Posted by: ramlyharahap | September 3, 2009

TEKS INDONESIA DOKUMEN DEKLARASI BERSAMA TENTANG AJARAN PEMBENARAN

DEKLARASI BERSAMA TENTANG AJARAN PEMBENARAN[1]

Pembukaan

1. Ajaran tentang pembenaran adalah bagian terpenting bagi Reformasi Lutheran pada abad ke-16. Ajaran ini dipertahankan sebagai “pasal yang pertama dan terutama”[2] dan serentak dengan itu sebagai “pengemudi serta hakim terhadap seluruh ajaran Kristen lainnya”.[3] Secara khusus, ajaran tentang pembenaran menurut rumusan para reformator dinyatakan dan dipertahankan dalam rangka menilai Gereja Katolik Roma dan teologi pada jaman itu; pada saat yang sama Gereja Katolik Roma juga mempertegas dan mempertahankan suatu ajaran tentang pembenaran dengan ciri yang berbeda. Dari sudut pandang reformasi, pembenaran merupakan inti dari seluruh perdebatan-perdebatan lainnya. Di dalam Pengakuan-pengakuan Lutheran[4] dan oleh putusan Konsili Trente yang diadakan Gereja Katolik Roma, dirumuskanlah kutukan-kutukan. Kutukan itu masih berlaku hingga hari ini dan berpengaruh pada terpisahnya kedua gereja tersebut.

2. Ajaran tentang pembenaran mempunyai tempat sangat khusus dalam tradisi Lutheran. Itulah sebabnya ajaran ini sejak semula menjadi bagian terpenting dalam dialog-dialog resmi antara Gereja Lutheran dan Katolik.

3. Sebagian dari laporan dialog-dialog tersebut perlu diperhatikan secara khusus seperti: percakapan tentang ”Injil dan Gereja” (1972)[5] dan ”Gereja dan Pembenaran” (1994)[6] yang dilakukan oleh Komisi Bersama Lutheran-Katolik Roma; dialog tentang ”Pembenaran oleh Iman” (1983)[7] yang diadakan di Amerika Serikat dan tentang ”Kutukan atas dasar ajaran pada masa reformasi – masihkah menimbulkan perpisahan?” (1986)[8] yang dilaksanakan oleh Kelompok Kerja ekumenis teolog Lutheran dan Katolik di Jerman. Beberapa laporan dialog-dialog tersebut telah disambut secara resmi oleh gereja. Salah satu contoh penting darinya adalah pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Jerman pada 1994. Pernyataan itu berisi pengakuan gerejawi pada tingkat tertinggi terhadap Pengkajian atas Kutukan-kutukan.[9]

4. Seluruh laporan dialog tersebut dan juga pernyataan-pernyataan yang muncul sebagai tanggapan padanya menunjukkan bahwa cara pembahasan dan kesimpulan-kesimpulan yang dibuat tentang ajaran tentang pembenaran itu, semuanya sangat sesuai. Oleh karena itu sudah saatnyalah kini mengambil kesimpulan dan meringkaskan hasil dialog-dialog tentang pembenaran itu, sehingga gereja-gereja kita dapat memperoleh informasi tentang hasil-hasil menyeluruh dengan tepat dan bijaksana, sehingga gereja selanjutnya dimampukan untuk mengutarakan pendapatnya.

5. Hal itulah yang dimaksud Deklarasi Bersama ini, yaitu untuk menunjukkan bahwa atas dasar dialog-dialog yang telah mereka adakan tersebut, dapatlah Gereja-gereja Lutheran yang turut menandatanginya dengan GKR[10] mengemukakan pemahaman bersama tentang pembenaran kita oleh anugerah Allah melalui iman akan Kristus. Pemahaman bersama itu tentunya tidak akan memuat semua ajaran gereja tentang pembenaran; tetapi mencakup suatu persetujuan akan kebenaran dasar dari ajaran pembenaran dan menununjukkan bahwa perbedaan-perbedaan lainnya dalam hal penerapannya, tidak lagi menjadi alasan untuk kutukan-kutukan dogmatis.

6. Deklarasi kita ini bukanlah suatu penguraian yang baru dan berdiri sendiri lepas dari laporan dan dokumen-dokumen dari dialog yang lalu dan bukan juga merupakan penggantinya, tetapi sebagaimana dinyatakan oleh sumber-sumber terlampir, Deklarasi ini selalu menunjuk pada laporan-laporan dan dokumen-dokumen itu dan menggunakan argumentasi-argumentasinya.

7. Sama seperti dialog-dialog tersebut, Deklarasi Bersama ini juga yakin bahwa untuk mengatasi masalah-masalah yang menjadi perdebatan dan kutukan-kutukan pada masa lalu, gereja tentunya tidak menganggap remeh kutukan-kutukan itu dan juga tidak memungkiri masa lalunya. Sebaliknya, Deklarasi bersama ini dibentuk oleh keyakinan, bahwa gereja kita mengalami perkembangan pandangan dalam perjalanan sejarah. Perkembangan yang terjadi tidak hanya memberi kemungkinan, tetapi juga menantang gereja-gereja untuk mengkaji kutukan-kutukan serta masalah-masalah yang selama ini membawa pemisahan, dan melihatnya dari sudut pandang yang baru.

Pasal  1. Pemberitaan Alkitabiah tentang Pembenaran

8. Cara kami yang sama dalam mendengar firman Allah dalam Alkitab telah membimbing kami pada sudut pandang yang baru itu. Kita bersama-sama mendengar kabar sukacita, ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Berita sukacita ini disampaikan lagi dengan berbagai cara di dalam Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama (PL) kita mendengar firman Allah tentang keberdosaan manusia (Mzm. 51:1-5; Dan. 9:5dab, Pkh. 8:9dab; Ezr. 9:6dab) dan ketidaktaatan manusia (Kej. 3:1-19; Neh. 9:16dab, 26) dan juga tentang ”kebenaran” Allah (Yes. 46:13; 51:5-8; 56:1 [bnd. 53:11]; Yer. 9:24) dan ”penghakiman” (Pkh. 12:14; Mzm. 9:5dab; 76:7-9).

9. Dalam Perjanjian Baru  (PB) terdapat tema yang berbeda tentang “kebenaran”  dan “pembenaran”, seperti dalam Injil Matius (5:10; 6:33; 21:32), Yohanes (16:8-11), surat Ibrani (5:1-3; 10:37-38), dan Yakobus (2:14-26).[11] Di dalam surat-surat Paulus juga anugerah karena keselamatan diuraikan dengan berbagai cara, antara lain: ”Kristus telah membenarkan kita” (Gal. 5:1-13; bnd. Rm. 6:7), ”diperdamaikan dengan Allah” (2 Kor. 5:18-21; bnd. Rm. 5:11), ”berdamai dengan Allah” (Rm. 5:1), ”ciptaan baru” (2 Kor. 5:17), ”Hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm. 6:11,23) atau ”dikuduskan dalam Kristus Yesus” (lih. 1 Kor. 1:2; 1:31; 2 Kor. 1:1).  Tema paling menentukan dalam hal ini adalah “pembenaran” manusia berdosa oleh anugerah Allah melalui iman (Rm. 3:23-25), yang merupakan tema penting dalam zaman Reformasi.

10. Paulus menguraikan Injil sebagai kekuatan Allah untuk keselamatan bagi orang yang jatuh di bawah kuasa dosa, sebagai pemberitaan yang menyampaikan bahwa ”kebenaran Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman” (Rm. 1:16-17) dan yang menganugerahkan ”pembenaran” (Rm. 3:21-31). Dia memberitakan Kristus sebagai ”kebenaran kita” (1 Kor. 1:30); melalui pemberitaan ini Paulus mengenakan pemberitaan Yeremia tentang Allah sendiri (Yer. 23:6) pada Yesus yang bangkit. Seluruh segi-segi karya keselamatan-Nya berakar dalam kematian dan kebangkitan Kristus, sebab Dialah ”Tuhan kita, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Rm. 4:25). Seluruh manusia membutuhkan kebenaran Allah, ”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23; bnd. Rm. 1:18-3:22; 11:32; Gal. 3:22). Dalam surat pada jemaat Galatia (3:26) dan pada jemaat Roma (4:3-9), Paulus memahami iman Abraham (Kej. 15:6) sebagai iman pada Allah yang membenarkan orang berdosa dan dia menunjuk pada kesaksian PL untuk menggarisbawahi kabar baik yang Paulus sampaikan bahwa kebenaran ini akan diperhitungkan bagi semua orang yang seperti Abraham percaya janji Allah karena ”orang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab. 2:4; bnd. Gal. 3:11; Rm. 1:17). Dalam suratnya Paulus memberitakan bahwa kebenaran Allah adalah juga kekuatan bagi mereka yang beriman (Rm. 1:17; 2 Kor. 5:21). Di dalam Kristuslah kebenaran mereka (2 Kor. 5:21). Pembenaran menjadi bagian kita melalui Kristus Yesus yang ”telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Rm. 3:25; lih. 3:21-28). ”Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).

11. Pembenaran adalah pengampunan dosa (bnd. Rm. 3:23-25; Kis. 13:39; Luk. 18:14), pembebasan dari kungkungan kuasa dosa dan kematian (Rm. 5:12-21) dan dari kutukan karena Taurat (Gal. 3:10-14). Pembenaran adalah penerimaan masuk pada persekutuan dengan Allah yang sudah berlaku kini, namun akan disempurnakan dalam Kerajaan Allah yang akan datang (Rm. 5:1-2). Pembenaran menyatukan kita dengan Kristus dan dengan kematian serta kebangkitan-Nya (Rm. 6:5).  Penyatuan ini terjadi di saat seseorang menerima Roh Kudus pada waktu baptisan dan yang memungkinkan masuk ke dalam satu Tubuh (Rm. 8:1-2, 9-11; 1 Kor. 12:12-13). Semuanya ini berasal hanya dari Allah, demi Kristus, oleh anugerah melalui iman dalam “Injil tentang Anak Allah” (Rm. 1:1-3).

12. Hidup yang dibenarkan oleh iman datang dari firman Allah (Rm. 10:17), menjadi nyata dalam kasih (Gal. 5:6) dan dalam buah Roh (Gal. 5:22). Namun karena orang-orang yang dibenarkan digoda dari dalam dan dari luar oleh berbagai kuasa dan keinginan-keinginan (Rm. 8:35-39; Gal. 5:16-21) sehingga jatuh dalam dosa (1 Yoh. 1:8, 10), mereka harus senantiasa mendengar janji-janji Allah secara baru, mengakui dosa-dosa mereka (1 Yoh. 1:9), mengambil bagian dalam darah dan tubuh Kristus, dan dianjurkan untuk hidup dengan benar berpadanan dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya rasul menganjurkan pada orang yang dibenarkan: ”karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp. 2:12-13). Namun demikian berita sukacita ini tetap berlaku: ”sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1), dan bahwa Kristus hidup di dalam mereka (Gal. 2:20); dan bahwa Kristus adalah ”kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rm. 5:18).

Pasal  2. Ajaran Pembenaran sebagai Masalah Ekumenis

13. Penyebab utama perpecahan dalam Gereja Barat pada abad keenambelas adalah tafsiran dan penerapan yang berbeda terhadap pemberitaan alkitabiah tentang  pembenaran. Itu jugalah yang mengakibatkan munculnya kutukan-kutukan. Oleh karena itu suatu pemahaman akan pembenaran sangatlah mendasar dan tidak dapat ditawar-tawar untuk mengatasi perpecahan ini. Melalui penggunaan pandangan-pandangan yang dihasilkan oleh penelitian alkitabiah masa kini dan juga penelitian modern tentang sejarah teologi dan dogma, terciptalah pendekatan yang sangat penting tentang ajaran pembenaran dalam dialog ekumenis sesudah Vatikan II. Buahnya terlihat dalam keberhasilan Deklarasi Bersama ini untuk merumuskan suatu kesepakatan akan kebenaran-kebenaran dasariah tentang ajaran pembenaran. Dari sudut pandang kesepakatan ini, kutukan-kutukan yang digunakan pada abad keenambelas, kini tidak lagi digunakan pada kedua belah pihak.

Pasal  3. Pemahaman Bersama atas Pembenaran

14. Gereja-gereja Lutheran dan GKR senantiasa dengar-dengaran pada kabar gembira yang diberitakan dalam Kitab Suci. Kesediaan mendengar seperti itu, bersama dengan percakapan teologis pada tahun-tahun belakangan ini, memungkinkan adanya pemahaman bersama akan ajaran pembenaran. Pemahaman ini mencakup kesepakatan dalam kebenaran-kebenaran dasariah; kalaupun ada penguraian lanjutan yang berbeda dalam pernyataan-pernyataan yang lebih terperinci, semuanya itu dapat dipersatukan dengan kebenaran dasariah ini.

15. Kami bersama-sama mengakui bahwa pembenaran adalah karya Allah Tritunggal. Allah Bapa mengutus anak-Nya ke dunia ini untuk menyelamatkan orang berdosa. Dasar dan syarat pembenaran adalah inkarnasi, kematian, dan kebangkitan Kristus. Oleh karena itu pembenaran berarti bahwa Kristus sendiri adalah kebenaran kita; dan kita mengambil bagian dengan kebenaran ini melalui Roh Kudus sesuai dengan kehendak Bapa. Kami bersama-sama mengakui:  hanya oleh anugerah, dalam iman akan karya penyelamatan Kristus dan bukan karena perbuatan kita, kita diterima oleh Allah dan diterima oleh Roh Kudus, yang memperbaharui hati kita serta memampukan dan memanggil kita untuk perbuatan-perbuatan baik.[12]

16. Seluruh manusia dipanggil oleh Allah untuk keselamatan di dalam Kristus. Melalui Kristus sendirilah kita dibenarkan, pada saat kita menerima keselamatan ini dalam iman. Iman itu sendiri pun adalah anugerah Allah melalui Roh Kudus yang bekerja melalui firman dan sakramen di dalam persekutuan orang percaya, melalui Roh Kudus yang pada saat yang sama memimpin orang-orang percaya ke dalam pembaharuan hidup itu yang Allah akan pimpin pada kepenuhannya di dalam kehidupan yang kekal.

17. Kami juga bersama-sama mengakui bahwa pemberitaan ajaran pembenaran mengarahkan kita pada jalan khusus menuju pusat kesaksian Perjanjian Baru, yaitu karya keselamatan Allah dalam Kristus:  ini menjelaskan pada kita bahwa sebagai orang berdosa, hidup kita yang baru itu hanyalah karena pengampunan dan anugerah yang memberi pembaharuan, yang Allah berikan bagi kita sebagai anugerah dan kita menerimanya dalam iman, tetapi kita tidak pernah memperoleh hidup seperti itu dengan cara apa pun.

18. Oleh karena itu ajaran pembenaran, yang mengemban dan memperkembang berita tersebut, lebih dari hanya suatu ajaran Kristen saja. Dia secara nyata mempunyai hubungan  dengan seluruh kebenaran-kebenaran iman, yang satu sama lain mempunyai keterkaitan dalam dirinya sendiri. Dia adalah suatu ukuran yang secara terus menerus mengarahkan keseluruhan ajaran dan karya gereja pada Kristus. Jika kaum Lutheran menekankan makna khusus dari ukuran ini, mereka tidak menolak keterkaitan dan makna dari seluruh kebenaran-kebenaran iman. Bila kaum Katolik melihat dirinya sendiri tunduk dari beberapa kriteria, mereka tidak menolak kegunaan yang khusus dari pesan pembenaran. Kaum Lutheran dan Katolik mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengaku Kristus, yang melampaui segalanya dipercaya sebagai satu-satunya Perantara (1 Tim. 2:5-6) yang melaluinya Allah dalam Roh Kudus memberikan diri-Nya sendiri dan mencurahkan anugerah-Nya yang memberi pembaharuan.

Pasal  4. Pengembangan Pemahaman Bersama tentang  Pembenaran

4.1 Ketidakberdayaan Manusia dan Dosa dalam Kaitan dengan Pembenaran

19. Kami bersama-sama mengakui bahwa setiap orang, dalam rangka keselamatannya, tergantung sepenuhnya pada anugerah penyelamatan Allah. Kebebasan yang dia miliki dalam kaitan dengan manusia dan segala apa yang ada di dunia ini, bukanlah kebebasan yang berkaitan dengan keselamatan, sebab sebagai orang berdosa mereka berada di bawah penghakiman Allah dan dari dirinya sendiri tidak mampu untuk berbalik pada Allah untuk memperoleh kelepasannya, untuk memperoleh pembenaran mereka di hadapan Allah, atau mengusahakan keselamatan melalui kemampuan sendiri. Pembenaran terjadi hanya karena anugerah. Karena Katolik dan Lutheran mengaku hal ini secara bersama, maka patutlah dikatakan:

20. Ketika Katolik mengatakan bahwa manusia “turut bekerja sama” dalam mempersiapkan dan menerima pembenaran melalui persetujuannya akan  karya Allah yang membenarkan, mereka melihat persetujuan pribadi seperti itu sebagai akibat dari anugerah, bukan sebagai tindakan yang muncul dari kemampuan batin manusiawi.

21. Menurut ajaran Lutheran, manusia tidak mampu untuk turut mengusahakan keselamatannya, sebab sebagai orang berdosa, mereka dari dirinya sendiri melawan Allah dan tindakan keselamatan-Nya. Kalau mereka menekankan bahwa manusia hanya dapat menerima (secara pasif) pembenaran, melaluinya mereka mau menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan manusia untuk turut serta membantu usaha pembenarannya, namun tidak menolak bahwa orang-orang percaya sepenuhnya terlibat secara pribadi dalam iman mereka, yang muncul karena Firman Allah.

4.2 Pembenaran sebagai Pengampunan Dosa dan Membuat Jadi Benar

22. Kami bersama-sama mengaku bahwa Allah mengampuni dosa melalui anugerah dan pada saat yang sama membebaskan manusia dari kuasa dosa yang selama ini memperbudak manusia dan memberikan anugerah hidup baru dalam Kristus. Bila manusia dalam iman mengambil bagian dalam Kristus, Allah tidak memperhitungkan dosa-dosanya dan melalui Roh Kudus Allah menumbuhkan dalam diri mereka karya kasih. Kedua segi dari anugerah Allah ini tidaklah dilihat terpisah, sebab seseorang melalui iman dipersatukan dalam Kristus, yang pada Diri-Nya sendiri adalah pembenaran kita (1 Kor. 1:30): baik pengampunan dosa maupun kehadiran Allah yang menyelamatkan. Karena Gereja Katolik dan Lutheran mengakui hal ini bersama-sama, maka dapatlah dikatakan hal berikut ini:

23. Jika Gereja Lutheran menekankan bahwa kebenaran Kristus adalah kebenaran kita, mereka ingin secara khusus menekankan, bahwa orang berdosa dianugerahi kebenaran di hadapan Allah di dalam Kristus melalui pernyataan pengampunan dosa, dan bahwa hanya di dalam kesatuan dengan Kristuslah hidup manusia diperbaharui. Kalau mereka menekankan bahwa anugerah Allah adalah kasih yang mengampuni (“kemurahan Allah”),[13] melaluinya mereka tidak menolak pembaharuan hidup orang Kristen. Malah mereka ingin menyatakan bahwa pembenaran tetap lepas dari usaha manusia dan tidak tergantung pada buah-buah pembaharuan hidup baru yang ada dalam diri  manusia, yang berasal dari anugerah itu.

24. Jika Gereja Katolik Roma menekankan pembaharuan manusia dalam ke dalam dirinya melalui penerimaan akan rahmat yang diberikan padanya sebagai anugerah bagi orang percaya,[14] mereka ingin menekankan bahwa anugerah pengampunan Allah selalu membawa anugerah hidup baru, yang di dalam Roh Kudus menjadi nyata dalam karya kasih. Melaluinya mereka tidak menolak bahwa pemberian Allah akan rakhmat dalam pembenaran tetap lepas dari karya manusia.

4.3 Pembenaran oleh Iman dan melalui Anugerah

25. Kami bersama-sama mengaku, bahwa orang-orang berdosa dibenarkan oleh iman dalam karya penyelamatan Allah di dalam Kristus. Melalui karya Roh Kudus dalam baptisan, mereka dilimpahi dengan anugerah keselamatan;  itulah yang menjadi dasar bagi keseluruhan hidup kristiani. Mereka menaruh kepercayaan mereka pada janji anugerah Allah dalam pembenaran iman, yang di dalamnya termasuk harapan akan Allah dan kasih pada-Nya. Iman yang demikian berkarya dalam kasih, sehingga orang Kristen tidak dapat dan juga seharusnya tidak tinggal diam tanpa perbuatan. Tetapi segala sesuatu yang bagi orang yang dibenarkan merupakan persyaratan atau pun buah dari anugerah iman, tidak akan pernah menjadi dasar pembenaran dan tidak pernah dapat diusahakan.

26. Menurut pemahaman gereja Lutheran, Allah membenarkan orang berdosa karena iman semata (sola fide). Di dalam iman mereka menaruh percaya sepenuhnya akan Pencipta dan Penebus mereka dan dengan demikian hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Allah sendirilah yang menyebabkan munculnya iman, pada saat Dia menimbulkan kepercayaan yang demikian melalui firman-Nya yang penuh daya cipta. Karena karya Allah adalah ciptaan baru, maka seluruh segi-segi dalam diri manusia dipengaruhi dan dipimpin menuju suatu hidup yang penuh pengharapan dan kasih. Dalam ajaran tentang “dibenarkan oleh iman semata”, dibuatlah pembedaan, namun bukan pemisahan, antara pembenaran itu sendiri dengan pembaharuan jalan hidup seseorang yang diakibatkan oleh pembenaran itu dan yang tanpa itu iman tidak ada. Dengan demikian dasar itu ditunjukkan, yang darinya hidup yang diperbaharui muncul; dasar itu keluar dari kasih Allah yang dianugerahkan pada orang yang dibenarkan. Pembenaran dan pembaharuan dipersatukan di dalam Kristus, yang hadir dalam iman.

27. Pemahaman Gereja Katolik Roma juga melihat iman sebagai suatu yang mendasar dalam pembenaran. Sebab tanpa iman tidak akan terdapat pembenaran. Seseorang dibenarkan melalui baptisan sebagai pendengar firman dan yang percaya akan firman itu. Pembenaran orang berdosa adalah pengampunan dosa dan dijadikan benar oleh rahmat yang membenarkan, yang membuat kita menjadi anak-anak Allah. Dalam pembenaran, orang yang dibenarkan itu menerima dari Kristus iman, pengharapan dan kasih dan dengan demikian dipersatukan dengan-Nya.[15] Hubungan pribadi dengan Allah ini didasarkan sepernuhnya pada kemahamurahan Allah tetap tergantung pada karya keselamatan yang penuh daya cipta yang berasal dari rahmat Allah yang tetap setia, sehingga  seseorang dapat menyandarkan diri pada-Nya. Oleh karena itu anugerah yang membenarkan itu tidak pernah menjadi milik manusia untuk digunakan membela dirinya di hadapan Allah. Bila GKR menekankan pembaharuan hidup melalui rahmat yang membenarkan, pembaharuan dalam iman, harap dan kasih ini selalu tergantung para rahmat Allah yang tanpa alasan itu, dan pembaharuan hidup ini tidak mengakibatkan pembenaran dan inilah yang disyukuri orang di hadapan Allah (Rm. 3:27).

4.4 Orang Berdosa yang Dibenarkan

28. Kami bersama-sama mengakui bahwa dalam baptisan Roh Kudus mempersatukan manusia dengan Kristus, membenarkan dan memperbaharui orang itu sepenuhnya. Tetapi orang yang dibenarkan harus dalam keseluruhan hidupnya senantiasa bergantung pada rahmat Allah yang membenarkan dan tanpa syarat itu. Rahmat ini tanpa henti-hentinya mendapat perlawanan dari kuasa dosa yang masih melancarkan serangannya (bnd. Rm. 6:12-14) dan tidak dibebaskan dari pergumulan sepanjang hayat melawan pertentangan pada Allah dalam keinginan dari Adam yang lama (bnd. Gal. 5:16; Rm. 7:7-10). Orang yang dibenarkan harus memohon setiap hari pada Allah pengampunan dosa dalam Doa Bapa Kami (Mat. 6:12; 1 Yoh. 1:9), dan selalu dipanggil untuk pengakuan dan penyesalan dan selalu dianugerahi pengampunan dosa.

29. Gereja Lutheran memahami keberadaan orang Kristen sebagai orang yang “serentak benar dan berdosa”. Orang-orang percaya sepenuhnya benar, karena Allah mengampuni dosa-dosa mereka melalui firman dan sakramen dan menganugerahkan kebenaran Kristus yang mereka miliki dalam iman. Di dalam Kristus mereka dinyatakan benar di hadapan Allah. Bila mereka melihat diri mereka melalui Taurat, mereka juga menyadari bahwa mereka tetap sebagai orang yang berdosa sepenuhnya. Dosa masih tinggal di dalam diri mereka (1 Yoh. 1:8; Rm. 7:17,20), sebab mereka berulang-ulang berbalik pada ilah-ilah palsu dan tidak mengasihi Allah dengan kasih yang tak terbagi yang Allah sebagai Pencipta tuntut dari mereka (Ul. 6:5; Mat. 22:36-40). Pertentangan dengan Allah ini adalah benar-benar dosa. Namun demikian, kuasa dosa yang memperbudak ini dihancurkan atas dasar pemilikan orang percaya akan Kristus. Dosa tidak lagi “memerintah” orang Kristen, sebab mereka sendiri “dikuasai” oleh Kristus, dan orang yang dibenarkan terikat pada Kristus di dalam iman. Kemudian dalam hidup seperti ini orang Kristen dipimpin pada hidup yang benar. Meskipun berdosa, orang Kristen tidak lagi terpisah dari Allah, sebab setiap hari mereka kembali pada baptisan, karena orang yang sudah dilahirkan kembali oleh baptisan dengan Roh Kudus telah diampuni dari dosa-dosa ini. Oleh karena itu dosa ini tidak lagi membawa kutuk dan kematian yang kekal.[16] Oleh karena itu, bila Gereja Lutheran mengatakan bahwa orang yang dibenarkan adalah juga orang yang berdosa dan bahwa perlawanan mereka pada Allah adalah memang benar-benar dosa, mereka tidak menolak bahwa, meskipun karena adanya dosa ini, mereka tidak terpisah dari Allah dan dosa ini adalah dosa yang sudah “dikuasai”. Dalam pernyataan seperti ini mereka setuju dengan Gereja Katolik Roma, meskipun terdapat perbedaan dalam pemahaman akan dosa dan pembenaran.

30. Gereja Katolik Roma meyakini bahwa anugerah Yesus Kristus yang diberikan dalam baptisan melenyapkan apa yang benar-benar dosa “dalam pengertian sebenarnya” dan “layak menerima penghukuman” (Rm. 8:1).[17] Namun dalam diri manusia itu tetap tinggal kecenderungan yang datang dari dosa dan selalu ditundukkan pada dosa. Karena, sesuai dengan keyakinan GKR, dosa manusia selalu melibatkan unsur pribadi dan karena unsur ini selalu memunculkan kecenderungan tersebut, GKR tidak melihat kecenderungan ini sebagai dosa dalam arti yang asli. Melaluinya mereka tidak menolak bahwa kecenderungan ini tidak berhubungan dengan rencana Allah yang semula tentang kemanusiaan ini, dan bahwa kecenderungan itu pada dasarnya bertentangan dengan Allah dan tetap musuh seseorang dan orang itu akan terus bergumul dengannya sepanjang hidupnya. Bersyukur atas pelepasan oleh Kristus, mereka ingin menekankan bahwa kecenderungan yang selalu bertentangan dengan Allah tersebut tidak membawa penghakiman dan kematian kekal[18] dan tidak memisahkan orang yang dibenarkan dari Allah. Tetapi bila seseorang secara sengaja memisahkan diri dari Allah, tidaklah cukup dengan hanya melakukan Taurat, sebab mereka harus menerima pengampunan dan dialami dalam sakramen pendamaian melalui firman pengampunan dosa yang dianugerahkan bagi mereka berdasarkan karya pendamaian Allah di dalam Kristus.

4.5 Taurat dan Injil

31. Kami bersama-sama mengakui bahwa orang dibenarkan oleh iman dalam Injil “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rm. 3:28). Kristus telah memenuhi Taurat, dan melalui kematian dan kebangkitan-Nya Dia telah menyelesaikannya sebagai suatu jalan menuju keselamatan. Kami juga mengakui bahwa perintah-perintah Allah tetap berlaku bagi orang-orang yang dibenarkan, dan bahwa Kristus telah menyatakan kehendak Allah melalui ajaran dan teladan yang Kristus berikan. Perintah Allah ini jadinya menjadi ukuran bagi kehidupan orang percaya juga.

32. Gereja-gereja Lutheran menyatakan bahwa pembedaan dan urutan yang benar dari Taurat dan Injil sangatlah penting dalam pemahaman akan pembenaran. Makna teologis Taurat adalah tuntutan dan dakwaan. Di sepanjang hidup mereka, seluruh manusia termasuk orang Kristen, karena mereka semua adalah orang berdosa, berada di bawah dakwaan ini dan dosa mereka menjadi nyata; dengan demikian di dalam iman akan Injil itu mereka tanpa ragu-ragu berbalik pada pengasihan Allah di dalam Kristus, yang merupakan satu-satunya pembenaran mereka.

33. Karena Taurat sebagai jalan menuju keselamatan telah dipenuhi dan diatasi melalui Injil, umat Katolik dapat mengatakan bahwa Kristus bukanlah pemberi Taurat seperti halnya Musa. Jika Gereja Katolik Roma menekankan bahwa orang benar terikat untuk melaksanakan perintah Allah, tidaklah dimaksudkan bahwa dengan mengatakan itu mereka menolak bahwa melalui Yesus Kristuslah Allah menjanjikan pada anak-anak-Nya anugerah hidup yang kekal.[19]

4.6 Kepastian Keselamatan

34. Kami bersama-sama mengakui bahwa orang beriman dapat mengandalkan anugerah dan janji-janji Allah. Di dalam kelemahan dan ancaman yang berat bagi iman mereka, atas dasar kuasa kematian dan kebangkitan Kristus mereka dapat bergantung pada janji Allah yang berdaya guna dalam firman dan sakramen; dengan demikianlah mereka menjadi pasti akan anugerah ini.

35. Hal ini ditekankan oleh para reformator dengan cara yang khusus: di tengah pencobaan, orang percaya kiranya jangan melihat diri mereka sendiri tetapi melihat Yesus saja, dan hanya percaya pada-Nya. Dalam percaya akan janji Allah keselamatan mereka terjamin, tetapi tidak pernah terjamin karena melihat diri sendiri.

36. Penekanan para reformator tersebut dapat dibagi-bagikan oleh umat  Katolik pada beberapa hal, yaitu: membangun iman atas kenyataan objektif dari janji Kristus, mengalihkan pandangan dari pengalaman sendiri dan percaya hanya pada firman pengampunan Kristus (bnd. Mat. 16:19; 18:18).  Melalui Konsili Vatikan ke II, umat Katolik menyatakan: memiliki iman berarti mempercayakan diri sendiri sepenuhnya pada Allah[20] yang membebaskan kita dari kegelapan dosa dan kematian, dan membangkitkan kita pada hidup yang kekal.[21] Dalam pengertian demikian, seseorang tidak dapat percaya pada Alllah serentak dengan anggapan bahwa janji Ilahi tidak dapat dipercaya. Tidak seorang pun yang meragukan kemurahan Allah dan anugerah Kristus. Namun setiap orang dapat juga memelihara keselamatannya di saat dia melihat kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangannya. Dengan mengakui kelemahannya sendiri, orang percaya tetap dapat merasa pasti bahwa Allah menginginkan keselamatannya.

4.7 Perbuatan Baik dari Orang yang Dibenarkan

37. Kami bersama-sama mengakui bahwa perbuatan baik – yaitu kehidupan kristiani di dalam iman, pengharapan dan kasih – muncul dari pembenaran dan merupakan buahnya. Jika orang yang dibenarkan hidup dalam Kristus dan bertindak dalam anugerah yang dia terima, mereka akan menghasilkan buah dalam pengertian alkitabiah. Karena orang-orang Kristen bergumul melawan dosa dalam seluruh hidupnya, buah dari pembenaran ini juga menjadi suatu kewajiban bagi mereka yang harus mereka penuhi. Itulah sebabnya Yesus dan surat-surat para rasul menasihatkan orang-orang Kristen untuk menghasilkan karya kasih.

38. Menurut pemahaman umat Katolik, perbuatan baik, yang dimungkinkan oleh rahmat dan karya Roh Kudus, mempengaruhi pertumbuhan dalam rahmat, sehingga   kebenaran yang datang dari Allah dipelihara dan persekutuan dengan Kristus diperdalam. Jika umat Katolik menyatakan ciri “jasa” dari perbuatan baik, mereka ingin mengatakan bahwa, menurut kesaksian Alkitab, upah di sorga dijanjikan atas perbuatan baik ini. Maksud mereka adalah untuk menekankan tanggungjawab seseorang untuk perbuatan mereka, bukan mempertunjukkan ciri perbuatan itu sebagai hadiah, dan juga tidak dimaksudkan untuk menolak bahwa pembenaran adalah anugerah dari rahmat yang bukan karena jasa baik.

39. Pengertian tentang pemeliharaan anugerah dan pertumbuhan dalam anugerah dan iman dikenal oleh Lutheran. Mereka mau menekankan bahwa kebenaran sebagai penerimaan melalui Allah dan ambil bagian dalam kebenaran Kristus sudahlah sempurna. Pada saat yang sama, mereka menyatakan bahwa terdapat juga pertumbuhan atas pengaruh kebenaran itu dalam hidup orang Kristen. Jika mereka melihat  perbuatan baik orang Kristen sebagai “buah” dan “tanda” pembenara dan bukan sebagai “jasa”,  mereka juga memahami hidup yang kekal menurut Perjanjian Baru sebagai “hadiah” yang tidak atas dasar jasa dalam arti pemenuhan janji Allah pada orang percaya.

Pasal  5. Makna dan Cakupan dari Kesepakatan yang Telah Dicapai

40. Pemahaman akan ajaran tentang pembenaran yang dijelaskan dalam Deklarasi ini menunjukkan bahwa di antara Lutheran dan umat Katolik terdapat suatu persesuaian akan kebenaran dasar ajaran pembenaran. Perbedaan lainnya dari segi bahasa dan penguraian teologis dan penekanan akan pemahaman pembenaran seperti yang terdapat dalam alinea 18 hingga 39, dapat diterima dilihat dari sudut pandang persesuaian ini. Oleh karena itu, dilihat dari sudut persesuaian ini, penguraian lanjutan dari Lutheran dan umat Katolik tentang ajaran pembenaran terbuka satu sama lain di dalam perbedaannya dan tidak akan menghancurkan persesuaian tentang kebenaran-kebenaran dasariah.

41. Dengan demikian, kutukan-kutukan dari abad keenambelas, sejauh itu berkaitan dengan ajaran tentang pembenaran, muncul dalam terang yang baru: ajaran gereja-gereja Lutheran yang dihadirkan dalam pernyataan ini tidak berada di bawah kutukan-kutukan dari Konsili Trente; kutukan-kutukan dalam Konfesi-konfesi Lutheran tidak dikenakan pada ajaran Gereja Katolik Roma yang terdapat dalam Deklarasi ini.

42. Melalui itu, tidak ada yang disingkirkan dari kesungguhan kutukan-kutukan itu bila dihubungkan dengan ajaran pembenaran. Beberapa darinya bukanlah tanpa alasan. Semuanya itu bukannya tidak berlaku lagi, tetapi tetaplah merupakan “peringatan tentang keselamatan” yang sebaiknya kita perhatikan dalam ajaran dan perilaku kita.[22]

43. Kesepakatan kami dalam kebenaran dasariah akan ajaran pembenaran seharusnya mempengaruhi hidup dan ajaran gereja-gereja kami dan juga tetap dipelihara. Dalam kaitan dengan itu, memang masih terdapat perbedaan penekanan yang membutuhkan penjelasan. Selain dari pokok-pokok yang lain, termasuklah di dalamnya hubungan antara Firman Allah dan ajaran gereja, demikian juga ajaran Gereja tentang  susunan pemerintahan gereja, jabatan dan sakramen, dan hubungan antara pembenaran dan etika sosial. Kami yakin bahwa kesepakatan yang telah kami capai menyuguhkan dasar yang teguh untuk penjelasan ini. Gereja-gereja Lutheran dan Gereja Katolik Roma akan terus mengusahakan pendalaman pemahaman bersama tentang pembenaran ini dan membuatnya berbuah dalam hidup dan ajaran gereja.

44. Kami mengucapkan syukur pada Tuhan atas langkah maju menuju usaha mengatasi keterpisahan gereja.  Kami memohon Roh Kudus membimbing kami selanjutnya ke arah keesaan yang terlihat, sesuai dengan kehendak Kristus.


[1] Naskah dalam bahasa Indonesia ini diambil dari terjemahan sementara dari pihak Lutheran untuk disetujui bersama oleh Keuskupan Agung Medan dan Komite Nasional (KN) – Lutheran World Federation (LWF) Indonesia dalam Seminar Sehari Lutheran – Katolik dalam rangka perayaan 5 tahun Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran antara LWF dan GKR, 30 Oktober 2004 di STFT St.Yohanes, Sinaksak Pematangsiantar, yang kemudian disunting oleh penulis untuk kepentingan penulisan tesis ini. Naskah asli dokumen ini terlampir pada lampiran tesis ini.

[2] Pasal-pasal Smalkalden, II,1; Buku Konkord: Konfesi Gereja Lutheran, hlm. 371.

[3] “Rector et judex super omnia genera doctrinarum”  Edisi Weimar untuk Karya Luther (WA), 39,I,205.

[4] Perlu dicatat bahwa beberapa gereja-gereja Lutheran hanya memasukkan Konfessi Augsburg dan Katekhismus Kecil dari Martin Luther di antara konfesi-konfssi mereka. Naskah-naskah tersebut tidak memuat kutukan-kutukan pada Gereja Katolik Roma.

[5] Laporan dari The Joint Lutheran-Roman Catholic Study Commision, terbitan Growth in Agreement (New York: Geneva 1984), hlm. 168-189.

[6] Diterbitkan oleh The Lutheran World Federation (Geneva, 1994).

[7] Lutheran and Catholic in Dialog, VII (Minneapolis, 1985).

[8] Minneapolis, 1990.

[9] “Gemeinsame Stellungnahme der Arnoldshainer Konferenz, der Vereinigten Kirche und des Deutschen Nationalkomitees des Lutherischen Weltbundes zum Dokument ‘Lehrverurteilungen – kirchentrennend?’” Őkumenische Rundschau 44 (1995): hlm. 99-102.  Lihat juga ceramah pendahuluan yang mendasari resolusi ini, bnd. Lehrverurteilungen im Gesprāch, Die ersten offiziellen Stellungnahmen aus den evangelischen Kirchen in Deutschland (Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1993).

[10] Kata “gereja” digunakan dalam deklarasi ini untuk mencerminkan pemahaman pribadi gereja-gereja yang terlibat di sini, tanpa bermaksud memecah masalah-masalah eklesiologis yang berkaitan dengan terminologi ini.

[11] Bnd. Laporan Malta, alinea 26-30; Justification by Faith, alinea 122-147. Atas permintaan dialog di Amerika Serikat tentang Pembenaran, ayat-ayat PB di luar surat-surat Paulus disampaikan dalam “Righteousness in the New Testament, oleh John Reumann, dengan tanggapan dari Joseph A.Fitzmyer dan Jerome D.Quinn (Philadelphia dan New York: 1982), hlm. 124-180. Hasil studi ini diringkaskan dalam laporan “Justification by Faith” dalam alinea 139-142.

[12] “All Under One Christ”, alinea 14, dan dalam  Growth in Agreement, hlm. 241-247.

[13] Bnd. WA 8:106; Edisi Amerika 32:227.

[14] Bnd. Denzinger-Schönmetzer, Enchiridion symbolorum … 1528.

[15] Bnd. DS 1530.

[16]Bnd. Apologi II: 38-45; Buku Konkord, hlm.99-100.

[17]Bnd. DS 1515.

[18]Bnd. DS 1515.

[19] Bnd. DS 1545.

[20] Bnd. Dei Verbum (Vatikan II) 5.

[21] Bnd. Ibid.

[22] “Condemnations of the Reformation Era”, hlm. 27.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: