kekerasa dari dosa manusia. Seandainya tidak ada dosa manusia, tidak perlu ada paksaan. Dengan demikian, kewenangan spiritual gereja bersifat membujuk (persuasif), tidak memaksa, dan menyangkut jiwa seorang individu daripada tubuhnya atau harta miliknya. Kewenangan temporal dari negara bersifat memaksa daripada membujuk serta menyangkut tubuh dan harta milik seorang individu daripada jiwanya.

Ketiga, Pandangan Zwingli mengenai Negara dan Pemerintahan. Bagi Zwingli, “gereja” dan “negara” semata-mata merupakan perbedaan cara melihat atas kota Zurich daripada merupakan badan-badan yang terpisah. Kehidupan negara tidaklah berbeda dari kehidupan gereja, dalam arti masing-masing menuntut apa yang dituntut oleh yang lain. Baik pendeta maupun penguasa, keduanya, taat kepada Allah dalam arti mereka telah dipercayakan untuk menegakkan peraturan Allah atas kota itu.

McGrath mencatat beberapa kesejajaran teori-teori tentang pemerintahan antara Luther dan Zwingli yaitu:

(1)   Keduanya mempertahankan bahwa kebutuhan akan pemerintahan itu adalah akibat dari dosa.

(2)   Keduanya mengakui atau melihat bahwa tidak semua anggota masyarakat itu adalah orang-orang Kristen.

(3)   Orang-orang yang menjalankan kekuasaan dalam masyarakat, melakukan dengan wewenang dari Allah.

(4)   Dalam melawan orang-orang radikal, keduanya berpegang teguh bahwa orang-orang Kristen boleh memegang jabatan pemerintahan.

(5)   Keduanya menarik suatu perbedaan antara moralitas pribadi dan moralitas umum.

(6)   Keduanya membedakan tipe-tipe kebenaran yang dikaitkan dengan orang Kristen dan negara.

Keempat, Pandangan Bucer mengenai Negara dan Pelayanan. Bucer menunjukkan bahwa di dalam periode Perjanjian Baru, kekuasaan-kekuasaan dunia adalah kekuasaan yang bukan Kristen. Karena itu, Allah merasa perlu untuk mempergunakan cara-cara lain – seperti dengan perantara Roh Kudus – untuk memelihara dan mengembangkan gereja-Nya. Bagi Bucer, merupakan hal yang aksiomatis bahwa kekuasaan kehakiman bersifat ilahi dan terbuka bagi pimpinan atau dorongan Roh Kudus. Bucer memandang “kota” dan “gereja” sedemikian erat hubungannya sehingga naluri alamiah untuk memelihara kehidupan bermasyarakat itu sendiri secara langsung memajukan maksud Reformasi.

Kelima, Pandangan Calvin mengenai Negara dan Pelayanan.[22] Bagi Calvin, penguasa politis tidak diizinkan untuk meniadakan hal-hal spiritual. Ketika tatanan yang ada itu berlalu pada hari penghakiman, tidak akan ada lagi kebutuhan untuk suatu kekuasaan politis – tetapi selagi manusia masih tetap terikat pada bumi ini, kekuasaan politis dirasa esensial supaya “memelihara dan mempertahankan ibadah lahiriah kepada Allah, untuk menjaga ajaran yang murni dan kondisi dari gereja, untuk membiasakan kelakuan kita dengan keadilan umum, untuk memperdamaikan seseorang dengan yang lain, untuk menghargai perdamaian dan ketentraman”. Calvin memberikan kepada penguasa-penguasa dua peran: pemeliharaan ketertiban politis dan gerejawi dan penetapan akan pengajaran doktrin yang benar. Bagi Calvin, baik penguasa-penguasa maupun pendeta-pendeta menjalankan tugas yang sama, perbedaan di antara mereka terletak dalam alat-alat yang diperoleh mereka dan lingkungan kekuasaan mereka masing-masing.

2.11 Bab XI: PENGARUH PEMIKIRAN REFORMASI ATAS SEJARAH[23]

Dalam bab terakhir ini McGrath mencoba memamparkan pengaruh pemikiran reformasi atas sejarah. Bagian kesimpulannya ini bertujuan untuk meyelidiki beberapa cara yang di dalamnya ide-ide keagamaan dari Reformasi itu dapat dikatakan telah mengubah sejarah, entah dengan meletakkan dasar-dasar untuk sikap-sikap dan pandangan-pandangan yang baru atau menjauhkan halangan-halangan intelektual bagi perkembangan-perkembangan selanjutnya. Bab ini dibagi dalam enam sub bab yaitu:

Pertama, Sikap menerima dunia. Reformasi bersaksi bagi suatu pemutaran haluan yang luar biasa dalam sikap-sikap terhadap tatanan sekular. Kekristenan monastis (biara), yang telah menjadi sumber dari semua teologi Kristen dan tulisan-tulisan kerohanian yang terbaik selama Abad Pertengahan, memperlakukan dunia dan mereka yang hidup dan bekerja di dalamnya dengan semacam kehinaan tertentu. Orang Kristen yang benar akan menarik diri dari dunia dan memasuki ketenteraman spiritual dari suatu biara. Sementara, bagi reformator-reformator, panggilan Tuhan yang sesungguhnya dari seorang Kristen terletak dalam melayani Tuhan di dunia ini. Usaha yang benar dari kehidupan Kristen adalah di dalam kota-kota, pasar-pasar, dan dewan-dewan dari dunia sekular, bukan dalam isolasi yang begitu hebat di sel/kamar biara. Selama Abad Pertengahan, biara-biara menjadi semakin dikucilkan dari rakyat biasa. Pusat-pusat perkembangan pemikiran dan kehidupan Kristen secara bertahap bergeser dari biara-biara ke tempat-tempat umum, misalnya kota-kota besar di Eropa menjadi tempat lahir dan ujian cara-cara baru pemikiran dan perilaku Kristen.

Kedua, Etika Kerja Protestan. Dalam tradisi bangsawan Roma kuno, kerja adalah sebagai hal yang merendahkan status mereka artinya orang-orang yang memilih bekerja untuk hidup adalah orang-orang Kristen kelas dua. Reformasi telah mengubah sikap-sikap seperti itu secara pasti dan tidak dapat diabaikan. Bagi reformator-reformator, tidak ada perbedaan kerja spiritual dan temporal, kerja suci dan sekular. Semua kerja manusia, betapa pun rendahnya, sanggup memuliakan Allah. Kerja merupakan suatu perbuatan memuji Allah – suatu perbuatan yang secara potensial menghasilkan pujian bagi Allah. Menurut Luther, “Seluruh dunia dapat dipenuhi dengan pelayanan kepada Allah – bukan hanya gereja-gereja, melainkan juga rumah, dapur, gudang, bengkel, dan ladang”. Baik Luther maupun Calvin memperhatikan pentingnya kegiatan yang produktif bagi harga diri orang Kristen. Bagi Calvin, kewajiban manusia yang umum adalah bekerja di dalam ladang Tuhan, dalam cara apa pun sepadan dengan anugerah dan kecakapan yang diberikan Allah kepada seseorang pada satu pihak dan kebutuhan dari situasi pada pihak lain. Kewajiban umum untuk bekerja adalah penyamarataan sosial yang luar biasa, suatu peringatan bahwa semua manusia diciptakan sama derajatnya oleh Allah.

Ketiga, Pemikiran Reformasi dan Lahirnya Kapitalisme. Menurut Weber kapitalisme adalah suatu hasil langsung dari Reformasi Protestan. Weber juga menekankan dalam karyanya, Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, bahwa ia tidak bermaksud apa pun untuk mempertahankan tesis yang bodoh dan bersifat doktriner bahwa semangat (spirit) kapitalisme seperti itu … hanya dapat muncul sebagai hasil pengaruh-pengaruh tertentu dari Reformasi. Menurut Weber, sebenarnya kapitalisme itu sudah ada jauh sebelum Reformasi. Sikap-sikap kapitalis merupakan ciri dari pangeran-pangeran pedagang Abad Pertengahan yang disebut dengan “adventurer capitalism“ (kapitalisme petualang). Kapitalisme ini bersifat oportunistik dan tidak mengindahkan moral; ia cenderung menghabiskan keuntungan kapitalnya dalam gaya hidup bermewah-mewah dan tidak bermoral. Namun, setelah kebangkitan Protestantisme melahirkan pra-kondisi psikologis yang penting sekali untuk perkembangan kapitalisme modern. Pengusaha-pengusaha Protestan yang sukses tidak lagi merasa malu dengan kegiatan-kegiatan produktif mereka selagi masih hidup dan pada saat kematiannya meninggalkan uang guna membantu orang-orang lain. Orang-orang Calvinis, karena yakin akan keselamatan pribadi mereka, mampu mengikatkan diri dalam kegiatan duniawi tanpa kekuatiran yang serius menyangkut keselamatan mereka sebagai suatu konsekuensi.

Keempat, Paham-paham mengenai Hak Azasi Manusia dan pembunuhan yang dapat dibenarkan terhadap seorang raja. Menurut McGrath, Reformasi mengubah wajah politik di Eropa, sebagian melalui perubahan-perubahan politik dan sosial yang ditimbulkannya dan sebagian lagi oleh karena beberapa ide baru berbahaya yang dilepaskannya atas suatu Eropa yang tidak diduga sebelumnya. Pendapat lain dikemukakan oleh Quentin Skinner, bahwa Reformasi dan lebih khusus lagi perkembangan Calvinisme, merupakan instrumen yang menolong dalam megefektifkan peralihan dari suatu pemahaman Abad Pertengahan tentang tatanan dunia, yang dilandaskan atas “suatu keteraturan yang dibayangkan adalah wajar dan abadi” pada suatu tatanan modern “yang didasarkan atas perubahan”.  Calvin sebetulnya menetapkan bahwa penguasa – siapa pun juga – yang melewati batas-batas kewenangannya, yang disahkan oleh Allah, berhenti menjadi penguasa karena alasan itu dan tidak dapat lagi mempergunakan hak-hak dan privelese dari kekuasaan itu.

Kelima, Pemikiran Reformasi dan munculnya ilmu-ilmu pengetahuan alam. Menurut McGrath, sekumpulan besar penelitian sosiologis, yang merentang ke belakang lebih dari satu abad, telah memperlihatkan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang konsisten antara kemampuan-kemampuan dari tradisi Protestan dan Katolik Roma di dalam kekristenan untuk menghasilkan ahli-ahli ilmu pengetahuan alam kelas satu. Dalam penelitian Alphonse de Candolle tentang jumlah anggota orang asing dari Academie des Sciences di Paris periode 1666-1883, orang-orang Protestan tampak jauh lebih baik menumbuhkan penelitian ilmu-ilmu pengetahuan alam daripada orang-orang Katolik Roma. Menurut Dickson White, Calvin menghargai astronomi dan ilmu kedokteran. Calvin memberikan suatu motivasi religius yang baru untuk penyelidikan ilmiah atas alam semesta. Confessio Belgica (1561), suatu pernyataan iman kaum Calvinis yang mempunyai pengaruh yang khusus di Dataran Rendah, menyatakan bahwa alam adalah “di hadapan mata kita sebagai suatu kitab yang paling indah di dalamnya semua benda ciptaan, entah besar atau kecil, bagaikan surat yang memperlihatkan untuk kita hal-hal yang tidak kelihatan yang asalnya dari Allah”.

Sumbangan besar kedua dari Calvin adalah menyingkirkan halangan utama untuk perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan alam: literalisme alkitabiah. Calvin mengemukakan bahwa Alkitab itu harus dilihat terutama bersangkut-paut dengan pengenalan akan Yesus Kristus. Alkitab bukan buku teks mengenai astronomi, geografi atau biologi.

Keenam, Kesimpulan. Dalam bagian kesimpulan ini, McGrath mengatakan bahwa adalah tidak mungkin di dalam ruangan yang terbatas yang tersedia untuk memberikan suatu analisis yang rinci tentang pengaruh yang tepat dari ide-ide Reformasi atas perjalanan sejarah umat manusia yang berikutnya. Tetapi apa yang telah dikatakan dalam pasal terakhir ini menunjukkan bahwa ide-ide mempunyai potensi untuk mengubah segala sesuatu. Suatu sejarah yang mengabaikan ide-ide tidak menyampaikan ceritanya dengan baik dan tentu saja tidak menuturkannya secara penuh. Reformasi adalah suatu gerakan yang di dalamnya ide-ide keagamaan memainkan peran yang utama. Tetapi menuturkan cerita tentang Reformasi tanpa mengakui akan kekuatan imanjinatif dari ide-ide keagamaan adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

3.      TANGGAPAN HISTORIS

A.     ISI BUKU

Buku ini sangat menolong setiap pembaca untuk memahami sejarah pemikiran Reformasi. Jika membaca buku ini, maka kita akan segera akan dibimbing masuk ke ide-ide Reformasi dan pengaruhnya bagi perkembangan sejarah itu sendiri. McGrath sangat menolong para pembaca buku ini untuk lebih memudahkan memahami apa yang menjadi pokok-pokok persoalan iman yang terjadi selama masa Reformasi. Pokok-pokok yang dibahas McGrath dalam buku ini merupakan inti pati dari pemikiran Reformasi yang terus menerus digali dan dikembangkan hingga saat ini.

Memang harus diakui bahwa bukan hanya McGrath saja yang menulis buku tentang pemikiran para reformatoris ini. Masih ada penulis lain seperti Linwood Urban dalam bukunya Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen[24]. Namun buku McGrath ini berbeda dengan buku Urban tadi. Urban membahas topik-topik pemikiran Kristen secara terpisah dari sejarah yang melatarbelakanginya. Sementara McGrath khusus membahas sejarah pemikiran reformasi saja sehingga memudahkan kita untuk memahami ide-ide dan ajaran-ajaran yang dibicarakan selama proses reformasi itu berlangsung.

McGrath sendiri mengakui bahwa pembahasannya dalam buku ini bukan bertujuan untuk membahas pemikiran seluruh para reformator dari segala lapisan. McGrath lebih memfokuskan pembahasannya tentang pemikiran para reformator magisterial seperti Luther, Zwingli, Bucer dan Calvin. Seluruh uraian yang dipaparkan McGrath dalam bukunya ini lebih mengarah pada pemikiran  kepada para reformator tadi.

Memang dalam buku ini McGrath tidak membahas topik per topik begitu dalam karena buku ini hanya memaparkan benang merah sejarah pemikiran para reformator magisterial saja. McGrath membahas topik-topik tertentu lebih dalam dalam bukunya yang lain misalnya: Justification by Faith (1990), dan Iustitia Dei (2005) yang membahas “Pembenaran hanya oleh iman” – serta buku lainnya Luther’s Theology of the Cross (1985), dan The Mistery of the Cross (1988) – yang membahas teologi Salib.

Buku ini memiliki kekhususannya sendiri sebab di dalam setiap akhir uraian setiap topik selalu dirujuk buku-buku bacaan lanjutan. Kekhususan lainnya adalah bahwa dalam buku ini dilampirkan banyak hal yang berkaitan dengan topik-topik yang dibahas dalam buku ini.

B.     REFLEKSI

Jika melihat pemikiran para tokoh reformator khususnya reformator magisterial ini, maka banyak hal yang patut disyukuri karena pemikiran mereka bisa mengubah paradigma dunia saat itu menuju ke pembaruan peradaban akal dan budi manusia. Manusia semakin menyadari dirinya di hadapan Tuhan sehingga semakin bertanggung jawab secara pribadi kepada Tuhan.

Pemikiran tokoh reformator magisterial ini sebenarnya hingga sekarang “belumlah” berakhir. Namun pemikiran mereka ini masih terus digumuli dan dikembangkan oleh para pengikut-pengikutnya hingga kini. Perdebatan-perdebatan teologi yang mereka mulai dulu sejak Abad Pertengahan hingga kini masih hidup di berbagai lapisan baik di kalangan Kontra-Reformasi (Katolik), Reformasi Magisterial dan Reformasi Radikal. Ada perdebatan yang membawa kebaikan, namun ada juga perdebatan yang membawa pemisahan. Hal yang sangat baik dari gerakan reformasi magisterial ini ialah penerjemahan Alkitab. Penerjemahan Alkitab ini sangat menentukan perkembangan kekristenan selanjutnya. Mengapa? Pertama, dengan terjemahan itu maka untuk pertamakalinya “bahasa rakyat” (vernacular language) mampu menjadi wahana pergulatan iman, bahkan sarana yang melaluinya Sabda Allah menyapa manusia. Kedua, terjemahan itu sekaligus meruntuhkan dominasi bahasa Latin, yakni bahasa elitis, bahasa kaum terdidik dan bahasa birokrat gerejawi (klerus). Ketiga, dengan runtuhnya bahasa Latin sebagai “bahasa bersama yang dipaksakan”, maka terbuka lebar-lebar ruang bagi pluralisasi bahasa, dan dengannya, pluralisasi keyakinan. Keempat, pluralisasi tersebut bertemu dengan arus zaman dan menjadi impetus kuat bagi terbentuknya nation-states, negara-bangsa negara-bangsa yang terlepas dari imperium Takhta Suci. Kelima, runtuhnya hierarkhi gerejawi yang selama ini memayungi dan mengontrol kehidupan beragama, termasuk kehidupan bermasyarakat.[25]

Perkembangan yang paling sungguh luar biasa seperti yang dipaparkan oleh McGrath adalah bahwa reformasi magisterial ini mampu mengubah paradigma dunia dari “menjauhi dunia” menjadi “menerima dunia”, kemudian lahirlah etika kerja Protestantisme, kapitalisme, penghargaan terhadap hak-hak azasi manusia, dan munculnya ilmu-ilmu pengetahuan alam. Perkembangan ini masih terasa hingga saat ini. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah semangat kapitalisme Protestantisme ini masih berpihak kepada kerakyatan atau menjadi musuh masyarakat. Sebab banyak kapitalis yang akhirnya tidak berpihak kepada kerakyatan yang menindas rakyat kecil dan yang terpinggirkan. Atau apakah perkembangan ilmu-ilmu teknologi saat ini semakin memperbaiki moral manusia, atau malah sebaliknya merusak iman dan moral manusia itu sendiri.

Memang jika dikaji lebih dalam, setiap golongan dari reformasi ini pengajarannya selalu berlandaskan pada Kitab Suci. Mereka sama-sama menunjukkan argumen-argumennya, bahwa masing-masing golongan lebih alkitabiah dan yang lain tidak alkitabiah. Masing-masing golongan merasa diri “paling benar” yang sesuai dengan Kitab Suci. Padahal Kitab Suci semua golongan reformasi ini adalah sama yaitu ALKITAB. Tetapi mengapa masing-masing saling ngotot dan berpegang teguh pada pendirian dan pemahaman masing-masing? Jawaban sederhananya adalah karena iman. Masing-masing golongan mengimani bahwa ajaran mereka yang lebih benar dan ajaran orang lain tidak benar (sesat). Sepanjang masing-masing golongan masih “merasa benar”, maka sebenarnya tidak akan tercapai suatu pemahaman yang sama akan kebenaran itu sendiri. Oleh sebab itu, maka solusi terbaik dalam hal ini adalah agar setiap golongan reformasi ini saling memegang imannya dan jangan saling menghujat. Pegang iman masing-masing, sebab Tuhan Yesus berkata bahwa manusia diselamatkan karena imannya (bnd. Rm. 3:28).

Jika dilihat perkembangannya di Indonesia, maka setiap golongan dari reformasi ini ada di berbagai daerah di Nusantara ini walaupun tidak secara merata. Namun tidak bisa dikatakan bahwa golongan reformasi tertentu mengklaim diri menguasai sebuah daerah di Nusantara ini. Misalnya, Katolik tidak bisa mengklaim diri sebagai yang paling mendominasi di daerah timur Indonesia, sebab di daerah ini juga golongan reformasi magisterial dan radikal ada dan berada di sana dengan jumlah yang signifikan. Demikian sebaliknya, golongan reformasi magisterial dan radikal tidak bisa mengklaim diri lebih dominan di Indonesia bagian barat, sebab di bagian barat ini juga Katolik memiliki jumlah umat yang banyak juga.

Patut disyukuri bahwa, di Indonesia kendati golongan reformasi ini hidup membaur dan berdampingan di Indonesia, namun di antara golongan yang berbeda ini “tidak pernah” terjadi benturan fisik. Perbedaan di dalam pemahaman iman tidak menjadikan rasa persaudaraan hilang dan rusak. Perbedaan keyakinan harus dilihat sebagai kekayaan iman yang saling mengisi dan mendukung sehingga Kerajaan Allah semakin luas diberitakan ke seluruh dunia ini.

4.      KEPUSTAKAAN

Abineno, J.L.Ch. Johanes Calvin: Pembangunan Jemaat, Tata Gereja dan Jabatan Gerejawi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992.

Abineno, J.L.Ch. Bucer & Calvin, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Barr, James  Fundamentalisme, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

David & Basinger,  Randall (Ed.), Predestinasi & Kehendak Bebas, Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995.

Husbands, Mark and Treier, Daniel J. (Ed.), What’s at Stake in the Current Debates Justification, Illionis: InterVarsity Press, 2004.

Jonge, Christiaan de Apa itu Calvinisme?, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001

Kuyper, Abraham Lectures nn Calvinism (Ceramah-ceramah mengenai Calvinisme), (terj. Peter Suwadi Wong) Surabaya: Momentum, 2005.

Lane, Anthony N.S. Justification by Faith in Catholik – Protestan Dialogeu An Evangelical Assesment, London – New York: T & T Clark, 2002.

McGrath, Alister E. Justification By Faith, Michigan: Grand Rapids, 1990.

McGrath, Alister E.  Sejarah Pemikiran Reformasi, (terj.Liem Sien Kie) Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

McGrath, Alister E. Iustitia Dei, New York: Cambridge University, 2005.

Naftallino, A. Predestinasi, Jakarta: Logos Heaven Light, 2007.

Palmer, Edwin H. Lima Pokok Calvinisme, (terj. Elsye) Surabaya: Momentum, 2005.

Simorangkir, MSE. Ajaran Dua Kerajaan Luther, Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 2008.

Sumampow, Jeirry dkk., Krisis Gereja Protestan, Jakarta: Keluarga Alumni STT Jakarta, 2004.

Urban, Linwood Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, (terj.Liem Sien Kie), Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Williamson, G.I. Pengakuan Iman Westminster, Surabaya: Momentum, 2006


[1] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (terj.Liem Sien Kie) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hlm.xiii-xv.

[2] Ibid., hlm.xvi.

[3] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.1-31.

[4] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.33-48.

[5] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.50-82.

[6] Kata enchiridion secara harfiah berarti ‘sesuatu yang dipegang di tangan’ dan menjadi mempunyai dua arti: suatu ‘senjata’ yang dipegang di tangan (yaitu belati) atau suatu ‘kitab/buku’ yang dipegang di tangan (yaitu ‘buku pegangan’).

[7] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.84-109.

[8] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.111-153; pembahasan lebih mendalam tentang topik ini diuraikan Alister E.McGrath dalam bukunya yang berjudul Justification by Faith, (Grand Rapids Michigan:Zondervan Publishing House, 1990) dan Iustitia Dei, (New York: Cambridge University, 2005); serta para penulis lainnya seperti: Anthony N.S.Lane, Justification by Faith in Catholic – Protestant Dialogue An Evangelical Assesment, (London – New York: T & T Clark, 2002) dan Mark Husbands and Daniel J.Treier (eds.), What’s at Stake in the Current Debates Justification, (Illionis: InterVarsity Press, 2004).

[9] Bnd, Hans-Peter Grosshans, Tokoh Pemikir Kristen Luther, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm.44 yang mengatakan bahwa ajaran Luther mengenai pembenaran iman tidak berarti bahwa orang dapat mencapai keselamatan tanpa usaha apa pun. Pendekatannya penuh dengan dinamika pengalaman akan rahmat Allah. Allah melakukan segalanya bagi umat-Nya yang terkasih. Dengan pengalaman iman, seseorang ingin berusaha menuju hidup baru. Pengalaman itu menciptakan kehendak untuk membawa hidup seseorang ke dalam kesesuaian dengan kehendak Allah.

[10] Bnd. J.L.Ch.Abineno, Bucer & Calvin, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 71-72.

[11] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.155-172; bnd. A.Naftallino, Predestinasi, (Jakarta: Logos Heaven Light, 2007); David & Randall Basinger (eds.), Predestinasi & Kehendak Bebas, (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995).

[12] Bnd. Edwin H.Palmer, Lima Pokok Calvinisme, (terj. Elsye) (Surabaya: Momentum, 2005), hlm. 185-188.

[13] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.174-203; bahasan ini diuraikan lebih dalam oleh James Barr dalam bukunya yang berjudul Fundamentalisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994).

[14] Luther mengikuti semboyan humanis “kembali ke akar” sewaktu pertama kali menerjemahkan Perjanjian Baru yang berbahasa asli Yunani ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1521. Bagi Luther, sabda Allah lebih baik disampaikan secara lisan daripada secara tertulis. Injil pada dasarnya adalah berita lisan dan paling baik disampaikan melalui khotbah. Tetapi Luther tidak begitu saja menyamakan Kitab Suci dengan sabda Allah. Ia membedakan antara Kitab Suci sebagai buku yang menampilkan Kitab Suci Gereja Kristen dengan sabda Allah yang menampilkan bagian-bagian Kitab Suci yang digunakan untuk menyapa umat secara langsung, misalnya dalam khotbah-khotbah atau pelayanan pastoral. Luther tidak memahami naskah biblis sebagai kebenaran mutlak. Namun, setiap kali membaca teks Kitab Suci, ia bertanya apakah teks-teks itu mewartakan Kristus yang tersalib dan dibangkitkan dari antara orang mati demi keselamatan semua orang.  Bagi Luther, Kitab Suci adalah satu-satunya sumber dan norma bagi setiap pengetahuan akan Allah (Hans-Peter Grosshans, Tokoh Pemikir …, hlm.46-48).

[15] Seperti yang dikatakan oleh Calvin mengenai hal ini, “Perbedaan antara kami dan pengikut paus adalah mereka percaya bahwa gereja tidak dapat menjadi pilar kebenaran kecuali jika ia memimpin Firman Allah. Kami, pada pihak lain menyatakan bahwa ia menjadi pilar kebenaran justru karena ia dengan penuh rasa hormat menundukkan dirinya ke bawah Firman Allah sehingga kebenaran itu dipelihara olehnya dan diteruskan kepada orang-orang lain melalui tangan-tangannya.”

[16] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.206-243.

[17] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.245-261.

[18] Bnd, Abraham Kuyper, Lectures on Calvinism (Ceramah-ceramah mengenai Calvinisme), (terj. Peter Suwadi Wong) (Surabaya: Momentum, 2005), hlm. 63-74. Menurut Abraham, bagi kaum Calvinis, gereja dalam eksistensinya adalah sebuah organisme spiritual, yang mencakup sorga dan bumi, tetapi sekarang memiliki pusat dan titik tolak tindakannya bukan di bumi melainkan di sorga.  Bagi Cavin, bentuk manifestasi gereja di bumi ditemukan dalam individu-individu yang mengakui iman. Oleh sebab itu, gereja di bumi hanya terdiri dari orang-orang yang telah dipersatukan ke dalam Kristus, yang menyembah di hadapan-Nya, hidup di dalam Firman-Nya, dan setia kepada ketetapan-ketetapan-Nya. Dan bagi Calvin, tujuan gereja di bumi ini adalah untuk mempersiapkan orang beriman untuk sorga. Uraian lebih dalam dapat dibaca dalam J.L.Ch.Abineno, Johannes Calvin: Pembangunan Jemaat, Tata Gereja dan Jabatan Gerejawi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992).

[19] Lih. G.I.Williamson, Pengakuan Iman Westminster, (Surabaya: Momentum, 2006), 287-290.

[20] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.263-284.

[21] Menurut MSE.Simorangkir, ajaran Dua Kerajaan Martin Luther ini berbicara tentang beberapa hal yaitu: pertama, Luther menekankan bahwa kekuasaan berasal dari Allah. Keuda, kekuasaan itu terdiri dari kekuasaan rohani dan kekuasaan duniawi. Ketiga, kekuasaan rohani harus dipisahkan dari kekuasaan duniawi. Keempat, kedua kekuasaan itu sama-sama dipergunakan Allah untuk menciptakan damai di dunia dengan cara yang berbeda (Lih. MSE.Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther, (Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 2008), hlm. v.

[22] Bnd. Christiaan de Jonge, Apa itu Calvinisme?, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001), hlm.263-315.

[23] Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran …, hlm.285-308.

[24] Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, (terj.Liem Sien Kie), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003).

[25] Bnd. Trisno S.Sutanto, “Merebut ‘Elan Vital Keagamaan: Renungan Hari Reformasi” dalam Jeirry Sumampow, dkk., Krisis Gereja Protestan, (Jakarta: Keluarga Alumni STT Jakarta, 2004), hlm. 155.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: